JANJI JEPANG TERHADAP KEMERDEKAAN INDONESIA


NURHASANAH / SI IV/ A 

A.   Alasan Jepang Memberikan Janji Kemerdekaan kepada Indonesia
Mulai sejak tahun 1944 posisi Jepang dalam perang Asia Timur Raya terdesak bahkan berbagai pulau di sekitar Irian telah jatuh ke tangan sekutu (Jepang). Sekutu tidak berhenti terus menyerbu lewat serangan udaranya dikota-kota Indonesia (Ambon,Makassar,Manado dan Surabaya). Dan pada akhirnya sekutu itu berhasil mendarat di Balik Papan. Pertahanan Jepang sudah rapuh dan bayangan kekalahan pun sudah semakin nyata di depan mata. Tetapi walaupun dalam keadaan begitu,Jepang masih tetap berusaha menarik simpati bangsa Indonesia ,yaitu dengan "menjanjikan kemerdekaan di kemudian hari". [1]
Pada tanggal 17 September 1944 di dalam sidang istimewa  Parlemen Jepang di Tokyo,seorang Perdana Menteri Koiso mengumumkan bahwa daerah Indonesia diperkenankan merdeka dikelak kemudian hari. Menghadapi situasi yang gawat demikian, melalui pimpinan Jendral Kumakici Harada berusaha meyakinkan bangsa Indonesia tentang janji kemerdekaan itu. Pada akhirnya pada tanggal 1 maret 1945 diumumkan pembentukan Badan Penyelidik Usaha Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau dalam bahasa Jepang disebut "Dokuritsu Junbi Cosakai". Yang mana tujuan dibentuknya BPUPKI ialah untuk mempelajari dan menyelidiki hal-hal penting yang berkaitan dengan segala sesuatu yang menyangkut pembentukan Negara Indonesia Merdeka.
Ketua BPUPKI ini yaitu dr.K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat dengan dibantu oleh dua orang ketua muda, yaitu seorang Jepang yang menjabat sebagai Syucokan Cirebon bernama Icibangase dan R.P Suroso sebagai kepala secretariat dengan dibantu oleh Toyohito Masuda dan Mr. A.G.Pringgodigdo. Anggota BPUPKI 60 orang ditambah 7 orang Jepang tanpa hak suara. Dalam hal ini Ir.Sukarno tidak menjadi ketua, karena ia ingin lebih aktif dalam berbagai diskusi. Pelantikan anggota BPUPKI dilakukan pada tanggal 28 Mei 1945, bertepatan dengan hari ulang tahun raja Jepang (Teno Heika). Pelantikan anggota BPUPKI dihadiri oleh seluruh anggota dan dua orang pembesar Jepang, yaitu Jendral Itagaki dan Jendral Yaiciro Nagano. Pada saat peresmian ini bendera merah putih dikibarkan disamping bendera Jepang Hinomaru.
Tanggal 12 Agustus 1945, Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, mengatakan kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman bahwa pemerintah Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan dalam beberapa hari, tergantung cara kerja PPKI. Meskipun demikian Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 24 Agustus.[2]
B.   Langkah-Langkah Jepang untuk Merealisasikan Janjinya
Untuk mengantisipasi keadaan Jepang yang semakin memburuk, kemudian Perdana Menteri Kuniaki Koiso berusaha memulihkan kewibaan Jepang di wilayah jajahannya. Pada tanggal 9 September 1944, Perdana Menteri Kuniaki Koiso memberikan janji kemerdekaan kepada Bangsa Indonesia, yang disampaikannya pada sidang istimewa Teatau sidang parlemen Jepang. Adapun tujuan pemerian janji kemerdekaan tersebut adalah untuk mencegah timbulnya pandangan pada diri Bangsa Indonesia terhadap Sekutu sebagai pasukan pembebas dari cengkaraman Jepang, melainkan sebaliknya sebagai pasukan penyerbu yang akan menghambat kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Untuk merealisasikan janji Perdana Menteri Kuniaki Koiso, kemudian Jepang membentuk BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada tanggal 1 Maret 1945. Dalam bahasa Jepang, BPUPKI disebut dengan dokuritsu Zjunbi Tyoosakai yang bertugas menyelidiki kesiapan bangsa Indonesia dalam menyongsong kemerdekaan dan membentuk pemerintahan sendiri. Kemudian Jepang mengangkat Dr. K.R.T. Radjiman Wediodiningrat sebagai ketua BPUPKI.

Jepang juga memberikan jabatan sebagai anggaota kepada beberapa tokoh lain yang dianggap mempunyai pengaruh besar terhadap rakyat Indonesia, seperti Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, K.H. Mas Masyur, K.H. Wachid Hasyim, H. Agus Salim, Soepomo, dan Muhammad Yamin. Selain itu, Jepang juga mengangkat tujuh orang berkebangsaan Jepang yang duduk sebagai pengawas serta tidak mempunyai
hak suara untuk mengemukakan pendapat.
Pada tanggal 28 Mei 1945 Jepang secara resmi melantik anggota BPUPKI. Untuk melaksanakan tugasnya BPUPKI melaksanakan dua kali masa persidangan. Sidang pertama dilaksanakan pada tanggal 29 Mei 1945 sampai dengan tanggal 1 Juni 1945. Sidang kedua dilaksanakan pada tanggal 10 Juli sampai dengan 16 Juli 1945.[3]
1.     Sidang Pertama
Sidang pertama yang berlangsung dari tanggal 29 Mei 1945 sampai dengan 1 Juni 1945
Sidang pertama membahas dan merumuskan dasar negara Indonesia merdeka (Philosofische Grondslag Indonesia Merdeka). Ada tiga orang tokoh yang akan mengemukakan gagasannya tentang dasar negara Indonesia, yaitu Mr. Mohammad Yamin, Dr. Soepomo, dan Ir. Soekarno.
a.      Sidang tanggal 29 Mei 1945
Pada sidang tanggal 29 Mei 1945, Mr. Mohammad Yamin mendapat kesempatan pertama untuk mengajukan rancangan gagasan negara Indonesia merdeka yang diberi judul Asas dan Dasar Negara Kebangsaan Republik Indonesia. Mr. Mohammad Yamin berpendapat bahwa negara Indonesia harus berpijak pada lima dasar berikut.
1. Peri kebangsaan
2. Peri kemanusiaan
3. Peri ketuhanan
4. Peri kerakyatan
5. Kesejahteraan rakyat.
b. Sidang tanggal 31 Mei 1945
Dr.Soepomo menyampaikan gagasannya pada tanggal 31 Mei 1945. Menurut Dr. Soepomo, negara Indonesia harus didirikan dengan asas-asas sebagai berikut.
1.Persatuan,
2.Kekeluargaan,
3.Keseimbangan
lahir dan batin,
4.Musyawarah,
5. Keadilan rakyat.
c. Sidang tanggal 1 Juni 1945
Penyampai gagasan negara Indonesia yang terakhir adalah Ir. Soekarno yang menyampaikan gagasannya pada tanggal 1 Juni 1945. Ir. Soekarno menyatakan bahwa negara Indonesia harus didirikan di atas lima dasar, dengan rincian sebagai berikut.
1. Kebangsaan Indonesia atau nasionalisme,
2. Perikemanusiaan atau internasionalisme,
3. Mufakat atau demokrasi,
4. Kesejahteraan sosial,
5. Ketuhanan yang Mahaesa.
Lima gagasan negara Indonesia merdeka itu oleh Ir. Soekarno diberi nama Pancasila.

Usulan-usulan tersebut kemudian diterima dan ditampung oleh BPUPKI untuk dimusyawarahkan bersama. Selanjutnya dibentuk sebuah tim khusus yang dinamakan panitia kecil yang bertugas membahas lebih lanjut usulan-usulan dasar negara tersebut. Adapun tokoh-tokoh yang termasuk ke dalam Panitia Sembilan adalah sebagai berikut.
1. Ir. Soekarno,                                                 6. Abdul Kahar Muzakir,
2. Drs. Mohammad Hatta,                                7. K.H.Wahid Hasyim
3. Mr. Mohammad Yamin,                               8. H. Agus Salim,
4. Ahmad Soebardjo,                                        9. Abikoesno Tjokrosoejoso.
5. A.A. Maramis,
,
Pada tanggal 22 Juni 1945, Panitia Sembilan mulai bersidang di Gedung Jawa Hokokai Jakarta. Rapat tersebut tidak hanya dihadiri oleh Panitia Sembilan tetapi anggota BPUPKI yang lainpun turut hadir sehingga jumlah peserta sidang mencapai 38 orang. Adapun tujuannya adalah untuk merumuskan dasar negara Indonesia dengan bahan-bahan yang telah disampaikan oleh Mr. Mohammad Yamin, Dr. Soepomo, dan Ir. Soekarno. Panitia sembilan berhasil menetapkan suatu rumusan yang dinamakan Piagam Jakarta (Jakarta Charter) yang berisi sebagai berikut.[4]

"Bahwa sesunguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan
.
Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa menghantarkan rakyat Indonesia kepada pintu gerbang Negara Indonesia yang merdeka, berdaulat,adil, dan makmur.
Atas berkat rahmat Allah yang Mahakuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan yang luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya.
Kemudian daripada itu, untuk membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh Tumpah Darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu hukum dasar Negara Indonesia yang berbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan, dengan berdasar kepada: Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia."
2.     Sidang Kedua
Sidang kedua BPUPKI dilaksanakan dari tanggal 10 Juli sampai dengan 16 Juli 1945 dengan agenda penyusunan Rencana Pembukaan Undang-undang Dasar dan rencana Undang-undang Dasar serta rencana lainnya yang berhubungan dengan kemerdekaan Indonesia.
Dalam rapat tanggal 11 Juli 1945 dibentuk Panitia Perancang Undang-Undang Dasar dengan susunan sebagai berikut.
• Ir. Sukarno,                                                         • Mr. R. Susanto Tirtoprojo,
• R. Otto Iskandardinata,                                     • Mr. Sartono,
• B.P.H. Purbaya,                                                  • Mr. KPRT Wongso Negoro,
• K.H. Agus Salim,                                               • KRTH Wuryaningrat,
• Mr. Achmad Subarjo,                                         • Mr. R.P. Singgih,
• Mr. R. Supomo,                                                  • Mr. Tan Eng Hoa,
• Mr. Maria Ulfah Santosa,                                   • dr. P.A. Husein Jayadiningrat,
• K.H. Wahid Hasyim,                                          • dr. Sukirman Wiryosanjoyo,
• Parada Harahap,                                                 • Mr. A.A. Maramis,
• Mr. J. Latuharhary,                                             • Miyano (utusan Jepang).
Rapat yang berlangsung selama 7 hari tersebut berhasil merumuskan RancanganUndang-Undang Dasar untuk Indonesia Merdeka. Pada tanggal 7 Agustus 1945 BPUPKI dibubarkan dan tugasnya digantikan oleh PPKI yang bertugas mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan keperluan negara Indonesia merdeka.
Notes:
[1]. Supriatna,Nana.2008.Sejarah SMA kelas XI. Jakarta: Grafindo Media Pratama. Hal: 127
[2]. Supriatna,Nana.2008.Sejarah SMA kelas XI. Jakarta: Grafindo Media Pratama. Hal: 130
[3].  Atmoko,Dwijo,dkk.1994.Politik penguasa dan siasat pemoeda;Nasionalisme dan pendudukan jepang di indonesia. Hal:77
            Daftar Pustaka
Atmoko,Dwijo,dkk.1994.Politik penguasa dan siasat pemoeda;Nasionalisme dan       pendudukan jepang di indonesia.
Supriatna,Nana.2008.Sejarah SMA kelas XI. Jakarta: Grafindo Media Pratama.

Perlawanan Rakyat Indonesia Terhadap Bangsa Jepang (Perlawanan PETA)

Siti Wulandari/SIV
Latar Belakang Jepang di Indonesia
Bulan Oktober 1941, Jenderal Hideki Tojo menggantikan Konoe Fumimaro sebagai Perdana Menteri Jepang. Sebenarnya, sampai akhir tahun 1940, pimpinan militer Jepang tidak menghendaki melawan beberapa negara sekaligus, namun sejak pertengahan tahun 1941 mereka melihat, bahwa Amerika Serikat, Inggris dan Belanda harus dihadapi sekaligus, apabila mereka ingin menguasai sumber daya alam di Asia Tenggara. Apalagi setelah Amerika melancarkan embargo minyak bumi, yang sangat mereka butuhkan, baik untuk industri di Jepang, maupun untuk keperluan perang. Admiral Isoroku Yamamoto, Panglima Angkatan Laut Jepang, mengembangkan strategi perang yang sangat berani, yaitu mengerahkan seluruh kekuatan armadanya untuk dua operasi besar. Seluruh potensi Angkatan Laut Jepang mencakup 6 kapal induk (pengangkut pesawat tempur), 10 kapal perang, 18 kapal penjelajah berat, 20 kapal penjelajah ringan, 4 kapal pengangkut perlengkapan, 112 kapal perusak, 65 kapal selam serta 2.274 pesawat tempur. Kekuatan pertama, yaitu 6 kapal induk, 2 kapal perang, 11 kapal perusak serta lebih dari 1.400 pesawat tempur, tanggal 7 Desember 1941, akan menyerang secara mendadak basis Armada Pasifik Amerika Serikat di Pearl Harbor di kepulauan Hawaii. Sedangkan kekuatan kedua, sisa kekuatan Angkatan Laut yang mereka miliki, mendukung Angkatan Darat dalam Operasi Selatan, yaitu penyerangan atas Filipina dan Malaya/Singapura, yang akan dilanjutkan ke Jawa. Kekuatan yang dikerahkan ke Asia Tenggara adalah 11 Divisi Infantri yang didukung oleh 7 resimen tank serta 795 pesawat tempur. Seluruh operasi direncanakan selesai dalam 150 hari. Admiral Chuichi Nagumo memimpin armada yang ditugaskan menyerang Pearl Harbor. Hari minggu pagi tanggal 7 Desember 1941, 360 pesawat terbang yang terdiri dari pembom pembawa torpedo serta sejumlah pesawat tempur diberangkatkan dalam dua gelombang. Pengeboman Pearl Harbor ini berhasil menenggelamkan dua kapal perang besar serta merusak 6 kapal perang lain. Selain itu pemboman Jepang tesebut juga menghancurkan 180 pesawat tempur. Amerika. Lebih dari 2.330 serdadu Amerika tewas dan lebih dari 1.140 lainnya luka-luka. Namun tiga kapal induk Amerika selamat, karena pada saat itu tidak berada di Pearl Harbor. Tanggal 8 Desember 1941, Kongres Amerika Serikat menyatakan perang terhadap Jepang. Perang Pasifik ini berpengaruh besar terhadap gerakan kemerdekaan negara-negara di Asia Timur, termasuk Indonesia. Tujuan Jepang menyerang dan menduduki Hindia Belanda adalah untuk menguasai sumber-sumber alam, terutama minyak bumi, guna mendukung potensi perang Jepang serta mendukung industrinya. Jawa dirancang sebagai pusat penyediaan bagi seluruh operasi militer di Asia Tenggara, dan Sumatera sebagai sumber minyak utama. [1]
Masa pendudukan Jepang di Indonesia dimulai pada tahun 1942 dan berakhir pada tanggal 17 Agustus 1945 seiring dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan M. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Pada Mei 1940, awal Perang Dunia II, Belanda diduduki oleh Nazi Jerman. Hindia Belanda mengumumkan keadaan siaga dan di Juli mengalihkan ekspor untuk Jepang ke Amerika Serikat dan Inggris. Negosiasi dengan Jepang yang bertujuan untuk mengamankan persediaan bahan bakar pesawat gagal di Juni 1941, dan Jepang memulai penaklukan Asia Tenggara di bulan Desember tahun itu. Di bulan yang sama, faksi dari Sumatra menerima bantuan Jepang untuk mengadakan revolusi terhadap pemerintahan Belanda. Pasukan Belanda yang terakhir dikalahkan Jepang pada Maret 1942.
Pada Juli 1942, Soekarno menerima tawaran Jepang untuk mengadakan kampanye publik dan membentuk pemerintahan yang juga dapat memberikan jawaban terhadap kebutuhan militer Jepang. Soekarno, Mohammad Hatta, dan para Kyai didekorasi oleh Kaisar Jepang pada tahun 1943. Tetapi, pengalaman dari penguasaan Jepang di Indonesia sangat bervariasi, tergantung di mana seseorang hidup dan status sosial orang tersebut.
Tentara Pembela Tanah Air (PETA)
Pada bulan April 1943 di keluarkan pengumuman ynag isinya memberi kesempatan kepada pemuda Indonesia untuk menjadi pembantu prajurit Jepang (Heiho). Syarat penerimaannya ialah harus berbadan sehat, berkelakuan baik baik dan berumur diantara 18-25 tahun dan pendidikan terendah ialah sekolah dasar. [2]
Pengerahan tenaga-tenaga di dalam Peta  di tempuh melalui pangkat yang berbeda. Ada lima macam pangkat di dalam peta yang sesungguhnya adalah nama untuk jabatan, yakni: deidanco (komandan batalyon), cudanco (komandan kompi), shodanco (komandan pleton), bundanco (komandan regu), dan giyuhei (komandan sukarela). [3]
Ada beberapa  macam motivasi yang mendorong perwira masuk ke Peta, diantaranya mereka ada yang masuk dengan bergairah. Ada pula yang masuk dengan acuh tak acuh da nada juga yang sekedar untuk mencari nafkah. Namun tidak sedikit dari mereka yang mempercayai ramalan Jayabaya bahwa Jepang akan pergi dari Indonesia dan Indonesia akan merdeka. Karean itu di perlukan suatu tentara untukmembela tanah air, bagi mereka Peta adalah tempat latihan yang luas untuk menghasilkan tenaga-tenaga militer yang mampu membela tanah airnya kelak.
Namun di dalam perkembangannya tentara Peta di berbagai batalyon merasa kecewa terhadap Jepang. Kekecewaaan itu sudah mulai timbul pada tahun 1944. Dan mereka melakukan beberapa perlawanan di antara perlawanan yang paling besar adalah Perlawanan Peta di Biltar pada tahun 1945 bulan Februari tepatnya.
Semula anggota Peta terisolasi dari masyarakat, namun pada akhirnya mereka di perbolehkan pulang. Begitu mereka pulang di kampong halaman masing-masing mereka menyakikan penderitaan yang telah di alamai oleh keluarga dan masyarakat sekitar rumah tentara tersebut. Mereka megalami masa sulit yang luar biasa yang membuat mereka tidak dapat hidup sejahtera. Jangankan untuk hidup sejahtera, untuk hidup normal saja mereka sulit. Rakyat mulai mengalami penderitaan hebat di akhir tahun 1944, mereka hanya makan nasi jagung dan berpakaian goni. Mereka dijadikan budak pekerja (romusa) untuk kepentingan Jepang tanpa rupiah sepeser pun yang di beri sebagai upahnya.
Kekecewaan tentara Peta pun timbul di karenakan mereka merasa di rendahkan di hadapan tentara Jepang yang bukan Perwira, mereka harus memberi hormat  terlebih dahulu kepada bintara dan tamtama Jepang saat bertemu. Kebencian Tentara Peta semakin memmuncak ketika melihat penderitaan pekerja paksa (Romusha), maka hilanglah rasa solidaritas kepada Jepang untuk memenangkan perang . Perwira Peta tidak lagi menganggap bangsa Jepang sebagai saudara tua yang membantu persiapan kememerdekaan Indonesia. Perwira Peta menganggap bngsa Jepang sama dengan bangsa Belanda pada umumnya. Kebencian memuncak menjadi suatu perlawanan yang terjadi di batalyon Peta Blitar yang di pimpin oleh para Shodanco antara lain Soeprijadi dan Moeradi yang belum berumur 20 tahun sewaktu memimpin perlawanan. [4]
Cudancho Supriyadi dan komandan PETA di Blitar tetap memutuskan melanjutkan perlawanan karena mereka berharap pengorbanan darah dan nyawa mereka akan membangkitkan semangat perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan meski setiap orang tahu mereka akan kalah. Tepat dinihari 14 Februari 1945 meletuslah tembakan mortir dan peluru dari asrama Tentara PETA di Blitar dan pengibaran bendera Merah putih tepat diseberang asrama PETA. Seperti telah diduga sebelumnya Tentara Kekaisaran Jepang akhirnya bisa mengatasi pemberontakan ini.harapan pemberontakan PETA di Blitar akan mendorong Pemberontakan PETA di daerah lain tidak terjadi karena tentara Jepang segera menarik seluruh senjata yang dipegang tentara PETA .[5]
Supriadi, pimpinan pasukan pemberontak tersebut, menurut sejarah Indonesia dinyatakan hilang dalam peristiwa ini. Akan tetapi, pimpinan lapangan dari pemberontakan ini, yang selama ini dilupakan sejarah, Muradi, tetap bersama dengan pasukannya hingga saat terakhir. Mereka semua pada akhirnya, setelah disiksa selama penahanan oleh Kempeitai (PM), diadili dan dihukum mati dengan hukuman penggal sesuai dengan hukum militer Tentara Kekaisaran Jepang di Eevereld (sekarang pantai Ancol) pada tanggal 16 Mei 1945.[6]
Perlawanan  PETA di Daerah-Daerah Lain di Indonesia
   Perlawanan PETA di Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam)
Pada bulan November 1944, meletus perlawanan Aceh terhadap Jepang yang dipimpin oleh Teuku Hamid. Meskipun masih berusia sekitar 20 tahun, tetapi ia memiliki keberanian memimpin dua peleton pasukan Giyugun untuk melawan Jepang dengan cara keluar dari asrama Giyugun di Jangka Buaya (Aceh), kemudian membentuk markas pertahanan di lereng-lereng gunung. Melihat perlawanan ini, pasukan Jepang bertindak cepat dengan cara menyandera dan mengancam akan membunuh semua anggota keluarga Teuku Hamid jika ia tidak menyerah, akhirnya Teuku Hamid pun terpaksa menyerah.
   Perlawanan PETA di Gumilir (Cilacap, Jawa Tengah)
Perlawanan ini dipimpin oleh Khusaeri, seorang Budaneo (Komandan Regu). Perlawanan ini cukup hebat, tetapi Kushaeri dan kawan-kawannya menyerah. Pada bulan Juli 1944, kedudukan Jepang semakin terdesak oleh Sekutu. Karena itu, Jepang memberikan kemerdekaan kepada beberapa negara di Asia yang didudukinya seperti Birma dan Filipina. Indonesia pun juga dijanjikan akan diberi kemerdekaan oleh Jepang melalui Jendral Koiso, rencananya pada tanggal 7 September 1945. Pada tnaggal 15 Agustus 1945, bangsa Indonesia menerima kabar tentang kekalahan Jepang dari Sekutu melalui Sultan Syahrir.[7]
Catatan :
[1]. http://Sejarah - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.htm
[2].Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto.1984.Sejarah Nasional   Indonesia VI.Jakarta: Balai Pustaka. Hal:33
[3].Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto.1984.Sejarah Nasional   Indonesia VI.Jakarta: Balai Pustaka. Hal:34
[4].Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto.1984.Sejarah Nasional   Indonesia VI.Jakarta: Balai Pustaka. Hal:35
[5]. http:// Perlawanan PETA 14 Februari 1945 _ pecintawisata.htm
[6]. http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pembela_Tanah_Air&oldid=7659595
[7]. http:// Ryuzkawa's world  Perlawanan Rakyat Indonesia dan PETA Terhadap Jepang.htm

Pendidikan di Republik Arab Mesir

Fatimah/SP

Di  dalam  sejarah  pendidikan suatu negara seperti di Mesir pasti memiliki tujuan pendidikan, struktur  pendidikan, jenis pendidikan, manejemen, kurikululum pendidikan, metode pengajaran, dan tidak lupa pula tokoh yang berperan dalam pembaharuan pendidikan di Negara Mesir  ini.
Seperti kita ketahui pendidikan pada hakikatnya yakni   suatu proses pertumbuhan dan  perkembangan, sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungan social dan lingkungan alam , yang berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir. Di Mesir sendiri, pendidikan  adalah gratis untuk sekolah sekolah negeri. [1]
Di Mesir sendiri dalam suatu survei mengenai level pendidikan penduduk Mesir yang dilakukan tahun 1986 menunjukkan bahwa hanya 4,1 5% yang memiliki gelar Universitas(5,1 % pria, dan 2,85 % wanita).sedangkan penduduk yang berpendidikan sekolah menengah mencapai 21,7%.. jumlah ini tercapai karena adanya ekspansi pendidikan pada level sekolah menengah  dan pendidikan tinggi. Penduduk yang buta huruf(illiterates) tercatat 70, 8 % dari penduduk berusia diatas 10 tahun pada 1960, 56,3 % tahun 1976, dan 49,4% dalam tahun 1986. Jumlah wanita buta huruf masih tetap 70% lebih tinggi dari pria buta huruf.
Semenjak pendudukan Mesir oleh  Napoleon Bonaparte tahun 1798 M, merupakan tonggak sejarah bagi umat Islam  di Mesir  untuk mendapatkan  kembali kesadaran akan kelemahan dan keterbelakangan pendidikan Mesir kala itu. Ekspedisi Napoleon tersebut  tidak hanya menunjukkan kelemahan umat Islam namun, sekaligus menunjukakan kebodohan  kaum Islam di Mesir mengenai pendidikan. Karena pada saat ekspedidi Napoleon disamping membawa pasukan tentara yang kuat juga  membawa pasukan ilmuan untuk mengadakan penelitian di Mesir.
Hal tersebutlah yang menjadikan mengapa Mesir tersadar  akan kelemahan  dan keterbelakangan negaranya dalam bidang pendidikan, sehingga timbullah motivasi berbagai macam usaha pembaharuan dalam segala bidang kehidupan,  untuk mngejar ketertinggalan dan keterbelakanagn Mesir .
Salah satu  tokoh pembaharuan Mesir yakni Ali Pasya  yang berkuasa 1805-1848. Muhammad ali Ali Pasya sebetulnya buta huruf, namun ia mengetahui betapa pentingnya  arti pendidikan dan ilmu pengetahuan  untuk kemajuan dan kekuatan suatu Negara.
Dalam rangka memperkuat kedudukan di Mesir dan sekaligus melaksanakan pembaharuan pendidikan di mesir, ia mengadakan pembaharuan dengan jalan mendirikan  sekolah yang menitu sistem dan pengajaran Barat. Di sekolah – sekolah, diajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan seperti yang ada di Barat. Bahkan  untuk memenuhi tenaga pengajar Lai Pasya mendatangkan guru-guru dari Barat(terutama dari Prancis).  Muhammad Ali juga mengirimkan sejumlah pelajar ke Barat, dengan tujuan agar mereka menguasai ilmu pengetahuan Barat, agar setiba kembali ke Mesir mampu mengembangkan ilmunya di Mesir. [2]
A.    Politik dan Tujuan Pendidikan Mesir

Tahun 1987, pemerintah Mesir menyatakan pengembangan secara ilmiah harus dilakukan dalam sistem pendidikan Mesir dibawah ini penyataan kementrian pendidikan Mesir tentang tujuan utama pendidikan :
1. Pendidikan dimaksutkan untuk menegakkan demokrasi dan persamaan kesempatan, serta pembentukan individu-individu yang demokratis
2. Pendidikan juga dimaksutkan sebagai pembangunan bangsa menyeluruh, yakni menciptakan hubungan fungsional antara produktivitas pendidikan dan pasar kerja
3. Pendidikan juga harus diarahkan pada penguatan rasa kepemilikan individu terhadap bangsa, dan penguatan atas budaya dan identitas Arab
4. Pendidikan harus mampu menggiring masyarakat pada pendidikan sepanjang hayat melalui peningkatan diri dan pendidikan diri sendiri
5. Pendidikan harus mencangkup pengambangan pengembangan ilmu dan kemampuan tulis baca, berhitung, bahasa –bahasa selain bahasa Arab, cipta seni, serta pemahaman atas lingkungan
6. Pendidikan bertujuan pula sebagai kerangka kerja sama dalam pengembangan kurikulum dan penilaian
Kebijakan-kebijakan pendidikan di atas ialah tujuan umum Negara. Umumnya, sasaran pendidikan bervariasi berdasarkan tingkat pendidikan , daerah, program, dan individu.
B.     Struktur dan Jenis Pendidikan Mesir
Di Mesir dibagi menjadi sistem pendidikan formal, sistem sekolah sekuler,system sekolah al-azhar, pendidikan vokasional dan teknik, dan pendidikan norformal. Di bawah ini akan dijelaskan sebagai berikut :
1)      Sistem Pendidikan Formal
Sistem pendidikan Mesir mempunyai dua struktur parallel; struktur sekuler dan struktur keagamaan Al-azhar. Struktur sekuler diatur oleh kementrian pendidikan. Struktur Al-Alzhar dilaksanakan oleh kementrian Urusan Al-Azhar. Kementrian Urusan Al-Azhar juga disebut kementrian agama di Negara-negara lain. Selain dari kedua struktur ini, ada pula jenis sekolah yang diikuti oleh sejumlah kecil anak-anak, misalnya anak-anak cacat masuk ke sekolah-sekolah khusus.bagi yang ingin menjadi militer masuk ke sekolah militer.
Berdasarkan  statistic tahun 1988, hanya 92 % anak-anak pada klompok untuk yang masuk sekolah. Hanya 62 % anak-anak kelompok umur sekoah menengah, tetapi dari 92 % anak-anak yang masuk sekolah, 3,6 %  diantaranya masuk Al-Azhar
2)      Sistem Sekolah Sekuler
Pendidikan wajib di Mesir berlaku sampai"grade"8 dan ini dikenal sebagai pendidikan dasar. Ada pendidikan taman Kanak-kanak dan "Play Group" yang mendahului sekolah dasar, tetapi jumlahnya sangat kecil dan kebanyakan berada di kota-kota. Pendidikan ini dibagi menjadi dua jenjang. Jenjang pertama yang dikenal dengan"Sekolah Dasar" mulai dari "Grade" 1 sampai "Grade"5, dan jenjang kedua, yang dikenal dengan Sekolah Persiapan"mulai dari "Grade" 6 sampai "Grade"8.
Setelah mengikuti pendidikan dasar selam delapan tahun , murid-murid punya 4 pilihan : tidak bersekolah lagi, memasuki sekolah menengah umum, memasuki sekolah menengah 3 tahun  atau memasuki sekolah teknik lima tahun. Pada sekolah menengah umum, tahun pertama (Grade 9) ialah kelas bersama. Pada Grade 10 murid harus memilih antara bidang  sains atau nonsains .
Pendidikan tinggi di universitas dan institusi spesialisasi lainnya mengikuti pendidikan  akademik umum. Pendidikan pada sebagian lembaga perguruan tinggi berlangsung dua, empat, lima tahun tergantung pada bidang dan program yang dipilih. Semenjak tahun 1991, sebagian tamatan sekolah teknik dibolehkan melanjutkan ke pendidikan tinggi.
Antara tahun 1952 dan 1988 jumlah  murud seluruhnya  pada semua tingkat pendidikan meningkat dengan tajam dari hampir 1,9 menjadi mendekati 10,3 juta orang. Kenaikan yang paling besar pada tingkat pertama pendidikan yang jumlah muridnya meningkat dari 1,4 juta(37,8%  wanita) tahun 1952 menjadi 6,9 juta(44 % wanita) dalam tahun 1988 Jjumlah siswa tingkat kedua, sekolah menengah, naik dari 460.000(19,4 % wanita) menjadi 2,4 juta (42, 5% wanita), sedang pada level ketiga yakni perguruan tinggi naik dari 54.000 mahasiswa menjadi 980.000 mahasiswa (34,4 % wanita)
Pada level pendidikan tinggi, struktur sekuler mempunyai 220 fakultas dan institusi pendidikan tinggi lainnya dengan 16.000 staf pengajar, dan 695,736 mahasiswa(628.820 pria dan 66,916 wanita)
3)      Sistem Sekolah Al-Azhar
Sistem sekolah Al Azhar hampir sama dengan sekolah sekuler pada tingkat pendidikan dasar. Perbedaannya ialah bahwa pendidikan agama Islam  lebih mendapat tekanan. Namun, untuk mata pelajaran kurikulumnya seperti  pada sekolah sistem sekuler. Grade 10 dan Grade11 sama untuk semua murid. Pada Grade 11, murid diperbolehkan  memilih apakah ingin masuk ke sekolah umum dua tahun lagi, atau masuk ke sekolah agama dua tahun
Pada level Universitas, fakultas -fakultas sama dengan yang ada pada pendidikan sekuler tapi kurikulumnya lebih menekannya pada keagamaan. Selanjutkan, Seluruh pendidikan guru untuk pendidikan keagamaan hanya diselenggarakan dalam lingkungan sistem Al _Azhar
Sekolah-sekolah al-Azhar lebih sedikit muridnya  dibanding dengan jumlah murid sekolah sistem sekuler. Dalam tahun 1988, persentase murid pada sekolah Al-Azhar hanya 3,6 % dari seluruh murid dalam sekuler.pada tingkat pendidikan tinggi, jumlah mahasiswa pada jalur Al azhar ialah 14,3 % dari jumlah mahasiswa pada kedua jalur pada tahun 1988. Jumlah yang kecil pada sekolah sekolah Al-Azhar ini yakni 14,3 % kelihatannya tinggi, namun ada catatan mengenai ini. Lebih besar jumlah tamatan dari jalur AlAzhar yang masuk ke perguruan tinggi dibandingkan dengan tamatan sekolah sistem sekuler. Perlu dicatat bahwa tidak ada pendidikan teknik pada sistem AlAzhar
4. Pendidikan Vokasional dan Teknik
Pendidikan kejuruan(vokasional) dan pendidikan teknik diperluas sejak tahun 1950-an. Terjadi peningkatan jumlah sekolah vokasional dan teknik dari 134(dengan siswa 31.800) dalam tahun 1950 menjadi 400 buah(dengan siswa 115.600) dalam tahun 1060.antara 1970 dan 1988 jumlah siswa pada kedua jenis sekolah ini naik dari 27.300 orang menjadi 978.800. artinya terjadi kenaikan 19 % dan 40,8 % pada periode tesebut.
Pada tahun 1988, Mesir memiliki 563 buah vokasional dan teknik yang berarti 48,% dari sekolah menengah yang ada. Pada sekolah vokasional dan teknik pada tahun 1988 jumlah muris ialah 759.700 orang, sedangkan jumlah murid  sekolah umum 564.668 orang.
Pada tahun 1988, terdapat 34 institut teknik dengan jumlah mahasiswa 59.400 ini berdasarkan The National Center for educational Research.ini sama dengan 7,5 % dari total mahasiswa pendidikan tinggi
Untuk jumlah guru sekolah menengah vokasional dan teknik naik dari 13.700 orang(14 % wanita) tahun 1970 menjadi 42.800 orang(26 % wanita) tahun 1987.pada level pendidikan tinggi, staf pengajar pada institute teknik berjumlah 690 orang dalam tahun 1988, yakni 4,3 % dari seluruh staf pengajar pendidikan tinggi
5. Pendidikan Nonformal
Pendidikan nonformal didefenisikan sebagai serangkaian kegiatan pendidikan  terencana diluar  sistem pendidikan formal. Pendidikan nonformal dimaksudkan untuk melayani  kebutuhan pendidikan bagi kelompok-kelompok orang tertentu, apakah anak-anak, generasi muda, orang dewasa, apakah mereka laki-laki atau perempuan , petani, pedagang, atau mereka dari keluarga orang kaya atau keluarga miskin. Di Mesir, pendidikan nonformal terutama dikaitkan dengan penghapusan iliterasi.berdasarkan hasil sensus tahun 1960 Mesir, 70 % penduduk diatas usia 10 tahun ialah buta huruf.tahun 1976, Mesir Mencatat 13,3 juta orang dewasa(di atas usia 15 ) yang buta huruf dari total penduduk dewasa.
Semenjak tahun 1967, kementrian Perburuan menyelenggarakan program  penataran untuk mendidik orang-orang yang telah menamatkan pendidikan tingkat dasar, atau orang orang yang putus sekolah formal yang berusia antara 12 dan 18 tahun. Mereka diberi keterampilan Vokasional yang cocok untuk lingkungan dan kemampuannya.pendidikan ini biasanya diselenggrakan selam Sembilan bulan ; tujuh bulan di pusat-pusat latihan vokasional, dan dua bulan ditempat-tempat unit produksi. Para peserta latihan kemudian ditempatkan bekerja pada sector pemerintahan atau sector swasta. [3]
Dalam tahun 1984, kementrian Perburuan memulai program-program pelatihan jangka pendek dalam bidang vokasional untuk mempersiapkan pekerja-pekerja yang keterampilannya sangat kurang, dengan tujuan memenuhi kebutuhan pasar kerja dalam bidang tertentu.juga dilakukan pelatiahan bagi buruh-buruh yang pekerjaannya tidak ada lagi atau diperkirakan habis.pelatihan ini berlangsung selam empat bulan. Peserta pelatihan yang berusia antara 18 dan 45 tahun, diberi ilmu pengetahuan dan keterampilan. Latihan praktek dilakukan di pabrik-pabrik milik pemerintah dan swasta, sedangkan pelajaran teori diberikan pada sekolah sekolah perindustrian
Dibawah pengawasan kementrian perindustrian, ada 33 buah pusat pelatihan di berbagai govenorat. Pusat-pusat pelatihan ini menyelnggarakan program kilat bagi pekerja yang masih "semiskilled"melalui pemagangan di Industri –industri, dan juga meningkatkan keterampilan teknisi. Program pemagangan dapat pula diikuti oleh murid murid yang telah tamat pendidikan dasar, atau mereka yang tidak akan melanjutkan pendidikannya ke sekolah teknik. Proses pemagangan ini berlangsung selama tiga bulan.
C.    Menejemen Pendidikan Mesir

1.      Otorita
Sistem pendidikan Mesir ialah tanggung jawab Kementrian pendidikan Negara. Kementrian pendidikan bertanggung jawab  mulai dari pendidikan prasekolah sampai ke pendidikan tinggi dlam aspek perencanaan, kebijakan, control kualitas, koordinasi, dan pengembangannya.
Kementrian pendidikan disusun dengan organisasi sebagai berikut :
1.      Kantor Devisi Menteri. Bagian ini menyupervisi : hubungan kebudayaan dengan pihak luar, perencanaan pendidikan dan tindak lanjutnya, hubungan masyarakat, statistik, masalah-masalah direktorat, dan koordinasi tugas-tugas supervisi.
2.      Bsgian perkantoran  Menteri. Tugasnya termasuk antara lain penghubung dengan Dewan Perwakilan Rakyat, pusat teknik, kantor keamanan, secretariat umum dewan-dewan tertinggi Negara dan seksi kesekretariatan
3.      Bagian pendidikan dasar. Kantor ini bertugas mengawasi pendidikan dasar. Persiapan guru, dan pendidikan bagi orang dewasa serta literasi
4.      Bagian  Pendidikan Persipan  dan Pendidikan Menengah, bertanggung jawab atas pengawasan terhadap kedua sector serta koordinasi administrasinya
5.      Bagian Pendidikan Teknik. Kantor ini bertanggung jawab mengawasi pendidikan industry. Pendidikan kebudayaan, pendidikan perdagangan, peralatan teknik, dan koordinasi administrasi
6.      Bagian Pelayanan Umum. Kantor ini bertanggung jawab mengawasi metode pendidikan , pendidikan swasta, makanan, soal-soal hokum, dan masalah –masalah kantor
7.      Bagian pengembangan Administrasi. Kantor ini mengawasi organisasi, pelatihan, dan personalia
8.      Bagian administrasi dan soal-soal keuangan
Menteri bersidang dalam waktu-waktu tertentu dengan dewan-dewan yang berada di bawah kesekretariatan dan sejumlah dewan-dewan lain. Menteri juga memimpin siding dewan tertinggi Universitas yang bertanggung Jawab atas oerencanaan dan pembuatan kebijakan. Mesir di bagi dalam 140  Distrik Pendidikan dengan jaringan supervisor dan administrator
2.      Pendanaan
Meningkatnya jumlah guru dan sekolah, perbaikan peralatan dan kenaikan harga (termasuk kenaikan gaji) telah menyebababkan kenaikan belanja pendidikan.dua puluh tiga juta pound Mesir sama dengan US$77 juta yang dianggarkan dalam tahun 1952 naik menjadi E126 juta pounds(US$420 juta) tahun 1969. Pada periode yang sama, investasi masyarakat pada pendidikan meningkat dari E2,5 juta Puond(US$8,4  juta) menjadi E33,3 juta pound(US$ 111,2 juta). Sesudah  tahun 1970, alokasi dana untuk pendidikan mulai meningkat  dengan jumlah yang lebih besar dibandingkan alokasi sebelumnya.
Pengeluaran pemerintah untuk pendidikan formal tahun 1988 ialah 18,5% dari total pengeluaran untuk masyarakat. Gaji menyerap 80 % lebih, sementara pengeluaran lain 20 %. Pemerintah harus menyediakan biaya lebih dari E3 miliar pound (US$2,94 miliar) dalam 10 tahun yang akan dating.dari tahun 1964 sampai 1978, pengeluran untuk pendidikan pra universitas meningkat empat kali lipat sedangkan pengeluaran untuk pendidikan tinggi meningkat lima kali lipat.pendidikan tinggi dalam tahun 1970 menggunkan 20,4 % daru total pengeluaran pemerintah untuk pendidikan dan 31,4 % tahun 1978. Dari total anggaran kementrian , pendidikan dasar menerima 44 %
Bank Dunia, UNICEF,UNESCO, Negara sahabat seperti Amerika serikat, German, Kerajaan Inggris(UK) dan Negara Arab member bantuan dalam bidang pendidikan kepada Mesir. Namun meskipun jumlah bantuan cukup besar, masih perlu banyak lagi yang harus dicapai dalam bidang pendidikan, terutama dalam meningkatkan efisiensi manajemen dan belanja pendidikan.
Di dalam system pendidikan Mesir ini yang lebih dipertimbnagkan  ialah sekolah persiapan (sekolah menengah pertama) sebagai jenjang terakhir untuk wajib belajar. Gaji guru-guru pada semua level pendidikan telah naik begitu besar antara tahun 1981 dan 1988 di bandingkan kenaikan sebelumnya.
3.      Personalia
Kementrian pendidikan Mesir memiliki 2000 staf professional dan staf pendukung. Para Perencana, misalnya, biasanya dipilih dari lulusan universitasa dengan tambahan pendidikan selama satu tahun di Institut Perencanaan di Kairo. Biasanya ynag dipilih ialah mereka –mereka yang telah menunjukkan keterampilan mengajar yang sangat baik. Pelajaran-pelajaran khusu juga diberikan kepada orang yang akan menjadi  inspeltur, konsultan, supervisor, kepala sekolah, asisten teknik, direktur dan lain sebagainya..
Pada tahun 1990, Sekitar 390.000 guru bertugas di sekolah-sekolah Mesir.. diperkirakan 55 % diantaranya mengajar di sekolah dasr, 22 % di sekolah persiapan(sekolah menengah pertama), dan 16 % di sekolah menengah (atas) hanya 17 % yang mengajar di sekolah Al Azhar dan sekolah khusus.
Akhir-akhir ini , jumlah suplai guru sudah melebihi beberapa sekolah dan daerah. Namun, tampaknya dalam beberapa tahun yang akan dating akan terjadi kekurangan guru dalam beberapa bidang seperti guru bahasa dan guru-guru pendidikan khusus. Oleh karena itu guru-guru baru harus lebih dahulu mengajar beberapa waktu dipedesaan atau pedalaman sebelum diberi hak untuk diangkat sebagai guru tetap. Pendidikan guru saat ini dilaksanakan di Universitas dengan masa belajar empat tahun sebagai pendidikan paling rendah agar menjadi guru sekolah dasar atau sekolah menengah.
Namun yang sangat aneh di Mesir yakni kekurangan guru agama islam, dan guru bahsa Arab yang sangat besar jumlahbnya.terdapat kekurangan guru dalam bidang seni, pertanian, IKK, music dan cabang ilmu pendidikan teknik.
4.      Kurikulum dan Metodologi Pengajaran
Di Mesir, kurikulum ialah hasil pekerjaan tim. Tim kurikulum ini terdiri atas konsultan, supervisor, para ahli, para professor pendidikan, dan guru-guru yang berpengalaman.biasanya ada sebuah panitia untuk setiap mata pelajaran atau kelompok pelajaran, dan ketua-ketua panitaia diundang rapat sehingga segal keputusan  dapat dikoordinasikan. Kurikulum yang sudah dihasilkan oleh panitia diserahkan kepada Dewan Pendidikan Prauniversitas yang secar resmi mengesahkannya untuk diimplementasikan. Berdasarkan peraturan, kurikilum dapat diubah dan disesuaikan untuk mengakomodasikan kondisi setempat atau  hal-hal khusus.
Pusat penelitian Pendidikan nasional bertanggung jawab mengumpulkan informasi mengenai materi pengajran berdasarkan kurikulum dan mengenai implementasinya di lapangan.hasil penelitian itu disalurkan kedewan  kesekretariatan, dan apabila diperlukan perubahhan, ebuah panitia dibentuk dan diserahi tugas untuk mempelajarinya dan merumuskan perubahan-perubahan itu. Sejumlah besar supervisor, konsultan dari semua level bertemu secara regular dengan guru-guru guna memberikan bimbingan dan untuk mengumpulkan inforrmasi. Ada berbagai pusat latihan, sekolah percobaan,dan sekolah percontoohan, yang  bertujuan untuk pembaharuan kurikulum serta perbaikana metode mengajar. Garis besar kurikulum ditentukan sebuah tim kecil mirip dengan tim yang diterangkan diatas dibentuk untuk menulis buku teks. Buku teks menurut kurikulum tidak persis sama dengan kurikulum yang dilaksanakan\.perbedaannya disebabkan oleh berbgai factor seperti kondisi kelas, kurangnya alat peraga dan perlangkapan lainnya, dan kualitas guru,
Pada level pendidikan tinggi lebih bnayk kebebasan dalam menyusun kurikulum dan pemakaian buku teks. Faktor-faktor  seperti kelas yang  selalu bertambah besar, dan kurangnya peralatanm dan fasilitas lainnya cenderung menurunkan standar yang dicapai oleh mahasiswa. Mengandalkan buku dan kuliah kelihatannya semakin dominan di perguruan tinggi
Bahasa asing diajarkan pada sekolah menengah, dan kadang-kadang juga mulai diajarkan pada sekolah-sekolah dasar swasta.pelajaran bahasa asing merupakan keharusan di sekolah, dan bahasa inggris, perancis, jerman merupakan tiga bahasa asing yang banyak dipilih.
Materi pelajaran disiapkan oleh berbgai badan atau lembaga termasuk panitia kurikulum dari semua jurusan, para akademis, dan asosiasi guru-guru mata pelajaran.[4]

Notes :
[1] Tirtaraharja Umar, Pof, Dr. 2005."Pengantar pendidikan"PT.Rineka Cipta:Jakarta hal :21
[2] Hama Nasution, Prof, Dr. 1975"Pembahruan dalam Islam(Sejarah pemikiran dan Gerakan)"Rineka Cipta : Jakarta. hal : 120
[3] Nur Syah Agustiar, Prof, Dr, Drs, H, MA. 2002" Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara". Lubuk Agung Bandung : Jakarta. hal : 231
[4] Nur Syah Agustiar, Prof, Dr, Drs H, MA. 2002" Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara". Lubuk Agung Bandung : Jakarta. hal : 236
Nizar samsul, Prof,Dr, H, M.ag. 2007."Sejarah Pendidikan islam (menelusuri jejak Sejarah Pendidikan Era Rosulullah sampai Indonesia)"Kencana Prenada Media Group : Jakarta
Zuhairi, Dra,dkk. 2010. "Sejarah pendidikan Islam". Bumi Aksara : Jakarta