PERLAWANAN TERHADAP KOLONIALISME DI SULAWESI SELATAN


Zhila Tahta Arzyka/B/SI3
Tahun 1607, Belanda berhasil mendirikan sebuah kantor dagang di daerah Makassar, Maka dari hal tersebut membuat reaksi yang hebat dari pihak kerajaan Gowa di bawah masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, menurut ia Belanda tidak berhak untuk menjadi penguasa tunggal di bidang perdagangan dan akhirnya terjadilah perang pada tahun 1666. Arung Palaka yang berasal dari kerajaan Bone berhasil melepaskan diri dari kekuasaan Gowa dan menjalin kerjasama dengan kolonial Belanda dan akibatnya kerajaan Gowa harus menerima monopoli perdagangan Belanda. Pada tahun 1811 terjadinya perpindahan kekuasaan dari tangan Belanda ke tangan Inggris.
Akan negara Inggris tidaklah membawa arti yang penting bagi negara-negara kerajaan di Sulawesi Selatan. Pola penjajahan Inggris tetap sama dengan Belanda. Pertentangan-pertentangan yang sering terjadi antara negara yang satu dengan yang lainnya, sebagaimana halnya yang dilakukan oleh pemerintah kompeni Belanda, juga tetap digunakan oleh kompeni Inggris di dalam usahanya untuk mempertahankan dan memperluas kekuasaannya. Sebaliknya tidak semua kerajaan di Sulawasi Selatan dapat menerima Inggris sebagai penguasa baru di wilayahnya.
Kerajaan Bone adalah salah satu diantaranya. Arumpone menolak penyerahan wilayah kekuasaan Belanda kepada Inggris karena beranggapan bahwa wilayah kerajaan bukanlah daerah kekuasaan mutlak dari kompeni Belanda. Dia berangapan negaranya adalah kerajaan "merdeka". Sikap raja Bone ini disetujui sepenuhnya oleh Kerajaan Ternate dan Suppa. Sikap keras ketiga negara itu terhadap kompeni Inggris ditunjukkannya dengan menolak undangan untuk meghadiri upacara penandatanganan penyerahan kekuasaan dari kompeni Belanda kepada kompeni Inggris. Dengan demikian hubungan hubungan antara kerajaan Bone, Ternate, dan Suppa dengan kompeni Inggris dalam keadaan yang cukup tegang. Karena sikap ketiga negara itu tetap tidak berubah, maka kompeni Belanda melangkah dengan tindakan kekerasan dalam bentuk pertemuan diantara mereka, Gowa, dan Sidenreng, oleh karena keterikatan pada perjanjiannya tetap memihak kepada Inggris. Akan tetapi Bone, Teneta, dan Suppa berhasil memperoleh dukungan dari negara lainnya, seperti Sawitto, Alitta, dan Rappeng. Keadaan yang demikian berlangsung sampai datangnya kembali Belanda ke Sulawesi (Selatan) pada tahun 1816. (Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia IV, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984, hal 210).
Setelah itu, Belanda ingin melakukan perubahan terhadap perjanjian Bongayya. Keinginan mereka tersebut tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari para raja yang ada di Sulawesi, terutama Bone, Ternate, dan Suppa. Sikap dari ketiga kerajaan tersebut membuat penguasa kolonial Belanda mengirimkan ekspedisi militernya ke wilayah Suppa, dan Ternate. Belanda berusaha untuk menaklukkan negara-negara ini dengan kekerasan, pada tanggal 16 Juli 1824 pasukan Belanda, di bawah pimpinan De Stuers.
Ketika Raja La Patau dari Ternate mengetahui ketidak seimbangan kekuatannya dengan pasukan Belanda, maka ia mengundurkan diri ke daerah pedalaman yang lebih aman. Tahta kerajaan ia serahkan kepada pasukan seorang saudara perempuannya bernama Daeng Tanningsanga. Akhirnya dia bersedia menandatangani perjanjian perubahan, perjanjian Bongayya seperti yang dikehendaki oleh Belanda. Dan Ternate pun dikuasai Belanda. Bekas Raja La Patau kemudian mendapat pengampunan, bahkan diangkat kembali sebagai Arung Matoa.
Tanggal 4 Agustus 1824 pasukan Belanda yang dipimpin Letnan Laut Buys mendarat di Pare-Pare, yaitu kota pelabuhan yang terletak beberapa kilometer dari Suppa. Dalam pertempuran ini, pasukan Belanda memperoleh bantuan dari pasukan negara Sidenreng, tetapi tidak berhasil. Pasukan Suppa cukup kuat, dan tangguh untuk mempertahankan diri dari serangan pasukan gabungan Belanda Sidenreng. Dari segi geografis, Suppa hanyalah merupakan sebuah negara kecil. Tetapi Suppa melawan Belanda cukup tangguh dan menyulitkan posisi Belanda di Sulawesi Selatan. Oleh karena itu pihak Belanda mengirimkan sebuah pasukan bantuan untuk memperkuat pasukan ekspedisi yang telah dikirimkan.
23 Agustus 1824 sebuah kapal perang yang membawa 110 orang serdadu infanteri yang membawa serta 10 pucuk meriam tiba di pelabuhan Pare-Pare. Suppa kemudian dikepung oleh Gabungan pasukan Belanda dan Sidenreng yang berkekuatan kurang lebih 2000 orang, sedang Belanda hanya terdiri dari 70 orang saja. Tetapi usaha kali inipun gagal. Pasukan Sidenreng yang membantu Belanda mengundurkan diri, karena salah seorang anak dari pimpinannya menderita luka-luka berat.
Kerajaan Bone juga melanjutkan perlawanannya terhadap Belanda. Mereka menyerang pos-pos Belanda, menduduki kembali Ternate, dan mengangkut kembali raja yang telah dipecat oleh Belanda. Ketika itu pasukan-pasukan Bone yang berjumlah 3000 telah mendesak satu detasemen kecil pasukan Belanda yang berada di Pancana. Pasukan Belanda ini tentu saja akan dihancurkan oleh pasukan Bone. Pasukan Bone sangat kuat dan mampu melakukan penyerangan yang sangat membahayakan. Bone lawan yang cukup kuat bagi Belanda. Karena itu tidak mustahil jika Belanda akan melakukan pengiriman ekspedisi-ekspedisi militer besar-besaran untuk mengalahkan perlawanan yang dilakukan oleh Bone tersebut. Di lain pihak kerajaan Bone berusaha untuk menghadapi perluasan kekuasaan Belanda di Sulawesi Selatan, karena itu akan berarti membahayakan kemerdekaan kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan.
Bone menjadi penghalang utama dalam usaha perluasan kekuasaan Belanda di Sulawesi Selatan, hal ini disadari sepenuhnya oleh pihak pemerintah pusat Belanda di Batavia. Pada akhirnya Belanda mengirimkan pasukan ekspedisi yang berkekuatan besar yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Van Geen. Memperbesar kekuatan Belanda, dan menarik simpati dari sebanyak mungkin penguasa-penguasa setempat, untuk menghadapi perlawanan yang dilakukan oleh Kerajaan Bone merupakan tujuannya. 20 Januari 1825, Van Geen tiba di Makassar untuk menyiapkan pemberangkatan pasukan ekspedisinya dan melakukan penyerangan ke wilayah yang diduduki pasukan bone. Dalam persiapan ekspedisi ini ternyata Van Geen mengalami kesulitan karena disamping perlengkapan yang sangat terbatas, juga kesehatan dari sejumlah pasukannya sangat buruk. Kesulitan lainnya adalah adanya perbedaan pendapat antara Van Geen dengan pejabat Belanda lainnya, yaitu dengan Van Schelle dan Tobias, yang menjadi komisaris-komisaris Belanda di wilayah Makassar.
 Kedua komisaris Belanda di Makassar itu menghendaki agar pengiriman ekspedisi ke Ternate dan Suppa lebih didahulukan. Di lain pihak Van Geen pengiriman itu justru terlebih dahulu ke Bone, karena di antara ketiga kerajaan yang menentang Belanda itu, kerajaan yang terbesar dan terkuat. Mendahulukan penakhlukkan Kerajaan Bone akan lebih mempermudah penaklukkan dari kerajaan-kerajaan Suppa dan Ternate. Meskipun demikian, tetapi di dalam prakteknya Van Geen lebih mementingkan pengiriman ekspedisi ke Bone lebih didahulukan. Waktu itu pasukan-pasukan Bone telah bersiap untuk menghadapi penyerangan yang akan dilakukan oleh Belanda. Jalan yang menghubungkan Leong-Leong dengan semangi diawasi dengan ketat dengan membangun benteng-benteng pertahanan disana, yang dijaga oleh kurang lebih 600 orang. Dari sebelah utara pasukan Bone telah siap, apabila diperlukan untuk melakukan penyerangan.
Dalam perang ini pasukan Belanda berhasil mendesak pasukan Bone. Demikian pula pertahanan Bone di Bulukumba terpaksa ditinggalkan, dan berhasil diduduki oleh pasukan Belanda. Pertempuran terjadi pula ketika pasukan Bone yang berkedudukan di benteng-benteng Kajang dan Sinjai mendapat serangan dari Belanda. Semua benteng Kerajaan Bone akhirnya jatuh ketangan Belanda. Untuk menjaga benteng-benteng yang telah diduduki mereka, Belanda menggunakan tenaga bantuan yang diperoleh dari Gowa dan Maluku. Faktor yang memperlemah kekuatan Bone ialah diserahkan kedudukan raja Ternate kepada seorang raja wanita yang berpihak kepada Belanda. Dengan demikian Ternate dapat dijadikan sekutu Belanda.
Segeri juga melakukan perlawanan terhadap Belanda. Salah seorang pemimpin perlawanan yang terkenal, dan sangat disegani ialah La Sameggu Daeng Kalabbu. Tetapi pada akhirnya perlawanan ini pun berhasil dipatahkan oleh Belanda. Intinya adalah sudah terlihat jelas bahwa sepanjang usaha penanaman kekuasaannya di wilayah Sulawesi terutama Sulawesi bagian Selatan, Belanda telah menghadapi sekian banyak perlawanan, baik yang dilakukan secara besar-besaran, maupun kecil. Perlawanan ini tetap berlangsung sampai pada akhir ke-19, dan pada awal abad 20. Misalnya seperti apa yang dilakukan oleh La Sinrang dari Kerajaan Sawitto dan Pong Tiku di Tana Toraja.
Sekitar abad ke-18 hingga ke-20, ketika nasionalisme Indonesia mulai tumbuh. Juga ada peran kerajaan dalam perlawanan terhadap Belanda, seperti Bone, Gowa, Luwu, dan sebagainya. Pada awal abad ke-20 semua kerajaan di Sulawesi Selatan bangkit melawan usaha perang pasifikasi yang dilancarkan oleh Hindia Belanda. Perlawanan berakhir 1917. Pergerakan nasional yang berkembang di pulau Jawa pengaruhnya sampai pula ke wilayah Sulawesi Selatan. (Muhammad Abduh,  Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Sulawesi Selatan, Departemen Pendidikan Nasional, 1985).
Untuk lebih mengetahui raja-raja pada masa kolonialisme Belanda di Sulawesi Selatan pada waktu itu, saya telah mencari di beberapa sumber di dunia maya. Bahkan raja-raja yang tidak disebutkan juga telah sebagian saya dapat. Diantaranya adalah sebagai berikut :
  Arung Matowa

1. La Palewo to Palippu (±1474-1481)

2. La Obbi Settiriware (±1481-1486)

3. La Tenriumpu
To Langi (±1486-1491)

4. La Tadampare Puangrimaggalatung (±1491-1521)

5. La Tenri Pakado To Nampe (±1524-1535)

6. La Temmassonge (±1535-1538).

7. La Warani To Temmagiang (±1538-1547)

8. La Malagenni (±1547)

9. La Mappauli To Appamadeng (±1547-1564)

10. La Pakoko To Pa'bele' (±1564-1567)

11. La Mungkace To Uddamang (±1567-1607)

12. La Sangkuru Patau Mulajaji Arung Peneki Sultan Abdurahman (±1607-1610)

13. La Mappepulu To Appamole (±1612-1616)

14. La Samalewa To Appakiung (±1616-1621)

15. La Pakallongi To Alinrungi (±1621-1626)

16. To Mappassaungnge (±1627-1628)

17. La Pakallongi To Alinrungi (1628-1636),

18. La Tenrilai To Uddamang (1636-1639)

19. La Isigajang To Bunne (±1639-1643)

20. La Makkaraka To Patemmui (±1643-1648)

21. La Temmasonge (±1648-1651)

22. La Paramma To Rewo (±1651-1658)

23. La Tenri Lai To Sengngeng (±1658-1670)

24. La Palili To Malu' (±1670-1679)

25. La Pariusi Daeng Manyampa (±1679-1699)

26. La Tenri Sessu (±1699-1702)

27. La Mattone' (±1702-1703)

28. La Galigo To Sunnia (±1703-1712)

29. La Tenri Werung (±1712-1715)

30. La Salewangeng To Tenriruwa (±1715-1736)

31. La Maddukkelleng Daeng Simpuang Arung Peneki Arung Sengkang(±1736-1754)

32. La Mad'danaca (±1754-1755)

33. La Passaung (±1758-1761)

34. La Mappajung Puanna Salowo Ranreng Tuwa (1761-1767)

35. La Malliungeng (±1767-1770)

36. La Mallalengeng (±1795-1817)

37. La Manang (±1821-1825)

38. La Pa'dengngeng (±1839-1845)

39. La Pawellangi Pajumpero
e (±1854-1859)

40. La Cincing Akil Ali Datu Pammana Pilla Wajo (±1859-1885)

41. La Koro Arung Padali (±1885-1891)

42. La Passamula Datu Lompulle Ranreng Talotenreng (1892-1897)

43. Ishak Manggabarani Mangeppe (1900-1916)

44. A.Oddangpero Datu Larompong Arung Peneki(1926-1933)

45. A.Mangkona Datu Mario (1933-1949)

46. A. Sumangerukka Datu Pattojo Patola Wajo (1949)

47. A. Ninnong Datu Tempe Ranreng Tuwa Wajo (1949-1950)
 
DAFTAR PUSTAKA
Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia IV, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984
Muhammad Abduh,  Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Sulawesi Selatan, Departemen Pendidikan Nasional, 1985
Susunan Pemimpin Pra-Wajo dan Raja-Raja Wajo_Cermin.html

RUNTUHNYA HINDIA BELANDA


OLEH: LISAWATI/B/S13
            Kolonialisme barat didirikan melalui kekuatan-kekuatan angkatan laut dan pertahanan terakhir dari padanya terhadap Jepang adalah juga dilaut . Kekuatan-kekuatan darat dari berbagai negara di bawah jajahan negara-negara barat tidak besar dan memang diperkirakan tidak akan bertahan. Lautan akan menjadi operasi penting untuk babak pertama dari perperangan pasifik tersebut. Pada tanggal 7 Desember 1941, tentara Jepang secara mendadak mengadakan serangan terhadap pangkalan Angkatan Laut Amerika di Pearl Harbour, Hawai. Lima jam setelah peristiwa itu, Pemerintah Hindia Belanda mengumumkan perang kepada Jepang. Situasi pada tanggal      8 Desember 1941 adalah sebagai berikut: tidak saja Pearl Harbour di bom oleh Jepang dengan kehancuran sebagian besar pasifik Fleet dan angkatan udaranya, tetapi serangan-serangan juga terjadi di pulau Luzon (Filipina) di mana banyak pesawat terbang Amerika Serikat dihancurkan di lapangan terbang. Dua hari kemudian pada tanggal 10 Desember Cavite diserang dari udara di mana ternyata pertahanan udara Amerika Serikat sama sekali tidak berdaya dan tidak berfungsi dn sekali lagi pesawat-pesawat tersebut hancur dan menimbulkan kerugian-kerugian atas angkatan laut Amerika Serikat di Manila. Angkatan udara merupakan salah satu alat peperangan yang sam pentinnya seperti angkatan laut.(Onghokham, Runtuhnya Hidia Belanda,Hlm 220).".
Invasi Jepang ke Asia Tenggara mula-mula ditujukkan ke Hongkong. Walaupun Inggris mengadakan perlawanan, tetapi tidak berlangsung lama. Pada tanggal 25 Desember 1941, Hongkong resmi diduduki oleh Jepang. Penyerbuan selanjutnya ditujukkan terhadap Malaysia yang merupakan pusat pertahanan Inggris yang vital. Inggris mempertahankan Malaysia secara mati-matian, tetapi akhirnya berhasil dilumpuhkan pada bulan Februari 1942. serangan berikutnya dilancarkan ke Jepang ke wilayah Birma. Akhirnya Jepang berhasil menguasai Birma pada bulan Mei 1942.Daerah yang menjadi serangan berikutnya adalah Filipina. Tentara Jepang yang dipimpin oleh Jendral Masaharu Homma mendapat perlawanan yang hebat dari tentara Amerika Serikat dibawah komandan Jendral Douglas Mac Arthur. Namun, lambat laun pertempuran pun tidak seimbang, maka Presiden Rooselvelt memerintahkan Mac Arthur mengundurkan diri ke Australia. Sebelum meninggalkan Filipina, Mac Arthur berucap, "I shall return" (saya akan kembali).
Guna mengantisipasi serangan Jepang, negara-negara sekutu di Asia Tenggara setelah membentuk komando gabungan dengan nama Abdacom (American, British, Dutch, Australian Command). Komandan tertingginya dijabat oleh Marsekal Sir Archibald Wavell (Inggris), komandan angkatan laut adalah Laksamana Thomas C. Harth (Amerika), komandan angkatan darat adalah Letnan Jendral Hein Ter Poorten (Belanda), dan komandan angkatan udara adalahMarsekal Richard E,C. Pierce (Australia).
Markas besar Abdacom berada di Lembang (Jawa Barat), sedangkan markas besar Angkatan Lautnya di Surabaya. Untuk pertahanan di laut, sekutu membagi daerah perairan Asia Tenggara atas tiga bagian. Wilayah barat, dimulai dari Laut Cina Selatan, Laut Hindia, dan Singapura, merupakan tanggung jawab Inggris. Wilayah perairan Makasar terus ke timur menjadi tanggung jawab Amerika dan Australia, sedangkan Laut Jawa menjadi tanggung jawab Belanda.
Abdacom memiliki sejumlah kelemahan, yaitu:
Ø  Jumlah tentaranya tidak memadai dibandingkan dengan jumlah tentara Jepang.
Ø  Mereka tidak pernah mengadakan latihan bersama . sistem perang maupun sistem komandannya masing – masing berbeda. Sebaliknya, pihak Jepang memiliki tentara dalam jumlah besar. Mereka dibawah satu komando terlatih dan memiliki Bushido yang tinggi.
Dalam serangannya terhadap Sekutu di Laut Cina Selatan, kapal Inggris Prince of Wales dan Repulse berhasil ditenggelamkan oleh 50 pembom berani mati Jepang. Dan akhirnya setelah peristiwa itu Abdacom berantakan, komandan tertinggi yaitu Sir Archibald Wavell akhirnya terpaksa meninggalkan Indonesia karena sudah tidak bisa dipertahankan lagi dan meningkir ke India untuk mempertahankan India.
Dalam serangannya ke Indonesia, tentara Jepang memperoleh kemajuanyang sangat cepat. Secara gemilang, Jepang menduduki Tarakan pada tanggal 11 Januari 1942, Palembang pada tanggal 14 Januari, Manado pada tanggal 17 Januari, Balikpapan pada tanggal 22 Januari, Pontianak pada tanggal 22 Februari, dan Bali pada tanggal 26 Februari 1942.
Dalam upaya merebut pulau Jawa, Jepang membentuk Operasi Gurita. Gurita Barat dimulai dari Indo-Cina melalui Kalimantan Utara dengan sasaran Pulau Jawa, sedangkan Gurita Timur dimuai dari Filipina melalui selat Makasar menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur. Operasi Gurita Barat tidak mengalami kesulitan mendarat di Eretan (Indramayu) dan Banten, sedangkan Gurita Timur harus menghadapi Sekutu dalam pertempuran laut dekat Balikpapan (Kalimantan Timur). Juga di Laut Jawa (The Battle of the Java Sea) terutama diperairan antara Bawean, Tuban, dan Laut Rembang berlangsung pertempuran selama 7 jam pada tanggal 27 Februari1942.
Dalam rangka usaha menyerbu kota bandung, pada tanggal 1 Maret Jepang telah mendaratkan satu detasemen yang dipimpin oleh colonel Toshinori Shoji denga kekuatan 5.000 orang di eretan, sbelah barat Cirebon. Pada hari yang sama Kolonel Shoji telah berhasil menduduki Subang.Momentum itu mereka manfaatkan dengan terus menerobos ke lapangan terbang kalijati Subang, hanya 40 km dari Bandung. Setelah pertempuran singkat tapi hebat pasukan – pasukan Jepang merebut lapangan tersebut.
Keesokan harinya tentara Hindia Belanda berusaha merebut lapangan terbang di Subang kembali, tetapi ternyata mereka tidak berhasil.Serangan balasan ke dua atas Sudang dicoba pada tanggal 3 maret 1942 dan sekali lagi tentara Hindia Belanda dipukul mundur. Pada tanggal 4 Maret 1942 untuk terakhir kalinya tentara Hindia Belanda mengadakan serangan lagi dalam usaha untuk merebut Kalijati dan sekali lagi mengalami kegagalan dengan menderita ratusan korba.
Pada tanggal 5 Maret 1942 tentara jepang bergerak dari kalijati untuk menyerbu bandung dari arah utara. Mula – mula digempurnya pertahanan Ciater, sehingga Tentara Hindia Belanda mundur ke Lembang dan menjadikan kota tersebut sebagai pertahanan yang terakhir. Tetapi tempat ini pun tak berhasil dipertahankan sehingga pada tanggal 7 Maret 1942 petang hari dikuasi oleh tentara jepang.
Operasi kilat Detasemen Shoji itu telah mengakibatkan kritisnya posisi tentara KNIL dalam pertempuran di jawa barat, sehingga kapitulasi pasukan – pasukan yang dikonsentrasikan di sekitar Bandung dalam beberapa hari dapat menjadi kemungkinan yang serius. Pada tanggal 6 Maret 1942 keluarlah perintah dari panglima KNIL,Letnan Jenderal Ter Poorten kepada panglima di jawa Barat, mayor Jennderal J.J. Pesman tentang tidak dibolehkannya mengadakan pertempuran di bandung. Baik jenderal Ter Poorten maupun Gubernur Jenderal Tjarda Van Starkenborgh Stachouwer kedua – duanya berpendapat bahwa bandung pada saat itu telah penuh sesak dengan penduduk sipil, wanita dan anak – anak sehingga perlu dicegah pertempuran – pertempuran di kota itu.
Tak lama sesudah berhasil didudukinya posisi tentara KNIL di Lembang, maka pada tanggal 7 maret 1942 pada petang harinya pasukan – pasukan Belanda di sekitar bandung meminta penyerahan local. Kolonel Shoji menyampaikan usul penyerahan local dari pihak Belanda ini kepada Jenderal Imamura tetapi tuntutannya adalah penyerahan total daripada semua pasukan Serikat di jawa ( dan bagian Indonesia lainnya).
Jika pihak Belanda tidak mengindahkan ultimatum Jepang, maka kota bandung akan di bom dari udara. Jenderal Imamura pun mengajukan tuntutan lainnya agar Gubernur Jenderal belanda turut dalam perundingan di kalijati yang diadakan selambat – lambatnya pada hari berikutnya. Jika tuntutan itu dilanggar, pemboman atas kota bandung dari udara akan segera dilakukan. Akhirnya pihak belanda memenihi tuntutan jepang dan keesokan harinya, baik Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer maupun panglima tentara Hindia belanda serta beberapa pejabat tinggi militer dan seorang penterjemah berangka ke kalijati Subang. Di sana mereka kemudian berhadapan dengan letnan Jenderal Imamura yang datang dari Batavia ( Jakarta ). Hasil pertemuan antara kedua belah pihak adalah kapitulasi tanpa syarat Angkatan perang Hindia belanda kepada jepan.
            Tak pernah terbayangkan bahwa koloni yang dikuasai selama 350 tahun akan berakhir dengan tragis. Impian untuk hidup selamanya di tanah pilihan Tuhan akhirnya pupus sudah.Belanda harus merelakan tanah yang menjadi tulang punggung kerajaan Belanda berpindah tangan menjadi milik Jepang. Nyamannya hidup di bumi nusantara membuat Belanda buta terhadap perkembangan teknologi militer Jepang. Belanda tidak menyadari bahwa tanah jajahannya telah menjadi incaran bangsa lain untuk direbut. Hanya dengan mengandalkan KNIL, Belanda sangat percaya diri dengan berbagai ancaman terhadap Hindia Belanda. KNIL yang hanya mampu menindas dan melawan para pejuang lokal ternyata tak berdaya ketika menghadapi gempuran tentara Jepang.
            Keruntuhan hindia belanda pada 1940 – 1942 belanda jatuh ketika memasuki perang dunia kedua pada bulan Mei 1940, ketika tentara Jerman menyerbu dan melancatkan perang kilat. Setelah bertempur selama empat hari , tentara kerajaan belanda menyerah pada tanggal 15 Mei. Sehari sebelumnya, ratu dan pemerintah kerajaan belanda telah meninggalkan negerinya untuk mengungsi  ke London.secara tidak terduga hindia belanda harus berjuang sendirian. Serangan Jepang terhadap hindia belanda bukan suatu ancaman yang tidak berdasar. Sejumlah alasan menjadi faktor pendorong serbuan itu. Jepang tidak memiliki sumber daya alam yang memadai untuk menunjang kemajuan ekonomi dan industrinya sejak perencanaan restorasi meiji di abad ke 19. Oleh karena itu Jepang sangat bergantung pada pasokan dari negeri – negeri yang berlimpah sumber daya alam.
Faktor – faktornya runtuhnya Hindia Belanda adalah :
v  Perundingan yang Gagal
                Sebelum serbuan Jepang, pada bulan Febuari 1940 duta besar Jepang di Den haag mengajukan sebuah tuntutan kepada pihak Belanda. Pemintaan itu meliputi perdagangan Jepang dan Hindia Belanda harus di tingkatkan. Selain itu Jepang menghendaki minyak mentak dan bauksit, lebih banyak lagi warga dan Perusahaan Jepang yang diperolehkan bergerak di daerah jajahan itu dan pers Hindia Belanda harus dilarang untuk menerbitkan yang "Bersemangat Anti Jepang Pemerintah Belanda yang berada di pengungsian London menjawab tuntutan Jepang pada awal bulan Juni 1940. Pemerintah jajahan dapat memasak lebih banyak Bauksit, walau tidak sebanyak yang diminta oleh Jepang, tetapi tidak menjanjikan penambahan pengiriman minyak bumi, karena pemerintah Jepang belum membuat kesepakatan dengan perusahaan eksplorasi tambang itu sebelumnya. Tuntutan jepang lainnnya ditolak . namun , Jepang tidak menyerah perundingan itu berlangsung selama berbulan – bulan . Hindia Belanda berada di pihak yang sangat lemah karena negeri induk sedang dalam kedudukan musuh dan tidak ada jaminan yang passti dapat memberikan bantuan apa bila keadaan yang tidak di harapkan terjadi. Juga bantuan Inggris dan Amerika tidak dapat dipastikan. Perundingan itu menimbulkan kecemasan Amerika karena apabila tuntutan itu terjadi dipenuhi, maka kekuatan Jepang akan bertambah dan niat ekspansinya akan semangkin jelas terwujud. Namun kecemasan itu tidak terbukti karena gebernur jendral Hindia Belanda Tjarda Van Starkenborgh menolak seluruh tuntutan Jepang tersebut. Namun Jepang menanggapi keputusan tersebut dengan menyatakan perang.
v  Perang Hindia Belanda dan Jepang
         Sasaran utama serbuan Jepang di Hindia Belanda adalah pengeboran minyak di Tarakan, Balikpapan, dan Palembang. Gerakan maju itu di mungkinkan setelah pertahanan Hindia Belanda di Utara pulau Sulawesi berhasil di lumpuhkan padda tanggal 26 Desember 1941. Kehancuran instansi pengeboran minyak di Tarakan menjadi maslah besar untuk Jepang. Untuk memestikan agar tidakan itu tidak terjadi, dua orang perrwira Belanda dikirim ke Balikpapan dengan pesan peringatan , bahwa seluruh prajurit dan kalangan sipil akan dibunuh jika Jepang tidak memperoleh instansi pertambangan di kota itu dalam keadaan utuh. Sasaran selanjutnya adalah Palembang , sumber minyak mentah yang menghsilkan setengah produksi seluruh Hindia Belanda. Jepang beruaha mencegah sabotase dengan cara melancarkan serangan mendadak pasukan komando.
             Dengan jatuhnya Hindia Belanda , kemenangan kekaisaran Jepang semangkin sempurna. Rintangan malaya telah dihancurkan dan pintu gerbang menuju samudra Hindia telah terbuka . Armada sekutu di asia pasifik telah dihancurkan . dalam waktu tiga bulan saja Jepang telah menaklukan Asia Tenggara dan menguasai sumber daya alam yang begitu kaya di daerah selatan yang telah membuat mereka terjun kearena peperangan yang pada akhirnya membawa bencana bagi bangsa Jepang sendiri.
Bagi Belanda,kekalahan yang dideritanya membuat mereka kehilangan wilayah jajahan yang paling besar dan paling menguntungkan. Kerena itu, tidaklah mengherankan apabila dalam Pemeo orang Belanda masa itu terkenak ucapan :"Indie verloren,ramspoed geboren" yang berarti "Hindia Belanda Hilang, bencana pun datang". Di uabah menjadi kalimat lain sebagai berikut" Indie verloren,Indonesia geboren", atau " Hindia Belanda Hilang, Indonesia pun Lahir." Yang baru terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945 dan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia, yaitu setelah tiga setengah tahun pendudukan militer Jepang yang brutal. Denngan demikian berakhirlah masa penjajahan dalam sejarah bangsa Indonesia. (Nino Oktorino, Runtuhnya Hindia Belanda,Hlmn:221-222)".
DAFTAR PUSTAKA:
ü  Onghokham.1978.Runtuhnya Hindia Belanda.Jakarta:PT Gramedia.
ü  http://arif.rahmawan.web.id/2013/07/runtuhnya-hindia-belanda.html
ü  http://www.kumpulansejarah.com/2013/05/keruntuhan-hindia-belanda-1940-1942.html
ü  Pensa-sb.Info/Runtuhnya Hindia Belanda
ü  Oktarino,Nino.2013.Konflik Bersejarah – Runtuhnya Hindia Belanda.Jakarta:PT Elex Media Komputindo.