CULTURSTELSEL


MEZA ARIANTI/B/S13

PENGERTIAN CULTUURSTELSEL/TANAM PAKSA
Cultuurstelsel atau tanam paksa adalah suatu kebijakan atau peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jendral Johannes van den Bosch pada tahun 1830,yang mewajibkan setiap penduduk menyisihkan atau menyerahkan sebagian tanahnya (20%) kepada pemerintah untuk ditanami komoditi ekspor,khususnya kopi,tebu dan tarum(nila).Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial.Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 66 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam pajak.Sistem pajak tanah mengakibatkan keadaan keuangan mundur dan mengakibatkan kekacauan-kekacauan sosial di dalam masyarakat Indonesia.Karena penyelewengan-penyelewengan dan kekacauan-kekacauan yang terjadi ,maka Van den Bosch mengajukan suatu sistem yang dapat mendatangkan keuntungan dengan cara-cara yang lebih sesuai dengan adat kebiasaan tradisional lokal.Hakikat dari Cultur stelsel adalah bahwa penduduk,sebagai ganti membayar pajak tanah sekaligus ,harus menyediakan sejumlah hasil bumi yang nilainya sama dengan pajak tanah(Sartono Kartodirdjo ,1999:13).
Salah satu faktor yang mendorong Gubernur Jendral Van den Bosch untuk membuat,sistem tanam paksa karena kekosongan kas Belanda,pertama dibuat diJawa kemudian diluar Jawa.Baru saja tanam paksa hendak dimulai,Belanda makin memerlukan banyak uang untuk perang melawan Belgia.Ketimbang bergabung dalam kerajaan Belanda menurut keputusan Konferensi Wina tahun 1815 ,Belgia memilih memberontak untuk memisahkan diri .Belanda gagal memadamkan pemberontakan tersebut ,tetapi biaya sudah sempat keluar.Ini menyebabkan semakin kuatnya desakan agar tanam paksa berhasil.
Van den Bosch mengharapkan besar akan mendapatkan keuntungan dari sistem tanam paksa.Dengan dijalankannya Cultuurstelsel itu,maka Indonesia memasuki periode baru dalam politik kolonial.Sistem tanam paksa lebih disesuaikan dengan adat kebiasaan pribumi yang telah ada.Ini berarti bahwa kaum bangsawan feodal harus dikembalikan pada posisi yang lama,sehingga pengaruh mereka dapat dipergunakan untuk menggerakkan rakyat,memperbesar produksi ,dan menjalankan pekerjaan-pekerjaan yang diminta oleh pemerintah.Kaum bangsa feodal diawasi dan ditempatkan di bawah kekuasaan pegawai-pegawai Belanda.Disini kita menjumpai sistem tidak langsung,yaitu sistem pemerintahan melalui kepala-kepala pribumi.Pemerintah tidak ikut campur tangan dalam institusi pribumi.Kalau di satu pihak pemerintah kolonial menganggap perlu menghormati para bangsawan,maka pada Sistem Cultuurstelsel mereka itu tidak lebih adalah pelaksana pelaksanayang diperintahkan dari atas.
Pada praktiknya peraturan tanam paksa yang telah dikeluarkan oleh Van den Bosch dapat dikatakan tidak berarti karena seluruh wilayah pertanian penduduk wajib ditanami tanaman laku ekspor dan hasilnya diserahkan kepada pemerintahan Belanda.Wilayah yang digunakan untuk praktik Cultuurstelsel pun tetap dikenakan pajak.Warga yang tidak memiliki lahan pertanian wajib bekerja selama hampir setahun penuh di lahan pertanian pemerintah.Tanam paksa adalah era paling eksploitatif dalam praktik ekonomi Hindia Belanda.Sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam dibanding sistem monopoli VOC karena ada sasaran pemasukan penerimaan negara yang sangat dibutuhkan pemerintah. Petani yang pada zaman VOC wajib menjual komoditi tertentu pada VOC, kini harus menanam tanaman tertentu dan sekaligus menjualnya dengan harga yang ditetapkan kepada pemerintah. Aset tanam paksa inilah yang memberikan sumbangan besar bagi modal pada zaman keemasan kolonialis liberal Hindia-Belanda pada 1835 hingga 1940.Akibat sistem yang memakmurkan dan menyejahterakan negeri Belanda ini,Van den Bosch selaku penggagas dianugerahi gelar Graaf oleh raja Belanda, pada 25 Desember 1839.Cultuurstelsel kemudian dihentikan setelah muncul berbagai kritik dengan dikeluarkannya UU Agraria 1870 dan UU Gula 1870, yang mengawali era liberalisasi ekonomi dalam sejarah penjajahan Indonesia.
Aturan Dari Cultuurstelsel/Tanam Paksa
Berikut adalah isi dari aturan tanam paksa
  • Tuntutan kepada setiap rakyat Indonesia agar menyediakan tanah pertanian untuk cultuurstelsel tidak melebihi 20% atau seperlima bagian dari tanahnya untuk ditanami jenis tanaman perdagangan.
  • Pembebasan tanah yang disediakan untuk cultuurstelsel dari pajak,karena hasil tanamannya dianggap sebagai pembayaran pajak.
  • Rakyat yang tidak memiliki tanah pertanian dapat menggantinya dengan bekerja di perkebunan milik pemerintah Belanda atau di pabrik milik pemerintah Belanda selama 66 hari atau seperlima tahun.
  • Waktu untuk mengerjakan tanaman pada tanah pertanian untuk Culturstelsel tidak boleh melebihi waktu tanam padi atau kurang lebih 3 (tiga) bulan
  • Kelebihan hasil produksi pertanian dari ketentuan akan dikembalikan kepada rakyat
  • Kerusakan atau kerugian sebagai akibat gagal panen yang bukan karena kesalahan petani seperti bencana alam dan terserang hama, akan di tanggung pemerintah Belanda.
  • Penyerahan teknik pelaksanaan aturan tanam paksa kepada kepala desa
Aturan yang dikeluarkan ini tidak sesuai dengan pelaksanaannya ,dimana negara mengambil tanah penduduk lebih dari seperlima bahkan bisa menjadi setenggah dari lahan pertanian.Serta bagi mereka yang tidak punya tanah mereka harus bekerja di tanah pemerintah melebihi 66 hari.Rakyat harus menanggung semua kerugian disebabkan kegagalan panen,setiap kelebihan panenpun tidak diserahkan kepada penduduk lagi.Serta waktu penanaman melebihi 3 bulan. 
HASIL DARI CULTUURSTELSEL /TANAM PAKSA
Hasil-hasil finansial Cultuurstelsel ini bagi Negeri Belanda sangat memuaskan ,dimana antara tahun-tahun 1831-1877 negara menerima dari daerah-daerah jajahan kekayaan sebesar 823 juta gulden.Dengan kekayaan yang diterimanya  ini menyebabkan kas Belanda menjadi berlebih.Sistem ini tidak hanya memberi hasil bagi pemerintah ,tetapi juga mendorong memajukan perdagangan dan pelayaran belanda.Negeri Belanda kembali menjadi pusat penjualan bahan mentah dan armada dagangnya menjadi nomor tiga di seluruh dunia.Sistem ini juga memperkaya pengusaha-pengusaha pabrik ,pedagang-pedagang dan lain-lainnya . yang mengakibatkan mulai tumbuhnya modal perdagangan dan modal industri partikelir. Fakta ini mempunyai akibat-akibat yang jauh dalam politik kolonial sesudah tahun 1850.Pemulihan yang pesat di dalam bidang ekonomi itu disertai lahirnya Partai Liberal yang menggerakkan oposisi yang gigih terhadap politik kolonial konservatif pada umumnya dan Cultuurstelsel pada khususnya(Sartono Kartodirdjo 1999:15).
DAMPAK DARI CULTUURSTELSEL
Dampak Cultuurstelsel bagi rakyat Indonesia
·         Rakyat Indonesia semankin menderita
·         Tanah rakyat terbengkalai
·         Terjadinya kelaparan dan munculnya wabah penyakit
·         Kelaparan hampir melanda seluruh Indonesia
Dalam bidang pertanian
Cultuurstelsel menandai dimulainya penanaman tanaman komoditi pendatang di Indonesia secara luas. Kopi dan teh, yang semula hanya ditanam untuk kepentingan keindahan taman mulai dikembangkan secara luas. Tebu, yang merupakan tanaman asli, menjadi populer pula setelah sebelumnya, pada masa VOC, perkebunan hanya berkisar pada tanaman tradisional penghasil rempah-rempah seperti lada, pala, dan cengkeh. Kepentingan peningkatan hasil dan kelaparan yang melanda Jawa akibat merosotnya produksi beras meningkatkan kesadaran pemerintah koloni akan perlunya penelitian untuk meningkatkan hasil komoditi pertanian, dan secara umum peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pertanian. Walaupun demikian, baru setelah pelaksanaan UU Agraria 1870 kegiatan penelitian pertanian dilakukan secara serius.
Dalam bidang sosial
Dalam bidang pertanian, khususnya dalam struktur agraris tidak mengakibatkan adanya perbedaan antara majikan dan petani kecil penggarap sebagai budak, melainkan terjadinya homogenitas sosial dan ekonomi yang berprinsip pada pemerataan dalam pembagian tanah. Ikatan antara penduduk dan desanya semakin kuat hal ini malahan menghambat perkembangan desa itu sendiri.Hal ini terjadi karena penduduk lebih senang tinggal di desanya, mengakibatkan terjadinya keterbelakangan dan kurangnya wawasan untuk perkembangan kehidupan penduduknya.Dan terjadinya perbedaan kelas antara para petani dan orang Eropa , mengakibatkan terbentuknya perbedaan ras.
Dalam bidang ekonomi
Dengan adanya tanam paksa tersebut menyebabkan pekerja mengenal sistem upah yang sebelumnya tidak dikenal oleh penduduk, mereka lebih mengutamakan sistem kerjasama dan gotongroyong terutama tampak di kota-kota pelabuhan maupun di pabrik-pabrik gula.Dalam pelaksanaan tanam paksa,penduduk desa diharuskan menyerahkan sebagian tanah pertaniannya untuk ditanami tanaman eksport, sehingga banyak terjadi sewa menyewa tanah milik penduduk dengan pemerintah kolonial secara paksa. Dengan demikian hasil produksi tanaman eksport bertambah,mengakibatkan perkebunan-perkebunan swasta tergiur untuk ikut menguasai pertanian di Indonesia di kemudian hari.
Kritikan terhadap sistem Cultuurstelsel
Reaksi terhadap Cultuurstelsel yang dimulai sekitar tahun1848 mendapat tanggapan, baik pada perdebatan-perdebatan di parlemen maupun dalam sejumlah tulisan yang mengutuk habis-habisan sistem itu beserta segala konsekuensinya.Sebelum adanya revisi konstitusi Belanda pada tahun 1848 ,politik kolonial pemerintah di luar pengawasan parlemen.Revisi ini dianggap sebagai suatu kemenangan dari demokrasi parlementer dan mempunyai pengaaruh yang besar terhadap jalannya politik kolonial.Pada waktu itu mendominasi politik parlemen,menentang sistem itu karena dianggap menyimpang dari prinsip-prinsip ekonomi menurut pemikiran liberal,akan tetapi untuk beberapa tahun pemerintahan kolonial Partai Liberal tetap laten dan persoalan kolonial tetap tidak mendapatkan perhatian.Serangan terhadap Cultuurstelsel di luar parlemen dilancarkan oleh sekelompok penulis ,pegawai,menteri,sebagian besar kolonialis kawakan.Kekurangan-kekurangan dan konsekuensi-konsekuensi yang buruk dari sistem itu sudah cukup jelas dan telah dikemukakan oleh berpuluh-puluh penulis.Mereka yang berjasa menyadarkan massa rakyat di negeri induk yang belum tahu akan perlunya suatu reform dan menjadikan persoalan reform itu sebagai persoalan politik yang sangat penting.Salah seorang pegawai,Douwes Dekker,membentangkan kekejaman-kekejaman sistem ini dalam bukunya yang terkenal ,Max Haveraar.Seorang yang gigih melawan penyelewangan-penyelawangan pada sistem itu  adalah Van Hovell.Dia membela kepentingan penduduk pribumi tanpa mencela sistem eksploatasi di daerah-daerah jajahan untuk kepentingan negeri induk .Dua orang tokoh ini berjasa sekali dalam menarik perhatian umum terhadap persoalan-persoalan kolonial.Tulisan populer mereka memang meratakan jalan ,tetapi kemenangan harus diperjuangkan melalui saluran parlementer.Perjuangan yang teru-menerus inilah yang berlansung selama masa sepuluh tahun berikutnya(Sartono Kartodirjo 1999: 16).
Daftar Pustaka
Kartodirdjo,Sartono.1999.Sejarah Pergerakan Nasional.Jakarta :Gramedia
Simbolon, T Parakitri.2007.Menjadi Indonesia.Jakarta
Wikipedia

DAMPAK EKONOMIS SISTEM TANAM PAKSA PADA MASYARAKAT AGRAGRIS DI JAWA


AMRINA ROSADA / SI 3/ A

         Menjelang akhir dekade ke-3, pemikiran dalam bidang ekonomi politik sekitar Jawa jajahan semakin menjurus ke arah pihak konservatif dan menjauh dari politik liberal. Ada beberapa sebab yang mendorong perkembangan itu. Sistem pajak tanah dan sistem perkebunan (Landelijk Stelsel) selama 30 tahun banyak mengalami hambatan tidak lain karena sistem liberal ternyata tidak sesuai dengan struktur sosial yang sangat feodal di Jawa dengan segala ikatan tradisionalnya. Pemerintah kolonial tidak mampu menembusnya dan langsung berhubungan dengan rakyat secara bebas. Meskipun sistem perdagangan belum dapat berjalan secara bebas sepenuhnya, sudah tampak keramaian perdagangan hasil ekspor, namun dikuasai oleh Inggris yang memiliki modal yang sangat kuat.
         Konsep ekonomi politik dari van den Bosch tersusun berdasarkan pengalaman-pengalaman penguasa-penguasa yang mendahuluinya. Van den Bosch tidak ingin gagal seperti penguasa-penguasa sebelumnya. Sistem pajak tanah, yang telah diintroduksi oleh Raffles kemudian diteruskan oleh Komisaris Jenderal Van der Capellen dan du Bus de Gisignes, telah mengalami kegagalan, antara lain dalam merangsang para petani untuk meningkatkan produksi tanaman perdagangan untuk ekspor-ekspor. Berlawanan dengan Raffles, maka Sistem Tanam Paksa (STP) mengadakan pungutan tidak dalam bentuk uang tapi lebih berupa in natura (hasil pertanian), mengingat ekonomi uang di daerah pedalaman Jawa belum berkembang.
         Sistem Tanam Paksa yang diusulkan van den Bosch didasarkan atas prinsip wajib atau paksa dan prinsip monopoli. Prinsip yang pertama dipergunakan menurut model yang telah lama berjalan di Priangan yang dikenal sebagai Preanger Stelsel ataupun sistem yang dipakai oleh VOC, verplichte leveranties (penyerahan wajib). Selama sistem pajak tanah masih berlaku antara 1810 dan 1830 penanaman dan penyerahan wajib telah dihapus kecuali untuk daerah Priangan di Jawa Barat. Ini berarti bahwa Sistem Tanam Paksa akan menyandarkan diri pada sistem tradisional dan feodal dengan menggunakan perantaraan struktur kekuasaan lama.
         Dalam lingkungan tradisional tenaga kerja rakyat pedesaan terserap pelbagai ikatan, baik dari desa maupun yang feodal. Penyelenggaraan Sistem Tanam Paksa memang didasarkan sepenuhnya pada kelembagaan itu. Permintaan akan tenaga bebas baru timbul dengan adanya pendirian pabrik-pabrik tempat memprotes hasil tanaman terutama tebu. Pada awalnya, industri gula mengalami banyak kesulitan antara lain soal transportasi yang terasa amat membebani rakyat bila diharuskan memikulnya. Akibat tidak adanya pengangkutan tersebut, Gubernemen terpaksa menaikkan harga beli gula agar pemilik pabrik bersedia mengusahakan sendiri pengangkutan lewat pasaran bebas.
         Pada tahun 1835 pembayaran Plantloon (upah tanam) dalam tanaman tebu setiap tahun berjumlah 5,5 juta gulden. Ditambah ongkos pengangkutan sekitar dua juta gulden. Jadi Sistem Tanam Paksa telah meningkatkan peredaran uang sebesar 7,5  juta gulden setiap tahunnya. Disamping itu mulai ramai juga pamasaran barang-barang antara lain barang tekstil impor. Dengan demikian jelaslah pula bahwa Sistem Tanam Paksa telah menciptakan lalu lintas uang yaitu suatu faktor ekonomi yang dapat mempercapat timbulnya ekonomi uang di pedalaman.
         Beban yang di pikul oleh pemilik tanah dalam STP menjadi sangat berat sehingga ada kecendrungan untuk menyerahkan pengusahaan tanah kepada desa atau warga yang lain. Timbullah pula banyak tanah komunal dalam proses itu. Hak milik tanah sejak adanya STP juga diperlemah oleh kejadian-kejadian di Jawa Tengah, yaitu perang Diponegoro. Di Kedu, Semarang, dan Jepara banyak daerah di kosongkan dan penghuni baru datang bermukiman. Bebean berat seperti untuk pengankutan dalam peperangan, bagi rakyat Tegal dan Pekalongan mengakibatkan dislokasi penduduk desa. Kejadian-kejadia itu mempengaruhi struktur masyarakat pedesaan pada umumnya dan pemilik tanah pada khususnya. Banyak hak-hak atas tnah jatuh ketangan penghuni baru. Di daerah di sekitar pabrik gula timbul pula pergeseran milik tanah, sebab sebagai pengganti tanah yang dipakai untuk tanaman tebu di dekat pabrik.
            Kemudian pembayaran plantloon (upah tanam) sehabis menyerahkan hasil tanaman wajib dapat dipandang sebagai penukaran tenaga dengan uang, suatu langkah ke arah pembebasan tenaga dari ikatan tradisional. Dan secara sinkronis dapat kita lihat bahwa telah berkembang di Indonesia suatu lalu lintas uang dan pasaran tenaga sehingga lebih terbuka kemungkinan untuk mrngubah ekonomi politik di daerah jajahan sesuai dengan prinsip-prinsip liberalisme. Sudah ada langkah-langkah dan tanda-tanda kearah perubahan struktur dari cara produksi, antara lain perjuangan idiologis untuk membebaskan tenaga kultur dan pemakaian tanah, penyusunan sistem perundang-undangan yang sesuai dengan hal tersebut, merubah sistem agraris dan feodal dari masyarakat pribumi. Dalam perkembangan politik Nederland yaitu kira-kira pertengahan abad ke XIX kaum borjuis atau kelas menengah memegang peranan penting, terutama dalam memberi dasar hukum bagi suatu pemerintah daerah jajahan.
         Sistem Tanam Paksa dijalankan berdasarkan Regering Reglement dari Van De Bosch (1836) masih ada di bawah Otoritas Gubernur Jendral yang telah dapat mandat dari raja Belanda. Kecaman-kecaman dari oposisi kolonial, yang di pelopori oleh Van Hoevell terhadap STP dengan segala penyimpangan dan penyalahgunaanya, kemudian di susul oleh Douwes Dekker dengan Max Havelaar mereka mempercepat penghapusan STP, karena keuntungan dari ekspor digunakan untuk kepentingan pemerintah kolonial, dan menyebabkan buruknya perekonomian terhadap rakyat. Selain itu banyak rakyat yang menderita karena beban pekerjaan yang berat diletakkan di atas pundak rakyat serta penanaman tanaman-tanaman di atas yang kurang cocok dan sebagainya.
         Buruknya perekonomian tersebut mula-mula terlihat di daerah Cirebon pada tahun 1843 ketika pemerintah kolonial berusaha untuk mengekspor beras yang dihasilkan para petani. Suatu perusahaan yang ditunjuk pemerintah kolonial ditugaskan untuk memungut pajak dari petani yang harus dibayar dengan beras. Karena penanaman padi di daerah Cirebon relatif sedikit dibanding dengan penanaman tanaman dagang seperti kopi, gula dan nila serta teh, maka pemungutan tersebut sangat memberatkan penduduk daerah Cirebon. Keadaan menjadi parah, pada tahun 1843 panen padi di beberapa daerah Pantai Utara Jawa  mengalami kegagalan. Kegagalan panen dan beban pajak beras yang sangat berat mengakibatkan bahaya kelaparan di wilayah Cirebon. Sehingga mengakibatkan ribuan keluarga mengungsi. Banyak orang yang terlampau lemah turut mengungsi dan meninggal di pinggir jalan. Kejadian serupa juga terjadi di daerah Demak pada tahun 1848 dan di daerah Grobogan dua tahun kemudian.
Dan adapun dampak negative STP yang lainnya terhadap masyarakt jawa adalah:
1.      Meluasnya bentuk milik tanah bersama(komunal) tujuannya mempermudah menetapakan target yang harus dicapai oleh masing-masing desa sebagai satu keseluruhan. Hal ini berarti kepastian hukum individu telah lepas.
2.      Meluasnya kekuasaan bupati dan kepala desa yang digunakan pemerintah Belanda sebagai alat organisir masyarakat. Menimbulkan banyak penyelewengan salah satunya dari cultuurprocenten.
3.      Tanah tanah pertanian  yang harus dijadikan untuk tanaman dagang sering melebihi seperlima dari seluruh tanah pertanian di desa.
4.       Disintegrasi struktur sosial masyarakat desa.
          Kemudian dengan pengusutan dan penghapusan Tanam Paksa maka NHM terpaksa menggeser lapangan kegiatannya antar lain dengan mnyediakan modal bagi pengusaha-pengusah swasta yang semakin meningkat jumlahnya. Pada tahun 1869 NHM membiayai 17 pabrik gula, jadi berfungsi sebagai Bank Kultur. Karena sangat menguntungkan, segera di ikuti oleh pihak lain, maka berdirilah Rotterdamsche Bank, N.I. Handelsbank, Crediet en Handelsvereeniging, kesemuanya itu mewujudkan bentuk-bentuk kapitalisme finansial.
Daftar pustaka :
Marwati Joened P. dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia IV, Balai Pustaka, Jakarta, 1990. hlm. 97.
Katodirdjo sartono. 1999. Pengantar Sejarah Indonesia. Buku: 1500-1900dari emperium sampai emperium jilid 1. Jakarta: PT Gramedia Graha Utama.

KEDATANGAN BANGSA ASING KE INDONESIA

DAME ULI LUMBAN TOBING / SI3
PENGANTAR
Dalam perkembangan sejarah bangsa Indonesia ,banyak terjadi perubahan yang terjadi dalam pendewasaan bangsa Indonesia.Salah satu factor yang menyebabkan adalah banyaknya penetrasi yang dilakukan oleh bangsa Asing ke Indonesia.Dalam makalah ini akan dibahas tentang kedatangan bangsa Eropa dan Jepang ke Indonesia serta apa saja pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat Indonesia.
Tahun 1450 sampai 1650 merupakan sebuah masa yang oleh bangsa Eropa disebut masa penemuan (Age of Discovery) dan masa perluasan kekuasaan ( Age of Expansion) .Ketika itu bangsa-bangsa Eropa sudah dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dibidang geografi dan teknologi.Memang mereka tertinggal olehbangsa Romawi dan bangsa Islam selama berabad-abad .Namun rupanya bangsa-bangs Eropa memiliki keinginan yang kuat untuk mengejar ketertinggalan itu .Mereka berlomba-lomba mengarungi Samudra ,padahal mereka belum yakin pakah dunia ini bulat seperti bola atau datar seperti meja .Mereka pun ingin berekspansi ,membangun wilayah-wilayah pendudukan atau koloni-koloni .Inilah awal kolonialisme Eropa.
LATAR BELAKANG PENJELAJAHAN SAMUDRA
Banyak factor yang mempengaruhi dan mendorong petualangan dan kemudian penjajahan yang dilakukan bangsa Eropa dalam upaya mencari jalan ke Asia . Diantaranya adlah sebagai berikut : 
a.       Jatuhnya Constantinopel ke tangan Turki Osmani pada tahun 1453 membawa pengaruh besar bagi hubungan dagang antara Timur-Barat ,antara Asia-Eropa .Orang Eropa yang dulunya membeli rempah-rempah ke Constantinopel ,tetapi sejak Turki berhasil menguasai Constantinopel  maka Eropa tidak dapat lagi membeli rempah –rempah ke Constantinopel .Inilah yang mendorong timbulnya penjelajahan samudera.
 
b.      Semangat perang salib yang dimiliki bangsa Portugis membawa mereka ke arena pergulatan melawan Islam dimanapun mereka berjumpa.Dalam rangka semangat reconquista inilah orang portugis keluar dari negerinya untuk memerangi orang –orang Islam ,merebut jalur perdagangan dari tangan pedagang-pedagang Islam dan menaklukkan pusat-pusat perdagangan kekuasaan Islam dan seiring dengan itu juga meluncurkan misi pengembangan agama Kristen Katolik di daerah-daerah yang dikuasainya.
c.       Berlangsungnya zaman Reinaisance di Eropa ,yang berarti zaman kebebasan .Hal ini mendorong semangat mengembangkan ilmu pengetahuan orang-orang Eropa terutama Ilmu pengetahuan Alam .Juga ditemukannya cara-cara pembuatan kapal untuk melakukan penjelajahan samudra.

Ada beberapa faktor yang mendorong penjelajahan samudra
selain yang tersebut seperti :
  1. Semangat gospel, yaitu semangat untuk menyebarkan agama Nasrani.
  2. Semangat glory, yaitu semangat memperoleh kejayaan atau daerah jajahan.
  3. Semangat gold, yaitu semangat untuk mencari kekayaan/emas.
  4. Perkembangan teknologi kemaritiman yang memungkinkan pelayaran dan perdagangan yang lebih luas, termasuk menyeberangi Samudra Atlantik.
  5. Adanya sarana pendukung seperti kompas, teropong, mesiu, dan peta yang menggambarkan secara lengkap dan akurat garis pantai, terusan, dan pelabuhan.
  6. Adanya buku Imago Mundi yang menceritakan perjalanan Marco Polo (1271-1292).
  7. Penemuan Copernicus yang didukung oleh Galileo yang menyatakan bahwa bumi itu bulat seperti bola, matahari merupakan pusat dari seluruh benda-benda antariksa. Bumi dan bendabenda antariksa lainnya beredar mengelilingi matahari (teori Heliosentris).

PENJELAJAHAN SAMUDRA OLEH BANGSA EROPA
            Negara-negara yang memelopori penjelajahan samudra adalah Portugis .Bangsa Portugis berhasil mempelopori penjelajahan ini berkat :
1.      Mereka berhasil membina kekuatan angkatan laut yang dapat bersaing dengan pedagang-pedagang Islam.
2.      Semangat kebangsaannya yang meluap-luap mendorong mereka untuk menaklukkan kekuasaan Islam dimana pun mereka berada.
 Setelah Portugis ,penjelajahan samudra dilanjutkan leh Spanyol. Menyusul Inggris, Belanda, Prancis, Denmark, dan lainnya. Untuk menghindari persaingan antara Portugis dan Spanyol, maka pada tanggal 7 Juni 1494 lahirlah Perjanjian Tordesillas. Paus membagi daerah kekuasaan di dunia non-Kristiani menjadi dua bagian dengan batas garis demarkasi/khayal yang membentang dari kutub Utara ke kutub Selatan. Daerah sebelah Timur garis khayal adalah jalur/kekuasaan Portugis, sedangkan daerah sebelah Barat garis khayal adalah jalur Spanyol.Garis terbut melalui titik 370 mil disebelah barat Kepulauan Tanjung Verde.
Pelayaran Orang-orang Portugis
            Orang-orang Portugis menjadi pelopor berlayar mencari tempat asal rempah-rempah. Hal ini tidak lepas dari kiat Pangeran Henry Mualim (Henry Navigator) yang memberi hak-hak istimewa kepada keluarga-keluarga saudagar sukses dari Italia, Spanyol, dan Prancis. Tujuannya supaya mereka bersedia tinggal dan berdagang di ibukota Portugis.
Berikut ini penjelajah-penjelajah yang berasal dari Portugis
:
  1) Bartholomeu Dias

            Bartholomeu Dias berangkat dari Lisabon (Portugis) pada bulan Agustus 1487. Ketika sampai di ujung Selatan benua Afrika, kapal Dias terkena badai topan. Setelah badai reda, Dias kembali ke Portugis. Oleh Dias dan rombongannya, ujung Selatan Benua Afrika dinamai Tanjung Badai. Namun, Raja Portugal Joao II mengganti namanya menjadi Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) karena untuk menghilangkan kesan menakutkan dan tempat tersebut dianggap memberikan harapan bagi bangsa Portugis untuk menemukan Hindia.

2) Vasco da Gama

            Pada tanggal 8 Juli 1497, Raja Portugis Manuel I memerintahkan Vasco da Gama mengikuti jejak Dias. Ekspedisinya dilakukan melalui laut sepanjang pantai Afrika Barat.
Dalam pelayarannya, Vasco da Gama sempat singgah di pantai Afrika Timur. Atas petunjuk mualim Moor, da Gama melanjutkan ekspedisinya memasuki Samudra Hindia dan Laut Arab. Perjalanan Vasco da Gama tiba di Calcuta pada tanggal 22 Mei 1498. Di Calcuta, Vasco da Gama berupaya mendirikan pos perdagangan. Ia membeli rempah-rempah untuk dikirim ke Portugis dan sebagian dijual ke negara- negara Eropa lainnya.
3) Alfonso d' Albuquerque
            Setelah beberapa lama menduduki Calcuta, orang Portugis sadar bahwa penghasil rempah-rempah bukan India. Ada tempat lain yang menjadi pusat perdagangan rempah-rempah di Asia, yaitu Malaka. Oleh karena itu ekspedisi ke Timur dilanjutkan kembali.
Bagi Portugis, cara termudah menguasai perdagangan di sekitar Malaka adalah dengan merebut atau menguasai Malaka. Oleh karena itu, dari Calcuta, Portugis mengirimkan ekspedisi ke Malaka di bawah pimpinan Alfonso d' Albuquerque. Ekspedisi d' Albuquerque tersebut berhasil menaklukkan Malaka pada tahun 1511.
Pelayaran Orang-orang Spanyol
Berikut ini para penjelajah Spanyol yang melakukan pelayaran ke dunia Timur:


1) Christopher Columbus
            Pada tanggal 3 Agustus 1492, dengan menggunakan tiga buah kapal yaitu Santa Maria, Nina, dan Pinta, Columbus mulai berlayar mencari sumber rempah-rempah di dunia Timur. Setelah berlayar lebih dari 2 bulan mengarungi Samudra Atlantik, sampailah Columbus di Pulau Guanahani yang terletak di Kepulauan Bahama, Karibia. Ia merasa telah sampai di Kepulauan Hindia Timur yang merupakan sumber rempah-rempah. Ia menamai penduduk asli di kawasan itu sebagai Indian. Selanjutnya Kepulauan Bahama dikenal sebagai Hindia Barat.
           
 Columbus bersama seorang penyelidik bernama Amerigo Vespucci antara tahun 1492 – 1504, berlayar terhitung 4 kali. Mereka menemukan benua baru yang diberi nama Amerika. Jadi penemu Benua Amerika adalah Christopher Columbus. Sejak Columbus menemukan benua Amerika, menyusul pelaut-pelaut Spanyol seperti Cortez dan Pizzaro. Cortez menduduki Mexico pada tahun 1519 dengan menaklukkan suku Indian yaitu Kerajaan Aztec dan suku Maya di Yucatan. Pizzaro, pada tahun 1530 menaklukkan kerajaan Indian di Peru yaitu suku Inca.

2) Ferdinand Magelhaens (Magellan)
            Pada tanggal 10 Agustus 1519, Magelhaens berlayar ke Barat didampingi oleh Kapten Juan Sebastian del Cano (Sebastian del Cano) dan seorang penulis dari Italia yang bernama Pigafetta. Penulis inilah yang mengisahkan perjalanan Magelhaens-del Cano mengelilingi dunia yang membuktikan bahwa bumi itu bulat seperti bola. Pada tahun 1520, setelah menyeberangi Samudra Pasifik, sampailah rombongan Magelhaens di Kepulauan Massava.
           
Kepulauan ini kemudian diberi nama Filipina, mengambil nama Raja Spanyol, Philips II. Dalam suatu pertempuran melawan orang Mactan, Magelhaens gugur (27 April 1521). Akibat peristiwa itu rombongan bergegas meninggalkan Filipina dipimpin oleh Sebastian del Cano, menuju Kepulauan Maluku. Magelhaens dianggap sebagai orang besar dalam dunia pelayaran karena menjadi orang yang pertama kali berhasil mengelilingi dunia. Raja Spanyol memberi hadiah sebuah tiruan bola bumi. Pada tiruan bola bumi itu dililitkan pita bertuliskan 'Engkaulah yang pertama kali mengitari diriku'.

Pelayaran orang-orang Inggris
1) Sir Francis Drake
            Pada tahun 1577 Drake berangkat berlayar dari Inggris ke arah Barat. Dalam pelayarannya, rombongan ini memborong rempah-rempah di Ternate. Setelah mendapatkan banyak rempah-rempah Drake pulang ke negerinya dan sampai di Inggris pada tahun 1580. Pelayaran Drake ini belum memiliki arti penting secara ekonomis dan politis.

2) Pilgrim Fathers
            Pada tahun 1607 rombongan yang menamakan diri Pilgrim Fathers melakukan pelayaran ke arah Barat. Kapal yang bernama May Flower berhasil membawa rombongan ini mendarat di Amerika Utara.

3) Sir James Lancester dan George Raymond
            Pada pelayaran tahun 1591, Lancester berhasil mengadakan pelayaran sampai ke Aceh dan Penang, sampai di Inggris pada tahun 1594. Pada bulan Juni 1602, Lancester dan maskapai perdagangan Inggris (EIC) berhasil tiba di Aceh dan terus menuju Banten. Di Banten, dia mendapatkan izin dan mendirikan kantor dagang.

4) Sir Henry Middleton
            Pada tahun 1604 pelayaran kedua EIC yang dipimpin Sir Henry Middleton berhasil mencapai Ternate, Tidore, Ambon, dan Banda. Terjadi persaingan dengan VOC. Selama tahun 1611 - 1617, orang-orang Inggris mendirikan kantor dagang di Sukadana (Kalimantan Barat Daya), Makassar, Jayakarta, Jepara, Aceh, Pariaman, dan Jambi.

5) William Dampier
            Pada tahun 1688, Dampier melakukan pelayaran dan berhasil mendarat di Australia. Ia terus melanjutkan pelayaran dengan menelusuri pantai ke arah Utara.

6) James Cook
            Pada tahun 1770 Cook berhasil mendarat di pantai Timur Australia dan menjelajahi pantai Australia secara menyeluruh pada tahun 1771. Oleh karena itu, James Cook sering dikatakan sebagai penemu Benua Australia.

Pelayaran Orang-orang Belanda
            Biasanya para pedagang Belanda membeli dagangan rempah-rempah dari Portugis di pusat pasar Lisabon. Namun setelah Lisabon dikuasai Spanyol, Belanda mencari jalan menuju daerah penghasil rempah-rempah. Walaupun Portugis berusaha merahasiakan jalan ke pusat penghasil rempah-rempah, tetapi Belanda berhasil menyusul Portugis dan Spanyol.
Berikut ini beberapa pelaut Belanda yang melakukan penjelajahan ke dunia:

1) Barentz
            Pada tahun 1594, Barentz mencari daerah Timur (Asia) melalui jalur lain yaitu ke Utara. Perjalanan Barentz terhambat karena air laut membeku sesampainya di Kutub Utara. Ia berhenti di sebuah pulau yang dikenal dengan nama Pulau Novaya Zemlya, kemudian memutuskan untuk kembali tetapi meninggal dalam perjalanan.

2) Cornelis de Houtman
            Pada tahun 1595, de Houtman dengan empat buah kapal yang memuat 249 orang awak beserta 64 meriam, memimpin pelayaran mencari daerah asal rempah-rempah ke arah Timur mengambil jalur seperti yang ditempuh Portugis. Pada tahun 1596 Cornelis de Houtman bersama rombongan sampai di Indonesia dan mendarat di Banten.

3) Abel Tasman
            Abel Tasman berlayar mencapai perairan di sebelah Tenggara Australia. Pada tahun 1642 ia menemukan sebuah pulau yang kemudian dikenal dengan nama Pulau Tasmania.

            Sejak abad ke -13, rempah-rempah memang merupakan bahan dagang yang sangat menguntungkan. Hal ini mendorong orang-orang Eropa berusaha mencari harta kekayaan ini sekalipun menjelajah semudera. Keinginan ini diperkuat dengan adanya jiwa penjelajah. Bangsa Eropa dikenal sebagai bangsa penjelajah, terutama untuk menemukan daerah-daerah baru. Mereka berlomba-lomba meninggalkan Eropa. Mereka yakin bahwa jika berlayar ke satu arah, maka mereka akan kembali ke tempat semula. Selain itu, orang-orang Eropa terutama Protugis dan Spanyol yakin bahwa di luar Eropa ada Prestor John (kerajaan dan penduduknya beragama Kristen). Oleh karena itu, mereka berani berlayar jauh. Mereka yakin akan bertemu dengan orang-orang seagama.

            Pada awalnya, tujuan kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia hanya untuk membeli rempah-rempah dari para petani Indonesia. Namun, dengan semakin meningkatnya kebutuhan industri di Eropa akan rempah-rempah, mereka kemudian mengklaim daerah-daerah yang mereka kunjungi sebagai daerah kekuasaannya. Di tempat-tempat ini, bangsa Eropa memonopoli perdagangan rempah-rempah dan mengeruk kekayaan alam sebanyak mungkin. Dengan memonopoli perdagangan rempah-rempah, bangsa Eropa menjadi satu-satunya pembeli bahan-bahan ini. Akibatnya, harga bahan-bahan ini pun sangat ditentukan oleh mereka. Untuk memperoleh hak monopoli perdagangan ini, bangsa Eropa tidak jarang melakukan pemaksaan.  
            Penguasaan sering dilakukan terhadap para penguasa setempat melalui suatu perjanjian yang umumnya menguntungkan bangsa Eropa. Selain itu, mereka selalu turut campur dalam urusan politik suatu daerah. Bangsa Eropa tidak jarang mengadu domba berbagai kelompok masyarakat dan kemudian mendukung salah satunya. Dengan cara seperti ini, mereka dengan mudah dapat mempengaruhi penguasa untuk memberikan hak-hak istimewa dalam berdagang.
 
DAFTAR PUSTAKA
Aziz,Dra.Maliha dan Asril S.Pd,2006,Sejarah Indonesia III,Pekanbaru : Cendekia Insani.
Djaja,Wahjudi,2012,Sejarah Eropa,Penerbit : Ombak
Internet :
http : //serbasejarah.blogspot.com/2011/05/penjelajahan-samudra-bangsa-eropa.html