Rabu, 27 Desember 2017

SISTEM PERDAGANGAN PADA MASA KERAJAAN SIAK


MUTMAINAH/ SAT/ VA
 
Wilayah Kerajaan Siak terdiri dari wilayah daratan di pesisir timur Pulau Sumatera yang membentang dari perbatasan dengan Kerajaan Indragiri di selatan terus ke utara meliputi bagian hilir sungai Kampar, sungai Rokan, Asahan, Deli sampai Temiang yang berbatasan dengan Aceh. Wilayah daratan ini memiliki potensi ekonomi yang besar karena pada masa itu sudah dijumpai barang tambang berupa emas dan timah di Petapahan. Hutannya yang luas dan lebat menghasilkan kayu untuk keperluan perumahan, kapal, dan lainnya. Demikian pula hasil hutan lainnya seperti rotan, madu, lilin, gaharu, cula badak, gading gajah, amat banyak dihasilkan.

A.    Wilayah siak sebagai urat nadi perhubungan dan Perdagangan timah dengan Melaka
Diwilayah kerajaan Siak mengalir tiga sugai besar yaitu sungai Siak, sungai Kampar dan sungai Rokan, di tambah pula dengan sungai-sungai kecil lainnya. Ke semua sungai tersebut mempunyai nilai ekonomi yang tinggi bagi kehidupan masyarakat karena merupakan urat nadi perhubungan, baik untuk transportasi orang maupun mobalitas barang. Sungai tersebut bukan saja menjadi jalur perhubungan dalam wilayah Kerajaan Siak saja, akan tetapi juga merupakan jalan perhubungan orang dan komoditi dagang dari Minangkabau ke bandar pelabuhan yang ada di selat Melaka, demikian pula sebaliknya. Dengan ramainya lalu lintas orang dan perdagangan melalui sungai-sungai tersebut, maka sudah jelas akan meningkatkan penghasilan kerajaan dan masyarakatnya. Misalnya ada bea cukai, pancung alas, tapak lawang, sewa pelabuhan, bongkar muat, pergudangan dan lainnya akan memberikan sumber pendapatan kerajaan yang dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Selanjutnya, ramainya lalu lintas dan perdagangan menyebabkan tumbuhnya kampung-kampung sehingga berakibat cepatnya pertumbuhan penduduk. Perkara ini tentunya menjadi motivasi yang besar kepada para petani untuk bekerja meningkatkan usaha penambangan rakyat seperti timah untuk diperdagangkan. Menurut Hall bahwa gubernur Melaka segera mengirim utusan untuk minta monopoli timah yang baru di dapat di Siak (D.G.E Hall 1964:317). Pada masa itu, Bendahara Paduka Raja yang betindak atas nama Sultan Johor telah membuat perjanjian pada tarikh 6 April 1685 dengan Sahbandar Francois Van Der Beeke dan Letnan Jan Roosdom yang bertindak atas nama Gubernur Melaka Nicolasaas Schagen. Perjanjian tersebut berisikan hal-hal sebagai berikut :
"Sementara perdagangan di Siak tidak begitu penting karena tidak semua orang dapat ikut serta berdagang bahan pakaian seperti keadaan sebelumnya di mana para pembesar kerajaan mengambil kesempatan selagi raja masih masih belum dewasa memerintah kepada semua jajaran pemerintahannaya untuk mengizinkan kompeni melayari sungai Siak dan tidak di benarkan kepada bangsa lain. Dengan ketentuan :
1.      Tidak boleh membangun rumah atau loji di daratan dengan tidak membayar pajak
2.      Dapat membeli timah dan emas secara tunai
3.      Dikecualikan masuknya kapal-kapal kecil yang tidak lagi perlu membayar secara tahunan kepada Datuk Paduka Raja.
Sebaliknya, rakyat Johor bebas berlayar di sungai Siak membawa dan menjual peralatan makanan seperti garam, ikan asin, telor ikan, beras dan lain-lain dari Jawa seperti yang lazim dijajakan dan kompeni tidak boleh menghalanginya atau ikut menjual jenis barang-barang yang sama. Kapal-kapal kompeni hanya boleh membawa barang-barang untuk perbekalannya saja dan perahu-perahu penduduk dan negeri-negeri bawahan Johor boleh datang berkunjung ke kapal Kompeni".
Demikianlah dibuat dan disetujui di Riau di tempat kedudukan raja pada 6 April 1685. Disetujuai dan di tandatangani oleh Jan Pars (Netscher,1865:54).
Setelah perjanjian dibuat, Kompeni tetap mencari keterangan tentang apa apa yang dapat diusahakannya dalam perdagangan di sungai Siak. Kompeni mengadakan penyelidikan yang seksama mengenai perdagangan di sungai Siak karena adanya laporan dari pedagang pembantu yang bernama Casper Teemmer bahwa di Siak hanya 50 atau 60 pikul timah saja yang semula diperkirakan sebanyak 300 atau 400 pikul timah. Akibat dari laporan tersebut menjadikan pihak kompeni datang menyelidik keadaan di sungai Siak. Padahal sebenarnya perjanjian tersebut sangat menguntungkan kepada Kompeni karena berlakunya bebas bea cukai yang selam ini belum diperoleh Kompeni. Kerajaan Johor tidak hanya meliputi Semenanjung Melayu akan tetapi meliputi wilayah yang luas termasuk daerah Siak. Dengan terjaminnya perniagaan di sepanjang sungai Siak bermakna Kompeni boleh menguasai seluruh pedalaman Sumatera, sebagai realisasinya Kompeni mendirikan loji di Petapahan yang terletak jauh ke hulu sungai Siak. Pada masa selanjutnya kompeni menjumpai pula tambang-tambang timah baru di pantai timur Sumatera yang dikuasai oleh rakyat yang tidak tunduk kepada penguasa manapun. Dan untuk sampai ke tempat tambang timah itu harus melalui sungai Siak.
Dengan keadaan tersebut stapel berpandangan bahwa perjanjian tersebut sangat menguntungkan dan memperkuat posisi Belanda di Siak pada akhir abad ke-17 (stapel,1936:23).

B.     Hubungan perdagangan dengan kerajaan sekitar dan Pulau Bengkalis
Selanjutnya, Kerajaan Siak memiliki wilayah lautan dan pulau-pulau di sepanjang selat Melaka yang berbatasan dengan kerajaan Johor-Riau. Salah satunya adalah pulau Bengkalis yang merupakan bandar dagang yang ramai. Daerah ini merupakan pintu perdagangan bagi Siak yang membuka hubungan dagang Melaka, Singapura, dan Johor-Riau. Selain itu, daerah ini juga mempunyai komoditindagang penting yaitu hasil laut dan yang paling terkenal adalah ikan Terubuk dan telornya sehingga perairan Bengkalis dikenal oleh para pedagang Nusantar dan Internasional.
Potensi alam yang besar dengan berbagai komoditi yang laris di pasaran memberikan keuntungan ekonomi yang besar bagi Kerajaan Siak. Posisi tersebut dimanfaatkan oleh pihak kerajaan sehingga masyarakat Siak dapat meningkatkan kesejahteraannya. Sebab dengan kemampuan dan yang besar, kedaulatan kerajaan dapat dikembangkan. Tanpa ekonomi yang kuat tidak mungkin pentadbiran kerajaan berjalan dan tidak mungkin pula kerajaan di pelihara dan dikembangkan wilayah kekuasaanya. Lagi pula wilayaha kerajaan yang luas itu selalu memerlukan pengawasaan dan untuk mengawasi diperlukan pula angkatan perang yang besar. Ke semua itu memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Pada permulaan abad ke-18 Bengkalis yang menjadi bagian wilayah Kerajaan Siak sangat berperan penting dan besar dalam perdagangan di Selat Melaka. Letak bengkalis di bagian pesisir timur Sumatera berhampiran dengan selat Melaka. Pulau Bengkalis mempunya pelabuhan alam yang baik mendukung lancarnya arus masuk dan keluar bagi kapal-kapl niaga, baik kapal niaga Nusantara maupun kapal niaga asing. Kegiatan perdagangan di Bengkalis menjadi ramai karena disitu dilakukan transaksi perdagangan yang menawarkan komoditi dari berbagai berbagai daerah termasuk dari daerah siak dan dari daerah Minangkabau seperti gambir dan lada. Sebaliknya, keperluan masyarakat Siak dan Minangkabau diperoleh dari pedagang-pedagang Arab misalnya tekstil. Sedangkan garam dan beras diperoleh dari pedagang-pedagang Jawa dan pedagang Nusantara lainnya. Semua barang niaga tersebut kemudian dibawa oleh kapal-kapal dagang melayu dari semenanjung ke pelabuhan lain termasuk ke wilayah Siak.

C.     Komoditi hasil utama dan jenis barang larangan sultan
Semakin ramai transaksi perdagangan semakin banyak keuntungan diperoleh rakyat dan secara otomatis kerajaan siak akan memperolah keuntungan. Komoditi perdagangan di wilayah siak adalah :
1.      Emas dan biji timah yang merupakan hasil dari Petapahan
2.      Petapahan ini mengahasilkan emas antara 4-5 ribu tahil (250-312 kg) setiap tahun.
3.      Ikan Terubuk dan telor ikannya
Ikan Terubuk ini banyak terdapat di perairan Bengkalis dan bukit batu. Jumlah ikan terubuk pada zaman lampau sangat banyak sehingga perdagangan ikan dan telor terubuk sangat laku dan penangkapan ikan tersebut melibatkan banyak nelayan yang berada di sekitar perairan itu.
1.        Hasil hutan
Hasil hutan adalha produk hutan yang luas meliputi seluruh wilayh karajaan berupa Kayu, rotan, madu, kapur barus, gading gadjah dan cula badak.
2.        Hasil pertanian
Di beberapa daerah sepanjang aliran sungai siak, rakyat menanm berbagi jenis tanaman untuk perdagangan misalnya sirih, pinang dan gambir. Ketiga jenis tanaman ini laku keras di pasran luar yang dipergunakan sebagia bahan baku pewarna.
Dalam Nota Omtrent Het Rijk Van Siak bahwa penghasilan utama yang diterima sultan adalah cukai ekspor-impor di sepanjang aliran sungai di kerajaannya. Misalnya pajak atas ikan Terbuk, cukai pada orang asing yang lewat. Barang larangan raja adalah komoditi yang merupakan hak milik raja, rakyat yang mengumpulkan barang tersebut harus menyerahkan kepada raja sebagai upeti. Misalnya, gading gadjah, cula badak, geliga, cula tupai, taring napoh, dan musang cabu. Kemudian memberikan imbalan atas jasa masyarakat mengumpulkan barang-barang tersebut.

D.    Cara taransaksi barang larangan kepada sultan di Kerajaan Siak
1.        Gading Gajah
Setiap gajah jantan yang ditemukan, salah satu gadingnya harus dierahkan kepada sultan semetara gading yang lainnya menjadi hak penemunya. Apabila sultan mengehndaki gading yang kedua, maka sultan harus membayar kepada penemu sesuai dengan harga pasar. Harga gading gajah tidak sama sesuai dengan sesuai dengan besar atau kecilnya gading. Jika sepasang gading memiliki bobot 1 pikul, maka dibayar dengan harga  $ 250. Jika berat gading tidak melebihi setengah pikul maka dibayar $ 150 dan bagi gading yang berukuran kecil hanya dibayar $ 1 untuk perkati.
2.        Cula badak
Cula badak yang ditemukan harus dipersembahkan kepada sultan dan penemunya akan dapat penggantinya. Cula badak merupakan obat yang sangat manjur terutama untuk penyembuhan luka-luka dan bekas gigitan ular. Sebuah cula badak bisa bernilai antara $ 22- $ 60. Yang paling langka dalah cula yang berwarna putih dimana harganya mencapai $ 100 perpotngnya.
3.        Geliga
Geliga adalah sejenis batu permata yang halus yang terdapat dalam tubuh beberapa ekor hewan seperti beruang, kera, ular, dan babi hutan. Geliga yang ada di Siak termasuk jenis larangan sultan dan ini banyak terdapat di Mandau hulu. Biasanya suku Sakailah yang selalu mengumpulkan jenis bebatuan ini. Sebagian diserahkan kepada sultan sebagai pajak dan yang lainnya diserahkan kepada sultan sebagi serahan barang larangan. Harga geliga bisa mencapai $ 40- $600 sesuai dengan besar kecilnya. Dan diyakini memiliki kekuatan gaib untuk melindungi dada dan tubuh badan.
4.        Benda lain
Benda lain yang harus diserahkan kepada sultan adalah cula tupai, musang cabu yaitu sejenis musang berwarna putih.

E.     Perdagangan masa pemerintahan Sultan Siak X dan IX
Pada masa pemerintahan Sultan Siak X Sultan Assaidis Syarif Kasim 1 Abdil Jalil Syaifuddin 1864-1889, salah satu keberhasilan beliau yang menonjol adalah dalam upaya peningkatan perdagangan dalam dan luar negeri seperi membuat perkebunan getah, merica dan lada, serta menggali hasil hutan sebanyak mungkin  dan meningkatkan perdagangan antar negeri.
Di masa sultan XI Sultan Syarif Hasyim investasi keluar negeri digalakkkan seperti membuat rumah sewa, pertokoan, di Singapore dan Medan serta kerjasama investasi dengan luar negeri dikembangkan seperti pembangunan hotel di Singapore, pembangunan kebun karet bersama dengan Jepon di Balai Kaynag. Siak dan di Lubuk Ampo serta perkebunan kelapa sawit di Okura. Di samping itu kerajaan juga membuat usaha kebun sagu di daerah Merbau dan kebun durian di setiap wilayah kerajaan.

DAFTAR ISI
Amir lutfi.1983.unsur islam dalam sistem peradilan kesultanan siak.pekanbaru.lpp iain suska

Nizami jamil dkk.2010.sejarah kerajaan siak.pekanbaru.sukabina

Amad, A. A., (1979), Sulalatus Salatin, Dewan Bahasa dan Pustaka.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar