Kamis, 04 Januari 2018

SEJARAH BENGKALIS

Fahril Hidayat/ SR

PENDAHULUAN
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1956 Lembaran Negara Nomor 25 Tahun 1956, ditentukan bahwa Kabupaten Bengkalis dengan ibukotanya Bengkalis dipimpin oleh seorang Bupati Kepala Daerah Tingkat II. Kabupaten Bengkalis merupakan wilayah kabupaten yang terluas nomor satu di Propinsi Riau.Propinsi Riau itu sendiri termasuk salah satu propinsi paling kaya di Indonesia. Kekayaannya meliputi hasil pertambangan minyak bumi, batu bara, hutan, hasil-hasil perkebunan seperti kelapa sawit, karet, hasil-hasil laut serta sungai, dan sebagainya.

SEJARAH SINGKAT
Secara historis wilayah Kabupaten Bengkalis sebelum Indonesia merdeka, sebagian besar berada di wilayah pemerintahan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Setelah diproklamirkannya Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan diikuti dengan penyerahan kekuasaan oleh Raja Kerajaan Siak Sri Indrapura Sultan Syarif Kasim II , maka seluruh wilayah yang berada dibawah kekuasaan Kerajaan Siak Sri Indrapura, termasuk wilayah Kabupaten Bengkalis berada di bawah pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
ARTI LOGO
Berdasarkan Peraturan daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Bengkalis Nomor 16 tahun 1989 tentang Lambang Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Bengkalis, yaitu :

Bentuk Dan Pembagian Lambang
Lambang Daerah berbentuk Perisai yang terdiri dari lima bagian, yaitu :
1.      Rotan yang melingkar seluruh Lambang dengan jumlah ruas 17
2.      Perahu layar dengan layar terkembang dan laut yang bergelombang lima
3.      Pohon Rumbia dengan 4 pelepah, dan
4.      Pohon Para dengan 4 helai daun, sehingga berjumlah 8
Ikan Terubuk dengan jumlah sisik 45.
Warna Utama yang dipakai adalah Hijau Muda disamping menggunakan warna kuning, putih, biru tua dan hitam, Pemberian warna lambang, yaitu :
1.      Rotan yang melingkari seluruh Lambang adalah warna kuning
2.      Perahu layar dengan layar terkembang dan laut yang bergelombang lima adalah 
warna putih
3.      Pohon rumbia dengan 4 pelepah, dan
4.      Pohon Para dengan 4 helai daun, adalah warna biru tua
5.      Ikan Terubuk adalah warna kuning
Arti Lambang
1.      Rotan melingkar yang berjumlah 17 ruas mengingatkan tanggal Proklamasi, dan melambangkan Persatuan dan Kesatuan Penduduk Daerah;
2.      Perahu layar dengan layar terkembang melambangkan sarana utama perhubungan dan pengambilan hasil laut, berarti lambing wilayah perairan yang terdiri dari pada laut dan sungai, serta gelombang lima lapis melambangkan Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia;
3.      Pohon Rumbia dan Pohon Para masing-masing terdiri dari 4 pelepah dan 4 helai daun sehingga berjumlah 8, mengingatkan pada bulan Proklamasi, dan melambangkan kesuburan tanah sebagai penghasil pangan yang potensial, berarti lambang ketahanan pangan dimasa sulit, dan melambangkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan untuk hubungan perdagangan ke luar Daerah;
Ikan Terubuk dengan jumlah sisik 45, mengingatkan tahun Proklamasi, dan melambangkan wilayah perairan penghasilan ikan berarti lambang hasil laut yang potensial.
Nilai Budaya
Pantai Pasir Panjang di Pulau Rupat.
Berlokasi di Selat Malaka dan merupakan pantai kebangaan dari 3 daerah di Pulau Rupat, yaitu Tanjung Medang, Tanjung Rhu, dan Tanjung Punak. Tempat ini dapat dicapai dengan boat kecil yang dikenal dengan nama 'pompong' dari Dumai. Perjalanan akan memakan waktu selama 15 menit dengan boat dan 45 menit dengan kendaraan beroda dua (ojek). Jalur ini dilalui oleh boat nasional dan pengunjung internasional karena keindahan pantai Rupat dan pemandangan laut yang nyaman. Rencananya akan dibangun jembatan sepanjang 50 km untuk menghubungkan pulau ini dengan Malaka – Malaysia. Di pulau Rupat juga dapat ditemukan komunitas suku terbelakang yang disebut dengan suku Akit yang melakukan berbagai atraksi untuk menghibur pengunjung.
Pantai Selat Baru
Berlokasi di pantai Timur Bengkalis sepanjang 4 km dengan ciri khas desa dan dusun nelayan tradisional di sepanjang pantai. Tidak jauh dari bibir pantai, mengalir sungai kecil yang diberi nama Sungai Liong. Sepanjang tepi sungai terdapat tempat pengembangbiakkan telur ikan kakap putih.
Hutan Lindung dan Pusat Pelatihan Gajah
Hutan lindung dan margasatwa terdapat di daerah Bukit Batu dan kecamatan Mandau. Daerah Sebanga – Duri, yang berjarak 139 km dari kota Pekanbaru merupakan tempat yang menarik untuk dikunjungi, di tempat ini beberapa gajah dilatih untuk melakukan berbagai atraksi yang dapat menghibur pengunjung. 
Kota Duri
Terletak pada jarak 89 km dari Minas atau 119 km dari Pekanbaru, Duri adalah salah satu kota penting yang menghasilkan minyak. Di daerah ini terdapat pipa minyak berukuran besar dengan diameter 60 inci di sepanjang jalan dan kilang minyak Dumai. 
Kota Selat Panjang
Kota ini dipenuhi oleh pedagang cina dan memiliki ciri khas pohon kelapa yang banyak di daerah ini.
BENGKALIS PADA ZAMAN PRASEJARAH
Untuk mengetahui perlajalanan kemajuan kebudayaan manusia sebelum mendapatkan
sumber-sumber tertulis, terdapat dua sumber yang dijadikan dasar yaitu :
1.    Penggalian fosil (sisa tulang belulang manusia atau hewan) dan artepak-artepak (alat-alat
yang digunakan manusia prasejarah) yang ditemukan didalam tanah atau penggalian secara
kebetulan.
2.      Suku-suku bangsa yang saat ini masih hidup dipedalaman dan terbelakang.
Dalam hubungan ini di Bengkalis, menghadapi persolaan prasejarah yang sulit, terutama dalam usaha memperoleh keterangan tentang asal usul penghuni pertama (early man) serta
kebudayaannya.Hal ini disebabkan di Sumatera pada umumnya, Riau dan Bengkalis
khususnya, sedikit sekali ditemukan fosil-fosil dan artepak-artepak. Dalam laporan penelitian
arkeologi di sumatera yang dilaksanakan dari tanggal 28 Mei-18 Juli 1973 oleh
Bennet Bronson dan kawan-kawan dinyatakan "kiranya persoalan kesulitan yang ditentukan oleh penemuan benda-benda Sumatera ialah pertanyaan tentang early-man". Sehingga sekarang, Sumatera tidak menghasilkan tulang-tulang dari manusia pertama.Kenyataan ini tidak menghasilkan suatu bukti, baik berupa tulang belulang maupun sisa-sisa tanaman yang menunjukkan sesuatu yang timbul sebelum akhir zaman Pletistosin (10.000 – 15.000 tahun yang lalu).
Semua penyelidikan arkeologi yang diadakan di Sumatera selama abad terakhir tidak berhasil menemukan fosil manusia prasejarah seperti yang banyak ditemukan di pulau jawa.Walaupun di Sumatera, Riau dan khususnya Bengkalis belum ditemukan fosil-fosil dan kurangnya artepak-artepak sebagai sumber utama untuk mendapatkan keterangan tentang hidup serta kehidupan manusia pertama di Bengkalis, tetapi para peneliti masih dapat mengambil manfaat dari terdapatnya suku-suku terbelakang yang masih hidup dibeberapa bagian daerah kabupaten Bengkalis dewasa ini.Suku-suku dimaksud ialah suku Sakai di Mandau, suku Akit di pulau Rupat dan suku Orang Hutan di pulau Bengkalis.
BENGKALIS PADA ZAMAN KUNO
Kesamaan pendapat para ahli sejarah bahwa arus perdagangan diperairan Selat Malaka
memegang peran penting dibelahan bumi ini sejak awal tarik masehi, karena jalur perdagangan
yang terbentang antara Cina dan Hindia melalui selat ini.Bengkalis yang terletak diperairan
Selat Malaka merupakan daerah strategis dalam arus lalu lintas selat Malaka. Faktor ini
memungkinkan di Bengkalis timbulnya suatu bentuk kekuasaan memerintah dan kenegaran
yang akan diuraikan seperti berikut ini :Menurut tarikh Cina 1433, kerajaan Gasib bersama-sama dengan Indragiri dan Siantan minta perlindungan ke Cina karena adanya usaha ekspansi kerajaan Malaka yang memeluk agama islam yang berbeda kepercayaannya dengan orang Gasib yang beragama Hindu/Budha. Kerajaan Majapahit sebagai pelindung kerajaan Gasib iselama ini menjadi lemah. Dalam "sejarah Melayu" dikisahkan sewaktu Sultan Masnyur Syah berkuasa di Malaka tahun 1444 – 1477, Malaka menaklukan kerajaan Hindu/Budha yang bertempat di Gasib. Raja Gasib ketika itu bernama Permaisura ditawan.
Setelah ditaklukan oleh Malaka, Sultan Mansyur Syah mengangkat anak raja Siak bernama Megat Kudu.Setelah Megat Kudu dididik di Malaka kemudian memeluk agama Islam dan dikawinkan dengan anak raja Malaka, ia memegang kekuasaan di Siak dibawah naungan Malaka dengan gelar Sultan Ibrahim , gelar sultan ini digunakan setelah masuk agama Islam. Jabatan sultan selanjutnya diwakili oleh bendahara yang ada di daerah-daerah dengan gelar Datuk.Sebagai pucuk pimpinan, datuk bertanggung jawab langsung kepada raja.Dibawah datuk ada lagi pejabat-pejabat yang selalu berhubungan dengan masyarakat.Mereka itulah sebagai pelaksana kepemimpinan dalam masyarakat yang disebut kepala suku.Kepala Suku adalah pimpinan di daerah persukuan yang didasari atas unsur-unsur kekeluargaan.Dalam hubungannya sebagai rakyat dan sebuah kerajaan, kadang-kadang tiap suku itu mempunyai tugas-tugas tertentu didalam kerajaan, kepala suku bertanggung jawab langsung kepada datuk.Dalam masyarakat kepala Suku ini memimpin penyelesaian masalah kekeluargaan dilingkungan persukuan mereka.Jika tidak terselesaikan dan menemui jalan buntu barulah penyelesaiannya diteruskan kepada datuk.
Adalagi daerah yang disebut perbatinan.Biasanya dilingkungannya lebih kecil dari daerah persukuan.Umumnya daerah perbatinan ini terletak diperdalaman.Penyatuan masyarakat dalam daerah perbatinan inididasarkan atas adat istiadat, kepercayaan dan talian daerah.Sebagai kepala daerah perbatinan ini disebut "batin" atau ketua adat atau Bomo.Perbatinan terdapat di daerah suku-suku terbelakang seperti suku Sakai diperdalaman pulau Rupat serta suku Orang Hutan dipedalaman pulau Bengkalis.Selain itu di Senggoro yang dipimpin oleh Laksamana Batin Hitam.Pada zaman kuno ini dikaitkan dengan zaman prasejarah di pulau Bengkalis sudah dihuni manusia dengan pola kehidupan tradisional dan telah memiliki tatanan pemerintahan dalam bentuk perbatinan orang Hutan dan perbatinan Senggoro.Meskipun perbatinan Senggoro memiliki lingkungan kecil yang terletak dipesisir pulau Bengkalis, namun telah memiliki tatanan pemerintahan dan pertahanan yang disegani dan diperhitungkan karena memiliki anggota pilihan yang cukup terlatih dan beranimempertaruhkan nyawanya untuk mempertahankan daerah pemukiman mereka.
Perbatinan dibawah Datuk Laksamana Batin Hitam ini mengatur strategi dan taktik
mempertahankan daerahnya dengan membangun benteng-benteng yang saat ini dikenali oleh
masyarakat dengan nama Benteng Batin Hitam dan Kuburan Dara Sembilan yang merupakan benteng untuk melindungi para gadis saat itu agar tidak diculik oleh para penyerang dari luar yang pada masa itu dikenal dengan nama "lanun". Kemungkinan kematian para gadis ini disebabkan oleh terkurung dari luar atau bentengnya rubuh karena serangan Portugis.

DAFTAR PUSTAKA
Aswandi Syahri. Kota Kara Dan Situs-Situs Sejarah Bintan Lama. Dinas Pariwisata
dan Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau.2007
Hasan Junus. Sejarah Kabupaten Bengkalis Sebuah Tinjuauan Paling Dasar Serta
Beberapa Makalah. Pemda Kabupaten Bengkalis.2002





1 komentar: