Kamis, 04 Januari 2018

Sejarah Keemasan Kerajaan Siak, Tahun 1723-1945

KHAIRUL ASRI/SR

Kesultanan Siak Sri Inderapura adalah sebuah Kerajaan Melayu Islam yang pernah berdiri di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, Indonesia. Kerajaan ini didirikan di Buantan oleh Raja Kecik, anak dari Sultan Mahmud Shah sultan dari Kesultanan Johor yang dibunuh. Raja Kecik dilarikan ke Pagaruyung oleh ibundanya Encik Apong. Dalam perkembangannya, Kesultanan Siak muncul sebagai sebuah kerajaan bahari yang kuat dan menjadi kekuatan yang di perhitungkan di pesisir timur Sumatera dan Semenanjung Malaya di tengah tekanan imperialisme Eropa. Jangkauan terjauh pengaruh kerajaan ini sampai ke Sambas di Kalimantan Barat, sekaligus mengendalikan jalur pelayaran antara Sumatera dan Kalimantan. Pasang surut kerajaan ini tidak lepas dari persaingan dalam memperebutkan penguasaan jalur perdagangan di Selat Malaka. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sultan Siak terakhir yaitu Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya Kerajaan Siak Sri Indrapuri (Provinsi Riau saat ini) untuk bergabung dengan Republik Indonesia.

Kata Siak Sri Inderapura, secara harfiah dapat bermakna pusat kota raja yang taat beragama, dalam bahasa Sanskerta, sri berarti "bercahaya" dan indera atau indra dapat bermakna raja. Sedangkan pura dapat bermaksud dengan "kota" atau "kerajaan". Siak dalam anggapan masyarakat Melayu sangat bertali erat dengan agama Islam, Orang Siak ialah orang-orang yang ahli agama Islam, kalau seseorang hidupnya tekun beragama dapat dikatakan sebagai Orang Siak.
Membandingkan dengan catatan tom paires yang ditulis antara tahun 1513-1515, Siak merupakan kawasan yang berada antara Arcat dan Indragiri yang disebutnya sebagai kawasan pelabuhan raja Minangkabau kemudian menjadi vasal Malaka sebelum ditaklukan oleh Portugal. Sejak jatuhnya Malaka ke tangan VOC Kesultanan Johor telah mengklaim Siak sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya. Hal ini berlangsung hingga kedatangan Raja Kecil yang kemudian mendirikan Kesultanan Siak.
Dalam Syair Perang Siak Raja Kecil didaulat menjadi penguasa Siak atas mufakat masyarakat di Bengkalis. Hal ini bertujuan untuk melepaskan Siak dari pengaruh Kesultanan Johor.Sementara dalam Hikayat Siak Raja Kecil disebut juga dengan sang pengelana pewaris Sultan Johor yang kalah dalam perebutan kekuasaan. Berdasarkan korespondensi Sultan IndermasyahYang Dipertuan Pagaruyung dengan Gubernur Jenderal Belanda di Melaka waktu itu, menyebutkan bahwa Sultan Abdul Jalil merupakan saudaranya yang diutus untuk urusan dagang dengan pihak VOC. Kemudian Sultan Abdul Jalil dalam suratnya tersendiri yang ditujukan kepada pihak Belanda, menyebut dirinya sebagai Raja Kecil dari Pagaruyung, akan menuntut balas atas kematian Sultan Johor.
Sebelumnya dari catatan Belanda, dikatakan bahwa pada tahun 1674 telah datang utusan dari Johor meminta bantuan raja Minangkabau untuk berperang melawan raja Jambi. Dalam salah satu versi Sulalatus Salatin, juga menceritakan tentang bagaimana hebatnya serangan Jambi ke Johor (1673), yang mengakibatkan hancurnya pusat pemerintahan Johor, yang sebelumnya juga telah dihancurkan oleh Portugal dan Aceh. Kemudian berdasarkan surat dari raja Jambi Sultan Ingalaga kepada VOC pada tahun 1694, menyebutkan bahwa Sultan Abdul Jalil hadir menjadi saksi perdamaian dari perselisihan mereka.
Pada tahun 1718, Sultan Abdul Jalil berhasil menguasai Kesultanan Johor sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai Sultan Johor dengan gelar Yang Dipertuan Besar Johor. Namun pada tahun 1722, terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Raja Sulaiman anak Bendahara Johor, yang juga menuntut hak atas tahta Johor. Atas bantuan pasukan bayaran dari Bugis, Raja Sulaiman kemudian berhasil mengkudeta tahta Johor, dan mengukuhkan dirinya menjadi penguasa Johor di Semenanjung Malaysia. Sementara Sultan Abdul Jalil, pindah ke Bintan dan pada tahun 1723 membangun pusat pemerintahan baru di sehiliran Sungai Siak dengan nama Siak Sri Inderapura. Sementara pusat pemerintahan Johor yang sebelumnya berada sekitar muara Sungai Johor ditinggalkan begitu saja, dan menjadi status quo dari masing-masing penguasa yang bertikai tersebut. Sedangkan klaim Raja Kecil sebagai pewaris sah tahta Johor, diakui oleh komunitas Orang Laut. Orang Laut merupakan kelompok masyarakat yang bermukim pada kawasan Kepulauan Riau yang membentang dari timur Sumatera sampai ke Laut Cina Selatan, dan loyalitas ini terus bertahan hingga runtuhnya Kesultanan Siak.
Karena mendapat ancaman dari Siak, dan disaat yang bersamaan orang-orang Bugis juga meminta balas atas jasa mereka, maka Raja Sulaiman meminta bantuan kepada Belanda di Malaka. Dalam perjanjian yang ditandatangani pada tahun 1746 itu, Johor menjanjikan akan memberikan Bengkalis kepada Belanda. Perjanjian itu kemudian direspon oleh VOC dengan mendirikan gudang pada kawasan tersebut.
Sepeninggal Raja Kecil pada tahun 1746, klaim atas Johor memudar. Dan pengantinya Sultan Mahmud berfokus kepada penguatan kedudukannya di pesisir timur Sumatera dan daerah vassal dikaedah dan kawasan pantai timur Semenanjung Malaya. Pada tahun 1761, Sultan Siak membuat perjanjian ekslusif dengan pihak Belanda, dalam urusan dagang dan hak atas kedaulatan wilayahnya, serta bantuan dalam bidang persenjataan. Setelah Raja Mahmud wafat, muncul dualisme kepemimpinan di kerajaan ini. Raja Muhammad Ali yang lebih disukai Belanda kemudian menjadi Sultan Siak. Sementara sepupunya Raja Ismail yang tidak disukai Belanda, muncul sebagai Raja Laut, menguasai perairan timur Sumatera sampai ke Laut Cina Selatan, dan membangun kekuatan di gugusan pulau tujuh.
Sekitar tahun 1767, Raja Ismail telah menjadi duplikasi dari Raja Kecil. Didukung oleh orang laut ia terus menunjukan dominasinya di kawasan perairan timur Sumatera, dengan mulai mengontrol perdagangan timah di pulau Bangka kemudian menaklukan Mempawah di Kalimantan Barat.
Sebelumnya Raja Ismail juga turut membantu Trengganu menaklukan Kelantan hubungan ini kemudian diperkuat oleh adanya ikatan perkawinan antara Raja Ismail dengan saudara perempuan Sultan Terengganu. Pengaruh Raja Ismail di kawasan Melayu sangat signifikan, mulai dari Terengganu, Jambi, dan Palembang. Laporan Belanda menyebutkan, Palembang telah membayar 3.00ringgit kepada Raja Ismail agar jalur pelayarannya aman dari gangguan. Sementara hikayat siak menceritakan tentang kemeriahan sambutan yang diterima oleh Raja Ismail sewaktu kedatangannya ke Palembang.
Pada abad ke-18, Kesultanan Siak telah menjadi kekuatan yang dominan di pesisir timur Sumatera. Tahun 1780, Kesultanan Siak menaklukkan daerah Langkat, dan menjadikan wilayah tersebut dalam pengawasannya, termasuk wilayah Deli dan Serdang. Di bawah ikatan perjanjian kerjasama dengan VOC, pada tahun 1784 Kesultanan Siak membantu VOC menyerang dan menundukkan Selangor Sebelumnya mereka telah bekerjasama memadamkan pemberontakan Raja Haji Fisabilillah di Pulau Penyengat.
Kesultanan siak sri Inderapura mengambil keuntungan atas pengawasan perdagangan melaluin Selat Melaka, serta kemampuan mengendalikan para perompak di kawasan tersebut. Kemajuan perekonomian Siak terlihat dari catatan Belanda yang menyebutkan di tahun 1783 ada sekitar 171 kapal dagang dari Siak menuju Malaka Siak menjadi kawasan segitiga perdagangan antara Belanda di Malaka dan Inggris di Pulau Pinang
Namun disisi lain, kejayaan Siak ini memberi kecemburuan pada keturunan Yang Dipertuan Muda terutama setelah hilangnya kekuasaan mereka pada kawasan Kepulauan Riau. Sikap ketidaksukaan dan permusuhan terhadap Sultan Siak, terlihat dalam Tuhfat al-Nafis, di mana dalam deskripsi ceritanya mereka menggambarkan Sultan Siak sebagai "orang yang rakus akan kekayaan dunia".
Peranan Sungai Siak sebagai bagian kawasan inti dari kerajaan ini, berpengaruh besar terhadap kemajuan perekonomian Siak Sri Inderapura. Sungai Siak merupakan kawasan pengumpulan berbagai produk perdagangan, mulai dari kapur barus, benzoar, timah, dan emas. Sementara pada saat bersamaan masyarakat Siak juga telah menjadi eksportir kayu yang utama di Selat Malaka, serta salah satu kawasan industri kayu untuk pembuatan kapal maupun bangunan. Dengan cadangan kayu yang berlimpah, pada tahun 1775 Belanda mengizinkan kapal-kapal Siak mendapat akses langsung kepada sumber beras dan garam di Pulau Jawa, tanpa harus membayar kompensasi kepada VOC.
Namun tentu dengan syarat Belanda juga diberikan akses langsung kepada sumber kayu di Siak, yang mereka sebut sebagai kawasan hutan hujan yang tidak berujung.
Dominasi Kesultanan Siak terhadap wilayah pesisir pantai timur Sumatera dan Semenanjung Malaya cukup signifikan. Mereka mampu menggantikan pengaruh Johor sebelumnya atas penguasaan jalur perdagangan. Selain itu Kesultanan Siak juga muncul sebagai pemegang kunci ke dataran tinggi Minangkabau, melalui tiga sungai utama, yang mana sebelumnya telah menjadi kunci bagi kejayaan. Namun demikian kemajuan perekonomian Siak memudar seiring dengan munculnya gejolak di pedalaman Minangkabau.
Kerajaan Siak tumbuh dan berkembang selama 222 tahun yakni mulai dari tahun 1723 sampai 1945 dengan jumlah sultan yang memimpin sebanyak 12 orang. Dari aspek zuriat, kerajaan Siak dipimpin oleh keturunan Melayu dan keturunan Arab. Sedangkan dari aspek pemerintahan, kerajaan Siak dapat dikelompokkan menjadi empat periode yakni (1) Periode tahun 1723-1784; (2) Periode tahun 1784-1898; (3) Periode tahun 1898-1915; (4) Periode tahun 1915-1945.4 Hal ini disebabkan karena di kerajaan Siak terjadi perubahan susunan pemerintahan yang berakibat kepada struktur pemerintah. Perubahan itu disebabkan oleh berbagai perkara antaranya situasi yang dihadapi, dan semakin kuatnya pengaruh Belanda terhadap kerajaan.
          Apabila dilihat dari priodisasi di atas, maka periode pertama wilayah kerajaan tidak Nampak perluasannya. Hal ini tidak diketahui sebabnya namun yang jelas pada periode ini timbul pergaduhan dari dalam istana sendiri dalam hal memperebutkan kekuasaan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Hashim bahwa keturunan Melayu dari Raja Kecil tidak mendapat peluang di istana sehingga mereka keluar dari kerajaan dan merayau kemana-mana di laut Melayu.5 berarti pada periode tersebut perluasan wilayah belum menjadi skala perioritas dalam urusan kerajaan. Demikian juga mengenai pedoman kerajaan pun belum juga wujud karena pada masa ini sistem pemerintahan mengacu kepada sistem pemerintahan yang dilaksanakan dalam kerajaan Johor. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa pada periode ini kerajaan Siak belum mengalami kejayaan.
          Kejayaan kerajaan Siak baru dimulai semenjak sultan ketujuh yakni Sultan Said Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin (1784-1810). Selain itu, pada periode ini sultan memakai tambahan gelar as-Sayid as-Syarif karena berketurunan Arab yang bermula dari keturunan Sayid Syarif Osman Syahabuddin yang kawin dengan Tengku Embong Badariah Puteri Sultan Alamuddin Syah (Sultan Siak ke-4).   
       Kejayaan yang diraih oleh kerajaan Siak berkelanjutan sampai sultan yang terakhir. Meskipun dalam sistem pemerintahan terjadi perubahan namun kerajaan mengalami perkembangan dalam berbagai bidang terutama pada bidang kawasan wilayah kerajaan. Hal ini dapat dipahami bahwa Syarif Ali memiliki sifat dan bakat yang turun dari ayahnya Sayid Osman yang piawai sebagai panglima pertahanan dan keamanan kerajaan disamping juga seorang ulama yang handal. Artinya Syarif Ali sebagai Sultan Siak berhasil meneruskan pekerjaan ayahandanya sehingga kawasan kerajaan Siak pada masa pemerintahannya menjadi luas.
DAFTAR PUSTAKA
Jamil,OK Nizami,2013,sejarah kerajaan siak,bumi pustaka,jakarta.

1 komentar: