Kamis, 04 Januari 2018

PENYEBARAN AGAMA ISLAM OLEH SYEIKH ABDURRAHMAN SHIDDIQ DI INDRAGIRI HILIR


T.NAZRI SUPIAN/SR/015/A

salah satu penyebaran agama islam di riau terutama di Indragiri hilir diantaranya adalah Syeikh Abdurrahman Shiddiq yang menyebarkan Agama Islam di Indragiri dalam corak pemikiran keagamaanya. Syeikh Abdurrahman Shiddiq dan peranan beliau dalam mengembangan Agama Islam di Indragiri Hilir. Dapat dilihat begitu besar pengaruh pemikiran Syeikh Abdurrahman Shiddiq bagi masyarakat Indragiri Hilir. Hal tersebut dapat dilihat dengan berlangsungannya kegiatan keagamaan disana. Dan disini dapat kiranya penulis sedikit menguraikan tentang konsep pemikiran keagamaan yang beliau terapkan dalam metode dakwahnya.

Biografi Syeikh Abdurrahman Shiddiq
Nama lengkapnya adalah Syeikh Abdurrahman Shiddiq bin Muhammad Afif bin Mahmud bin Jamaluddin al-Banjari . Ia dilahirkan di kampung Dalam Pagar, Martapura, Kalimantan Selatan, pada tahun 1284 Hijriah atau tahun 1857 Masehi . Ayahnya bernama Muhammad Afif bin Kadhi H. Mahmud yang berasal dari keturunan kaum bangsawan karena leluhurnya adalah keturunan sultan-sultan dari kerajaan Banjar. Sedangkan Ibunya bernama Shafura, cucu Syeikh Muhamad Arsyad bin Abdullah al-Banjari (1122-1227 H), seorang ulama besar Indonesia pada abad ke-18 M. Syeikh Muhammad Arsyad selain dikenal sebagai ulama beliau juga dikenal sebagai pengarang kitab-kitab Agama Islam yang kebanyakan ditulis dalam bahasa Melayu. Salah satu buah karyanya yang paling terkenal adalah kitab Sabil al-Muhtadin, sebuah kitab fikih.
Perkembangan Islam Di Indragiri Hilir
Pada Abad ke-13, Agama Islam masuk dan berkembang didaerah Indragiri dan Kuantan dari Kunto Kampar yang disebarkan oleh Syekh Burhanuddin dan Muridnya. Pada abad 14, disamping runtuhnya Kerajaan Kunto Kampar akibat penaklukan Adityawarman, Agama Islam masuk dan berkembang dari Aceh dan Malaka. Pada abad ini muncul kerajaan Islam Kunto daruSalam di Rokan dan Kerajaan Siak Gasib di Siak dibawah Sultan Ibrahim, yaitu Sultan Indragiri. Kata Indragiri berasal dari bahasa Sankrit, dari suku kata Indra yang mengenai Ketuhanan Agama Hindu dan juga dipakai untuk nama benda dan tempat yaitu dalam arti kata Negeri dan Negara. Dengan demikian kerajaan Indragiri dapat diartikan kerajaan mahligai sedangkan kata Indragiri artinya mahligai disuatu negeri dan Negara18 .
pada waktu itu penyebaran Islam sempat mendapat tantangan yaitu dengan masuknya pengaruh Adityawarman yang ingin menguasai daerah perdagangan lada. Setelah beberapa tahun lamanya perkembangan Islam di Indragiri mengalami kemunduran, penyebaran Agama Islam dilanjutkan oleh salah satu murid dari Syekh Burhanudduin yang bernama Dugo. Dugo ini tinggal di Taluk Kuantan sebagai Mubaligh. penduduk setempat memanggilnya sebagai Tuanku Lebai, yaitu Gelar Guru Agama Islam sebelum menjadi Syekh19 .
Pada tahun 1327 H pada masa pemerintahan Sultan Mahmud diangkatlah Syeikh Abdurrahman Shiddiq seorang ulama yang terkenal karena kealiman dan ketinggian ilmunya yang tersebar kepelosok Indragiri untuk mengisi jabatan Mufti Indragiri yang kosong. Karena kekosongan jabatan Mufti maka ia dipanggil ke Rengat dan ditawarkanlah jabatan Mufti dan diminta pula ia tinggal di Rengat dekat dengan sultan. Pemerintaan sultan tersebut beliau penuhi dengan syarat, bahwa pertama, beliau tidak bersedia di gaji. Kedua, tidak bersedia tinggal di Rengat. Ketiga, meminta sebuah parit untuk perkebunan. Setelah ketiga syarat tersebut dipenuhi sultan, maka jadilah Syekh Abdurrahman Shiddiq sebagai Mufti Indragiri dan bertugas menyiarkan agama Islam di Indragiri. Syeikh Abdurrahman Shiddiq wafat pada tahun 1939 dalam usia 82 tahun dan dikebumikan di Sapat, Indragiri, Riau. Peranan Syeikh Abdurrahman Shiddiq Dalam Menyebarkan Agama Islam Di Indragiri Hilir Pada Tahun 1324 H berangkatlah Syeikh Abdurrahman Shiddiq ke Sapaat, Indragiri. Sapat pada saat itu merupakan Bandar yang ramai di kunjungi oleh pedagangpedagang luar.
Sehingga kapal-kapal besar silih berganti bongkar muat dipelabuhan sapat. Selain itu juga sapat juga merupakan tempat orang keluar masuk dari luar daerah yang dating dari Singapura dan Malaysia. Syeikh Abdurrahman Shiddiq mencoba mengajak masyarakat agar memahami ajaran Islam serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. atas dasar ini ia mengajak masyarakat untuk meningkatkan tarap hidup mereka. Dalam meningkatkan tarap hidup dan ekonomi masyarakat Indragiri Hilir ia tidak segan-segan masuk hutan sebagai upayanya mengajak masyarakat untuk bersama-sama ikut dengannya. Ia sendiri kemudian membuka hutan sekitar tiga kilo meter jauhnya dari Sapat untuk dijadikan areal perkebunan kelapa21. Usahanya itu benar-benar diikuti oleh masyarakat di daerah itu, yang sebelumnya banyak diantara mereka yang takut menaklukkan hutan lebat karena dianggap angker. Ia mempelopori pembuatan parit induk bagi perkebunan kelapa di daerah Sapat tersebut. Sejak parit induk itu dibangun, perkebunan kelapa di daearah
itu bertambah luas dan subur, dan pendudukpun semakin bertambah ramai berdatangan ke daerah tersebut. Karena ide pembuatan parit ini, maka daerah tersebut dinamakan parit Hidayat yang artinya petunjuk dari Allah SWT. Sampai sekarang daerah di sekitar parit itu dikenal dengan nama parit Hidayat22 . Gerakannya untuk memperbaiki tarap hidup dan ekonomi masyarakat ia padukan dengan kegiatannya di bidang pendidikan dan dakwah. Pada mulanya ia hanya mengajar secara berhalaqah di mesjid yang ia bangun itu. Kemudian ia membangun madrasah untuk menampung murid-murid yang ingin belajar kepadanya. Ini adalah madrasah pertama di Indragiri. Madrasah ini semakin terkenal tidak hanya di daerah itu tapi juga di Riau pada umumnya dan bahkan sampai ke Singapura dan Malaysia.
 Karena banyaknya murid-murid yang berasal dari luar daerah, maka dengan dana yang diperoleh dari hasil perkebunan kelapa yang diwakafkannya itu, Syeikh Abdurrahman Shiddiq membangun tidak kurang dari seratus pondok untuk dijadikan asrama disekitar madrasah dan mesjid tersebut. Pondok-pondok itu disediakan bagi murid-murid yang benar-benar membutuhkannya tanpa dipungut biaya23. Syeikh Abdurrahman Shiddiq telah membangun sebuah pesantren besar dan lengkap di daerah itu dimana ia sendiri bertindak sebagai kiyainya. Selain itu, kehadirannya di daerah tersebut juga telah ikut menciptakan kerukunan antar suku-suku yang sebelumnya sering bertikai.
Ia melihat bahwa ketidak harmonisan pergaulan antar suku-suku di Indragiri adalah karena dangkalnya pengetahuan mereka terhadap ajaran Islam. Ia senantiasa mencoba menyelesaikan problema dalam masyarakat melalui pendekatan dan bahasa agama, karena yang demikian itu memang merupakan bagian dari tugas dan fungsi keulamaannya. Demikianlah, hanya dalam beberapa tahun saja Syeikh Abdurrahman Shiddiq benar-benar telah menempatkan dirinya sebagai pemimpin informal yang kharismatis dan amat dihargai masyarakatnya. Ia dipanggil oleh masyarakat di daerah Indragiri dengan sebutan "Tuan Guru" atau "Tuan Alim", suatu gelar kehormatan yang menunjukkan bagitu akrabnya ia dengan masyarakat dan begitu besar peranan keulamaannya. Namanya kian harum dan kabar tentang kepiawaian dan kealimannya semakin terdengar tidak hanya di berbagai daerah di Indonesia tapi juga sampai ke Singapura, Malaysia dan Fatani di Thailand.
Hal ini dimungkinkan selain karena muridmuridnya yang sudah banyak tersebar, juga karena kitab-kitab karangannya yang pada umumnya di cetak di Singapura telah banyak beredar di kawasan itu.Adapun kitab karangan atau karya-karya tulisan Syekih Abdurrahman Shiddiq adalah Fath al-Alim fii Tartib al-Talim, Risalah Amal Marifat, Risalah fi Aqaid al-Iman, Syair Ibarat dan Khabar Kiamat (Jalan untuk keinsafan), Asrar al-Shalat min Iddat al-kutub alMutabarat, Kitab al-Faraidh, Majmuul Ayat wal Ahadits fi Fadhailil „Ilmi wal Ulama Mutaallimin wal Mustamiin, Mauizah li Nafsi wa li Amtsali minal Ikhwan, Tazkiratun li Nafsi wa li Amtsali, dll.
Demikianlah karya-karya Syeikh Abdurrahman Shiddiq, yang kalau dikaji secara mendalam dan komprehensif, mengambarkan karakter pemikiran dan padangan keagamaannya. Dalam konteks tradisi intlektual Islam prinsipnya masih berpegang teguh pada tradisi Islam yang telah berakar kuat dalam jaringan ulama Nusantara dan Timur Tengah. Namun, unsur-unsur semangat pemurnian aqidah dari praktek-praktek keagamaan yang menyimpang telah mewarnai karya-karyanya tersebut, dan ingin meluruskan praktek-praktek tasawuf dengan menekankan pada keharusan bagi setiap orang memiliki pemahaman yang kuat akan teologi dan fiqh sebelum memasuki dunia sufisme. Dalam hal tarekat, dia adalah pengikut dan guru tarekat, dia adalah pengikut dan guru Tarekat Sammaniyyah (yang dinisbahkan kepada diri Syaikh Muhammad Samman) sebagaimana kakeknya, Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari24 .
Selain itu, dengan bukti-bukti adanya kitab karangannya yang pada umumnya ditulis dalam bahasa Melayu. Syeikh Abdurrahman Shiddiq ikut mengembangkan dan menyebarluaskan bahasa Melayu di kawasan Asia Tenggara. Syeikh Abdurrahman Shiddiq ketika menjabat sebagai Mufti Kerajaan Indragiri. Hampir setiap hari ia menerima tamu yang datang dari berbagai tempat untuk meminta pendapat, petuah dan nasehatnya tentang berbagai masalah, seperti kemusykilan dalam masalah perkawinan, perceraian, pembagian harta warisan, perselisihan dalam keluarga dan pertikaian antar suku dan lain sebagainya. Tentulah karena kearifannya sebagai ulama yang mempunyai kharisma dan pengaruh yang kuat dalam masyarakat, maka nasehat-nasehat dan jalan keluar yang ia berikan dirasakan sangat bermanfaat oleh masyarakat. Suatu hal yang tidak kalah pentingnya di catat disini adalah bahwa sikapnya yang teguh menyampaikan kebenaran yang ia yakini dalam rangka menjalankan tugas keulamaannya dengan penuh tanggung jawab, maka Syeikh Abdurrahman Shiddiq tidak merasa gentar menanggung resiko lantaran fatwa-fatwa yang di keluarkannya.
Contohnya adalah fatwanya yang dianggap masyarakat pada waktu itu mempunyai resiko tinggi terhadap keselamatan dirinya dari amarah pihak kolonial Belanda. Fatwanya itu adalah berupa larangan kepada umat Islam menggunakan tiga buah mesjid yang di bangun oleh Belanda dalam wilayah Indragiri. Alasan yang di kemukakan Syeikh ini dalam fatwanya itu adalah bahwa ketiga mesjid itu tidak didirikan atas taqwa, akan tetapi berlatar belakang politis untuk kepentingan penjajahan. Mungkin sekali hal ini karena ia melihat bahwa pihak Belanda membangun mesjidmesjid tersebut dalam rangka mengambil hatu umat Islam di daerah itu agar meneruh simpati kepada kolonialisme. Menurutnya, ketiga mesjid itu tergolong mesjid dhirar sebagai yang di isyaratkan Tuhan dalam Al-quran. Dapatlah di simpulkan bahwa keberhasilan Syeikh Abdurrahman Shiddiq dalam menjalankan misi dan fungsi keulamaannya adalah karena ia benar-benar menerapkan dakwah bi al-lisan yang terintegrasi secara baik dengan dakwah bi al-hal (dakwah melalui tidakan nyata).
Catatan
Mucttar Luffi, Sejarah Riau Tim Penyusun Dan Penulisan Sejarah Riau. Pekanbaru 1977. 19
Mucttar Luffi, Sejarah Riau Tim Penyusun Dan Penulisan Sejarah Riau. Pekanbaru 1977. Hlm. 171
DAFTAR PUSTAKA
Hamidy, UU. 1980. Peranan Suku Banjar dalam kehidupan social budaya di Indragiri Hilir. LPPM Universitas Riau. Pekanbaru.
Abdullah, Taufik (ed.).1991. Sejarah Umat Islam Indonesia. Majelis Ulama Indonesia. Jakarta. Badri, Yatim. 2000. Sejarah Peradaban Islam. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto.1993. Sejarah Nasional Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta. Soekmono, R.1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Jilid 2 dan 3. Kanisius. Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar