Rabu, 27 Desember 2017

Ekonomi Selandia Baru

Amirul Syafiq/16b/sao

Selandia Baru termasuk dalam negara maju dengan tingkat pertumbuhan ekonomi menyaingi Eropa Selatan dalam beberapa hal, Selandia Baru termasuk dalam salah satu negara terbaik misalnya pada Indeks Pembangunan Manusia yang menempatkan Selandia Baru pada urutan ketiga. Ekspor merupakan andalan utama perekonomian negara ini sehingga dampak perekonomian dunia akan berpengaruh langsung pada kondisi ekonomi negara ini.
Selandia Baru memiliki sebuah ekonomi pasar yang modern, makmur, dan maju dengan taksiran produk domestik bruto (PDB) berdasarkan keseimbangan kemampuan berbelanja (KKB) per kapita sebesar US$ 28.250. Satuan mata uang Selandia Baru adalah Dollar Selandia Baru, secara informal dikenal sebagai "dollar Kiwi"; mata uang ini juga beredar di Kepulauan Cook (lihatlah Dollar Kepulauan Cook), Niue, Tokelau, dan Kepulauan Pitcairn. Selandia Baru menempati peringkat ke-5 Indeks Pembangunan Manusia tahun 2011, ke-4 dalam Indeks Kebebasan Ekonomi The Heritage Foundation tahun 2012, dan ke-13 dalam Indeks Inovasi Global INSEAD tahun 2012 .
Berdasarkan sejarahnya, industri-industri ekstraktif telah sangat berkontribusi bagi ekonomi Selandia Baru, berfokus pada perburuan anjing laut, penangkapan paus, pemanenan lenan liar, pendulangan emas, pengumpulan getah kauri, dan damar asli. Dengan dikembangkannya kapal laut berpembeku pada dasawarsa 1880-an daging, dan hasil-hasil peternakan lainnya diekspor ke Britania, sebuah perdagangan yang menjadi basis bagi pertumbuhan ekonomi yang kuat di Selandia Baru. Permintaan yang besar akan hasil-hasil pertanian dari Britania Raya, dan Amerika Serikat telah membantu warga Selandia Baru untuk memperoleh standar kehidupan yang lebih tinggi daripada Australia, dan Eropa Barat pada dasawarsa 1950-an, dan 1960-an. Pada tahun 1973 pasar ekspor Selandia Baru mengalami penurunan ketika Britania Raya menggabungi Komunitas Eropa dan faktor-faktor pemberat lainnya, seperti krisis minyak 1973 dan krisis energi 1979, mengarah pada melesunya ekonomi Selandia Baru. Standar kehidupan di Selandia Baru mengalami kejatuhan menjadi di bawah Australia, dan Eropa Barat, dan pada tahun 1982 Selandia Baru memiliki pendapatan per kapita yang paling rendah di antara negara-negara maju yang disurvey oleh Bank Dunia. Sejak tahun 1984, pemerintah-pemerintah penerus di Selandia Baru berurusan dengan restrukturisasi ekonomi makro (yang pada mulanya dikenal sebagai Rogernomics dan kemudian berubah menjadi Ruthanasia), secara cepat mengubah Selandia Baru dari ekonomi yang sangat proteksionistis menjadi ekonomi pasar bebas yang sangat liberal.
Angka pengangguran mengalami puncaknya di atas 10 persen pada tahun 1991, dan 1992, setelah malapetaka pasar saham 1987, tetapi sebenarnya jatuh ke angka terendah sebesar 3,4 persen pada tahun 2007 (peringkat ke-5 dari 27 negara OECD yang dibandingkan). Bagaimanapun, krisis finansial global yang berdampak besar bagi Selandia Baru, dengan penyusutan PDB selama lima triwulan berturut-turut, resesi terpanjang dalam 30 tahun terakhir, dan angka pengangguran naik kembali menjadi 7% pada akhir tahun 2009. Pada bulan Mei 2012, laju pengangguran umum adalah pada kisaran 6,7%; sedangkan laju pengangguran untuk mereka yang berusia 15 sampai 21 tahun adalah sebesar 13,6%. Selandia Baru mengalami serangkaian "emigrasi sumber daya kecerdasan" sejak dasawarsa 1970-an yang masih berlanjut hingga kini. Hampir seperempat pekerja sangat terampil memilih hidup di seberang lautan, terutama di Australia, dan Britania, menempati proporsi tertinggi di antara negara-negara maju. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, terjadi "imigrasi sumber daya kecerdasan" yang membawa para profesional terdidik dari negara-negara Eropa, dan negara-negara berkembang.
Perdagangan
Selandia Baru sangat bergantung kepada perdagangan internasional, khususnya hasil-hasil pertanian. Bilangan ekspornya adalah 24 persen dari produksinya, membuat Selandia Baru rentan terhadap harga-harga komoditas internasional, dan resesi global. Industri-industri ekspor pentingnya adalah pertanian, hortikultura, perikanan, kehutanan, dan pertambangan, yang menyumbang setengah ekspor negara ini. Mitra ekspor utamanya adalah Australia, Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Britania Raya. Pada tanggal 7 April 2008, Selandia Baru, dan Cina menandatangani Perjanjian Perdagangan Bebas Selandia Baru-Cina, perjanjian pertama yang ditandatangani Cina dengan negara maju. Sektor jasa adalah sektor terbesar dalam ekonomi negara ini, diikuti oleh manufaktur, dan konstruksi, dan kemudian perkebunan, dan ekstraksi bahan mentah. Pariwisata memainkan peran signifikan dalam ekonomi Selandia Baru, menyumbang US$ 15,0 miliar bagi keseluruhan PDB Selandia Baru, dan mendukung 9,6 persen seluruh tenaga kerja pada tahun 2010. International visitors to New Zealand increased by 3.1 percent in the year to October 2010 dan diharapkan mengalami kenaikan pada laju 2,5 persen per tahun sampai tahun 2015.
Wol pernah menjadi ekspor pertanian utama Selandia Baru pada akhir abad ke-19. Bahkan pada dasawarsa 1960-an, ia memasok lebih dari sepertiga total perolehan ekspor, tetapi sejak saat itu harganya terus menurun dibandingkan komoditas-komoditas lainnya dan wol tidak lagi menguntungkan bagi banyak petani. Sebaliknya, hasil peternakan, dan susu meningkat, dengan banyaknya sapi perah bertambah menjadi dua kali lipat antara tahun 1990 sampai 2007, menjadi penyumbang terbesar ekspor Selandia Baru. Sejak tahun itu sampai bulan Juni 2009, hasil susu mencapai 21 persen (US$ 9,1 miliar) dari total ekspor, dan perusahaan terbesar di negara ini, Fonterra, memegang kendali hampir sepertiga perdagangan susu internasional. Ekspor pertanian lainnya pada tahun 2009 adalah daging sebesar 13,2 persen, wol sebesar 6,3 persen, buah-buahan sebesar 3,5 persen, dan perikanan sebesar 3,3 persen. Industri anggur Selandia Baru telah mengikuti tren serupa susu, banyaknya kebun anggur bertambah menjadi dua kali lipat pada periode yang sama, mengambil alih ekspor wol untuk kali pertama pada tahun 2007.
Jasa
Sekitar tiga dari setiap empat pekerja Selandia Baru bekerja di industri jasa. Secara tradisional, sektor transportasi dan pemerintah telah menjadi penyerap tenaga kerja utama. Namun, industri pariwisata -termasuk restoran dan makanan lainnya- juga telah menyediakan banyak lapangan kerja.
Manufaktur
Sekitar 19 persen pekerja Selandia Baru bergerak di bidang manufaktur. Ekspor utama Selandia Baru berasal dari peternakan -wol, daging, mentega, keju, serta jangat dan kulit. Banyak orang mengolah produk-produk pertanian di pabrik-pabrik susu, pabrik pengalengan, pabrik bir, dan pabrik pendinginan daging.
Perkayuan merupakan industri penting dimana penebangan dilakukan di hutan. Di Kaingaroa di Pulau Utara, pabrik menggunakan kayu dari hutan pinus yang ditanam untuk membuat bubur untuk kertas koran, dan pabrik lainnya membuat berbagai macam kertas.
Sebagian besar mesin-mesin berat Selandia Baru harus diimpor. Tapi barang wol, karpet, pakaian, sepatu, furnitur, peralatan listrik, dan perangkat lunak komputer diproduksi di sini. Impor minyak bumi disuling di kilang minyak di Whangarei. Pemurnian aluminium di Bluff menggunakan pembangkit listrik tenaga air untuk memurnikan bijih yang diimpor dari Australia.
Pertanian dan Perikanan
Peternakan adalah dasar dari perekonomian Selandia Baru. Selandia Baru adalah negara agraris. Hanya sekitar 7 persen dari pekerjanya yang benar-benar terlibat dalam pertanian. Tapi banyak lainnya terlibat dalam pengolahan dan perdagangan produk pertanian. Saat ini, semakin banyak orang yang bekerja di industri jasa yang terus tumbuh, termasuk pariwisata.
Pertanian dan perkebunan sangatlah penting dalam kegiatan perekonomian Selandia Baru, akan tetapi kegiatan agrikultur ini tidak mendapat subsidi dari pemerintah karena perubahan sistem dan peraturan perekonomian pada tahun 1980-an. Selain itu, ikan dan hasil laut lainnya merupakan salah satu hasil ekspor Selandia Baru meskipun hasil dari sektor ini tidak terlalu mempengaruhi perkembangan perekonomian negara. Hal yang paling penting dalam kegiatan perekonomian dan merupakan pemberi kontribusi paling besar bagi berkembangnya perekonomian Selandia Baru adalah bidang layanan jasa, layanan jasa ini sangat berperan dalam peningkatan GDP dan pengurangan tingkat pengangguran di negara ini. Layanan jasa ini mencakup bidang pariwisata, transportasi, pendidikan, kesehatan, konsultan bisnis, dan juga dalam bidang perbankan. Pariwisata merupakan salah satu komponen penting dalam bidang pelayanan jasa ini, 10 persen dari pekerjaan yang ada di Selandia Baru ialah di bidang industri pariwisata.
Negara ini memiliki lebih dari 30 juta domba dan hampir 10 juta sapi. Padang penggembalaan dibudidayakan di sebagian besar peternakan. Ada juga banyak peternakan sapi, terutama di Waikato Valley, sekitar New Plymouth, dan sebelah timur laut Wellington; ada peningkatan jumlah peternakan sapi di bagian yang lebih kering di Pulau Selatan, sebelumnya disediakan untuk domba. Di padang rumput yang lebih tinggi di Pulau Selatan, peternakan domba besar disebut run. Peranakan utama domba di run ini adalah merino, yang menghasilkan wol halus. Sapi potong diternak di banyak bagian negara.
Di dataran rendah beberapa pertanian membudidayakan tanaman seperti gandum, barley, dan kentang. Dataran Canterbury adalah daerah pertanian gandum terkemuka. Hop tumbuh di dekat Nelson di Pulau Selatan. Kebun apel Selandia Baru menghasilkan cukup apel untuk pasar ekspor yang besar. Buah-buahan lainnya yang dibudidayakan antara lain pir, persik, aprikot, plum, ceri, dan beberapa jenis buah lainnya. Buah jeruk juga tumbuh di utara jauh. Perkebunan anggur yang meningkat jumlahnya menghasilkan anggur berkualitas tinggi. Di dekat kota-kota besar ada perkebunan sayur komersial.
Sejak tahun 1970-an, perikanan telah tumbuh menjadi industri besar, menyumbang sekitar 5,6 persen dari pendapatan ekspor. Sejak tahun 1992, banyak wilayah tangkapan Selandia Baru telah diberikan kepada suku Maori. Mereka kini menguasai atau terlibat dalam hampir sepertiga dari perikanan komersial Selandia Baru. Budidaya ikan (aquaculture) telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir, dengan peternakan kerang dan tiram meningkat di sepanjang pantai.
Pertambangan
Batubara Selandia Baru digunakan untuk menghasilkan uap, membuat gas, menyediakan bahan bakar untuk rumah dan pabrik-pabrik, serta menghasilkan listrik. Pasir dan kerikil, yang digunakan untuk pembangunan jalan dan konstruksi beton, menempati posisi kedua di batubara dalam hal nilai. Kapur digunakan untuk membuat pupuk dan semen. Di selatan Auckland, baja dibuat dari pasir besi terdekat (semacam pasir yang kaya bijih besi).
Hasil tambangnya tidak besar, namun kaya dengan sumber alam hutan. Industrinya terutama terdiri dari pengolahan produk pertanian, hutan dan peternakan. Hasil-hasil ini kemudian diekspor. Industrialisasi pertanian di Selandia Baru sudah terealisasi. Komoditi pertanian terutama adalah gandum dan buah-buahan. Bahan pangan tak swasembada, perlu diimpor dari Australia. Usaha peternakannya yang sangat maju merupakan dasar perekonomian. Produk susu dan daging adalah produk ekspor yang paling utama. Volume ekspor bulu domba Selandia Baru menempati urutan pertama di dunia, dengan mencapai 25 persen. Selandia Baru juga kaya dengan hasil perikanan, dan merupakan zona ekonomi khusus nomor empat di dunia. Lingkungannya segar, iklimnya nyaman, pemandangannya indah, dan obyek pariwisatanya tersebar di seluruh negeri.
Transportasi
Penumpang dan barang bergerak di dalam negeri dengan sistem transportasi modern. Kapal bergerak di antara pelabuhan utama, dan feri berjalan melintasi Selat Cook. Jalur kereta api dan jalan raya beraspal menghubungkan kota-kota utama dan kota-kota kecil di kedua pulau. Air New Zealand melayani penerbangan di dalam negeri dan ke beberapa negara di luar negeri di sekitar Samudera Pasifik. Sejumlah maskapai asing juga beroperasi di Selandia Baru.
Komunikasi
Selandia Baru memiliki jaringan telepon, telegraf, dan radio modern yang menjangkau semua bagian negara yang berpenghuni. Kabel telepon internasional, radio-telepon, dan komunikasi satelit menghubungkan Selandia Baru dengan Australia, Amerika Utara, dan seluruh dunia. Ada sekitar sembilan stasiun televisi dan 418 stasiun radio. Ada lebih dari 3 juta pengguna internet. Kota-kota besar memiliki surat kabar harian mereka sendiri. Di antara yang paling banyak dibaca adalah New Zealand Herald, The Press, dan Sunday Star Times.
Infrastruktur
Pada tahun 2008, minyak, gas, dan batu bara memasok 69 persen energi Selandia Baru, dan 31 persen sisanya dihasilkan dari energi terbarukan, khususnya tenaga air dan panas bumi. Jejaring transportasi di Selandia Baru meliputi 93.805 kilometer jalan, senilai 23 miliar dollar, dan 4.128 kilometer jalur rel kereta api. Mayoritas kota kecil, dan kota besar terhubung oleh angkutan bus, meskipun mobil pribadi adalah modus transportasi terbesar. Kereta api di Selandia Baru diswastakan pada tahun 1993, kemudian dibeli kembali oleh pemerintah pada tahun 2004, dan kini masih menjadi badan usaha milik negara. Kereta api beroperasi melintasi negara ini, meskipun sebagian besarnya mengangkut barang dibanding penumpang. Sebagian besar pengunjung dari luar negeri tiba melalui jalur udara dan Selandia Baru memiliki tujuh bandar udara internasional, meskipun sejak bulan Februari 2011 sampai sekarang hanya Bandar Udara Internasional Auckland dan Christchurch yang berhubungan langsung dengan negara lain selain daripada Australia maupun Fiji. Kantor Pos Selandia Baru memonopoli telekomunikasi sampai tahun 1989 ketika Telecom New Zealand didirikan, mulanya sebagai badan usaha milik negara, dan kemudian diswastakan pada tahun 1990. Telecom masih memiliki mayoritas infrastruktur telekomunikasi, tetapi persaingan dari penyedia lainnya bertambah hebat. Uni Telekomunikasi Internasional PBB menempatkan Selandia Baru pada peringkat ke-12 dalam pembangunan infrastruktur informasi, dan komunikasi, naik empat tingkat antara tahun 2008 sampai 2010.
Target ekonomi pemerintah saat ini terpusat pada upaya untuk mendapatkan perjanjian perdagangan bebas dan pembangunan "pengetahuan ekonomi". Di tahun 2004, pemerintah Selandia Baru mulai mendiskusikan perjanjian perdagangan bebas dengan China. Selain itu, tantangan yang dihadapi oleh Selandia Baru adalah defisit akun yang mencapai 8,2 % dari GDP, lambatnya perkembangan di sektor ekspor non-komoditas, dan perkembangan produktivitas buruh.
Daftar Pustaka:
Asril, M.Pd, 2017, Bahan Ajar Sejarah Australia dan Ocenia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar