HASIL DAN PENGARUH KONGRES PEMUDA I


Mestika Sari /B/ S IV

Persiapan Kongres Pemuda Pertama terjadi pada tanggal 15 November 1925. Bertempat di gedung Lux Orientis, Jakarta, saat itu hadir lima organisasi pemuda dan beberapa peserta perorangan. Organisasi itu antara lain Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Pelajar Minahasa, dan Sekar Roekoen. Tabrani mewakili Jong Java. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan membentuk panitia Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Tujuannya adalah menggugah semangat kerja sama di antara bermacam-macam organisasi pemuda di Tanah Air agar dapat diwujudkan dasar pokok lahirnya persatuan Indonesia di tengah-tengah bangsa di dunia.
Adanya ide yang muncul untuk membuat suatu organisasi yang menyatukan berbagai organisasi yang masih berbau kedaerahan adalah ide dari para pendiri PNI yaitu Mr. Sartono dan Sunario. Mereka juga pada saat itu mempunyai hubungan dekat dengan Perhimpunan Indonesia, Sejak itulah muncul ide untuk dapat menggabungkan berbagai organisasi kepemudaan ini dikarenakan memiliki tujuan dan cita-cita yang sama. Penggabungan organisasi ini terasa semakin perlu dilakukan oleh para pelajar Indonesia saat itu, karena kaum pemuda saat itu merasa bahwa banyak organisasi lain yang masih bersifat kedaerahan.
Pemuda Indonesia dan PPPKI adalah 2 organisasi pemuda yang sangat aktif untuk mencapai cita-cita persatuan di kalangan pemuda. Mereka pulalah yang memelopori diselenggarakannya Kongres Pemuda I dan II sehingga melahirkan Sumpah Pemuda. Kongres Pemuda I diselenggarakan tanggal 30 April-2 Mei 1926 di Jakarta dan dihadiri oleh wakil-wakil dari Jong Java, JIB, JSB, Jong Ambon, Sekar Rukun, Studerende Minahassers, Jong Batak, dan Pemuda Theosofie. Dalam kongres ini dapat ditekankan pentingnya persatuan dan kesatuan para pemuda, dalam suatu wadah tunggal untuk mencapai Indonesia merdeka. Tokoh-tokoh pemuda yang berpidato dalam kongres ini yaitu: Sumarto, M. Tabrani (ketua panitia), Muh. Yamin, Bahder Johan, dan Pinontoan. Kongres Pemuda I itu telah menerima dan mengakui cita-cita persatuan Indonesia tetapi gagal membentuk badan sentral. Sebab masih terdapat perbedaan pendapat dan kesalahpahaman di antara sesama anggota.
Panitia kongres terdiri atas sepuluh orang, di antaranya Bahder Djohan, Sumarto, Jan Toule Soulehuwij, Paul Pinontoan, dan Tabrani. Dari sini lantas dibentuk panitia inti, yakni :
ketua              : Tabrani,
         wakil ketua     : Sumarto,
         sekretaris        : Djamaludin (Adinegoro), dan
        bendahara        : Suwarso.[1]

            Sebenarnya dalam Kongres Pemuda I tersebut, para peserta dan pemimpin kongres telah menunjukkan usaha keras untuk mencapai suatu cita-cita persatuan. Namun, mengingat baru permana kali kongres pemuda dilaksanakan, untuk mencapai cita-cita yang dikehendaki masih mengalami kesulitan. Fanatisme terhadap adat masih terasa kuat dan berpengaruh besar dalam setiap pembicaraan. Pemimpin kongres yaitu Moh. Tabrani pandai didalam menjaga jangan sampai terjadi perpecahan, karena setiap pembicaraan yang menjurus kearah perbedaan adat dan pandangan, segera diambil jalan tengah untuk dinetralisasi.
Tujuan kongres ialah mencari jalan membina perkumpulan pemuda yang tunggal, yaitu membentuk sebuah badan sentral dengan maksud :
a)      Memajukan paham persatuan dan kebangsaan.
b)      Menguatkan hubungan antara sesama perkumpulan-perkumpulan pemuda kebangsaan (No. 26 hlm 17).
   
    Oleh karena itu, dalam kongres banyak pidato yang berjudul Indonesia Bersatu. Para pemuda diharapkan memperkuat rasa persatuan yang harus tumbuh untuk mengatasi kepentingan golongan, agama dan daerah. Juga secara jelas diuraikan tentang sejarah perjuangan indonesia, dan ditekankan masalah-masalah yang perlu mendapat perhatian pemuda untuk diresapkan dan dihayati dalam rangka mencapai cita-cita indonesia merdeka.
Hasil utama yang dicapai dalam Kongres Pemuda pertama, yaitu antara lain sebagai berikut.
a)      Mengakui dan menerima cita-cita persatuan Indonesia (walaupun dalam hal persatuan ini masih tampak samar-samar).
b)      Usaha untuk menghilangkan pandangan adat dan kedaerahan yang kolot, dan lain-lain. [2]

Jadi peserta memang menyadari pada saat itu masih sulit untuk membentuk kedaulatan tekat dalam perjuangan mencapai cita-cita nasional. Dalam Kongres Pemuda I, belum banyak orang-orang bekas anggota Perhimpunan Indonesia yang ikut membantu pembicaraan sejak persiapan maupun dalam persidangan, sehingga boleh dikatakan Kongres Pemuda I tidak berhasil sesuai yang diharapkan. [3]
Kongres Pertama untuk mencapai persatuan pemuda Indonesia ialah Kongres Pemuda Indonesia I yang diadakan tanggal 30 April sampai 2 Mei 1926 di kota Jakarta. Kongres tersebut dilantik oleh Jong Indonesia Kongres Komite dibawah pimpinan Tabrani. Komite ini dibentuk sehabis konferensi antara Jong Java, Jong Sumateranen Bond, Jong Ambon, pelajar-pelajar minahasa, Sekar Rukun dan lain-lain pada tanggal 15 November 1925, yang terdiri dari Bahder Dhojan, Sumarto, Jan Toule, Soulehuwij, Paul Pinontoan. Tujuan Kongres ialah menanam semangat kerja sama antara perkumpulan pemuda di Indonesia dalam arti yang lebih luas. Pada kongres dimajukan usul oleh PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia yang didirikan tahun 1926 di Jakarta) untuk menggabungkan segala perkumpulan pemuda dalam satu badan perhimpunan massa muda Indonesia.
Tetapi usaha ini tidak dapat dilaksanakan karena rasa kedaerahan yang masih kuat. Sehabis kongres, diadakan suatu konferensi pada tanggal 15 Agustus 1926 oleh Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Jong Batak, Ambonsche Studeererden, Minahasassische Studeereden dan Kongres Komite. Diusulkan untuk mendirikan badan permanen untuk keperluan Persatuan Indonesia. Usul diterima terkecuali oleh Jong Islamieten Bond.[4]
            Selanjutnya pada tanggal 31 Agustus 1926 disahkanlah anggaran dasar perhimpunan baru yang bernama Jong Indonesia, dengan tujuan menanamkan dan mewujudkan cita-cita persatuan seluruh Indonesia, dengan dasar nasionalisme menujuh kearah terbentuknya Indonesia Raya. Perhimpunan ini terlepas dari semua perkumpulan pemuda Indonesia, bersifat permanen dan diurus oleh satu komite atau dewan.
Usaha perhimpunan baru tidak dapat berbuat seperti yang diharapkan. Pada awal tahun 1927 oleh Algemene Studie Club di kota Bandung didirikan perkumpulan pemuda yang juga dinamakan Jong Indonesia, kelak diganti dengan nama Pemuda Indonesia. Tujuan perkumpulan ini tidak banyak bedanya dengan Jong Indonesia, hanya susunannya berlainan. Tidak berpolitik namun anggota-anggota secara perseorangan boleh. Ditetapkan pula bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa resi. Pemuda Indonesia bukan badan pusat semua persatuan perkumpulan pemuda. [5]
Notes:
[1] http://id.wikipedia./kongres pemuda
[2] Drs. Sudiyo (2004). Perhimpunan Indonesia. Rineka Cipta, Jakarta, hal 124
[3] Drs. Sudiyo (2004). Perhimpunan Indonesia. Rineka Cipta, Jakarta, hal 133
[4] Yusmar Basri (1976). Jaman Kebangkitan Nasional dan Masa Akhir Hindia Belanda. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hal 192
[5] Marwati Djokned Poerponegoro (1993). Sejarah Indonesia IV.
 Balai Putaka, Jakarta, hal 429
Daftar Pustaka
http://id.wikipedia./kongres pemuda
Drs. Sudiyo (2004). Perhimpunan Indonesia. Rineka Cipta/ Bina adiaksara, Jakarta
Yusman Basri (19760. Jaman Kebangkitan nasional dan masa akhir Hindia Belanda. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Marwati Djokned Poerponegoro, Nugroho Notosusanto. Sejarah Indonesia IV, Balai Pustaka. Jakarta

PERKEMBANGAN NAHDLATUL ULAMA

MARA ANJANI  / SI IV / A

Kalangan pesantren yang selama ini gigih melawan kolonialisme, dengan membentuk organisasi pergerakan, adalah Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) yang berdiri pada tahun 1916. Kemudian pada tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar, dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri (kebengkitan pemikiran), yang merupakan wahana pendidikan social politik kaum dan keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatul Tujjar (Pergerakan Kaum Saudagar). Organisasi ini dijadikan sebagai basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Adanya Nahdlatul Tujjar menyebabkan Taswirul Afkar tampil sebagai kelompok studi dan juga lembaga pendidikan yang berkembang pesat serta memiliki cabang di beberapa kota.
Nahdlatul Ulama digagas oleh K. H. Wahab Chasbullah dan mendapatkan dukungan serta restu dari K. H. Hasyim Ashari. Nahdlatul Ulama berkembang pesat pada saat kepemimpinan keluarga  K. H. Hasyim Ashari. Nahdlatul Ulama sebelum tahun 1928 belum begitu nampak di wilayah Sumatera.
Tujuannya dari berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama adalah:
1.      Untuk memajukan syariat Islam menurut salah satu dari empat mazhab, yaitu Syafe'i, Maliki, Hanafi dan Hambali
2.      Mengusahakan berlakunya hukum Islam dalam masyarakat.
3.      Mengimbangi perhimpunan kebangsaan dan perkumpulan-perkumpulan Islam beraliran modern.
4.      Membela kepentingan kaum muslim dan para kyai tradisional
5.      Mendukung kemajuan sekolah-sekolah Islam tradisional
6.      Memelihara dan menyantuni fakir miskin.
Untuk melaksanakan tuuan-tujuan diatas, Nahdlatul Ulama berusaha dengan cara-cara sebagai berikut: 
  1. Memperkuat persatuan di antara sesama ulama penganut ajaran-ajaran empat mazhab.
  2. Meneliti kitab-kitab yang akan dipergunakan untuk mengajar agar sesuai dengan ajaran ahlusunnah wal jamaah.
  3. Menyebarkan ajaran Islam yang sesuai dengan ajaran empat mazhab.
  4. Memperbanyak jumlah lembaga pendidikan Islam dan memperbaiki organisasinya. 
  5. Membantu pembangunan mesjid, surau dan pondok pesantren serta membantu kehidupan anak yatim dan orang miskin.
  6. Mendirikan badan-badan untuk meningkatkan perekonomian anggota.(1)
Sejak pembentukannya, Nahdlatul Ulama mampu membatasi penyebaran pikiran-pikiran Islam Moderen ke desa-desa di Jawa, yang sejak akhir tahun 1920-an tercapai suatu status quo ketika kaum Islam moderen memusatkan misinya di lingkungan perkotaan, sedangkan Nahdlatul Ulama cukup puas menarik pengikutnya, terutama mereka yang berasal dari daerah pedesaan.(2)
Sampai pada tahun 1942 telah terbentuk 120 cabang, yang tersebar di Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatra. Nahdlatul Ulama menekankan perlunya pendidikan yang mendalami ilmu agama. Gagasan dan gerakan pendidikan Nahdlatul Ulama telah dimulai sejak perintisan pendirian Nahdlatul Ulama di Nusantara. Keberadaan pendidikan di wilayah Nahdlatul Ulama berawal dari keberadaan pesantren. Para kyai pesantren, dahulu kala, ketika pulang dari Timur Tengah ke Indonesia, sebagian besar mendirikan pesantren sebagai institusi pendidikan.
Oleh karena pendidikan pesantren, maka keilmuan yang diutamakan adalah keagamaan. Pondok pesantren di Indonesia memang tumbuh dan berkembang dengan sangat pesat. Berdasarkan laporan pemerintah kolonial Belanda pada 1831, di Jawa terdapat tidak kurang dari 1853 buah pesantren dengan jumlah santr tidak kurang dari 16,500 orang. Pertumbuhan dan perkembangan pesantren terhambat ketika bangsa Eropa datang ke Indonesia untuk menjajah.
Hal ini terjadi karena pesantren bersifat non kooperatif bahkan mengadakan konfrontasi terhadap penjajah. Akibat dari sikap tersebut, maka pemerintah kolonial ketika itu mengadakan control dan pengawasan yang ketat terhadap pesantren. Gagasan gerakan pendidikan yang berlandaskan pesantren pun terus digulirkan. Dimulai dari gerakan ekonomi kerakyatan melalui Nahdlatul Tujjar (1918), disusul dengan Tashwirul Afkar (1922) sebagai gerakan keilmuan dan kebudayaan, hingga Nahdlatul Wathan (1924) yang merupakan gerakan politik di bidang pendidikan. Gerakan pemberayaan umat di bidang pendidikan yang sejak semula menjadi perhatian para ulama pendiri Nahdlatul Ulama kemudian dijalankan melalui lembaga yang bernama Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (LP Ma'arif NU) atau kerap juga disebut Darul Ma'arif. Lembaga ini bersama-sama dengan jam'iyah Nahdlatul Ulama secara keseluruhan melakukan strategi-strategi yang dianggap mampu memberdayakan program-program pendidikan yang dicita-citakan Nahdlatul Ulama.
Setahun setelah berdiri Nahdlatul Ulama, persisnya pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke-2 (1927), Muktamirin mengagendakan penggalangan dana secara nasional untuk mendirikan dan membangun madrasah dan sekolah. Pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke-3 (1928), elite Nahdlatul Ulama memprakarsai gerakan peduli pendidikan dengan mengajak para Muktamirin untuk mengunjungi pesantren-pesantren besar seperti Tambak Beras yang dipimpin K. H. Wahab Chasbullah, Denanyar yang dipimpin oleh K. H. Bisri Syamsuri, juga pesantren di Nganjuk yang dipimpin oleh K. H. Pathudin Seror Putih.
Pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke-4 (1929), panitia Muktamar merespon kecendrungan naiknya kuantitas dan kualitas pendidikan yang mendorong para Muktamirin sepakat untuk membentuk wadah khusus yang menangani bidang pendidikan yang bernama Hoof Bestur Nahdlatul Oelama (HBNO) yang diketahui oleh Ustadz Abdullah Ubaid, waktu itu disebut presiden.
Nahdlatul Ulama yang berpusat di pedesaan Jawa Timur pada tahun 1926 berdiri sebagai organisasi Islam yang konservatif. Kaum Muslim konservatif ini mengkritik Muhammadiyah sebab mengabaikan penganutan tradisional orang Indonesia kepada aliran hukum Shafi, oleh karena bermain mata dengan kaum wahabbi Ibn Saud, dan karena cara-caranya yang kebarat-baratan. Di daerah pedesaan Jawa Timur, Muhammadiyah menimbulkan oposisi sebab ia mengganggu kompromi-kompromi antara Islam dan kepercayaan Jawa yang telah berlangsung lama, dengan menuntut bahwa kebiasaan-kebiasaan sinkretis diubah dalam jiwa Islam yang lebih murni. Walaupun profesinya yang non-politik, dasar Muhammadiyah yang modern di perkotaan memberikannya suatu sifat anti-kolonial, yang mungkin paling kentara di wilayah-wilayah yang diperintah secara tidak langsung, dimana ia biasanya bertentangan dengan kekuasaan religious tradisional para raja. (3)
Dalam waktu singkat, Nahdlatul Ulama menegakkan kepemimpinan mereka atas umat Islam di Indonesia, menggeser bukan hanya para politisi Muslim dari Sarekat Islam (sejak tahun 1929 PSII) tetapi juga hierarki pejabat-pejabat agama yang diangkat Negara. Nahdlatul Ulama saling mendekati pada tahun-tahun terakhir pemerintahan Belanda guna mempertahankan kepentingan-kepentingan Islam terhadap pemerintah dan kaum nasionalis sekuler. Pada tahun 1937 Nahdlatul Ulama bergabung sebagai federasi dalam Majlisul Islam a'laa Indonesia (MIAI), untuk mensponsori konferensi-konferensi agama tahunan. MIAI ini merangkum sebagai ormas Islam. Semboyan MIAI adalah sebuah ayat Qur'an yang mengajak umat Islam bersatu: "Berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah dan janganlah berpecah belah." (Sura 3: 103). Pemrakarsa terbentuknya MIAI adalah Abdul Wahab Hasbullah dan setelah terbentuk diketuai oleh Wahid Hasyim. (4)
Pada masa penjajahan Belanda sikap Nahdlatul Ulama jelas, yaitu menerapkan politik non-cooperation (tidak mau kerja sama) dengan Belanda. Untuk menanamkan rasa benci kepada penjajah, para ulama mengharamkan segala sesuatu yang berbau Belanda, sehingga semakin menumbuhkan rasa kebangsaan dan anti penjajah. Hal ini terlihat ketika Nahdlatul Ulama menolak mendudukkan wakilnya dalam volksraad (Dewan Perwakilan Rakyat masa Belanda).(5)
NOTES:
1.      Irsyam,  Mahrus, 1984. Ulama dan Partai Politik, Jakarta: Yayasan Perkhidmatan. Hal: 12. 
2.      A.K. Pringgodigdo, 1984. Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, Jakarta: Dian 
Rakyat. Hal:
80. 
3.      Reid, Anthony, 1996. Revolusi Nasional Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Hal: 7
4.      A.K. Pringgodigdo, 1984. Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, Jakarta: Dian 
Rakyat.  Hal: 78. 
5.      Kartodirdjo, Sartono, 1990. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme. Jakarta: Gramedia. Hal: 55.
DAFTAR PUSTAKA
Kartodirdjo, Sartono, 1990. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme. Jakarta: Gramedia.
Reid, Anthony, 1996. Revolusi Nasional Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Praptanto, Eko, 2010. Sejarah Indonesia: Zaman Kebangkitan Nasional. Jakarta: Bina Sumber Daya MIPA.
Irsyam,  Mahrus, 1984. Ulama dan Partai Politik, Jakarta: Yayasan Perkhidmatan.
Pringgodigdo, A.K., 1984. Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, Jakarta: Dian 
Rakyat

PENDIDIKAN DI SAUDI ARABIA


Turisno/SP

Kerajaan Arab Saudi berdiri pada tahun 1932 dan menempati 80 persen luas semenanjung Arab. Secara geografis negara ini berbatasan dengan Jordania, Kuwait, dan Irak di sebelah utara, Laut Merah di sebelah barat, Qatar dan Uni Emirat Arab di sebelah timur, serta Yaman dan Oman di sebelah selatan.  Saudi Arabia adalah negara yang menganut hukum berbasis Islam dimana hukum syariah sebagai dasar konstitusi dan sistem hukum.
Penemuan ladang minyak dan peningkatan konsumsi minyak pada awal tahun 1970-an mendorong perkembangan industri dan urbanisasi yang begitu pesat. Saat ini, 70% populasinya menghuni kota-kota besar dan tulang punggung perekonomian masih bergantung pada industri minyak, sementara Arab Saudi banyak menggunakan tenaga asing karena kebutuhan SDM yang begitu besar. [1]
Penduduknya sekitar 5.000.000 sampai 8.000.000. Kira-kira 2/3 hidup seperti nomad atau semi nomad (pengembara atau setengah pengembara) yang disebut Bedui; 12% menjadi petani yang tetap tempat tinggalnya dan 27% di antara pengembara tinggal di kota. Orang-orang Bedui itu sangat kuat terikat pada tradisinya. Karena biasa hidup bebas, mereka tidak patuh pada peraturan dan tidak mau mengakui kekuasaan orang lain. Ada ahli yang memandang mereka tinggi hati dan suka memberontak.Dalam soal kemasyarakatan dan politik mereka tidak suka terikat pada sesuatu dan tidak mau dirintangi oleh apapun juga. Sifat-sifat ini menyebabkan mereka sukar dipimpin dan untuk dipersatukan dengan suku-suku lain. Dari dahulu sampai sekarang mereka selalu saja bersengketa satu sama lain. Suku Bedui ini tidak membentuk satu negara di Jazirah Arab, tetapi membentuk negara-negara kecil.
Dalam abad ke-18 Muhammad Ibnu Saud, seorang kepala suku dari wilayah Dariyah di Arab Utara, memakai gerakan Wahabbi yang menentang segala ajaran yang tidak sesuai dengan Al-qur'an dan Hadist untuk menyatukan kaum Bedui. Putera Ibnu Saud, Abd al Aziz memperluas wilayahnya sampai ke Laut Merah. Kemudian gerakan penaklukan itu dilanjutkannya ke Riyadh untuk menundukkan kepala suku Rashids dan hampir semua kepala suku lain di Arab Tengah. Sesudah Perang Balkan, Turki menarik tentaranya dari wilayah Arabia, yang dikuasainya sejak abad ke-16. Abd al Aziz, yang berkuasa dari tahun 1901 sampai tahun 1953 menjadi pendiri kerajaan dan penegak persatuan Arab Saudi. Dalam tahun 1901 ia merebut kota Riyadh dengan 40 orang saja. Orang Bedui, pengembara dan tidak mau patuh itu, akhirnya dapat dikuasainya dan diaturnya, dipersatukannya.Didirikannya kampong-kampung disekitar mata air untuk orang-orang Bedui itu.Di sinilah mereka menetap.Sejak penempatan pertama itu orang-orang Bedui tidak lagi berpindah-pindah kediamannya.Dalam tahun 1913 Abd Aziz menguasai sisa daerah Turki di Teluk Persia, yang menjadi Hasa sekarang.Sesudah perang Dunia I dikalahkannya Sharif Hejaz, yaitu Hussein Ibn Ali.Semenjak tahun 1932 dibentuknya kerajaan Saudi Arabia yang terdiri dari semua daerah yang didudukinya itu.Hukum dasar bagi kerajaan itu ialah Al-qur'an.
Industri minyak yang berkembang sesudah tahun 1930 membawa Arabia berhubungan dengan pekerja, dengan mesin, teknik dan dengan konsep Barat mengenai pemerintahan. Hal ini mengakibatkan pembentukan Dewan Menteri dalam tahun 1953.Sampai dengan decade 30 (1930), lebih dari 90% dari penduduknya masih buta huruf, sehingga pada tahun 1930 disusun suatu sistem pendidikan formal.
Pendidikan Islam mempunyai sejarah sama panjangnya dengan sejarah Islam sendiri. Pendidikan Islam yang mula-mula dilakukan sekolah yang bernama Kuttab, yang mengajarkan isi buku suci Alqur'an, sastra Arab, pokok-pokok gramatika dan berhitung diajarkan oleh guru-guru yang disebut Muallim.Dari zaman permulaan itu dikenal peristiwa tawanan perang Badar yang dibebaskan, kalau mereka mau dan sanggup mengajar menulis dan membaca.Di samping itu masjid juga menjadi tempat belajar, selain tempat beribadat.
Salah satu fungsi masjid ialah tempat bersembahyang Jum'at.Khotbah Jum'at itu sebenarnya telah memberi pendidikan untuk umum.Dimana-mana merupakan tempat memberi pendidikan umum.Sejak dahulu perpustakaan pun turut menjadi tempat memberi pendidikan, karena kepala perpustakaan biasanya adalah ahli sastra atau filsafat.Raja-raja dan sheikh-sheikh mendatangkan guru agama ke istananya untuk mengajar anak-anaknya dan kaum keluarganya serta orang dilingkungan yang terdekat.Kadang-kadang rumah sheikh dan guru agama pun menjadi tempat pendidikan, yang dikunjungi orang untuk mempelajari ilmu dari sheikh dan guru itu.Dewasa ini tempat belajar itu disebut madrasah.
Keadaan pendidikan di Arab tidak berkembang pesat seperti di Bagdad dan Mesir, yang mengalami persentuhan dan akulturisasi dengan kebudayaan bangsa lain. Dalam abad ke-18 timbul aliran Wahabbi yang digerakkan oleh Sheikh Muhammad bin Abdul Wahab untuk memurnikan agama Islam dari kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam waktu itu. Dan gerakan itu mendapat bantuan dari Ibn. Saud.
Pendidikan yang dilakukan seperti di atas berjalan sampai pada pertengahan abad ke-20 ini dibentuk satu Direktorat. Di ibu kota 4 propinsi Arab Saudi dibentuk Jawatan pendidikan yang mengatur pendidikan dalam propinsi itu. Salah satu dari Direktorat itu ialah Direktorat Pendidikan Wanita.Karena di Saudi Arabia wanita belum mendapat pendidikan, dianggap perlu ada satu direktorat khusus yang mengusahakan supaya kaum wanita terdorong bersekolah dan mendapat tempat di sekolah.
Usaha Emir Faisal dalam tahun 1962 untuk membuka satu sekolah yang dikhususkan untuk anak-anak perempuan dipandang permulaan dari revolusi pendidikan.Karena yang melakukannya seorang putera Mahkota, maka usaha yang mendapat banyak tantangan dari adat dan lingkungan itu akhirnya berhasil juga.Dan terbukalah pintu seluas-luasnya bagi kaum wanita dalam dunia pendidikan terutama dengan diadakannya Direktorat yang khusus mengurus pendidikan wanita.
Pimpinan umum pendidikan putri didirikan pada tahun 1380H dan pembentukannya merupakan dorongan kuat untuk pendidikan puteri di Arab Saudi.Pendidikan putri berawal dari sekelompok sekolah swasta dan sejumlah pondok pesantren. Pimpinan umum dalam tempo beberapa tahun dapat mencapai sistem terpadu untuk mendidik putri Saudi.[3]
Sebagai negara Islam, Undang-undang pendidikannya didasarkan pada perintah Tuhan kepada Nabi Muhammad s.a.w yang berbunyi :
"Bacalah dengan nama Tuhanmu, Yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah.Bacalah !dan Tuhanmu amat mulia. Yang telah mengajar dengan pena. Dia telah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya" (surat Al'Alaq 1-5)
            Sekolah Taman Kanak-kanak milik pemerintah telah ada, tetapi masih sedikit jumlahnya dan dibebaskan dari pembayaran.Malahan semua mahasiswa mendapat tunjangan dari pemerintah, baik mahasiswa Arab maupun yang bukan Arab. [2]
            Sistem pendidikan di Arab Saudi memisahkan antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan syariat Islam. Secara umum, sistem pendidikan dibagi menjadi 3 bagian utama:
1.    Pendidikan umum untuk laki-laki
2.    Pendidikan umum untuk perempuan
3.    Pendidikan Islam untuk laki-laki
Untuk pendidikan umum, baik laki-laki dan perempuan mendapat kurikulum yang sama dan ujian tahunan yang sama pula. Pendidikan umum dibagi menjadi 4 bagian:
1.    Pendidikan Dasar yang terdiri dari SD (6-12 tahun).
2.    Pendidikan Menengah (12 – 15 tahun).
3.    Pendidikan Sekunder (15-18 tahun).
4.    Pendidikan Tinggi (Universitas atau Akademi).
Pendidikan Islam tradisional bagi laki-laki difokuskan untuk membentuk calon-calon anggota dewan ulama.Kurikulum untuk sekolah Islam tradisional juga sebagian menggunakan kurikulum pendidikan umum, tetapi fokusnya pada Studi Islam dan Bahasa Arab.Untuk pendidikan agama, dilakukan di bawah supervisi dari Universitas Islam Imam Saud (Riyadh) dan Universitas Islam Madinah (Madinah).Namun demikian, di universitas-universitas umum, pelajaran agama Islam merupakan mata kuliah wajib apapun jurusan yang diambil mahasiswa.
Pada tahun 1985, total anggaran untuk pendidikan mencapai US$ 2,5 milyar atau setara dengan 3,6% dari total anggaran belanja nasional Arab Saudi. Setiap mahasiswa lokal maupun asing di universitas negeri mendapat beasiswa setiap bulan dari kementerian pendidikan sebesar SAR 800 hingga SAR 1000. [1]
Pada Sekolah Dasar (Ibtidaiah), membaca dan menulis Arab dan bahasa Arab dan pelajaran agama Islam merupakan wajib pada semua sekolah dan tingkatan. Selain daripada itu di sekolah dasar juga diberikan pula cara berhitung, ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan umum, yang meliputi sejarah, geografi, dan kewarganegaraan.
Sekolah menengahnya terdiri dari Sekolah Menengah Pertama (Mutawasitoh) dan Sekolah Menengah Atas (Tsanawiyah), masing-masing 3 tahun lamanya. Selain dari pelajaran bahasa Inggris yang diajarkan dalam huruf Latin, pelajaran di sekolah menengah ini sama dengan di sekolah menengah negara lain. Kelas 1 di Sekolah menengah tingkat atas sifatnya umum.Baru di kelas 2 dan 3 diadakan diferensiasi ke jurusan sastra atau jurusan pasti alam. Dan untuk anak-anak yang tinggal di desa disediakan transport untuk bersekolah di sekolah menengah di kota. Di sekolah tinggi diwajibkan memahami Al-qur'an disamping pelajaran agama Islam dan pelajaran lain. Perguruan tinggi ini merupakan lembaga pendidikan yang baru.Yang pertama-tama didirikan ialah Universitas Ryadh di ibukota Saudi Arabia dalam tahun 1957 dengan Fakultas Sastra.Kemudian menyusul fakultas-fakultas lain seperti Eksakta, Ekonomi, Kedokteran, Farmasi dan Teknik. Di kedua kota suci Makkah dan Madinah didirikan Universitas Islam, Akademi Militer ditempatkan dalam pengawasan Kementerian Pertahanan.
Ada satu proyek dari perusahaan minyak Arab-Amerika (Aramco) yang mendirikan College of Petroleum and Minerals di Dhahren.Perguruan tinggi ini lamanya 4 tahun.Pengajaran di sana didahului oleh Lembaga Persiapan Perguruan Tinggi selama 1 tahun, sehingga lamanya belajar menjadi lima tahun juga.
            Sekolah luar biasa untuk anak-anak cacat telah mendapat perhatian, walaupun baru tahun 1960 lembaga An-Nur dibuka untuk memberi pendidikan bagi tunanetra di Ryadh. Sekolah ini kemudian disusul oleh pembukaan sekolah luar biasa lain. Ada untuk anak-anak tuli-bisu, cacat mental dan itupun untuk berbagai tingkat pendidikan.
            Sekolah Teknik dan Keterampilan yang meliputi teknik industry, pertanian dan ekonomi pada mulanya menerima lulusan Sekolah Dasar.Tapi kemudian ditingkatkan sederajat dengan menerima tamatan Tsanawiyah, jadi tamatan Sekolah Menengah Pertama. Sekolah Teknik baru dibuka di empat kota. Jumlah pelajar yang terbanyak ialah di Sekolah Teknik Kerajaan di Ryadh.Pelajar-pelajar sekolah teknik dan kejuruan diberi pula gaji bulanan. Kalau mereka tinggal di desa disediakan pula transport yang gratis.
            Sekolah guru untuk SD yang mula-mula ialah Sekolah Normal, yang menerima lulusan SD. Lama belajar ialah 3 tahun. Setelah mencukupi tamatan Sekolah Normal ini dalam memenuhi keperluan akan guru, maka ditingkatkanlah mutu guru. Untuk guru-guru ini diberi pelajaran tambahan pada malam hari dan calon guru SD yang baru ialah tamatan SMP yang diberi pendidikan selama 3 tahun.
            Begitu juga halnya dengan guru-guru Sekolah Menengah; mula-mula calon guru itu mendapat pendidikan guru selama 3 tahun sesudah tamat dari SMA, tetapi semenjak tahun 1965 hanya lulusan perguruan tinggi yang dapat mengajar di sekolah lanjutan.[2]
            Pendidikan tinggi atau universitas di Arab Saudi terbagi menjadi dua bagian utama yakni Pendidikan Agama dan Pendidikan Umum.Namun demikian, sekarang sudah sangat banyak universitas yang menggabungkan keduanya.Jenis perguruan tinggi di Arab Saudi adalah universitas, institut untuk perempuan (college for women), institut administrasi publik (institute of public administration) dan institut keguruan (teacher training college). Semua universitas berada di bawah supervisi Kementerian Pendidikan Tinggi (Ministry of Higher Education) kecuali Universitas Islam Madinah (Islamic University of Medinah), Universitas terbaik di Arab Saudi untuk pendidikan agama Islam, yang berada di bawah supervisi dewan menteri (Council of Ministers). Untuk memasuki perguruan tinggi di Arab Saudi, calon mahasiswa harus memenuhi tes masuk perguruan tinggi (General Secondary Education Certificate Examination) atau Tawjihi.
1.      Pendidikan Tinggi Universitas
Untuk pendidikan tinggi universitas, tingkatannya sama seperti universitas pada umumnya, yaitu: Strata 1 (Bachelor), Strata 2 (Master), dan Strata 3 (Doctor). Untuk S1, waktu yang dibutuhkan adalah 4 tahun (minimal), tetapi untuk teknik, medis, dan farmasi dibutuhkan minimal 5 tahun untuk menyelesaikannya. Untuk S2 (Master) dibutuhkan minimal 2 tahun untuk menyelesaikannya dengan syarat harus sudah menyelesaikan S1.
Ada dua jalur untuk S2, dengan tesis (by thesis) atau dengan kuliah (by course). Apabila kita mengambil jalur tesis, maka setelah menyelesaikan matakuliah yang sudah ditentukan, kita harus menyelesaikan tesis kurang lebih selama satu tahun ( 2 semester), sedangkan untuk jalur kuliah, kita hanya perlu menyelesaikas seluruh mata kuliah yang telah ditentukan, namun dengan jumlah mata kuliah yang lebih banyak.
Untuk S3, lama waktu yang dibutuhkan adalah 3 tahun setelah menyelesaikan S2. untuk S3, kita harus menyelesaikan mata kuliah dan mengumpulkan disertasi yang merupakan hasil riset independen yang telah dilakukan. Selain itu, tambahan syarat kadang-kadang diperlukan, seperti: minimal mempublikasikan jurnal internasioanl atau konferensi internasional. Sebagai tambahan, ada beberapa universitas khusus untuk perempuan yang sebagian besar berfokus kepada ilmu pendidikan.Jenjang yang tersedia untuk universitas khusus perempuan ini mulai dari S1 sampai S3.
Universitas besar di Arab Saudi di antaranya King Saud University, King Fahd University of Petroleum and Mineral, King Abdul Aziz University, King Faisal University, dan universitas baru King Abdullah University of Science and Technology (KAUST).
2.       Pendidikan Tinggi Non Universitas
a.       Technical College
Pendidikan tinggi ini setara dengan diploma yang harus diselesaikan selama 3 tahun. Bidang-bidang yang tersedia: control otomatis, sistem elektrikal otomatis, otomotif, perlengkapan elektrik, instalasi elektrik, kimia industri, elektronik industri, dan teknik produksi.
b.      Higher Technical Institute
Pendidikan ini seperti layaknya D1 yang dapat diselesaikan selama 1 tahun saja.
c.       Higher Technical Institutes for Financial and Commercial Science
Pendidikan tinggi ini khusus untuk ilmu keuangan dan komersial. Kurikulum yang tersedia adalah: akuntansi, korespondensi komersil dan bisnis, bahasa ingris, asuransi, kebudayaan Islam, pemasaran dan periklanan, pembelian dan inventori, dan kesekretariatan. Lama pendidikan yang harus ditempuh adalah selama 2 tahun.
d.      The Institute of Public Administration
Lama studi untuk jenis pendidikan tinggi ini adalah selama 2 sampai 3 tahun. Bidang-bidang yang tersedia adalah: perbankan (2 tahun), pemrosesan data elektronik (2,5 tahun), administrasi rumah sakit (2 tahun), ilmu kepustakaan (3 tahun), ilmu personil (2 tahun), ilmu kesekretariatan (2 tahun), dan ilmu pergudangan (2 tahun).
e.       Teacher Training College
Untuk pendidikan keguruan terbagi menjadi 3 jurusan: guru sekolah dasar dan menengah pertama (primary school), guru sekolah menengah atas (secondary school), dan guru pendidikan lanjut (higher education). [4]


DAFTAR PUSTAKA :
[1] http://griyadifa.blogspot.com
[2] Said, M,1981,Pendidikan Abad ke-20, Jakarta : Penerbit Mutiara
[3] http://indahwidy.blogspot.com
[4] http://herukrandegan.blogspot.com