Kelahiran dan Pendidikan Muhammadiyah pada Pasca kebangkitan nasional

Muhammad Nur/ SIV B

            Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi islam terbesar di Indonesia dan memilki anggota yang pada saat ini telah banyak tersebar di seluruh Indonesia. Jadi Muhammadiyah  tidak di ragukan lagi eksistensinya di Negara ini. Pada dasarnya Muhammadiyah bercorak organisasi yang berdasarkan agama Islam, tuntunan sunah Nabi, sosial dan Kebangsaan. Jadi tidaklah salah kita melihat kembali sejarah yang di alami organisasi muhammadiyah itu sendiri baik dari awal berdirinya, pada masa kebangkitan nasional maupun sampai pada saat sekarang ini, sehingga begitu menarik untuk kita ketahui.
            Organisasi ini didirikan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 bertepatan dengan tanggal 18 Zulhijah 1330 H. yang didirikan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan atas saran yang di ajukan oleh murid-muridnya dan beberapa orang anggota Budi Utomo untuk mendirikan suatu lembaga pendidikan yang bersifat permanen.[1]
            Riwayat hidup pendiri organisasi ini, Ahmad Dahlan sewaktu mudanya bernama Muhammad Darwis, Lahir tahun 1285H atau 1868M di kampung kauman Yogyakarta. Ayahnya ulama yang bernama KH. Abubakar bin KH. Sulaiman pejabat Khatib di masjid besar kesultanan Yogyakarta. Ibunya adalah putrid H. Ibrahim bin KH. Hassan pejabat penghulu kesultanan. Melihat dari garis keturunanya ini maka ia adalah anak orang yang berada dan berkedudukan baik dalam masyarakat.[2]
           Semasa kecil Ahmad Dahlan tidak pergi kesekolah, sebagai gantinya Ahmad Dahlan diasuh serta di didik mengaji oleh atahnya sendiri. Dan kemudian ia meneruskan pelajaran mengkaji tafsir, hadis, fiqh dan bahasa arab kepada beberapa ulama yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya. Dengan bantuan kakaknya (nyai haji Saleh) maka pada tahun 1890 ia pergi ke mekah. Dengan beliau belajar dan menuntut ilmu di negeri mekah tersebut memuat jalan pikiran beliau terbuka lebar untuk membuat islam lebih maju di Indonesia di masa yang akan datang. Di mekah Ahmad Dahlan banyak bertukar pikiran dengan para ulama yang ada di sana sehingga membuat pengetahuanya tentang islam semakin bertambah dan beliau berniat untuk memajukan islam di tanah air ini.[3]
          Maka setelah beliau pulang dari menuntut ilmu di Mekkah, beliau mengemukakan pendapatnya tentang yang ia inginkan di mulai dari keluarganya karena keluarga beliau merupakan keluarga yang kental akan agama maka usulan tersebut di sambut baik dan didukung oleh keluarganya sehingga pada tanggal 18 November1912 bedirilah organisasi islam yang bernama Muhammadiyah. Perkumpulan ini berusaha mengembalikan ajaran islam kepada sumber aslinya yaitu al Qur’an dan assunah, seperti yang di amanatkan oleh Rasulullsh SAW. Itulah sebabnya tujuan perkumpulan ini meluaskan dan mempertinggi pendidikan agam islam secara modern, serta memperteguh keyakinan tentang agama islam.[4]
            Walaupun Muhammadiyah telah berdiri namun penyebarannya pada masa penjajahan belum bisa maksimal Karena yang seperti kita ketahui bersama setiap organisasi-organisasi yang ada di Indonesia ini di awasi ketat oleh pemerintahan kolonial Belanda tak terkecuali dengan Muhammadiyah, di karenakan organisasi ini bersifat ke islaman Pemerintahan belanda mengawasi organisasi ini karena bertentangan dengan kepercayaan dan agama yang di bawa oleh para penjajah. sehingga pada saat itu organisasi ini hanya berkembang di Yogyakarta, pengajaran dan pendidikan islam biasanya di berikan di masjid-masjid dan langgar-langgar. Pada saat penjajahan masyarakat pribumi dan anak-anak pribumi tidak dapat dengan mudah mengeyam pendidikan dan bersekolah, hanya anak-anak tertentu saja yang boleh bersekolah oleh pemerintah Belanda dengan adanya tindakan yang di lakukan oleh Ahnmad Dahlan memberikan pendidikan agama secara cuma-cuma terhadap anak-anak pribumi, sehingga masyarakat banyak yang mendukung tindakan tersebut sehingga Muhammadiyah memiliki anggota yang cukup banyak dan mendapat respon yang positif dari masyarakat. Akan tetapi daerah operasinya hanya di wilayah Yogyakarta saja.
            Daerah operasi organisasi Muhammadiyah mulai di luaskan setelah tahun 1917. Pada tahun itu Budi Utomo mengadakan kongresnya di Yogyakarta (malahan rumah KHA Dahlan di buat sebagai pusat kongres tersebut) ketika KHA Dahlan  telah dapat mempesona kongres itu melalui tablig yang di lakukanya sehingga pengurus Muhammadiyah menerima permintaan dari berbagai tempat di jawa untuk membuka cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh jawa. Sehingga pada tahun 1920 Muhammadiyah mulai di kembangkan di luar Yogyakarta.[5]
    Sebagaimana dikemukakan terdahulu bahwa tujuan semula Muhammadiyah adalah untuk menyebarluaskan agama islam yang kemudian berkembang menjadi meluaskan pendidikan agama islam dan memupuk perasaan agama para anggotanya. Salah satu jalan yang di tempuh untuk mencapai tujuan tersebut adalh dengan mendirikan sekolah di seluruh tanah air. Tujuan pendidikanya ialah terwujudnya manusia muslim, berahlak, cakap, percaya diri sendiri, berguna bagi masyarakat dan Negara. Muhammadiyah mendirikan berbagai jenis dan tingkat sekolah, serta tidak memisah-misahkan antara pelajaran agama dengan pelajaran umum. Dengan demikian diharapkan bangsa Indonesia dapat di didik menjadi bangsa yang utuh berkpribadian, yaitu pribadi yang berilmu pengetahuan umum luas dan agama yang mendalam.
            Pada zaman pemerintahan Kolonial Belanda, sekolah-sekolah yang dilaksanakan Muhammadiyah adalah:
A)    -Sekolah umum.
Taman kanak-kanak (Bustanul Atfal), Vervolg School 2 tahun, Schakel School 4 tahun, HIS 7 tahun, Mulo 3 tahun, AMS 3 tahun dan HIK 3 tahun.
Pada sekolah-sekolah tersebut di ajarkan pendidikan agam islam sebanyak 4 jam pelajaran seminggu.
-Sekolah Agama.
Madrasah Ibtidaiyah 3 tahun, Tsanawiyah 3 tahun, Mualimin/Mualimat 5 tahun, Kulliatul Muballigin (SPG Islam) 5 tahun. Pada madrasah-madrasah ini diberikan mata pelajaran pengetahuan umum.
       Sekolah-sekolah tersebut ternyata mampu berjalan sebagaimana mestinya. Oleh karena itu jika di perhatikan lebih jauh, maka pendidikan yang di selengarakan Muhammadiyah mempunyai andil yang sangat besar vagi bangsa dan Negara, dan tentu saja menghasilkan keuntungan-keuntungan di antaranya:
1)    -Menambah kesadaran nasional bangsa Indonesia melalui ajaran islam.
2)  -Melalui sekolah-sekolah Muhammadiyah ide-ide reformasi islam secara luas di sebarkan.
3)    - Mempromosikan kegunaan ilmu pengetahuan modern. [6]
Pada masa Indonesia merdeka, Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah/madrasah-madrasah berlipat ganda banyaknya dari masa penjajahan Belanda dahulu. Menurut siaran Muhammadiyah (edisi 1957) jumlah sekolah agama Muhammadiyah adalah sebagai berikut:
1)      Madrasah Ibtidaiyah 412 buah
2)      Madrasah Sanawiyah 40 buah
3)      Madrasah Diniyah (Awaliyah) 82 buah
4)      Madrasah Mu’allimin 73 buah
5)      Madrasah pendidikan guru agama 75 buah. [7]
           Dengan adanya sekolah-sekolah yang didirikan oleh Muhammadiyah dapat menciptakan generasi-generasi yang memiliki pengetahuan dan daya fikir yang luas sehingga hal ini dapat menciptakan semangat kebangkitan nasional terhadap genersi muda tersebut. Jadi dapat di katakana bahwa organisasi Muhammadiyah mampu memberikan kontribusi terhadap kebangkitan nasional Indonesia.  
            Memperhatikan prestasi kader Muhammadiyah tak di sangsikan lagi kesatuan nasional ini salahsatunya dianyam olek aktor intelektual Muhammadiyah di berbagai daerah di tanah air. Bahkan ketika kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan pun Muhammadiyah tak kenal lelah terus memberikan kontribusinya bagi kemejuan bangsa dan kedaulatan NKRI. Menelaah sejarah Nasional Indonesia tidak akan sempurna tanpa mengkaji gerakan Muhammadiyah. Dan menulusuri jejak sejarah Muhammadiyah dari zaman ke zaman, pantas pula bila 20 mei di jadikan momentum kebangkitan nasional. Tentunya selain kelahiran Boedi Oetomo (BO) yang hanya berusia 30 tahunan dengan pengaruhnya seluas Jawa dan karena 20 Mei menjadi titik tolak perkembangan Muhammadiyah yang memberikan dampak perubahan social nyata di tanah air Indonesia. Bercermin dari Kebangkitan Nasional di atas, spirit kebangkitan nasional adalah jiwa kemandirian dan membangun harga diri bangsa di hadapan bangsa asing. Kedaulatan bangsa sendiri adalah harga mati bagi tetap tegaknya NKRI. Karena memperingati Kebangkitan Nasional kali ini sejatinya kita seluruh elemen bangsa terlebih pemerintahnya perlu melakukan evaluasi sudah sejauhmana kita menjaga negeri ini dengan membangun kemerdekaan sejati dan kemendirian bangsa. Karena spirit Kebangkitan Bangsa adalah cita-cita kemerdekaan bangsa. Kami cinta perdamaian, tetapi kami lebih cinta kemerdekaan. Inilah spirit yang tercermin dalam pembukaan UUD 1945,” maka segala bentuk penjajahan di atas dunia harus di hapuskan”. [8]  

Notes:
[1] Dra. Zuharini, dkk.1992. Sejarah Pendidikan Islam. PT Bumi Aksara. Jakarta. Hal : 171
[2] Drs. Hasbullah.1995 Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta. Hal : 94
[3] Drs. Hasbullah.1995 Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta. Hal : 95
[4] Drs. Hasbullah.1995 Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta. Hal : 95
[5]  Dra. Zuharini, dkk.1992. Sejarah Pendidikan Islam. PT Bumi Aksara. Jakarta. Hal : 172
[6] Drs. Hasbullah.1995. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta. Hal : 101
[7] Dra. Zuharini, dkk.1992. Sejarah Pendidikan Islam. PT Bumi Aksara. Jakarta. Hal : 177

     Daftar pustaka
Drs. Hasbullah.1995. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada
Dra. Zuharini, dkk.1992. Sejarah Pendidikan Islam.Jakarta : PT Bumi Aksara

LAHIRNYA BAPAK PENDIDIKAN MODERN INGGRIS (YOHANES AMOS COMENIUS)

SISKA MAULANA PUTRI/  SP

1.      Latar Belakang
            Inggris adalah sebuah negara yang merupakan bagian dari Britania Raya. Negara ini berbatasan langsung dengan Skotlandia di sebelah utara dan Wales di sebelah barat, Laut Irlandia di barat laut. Laut Keltik di barat daya, serta Laut Utara di sebelah timur dan Selat Inggris, yang memisahkannya dari benua Eropa, di sebelah selatan sebagian besar wilayah Inggris terdiri dari bagian tengah dan selatan pulau  Britania Raya di Atlantik Utara. Inggris juga mencakup lebih dari 100 pulau-pulau kecil seperti Isles Of Selly dan Isle Of Wight.[1]
            Dengan luasnya negara yang di miliki oleh Inggris. Negara Inggris juga memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia. Salah satu tonggak penting dalam sejarah pendidikan di Inggris adalah pertama kalinya program wajib belajar diberlakukan, yaitu pada tahun 1880. Wajib belajar diberlakukan saat itu hanya untuk anak berusia 5 sampai dengan 10 tahun. Batas akhir usia wajib belajar kemudian bertambah secara bertahap dan mencapai usia 14 tahun pada tahun 1918. Tahun 1947 dan tahun 1973, batas akhir usia tersebut kembali masing-masing meningkat menjadi 15 dan 16 tahun. Dengan diberlakukannya undang-undang Education and Skills Act 2008, mulai tahun 2013 sampai dengan 2015, batas akhir usia wajib belajar tersebut akan bertahap meningkat menjadi 18 tahun.[2]
Terbukti dengan begitu banyaknya Universitas ternama yang di akui oleh dunia yang berada di Inggris. Serta berada di peringkat tertinggi di dunia, seperti Universitas Cambridge, Imperial College London, Universitas Oxford dan University College London, Namun siapa sangka Inggris yang terkenal akan sekolah-sekolah yang hebat. Pada awal abad pertengahan, Inggris memiliki sistem pendidikan yang sangat terburuk pada masanya.Comenius yang seorang guru mengenal baik kelemahan yang ada pada sistem pendidikan atau sekolah pada abad pertengahan.
            Sebagai orang yang berkecimpung di dalam dunia pendidikan ia pun tidak hanya mengeritik dan berpangku tangan. Ia ikut ambil andil dalam mengembangkan sistem pendidikan yang lebih baik.
2.      Munculnya Comenius di Inggris
Comenius adalah seorang yang beragama Prostetan. Pada tahun 1618 terjadi perang agama antara agama Katolik dan Protestan. Hal tersebut mengakibatkan meletusnya perang tiga puluh tahun ( 1618-1648 ), yang pada akhirnya agama katolik lha yang menang dan merupakan agama yang di akui hukum di Moravia. Orang-orang yang berada di golongan atas mereka mendapat pilihan untuk memilih untuk pindah agama atau angkat kaki dari negara itu. Comenius yang merupakan golongan atas lebih memilih untuk angkat kaki dari negara itu dari pada dia harus pindah agama.
Akhirnya ia dan keluarganya memilih pindah ke kota kecil di Leszno. Pusat kegiatan persatuan Bruder yang terkenal  di Polandia. Di sana dia bekerja sebagai seorang guru bahasa latin di Gimnasium Leszno. Namun ia tidak merasa puas dengan metode pengajaran yang tidak memadai, di tambah lagi dengan adanya batasan-batasan orang yang boleh menerima pendidikan.
Karena sebagian besar sekolah pada abad pertengahan di kendalikan oleh Geraja Katolik. Oleh karena itu, pelajaran bahasa latin adalah pelajaran yang paling di utamakan, untuk memastikan tenaga yang dapat di rekrut menjadi pastor selalu tersedia. Selain itu, tidak adanya tujuan belajar yang spesifik dan tidak ada rancangan untuk mengarahkan para siswa. Di tambah lagi disiplinnya yang ketat, kadang-kadang kejam dan suasana moral yang sangat mengerikan.
Pada abad ini merupakan sistem pendidikan yang paling " Semeraut " hal ini di katakan oleh Simon Laurie. Namun Comenius lebih tegas mengatakan bahwa  pendidikan pada saat itu sebagai " Rumah Penjagalan Pikiran ".
3.      Lahirnya Pemikiran Baru
Comenius bukan lha orang pertama yang menyeruhkan reformasi pendidikan banyak para tokoh-tokoh yang menyerukan perubahan namun mereka semua gagal mendapatkan dukungan resmi terhadap gagasan-gagasan mereka. Namun, Comenius tetap mengemukakan pendapatnya tentang reformasi pendidikan.
Terbukti dengan ia menyampaikan suatu sistem yang membuat proses belajar menyenangkan bukannya membosankan dan melelahkan. Ia menyebut rancangan pendidikannya "PAMPAEDIA" yang berakti "PEDIDIKAN UNIVERSAL". Ia menginginkan sistem pengajaran progresif yang dapat di nikmati setiap orang. Ia menginginkan pengajarn yang bertahap, katanya, dengan konsep dasar yang meningkat secara bertahap dan wajar hingga konsep yang lebih rumit. Comenius juga mengajarkan penggunaan bahasa ibu selama beberapa tahun pertama sekolah, sebaliknya dari bahasa latin.[3]
Akan tetapi, pendidikan seharusnya tidak dibatasi pada usia menjelang dewasa, tetapi mencakup seluruh masa hidup seseorang. Dengan pemahaman seperti itu, ia membagi periode kehidupan manusia menjadi tujuh tahap.
  1. Sekolah Kelahiran
  2. Sekolah Bayi
  3. Sekolah Kanak-kanak
  4. Sekolah Remaja
  5. Sekolah Pemuda
  6. Sekolah Orang Dewasa
  7. Sekolah Lanjut Usia
Comenius menulis bahwa kegiatan belajar-mengajar hendaknya "benar-benar praktis, benar-benar menyenangkan, dan sedemikian rupa sehingga sekolah benar-benar bagaikan permainan, yakni awal yang menyenangkan dari seluruh kehidupan kita". Ia juga percaya bahwa sekolah seharusnya bukan hanya berfokus pada pendidikan pikiran melainkan juga pada pendidikan manusia seutuhnya, bahwa itu hendaknya mencakup pengajaran moral dan rohani.[3]
            Selanjutnya menurut Comenius pendidikan atau mengajar akan menjadi mudah dan menyenangkan apabila mengikuti proses yang terjadi dalam alam. Hal itu terjadi apabila:
1.      Memulai sedini mungkin sebelum jiwa dan kepribadian peserta didik, murid atau siswa dirusak oleh berbagai kepentingan.
2.      Jiwa dan kepribadian harus dipersiapkan sebaik mungkin untuk menerima pendidikan. Situasi dan iklim pendidikan harus diciptakan secara kondusif.
3.      Pendidikan harus berlangsung dari hal-hal yang umum ke hal-hal yang khusus, dengan memulai dari hal-hal yang mudah dan berproses menuju ke hal-hal yang sukar.
4.      Murid atau pelajar tidak dibebani dengan banyaknya mata pelajaran.
5.      Penekanan ada pada proses. Kemajuan tidak dipaksakan, tetapi berproses secara berangsur-angsur.
6.      Tidak memaksakan pengetahuan yang berat. Menurut Comenius, intelektualitas jangan dipaksakan, tetapi berkembang sesuai dengan usia dan menggunakan metode yang alami.
7.      Dan terakhir adalah pendidikan harus terlibat dan melibatkan diri di tengah realitas sosial. Para pelajar atau siswa harus diikutsertakan dalam pembangunan masyrakat, dengan menyertakan mereka dalam situasi sosial masyarakat yang ada.[4]
Hasil karya Comenius yang paling terkenal adalah The Visible World, sebuah buku panduan membaca untuk anak-anak yang di lengkapi gambar. Buku itu pun merupakan tonggak penting dalam sejarah pendidikan. Ellwood Cubberley, seorang pakar pendidikan pada abad ke-20, mengataka bahwa buku itu "tidak ada gantinya di Eropa selama seratus lima belas tahun dan di gunakan sebagai buku pelajaran selama hampir dua ratus tahun"
            Dan hal itu membuat Comenius menjadi di eluk-elukan sebagai seorang yang jenius. Bahkan di seluruh Eropa, para sarja menggap Comenius sebagai pemimpin dan sering meminta nasehat dari Comenius. Menurut buku Magnalia Christi Americana, dengan kemansyuran yang di miliki oleh Comenius membuat dia di angkat menjadi sebagai Presiden Harvard University, di Cambridge, Massachusetts. Akan tetapi, Comenius menolak karena ia tidak mencari nama, kehormatan, serta jabatan yang tinggi.
            Namun pada tahun 1656 Comenius kehilangan hampir segala sesuatu yang di milkinya. Namun, untunglah ia meninggalkan kekayaan dalam bentuk lain. Buku A Brief Historyn Of Education berkata, "Comenius mengubah seluruh penekanan dalam penyampaian instruksi yang sebelumnya melalui kata-kata menjadi melalui benda-benda, serta menjadikan pengajaran ilmu pengetahuan sains dan informasi dunia yang bermanfaat, sebagai kunci dari karyanya."
            Karya Comenius yang begitu besar terhadap pendidika membuat belajar-mengajar lebih sistematis. Serta merevolusi pengajaran di dalam kelas. Seorang pendidikan dari Amerika bernama Nicholas Butler berkata, " Comenius menempati posisi paling penting dalam sejarah pendidikan. Ia memperkenalkan dan mendominasi seluruh gerakan modern dalam bidang pendidikan dasar dan menengah". Hal ini lah yang membuat Yohanes Amos Comenius mendapata gelar kehormatan sebagai "BAPAK PENDIDIKAN MODERN".
            Namun Comenius tetap rendah hati bahkan merasa belum bisa menjalankan perintah dari ALLAH. Ia tetap rendah hati dengan gelar yang ia terima yaitu sebagai Bapak Pendidikan Modern.
NOTES :
[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Inggris
[2] http://atdikbudlondon.com/indonesian-students/info-dan-layanan-atdik/buku/sistem-pendidikan-di-inggris/
[3] http://id.wikipedia.org/wiki/John_Amos_Comenius
[4] https://krisbheda.wordpress.com/tag/john-amos-comenius/
[5] Robert R. Boehlke. 1996. Sejarah Perkembangan pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 1.

NAHDATUL ULAMA (NU)


IRMA LINDA / SI IV/ A

Sejak awal penyebaran agama Islam mempunyai pusat-pusat penyebaran dikota dan di desa. Ditempat tersebut agama Islam berkembang ke daerah sekitarnya, para tamatan pesantren mendirikan pesantren-pesantren baru ditempat lain atau di tempat asal santri tersebut, dengan demikian penyebaran islam agama Islam terus meluas, pada umumnya pesantren-pesantern yang berpusat dipedesaan menjadi pusat pengajaran agama Islam yang sudah tua sekali, sebelum datangnya pengaruh baru. Pusat pengembangan agama Islam yang ada dikota-kota biasanya datang kemudian menjadi pusat pembaharuan Islam. Dapat dikatakan bahwa pusat agama Islam dan pengikutnya di pedesaan adalah para ulama dan satri tradisional dan mereka yang tinggal di perkotaan adalah pengikut modernis, sebagai wadah gerakan islam tradisional sesungguhnya telah ada sejak lama. [1]
 Nahdlatul Ulama merupakan kebangkitan Ulama atau disebut juga dengan kebangkitan Cendekiawan Islam disingkat dengan NU. Nu adalah sebuah organisasi islam yang besar di Indonesia dimana NU berdiri pada 31 Januari 1926 M (16 Rajab 1344 H). [2] Bergerak dalam bidang pendidikan, sosial dan ekonomi, Nahdahlatul Ulama didirikan oleh K.H. Hasjim Asjari (Tebuireng Jombang), K.H. Dahlan, K.H. Abdul Wahab Hasbullah dan tokoh ulama lainnya, Nu didirikan sebagai reaksi terhadap kebangkitan golongan modernis.
Keterbelakangan baik secara mental  maupun ekonomi yang di alami bangsa Indonesia yang diakibatkan dari penjajahan maupun akibat dari kungkungan tradisi yang menimbulkan kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa Indonesia melalui jalur pendidikan dan organisasi. Semangat kebangkitan menyebar ke seluruh Indonesia setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalan yang jauh dari bangsa lain,maka muncul berbagai organisasi pendidikan dan pekbebasan. Kalangan pesantren yang selama ini gigih melawan kolonialisme merespon kebangkitan organisasi  tersebut dengan membentuk organisasi pergerakan seperti Nahdatul Wathan (kebangkitan tanah air) pada 1916.
 Pada September 1926 Nahdatul Ulama menyelenggarakan kongresnya di Surabaya sebagai aksi menentang kongres partai sarikat islam dan kongres islam sedunia cabang Hindai Timur atau MAIHS (Muktamar Al Islam Al Islami Fa'rul Hindis Asj-Sjargyah). Ulama-ulama ortodok hawatir akan niat sarikat islam dan Muhamaddiyah yang bermaksud ikut sertan dalam kongres islam sedunia yang akan berlangsung di Mekah pada 1 Juni 1926 dan kongres al islam kedua di Garut, telah diputuskan SI mengutus Tjokroaminotonke kongres itu dan Muhamadiyah memutus akan mengutuskan H. Mansur. Kongres itu berada dibawah pengaruh Raja Ibnu Saud. Golongan ortodoks khawatir bila Sarikat Islam dan Muhammaddiyah  mengirimkan wakil-wakilnya ke kongres tersebut, hal itu kan mendatangjkan pengaruh Wahabi di Indonesia.  1923 didirikan persatuan pemuda NU dibawah pimpinan K.H. Abdullah Ubaid dan dalam kongres NU kesembilan 24 April 1934 di Banyuwangi, nama pemuda NU diubah menjadi Ansor Nahdatul Ulama. Nama Ansor diberi oleh K.H. Hasyim Asjari sebagai hasil Isticharah-nya.
Nahdatul Ulama sama seperti Muhammadiyah pada dekade dua puluhan tidak mencampuri politik, dengan tujuan untuk memajukan paham ortodok menurut aliran Sjafi, Maliki, Hanafi dan Hambali denagn jalan memeliharabhubungan antara ulama-ulama keempat aliran tersebut. NU berusaha supaya dalam pelajaran agama islam tidak digunakan kitab-kitab kaum modernis. NU berusaha memajukan sekolah-sekolah islam dan memelihara mesjid, langgar, surau dan lain-lain dimana tempat ibadah umat islam. Pengaruh NU paling menonjol terlihat di Surabaya, Kediri, Bojonegoro, dan Kudus. [3]
   Kebangkitan para ulama dalam merespons modernitas tidak terlepas dari berbagai kejadian dan peristiwa sebelumnya yang memiliki keterkaitan satu dengan yang lain.
Pertama, berdirinya sebuah forum diskusi yang bernama Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri (kebangkitan pemikiran) sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri, forum diskusi tersebut didirikan di Surabaya pada 1914 oleh dua orang ulama muda yaitu Wahab Hasbullah dan Mas Mansur. Tetapi forum tersebut kemudian berkembang menjadi arena perdebatan yang panas tentang masalah-masalah Khilafiyah seperti : soal bermazhab, kebebasan berijtihad, bertaqlid, sampai pada persoalan furu (cabang/kecil) misalnya soal tawassul, qunut, dan bacaan ushali sebelum shlat. Kedua tokoh tersebut mewakili kecenderungan yang berbeda, dimana Wahab Hasbullah cenderung lebih dekat pendiriannya pada ulama pesantren sedangkan Mas Mansur lebih dekat pendiriannya dengan Muhammadiyah. Sehingga kedua toko tersebut mengambil keputusan yang berbeda, Wahab Hasbullah menjadi salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama, sementara Mas Mansur aktif pada Muhammadiyah dan pernah menjadi ketua HB (Hoof Besturr / pimpinan pusat) Muhammadiyah 1936-1942. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar (pergerakan kaum saudara), serikat tersebut dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar maka Taswirul Afkar selain tampil sebagai kelompok studi atau pendidikan juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dengan memiliki cabang diberbagai kota.
Komitmen dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis yang bertujuan untuk mengatisipasi perkembangan zaman. Maka dengan berkordinasi dengan berbagai kyai akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk sebuah organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama yang dipimpin oleh K. H. Hasyim Asy'ari sebagai Rais Akbar, untuk menegaaskan prinsip dasar organisasi ini maka K.H.Hasyim merumuskan kitab Qanun Asis (prinsip dasar) kemudia Ia juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunah Wal Jamaah, kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam Khittsh NU, yang dijadikan sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam berfikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan polotik.
Kedua, pergeseran sosial, politik, dan keagamaan di Tanah Suci. Pergeseran ini terjadi sejak tahun 1924, dimana Abdul azis Ibnu Saud bersama gerakan Ikhwannya yang disemangati oleh ajaran kaum Wahhabi (pembaru pramodren yang menekankan tauhid secara murni dan menjauhkan diri dari segala yang berbau syirik) berhasil menumbangkan rezim Syarif Husein di Mekah. Pergeseran kekuasaan tersebut membuat Kerajaan Saudi Arabia menganut mazhab Habali. Hal ini menimbulkan kekhawatiran para ulama "golongan tradisi" bahwa mereka akan mendapatkan halangan ketika beribadah haji sesuai dengan mazhabnya (syafii).
Ketiga, Kongres Umat Islam Indonesia yang pertama diadakan di Ceribon 31 Oktober-2 November 1922. Kongres ini dihadiri oleh semua pihak golongan Muslim, yakni Muhammadiyah, SI, Al Irsyad (ketiganya mewakili golongan pembaru), dan golongan tradisi yang diwakilkan K.H. Abdulwahab Hasbullah dan Asnawi dari Taswirul Afkar. Dalama kongres ini, golongan tradisi kecewa karena terjadi perdebatan yang sengit mengenai Khilafiyah, sementara tujuan dari kongres tersebut untuk menggalang persatuan seluruh Umat Muslim tidak dapat tercapai.
Keempat, Komite Hijaz, pembubaran sistem kekhalifahan di Turki 1924 yang dipimpin oleh tokoh nasionalis-sekuler Mustafa Kemal Pasha Atta Turk, telah memancing solidaritas umat Muslim di berbagai Negara untuk membela sistem kekhalifahan tersebut.
Respon atas kejadian tersebut di Indonesia dibentuk sebuah Komite Khilafat dengan ketua H. Fachruddin dari Muhammadiyah dan K.H. Abdulwahab Hasbullah dari golongan tradisi. Komite Khilafat ternyata kurang melibatkan kalangan tradisi, hal ini tampak pada Kongres Umat Islam II di Yogyakarta (Agustus 1925) dan terutama pada Kongres Umat Islam III di Bandung (Februari 1926). Satu bulan sebelum Kongres Umat Islam III  diadakannya pertemuan kalangan pembaru pada 18-10 Januari 1926 yang menyepakati bahwa delegasi umat islam di Indonesia yang akan dikirimkan ke Kongres Khalifat di Mekkah hanya dari kalangan pembaru. Hal ini lah yang memicu kalangan tradisi untuk mengumpulkan para ulama dari kalangan tradisi 31 Januari 1926 bertempat di rumah K.H. Abdulwahab Hasbullah, Kertopaten, Surabaya.
Pertemuan dari para ulama kalangan tradisi dari berbagai kota seperti Surabaya, Semarang, Pasuruan, Jember, Lasem dan Pati, mengambil dua keputusan penting yaitu. Pertama mengukuhkan berdirinya Komite Hijaz akan mengirimkan delegasi mewakili dari para ulama kalangan tradisi untuk menghadap Raja Saud. Kedua membentuk Jam'iyah (organisasi) sebagai wadah persatuan para ulama dalam tugas memimpin umat menuju tercapainya cita-cita Izzul Islam Wal Muslimin. Jam'ijah ini berdasarkan dari usulan Alwi Abdul Aziz, yang diberi nama dengan Nahdlatul Ulama (kebangkitan para ulama), Ketua Dewan Tertinggi Keagamaan atau Rais Akbar Alha'iah As Syuriah dipercaya kepada K.H. Hsyim Asy'ari dari Jombang (Yusuf, et al. 1983 : 6-21).
NU kemudian berkembang menjadi kekuatan umat Islam terbesar di Indonesia. Dimana NU merupakan wakil golongan Islam tradisionalis terbesar, sebagai mana halnya Muhammadiyah yang merupakan representasi golongan Islam modrenis yang juga kita tahu sangatlah besar. Bila basis NU di wilayah perdesaan, tetapi berbeda dengan Muhammadiyah berbasis di wilayah perkotaan. Pada 1937, NU masuk menjadi anggota MIAI. Setelah Indonesia merdeka NU menjadi anggota istimewah Partai Islam Masyumi, bersama-sama dengan Muhammadiyah.
Tetapi pada selanjutnya NU tergoda untuk berkecimbung kedalam dunia politik 1952, NU juga keluar dari Masyumi dan berumah menjadi sebuah partai. Dalam pemilu 1955 NU ikut berlaga dan tampil sebagai partai dalam peringkat ketiga yang memperolah suara terbanyak (setelah PNI dan Masyumi). Pada masa Orde Baru setelah ikut bertanding pada pemilu 1971, NU berfusi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang dibentuk pada 5 Januari 1973 dengan ketua sementara Mintareja SH [4]. Ketika posisinya tidak lagi menguntungkan bagi NU dalam PPP maka 1982 NU keluar dari PPP dan kembali ke Khittah 1926 sebagai organisasi sosial dan keagamaan.
Dalam Paham Keagamaan NU menganut paham Ahlussunah Waljama'ah merupakan sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrem aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrem naqli (skripturalis). Oleh karena itu sumber pemikiran dari NU tidak hanya berpatokan pada al-Qur'an, sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah lagi dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam ini dirujuk dari pemikiran terdahulu seperti Abu Hasan Al-Asy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi, kemudian dalam bidang fiqih lebih cenderung mengikuti mazhab : Imam Syafi'i dengan mengikuti tiga madzhab yang lain seperti : Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Hanbali sebagai mana yang tergambar dalam lambang NU berbintang 4.
Sementara itu dalam bidang Tasawuf mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi yang mengintegrasi antara tasawuf dangan Syariat. Gagasan kembali kekhittah pada 1984 merupakan sebuah momentum penting dalam menafsirkan kembali ajaran Ahlussunah Wal Jamaah serta merumuskan kembali motede berpikir baik di dalam bidang fikih maupun sosial. Juga merumuskan kembali hubungan NU dengan Negara, gerakan tersebut berhasil kembali membangkitkan gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU. 
Notes:
[1] Prof. Dr. Suhartono. 1994. Sejarah Pergerakan Nasional. Yogyakarta : Pustaka  Pelajar Offset. Hal: 49
[2] Drs. Suwarno M.SI. 2011. Latar Belakang dan Fase Awal Pertumbuhan Kesadaran Nasional. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Hal 84
[3] S.Silalahi, M.A. 2001. Dasar-Dasar Indonesia Merdeka. Jakarta : PT Gramedia     Pustaka Utama. Hal: 7.
[4] Wijaya, E Juhana Drs. 1995. Pegangan Sejarah Untuk SLTP Kelas III. Bandung : Armico. Hal : 206.
             Daftar Pustaka
1.        Prof. Dr. Suhartono. 1994. Sejarah Pergerakan Nasional. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset.
2.        Drs. Suwarno M.SI. 2011. Latar Belakang dan Fase Awal Pertumbuhan Kesedaran Nasional. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
3.        S. Silalahi, M.A. 2001. Dasar-Dasar Indonesia Merdeka. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
4.        Wijaya, E Juhana Drs. 1995. Pegangan Sejarah Untuk SLTP kelas III. Bandung : Armico.