PENDIDIKAN DI INDIA


SHALEHATUL MAWADDAH/SP

Latar Belakang Pendidikan
Sebagai salah sayu negara bekas jajahan,India yang dikenal juga dengan nama kunonya Barat,merupakan satu republik deral semenjak tahun 1950, walaupun telah mendapat kemerdekaannya dari Inggris tahun 1947.Negara yang luasnya sekitar 3.268.090 km2itu merupakan Negara ketujuh menurut luasnya Sekitar 3.268.090 km2 itu merupakan negara ketujuh menurut luasnya didunia ini.oleh karena itu disebut juga satu"anak benua",yang terdiri dari tiga bagian:
1.      Pegunungan Himalaya Disebelah utara
2.      Dataran tinggi  Deccan di bahagian Selatan
3.      Di antara nomor 1 dan nomor 2 terletak dataran sungai Gangga dan Indus
Pegunungan Himalaya dengan puncak-puncak yang tertinggi di dunia merupakan dinding yang tinggi disebelah Utara,yang menahan angin dan segala pengaruh yang datang dari Asia Tengah.di anak benua ini ditemui tempat yang mempunyai curah hujan yang terbanyak di Dunia,yaitu 10,881 mm di Cherrapunji (Assam) dan daerah yang sangat kering dipandang pasir Rajastan dengan hanya 65 mm,dibagian paling Barat.Curah hujan yang berbeda-beda dan kaitannya dengan iklim yang tidak dapat diatur,menyebabkan timbulnya banjir dalam musim hujan di beberapa negara bagian dan kekeringan dalam musim kemarau.[1]
Anak benua yang seluas itu didiami pertumbuhan penduduk ini menyebabkan kemajuan Ekonomi yang dilaksanakan dengan rencana pembangunan Lima Tahun sekarang sudah yang kelima.sedikitsekaliartinya lagi.dan sebagian tersebar penduduk 80% tinggal di pedesaan.[6]
Bukan jumlahnya dan kecepatan pertambahannya saja yang menimbulkan berbagai persoalan. penduduk India terdiri dari berbagai suku bangsa dengan bahasa dan kebudayaannya masing-masing, semuanya menimbulkan berbagai persoalan yang mempengaruhi corak pendidikan.[5]
Bangsa Arya yang mula-mula masuk dari Persia ke India antara tahun 1500-1200 S.M.Melalui celah Kyber di Utara membawa agama dan hidup menurut ajaran Veda,sesudah mengalami perkembangan,berkembang menjadi agama Hindu.salah satu aspek agama Hindu ialah pembagian masyarakat atas beberapa kasta,yang merupakan hambatan bagi perkembangan masyarakat. [4]
Kasta Paria yang kira-kira 54 juta jumlahnya dan hidupdalam keadaan terisolasi tidak dapat turut dalam perkembangan masyarakat.menurut undang-undang manu yang menepatkan hak dan kewajiban tiap kasta,yang boleh mengajarkan isi  buku suci hanya kasta Brahmana,sedangkan yang boleh menjadi murid ialah kasta Brahmana dan kasta Ksatria. Bangsa Arab yang datang pada permulaan abad ke-8 membawa kebudayaan Islam.Raja-raja Islam,terutama dari dinasti Moghul dapat menguasai sebagian besar dari anak benua ini dalam abad ke-16.bagaimanapun besarnya usaha Sulthan Akbar untuk mempersatukan pemeluk agama Islamdan Hindu,tetapi usaha itu gagal.hanya selama pemerintah penjajahan Inggris pemeluk kedua Agama itu dapat hidup berdampingan,walaupun selaluadaperselisihan.partisi bekas jajahan Inggris itu dalam tahun 1947 membuktikan besarnya perselisihan itusehingga terbentuklah negara India dan Pakistan.[2]
Pengaruh Islam di Republik India tidak besar.dewasa ini hanya 11%dari seluruh penduduk Republik India.mereka mempunyai sistem pendidikan sendiri,yaitu Hatat.tempat anak-anak mula-mula mempelajari kitab suci Al-Qur'an ialah di mesjid,Kemudian diteruskan di madrasah.selamakekuasaan raja-raja Islam,ada yang menekan pendidikan Hindu.sesudah kerajaan Islam mundur,mutahab dan madrasah inipun turut pula mengalami kemunduran.Kebudayaan barat mula-mula dibawa oleh Portugis,kemudian oleh Inggris,bersamaan dengan kebudayaan itu masuk pula agama Kristen,sehingga sampai sekarang 2,1%penduduknya beragama Kristen.pendidikan yang diberikan oleh Inggris,disertai penggunaan bahasa Inggris,terutama karenabanyaknya bahasa di India.Selama Pemerintahan penjajah,bahasa Inggris.menjadi bahasa resmi dan bahasa pengantar di sekolah-sekolah.[6]
Gerakan nasional sebagai reaksi terhadap penjajahan timbul dalam abad ke-19.gerakan nasional mendapat wujudnya dalam tahun 1815 dengan pembentukan Kongres Nasional India.
Pendidikannya
Waktu  India mendapat kemerdekaannya Pada tanggal 15 Agustus 1947,maka dibentuklah Union States(negara persatuan) yang terdiri atas 18 negara bagian dan 10 Union territory.yang terakhir ini langsung diarur oleh pemerintahan pusat.dalam Konstitusi Republik Federasi India ditetapkan bahwa pemerintah setiap negara bagian bertanggung jawab atas pendidikannya.[3]
Pada waktu kemerdekaan dicapai hanya 25% dari anak-anak umur sekolah yang bersekolah, 10%diantara penduduk yang dapat membaca dan menulis.di dalam pemerointahan federal ada kementrian pendidikan:menteri pndidikan dipilih dari anggota parlemen.seperti halnya dengan Menteri Federal yanglain fungsi materi Pendidikan hanya pemberi nasehat bagi negara bagian mengenai pendidikan.disamping itu ia mengkordinasi pelayanan pemerintah Federal di lapangannya.dibentuk pula berbagai lembaga yang dapat melakukan tugas pervisi atas pendidikan dari pelaksanaan Rencana Lima Tahun.program pengembangan pendidikan setiap tahun pun diawasi oleh kementerian itu.tanggung jawab atas beberapa Universitas tertentu turut dipikul oleh Kementerian Pendidikan Federal.kementerian pendidikan di Negara bagian terutama bertanggung jawab atas pendidikan rendah dan menengah di negara bagian.penyelenggaraan pendidikan rendah diserahkan kepada pemerintah wilayah,jadi kepada kotopraja dan pemerintah desa.dewan sekolah(School Board)yang mempunyai anggota dari kalangan pemerintahan dan yang ditnjuk bertugas mengangkat pegawai pendidikan yang mengawasi pelaksanaan peraturan disusun oleh Pemerintahan Federal.[6]
Karena tanggung jawab kependidikan dipegang oleh berbagai instansi,maka sumber keungan untuk pendidikan pun banyak pula.yang terbesar ialah biaya dari negara bagian sendiri.pada umumnya negara bagian menanggung lebih dari setengah biaya yang diperlukan.kemudian ada biaya dari pemerintah federal dan dari pemerintah kotapraja/desa,yang terakhir ini biasanya kecil persentasenya.Keadaan pendidikan di negara-negara bagian tidak selalu sama.misalnya ada negara bagian yang membebaskan biaya sekolah pada tingkat sekolah rendah,tetapi ada pula sampai pada tingkat sekolah menengah.malahan ada beberapa negara bagian memberi kebebasan itu pada semua tingkat.begitu juga dengan struktur sistem pendidikannya biar pun ada pokok-pokok persamaan,tetapi perbedaan banyak kewajiban belajar telah ditetapkan dalam konstitusi dari tahun 1947,yang menetapkan bahwa mengusahakan pendidikan yang bebas dan diwajibkan bagi semua anak sampai umur 14 tahun.sampaisekarang pelaksanaan kewajiban belajar itu belum tercapai,malahan sasaran rencana Pembangunan Lima Tahun ke-V(1974-1979) barulah untuk mencapai penampungan 97% dari anak-anak berumur 6-11 tahun.baru pada akhir Rencana Pembangunan Lima Tahun ke-Vl (tahun 1983/1986) tujuan konstitusi itu diharapkandapat dicapai.[2]
Sekolah Taman Kanak-kanak belum dapat diadakan oleh pemerintah,yang ada ialah yang didirikan swasta.sekolah rendah umumnyalamanya 5 tahun,tetapi ada juga yang4 tahun.seperm didasarkanidikemukakan diatas,sekolah dasar dibantu pembiayaannya oleh pemerintah negara bagian atau pemerintah federal"union territory".pengelolaan dilakukan oleh pemerintah kota praja/desa.kurikulum didasarkan  bahasa itu,tetapi kadang-kadang anak harus mempelajari bahasa regional di tempat ia bersekolah.Soal bahasa menjadi salah satu masalah yang rumitdi India.jumlah bahasa di negara itu lebih dari 200.ada bahasa yang dipakai oleh bejuta orang.ada pula yang hanya oleh ribuan orang saja.ada pula bahasa yang tidak mempunyai sastra dan tulisan.dalam konstitusi ditetapkan bahadsa regional yang boleh dipakai menjadi bahasaresmi didaerah itu.bahasa regional pertama yang dimaksud dijadikan bahasa resmi untyuk seluruh India isalah bahasa Hindi.bshasa Inggris masih dijadikan bahasa resmi kedua dalam setiap negara bagian untuk masa 15 tahun.[4]
Semenjak dicantumkannya hal ini dalam konstitusi.jadi dalam tahun 1972 fungsi bahasa Inggris sudah harus berakhir.tetapi rupanya bahasa Hindi belum dapat diterima diseluruh India.disekolah dasar yang menjadi bahasa pengantar ialah bahasa ibu:selain bahasa,maka berhitung,sejarah dan geografi menjadi mata pelajaran.Sains tidak termasuk mata pelajaran yang diwajibkan,jadi mungkin tidak ada dalam kurikulum satu sekolah,tetapi mungkin ada di sekolah lain.semenjak konstitusi menetapkan bahwa negara bersifat sekuler,tidak diberikan pelajaran agama disekolah.kebanyakan sekolah rendah mengajarkan salah satu keterampilan,seperti bertenun,bekerja dengan tanah liat,mengolah kulit,berkebun dan lain-lain.pelajaran keterampilan ini terutama didorong oleh cita-cita pendidikan Mahatma Gandhi,ia menginginkan adanya keseimbangan antara latihan otak dan latihan tangan.Gandhi memutuskan latihan tangan itu pada pertenunan dan pemintalan benang,sesuai dengan anjuran swqadeshi,yang hendak membuat pakaian sendiri,sebagai alat politik ekonomi.kemudian diperluas dengan menambah keterampilan lain disekolah dasar.[5]
Diatas sekolah rendah/dasar ada sekolah sambungan,yang merupakan lembaga untuk mempersiakan anak-anak untuk sekolah menengah.sekarang sudah ada ditempelkan Sekolah Sambungan pada sekolah Rendah/dasar,tetapi kadang-kadang ada juga yang ditempelkan pada sekolah menengah.[1]
Sekolah menengah lamanya 2sampai 4 tahun.direncanakan semua akan menjadi 3 tahun yang disambung dengan college 3 tahun .tujuannya ialah untuk persiapan bagi universitas.mahasiswa yang mengikuti jenjang ini ketika masuk universitas pukul rata berumur 17 tahun.Sekolah Teknik dan Kejuruan lain yang lamanya3-4 tahun.menerima tamatan Sekolah Sambungan.disekolah Menengah pelajaran bahasa sangatr diutamakan.bahasa Hindi merupakan mata pelajaran wajib.mereka yang hendak ke Universitas perlu mempelajari bahasa Inggris.disamping pelajaran bahasa,siswa dapat memilih 3 bidang di antara bidang betrikut:ilmu pengetahuan sosial, sains ,teknologi ,perdagangan ,pertanian ,kesenian,kesejahteraan keluarga.keterampilan agak berkurang di sekolah menengah.Keadaan ini telah mendapat perbaikan-perbaikan antara lain diubahnya sekolah menengahtertentu menjadi sekolah menengah"serba guna",yang menyerupai gagasan sekolah komprehensif.ujian sangat diutamakan,lebih-lebih ujian akhir.School Learning Certificate Examination pembuka jalan untuk masuk universitas.[2]
Di India yang sudah merdeka masyarakat lapisan atas masih mengirimkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah khusus.ada negara bagian yang mempunyai jenjang pendidikan dengan 11 tahun(5-3-3 atau 4-3-4),ada yang 12 tahun (5-3-4 atau 4-3-5 atau 5-2-5) atau ada yang 13 tahun (5-3-5).[3]
Pemerintahan kolonial Inggris telah membuka 3 universitas pada pertengahan abad ke 19,yaitu di Bombay,Madras dan Calcuta (1857) kemudian dibuka Universitas Alahabad (1887).sesudah itu didirikan lagi 15 sampai tahun 1947 dan sebuah India merdeka dibuka lagi 14 buah.disamping itu ada beratus College,yang berafiliasi dengan Universitas.empat dari Universitas itu sepenuhnya dibiayai olehpemerintah federal dan yang lain dibiayai oleh negarabagian dengan bantuan pemerintahan federal.satu diantara Universitas itu khusus untuk Wanita yaitu Shreemsati Nathibai Damadar Thackserset Women's University.sekolah campuran dipandang kurang dapat diterima oleh masyarakat India.Ijazah Bachelor of Art dicapai sesudah belajar 3 tahun dan2 sesudah itu dapat dicapai ijazah Master of Art.gelar Doktor sudah dapat diperoleh di Unoiversitas di India.[5]
DAFTAR KEPUSTAKAAN
1.      Brown W.Norman, "India"The Encyclopedia Americana jilid 14,International  Edition,Americana Corporation New  York 1974.
2.      Cramer John,George S.Brown: Contemporary Education,Hartcourt,Brace & World Inc.,New York,1965.
3.      King Edmund J.,Other Schools and Ours,Holt,Tinehart  and Winston Inc.,New York,1967.
4.      Ministry of Education and Social Welfare,Education in India 1973-1975,Government of India,New Delhi,1975.
5.      Ministry of Information and Broadcasting Government of India,India,A Reference Annual 1969.
6.      World Survey of Education,V,Educational Policy,legislation and administration,Unesco,Paris,1971.

PENDIDIKAN NEGARA THAILAND

Desi Purnama Indah / PS

Populasi Thailand didominasi etnis Thai dan etnis Lao, yang berjumlah 3/4 dari seluruh penduduk. Selain itu juga terdapat komunitas besar etnis Tionghoa yang secara sejarah memegang peranan yang besar dalam bidang ekonomi. Etnis lainnya termasuk etnis Melayu di selatan, Mon, Khmer dan berbagai suku orang bukit. Bahasa resmi di Thailand adalah bahasa Thai, bahasa yang mempunyai kerabat dekat dengan bahasa Lao dan bahasa Shan di Myanmar. Aksara resmi di Thailand adalah aksara Thai. Thailand juga memiliki beberapa bahasa minoritas. Di sebelah timur laut terdapat dialek Lao. Di sebelah selatan terdapat bahasa Yawi, sebuah bahasa berdialek Melayu yang umumnya digunakan oleh Muslim Melayu. Bahasa China juga diucapkan oleh sebagian besar penduduk Tionghoa. Bahasa Inggris diajarkan di setiap sekolah, tetapi jumlah orang yang mampu berbahasa Inggris sangat rendah, terutama diluar kota.
Pendidikan Thailand
Negara Thailand adalah salah satu negara yang memiliki sistem pendidikan yang cukup baik. Sektor pendidikan di thailaand berkembang dengan baik. Pemerintah menyediakan pendidikan gratis sampai usia 17 tahun. Kebanyakan generasi siswa masa depan merupakan ahli di bidang komputer. Rata-rata IQ siswa di Thailand pada tahun 2010-2011 berdasarkan 72.780 siswa adalah 98,59, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Rata-rata IQ terendah ditemukan di provinsi Narathiwat dengan IQ 88,07. Sedangkan rata-rata IQ tertinggi ditemukan di provinsi Nonthaburi dengan IQ 108,91. Jika kita lihat dari aspek ekonomi nya thailand juga termasuk yang kategori perekonomian  yang turun naik. Menteri Kesehatan Thailand memberikan pemahaman kepada seluruh masyarakat bahwa pentingnya yodium untuk ditambahkan ke dalam garam meja. Pada tahun 2013, Menteri Telekomunikasi dan Informatika Thailand mengumumkan bahwa 27.231 sekolah akan menerima akses internet kecepatan tinggi. Setelah menikmati rata-rata pertumbuhan tertinggi di dunia dari tahun 1985 hingga 1995 - rata-rata 9% per tahun - tekanan spekulatif yang meningkat terhadap mata uang Thailand, Baht, pada tahun 1997 menyebabkan terjadinya krisis yang membuka kelemahan sektor keuangan dan memaksa pemerintah untuk mengambangkan Baht. Setelah sekian lama dipatok pada nilai 25 Baht untuk satu dolar AS, Baht mencapai titik terendahnya pada kisaran 56 Baht pada Januari 1998 dan ekonominya melemah sebesar 10,2% pada tahun yang sama. Krisis ini kemudian meluas ke krisis finansial Asia. Thailand memasuki babak pemulihan pada tahun 1999; ekonominya menguat 4,2% dan tumbuh 4,4% pada tahun 2000, kebanyakan merupakan hasil dari ekspor yang kuat - yang meningkat sekitar 20% pada tahun 2000. Pertumbuhan sempat diperlambat ekonomi dunia yang melunak pada tahun 2001, namun kembali menguat pada tahun-tahun berikut berkat pertumbuhan yang kuat di RRC dan beberapa program stimulan dalam negeri serta Kebijaka Dua Jalur yang ditempuh pemerintah Thaksin Shinawatra. Pertumbuhan pada tahun 2003 diperkirakan mencapai 6,3%, dan diperkirakan pada 8% dan 10% pada tahun 2004 dan 2005.
Sistem Pendidikan di Thailand
3. Sistem pendidikan di Thailand memiliki kesamaan dengan sistem pendidikan di Indonesia dan terdapat juga perbedaannya. Sistem pendidikan di Thailand terbagi menjadi 3, yaitu pendidikan formal, pendidikan non-formal dan pendidikan informal. Untuk sistem pendidikan formal terdiri dari pendidikan dasar dan pendidikan tinggi. sedangkan sistem pendidikan non-formal terdiri dari  program sertifikat kejuruan, program short course sekolah kejuruan dan interest group program.Wajib belajar di Thailand adalah wajib belajar 9 tahun, dengan rincian grade sebagai berikut.
a.       Pendidikan Play Group dan TK usia 3-6 tahub.
b.      Pendidikan Sekolah Dasar (selama 6 tahun), grade 1-6c.
c.       Pendidikan Sekolah Menengah (selama 3 tahun), grade 7-9d.
d.      Pendidikan Sekolah Menengah atas (selama 3 tahun), grade 10-12

Untuk grade 7-12 dalam satu komponen sekolahan, mereka tak harus mendaftar lagi , sudah otomatis melanjutkan di sekolah itu.
Ujian Nasional (UN) di Thailand dikoordinasikan oleh Bureu of Education Testing Office dari Komisi Pendidikan Dasar yang memakai Sistem Ordinary National Education Test (O-net). UN di wajibkan untuk grade 3, 6, 9 dan 12. Ada 8 mata pelajaran yang di-UN kan yaitu :
a.       Bahasa Thaib.
b.       Matematikac.
c.       Scienced. Ilmu sosiale.
d.      Agama dan Kebudayaanf.
e.       Bahasa asingg.
f.       Health and Physical Educationh. Art, Career and Technology Sedangkan siswa dari grade 1,2,4,5,7,8,10 dan 11, mengikuti ujian kelas dari sekolah masing-masing yang mengacu dari Office of Academic Affair , Kementrian Pendidikan Thailand, secara serentak. Pondok (sekolah agama) di Thailand Selatan secara keseluruhan dapat dikatakan sama dengan pesantren di Jawa atau tempat-tempat lain di Indonesia pada tahun 1950/60-an sebelum mengalami modernisasi. Kini, setelah kerusuhan merebak di Patani atau kawasan Muslim Melayu di Thailand Selatan dalam dua tahun terakhir, pondok menjadi tertuduh sebagai tempat pusat perlawanan atas pendekatan keamanan yang dilakukan pemerintah Thailand. Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, secara terbuka menyatakan bahwa ia tak akan memberikan toleransi kepada pondok yang seperti itu. Pondok Patani umumnya masih sangat tradisional, bagi kaum Melayu Muslim Thailand Selatan ia adalah lebih dari sekadar lembaga pendidikan Islam. Tetapi juga merupakan salah satu identitas keagamaan dan budaya. Jadi, ancaman penutupan pondok oleh pemerintah, langsung maupun tidak merupakan pembunuhan 'genocide' religius-kultural. Dalam wawancara dengan TV3 Thailand di sela-sela workshop di Nakun Si Tamarat, dikemukakan bahwa penyebab pergolakan di Thailand Selatan sedikitnya ada empat :
1.      Pertama, pendekatan kekerasan yang dilakukan Thaksin, yang akhirnya melahirkan lingkaran kekerasan. Dalam menghadapi unjuk rasa damai misalnya, Thaksin tidak segan-segan mengerahkan kekuatan militer yang mengorbankan orang Muslim Patani. Ini segera dibalas dengan taktik gerilya maka kekerasan berlanjut.
2.      Kedua, kondisi ekonomi yang buruk di Thailand Selatan. Meski ekonomi Thailand meningkat tetapi tidak banyak perkembangan ekonomi di Thailand Selatan. Mereka tetap miskin dan terbelakang.
3.      Ketiga, monolitisme budaya Thai (Siam) dengan mengorbankan budaya Melayu Muslim. Sejak tahun 1970-an Pemerintah Thailand melakukan "Siamisasi" dengan mewajibkan orang-orang Muslim Patani menggunakan nama dan bahasa Thai (yang sama sekali tak ada ikatan budaya/tidak serumpun).
4.      Keempat, terbelakangnya pendidikan, karena kurangnya perhatian pemerintah Thailand.
Pendidikan Tradisional Melayu adalah pendidikan yang muncul di Patani, sejak abad ke-17, dengan institusi seperti Madrasah dan Masjid, sedangkan masjid bukan hanya sebagai tempat beribadah, tetapi juga pusat pengajian dan penyebaran agama Islam. Pada tahun 1961 pemerintah Thai mengeluarkan suatu kebijakan yaitu mengubah pondok tradisional menjadi sistem pondok modern atau Sekolah Pondok Swasta. Adanya perubahan itu pemerintah Thai ikut serta dalam pendidikan pondok di Patani, dengan tujuan memasukan sistem pendidikan semisekuler di lembaga pondok, yang pada akhirnya bisa melahirkan pelajar yang dapat berbahasa Thai dan mempunyai semangat di diri mereka sebagai warga negara Thai. Skripsi ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang perubahan sistem Pendidikan Islam di Patani sebagai akibat dari kebijakan pemerintah Thailand, menyangkut aspek kurikulum, pengelola, tujuan, sumber pendanaan, murid dan kitab-kitab. Rombongan Pelajar/Mahasiswa dari Thailand  yang  pertama datang ke Indonesia ialah pada awal th 1967,  mereka memilih kota Bandung sebagai tempat kuliahnydibeberapa perguruan tinggi seperti IKIP, UNPAD  dan rombongan terakhir ada pula yang  masuk ke  ITB.
Mereka  semuanya dari Thailand Selatan, seperti Narathiwat dan Pathani yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Rombongan pertama ada  empat/lima orang  mudah bergaul dengan siapapun, dari  mereka pula tahu bahwa tulisan Arab gundul (Pagon) yang zaman dulu dipakai sebagai tulisan dalam bahasa Jawa, Sunda ataupun bahasa Indonesia, mereka sebut  tulisan Jawi, aneh bukan?   Tapi  mungkin yang memperkenalkan tulisan Arab gundul ke Thailand Selatan atau Malaysia dulunya orang Jawa, karena Malaysia-pun menyebutnya  sama  yaitu tulisan Jawi.  Pada zaman penjajahan Belanda banyak bangsa Indonesia terutama dari Jawa yang melarikan diri ke Thailand dan Malaysia ataupun Singapore Tapi dalam sejarah Wali Songo, pernah pula  disebutkan bahwa salah satu Wali-nya mempunyai kekerabatan dengan Negeri Cempa dan Kamboja (yang saat  itu  keduanya sudah Islam),  tapi  negeri Cempa hancur diserang oleh Raja Koci.  Kemungkinan besar sejak zaman tsb memang  tulisan Arab gundul sudah dipergunakan di daerah Cempa, Kamboja, Thailand dan Malaysia, yang mereka sebut tulisan Jawi.
salah satu pesantren di  Thailand, yaitu Ban Tan kemajuan yang tanpa harus mengorbankan kesederhanaan yang sudah mendarah daging  dilingkungan pesantren.  Karena  dahulu-pun banyak pemimpin Indonesia yang  berasal dari latar belakang pendidikan pesantren. Sekitar 1,000 anak-anak menghampar di lapang rumput depan pondok. Lautan  kerudung dan peci putih, melafalkan shalawat, khusuk dan menggema.Suasana pondok Pesantren Ban Tan. Pondok kecil ini dibangun di pedalaman Thailand Selatan.
Dibangun awal 1900, dengan beberapa orang murid. Niatnya sederhana, menjaga aqidah umat Islam yg tersebar di kampung2 yang mayoritas penduduknya beragama Budha. Pondok Ban Tan seakan goyah. Tak terbayangkan bagi mereka, dari perkampungan  Muslim yang kecil, jauh dari keramaian, dan di pedalaman Thailand di tahun  1960an. Umumnya  santri-santri cerdas dikirim melanjutkan sekolah ke Jawa atau Kedah atau  Kelantan; jika ada dana mereka akan dikirim ke Makkah atau Mesir.  Tapi  Amerika ?!?; tidak pernah terlintas di benak mereka akan mengirim santri  belajar ke Amerika  Saat itu para guru di pondok terpeca pandangannya:   separoh takut anak ini akan berubah bila dikirim ke negeri kufar (istilah  yang digunakan dalam perdebatan itu System dan Kelembagaan Islam di Thailand.)
Pondok Patani atau pondok di Thailand Selatan secara keseluruhan boleh dikatakan sama dengan pesantren di jawa atau tempat-tempat lain di Indonesia pada tahun 1950-an atau 1960-an sebelum pesantren mengalami modernisasi. Setelah kerusuhan kembali merebak di Patani atau kawasan melayu Muslim di Thailand Selatan dalam dua tahun terakhir. Pondok menjadi terteduh sebagai tempat pusat perlawanan atas pendekatan keamanan yang dilakukan pemerintah. Pondok Patani, umumnya masih sangat tradisional, bagi kaum Melayu Muslim Thailand Selatan lebih dari pada sekedar lembaga pendidikan Islam, tapi juga merupakan salah satu identitas keagamaan dan cultural. Karena itu, ancaman penutupan pondok.
System pendidikan Islam pada awalnya ditujukan pada system politik Siam yang Otoriter, Jika sebelumnya system pendidikan bersifat sentralistik, independent melalui lembaga pondok pesantren dan madrasah. Pondok pesantren merupakan institusi pendidikan islam pertama yang dijalankan, yang bermula dari fungsi dakwa dan Ta'lim. Pada tahun 1785 M Patani dibawah kekuasaan Siam, tradisionalisme pondok pesantren dan Madrasah diuji dengan kehadiran system pendidikan Siam (umum), perkembangan pendidikan Islam terus berlangsung melalui proses yang cukup a lot, dialektis, kompromis, sehingga pondok pesantren dan madrasah telah diintegrasikan dengan system pendidikan Siam sebagai model pendidikan sekolah modern di Patani. Pondok seperti pesantren juga mengalami transisi sepanjang abad ke-20 sebagai pondok berubah menjadi sekolah agama rakyat dan lebih banyak lagi mendirikan madrasah tetapi banyak madrasah juga yang didirikan yayasan-yayasan Islam di luar pondok. Sebagian besar gurunya adalah alumni Timur tengah, Indonesia, dan Malaysia. Di madrasah-madrasah ini, menurut kalim pemerintah, menerima banyak bantuan dari timur tengah selanjutnya mereka menjadi madrasah wahabiyah yang menurut pemerintah Thanksin menjadi biang dari radikalisme di kalangan kaum Muslim Thailand.
Pergolakan yang dilakukan oleh kaum patani salah satunya adalah terbelakangnya pendidikan di Thailand. Di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta hampir terdapat 80 orang mahasiswa Thailand di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tidak seorangpun yang mendapat bantuan keuangan seperti beasiswa dari pemerintah Thailand. Sehingga untunglah Pemerintah Indonesia melalui Departemen Agama RI dan UIN bermurah hati memberikan beasiswa kepada mereka. Bahkan Mahasiswa Thai yang ada di Ciputat membuka warung kecil-kecilan untuk bisa bertahan. Kemudian dilihat secara transparan lembaga pendidikan Islam di Thailand tidak jauh berbeda dengan system pendidikan yang dimiliki di Indonesia. Artinya semuanya bertujuan untuk mencetak professional-profesional muslim yang mampu bersaing dalam kancah perkembangan dunia ilmu pengetahuan dengan didasari agama yang mumpuni. Namun tentu konsep, system dan kelembagaan pendidikan Islam di patani, secar aineternal dipengaruhi oleh Politik siam, Tuntutan demokrasi dalam pendidikan Islam pada awalnya ditujukan pada system politik Siam yang otoriter. Jika sebelumnya system pendidikan bersifat sentralistik, independent melalui lembaga pondok pesantren dan madrasah, maka belakangan ini tergesernya paradigma dan system pendidikan Islam sehingga lebih menekankan pada peran pemerintah. Tradisionalisme pondok Petani mempunyai sejarah panjang. Kaum Muslimin Melayu Patani mengklaim, pondok merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di nusantara meski sumber-sumber sejarah umumnya menyebutkan, Islam datang dan berkembang di wilayah ini baru pada abad ke-16. terlepas dari kondisi itu, pondok Patani mengirimkan lulusn terbaiknya ke Haramayn yang kemudian menjadi ulama besar seperti Daud bin Abdullah al-patani (abad ke-19), ahmad bin Muhammad Zayn an-Patani, dan Zayn al-Abidin bin Muhammad al-Patani (abad-20) .
2.      Pertumbuhan dan Perkembangan Pendidikan Islam di Thailand
Proses Islamisasi di patani tidak bisa dilepaskan dari peranan pendidikan. Pada tahap awal pendidikan informal sangat berperan, yaitu kntak informal antara mubaligh dengan rakyat setempat. Selanjutnya ditindak lanjuti dengan munculnya pendidikan non-formal, dan terakhir pendidikan formal.  Pada tahap awal pendidikan agama islam dikawasan Thailand Selatan dilaksanakan pendidikan Al-Qur'an. Pengajian Al-Qur'an adalah sesuatu yang mesti dipelajari oleh setiap muslim. Pengajian al-Quran ini dilaksanakan di masjid dan rumah-rumah Tok Guru. Disetiap kompang ada rumah Tok Guru yang dijadikan tempat pengajian Al-Quran. Selanjutnya muncullah pendidikan podok pondok berposisi sebagai lembaga pendidikan yang amat penting di Thailand Selatan.
Profil pelajar-pelajar pondok ini digambarkan oleh Chapakia yaitu "Pelajar-pelajar mengamalkan cara hidup harian yang sama dan seragam mereka sama-sama berkain sarung, berbaju melayu berkopiah putih dan sama-sama menggunakan tulisan Jawi dan buku-buku jawi".Alumnus pondok memiliki posisi yang sangat penting dan memiliki peranan yang strategis ditengah-tengah masyarakat, mereka menjadi pemimpin masyarakat khususnya dalam bidang keagamaan, menjadi imam, khotib, bilal, menjadi ahli jawatan masjid paling tidak menjadi to 'lebai. Pendidikan formal yang dilaksanakan pemerintah dimulai pada mara raja Chalongkarn atau Rama V pada tahun 1899. Sekolah ini kurang mendapat sambutan masyarakat. Melihat itu pada tahun 1921 sekolah ini kurang mendapat sambutan masyarakat. Melihat itu pada thaun 1921 pemerintah mengeluarkan undang-undang yang mewajibkan sekolah mulai ditingkat sekolah dasar kelas satu sampai kelas empat. Kendatipun undang-undang tersebut dikeluarkan, namun masyarakat Islam dikawasan Thailand SElatna (khususnya ditempat wilayah : Patani, yala, Narthiwat, dan Satun) tidak menyambut dengan baik pemberlakuan undang-undang tersebut. Terbukti statistic tahun 1960 tamat sekolah dasar kelas satu sampai kelas empat diwilayah tersebut hanya 13,67 persen masyarakat masih terkait erat dengan pendidikan pondok.
Kebijakan pemerintah Thailand berikutnya pada tahun 1966, adalah mewajibkan seluruh institusi pondok untuk mendaftarkan diri ke pemerintah di bawah Akta Rongrian Rat Son Sasna Islam (Sekolah Swasta Mengajar Agama Islam). Sejak itu mulai perubahan pendidikan pondok di Selatan Thailand. Perubahan itu memunculkan timbulnya madrasah. Peran ulama-ulama Petani sangat dominant dalam proses Islamisasi tersebut, bahkan peranan mereka tidak hanya di patani saja tetapi juga sampai ke luar negeri, seperti ke Indonesia. Diantaranya yang terkenal adalah Syekh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman Al-Patani, yang telah berhasil mengIslamkan raja Buton yaitu raja Walio. Syeh Abdul Jalil alFathoni telah menyebarkan agama Islam di Kalimantan Barat (lebih kurang tahun 1700). Syekh Daud Abdullah al Fatoni juga seorang ulama Patani, yang bermukim di Makkah dan menulis banyak kitab-kitab agama. Dipandang dari sudut interen yakni munculnya lembaga pendidikan Islam di Patani, setelah berproses dari lembaga pendidikan informal, nonformal dan selanjutnya muncul lembaga pendidikan pondok sebagai lembaga formal.
3.      Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Thailand
a. Pondok dan Madrasah
Ada catatan bahwa Wan Husein Senawi seorang ulama berasal dari Kampung Sena Patani sepupu sunan Ampel mendapat inspirasi untuk mendirikan lembaga pendidikan pondok di patani setelah beliau belajar di Tanah Jawa di bawah asuhan Sunan Ampel. Pondok adalah lembaga pendidikan tertua di Patani dan diantara pondok-pondok tertua itu adalah Pondok Dala, Bermin, Semela, Dual, Kota, Gersih, Telok Manok, yang mempunyai pengaruh besar bagi pertumbuhan pendidikan Islam di daerah ini, oleh karena pondok-pondok ini banyak didatangi oleh pelajar. Pelajar di luar Patani, Karena itu pondok-pondok ini banyak sekali pengaruhnya bagi pembangunan bahasa Melayu, pengaruhnya juga sampai ke Burma dan Kamboja.
b.      Dengan System yang masih klasikal. Mempunyai kurikulum, silabus yang telah ditetapkan pokok-pokok bahasan serta jadwal pelajaran. Diajar oleh tenaga pengajar yang memiliki spesialisasi dalam bidang mata pelajaran yang diajarkan di madrasah tersebut. Diajarkan dua jenis ilmu pengetahuan, pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Disamping tenaga pengajar, memerlukan juga tenaga administrasi, bahagia akademik dan keuangan. System manajemen tidak lagi terkonsentrasi pada satu orang / tok guru telah berubah adanya pebagian tanggung jawab (sharing patner) antara pimpinan madrasah. Oleh karena di madrasah mata pelajaran yang diajar bervariasi, maka madrasah memerlukan fasilitas pendidikan dan pengajarna seperti laboratorium bahasa, labor computer, labor sains dan sarana olah raga.
Sumber :
Anuar, Nik Mahmud, 2004. Sejarah perjuangan Melayu Petani 1885-1954, Saremban.
               Aphornsuvan, Thanet, 2003. History And Politics of The Muslim In Thailand, Thammasat University.
             Farouq, Omar Bajunid,tThe Muslim and Thailand: A Review, at Shouteast Asian Studies,  (volume 37 no.2 September  1999)
        

Masukya jepang ke Indonesia

 Rizki Tirnando/SIIV/B

Awal masuk jepang ke Indonesia di latar belakangi oleh meletusnya Perang Asia Pasifik diawali dengan serangan Jepang menyerang Pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour (Hawai) pada tanggal 7 Desember 1941. Hal ini membuat sekutu marah besar kepada jepang dan keesok harinya, yakni tanggal 8 Desember 1941, Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda (sekutu) mengumumkan perang kepada Jepang sehingga berkobarlah Perang Asia Pasifik.
Awal mula kedikdayan Jepang terhadap asia dimulai saat menyerbu Cina (1937) dan Indocina dengan taktik gerak cepat melanjutkan serangan ke sasaran berikutnya, yaitu Muangthai, Burma, Malaya, Filipina, dan Hindia Belanda (Indonesia). Inilah salah satu sejarah jepag masuk ke Indonesia. Namun di pihak lain nntuk menghadapi agresi dan ofensif militer Jepang, yang dengan cepat menguasai sebagian asia ini pihak Sekutu membentuk pasukan gabungan yang dalam komando ABDACOM (American, British, Dutch, and Australia Command, gabungan tentara Amerika Serikat, Inggris, Belanda dan Australia) di bawah pimpinan Letjen H. Ter Poorten yang juga menjabat Panglima Tentara Hindia Belanda (KNIL).
Karna jepang dalam taktik perang yang dilakukanya sangat hebat pada 1 Maret 1942, Jepang berhasil masuk dan meletakan serdadu-serdadunya di tiga titik di Jawa, yakni Teluk Banten, Eretan Wetan (Jawa Barat), serta Kranggan (Jawa Tengah).[1] Keadaan ini megakibatkan meningkatnya suhu politik di Indonesia kala itu. Keadaan ini memaksa Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Tjarda Van Starkenborgh Stachouwer, menyerah tanpa syarat terhadap tentara Jepang pimpinan Letnan Jenderal Hitoshi Imamura dalam sebuah pertemuan di Kalijati tanggal 8 Maret 1942.[2] Pertemuan ini mengakhiri kekuasaan kolonial Belanda dan menempatkan Jepang sebagai penguasa baru atas Indonesia. Hak-hak kekuasaan ini memungkinkan Jepang membagi wilayah Indonesia dalam tiga komando, yaitu tentara ke-16 di pulau Jawa dan Madura yang berpusat di Batavia, tentara ke-25 di Sumatera yang berpusat di Bukit Tinggi dan armada selatan ke-2 di Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua Barat yang berpusat di Makassar. [3]
Pertemuan ini akhirnya memutus rantai kekuasaan pemerintah kolonial Belanda yang telah lama berkusa, yang berkuasa ratusan tahun di indonesia, seiring dengan belanda menyerah tanpa syarat kepada belanda, jepang sebagai penguasa baru Indonesia sesegera mungkin jepang menempatkan Pemerintah Militer Jepang sebagai penguasa baru Indonesia sementara waktu.
Di Indonesia, Jepang memperoleh kemajuan yang pesat. Di awali dengan menguasai Tarakan selanjutnya Jepang menguasai Balikpapan, Pontianak, Banjarmasin, Palembang, Batavia (Jakarta), Bogor terus ke Subang, dan terakhir Kalijati. Dalam waktu yang singkat Indonesia telah jatuh ke tangan Jepang.
Sambil menunggu kedatangan para ahli pemerintahan sipil datang ke Indonesia dari jepang, Jepang membentuk pemerintah militernya. Jepang  kemudian membagi kekuasaannya menjadi tiga wilayah komando
a)      Tentara 16 (Angkatan Darat) memerintah atas wilayah Jawa dan Madura yang berpusat di Jakarta.
b)      Tentara 25 (Angkatan Darat) memerintah atas wilayah Sumatra yang berpusat di Bukittinggi.
c)      Armada Selatan 2 (Angkatan Laut) memerintah atas wilayah Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua berpusat di Makassar.
Pemerintahan pada wilayah masing-masing tersebut dipimpin oleh kepala staf tentara/armada dengan gelar gunseikan (kepala pemerintahan militer) dan kantornya disebut gunseikanbu. Tentara angkatan ke-16 (Angkatan Darat) pimpinan Letnan Jenderal Hitoshi Imamura diberikan mandat untuk memegang kekuasaan di wilayah Jawa. Pada umumnya Jawa dianggap sebagai daerah yang secara politik paling maju namun secara ekonomi kurang penting, sumber dayanya yang utama adalah manusia. Hal ini memang sangat dibutuhkan oleh Jepang, mengingat niat awal mereka untuk menduduki kawasan Asia Tenggara adalah membangun Kawasan Persemakmuran Bersama Asia Raya.
Pada awal kedatangannya Jepang disambut baik oleh orang-orang Jawa yang beranggapan bahwa kedatangan tentara Jepang sesuai dengan ramalan Joyoboyo. Oleh sebab itu, ketika tentara Jepang mendirikan pemerintahan militernya orang-orang Jawa menerimanya dengan sukarela. Di samping itu, bagian propaganda (Sendenbu) Jepang telah pula melakukan aksinya dengan berbagai macam pendekatan terhadap rakyat, diantaranya; mendirikan Gerakan Tiga A dengan slogannya yang terkenal: Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang Saudara Asia. Mengangkat orang-orang pribumi dalam pemerintahan yang prinsip turun-temurunnya dihapuskan, menetapkan wilayah-wilayah voorstenlanden sebagai kochi (daerah istimewa). Tujuan utama ini mengarahkan kebijakan-kebijakan pemerintah militer untuk menghapuskan pengaruh-pengaruh barat di kalangan rakyat Jawa dan memobilisasi rakyat Jawa demi kemenangan Jepang dalam perang Asia Timur Raya.[4]
Tujuanya agar tentara Jepang yang mendirikan pemerintah militernya dapat diterima oleh penduduk pribumi. Paahal sebenarnya tujuan utama pendudukan Jepang di Jawa adalah menyusun dan mengarahkan kembali perekonomian peninggalan pemerintah Hindia Belanda dalam rangka menopang upaya perang Jepang tehadap sekutu dan rencana-rencananya bagi ekonomi jangka panjang terhadap Asia Timur dan Tenggara. Tujuan utama ini mengarahkan kebijakan-kebijakan pemerintah militer untuk menghapuskan pengaruh-pengaruh barat di kalangan rakyat Jawa dan memobilisasi rakyat Jawa demi kemenangan Jepang dalam perang Asia Timur Raya. Sejak membentuk pemerintahan militernya, Jepang membuat banyak sekali perubahan dalam bidang pemerintahan. Perubahan tersebut terjadi di tingkat atas maupun di tingkat bawah.
Pada tanggal 1 Agustus 1942, dikeluarkannya undang-undang perubahan tata pemerintahan di Jawa, Jepang menetapkan bahwa seluruh daerah di Jawa dibagi menjadi Syu, Si, Ken, Gun, Son, dan Ku, kecuali Surakarta dan Yogyakarta yang ditetapkan sebagai kooti (kerajaan) dan Batavia sebagai Tokubetsu Si (ibukota pemerintah militer). Pembagian pulau Jawa atas provinsi-provinsi juga dihapuskan.
Inilah sekilas tentang masuknya jepang ke Indonesia, namun yang perlu di garis bawahi adalah dat yang saya temukan ini cenderung masuknya jepang ke Indonesia yang menduduki Pulau Jawa tahun 1942-1945. Namun jepang hanya sebentar di indonesia telah membawa banyak perubahan yang sangat berarti bagi perkembangan Jawa dan Indonesia pada umumnya. Periode ini merupakan salah satu bagian dari perjalanan penting sejarah Indonesia. Dalam Masa penjajahan jepang ini telah terjadi berbagai perubahan yang mendasar pada alam sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Masa pendudukan Jepang di Indonesia selama tiga setengah tahun tersebut sering dipandang sebagai masa yang singkat, namun akan tetapi akibat yang diterima oleh masyarakat indonesia sebanding dengan masa penjajahan Belanda sebelumnya dengan jangka waktu yang lebih lama. Inilah yang menyebabkan tidak bias memandang sebelah mata sejarah Indonesia yang hanya di jajah jepang tiga setengah tahun namun banyak sekali membawa perubahan bagi bangsa ini.
Notes
[1] Marwati Djoened Poesponegoro, dkk. Sejarah Nasional Indonesia VI (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1975), hlm. 2.
[2] Pertemuan di Kalijati tersebut menghasilkan perjanjian Kalijati yang merupakan penyerahan tanpa syarat dari pemerintahan kolonial Belanda terhadap tentara Jepang. Lihat Nasution. Sekitar Perang Kemerdekaan, Jilid I (Bandung: Angkasa, 1988), hlm. 87-88; Onghokham. Runtuhnya Hindia Belanda (Jakarta: Gramedia, 1989), hlm. 279-280.
[3] M.C. Ricklefs. 1985. "A Historiografi of Modern Indonesia Since c. 1200". a.b Satriono Wahono, dkk. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2005), hlm. 405-406.
[4] Cahyo Budi Utomo. Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia dari Kebangkitan Nasional hingga Kemerdekaan(Semarang: IKIP Semarang Press, 1995), hlm. 180.
Daftar Pustaka
Poesponegoro. Djoened marwati.2008.sejarah nasonal ndonesia, jakarta; balai pustaka