GERAKAN KEPEMUDAAN JONG JAVA

BENI BOPINDO/SI4 

       Pergerakan  kebangsaan dikalangan pemuda sudah timbul sejak pertengahan decade pertama sekitar abad XX M.
      Pergerakan kepemudaan ini bersifat regional atau kedaerahan, diantaranya adalah pergerakan kepemudan jong java yang berada di daerah jawa.organisasi ini berdiri di daerah Jakarta pada tanggal 7 maret 1915, dibentuk atas pengaruh BO (boedi utomo).
      Organisasi yang beranggotakan para pemuda dari pulau jawa , Madura , sunda dan Lombok. Memiliki pendapat yang berbeda diantara anggotanya. Seperti dalam hal kebudayaan.
      Pada dasarnya tri koro dharmo merupakan organisasi kepemudaan yang mempunyai tujuan menjalin pertalian antara pelajar-pelajar jawa sekolah menengah dan kursus keguruan,menambah pengetahuan anggotanya, serta membangkitkan dan mempertajam perasaan untuk segala bahasa dan kebudayaan hindia.
      Organisasi ini adalah organisasi yang pertama kali didirikan di kalangan pemuda ialah tri koro darmo (tiga tujuan mulia). Organisasi jong java ini dibentuk oleeh tokoh-tokoh pemuda seperti dr.R.satiman wiryosanjoyo, kardaman,sunardi dan beberapa took pemuda lainnya.
     Seperti yang telah disebutkan diatas , bahwa organisasi tri koro dharmo yang beranggotakan para pelajar dari daerah jawa,Madura,bali dan Lombok, namun pada kenyataannya anggota tri koro dharmo adalah sebagian besar adalah murid-murid sekolah menengah yang berasal dari daerah jawa timur dan jawa tengah yang lebih menonjol karena bersifat jawa sentries.

     Oleh karena itu pada kongresnya yang diadakan di daerah solo pada 12 juni 1918 nama tri koro dharo di ubah menjadi jong java yang memiliki cita- cita mempersatukan seluruh penduduk jawa sehingga menjadi persatuan jawa raya.

      Perubahan nama tri koro dharmo menjadi jong java tersebut adalah dimaksudkan untuk mempermudah kerja sama antara para pemuda pelajar sunda,Madura,bali dan Lombok.dalam kongresnya tersebut menghasilkan dua keputusan penting tentang ruang lingkup keanggotaan dan nama organisasi serta masalah kepengurusannya.

        Dengan demikian organisasi trikorodarmo ini adalah organisasi yang namanya di ubah menjadi jong java.tri koro darmo atau jong java adalah organisasi yang bisa dikatakan sebagai organisasi underbouw BO. Tujuan dari organisasi ini ialah mempersiapkan para pemuda untuk menjadi pemimpin bangsa di masa depan atau masa yang akan datang dan organisasi jong java ini berorientasi pada cinta tanah air , memperluas persaudaraan dan mengembangkan kebudayaan –kebudayaan jawa.
      Organisasi tri koro darmo (tiga tujuan mulia) setelah berubah namanya menjadi jong java mereka mengembangkan cita-cita mereka,mereka ingin membangun seluruh daerah jawa (jawa raya) dan mengembangkan pergerakan kebangsaan dikalangan rakyat pada umumnya . maksud dan tujuan dari organisasi jong java ini pada saat itu ialah:
1.      Membangun suatu persatuan jawa raya yang akan dicapai dengan antara lain mengadakan suatu ikatan yang baik sekali dengan murid-murid sekolah menengah bangsa Indonesia.
2.      Berusaha menambah pengetahuan para anggota-anggota yang berkecimpung didalamnya
3.      Menimbulkan rasa cinta akan kebudayaan sendiri terutama kebuayaan daerah jawa pada saat itu
    Pada tahun 1925 jong java mulai terlihat akan pandangan mereka terhadap dunia politik, meskipun hanya dengan mengikuti rapat-rapat politik namun dalam hal tersebut sudah dikatakan ikut serta dalam lapangan politik. Keikutsertaan jong java dalam hal politik mengubah pandangan mereka untuk menyatukan Indonesia tidak hanya akan persatuan daerahnya, jadi pengaruh yang ditimbulkan oleh jong islamiten bond menjadi hal positif terhadap perkembangan organisasi jong java dan menjadi semangat baru perjuangan jong java untuk mempersatukan Indonesia.
     Untuk berkiprah dalam dunia politik belum menjadi hal umum yang dilakukan oleh anggota organisasi jong java, karena pada dasarnya mereka hanya sebuah organisasi kedaerahan sehingga untuk masuk kedalam dunia politik perlu adanya pertimbangan khusus.jika JIB merupakan gambaran dari organisasi sarekat islam maka jong java adalah gambaran dari organisasi budi utomo yang sama-sama belum benar-benar berpolitik, bedanya dengan sarekat islam yang secara terang-terangan sudah mendirikan partai politik.

      Pada kongres jong java di daerah solo pada tahun 1926 anggaran organisasi ini diperbaiki , dimana cita-cita dan orientasi jong java di arahkan untuk menghidupkan rasa persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia pada saat itu, serta mengembangkan kerja sama dengan semua organisasi pemuda dalam rangka meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan mereka serta meningkatkan identitas ke-indonesiaan mereka. Dalam tahun 1928 jong java berfusi kedalam organisasi perhimpunan pelajar-pelajar Indonesia (PPPI).

       Jong java yang pada saat itu menjadi organisasi besar mempunyai pengaruh yang besar pula teradap perkembangan nasionalisme, maka fusi tersebut menjadi jalan awal untuk membentuk suatu kesatuan dan hasil dari fusi ini salah satunya adalah tercetuskannya sumpah pemuda yang mempunyai pengaruh besar atas symbol persatuan bangsa Indonesia.

        Karena adanya fusi jong java ini membuat jong java tidak lagi bergerak sendiri untuk mewujudkan kesatuan Indonesia,meskipun jong java dengan adanya fusi ini dinyatakan bubar namun tidak serta merta organisasi jong java ini bubar begitu saja, organisasi jong java ini tetap meneruskan tujuan dasarnya namun dengan wadah yang berbeda yaitu dapat disebut dengan Indonesia muda. Aktifitas jong java terhadap perkembangannya dapat dilihat dari keikutsertaan dalam fusi yang tujuannya untuk membentuk persatuan Indonesia yang mengarah ke politik untuk mencapai kemerdekaan dan lepas dari belanda.

    PPI itu sendiri dibentuk pada tahun 1926 oleh para mahasiswa sekolah tinggi hukum (rechtschogeschool) dan bertujuan untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Menurut sitorus (1988:36) , jasa terbesar PPPI ialah memprakarsai persatuan seluruh organisasi atau perkumpulan kepemudaan bangsa Indonesia melalui fusi , dan organisasi jong java ini bergabung kedalam organisasi PPPI ini.

     Dan dengan demikian pada tahun 1929 organisasi jong java ini dibubarkan dan kemudian diganti dengan organisasi Indonesia muda. Hal ini menandakan adanya perubahan cita-cita dan orientasi dari regionalism menuju nasionalisme yang sebenarnya.


NOTES:

[1] Sitorus L.M.(1988).sejarah pergerakan dan kemerdekaan Indonesia. Jakarta, hal:35
[2] Sitorus  L.M.(1988).sejarah pergerakan dan kemerdekaan Indonesia. Jakarta,hal:36
[3] Suwarno M.si (2011).latar belakang dan fase awal pertumbuhan kesadaran nasional.hal:88
[4] Suwarno M.si (2011).latar belakang dan fase awal pertumbuhan kesadaran nasional.hal:89


Daftar pustaka:
Ø  Suwarno M,si. 2011. Latarbelakang dan fase awal pertumbuhan kesadaran nasional.yogyakarta:pustaka pelajar.
Ø  Sitorus L.M.1988. sejarah pergerakan dan kemerdekaan Indonesia.jakarta:dian rakyat.


ILMU PENGETAHUAN BERKEMBANG PESAT DI DALAM NEGARA ISLAM SERTA KEMUNDURANNYA

YOSDALIFA KATRIN/ SP

Pernyataan bahwa agama bertentangan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sama sekali tidak ada dan dikenal dalam Islam. Sejarah menunjukkan bahwa hampir semua kemajuan ilmu pengetahuan diraih kaum muslim pada saat mereka berada dalam naungan hukum Islam, bukan pada saat hokum Islam dipisahkan dari kehidupan mereka. Bahkan buku-buku sejarah karangan para penulis non-Muslim pun mengakui kenyataan. Bukti yang lain adalah adanya berbagai kata yang biasa digunakan di Barat, seperti alcohol, cipher, sugar, algebra, admiral, alchemy, atlas, coffee, cotton, dan sebagainya, yang berasal dari istilah-istilah Bahasa Arab. Banyak di Antara kata-kata tersebut yang biasa digunakan dalam khazanah ilmu pengetahuan berasal dari Negara Islam. Inilah indikasi bahwa budaya ilmiah sudah berkembang dengan baik di sana.[1]
Ilmu pengetahuan berkembang pesat dalam naungan Islam. Tidak ada penindasan sebagaimana yang dilakukan otoritas gereja di Eropa, yang mengakibatkan “era kegelapan” sampai akhirnya masyarakat menghapuskan pengaruh Gereja di tengah-tengah masyarakat. Para pemikir Islam mendefenisikan dengan jelas dua jenis pengetahuan. Ibnu Khaldun dalam kitabnya, al-muqaddimah, mengatakan bahwa pengetahuan (‘uluum) itu ada dua macam, yaitu ilmu thabi’i (alamiah) dimana manusia mendapatkannya melalui pemikirannya, dan ilmu naqliy (pemberitaan) yang diperoleh manusia yang membuatnya. Yang pertama adalah pengetahuan-pengetahuan yang bersifat rasional dan filsafat yang diperoleh manusia dari pemikirannya sendiri. Dengan pemikirannya, ia dapat memperoleh topic-topiknya, masalah-masalahnya, dan seluruh bukti-buktinya, maupun juga aspek pengajarannya, sehingga melalui pembahasan dan pengamatannya, ia mengetahui yang benar dari yang keliru dengan potensi akalnya. Yang kedua adalah pengetahuan-pengetahuan naqliyah (informatif), juga seluruhnya didasarkan pada berita-berita dari sumber syara’, pada yang kedua ini akal tidak ikut berperan serta kecuali mengaitkan masalah-masalah yang bersifat cabang (furu’) ke masalah pokoknya (‘ushul).
Ibnu Khaldun juga mengatakan ”pengetahuan-pengetahuan yang bersifat rasional dan alamiah dimiliki oleh seluruh umat manusia, karena manusia memperoleh pengetahuan tersebut melalui tabiat pemikirannya.
Sedangkan dalam penentuan hokum Islam, kaum Muslim dilarang mengambil sumber-sumber lain dari nash-nash syara’. Allah Swt memerintahkan dan mewajibkan kaum Muslim untuk merujuk pada petunjuk wahyu dalam mengatur urusan kehidupan.
Kaum Muslim memahami bahwa pengetahuan yang bersifat rasional dan alamiah terbuka bagi siapa saja yang yang ingin mempelajarinya. Dalam ilmu murni, kita boleh menggunakan akal kita atau mengambil pendapat-pendapat yang bersifat teknis dan alamiah dari pemikiran orang lain. Contohnya bila seorang hendak merancang mesin mobil, ia boleh merujuk pada rancangan mesin yang sudah ada tanpa perlu mempertimbangkan lagi siapa yang membuatnya, Muslim atau non-Muslim. Ilmu-ilmu murni tidak melibatkan sudut pandang seseorang tentang kehidupan, baik kapitalisme, budhisme, atau Islam. Ilmu murni memberikan pemahaman yang sama bagi semua orang.
Kontribusi kaum Muslim dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dimaksudkan untuk menunjukkan beberapa contoh dari sekian banyak sumbangan ilmuwan Muslimin pada keseluruhan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sebelum kedatangan Islam, bangsa Arab hanya menguasai pengetahuan yang minim dalam bidang sejarah dan geografi. Pengetahuan sejarah yang dimiliki sangat terbatas pada suku-suku local dan wilayahnya masing-masing. Islam sebagai ideologi mendorong manusia untuk berfikir dan memperoleh pendidikan. Kaum Muslimin diwajibkan berinteraksi dengan umat lain dalam rangka menyampaikan dakwah. Dalam upayanya menyampaikan tugas ini, kaum Muslim diupayakan untuk membangun kekuatan material. Khalifah bertanggung jawab untuk menggunakan segala cara yang diperbolehkan hukum syara’ untuk memelihara urusan umat. Ini semua merupakan factor yang mendorong kaum Muslimin untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Era Keemasan Dunia Keilmuan Islam
            Ketika kita sebagai umat Islam menyebut zaman keemasan Islam, umumnya merujuk kepada kekhilafahan Abbasiayah. Dikala itu segala aspek kehidupan terlihat sangat maju, baik dari aspek ekonomi, pilitik, dan juga dari segi keilmuan. Aktivitas dan kualitas intelektual pada abad ke-8 di bawah kekhilafahan Abbasiyah dapat dikatakan telah mencapai titik kulminasinya setelah sebelumnya demulai oleh kekhilafahan Umayyah.[2]
Abad X masehi disebut sebagi abad pembanguanan daulah Islamiyah dimana dunia Islam mulai dan cordove di Spanyol dampai ke Multan di Pakistan, mengalami pembangunan di segala bidang, terutama di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Dunia Islam pada saat itu dalam kondisi maju, jaya, makmur, sebaliknya dunia barat masih dalam keadaan gelap, dan primitif. Dunia Islam sudah sibuk dengan penelitian, penyelidikan di laboratorium, dan observatorium, di barat masih sibuk dengan jampi-jampi dan hal-hal mistis.
Setelah masa Rasulullah dan Khulafa’u Ar-Rasyidin usai, dunia Islam berlanjut dibawah pimpinan Daulah Umawiyyah. Kalau tadinya perhatian dalam dunia keilmuan Islam banyak mengarah kepada ilmu-ilmu agama, memehami Al-qur’an dan hadist. Maka pada masa Umayyah tertuju pada ilmu-ilmu yang diwariskan bangsa sebelum datangnya Islam dengan tidak menafikan ilmu-ilmu agama. Khalifah Khalid bin Yazid, cucu Muawiyah sangat tertarik pada ilmu-ilmu kimia dan kedokteran. Ia menyediakan sejumlah harta dan memerintahkan para sarjana Yunani yang bermukim di Mesir untuk menerjemahkan buku-buku kimia dan kedokteran kedalam Bahasa Arab. Begitu juga dengan Kholifa Al-Walid bin Abdul Malik yang memeberikan perhatian pada Birmaristan, yaitu rumah sakit sebagai tempat berobat dan perawatan orang-orang sakit serta sebagai tempat studi kedokteran. Dan Kholifah Umar bin Abdul Aziz memerintahkan para ulama ssecara resmi untuk membukukan hadist Nabi Saw.
Tokoh-tokoh saintis Muslim
Pada bidang ilmu Agama muncul nama ibn Jarir At-thobary, ibn Athiyah AL-andalusy dengan tafsir bil-ma’tsur nya. Sedangkan Abu Bakar Asma’, dan  Abu Muslim Muhammad bin Nashr Al-isfahany dengan tafsir Bir-ra’yun nya.
Di bidang Filsafat tokoh yang terkenal adalah Al-Kindi, yang bernama Abu Yusuf bin Ishaq terkenal dengan sebutan “filosuf Arab” yang merupakan keturunan Arab asli berasal dari Kindah di Yaman, lahir di Kufah pada tahun 796 M, ia telah menulis buku kurang lebih berjumlah 238 karangan pendek yang terdiri dari berbagai macam ilmu pengetahuan.
Selain Al-kindi juga terdapai filisuf hebat, yaitu Al-Farabi, yang lahir dikota Farab pada tahun 870 M, selain menguasai dalam bidang filsafat ia juga menguasai ilmu dalam bidang kebahasaan, agama, kedokteran, musik, kemiliteran, dan sebagainya.

Dalam bindang Ilmu optic yang terkenal namanya adalah Abu Ali Al-Hasan bin Al-Haytam (965 M) yang oleh orang-orang Eropa disebut Alhazen. Ia ahli bidang optic (ilmu mata), cahaya, dan warna. Ia memiliki buku yang terkenal dengan judul “kitab al-manazir” yang membahas tentang ilmu cahaya.
Dalam ilmu kedokteran yaitu Al-Razi (865-925 M) yang terkenal di dunia barat dengan sebutan Rozes. Ia adalah murid Hunain bin Ishaq dan telah menyusun karangan tidak kurang dari 200 jilid yang kebanyakan berisi tentang ilmu kedokteran dan salah satu kitab yang fenomenal berjudul “campak dan cacar”. Dan begitu juga dengan Ibn Sina (980-1037 M) yang terkenal di dunia barat adalah dengan sebutan Avecena. Ia lahir di Afsyana degan nama lengkapnya Abu Ali Husein bin Abdullah bin Sina. Adapun ensiklopedi kedokteran dengan judul “al-qanun fi al-thib”, Ibn Sina dijuluki sebagai “bapak dokter”.
Ilmu astronomi yaitu Al-Fazari, ia adalah seorang penerjemah buku Sidhanta dari Bahasa India kebahasa Arab di Bagdad pada tahun 771 M, dan dikenal dengan karangannya yang fenomenal adalah “al-mudkhi ila ilmi hayai al-aflal, juga dikenal dengan Al-Battani. Ia adalah seorang ahli perbandingan yang besar dan penyelidikan  yang tekun. Ia melakukan perhitungan terhadap orbit bulan dan planet-planet tertentu, dan juga membuktikan kemungkinan gerhana matahari yang membentuk cincin serta berhasil menemukan dengan tepat garis edar matahari. Dan yang tak kalah terkenalnya adalah Al-Biruni (973-1050) ia adalah seorang sarjana yang paling terkemuka di bidang ilmu pasti, dan menyusun buku soal-jawab singkat tentang geometri, aritmatika, dan astronomi.
Dalam ilmu hitung yang terkenal adalah Al-Khawarizmi, yang menciptakan angka 6, 7, 8, 9 dan selanjutnya angka 0 (nol) dan juga mengenalkan ilmu aljabar ke dunia barat yang diberi nama Al-Qarism, dari kata Al-Khawarizmi.

Kemunduran Dunia Keilmuan Islam
            Keilmuan Islam yang dipimpin oleh penguasa yang peduli dengan ilmu, dan memusatkan infak kedalam bindang ilmu, bagdad menjadi kota yang beradap yang didalamnya terdapat Khalifah. Namun takdir Allah membalikkan situasi, Ghengis Khan yang berasal dari Mongolia tiba-tiba menyerang Bagdag, namun sebelum keinginan itu terlaksana ia meninggal. Kemudian tekadnya diteruskan oleh anaknya Hulagu Khan dengan pasukan berkuda, ian menyerang kota Bagdad dan menghancurkan apa saja yang ditemukan, ratusan bahkan ribuan warga tak bersalah tewas. Kemudian bangsa Mongol yang buta huruf itu menghancurkan dan membakar istana dan rumah penduduk, membunuh Khalifah dan memporak-porandakan perpustakaan. Semua koleksi hancur hanya dalam sekejap mata. Dan sungai Tigris memerah karena cucuran darah para penduduk dan menghitam karena lelehan tinta dari  buku-buku manuskrib yang dibuang ke sungai itu
            Sebab-sebab umum kemunduran dan kematian keilmuan Islam dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu:
1.      Faktor internal, diantaranya adalah krisis ekonomi, krisis militer, instabilitas politik, konflik perang saudara, kehidupan hedonis, dll.
2.      Factor eksternal, diantaranya serangan kaum salib (1099 M), pembantaian riconquista di Spanyol (1065-1248) dan invasi pasukan Mongol yang berhasil menduduki Bagdad (1256 M), yang tidak hanya memakan korban jiwa, juga perpustakaan dan fasilitas riset dan pendidikan di hancurkan.

Notes :
[1] Al Kutb, Shahib. 2002. Warisan Peradaban Islam dan Saintis Muslim. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah

Pembentukan Partai Nasional Indonesia (PNI)


Ibrahim Gani SI IV/A

Dalam masa abad ke-20 di dalam sejarah Indonesia dikenal dengan periode kebangkitan nasional maka pertumbuhan kesadaran nasionalisme mulai tampak dengan adanya kemunculan berbagai organisasi-organisasi di Indonesia. Walau awalnya tujuan dari organisasi-organisasi ini belum sampai pada fase penegasan identitas politiknya namun lambat laun sudah terlihat tujuan-tujuan mendasar dari berbagai organisasi yang menucul di negeri ini. Sebagai contoh adalah PNI, dulu sebelum resmi menjadi sebuah organisasi politik PNI merupakan kelompok-kelompok pelajar. Di Surabaya dipimpin oleh Sutomo dan di Bandung di pimpin oleh Soekarno dan kemudian menyebar ke seluruh  Jawa.
Tujuan PNI adalah mencapai Indonesia merdeka. Untuk mencapai tujuan tersebut PNI mempunyai tiga asas yaitu self help ( berjuang dengan usaha sendiri) dan nonmendiancy, sikapnya terhadap pemerintah juga antipati dan nonkooperasi dan dasar perjuangannya adalah Marhaenisme. [1]
Mereka yang bergabung dalam studieclub beranggapan bahwa setelah PKI memberontak serta kegagalannya yang sangat dirasakan oleh umum. Hal ini menunjukkan kelemahan besar dalam urusan organisasi maka dengan semangat nasionalisme mereka akan merapatkan barisan untuk menuju Indonesia yang merdeka. Salah satu usaha awal ialah prakarsa Soedjadi, Ishak, Tjokroadisoerjo, dan Boediarto membentuk  SRNI ( Serikat Rakyat Nasional Indonesia) terlebih dahulu dengan perantaraan Soedjadi prakarsa itu itu diteruskan ke PI di negeri Belanda yang selanjutnya memberi pengarahan. Namun setelah dirasa-rasakan ternyata rencana PI tidak sesuai dengan di Indonesia dan oleh karena itu mereka berusaha sendiri membentuk organisasi politik sendiri.
            Pada tanggal 4 Juli 1927 PNI resmi didirikan di Bandung melalui pertemua-pertemuan yang dilakukan oleh para anggotanya yang mana dalam pertemuan itu sering membicarakan keadaan sosial politik pada saat tersebut. Rapat pendirian partai ini dihadiri oleh Ir. Soekarno, Dr. Cipto Mangunkusumo, Soedjadi, Mr. Iskak Tjokrodisuryo, Mr. Budiarto, dan Mr. Soenarjo. Agenda pertemuan tersebut selain meresmikan pendirian Perserikatan Naisonal Indonesia (PNI) juga menetapkan Soekarno sebagai ketua dan membahas angaran-angaran dasar keorganisasian.[2]
            Pada awal berdirinya, PNI berkembang sangat pesat karena di dorong oleh fakto-faktor sebagai berikut:
1.      Pergerakan yang ada lemah sehingga kurang bisa menggerakkan massa
2.      PKI sebagai partai massa telah dilarang.
3.      Propagandanya menarik dan mempunyai orator ulung yang bernama Ir. Soekarno (Bung Karno)
Selain itu PNI juga menyatakan bahwa di dalam tubuh PNI tidak ada diskriminasi ras dan tingkat kasta melainkan sikap nasionalisme yang di junjung tinggi, sehingga dengan adanya beberapa faktor ini PNI berkembang sangat pesat dan banyak yang berminat untuk menjadi anggotanya. PNI pun mulai berkembang terlihat pada akhir tahun 1927 tercatat menjadi tiga cabang. Selain di Bandung terbentuk di Yogyakarta dan di Batavia. Pada bulan Desember di bentuk juga panitia di Surabaya untuk persiapan pembentukan cabang baru di kota tersebut. Di Surabaya sendiri resmi berdiri pada tanggal 5 Februari 1928. Kemudian memasuki tahun 1929 secara terang-terangan organisasi ini berganti nama dari Perserikatan Naional Indonesia menjadi Partai Nasional Indonesia
Tujuan dari PNI yaitu untuk memerdekan Indonesia dari penjajahan dicapai dengan berlandaskan asas " percaya pada diri sendiri ". Artinya memperbaiki keadaan politik, ekonomi, dan sosial dengan kekuatan dan semangat nasionalisme sendiri, antara lain dengan mendirikan berbagai sekolah, poliklinik, Bank Naional dan perkumpulan-perkumpulan koperasi dan lain-lain. Itulah sebabnya Partai Naional Indonesia (PNI) tidak mau ikut dengan berbagai dewan-dewan yang dilakukan oleh pemerintah.[3]
Untuk mencapai tujuan tersebut, PNI telah menerapkan program kerja sebagaimana yang dijelaskan di dalam kongresnya yang pertama di Surabaya pada tahun1928, sebagai berikut :
1.      Usaha politik, yakni memperkuat rasa kebangsaan (nasionalisme) dan kesadaran atas persatuan bangsa Indonesia, memajukan pengetahuan sejarah Indonesia, mempererat kerja sam dengan negara-negara di Asia, dan menumpas segala rintangan bagi kemerdekaan diri dan kehidupan politik.
2.      Usaha ekonomi, yakni memajukan perdagangan pribumi dan hasil kerajinan tangan
3.      Usaha sosial, yakni memajukan pengajaran yang bersifat nasional, mengurangi pengangguran, memajukan transmigrasi, dan memajukan kesehatan rakyat.
PNI juga melakukan usaha-usaha untuk membentuk Perkumpulan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) yang sudah ada pada pertengahan Desember 1927. Badan ialah federasi daripada PNI, PSI, BU, Pasundan, Kaum Betawi, sumateranenbond, dan studiclub-studiclub. Sehingga dari federasi ini memberi kessempatan pada PNI untuk mempropagandakan asas-asanya di khalayak ramai. Federasi ini memberi pengaruh kepada PNI karena banayk kedekatan antara pemimpin-pemimpin pergerakan seumumnya. Seperti yang kita ketahui bahwa pemimpin-pemimpin PNI itu adalah orang-orang tamatan sekolah tinggi yang mengorbankan jiwa dan raganya untuk mengejar cita-cita bangsa yaitu Indonesia merdeka.
Selanjutnya didirikan beberapa perkumpulan pekerja seperti : Persatuan Motoris Indonesia di Bandung (sopir-sopir), Serikat Anak Kapal Indonesia di Priok (kelasi-kelasi), Persatuan Djongos  Indonesia di Surabaya (djongos-djongos rumah), Perkumpulan OJS di Surabaya (pegawai maskapai trem Jawa Timur), dan juga koperasi-koperasi oleh anggota-anggota PNI.
Dengan berdirinya PNI membuat kesadaran bangsa atas persatuan Indonesia menjadi suatu hal yang memang sewajarnya, yang juga dijunjung tinggi oleh golongan-golongan di daerah manapun. Pan-asiatisma (rasa senasib dengan bangsa di seluruh Asia, mulai hidup benar, bahasa Melayu yang di junjung tinggi PNI ( mengikuti jejak perhimpunan Indonesia) sebagai "bahasa Indonesia" yang juga di akui oleh kelompok-kelompok lain, lalu merah putih ( warna dari Perhimpunan Indonesia dan PNI) di junjung menjadi warna kebangsaan Indonesia, dan lagu Indonesia Raya yang di tunjuk PNI sebagai lagu kebangsaan.
Pemerintah jajahan yangmembanggakan, bahwa ia membiarkan segal aksi aslkan tidak bersifat komunis, termasuk dari PNI itu sendiri. PNI bukan saja di dalam lingkungan partai tetapi juga diluarnya, mempunyai hasil yang sangat besar sekali bagi bangsa Indonesia.
Pemerintah Hindia Belanda mengawasi dengan ketat perkembangan ONI, meskipun dalam taraf pergerakannya masih ada kewajaran. Gobee penasihat Bumi putra tetap tenang dan tidak khawatir sedikitpun tetapi ia akan bertindak keras jika PNI melakukan sesuatu tindakan yang ekstrem. Akan tetapi propaganda Soekarno yang menarik dan mendapat dukungan dari masyarakat dan inilah yang menyebabkan PNI berkembang dengan sangat pesat, hingga Gubernur Jendral dalam siding pembukaan Dewan Rakyat pada tanggal 5 Mei 1928 memandang perlu memberikan peringatan kepada pemimpim PNI supaya menahan diri dalam ucapan dan propagandanya. Para pemimpin PNI tidak menghiraukan peringatan itu dan pemerintah memberi peringatan pada bulan Juli 1929. [4]  
Pada akhir tahun 1929 tersiar kabar yang bersifat provokasi bahwa PNI akan mengadakan pemberontakan pada awal tahun 1930-an. Berdasarkan berita provokasi itu pemerintah melakukan penggeledahan dan menangkap pemimpin PNI yaitu Ir. Soekarno, Maskun, Gatot Mangkuparaja, dan Supriadinata pada tanggal 24 Desember 1929. Soekarno sendiri di tangkap sepulang dari menghadiri kongres PPPKI di Surakarta yang pada waktu itu masih di Yogyakarta.
Perkara Soekarno dkk itu baru sembilan bulan berikutnya 18 Agustus 1930 diajukan ke pengadilan landraad Bandung. Meskipun rencana tentang pemberontakan itu tidak terbukti apa-apa, tetapi karena menurut keadaanya tidak dapat dituduh, bahwa mereka itu berusaha mengadakan pemberontakan mereka di hokum oleh hakim sebab:
1.      Sudah ikut pada suatu perkumpulan yang bertujuan hendak melakukan pemberontakan
2.      Sudah menghasut
Keputusan landraad di Bandung yang menghukum Ir. Soekarno 4 tahun penjara, Gatot Mangkuprojo 2 tahun, Maskun 1 tahun 8 bulan, dan Supriadinata 1 tahun 3 bulan. Pengadilan menjatuh hukuman berdasarkan pasal 153 dan 169 KUHP.  Keputusan itu di tetapkan oleh Raad van Justitie pada 17 April 1931.
Hukuman terhadap pemimpin PNI ini juga mengandung pengertian bahwa barang siapa yang melakukan tindakan seperti pemimpin PNI maka itu dapat dituduh melakukan kejahatan dan dijatuhi hukuman. Jadi anggota yang masih meneruskan jejak dan langkah PNI ada dalam bahaya. Oleh karena itu atas pertimbangan ini khususnya dari segi keselamatan maka pengurus besar PNI memutuskan pembubaran PNI tahun 1931. Walaupun PNI itu hanya beberapa tahun, tetapi memiliki pengaruh yang sangat besar dari organisasi-organisasi lain.
Kutipan :
[1]http://bangkitlah-negeriku-indonesiaku.blogspot.com
[2]Abdulrrachman, Surjomidharjo. Pembinaan Bangsa dan Masalah Historiografi. Jakarta : Idayu. Hal 35
[3]Kartodirdjo, Sartono. 1999. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme Jilid 2. Jakarta: PT Gramedia. Hal 23
[4]Abdulrrachman, Surjomidharjo.1979. Pembinaan Bangsa dan Masalah Historiografi. Jakarta : Idayu. Hal 36
DAFTAR PUSTAKA
Kartodirdjo, Sartono. 1999. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme Jilid 2. Jakarta: PT Gramedia
Abdulrrachman, surjomidharjo.1979. Pembinaan Bangsa dan Masalah Historiografi. Jakarta : Idayu.
http://bangkitlah-negeriku-indonesiaku.blogspot.com

SEJARAH PENDIDIKAN YUNANI KUNO

GUSWITA PUTRI/SP

            Orang Yunani terkenal dengan ilmu pengetahuan dan teknologinya yang tinggi. Dalam bidang ilmu pengetahuan para sarjana Yunani Kuno telah mengetahui bahwa bumi berbentuk bulat dan berputar pada porosnya. Mereka dapat menyelami rahasia pembiakan (genetika) secara mendalam, hingga pada abad 17 orang Yunani sudah dapat menemukan mikroskop.[1]
Banyak sekali ahli-ahli Yunani yang terkenal dalam berbagai bidang ilmu di zaman Yunani kuno antara lain Thales sebagai bapak ilmu alam, Phythagoras (ahli Matematika), Democritus sebagai ahli atom, Hypocrtes sebagai bapak kedokteran, Herodhotus dan Thucydides merupakan ahli dalam sejarah, Euclides sebagai ahli ilmu ukur, Archimides ahli dalam ilmu ukur ruang, dan Erasthopanes ahli dalam ilmu bumi.[2]
            Bangsa Yunani Kuno  menguasai teknologi yang sangat tinggi. Hal ini terbukti dari bekas-bekas peninggalan berupa antara lain bangunan-bangunan kuno, seperti bangunan istana, kuil, arca, dan benteng. Teknik pengecoran beton, peleburan logam, pembuatan bata, pembuatan marmer, alat rumah tangga, senjata,dan sebagainya telah dikuasaioleh bangsa Yunani Kuno.
            Dalam perkembangannya, filsafat Yunani Kuno menjadi sumber dari segala ilmu pengetahuan yang berkembang di Eropa dan seluruh dunia pada saat itu. Banyak ahli filsafat yang lahir pada zaman Yunani Kuno. Yang terkenal adalah Socrates. Ia mengajarkan filsafat kebijakan (etika) dengan logika sebagai ilmu untuk membahasnya. Kemudian ada lagi Plato yang merupakan salah satu ahli filsafat yang terkenal. Ia adalah murid dari Socrates. Ahli filsafat lainnya adalah Aristoteles, Aristoteles merupakan murid dari Plato.

A.    Pendidikan Primitif (4000 SM)
Pendidikan pada masa primitif ini di bagi dalam dua bagian yaitu:
1.      Homeros
Pendidikan Homeros menekan manusia ideal, maksudnya manusia yang memiliki arate. Orang yang memilikiialah orang yang memiliki kekuatan fisik seperti keberanian dan juga kehebatan untuk meraih kegemilangan dan kehormatan. Ciri-ciri pelajar ideal yang diinginkan Humeros yaitu berani berperang , kuat, besar, tampan, bicara sopan dan baik, kaya, berkuasa, budi pekerti, dan yang peting kuat fisiknya. Tujuan pendidikanya adalah membuat manusia memiliki kualitas-kualitas tersebut. selain itu juga ada dua hal yang di tekankan  dalam arete yaitu kemampuan dalam hal gymnastik dan musik, serta memiliki kebaikan dan keindahan. Konsep arete dalam Homeros berkembang dari ide kepahlawanan menjadi keutamaan dalam pergulatan hidup sehari-hari yang dialami kaum tani.[3]
2.      Hesiodos
Pendidikan ala Hesiodos ialah pendidikan yang membuat orang yang dididik memiliki visi popolis (visi publik, umum, dan masyarakat). Dasar moralitas dalam arete Hesiodos ialah keadilan dan kerja keras. Orang yang adil adalah orang yang bekerja keras, kerja keras ialah jalan satu-satunya menuju kepada keutamaan.

B.     Pendidikan Polis Yunani (400 SM)
            Yunani Kuno terbagi menjadi dua yaitu Sparta dan Athena.penduduk  Sparta disebut dengan Bangsa Doria, sedangkan penduduk Athena disebut Bangsa Lonia. Kedua negara tersebut merupakan Kota Polis (Negara Kota). Sparta dengan ahli negaranya Lycurgus, sedangkan Athena ahli negaranya Solon. Pada kedua negara tersebut terdapat perbedaan-perbedaan dalam dasar, tujuan, pelaksanaan pendidikan dan pengajaran. Pendidikan Polis Yunani (400 SM) yaitu:
1.      Pendidikan Sparta
Sparta adalah negara Aristoraksi-Militerisasi. Dasar Undang-Undang pendidikan Sparta adalah Lycurgus. Pendidikan di Sparta didasarkan atas dua asas yaitu:
a.       Anak adalah milik negara
b.      Tujuan pendidikan adalah membentuk warga negara yang siap membela negara (membentuk tentara yang gagah berani)
Ciri-ciri pendidikannya adalah:
a.       Pendidikan di selenggarakan oleh negara
b.      Pendidikan diperuntukan hanya warga negara yang merdeka (bukan budak)
c.       Lebih mengutamakan pendidikan jasmani
d.      Anak yang telah berusia 7 tahun di asramakan
e.       Anak yang cacat dibunuh
Pelaksanaan pendidikan Sparta Yaitu:
a.       Anak-anak di biasakan menahan lapar
b.      Tidur diatas bantal rumput
c.       Pada musim dingin hanya diselimuti dengan dengan selimut tipis
Mereka harus memiliki sifat-sifat yang dimiliki oleh seorang tentara seperti keberanian, ketangkasan, kekuatan fisik, cinta terhadap tanah air, tunduk dan patuh terhadap negara dan disiplin. Sebaliknya, pelajaran seperti kesenian di anggap tidak terlalu penting dan diabaikan. Musik dan nyanyianhanya di jadikan alat untuk menghilangkan rasa stres atas kejenuhan dalam melaksanakan dinas kemiliteran.[4]
2.      Pendidikan Athena
Athena adalah Negara Demokrasi. Dasar pendidikan Athena adalah Undang-Undang Solon berbeda dengan Sparta. Tujuan pendidikan Athena adalah membentuk warga negara dengan jalan pembentukan jasmani dan rohani yang selaras.
Ciri-ciri Pendidikan Athena adalah:
a.       Pendidikan di selenggarakan oleh keluarga dan sekolah
b.      Pendidikan di selenggarakan bagi seluruh warga negara (bebas)
Materi atau bahan ajar terbagi atas dua bagian yaitu:
a.       Gymnastis
Gymnastis untuk pembentuka jasmani. Pendidikan jasmani di berikan di Palestra, tempat bergulat, lempar cakram, melompat, lempar lembing (pentathlon dan Pancalomba).
b.      Muzis
Muzis dilakukan untuk pembentukan rohani. Pembentukan rohani dilakukan dengan membaca, menulis, berhitung, bernyayi, dan musik. Dalam pembentukan Muzis akan dipelajari Artes Liberales atau “Seni Bebas” yang terdiri atas:
1.      Trivium (3 ajaran ) yaitu Gramamatica (cara berbicara), Rhetorica (tata bahasa), dan Dialektika ( ilmu mengenai cara berpikir secara logis dan bertukar pikiran secara ilmiah).
2.      Quadrivium (4 ajaran) yaitu terdiri dari Arithmatica (berhitung), Astronomia (ilmu perbintangan), Geometrica (ilmu bumi alam dan falak), Musica (ilmu kesenian). [5]
Dalam membaca, di berikan dengan metode mengeja (sintetis murni) dan menulis dilakukan pada batu tulis yang dibuat dari lilin. Pendidikan warga negara sangat diutamakan di Yunani terutama di Sparta. Segala kepentingan negara diletakkan di atas kepentingan individu (perseorangan).
C.    Ahli-ahli pendidik Yunani
1.      Phytagoras (580-500 SM)
Tujuan pendidikan menurut Phytagoras yaitu  membentuk manusia susila dan beragama. Beberapa cita-cita yang menjadi dasar pendidikan menurut Phytagoras:
a.       Hanya jiwa yang berharga bukan badan
b.      Jiwa berasal dari dewa-dewa dan hidup terus jika badan telah mati
c.       Sejak kecil manusia mempunyai kecendrungan untuk berbuat jahat, pendidikan harus membawa manusia kearah kesempurnaan.
d.      Kesempurnaan adalah kebajikan, yaitu keselarasan antara jiwa dan raga, harmoni dalam hubungan antara manusia, harmoni pula dalam negara.
Untuk melaksanakan cita-cita tersebut, ia mendirikan sebuah lembaga dengan nama “Lembaga Phytagoras”.anggotanya hidup bersama-sama dan patuhpada aturan-aturan tertentu. Lembaga tersebut terdiri atas 3 bagian:
a.       Bagian 1
Terdiri dari calon-calon anggota dalam masa percobaan 3 tahun. Selama itu ia harus dapat mengatasi penderitaan-penderitaan dan harus membuktikan kesanggupan dalam menempuh jalan hidup yang saleh.
b.      Bagian 2
Merupakan lanjutan dari bagian 1 tetapi masih diasingkan dari anggota-anggota penuh, dan mendapat ajaran dari Phytagoras sendiri.
c.       Bagian 3
Terdiri atas anggota-anggota yang dianggap sudah cukup memenuhi syarat, mendapat hak dan kepercayaan yang penuh, mereka mendapat ajaran dari Phytagoras sendiri.
Phytagoras berpendapat bahwa, Ia percaya bahwa angka bukan unsur seperti udara dan air yang merupakan prinsip semua benda. Modifikasi angka sedemikian rupa menjadi keadilan, yang lain menjadi jiwa nalar, yang lain lagi menjadi kesempatan dan sama halnya hampir semua benda yang lain secara angka bisa dijelaskan. Bagi Phytagoras angka adalah materi dan makna cosmos.ia berpendapat bahwa genap dan ganjil secar bersama-sama menghasilkan kesatuan dan kesatuan itu menghasilkan angka yang merupakan sumber semua benda.
2.      Socrates (469-399 SM)
Socrates merupakan tokoh yang melawan ajaran Sofisme. Ia berpendapat bahwa yang menjadi ukuran segala-galanya bukan manusia melainkan ketuhanan (Theosentris).berlawanan dengan Phytagoras, Socrates percaya bahwa manusia mempunyai pembawaan untukberbuat baik. Socrates berpendapat bahwa ilmu adalah sunber dari kebajikan, oleh karena itu Ia dianggap perintis kaum Philantropin (cinta pada sesama manusia).
Dalam pelaksanaan pembelajaran Socrates melakukan dialog, percakapan, dan tanya jawab dengan masyarakat dijalan-jalan, ditaman, dan pasar. Socrates selalu mengajarkan bahwa manusia itu berpengetahuan hanya dalam hanya dalam sangkaanya saja, padahal sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa. Dengan begitu maka pada diri manusia itu tumbuh keinginan untuk mengetahui yang sebenarnya. Dengan jalan induksi, mereka dibawa kepada ilmuyang sebenarnya.
Socrates sangat banyak memiliki jasa terutama dalam pendidikan. Beberapa jasa Socrates:
a.       Pelopor dari ilmu kesusilaan.ia berpendapat bahwa filsafat merupakan alat untuk mencapai kebijakan .
b.      Sebagai pelopor dari ilmu mengenai pengertian-pengertian. Ia berusaha selalu mencari hakikat dari benda-benda yakni pengetian-pengertian.
c.       Phytagoras dan Socrates adalah peletak dasar Paedagogik moral.
Pada akhir hidupnya Socrates dijatuhi hukuman minum racun oleh hakim, apabila Ia tidak bersedia menarik kembali ajaranya. Socrates dianggap telah merusak akhlak pemuda, dan difitnah oleh kaum Sofis tela mengajarkan dewa-dewa baru dan membelakangi dewa-dewa resmi.
3.      Plato (427-347 SM)
Plato adalah murid Socrates. Sistem pendidikan yang lengkap dan dan merupakan bagian dari ajaran ketatanegaraan pertama disusun oleh Plato, Ia adalah seorang pengarang pertama di Yunani. Tujuan pendidikan menurut Plato adalah membentuk warga secara teoritis dan praktis. Setiap manusia bertugas untuk mengabdikan kepentingannya kepada kepentingan negara. Oleh sebab itu pendidikan harus diselenggarakan oleh negaradan untuk negara. Dengan prinsip tersebut Plato disebut sebagai pencipta pendidikan sosial. Plato mengatakan bahwa kesulitan-kesulitan politis dapat diatasi apabila ada keadilan. Kaeadilan akan terwujud bila setiap orang melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Dengan demikian tujuan pendidikan itu selanjutnya adalah untuk membentuk negara susila yang berdasarkan keadilan.
Dalam pendidikan moral anak-anak talah dapat melakukan suatu perbuatan meskipun mereka belumsanggup menyadari atau memahaminya. Sehingga pendidikan harus dimulai sejak kecil, yaitu dengan pembiasan dan kemudian pengajarannya. Ajaran Plato sangat berpengaruh besar misalnya dalam pemerintahan gereja abad pertengahan. Meskipun dipengaruhi oleh bangsa Yahudi,namun pemerintahan gereja sangat platonis.

4.      Aristotales (384-322 SM)
Aristoteles Adalah murid dari Plato. Cita-cita pendidikan Aristoteles adalah kebajikan itu diperoleh dengan jalan aman, melalui pengalaman, pembiasaan-pembiasaan, akal budi, dan pengertian.pendidik harus mempelajari dan memimpin pembawaan dan kecendrungan anak-anak. Dengan latihan dan pembiasaan mereka diajarkan melakukan perbuatan yang baik dan meninggalkan yang buruk. Menurut Aristoteles sumber pengetahuan adalah pengalaman, pengamatan, yang menghasilkan bahan untuk berpikir. Dalam satu hal ia sefaham dengan J.Locke bahwa jiwa seseorang pada waktunya diahirkan tidak berisi apa-apa (tabula rasa). Pendidikan formal menurutnya berakhir pada usia 21 tahun, dan periode ini terbagi menjadi 4 bagian yaitu:
a.       Pendidikan s/d usia 5 tahun
b.      Pendidikan s/d usia 7 tahun
c.       Pendidikan s/d usia pubertas
d.      Pendidkan s/d usia 21tahun. [6]
Sebelum usia 5 tahun hendaknya pendidikan bersifat sewajarnya, disesuaikan dengan keadaan anak, seperti membaca, menulis, berhitung, musik yang di anggap sebagai mata pelajaran untuk latihan kejiwaan. 
Notes:
[1] Pearl S. Buch (2002).Negara dan Bangsa. PT.Ikrar Mandiri Abadi. Jakarta.
[2] Margareth Nicholas dan Eddy Soetrisno (2009). 100 Tokoh Besar Yang Membentuk Sejarah Dunia . Inti Media dan Ladang Pustaka. Jakarta 
[4] Maleha Aziz dan Santi Paradila Sandi (2007). Sejarah Pendidikan. Cendikia Insani. Pekanbaru
[6] Michael H. Hart (1978). Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah. PT.Dunia Pustaka Jaya. Jakarta