Halaman

PERLAWANAN TERHADAP KOLONIALISME DI SULAWESI SELATAN


Zhila Tahta Arzyka/B/SI3
Tahun 1607, Belanda berhasil mendirikan sebuah kantor dagang di daerah Makassar, Maka dari hal tersebut membuat reaksi yang hebat dari pihak kerajaan Gowa di bawah masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, menurut ia Belanda tidak berhak untuk menjadi penguasa tunggal di bidang perdagangan dan akhirnya terjadilah perang pada tahun 1666. Arung Palaka yang berasal dari kerajaan Bone berhasil melepaskan diri dari kekuasaan Gowa dan menjalin kerjasama dengan kolonial Belanda dan akibatnya kerajaan Gowa harus menerima monopoli perdagangan Belanda. Pada tahun 1811 terjadinya perpindahan kekuasaan dari tangan Belanda ke tangan Inggris.
Akan negara Inggris tidaklah membawa arti yang penting bagi negara-negara kerajaan di Sulawesi Selatan. Pola penjajahan Inggris tetap sama dengan Belanda. Pertentangan-pertentangan yang sering terjadi antara negara yang satu dengan yang lainnya, sebagaimana halnya yang dilakukan oleh pemerintah kompeni Belanda, juga tetap digunakan oleh kompeni Inggris di dalam usahanya untuk mempertahankan dan memperluas kekuasaannya. Sebaliknya tidak semua kerajaan di Sulawasi Selatan dapat menerima Inggris sebagai penguasa baru di wilayahnya.
Kerajaan Bone adalah salah satu diantaranya. Arumpone menolak penyerahan wilayah kekuasaan Belanda kepada Inggris karena beranggapan bahwa wilayah kerajaan bukanlah daerah kekuasaan mutlak dari kompeni Belanda. Dia berangapan negaranya adalah kerajaan "merdeka". Sikap raja Bone ini disetujui sepenuhnya oleh Kerajaan Ternate dan Suppa. Sikap keras ketiga negara itu terhadap kompeni Inggris ditunjukkannya dengan menolak undangan untuk meghadiri upacara penandatanganan penyerahan kekuasaan dari kompeni Belanda kepada kompeni Inggris. Dengan demikian hubungan hubungan antara kerajaan Bone, Ternate, dan Suppa dengan kompeni Inggris dalam keadaan yang cukup tegang. Karena sikap ketiga negara itu tetap tidak berubah, maka kompeni Belanda melangkah dengan tindakan kekerasan dalam bentuk pertemuan diantara mereka, Gowa, dan Sidenreng, oleh karena keterikatan pada perjanjiannya tetap memihak kepada Inggris. Akan tetapi Bone, Teneta, dan Suppa berhasil memperoleh dukungan dari negara lainnya, seperti Sawitto, Alitta, dan Rappeng. Keadaan yang demikian berlangsung sampai datangnya kembali Belanda ke Sulawesi (Selatan) pada tahun 1816. (Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia IV, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984, hal 210).
Setelah itu, Belanda ingin melakukan perubahan terhadap perjanjian Bongayya. Keinginan mereka tersebut tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari para raja yang ada di Sulawesi, terutama Bone, Ternate, dan Suppa. Sikap dari ketiga kerajaan tersebut membuat penguasa kolonial Belanda mengirimkan ekspedisi militernya ke wilayah Suppa, dan Ternate. Belanda berusaha untuk menaklukkan negara-negara ini dengan kekerasan, pada tanggal 16 Juli 1824 pasukan Belanda, di bawah pimpinan De Stuers.
Ketika Raja La Patau dari Ternate mengetahui ketidak seimbangan kekuatannya dengan pasukan Belanda, maka ia mengundurkan diri ke daerah pedalaman yang lebih aman. Tahta kerajaan ia serahkan kepada pasukan seorang saudara perempuannya bernama Daeng Tanningsanga. Akhirnya dia bersedia menandatangani perjanjian perubahan, perjanjian Bongayya seperti yang dikehendaki oleh Belanda. Dan Ternate pun dikuasai Belanda. Bekas Raja La Patau kemudian mendapat pengampunan, bahkan diangkat kembali sebagai Arung Matoa.
Tanggal 4 Agustus 1824 pasukan Belanda yang dipimpin Letnan Laut Buys mendarat di Pare-Pare, yaitu kota pelabuhan yang terletak beberapa kilometer dari Suppa. Dalam pertempuran ini, pasukan Belanda memperoleh bantuan dari pasukan negara Sidenreng, tetapi tidak berhasil. Pasukan Suppa cukup kuat, dan tangguh untuk mempertahankan diri dari serangan pasukan gabungan Belanda Sidenreng. Dari segi geografis, Suppa hanyalah merupakan sebuah negara kecil. Tetapi Suppa melawan Belanda cukup tangguh dan menyulitkan posisi Belanda di Sulawesi Selatan. Oleh karena itu pihak Belanda mengirimkan sebuah pasukan bantuan untuk memperkuat pasukan ekspedisi yang telah dikirimkan.
23 Agustus 1824 sebuah kapal perang yang membawa 110 orang serdadu infanteri yang membawa serta 10 pucuk meriam tiba di pelabuhan Pare-Pare. Suppa kemudian dikepung oleh Gabungan pasukan Belanda dan Sidenreng yang berkekuatan kurang lebih 2000 orang, sedang Belanda hanya terdiri dari 70 orang saja. Tetapi usaha kali inipun gagal. Pasukan Sidenreng yang membantu Belanda mengundurkan diri, karena salah seorang anak dari pimpinannya menderita luka-luka berat.
Kerajaan Bone juga melanjutkan perlawanannya terhadap Belanda. Mereka menyerang pos-pos Belanda, menduduki kembali Ternate, dan mengangkut kembali raja yang telah dipecat oleh Belanda. Ketika itu pasukan-pasukan Bone yang berjumlah 3000 telah mendesak satu detasemen kecil pasukan Belanda yang berada di Pancana. Pasukan Belanda ini tentu saja akan dihancurkan oleh pasukan Bone. Pasukan Bone sangat kuat dan mampu melakukan penyerangan yang sangat membahayakan. Bone lawan yang cukup kuat bagi Belanda. Karena itu tidak mustahil jika Belanda akan melakukan pengiriman ekspedisi-ekspedisi militer besar-besaran untuk mengalahkan perlawanan yang dilakukan oleh Bone tersebut. Di lain pihak kerajaan Bone berusaha untuk menghadapi perluasan kekuasaan Belanda di Sulawesi Selatan, karena itu akan berarti membahayakan kemerdekaan kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan.
Bone menjadi penghalang utama dalam usaha perluasan kekuasaan Belanda di Sulawesi Selatan, hal ini disadari sepenuhnya oleh pihak pemerintah pusat Belanda di Batavia. Pada akhirnya Belanda mengirimkan pasukan ekspedisi yang berkekuatan besar yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Van Geen. Memperbesar kekuatan Belanda, dan menarik simpati dari sebanyak mungkin penguasa-penguasa setempat, untuk menghadapi perlawanan yang dilakukan oleh Kerajaan Bone merupakan tujuannya. 20 Januari 1825, Van Geen tiba di Makassar untuk menyiapkan pemberangkatan pasukan ekspedisinya dan melakukan penyerangan ke wilayah yang diduduki pasukan bone. Dalam persiapan ekspedisi ini ternyata Van Geen mengalami kesulitan karena disamping perlengkapan yang sangat terbatas, juga kesehatan dari sejumlah pasukannya sangat buruk. Kesulitan lainnya adalah adanya perbedaan pendapat antara Van Geen dengan pejabat Belanda lainnya, yaitu dengan Van Schelle dan Tobias, yang menjadi komisaris-komisaris Belanda di wilayah Makassar.
 Kedua komisaris Belanda di Makassar itu menghendaki agar pengiriman ekspedisi ke Ternate dan Suppa lebih didahulukan. Di lain pihak Van Geen pengiriman itu justru terlebih dahulu ke Bone, karena di antara ketiga kerajaan yang menentang Belanda itu, kerajaan yang terbesar dan terkuat. Mendahulukan penakhlukkan Kerajaan Bone akan lebih mempermudah penaklukkan dari kerajaan-kerajaan Suppa dan Ternate. Meskipun demikian, tetapi di dalam prakteknya Van Geen lebih mementingkan pengiriman ekspedisi ke Bone lebih didahulukan. Waktu itu pasukan-pasukan Bone telah bersiap untuk menghadapi penyerangan yang akan dilakukan oleh Belanda. Jalan yang menghubungkan Leong-Leong dengan semangi diawasi dengan ketat dengan membangun benteng-benteng pertahanan disana, yang dijaga oleh kurang lebih 600 orang. Dari sebelah utara pasukan Bone telah siap, apabila diperlukan untuk melakukan penyerangan.
Dalam perang ini pasukan Belanda berhasil mendesak pasukan Bone. Demikian pula pertahanan Bone di Bulukumba terpaksa ditinggalkan, dan berhasil diduduki oleh pasukan Belanda. Pertempuran terjadi pula ketika pasukan Bone yang berkedudukan di benteng-benteng Kajang dan Sinjai mendapat serangan dari Belanda. Semua benteng Kerajaan Bone akhirnya jatuh ketangan Belanda. Untuk menjaga benteng-benteng yang telah diduduki mereka, Belanda menggunakan tenaga bantuan yang diperoleh dari Gowa dan Maluku. Faktor yang memperlemah kekuatan Bone ialah diserahkan kedudukan raja Ternate kepada seorang raja wanita yang berpihak kepada Belanda. Dengan demikian Ternate dapat dijadikan sekutu Belanda.
Segeri juga melakukan perlawanan terhadap Belanda. Salah seorang pemimpin perlawanan yang terkenal, dan sangat disegani ialah La Sameggu Daeng Kalabbu. Tetapi pada akhirnya perlawanan ini pun berhasil dipatahkan oleh Belanda. Intinya adalah sudah terlihat jelas bahwa sepanjang usaha penanaman kekuasaannya di wilayah Sulawesi terutama Sulawesi bagian Selatan, Belanda telah menghadapi sekian banyak perlawanan, baik yang dilakukan secara besar-besaran, maupun kecil. Perlawanan ini tetap berlangsung sampai pada akhir ke-19, dan pada awal abad 20. Misalnya seperti apa yang dilakukan oleh La Sinrang dari Kerajaan Sawitto dan Pong Tiku di Tana Toraja.
Sekitar abad ke-18 hingga ke-20, ketika nasionalisme Indonesia mulai tumbuh. Juga ada peran kerajaan dalam perlawanan terhadap Belanda, seperti Bone, Gowa, Luwu, dan sebagainya. Pada awal abad ke-20 semua kerajaan di Sulawesi Selatan bangkit melawan usaha perang pasifikasi yang dilancarkan oleh Hindia Belanda. Perlawanan berakhir 1917. Pergerakan nasional yang berkembang di pulau Jawa pengaruhnya sampai pula ke wilayah Sulawesi Selatan. (Muhammad Abduh,  Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Sulawesi Selatan, Departemen Pendidikan Nasional, 1985).
Untuk lebih mengetahui raja-raja pada masa kolonialisme Belanda di Sulawesi Selatan pada waktu itu, saya telah mencari di beberapa sumber di dunia maya. Bahkan raja-raja yang tidak disebutkan juga telah sebagian saya dapat. Diantaranya adalah sebagai berikut :
  Arung Matowa

1. La Palewo to Palippu (±1474-1481)

2. La Obbi Settiriware (±1481-1486)

3. La Tenriumpu
To Langi (±1486-1491)

4. La Tadampare Puangrimaggalatung (±1491-1521)

5. La Tenri Pakado To Nampe (±1524-1535)

6. La Temmassonge (±1535-1538).

7. La Warani To Temmagiang (±1538-1547)

8. La Malagenni (±1547)

9. La Mappauli To Appamadeng (±1547-1564)

10. La Pakoko To Pa'bele' (±1564-1567)

11. La Mungkace To Uddamang (±1567-1607)

12. La Sangkuru Patau Mulajaji Arung Peneki Sultan Abdurahman (±1607-1610)

13. La Mappepulu To Appamole (±1612-1616)

14. La Samalewa To Appakiung (±1616-1621)

15. La Pakallongi To Alinrungi (±1621-1626)

16. To Mappassaungnge (±1627-1628)

17. La Pakallongi To Alinrungi (1628-1636),

18. La Tenrilai To Uddamang (1636-1639)

19. La Isigajang To Bunne (±1639-1643)

20. La Makkaraka To Patemmui (±1643-1648)

21. La Temmasonge (±1648-1651)

22. La Paramma To Rewo (±1651-1658)

23. La Tenri Lai To Sengngeng (±1658-1670)

24. La Palili To Malu' (±1670-1679)

25. La Pariusi Daeng Manyampa (±1679-1699)

26. La Tenri Sessu (±1699-1702)

27. La Mattone' (±1702-1703)

28. La Galigo To Sunnia (±1703-1712)

29. La Tenri Werung (±1712-1715)

30. La Salewangeng To Tenriruwa (±1715-1736)

31. La Maddukkelleng Daeng Simpuang Arung Peneki Arung Sengkang(±1736-1754)

32. La Mad'danaca (±1754-1755)

33. La Passaung (±1758-1761)

34. La Mappajung Puanna Salowo Ranreng Tuwa (1761-1767)

35. La Malliungeng (±1767-1770)

36. La Mallalengeng (±1795-1817)

37. La Manang (±1821-1825)

38. La Pa'dengngeng (±1839-1845)

39. La Pawellangi Pajumpero
e (±1854-1859)

40. La Cincing Akil Ali Datu Pammana Pilla Wajo (±1859-1885)

41. La Koro Arung Padali (±1885-1891)

42. La Passamula Datu Lompulle Ranreng Talotenreng (1892-1897)

43. Ishak Manggabarani Mangeppe (1900-1916)

44. A.Oddangpero Datu Larompong Arung Peneki(1926-1933)

45. A.Mangkona Datu Mario (1933-1949)

46. A. Sumangerukka Datu Pattojo Patola Wajo (1949)

47. A. Ninnong Datu Tempe Ranreng Tuwa Wajo (1949-1950)
 
DAFTAR PUSTAKA
Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia IV, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984
Muhammad Abduh,  Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Sulawesi Selatan, Departemen Pendidikan Nasional, 1985
Susunan Pemimpin Pra-Wajo dan Raja-Raja Wajo_Cermin.html

No comments:

Post a Comment