Halaman

PERLAWANAN MATARAM


LASMI PURNAMA SARI/A/SI3
1.1 PENDAHULUAN
            Dalam percaturan politik pada abad XVII ditandai oleh perebutan lingkungan pengaruh. Di lihat dari sudut pandang Surabaya memegang peranan untuk meneruskan peranan lama perdagangan Jawa sebagai perdagangan transito dari Maluku dan Malaka bersamaan dengan peranannya sebagai penghasil beras. Banten juga mempunyai peranan pentingnya dalam perdagangan ladanya, Mataram memegang kunci dalam sistem pertukarannya, dan sedangkan VOC tetap bertujuan untuk merebut monopoli dari semua perdagangan.
   Perluasan Mataram dan politiknya bertujuan untuk menaklukkan Surabaya sehingga menguntungkan VOC, karena demikian, maka saingan mereka berkurang. Politik Mataram terhadap Pesisir pada umumnya memang membuka kesempataan untuk VOC dalam menjalankan peranannya diwilayah itu. ternyata Surabaya ini tidak mendapatkan bantuan dari Johor, Banten, Banjarmasin, padahal Banten ini juga membela Surabaya karena banten ini juga menghadapi ancaman dari Mataram. Walaupun VOC juga dapat berfungsi BUFFER bagi Banten, tetapi rakyat Banten memandang VOC sebagai ancaman juga, sehingga rakyat Banten tidak memungkinkan untuk suatu pendekatan. Pada tahun1603, VOC mengangkat Jan Pieterszoon Coen sebagai kepala tata buku yang mempunyai wewenang atas kantor dagang di Banten dan Jakarta.
   Pendekatan VOC terbukti dari sejak tahun 1610 Mataram timbul pendekatan terhadap VOC, hal ini juga terlihat dari antara lain utusan-utusan VOC hampir setiap tahun menemui Raja Mataram. Seperti yang ada dimana-mana, VOC hendak mendirikan Factorij sebagai basis untuk beroperasi, yang khususnya di Jepara. Batavia, seperti pelabuhan sejenis, membutuhkan persediaan beras. Tujuan VOC untuk memegang monopoli dalam satu pihak dan politik ekspansi Mataram pada pihak lain, menjadikan satu faktor yang menimbulkan pemberontakan. Sehingga pada tahun 1616 terjadi penawanan orang VOC. Pada tanggal 18 Agustus 1618 tentara Mataram melakukan penyerbuan ke kantor dagang VOC di Jepara. Sebelum penyerbuan ini, pimpinan dari kantor dagang, yaitu Balthasar van Eynthoven dan Cornelis Maseuck dipanggil oleh raja Hulubalang dan kemudian ditahan. Alasannya adalah perampokan-perampokan yang telah dilakukan kapal-kapal Belanda terhadap jung-jung Jepara. Di samping itu juga karena kelakuan dan tindakan Balthasar van Eynthoven yang tidak senonoh. Kedua alasan tersebut adalah alasan yang jelas, namun alasan yang sebenarnya adalah karena janji-janji Belanda terhadap Mataram tidak ditepati dan sudah berlangsung empat tahun. Di pihak lain Belanda mencoba-coba untuk menuntut raja supaya memenuhi janji-janji yang telah disampaikan oleh utusan VOC pertama van Surck. VOC juga mencoba-coba membatalkan janji-janji yang telah diberikan van Surck kepada Mataram. Pada tahun 1618 inilah terjadi penyerbuan loji Jepara dan pembunuhan Kompeni. Dan dilanjutkan dari serangan balasan oleh VOC yang pada tahun 1618 sampai dengan 1619. Dan dari semuanya terjadilah konflik terus menerus karena insiden-insiden sampai tahun 1628.
1.2 PERLAWANAN PERTAMA
       Permusuhan antara Mataram dengan VOC mulai pecah pada tanggal 18 Agustus 1618, yang pada tahun itu Jepara diserbu oleh Mataram.  Permusuhan yang terjadi ini disebabkan oleh sikap pimpinan kantor jepara yang sangat tidak senonoh, dan peristiwa ini menimbulkan permusuhan antara VOC dan Mataram. Permusuhan ini berlangsung sampai tahun 1628, yaitu tahun ofensif Mataram terhadap Batavia.  Pada tahun 1619, kompeni menggepurkan Jepara dan menimbulkan kerugian yang besar terhadap Mataram. Untuk membalas semua tentang kerugian Mataram ini, maka Mataram menyerang Batavia.
       Pada tanggal 22 Agustus 1628 peperangan antara VOC pecah. Pada tahun1628, pasukan Mataram menyerang ke Batavia dari arah laut, dan sudah disiapkan suatu angkatan laut ke Batavia. Angkatan pertama dipimpin oleh T. Baureksa dan yang kedua dipimpin oleh T Sura-Agul-Agul dibantu oleh T. Mandurareja dan T. Upasanta.
   Dalam serangan pertama, walaupun mereka kelelahan akibat perjalanan jauh, dan persediaan bahan makanan mereka menipis tetapi pasukan berhasil masuk ke pasar dan benteng, tetapi sebelum mencapai kastel mereka terpukul mundur. Sewaktu pasukan Baureksa muncul, bagian selatan dan bagian barat kota telah dikosongkan dan dibumihanguskan. Dengan cara itulah barisan Mataram dengan mudah dapat dipukul mundur. Barisan mulai maju kembali, pada tanggal 10 September telah brposisi sepenembak dari kota, dan bertahan di belakang barikade. Dan pada tanggal 12 September berhasil membuat pasukan mataram kembali mundur. Kemudian benteng Holandia diserang, akan tetapi kompeni bertahan, bahkan dengan melakukan balasannya, dilakukan meminta bantuan warga kota, yaitu bantuan cina dan Mardijkers, Kondisi pasukan Mataram yang kelelahan dan terserang penyakit memaksa pasukan Mataram mengundurkan diri sehingga perlawanan rakyat Mataram saat itu mengalami kegagalan, berakhir pula. Dan barisan mataram mundur kembali dengan meninggalkan dua sampai tiga ratus orang yang gugur. Dalam pertempuran terakhir ini Baureksa gugur dan  armada-armada yang terdiri atas perahu-perahu sebagian besar dapat dimusnahkan.      
       Angkatan kedua pasukan Mataram merubah taktik, taktik yang diubahnya tersebut sama dengan taktik yang di lakukan terhadap Surabaya, yang dapat mengalahkan Surabaya, yaitu dengan cara membendung sungai. Dan hal itu dilakukannya lagi terhadap Belanda, memang pada saat itu Belanda kekurangan air akibat yang dilakukan oleh pasukan Mataram,dan bahkan Koloni pada saat itu banyak terserang wabah penyakit seperti Malaria dan kolera yang sangat membahayakan jiwa manusia. Tetapi, ternyata taktik tersebut tidak berhasil dan mengalami kegagalan untuk mengalahkan kekuatan Belanda di Batavia, karena kelaparan, penderiataan dan yang lainnya.  Dan pada tanggal 27 November malam dilakukan serangaan terhadap Hollandia, Suatu usaha untuk menyerbu benteng Hollandia gagal dan oleh sebab itu sebagai hukuman terhadap gagalnya usaha menundukkan musuh, Mandurareja dan Upasanta, bersama-sama dengan anak-buahnya dibunuh dengan ditusuk dengan keris atau tombak. Dengan kegagalan Mataram menduduki Batavia pada akhir tahun 1628, maka penyerbuan Mataram yang pertama pun tetapi juga gagal. Setelah itu dua hari kemudian barisan Mataram dimulai mengundurkan diri.
       Pada tahun 1629 kembali Mataram menyerang Batavia, dan dipusatkan pada soal logistik, seperti pasukan Mataram mendirikan gudang-gudang perbekalan beras di sepanjang jalan perjalanan, antara lain di Tegal dan di Cerebon. Tetapi upaya mataram itu mengalami kegagalan. Karena kepintaran VOC mereka dapat mengetahui hal itu, dan pada tanggal 4 Juni VOC menghancurkan 200 kapal, 400 rumah dan tumpukan Padi di Tegal.
1.3 PERLAWANAN KEDUA
Utusan warga Mataram , menawarkan perdamaian terhadap VOC, tetapi utusan tersebut di hukum mati karena telah mengetahui maksud dari Mataram yang sebenarnya. Angkatan perang mataram berangkat dIdalam dua gelombang, gelombang yang pertama itu adalah terdiri atas artileri dan amunisi pada pertengahan Mei 1629, dan pada gelombang kedua ialah pasukan infanteri yang pada tanggal 20 Juni 1629. Dan pasukan itu dipimpin oleh Kyai Adipati Juminah, K.A. Purbaya, dan K.A. Puger. Dan mereka juga dibantu oleh T. Singaranu, Raden Aria Wiranatapada, T. Madiun dan K.A. Sumedep. Dan pada tanggal 21 Agustus tibalah disekitar Batavia. Kota taersebut dikepung mulai dari sebelah timur, Selatan, dan barat. Dan berturut-turut mereka menyerang ke benteng Hollandia, Bommel, dan Weesp. Tetapi usaha itu tidak berhasil. Setelah itu mulai tanggal 14 September barisan Mataram memakai Baterai dan tanggal 21 September Mataram mengadakan penembakan. Dan semenjak pada tangggal 27 September tidak ada serangan umum lagi karena keadaan semakin parah dengan timbulnya kelaparan dan terpaksa serangan kedua ini mengalami kegagalan seperti yang terjadi pada saat perlawanan pertama. Karena pasukan Mataram sudah merasa kelelahan akibat menempuh perjalanan yang sangat jauh dan persediaan bahan makanan semakin menipis, persediaan senjata pun sudah mulai sedikit, bahkan banyak pasukan-pasukan Mataram yang terserang wabah penyakit, dan akhirnya barisan Mataram di tarik mundur.

DAFTAR PUSTAKA
Aziz Maleha, Asril, Sejarah Indonesia III, Pekanbaru: Cendikia Insani, 2006.
Kartodirdjo Sartono, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 dari Emporium sampai Imperium, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1987.

No comments:

Post a Comment