Halaman

SULTAN AGUNG HANYAKRAKUSUMA PAHLAWAN ASAL MATARAM.



Rizki Aiditya/SI3/B
Banyak versi mengenai masa awal berdirinya kerajaan Mataram berdasarkan mitos dan legenda. Pada umumnya versi-versi tersebut mengaitkannya dengan kerajaan-kerajaan terdahulu, seperti Demak dan Pajang. Menurut salah satu versi, setelah Demak mengalami kemunduran, ibukotanya dipindahkan ke Pajang dan mulailah pemerintahan Pajang sebagai kerajaan. Kerajaan ini terus mengadakan ekspansi ke Jawa Timur dan juga terlibat konflik keluarga dengan Arya Penangsang dari Kadipaten Jipang Panolan. Setelah berhasil menaklukkan Aryo Penangsang, Sultan Hadiwijaya (1550-1582), raja Pajang memberikan hadiah kepada 2 orang yang dianggap berjasa dalam penaklukan itu, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Ki Ageng Pemanahan memperoleh tanah di Hutan Mentaok dan Ki Penjawi memperoleh tanah di Pati.
Pemanahan berhasil membangun hutan Mentaok itu menjadi desa yang makmur, bahkan lama-kelamaan menjadi kerajaan kecil yang siap bersaing dengan Pajang sebagai atasannya. Setelah Pemanahan meninggal pada tahun 1575 ia digantikan putranya, Danang Sutawijaya, yang juga sering disebut Pangeran Ngabehi Loring Pasar. Sutawijaya kemudian berhasil memberontak pada Pajang. Setelah Sultan Hadiwijaya wafat (1582) Sutawijaya mengangkat diri sebagai raja Mataram dengan gelar Panembahan Senapati. Pajang kemudian dijadikan salah satu wilayah bagian daari Mataram yang beribukota di Kotagede. Senapati bertahta sampai wafatnya pada tahun 1601.
Selama pemerintahannya boleh dikatakan terus-menerus berperang menundukkan bupati-bupati daerah. Kasultanan Demak menyerah, Panaraga, Pasuruan, Kediri, Surabaya, berturut-turut direbut. Cirebon pun berada di bawah pengaruhnya. Panembahan Senapati dalam babad dipuji sebagai pembangun Mataram.
Senapati digantikan oleh putranya, Mas Jolang, yang bertahta tahun 1601-1613. Maas Jolang lebih dikenal dengan sebutan Panembahan Seda Krapyak. Pada masa pemerintahannya, dibangun taman Danalaya di sebelah barat kraton. Panembahan Seda Krapyak hanya memerintah selama 12 tahun Ia meninggal ketika sedang berburu di Hutan Krapyak.
Sultan Agung Melawan VOC
Selanjutnya bertahtalah Mas Rangsang, yang bergelar Sultan Agung Hanyakrakusuma. Di bawah pemerintahannya (tahun 1613-1645) Mataram mengalami masa kejayaan. Ibukota kerajaan Kotagede dipindahkan ke Kraton Plered. Sultan Agung merupakan raja yang menyadari pentingnya kesatuan di seluruh tanah Jawa. Daerah pesisir seperti Surabaya dan Madura ditaklukkan supaya kelak tidak membahayakan kedudukan Mataram. Ia pun merupakan penguasa lokal pertama yang secara besar-besaran dan teratur mengadakan peperangan dengan Belanda yang hadir lewat kongsi dagang VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Kekuasaan Mataram pada waktu itu meliputi hampir seluruh Jawa, dari Pasuruan sampai Cirebon. Sementara itu VOC telah menguasai beberapa wilayah seperti di Batavia dan di Indonesia Bagian Timur.
Di samping dalam bidang politik dan militer, Sultan Agung juga mencurahkan perhatiannya pada bidang ekonomi dan kebudayaan. Upayanya antara lain memindahkan penduduk Jawa Tengah ke Kerawang, Jawa Barat, di mana terdapat sawah dan ladang yang luas serta subur. Sultan Agung juga berusaha menyesuaikan unsur-unsur kebudayaan Indonesia asli dengan Hindu dan Islam. Misalnya Garebeg disesuaikan dengan hari raya Idul Fitri dan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sejak itu dikenal Garebeg Puasa dan Garebeg Mulud. Pembuatan tahun Saka dan kitab filsafat Sastra Gendhing merupakan karya Sultan Agung yang lainnya.
Sultan Agung meninggal pada tahun 1645 dengan meninggalkan Mataram dalam keadaan yang kokoh, aman, dan makmur. Ia diganti oleh putranya yang bergelar Amangkurat I. Amangkurat I tidak mewarisi sifat-sifat ayahnya. Pemerintahannya yang berlangsung tahun 1645-1676 diwarnai dengasn banyak pembunuhan/kekejaman. Pada masa pemerintahannya ibukota kerajaan Mataram dipindahkan ke Kerta.
Pada tahun 1674 pecahlah Perang Trunajaya yang didukung para ulama dan bangsawan, bahkan termasuk putra mahkota sendiri. Ibukota Kerta jatuh dan Amangkurat I (bersama putra mahkota yang akhirnya berbalik memihak ayahnya) melarikan diri untuk mencari bantuan VOC. Akan tetapi sampai di Tegalarum, (dekat Tegal, Jawa Tengah) Amangkurat I jatuh sakit dan akhirnya wafat.
Ia digantikan oleh putra mahkota yang bergelar Amangkurat II atau dikenal juga dengan sebutan Sunan Amral. Sunan Amangkurat II bertahta pada tahun 1677-1703. Ia sangat tunduk kepada VOC demi mempertahankan tahtanya. Pada akhirnya Trunajaya berhasil dibunuh oleh Amangkurat II dengan bantuan VOC, dan sebagai konpensasinya VOC menghendaki perjanjian yang berisi: Mataram harus menggadaikan pelabuhan Semarang dan Mataram harus mengganti kerugian akibat perang.
Oleh karena Kraton Kerta telah rusak, ia memindahkan kratonnya ke Kartasura (1681). Kraton dilindungi oleh benteng tentara VOC. Dalam masa ini Amangkurat II berhasil menyelesaikan persoalan Pangeran Puger (adik Amangkurat II yang kelak dinobatkan menjadi Paku Buwana I oleh para pengikutnya). Namun karena tuntutan VOC kepadanya untuk membayar ganti rugi biaya dalam perang Trunajaya, Mataram lantas mengalami kesulitan keuangan. Dalam kesulitan itu ia berusaha ingkar kepada VOC dengan cara mendukung Surapati yang menjadi musuh dan buron VOC.
Hubungan Amangkurat II dengan VOC menjadi tegang dan semakin memuncak setelah Amangkurat II mangkat (1703) dan digantikan oleh putranya, Sunan Mas (Amangkurat III). Ia juga menentang VOC. Pihak VOC yang mengetahui rasa permusuhan yang ditunjukkan raja baru tersebut, maka VOC tidak setuju dengan penobatannya. Pihak VOC lantas mengakui Pangeran Puger sebagai raja Mataram dengan gelar Paku Buwana I. Hal ini menyebabkan terjadinya perang saudara atau dikenal dengan sebutan Perang Perebutan Mahkota I (1704-1708). Akhirnya Amangkurat III menyerah dan ia dibuang ke Sailan oleh VOC. Namun Paku Buwana I harus membayar ongkos perang dengan menyerahkan Priangan, Cirebon, dan Madura bagian timur kepada VOC.
Paku Buwana I meninggal tahun 1719 dan digantikan oleh Amangkurat IV (1719-1727) atau dikenal dengan sebutan Sunan Prabu , dalam pemerintahannya dipenuhi dengan pemberontakan para bangsawan yang menentangnya, dan seperti biasa VOC turut andil pada konflik ini, sehinggga konflik membesar dan terjadilah Perang Perebutan Mahkota II (1719-1723). VOC berpihak pada Sunan Prabu sehingga para pemberontak berhasil ditaklukkan dan dibuang VOC ke Sri Langka dan Afrika Selatan.
Sunan Prabu meninggal tahun 1727 dan diganti oleh Paku Buwana II (1727-1749). Pada masa pemerintahannya terjadi pemberontakan China terhadap VOC. Paku Buwana II memihak China dan turut membantu memnghancurkan benteng VOC di Kartasura. VOC yang mendapat bantuan Panembahan Cakraningrat dari Madura berhasil menaklukan pemberontak China. Hal ini membuat Paku Buwana II merasa ketakutan dan berganti berpihak kepada VOC. Hal ini menyebabkan timbulnya pemberontakan Raden Mas Garendi yang bersama pemberontak China menggempur kraton, hingga Paku Buwana II melarikan diri ke Panaraga. Dengan bantuan VOC kraton dapat direbut kembali (1743) tetapi kraton telah porak poranda yang memaksanya untuk memindahkan kraton ke Surakarta (1744).
Hubungan manis Paku Buwana II dengan VOC menyebabkan rasa tidak suka golongan bangsawan. Dengan dipimpin Raden Mas Said terjadilah pemberontakan terhadap raja. Paku Buwana II menugaskan adiknya, Pangeran Mangkubumi, untuk mengenyahkan kaum pemberontak dengan janji akan memberikan hadiah tanah di Sukowati (Sragen sekarang). Usaha Mangkubumi berhasil. Tetapi Paku Buwana II mengingkari janjinya, sehingga Mangkubumi berdamai dengan Raden Mas Said dan melakukan pemberontakan bersama-sama. Mulailah terjadi Perang Perebutan Mahkota III (1747-1755).
Paku Buwana II dan VOC tak mampu menghadapi 2 bangsawan yang didukung rakyat tersebut, bahkan akhirnya Paku Buwana II jatuh sakit dan wafat (1749). Namun menurut pengakuan Hogendorf, Wakil VOC Semarang saat sakratul maut Paku Buwana II menyerahkan tahtanya kepada VOC. Sejak saat itulah VOC merasa berdaulat atas Mataram. Atas inisiatif VOC, putra mahkota dinobatkan menjadi Paku Buwana III (1749).
Pengangkatan Paku Buwana III tidak menyurutkan pemberontakan, bahkan wilayah yang dikuasai Mangkubumi telah mencapai Yogya, Bagelen, dan Pekalongan. Namun justru saat itu terjadi perpecahan anatara Mangkubumi dan Raden Mas Said. Hal ini menyebabkan VOC berada di atas angin. VOC lalu mengutus seorang Arab dari Batavia (utusan itu diakukan VOC dari Tanah Suci) untuk mengajak Mangkubumi berdamai.
Ajakan itu diterima Mangkubumi dan terjadilah apa yang sering disebut sebagai Palihan Nagari atau Perjanjian Giyanti (1755). Isi perjanjian tersebut adalah: Mataram dibagi menjadi dua. Bagian barat dibagikan kepada Pangeran Mangkubumi yang diijinkan memakai gelar Hamengku Buwana I dan mendirikan kraton di Yogyakarta. Sedangkan bagian timur diberikan kepada Paku Buwana III.Mulai saat itulah Mataram dibagi dua, yaitu Kasultanan Yogyakarta dengan raja Sri Sultan Hamengku Buwana I dan Kasunanan Surakarta dengan raja Sri Susuhunan Paku Buwana III.
DAFTAR PUSTAKA:
Kartodirdjo, Sartono. 1999. Pengantar sejarah Indonesia baru:1500-1900. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
www.serbasejarah.wordpress.com/2009/03/09-nagara-islam-mataram-melawan-VOC.

KESEWENANGAN PIETER BOTH DI PULAU JAWA


Rizki Aiditya/SI3/B
A.    Awal Mula Ekspedisi
Kapal pihak asing yang pertama kali berlabuh di Nusantara adalah kapal Portugis yang berhasil menguasai Malaka pada tahun 1511. Pada tahun 1521, untuk pertama kalinya rempah-rempah diangkut secara lansung dari Nusantara, tepatnya dari Maluku menuju Eropa, Ekspedisi yang memelopori pembukaan jalur pelayaran dan perdagangan rempah-rempah ke Eropa, atau tepatnya ke Portugis adalah Sabastian del cano. Del cano berlayar dari tidore menuju selatan, kemudian ke Timor lalu ke arah barat daya menyeberangi Samudra Indonesia menuju selatan Afrika hingga kemudian sampai ke laut Atlantik dan muara Sungai Guadalquivir di Iberia Selatan, sampai akhirnya tiba kembali di Sevilla. Rempah-rempah yang saat itu banyak banyak digemari oleh orang Portugis antara lain cengkeh, pala, merica, dan lainnya.
Peristiwa tersebut menandakan bahwa Portugis telah membuka jalur pelayaran baru menuju Nusantara. Sebelum nya, rempah-rempah dari Maluku ini harus menempuh jalur yang berliku dan memakan waktu yang lebih lama untuk sampai di pasaran Eropa. Dahulu rempah-rempah tersebut diangkut dari Maluku Utara ke Hitu dan Banda, untuk kemudian diangkut ke bagian barat Indonesia yaitu ke pelabuhan-pelabuhan di pesisir jawa, pantai timur Sumatra, dan selat Malaka. Perjalanan laut dilanjutkan dengan melintasi laut Arab yang memiliki dua pilihan jalur. Jalur pertama di sebelah utara, dengan rute menuju Teluk Oman melalui selat Ormuz dan dilanjudkan ke teluk Persia. Jalur kedua dengan rute melalui Teluk Aden dan Laut Merah hingga Suez, kemudian Iskandariah. Melalui rute inilah sejumlah kapal asal Arab, Persia, hingga India telah pulang-pergi melintasai barat ke timur dan terus hingga ke Negri Tiongkok. Ada indikasi yang menunjukkan bahwa sesudah abad ke-9, kapal-kapal Tiongkok pun mengikuti jalur perlayaran tersebut. Menyadari akan pentingnya jalan dagang tersebut, Portugis bermaksud untuk menguasai jalur perdagangan yang melalui rute tersebut. Hingga kemudian Alfonso d'Albuquerque berhasil menduduki Goa di tahun 1510, Malaka di tahun 1511, dan Ormuz di tahun 1515. Inilah asal mula terjadinya penjajahan di Nusantara.
Setelah berhasil menguasai Malaka, kemudian di tahun 1522 d'Albuquerque bermaksud memperluas wilayah kekuasaannya dengan mengirim Enrique Leme ke Sunda Penjajaran untuk meminta izin kepada penguasa saat itu untuk membangun benteng di Sunda kelapa. Permohonan Lame dikabulkan dengan syarat mereka bersedia membantu Sunda Pajajaran jika diserang oleh pasukan Demak-Cirebon.
Akan tetapi, ketika Portugis kembali di tahun 1527 untuk membangun bentenng sesuai perjanjian sebelumnya, ternyata Sunda Kelapa telah dikuasai oleh pasukan Demak-Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah. Kehadiran Portugis pun berhasil dihadang dan akhirnya mereka harus kembali ke Malaka. Kemenengan ini dirayakan Fatahillah dengan mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta pada tanggal 22 Juni 1527.
Di akhir abad ke-16, yaitu pada tahun 1596, kapal-kapal Belanda pun mulai mengikuti jejak Portugis, berdatangan untuk berdagang di Nusantara. Pada saat itu sudah banyak terbentuk kota-kota pelabuhan besar di seluruh Nusantara, di antaranya Jayakarta, Banten, Demak, dan Gresik. Persaingan antara sejumlah kota pelabuhan pun terjadi dan hal ini tanpa disadari justru melemahkan penduduk setempat sehingga kalah bersaing dengan pihak asing.
Kondisi tersebut membuat kemampuan dan kekuatan Belanda semakin besar dalam menguasai jalur perdagangan yang ada, terutama jalur perdagangan di Jayakarta. Hal ini membuat kapal-kapal dagang bumiputra semakin sulit untuk melakukan hubungan satu sama lain, ataupun antara pulau. Pada tahun 1609 kapal Inggris di bawah komando Captain William Keeling, juga berlabuh di Jayakarta, dalam perjalanan dari Banten kr kepulauan Maluku. Kapal ini merupakan kapal Inggris pertama yang berlabuh di Jayakarta, miskipun beberapa waktu sebelumnya sudah pernah berlabuh di wilayah bumu Nusantara lainya, seperti tercatat di antaranya pada tahun 1602, 1604-1606, 1607-1609, dan 1615-1617. Sepuluh tahun semenjak kedatangan kapal Inggris pertama kali di Jayakarta, Inggris dan Belanda terlihat dalam pertikaian sengit karena bersaing dalam memperebutkan Nusantara, dan masa depan perdagangan  rempah-rempahnya. Peperangan tersebut dimenangkan oleh pihak belanda. Akibatnya, Inggris pun harus angkat kaki dari Jayakarta.
Setelah 100 tahun lebih berkuasa penuh di Batavia serta di wilayah Nusantara lainnya, Belanda tidak bisa menghindari perang yang berkecamuk di berbagai di berbagai daerah di Nusantara, sebagai bentuk perlawanan rakyat atas penindasan yang di lakukan VOC. Pada tahun 1799 VOC mengalami kerugian besar akibat perang local yang berkepanjangan. Nusantara kemudian menjadi rebutan antara Negara Perancis dan Inggris. Antara tahun 1808-1816, Nusantara sempat menjadi koloni Perancis (1808-1811) dan koloni Inggris (1811-1816). Selanjutnya, pemerintah Belanda baru mengundur ketika Perang Dunia II pecah. Saat itu negeri Belanda diserang oleh pasukan Jerman pada tahun 1940. Watak sesungguhnya dari pihak Belanda, Inggris, dan Perancis tidaklah berbeda. Mereka sama-sama ingin menjadikan Nusantara sebagai daerah koloninya. Dengan kata lain, siapa pun pihak asing yang menduduki Nusantara kala itu tetap akan membawa kesengsaraan dan penderitaan panjang bagi penduduk setempat.
B.     Penyebab Nya
Pada tahun 1580, setelah Portugal diintegrasi oleh Spanyol, Spanyol segera memblokir Lisabon, yang merupakan pasar rempah-rempah, agar Belanda mengalami berbagai kesulitan untuk membelinya. Oleh karna itu, Belanda terpaksa mencari rempah-rempah lansung ke negri penghasil rempah-rempah. Tindakan ini membuat kaum kapitalis Belanda merintis jalur perdagangan baru, dan akhirnya Belanda berhasil tiba di pelabuhan Banten pada tahun 1596. Setelah itu, semakin banyak kapal dagang Belanda yang berlayar ke Nusantara. Orang-orang Belanda saling berlomba mendatangi Nusantara untuk mencari ke untungan yang sebesar-besarnya. Semakin banyaknya orang Belanda yang berdagang di Nusantara, telah menyebabkan terjadinya persaingan, yang bukan hanya di antara mereka saja, tetapi juga dengan pedagang-pedagang bangsa lain.VOC terdiri atas enam bagian wilayah yaitu Amsterdam, Hoorn, Enkhuizen, Rotterdam, Delft, dan Middelburg. VOC memiliki pimpinan pusat, yang berpungsi sekaligus sebagai dewan pengurus, yang terdiri atas tujuh belas utusan atau disebut juga 'Heren 17', yang pada mulanya terdiri atas delapan dari Amsterdam, empat dari Zeelan/Middelburg,dan satu utusan dari setiap bagian wilayah lainnya. Heren 17 memiliki wewenang yang sangat besar dalam memutuskan segala bentuk perkara yang terjadi di setiap koloni VOC.
Terbentuknya VOC menjadikan praktek monopoli Belanda kian meluas. Hal ini dikarenakan VOC diberi wewenang penuh untuk melakukan perekrutan pasukan,membangun tempat penembakan meriam, mencetak uang, mengangkat pejabat, bahkan berperang atau gencatan senjata, serta berhak mewakili kongres untuk membuat perjanjian dengan Negara lain. Dalam hal ini terlihat jelas bahwa VOC bukan hanya organisasi dagang, melainkan juga sebuah badan politik colonial yang haus kekuasaan. Perdagangan  rempah-rempah di Nusantara hanya dijadikan kedok atas misi sesungguhnya untuk merampas kekayaan bumi Nusantara dan secara bertahap menjadikan Nusantara sebagai koloninya.
Untuk pertama kalinya di tahun 1610, VOC mengangkat gebnur jendral untuk pulau jawa, yaitu Pieter Both. Pengangkatan ini disertai sebuah tugas, bahwa Pieter Both harus mendapatkan sebuah tempat yang tepat untuk mendirikan kantor dagang dan dapat dijadikan sebagai pusat pelayaran seluruh Hindia. Pieter Both kemudian memilih banten karena letaknya sangat strategis. Sebelumnya, Banten merupakan tempat VOC membeli dan menumpuk barang-barang dagangannya. Akan tetapi, VOC merasa khawatir bahwa kepetingannya di Banten akan diganggu oleh penguasa setempat, karena kerajaan Banten saat itu masih terlalu kuat bagi VOC.Pada tahun itu juga pihak VOC melakukan perundingan kerjasama dengan pangeran Wijayakrama dari kerajaan Banten. Hasil perundingan tersebut ditandatangani pada bulan Januari 1611. Sebagian kecil ketentuan dalam perjanjian itu berkisar pada proses pengurusan pembayaran bead an proses hukum, sedangkan sebagian lagi berkaisar pada penjualan sebidang tanah di timur tepi kali Ciliwung untuk mendirikan sebuah rumah batu dan kayu (timmeren), yang berpungsi sebagai tempat tinggal, kantor, sekaligus gudang, di atas tanah seluas 50 X 50 depa/ vadem dengan pembayaran ganti rugi sebesar 1.200 real kepada pangeran Wijayakrama.
Akan tetapi, ternyata kedua rumusan naskah asli dengan sengaja disusun berbeda oleh VOC, untuk digunakan sebagai alasabn menyerang pihak Banten dengan dalih tidak menepati surat perjanjian. Adanya perbedaan rumusan perjanjian, telah menimbulkan pengertian yang berbeda antara Pangeran Wijayakrama dan VOC, khususnya dalam hal penjualan tanah. Dalam kerajaan Banten, termasuk Jayakarta kala itu, tanah tetap milik raja yang hanya boleh dipergunakan untuk waktu tertentu dengan syarat-syarat yang bisa berubah sewaktu-waktu. Akan tetapi bagi VOC, makna pembelian tanah itu berarti menjadi hak milik VOC.Meskipun sempat terjadi ketegangan, tetapi akhirnya tempat untuk VOC ditentukan berdampinagan dengan kampong Tionghoa yang dikepalai oleh Nahkoda Watting. Di masa kini, kampong Tionghoa itu terletak disekitar jembatan di atas Kali Besar, sedangkan kampong bumuiputra berada di sebelah timurnya, yang kepalai oleh Kiai Aira, Patih Pangeran Wijayakrama, dan kini  kira-kira berada di sekitar Jalan Tongkol dan Jalan Kembang.
Pada tahun 1611, akhirnya di jayakarta didirikan kantor dagang tak permanen berukuran 31,5 X 11,4 meter yang terbuat dari bahan gedek dan batu. Gudang ini kemudian disebut Nassau, yang selesai dibangun pada tahun 1613 oleh Abraham Theunemans. Gudang ini terletak di tepi timur Kali Besar, yang jaraknya kurang lebih 150 meter di sebelah selatan jembatan dekat Menara Syahbandar pada saat ini.Sebelum jatuhnya kekuasaan Pangeran Wijayakrama, ternyata VOC kembali melakukan penambahan pada isi rumusan kesepakatan antara VOC dan Pangeran Wijayakrama yang telah dibuat sebelumnya. Tambahan pada versi VOC yaitu, diberikannya izin membongkar rumah-rumah warga etnis Tionghoa yang dianggap terlalu dekat dengan gudang mereka. Alasan penambahan pada isi rumusan adalah karena tidak adanya kepastian mengenai beacukai. Menurut perjanjian versi VOC, Nahkoda Watting juga bertugas sebagai penerjemah dan perantara antara kedua belah pihak. Di kemudian hari, Nahkoda Witting dibunuh oleh pihak Banten ketika Pangeran Wijayakrama dipecat oleh Pangeran Ranamanggala.
c. Ketidak  Adilan yang dirasakan
Sejalan dengan meningkatnya perdagangan di Batavia, meningkat pula jumlah para imigrannya seperti dari Jepang, Tiongkok, Moor/Moro, dan Mestizo. Sebagian besar imigrasi Jepang pada saat itu bekerja pada kompeni VOC, Inggris, ataupun Sepanyol, dan sebagian lainya memiliki mata pencaharian sebagai pedagang atau penyewa tanah. Orang Tionghoa kebanyakan bekerja sebagai pedagang, penyuling arak, kuli, pandai besi, hingga petani. Bidang perdagangan juga banyak diketahui oleh orang Moro. Orang Moro, yaitu orang keling islam, yang berasal dari Koromandel. Mayoritas orang Mesotizo juga berpropesi sebagai pedagang atau tuan tanah.
Pada saat itu, VOC membangun kota Batavia di atas tanah rawa, maka untuk mencegah banjir, kompeni VOC banyak membuat kanal. Proyek borongan pembangunan kanal itu banyak dipegang oleh orang Tionghoa. Bersinergi dengan meningkatnya jumlah proyek kebutuhan kompeni, jumlah kuli pun meningkat, termasuk kuli etnis Tionghoa. Hal ini sebenarnya lebih banyak menguntungkan pihak VOC, karena kebutuhan akan tenaga kerja kasar terpenuhi, dan pendapatan pajak kepala yang juga dibebankan kepada kuli etnis Tionghoa pun jadi meningkat.
Bukan dibidang pekerjaan saja VOC melakukan orang Tionghoa dengan perlakuan yang tidak adil, bahkan dalam setiap tahun sejumlah 4.000 budak diperdagangkannya. Tak hanya itu, VOC bahkan melakukan penculikan penduduk di daerah pantai tenggara Tiongkok dan India.Tampak jelas sekali kekejaman VOC dalam menerapkan berbagai cara demi keuntungan pribadi dan negaranya. Sementara, kondisi ekonomi penduduk Nusantara kian terpuruk. Dampaknya meluas pada buruknya kondisi sumber daya manusia dengan kesehatan dan kesejahteraan yang sangat rendah.
DAFTAR PUSTAKA
Wijayakusuma, M. Hembing. 2005. Pembantataian Massal 1740, Tragedi Berdarah Angke. Jakarta: Pustaka Populer Obor.
SEJARAH INDONESIA IV, Marwati Djoened Poesponegoro,Nugroho Susanto/ Depatermen Pendidikan dan Kebudayaan/Pn Balai Pustaka Jakarta 1984

PENETRASI VOC DI KALIMANTAN BARAT

MUSRI INDRA  WIJAYA/SI3

Pada awal abad 17 kalimantan barat telah mempunyai hubungan perdagangan dengan Palembang, Johor, Riau, Banten, Mataram, Kalimantan Selatan, Makassar dan sebagainya. Yang sangat menarik perdagangan ialah intan dan berlian. Pedagang barat seperti bangsa Portugis, Spanyol dan belanda juga telah menampakkan diri di daerah itu.
Antara kerajaan-kerajaan tidak hanya timbul persaingan perdagangan tetapi juga perjuangan kekuasaan. Di bawah pemerintahan ratu bunku, janda Panembahan Giri Kusuma. Landak dan Sukadana ada di bawah satu kekuasaan. Ratu Bunku bersifat tidak pro terhadap VOC sedangkan Raja Sambas memberi kelonggaran kepada VOC untuk berdagang dan membangun pabrik di wilayahnya, terutama dengan meksud untuk memajukan perdagangannya. Namun ternyatahal ini menjadi sumber perselisihan antara Sambas dan Landak.
Kerajaan Sambas ang mengkui suzereinitas kerajaan sukadana semakin lama semakin banyak dipengaruhi oleh Wangsa dan Sukadana. Raja Tengah seorang ipar Sultan Muhammad Safiudin bersama putranya Raden Sulaiman datang bermukim di Sambas dan akhirnya Raden Sambas tersebut berhasil bertahta sebagai Sultan Sambas debgan gelar sama dengan pamannya, sultan Muhammad Safiudin.
Pada akhir bad 17 pecahlah perang berlian antar Landak dan Sukadana, oleh karena yang terakhir menuntut agar berlin besar yang disebut danau Raja, diserahkan oleh Landak. Dengan bantuan Banten dan VOC, Landak menyerang dan berhasil menakhlukan Sukadana. Sultan Zainuddin terpaksa mengungsi ke Kotaringin dan Sukadana dijadikan sebagai vasal Banten. Dari Banten serta Pangeran Agung diserahi tugas untuk memegang pemerintahannya.
Kemudian sultan menacri bantuan ke Sultan Banjarmasin dan petinggi-petinggi dari Bugis. Berkat bantuan upu daeng Menambon Sultan Zainudin dilepaskan dari suatu tawanan. Sebagai balas jasa dia dinikahkan  dengan Putri Kasumba, seorang  keturunan dinasti Mempawa. Setelah Sukadana dapat dikalahkan maka Sultan Zainudin dikembalikan ke tahtanya lagi, sedangkan daeng menambong menetap di mempawa di mana ia berkuasa dan sepeninggalnya diganti oleh putranya, Panembahan Adijaya Kusuma.
Kerajaan Pontianak
Di antara pedagang Asia yang melakukan kegiatannya di pelabuhan-pelabuhan Indonesia, terdapat  pedagang arab. Beberapa diantaranya mendapat kewibawaan mereka sebagai Syarif atau memperoleh pengaruh  besar di kalangan istana raja-raja, seperti Palembang, Banten, Siak dan Banjarmasin. Sebagai orang keramat pengaruh itu jauh melampaui bidang ekonomi dan agama seperti beberapa kasus yang telah dikemukakan di atas memperoleh kekuasaan politik yang besar bahkan ada yang berhasil menggeser  dinasti yang bekuasa .
Asal mula kerajaan Pontianak kembali pada riwayat hidup Syeh Abdurrahman seorang putra Syaraif Husain Ibnu Ahmad al kadri. Datang di Matan pada tahun 1753 sebagai orang yang hendak mengadu peruntungan di daerah perantauan, kemudian dia terpaksa pindah ke Mempawa mencari perlindungan Sultan Daeng Menambon. Sebabnya ialah bahwa kecamannya terhadap raja Matan atas tindakannya yang kejam membangkitkan amarah raja itu, sehingga hidupnya terancam. Di kalangan masyarakat Syarif Husain sangat terkenal dan berpengaruh, lebih lagi setelah ia menjadi seorang patih.
Pada tahun 1742 seorang putra laki-laki lair dari pernikahannya dengan Putri Dayak yang diberi nama Syarif Abdurrahman. Sebagai anak muda yang tampan, dia telah menunjukkan bakat serta ambisinya. Masa mudanya penuh dengan petualangan, berdagang lada ke Banjarmasin. Menyerang dan merompak kapal Prancis di pasir dan merompak Junk Cina. Di Banjarmasin dia menjadi menantu Sultan, menikah dengan Sirih Anom. Karena ambisinya akhirnya di sana dia sangat dibenci sehingga terpaksa kembali ke Mempawa. Pada akhir tahun 1771 bersama dengan sejumlah pengikutnya Syarif Aburrahman berlayar mudik sungai Kapuas sampai tempat pertemuannya sungai Landak. Di tempat itulah dia mendirikan pemukiman baru untuk dikembangkan sebagai pusat perdagangan. Menurut cerita tempat itu dihuni oleh hantu-hantu dan kesemuanya diusir olehnya dan dimulailah pembukaan hutan  7 januari 1772 maka tempat itu diberi nama Pontianak. Pemilihan tempat yang strategis itu membawa keberhasilan karena kemudian banyak orang asing dari luar daerah untuk singgah dan berdagang seperti Bugis, Melayu, Cina dan juga dari Sangau, Mempawa, Sukadana, dan Sambas.
Dengan kedudukann yang cukup kuat Syarif Abdurrahman  berusaha melakukan ekspansi yang menjadi incaran pertama adalah Sangau. Raja sangau selaku menjadi vassal Banten meminta bantuan ke sana. Pihak Banten masih dipandang mempunyai  suzereinitas dikerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat sesunguhya sudah tidak berdaya lagi melakukan tindakan maka pada tanggal 26 maret 1778 Sultan Banten bersama para pembesar launnya menyerahkan suplemasi ke Kerajaan Landak, Sukadana dan seluruh wilayah Kalimantan Barat kepada VOC.
Dalam menghadapi situasi baru itu serta penuh kesadaran akan kekuasaan kumpeni , maka Syarif Abdurrahman mengakui supremasinya dengan menandatangani kontrak pada tanggal 5 juli 1779. Dia diakui sebagai sultan Pontianak dan sangau dengan gelar Syarif Abdurrahman Ibnu Al Habib Husain Alkadri VOC berhak atas sebagian besar penghasilan dari kerajaan Pontianak  dan hak monopoli seperti perdagangan Berlian, Emas, Lada, Sarang burung, Lilin, Sago, Rotan. Pedagang erasal dari daerah nusantara lainnya sepeti Bugis, Melayu, Jawa, Bali dan yuridiksi VOC.
Akibat dari ekspedisi VOC ke riau pada tahun 1784 ialah ahwa Sultan Ibrahim terpaksa mengungsi ke pegunungan di Riau, raja Mohammad Ali dari Siak direstorasi pada kedudukannya semula, sedangkan Raja Ali sebagai Raja Muda menyelamatkan diri ke Mempawa. Pada tanggal 10 november 1784 voc membuat kontrak dengan sultan Mahmud Syah dari Johor dan Pahang, raja yang sah dari Riau yang menentukan statusnya selaku pelaku vassal dari pihak pertama. Selanjutnya dibuatlah peraturan larangan untuk semua bengsa Bugis untuk bertempat tinggal di Riau. Kehadiran raja Raja Ali sebagai musuh VOC di Mempawa digunakan oleh Sultan Syarif Adurrahman untuk menyerang kerajaan-kerajaan yang dipandangnya sebagai penghalang kemajuan perdagangan Pontianak.
Perjuangan kekuasaan di wilayah itu menjadi kompleks oleh karena ada konflik mengenai perbatasan antara Mempawa dan Sambas. Meskipun konflik itu dengan perantaraan sultan Syarif Abdurrahman  dapat diselesaikan, namun pertentangan antara Penembahan Mempawa dan Abdurrahman meningkat. Hal ini dikarenakan pihak pertama tidak memenuhi pembayaran denda berdasarkan kontrak tersebut. Dengan intrinya Abdurrahman mencoba meyakinkan VOC ahwa Panembahan Mempawa adalah musuh besarnya.
Factor lain yang menambah kompleksitas pertentangan  banyak sudut itu ialah persaingan dan permusuhan antara Pontianak dengan Sukadana. Antara lain mengalirnya hasil dari daerah hulu sungai Kapuas ke Sukadana hal ini merugikan Pontianak. Waktu Raja Ali pindah dari Mempawa dan mengungsi ke Sukadana, Abdurrahman terdorong lebih kuat untuk meminta bantuan kepada VOC. Bagi VOC ada alasan kuat untuk memberi bantuan itu karena Sukadana selalu tidak bersedia mengakui supremasinya. Dikirimlah angkatan laut untuk menyerang Sukadana bersama dengan barisan di bawah pimpinan Syarif Kasim, putra dari Syarif Abdurrahman. Sultan Ahmad Kaharudin dengan pasukannya menyelamatkan diri sebelum Sukadana jatuh ke tangan musuh dan dibumihanguskan pada 1786.
Setelah kemenangan itu mempawa mendapat giliran, meskipun lama bertahan dalam menghadapi pengepungan, akhirnya panembahan terusir dan Syarif Kasim diangkat sebagai sultan Mempawa dan vassal dari VOC. Panemahan Mempawa beserta rakyatnya mengungsi ke daerah pedalaman, dan bangsa Bugis dilarang tinggal di Mempawa dan semua benteng dihancurkan.  Sementara kerajaan matan masih berdiri tegak dan tetap menolak untuk mengakui supremasi VOC. Yang berkuasa di Matan ialah Sultan Ahmad Kamaluddin yang melarikan diri dari Sukadana. Kemudian dipilihnya Koyung sebagai pusat kerajaannya. Seorang saudara Sultan, Pangeran Kusumaningrat, yang menjadi Patih membuka pemukiman baru di Simpang dan kemudian praktis berkuasa penuh dengan kedaulatan sendiri.
Persaingan dan pertentangan da antara kerajaan-kerajaan Kalimantan Barat ternyata mengundang campur tangan VOC. Oleh karena kesulitan intern VOC maka penetrasi kekuasaannya tinggal pada pengakuan supremasi saja. Jaringan komunikasi di Kalimantan  Barat yang terbentuk lewat perdagangan, perang, perkawinan dan diplomasi pada akhir abad 18, telah mewujudkan suatu tingkatan integrasi dengan skala yang melampaui lokalitas
  DAFTAR PUSTAKA:
1.      Kartidirdjo, Sartono, 1999, Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900 dari Emporium Sampai Imporium, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
2.      Ricklefs, M. C, 1991, Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

KARAENG PETENGALOAN RAJA GOA KERAJAAN MARITIME Musuh berat Kolonial Belanda


Rizki Aiditya/SI3/B
Pada akhir abad 16 keajaan banjar telah mempunyai pengaruhnya yakni sukadana, lawe, kotawaringin. Ketiga daerah ini telah mengirimkan upeti tetap kepada keraaan Banjarmasin. Ketika kedudukan demak mulai lemah, kerajaan banjar menghentikan upeti kepada kerajaan demak walaupun hubungan dengan jawa tetap ada. Sekali-kali timbul perselisihan dengan kerajaan-kerajaan jawa misalnya pada tahun 1615 banjar berselisih dengan tuban dan Surabaya karena dua kerajaan ini ingin menguasai Banjarmasin.
Sikap tidak bersahabat juga ditunjukkan kepada kerajaan Mataram. Antara tahun 1622 – 1637 hubungan banjar dengan mataram tidak baik. Pada tahun 1637 dibuat perjanjian persahabatan karena ada pihak ketiga yang lebih berbahaya yakni VOC. Banjar telah dikenal belanda pada tahun1596, karena belanda telah menangkap kapal yang berasal dari banjar. Orang-orang portugis juga tela mengenal orang banjarr pada abad ke 16, mereka telah membeli kapur barus, berlian, dan batu  bezoar. Yang mana daerah Kalimantan juga penghasil lada terbesar pada masa itu. Yang menarik perhatian belanda terhadap daerah ini yaitu tak lain hasil lada yang menggiurkan. VOC datang ke Banjarmasin dan meminta kepada raja banjar untuk memonopoli perdagangan lada, namun permintaan itu ditolak yakni pada tahun 1606. Namun percobaan-percobaan berikutnya berhasil membuat raja untuk menandatangani kontrak, namun dalam kenyataannya tidak demikian karena yang menguasai lada ialah para pangeran dan dalam praktiknya menjual lada kepada siapa saja.
Raja tidak dapat mengadakan kontrak terhadap perdagangan di luar ketentuan-ketentuan kontrak dengan  VOC. Meskipun kejadian tersebut membuat pihak VOC marah apalagi ditambah peristiwa pada tahun 1638 terjadi pembunhan terhadap anggota VOC di kantor dagangnya. Tapi VOC tidak dapat berbuat apa-apa karena takut kontrak perdagangannya akan rusak. Orang belanda yang datang ke Banjarmasin pada tahun 1606 ialah gilles michielzoon namun terbunuh dan pada tahun 1610 orang belanda yang datang ke sambas juga terbunuh. Alasan pembunuhan terhadap mereka ialah VOC mengirim empat armada kapal untuk menyerang Banjarmasin dan berniat menghancurkannya. Untuk beberapa waktu yang cukup lama VOC tidak datang ke Banjarmasin dan baru pada tahun 1626 mereka muncul kembali untuk mencari lada. Selain orang belanda ada juga orang inggris yang datang ke Banjarmasin. Serta pedagang dari demak yang ingin berdagang di Banjarmasin.pada tahun 1635 dibuat kontrak baru antara VOC dengan banjar yang ditandatangani oleh syahbandar kerajaan banjar yang bernama retnadi ratya dari gadja babauw, seorang Gujarat. Dengan kontrak ini berlaku pula monopoli perdagangan lada di tangan VOC.
Setelah penandatanganan kontrak dengan banjar VOC tidak hanya membatasi diri pada perdagangan  saja, tapi juga turut campur tangan dalam persoalan dalam negeri kerajaan banjar. Ketika ada pertikaian dalam keluarga kerajaan sehingga menimbulkan perpecahan. Raja yang didukung oleh konpeni akhirnya tidak dapat menguasai keadaan. Martapura telah membuat perjanjian damai dengan kerajaan mataram. Sebagai akibat campur tangan kompeni tentang urusan dalam negeri, semua penghuni kantor dagang VOC di martapura dibunuh, orang-orang belanda yang berada di kotawaringin juga mengalami nasib yang sama.
Ancaman-ancaman VOC terhadap kerajaan banjar karena banyak terjadinya pembunuhan terhadap pegawai-pegawai VOC tidak membuat keadaan berubah. Pada tahun 1660 kesepakatan kontrak dengan martapura dapat ditandatangani namun lagi-lagi kesepakatan itu hanya tertuang di atas kertas saja pada kenyataannya lada juga dapat dijual kepada siapa saja seperti orang-orang makasar yang berdagang ke Banjarmasin. Selain orang-orang Makasar lada juga dijual kepada orang-orang cina yang datang ke Banjarmasin. Akhirnya raja Banjarmasin meminta VOC tidak berdagang lagi di Banjarmasin dan kembali ke batavia. Banjar juga meminta bantuan banten jika VOC memberikan balasan dengan peperangan terhadap Banjarmasin. Demikianlah reaksi-reaksi di daerah Banjarmasin dalam menghadapi VOC. Orang-orang belanda ketika datang ke kepulauan Indonesia pada mulanya tidak menaruh perhatian kepada kerajaan gowa yang terletak di kaki barat daerah Sulawesi selatan. Pada mulanya VOC  menyusuri timur idonesia langsung menuju Maluku. Tentang pentingnya kedudukan gowa baru diketahui oleh VOC setelah mereka merampas kapal portugis di dekat perairan malaka yang ternyata memiliki seorang awak kapal makasar. Dari orang makasar inilah mereka mengetahui bahwa pelabuhan gowa merupakan pelabuhan transito bagi kapal-kapal yang berlayar dari atau ke Maluku. Selain itu ketika mereka bertemu dengan kapal gowa yang memuat orang-orang portugis tidak diserang, untuk memberi kesan baik kepada raja gowa. Dari keterangan-keterangan ini VOC dapat menarik kesimpulan bahwa pelabuhan gowa sebenarnya sangat baik karena terletak antara malaka dan Maluku. Selain untuk itu pelabuhan ini tidak mendapat gangguan dari orang-orang portugis. Kemudian VOC menjajaki hubungan dengan terlebih dahulu mengirim sepucuk surat dari banda kepada sultan gowa. Yang dinyatakan bahwa tujuannya hanyalah berdagang semata. Isi surat demikian untuk memberi kesan baik karena diketahui bahwa orang-orang portugis dan VOC memiliki  senjata.
Raja Gowa mwngundang VOC untuk berkunjung ke pelabuhan Gowa dengan tekanan bahwa mereka hanya diperbolehkan berdagang saja. Ia tidak ingin kerajaannya menjadi tempat adu senjata orang-orang asing yang datang berdagang di sana. Atas undangan raja, VOC mulai mengirim  beberapa utusan ke kerajaan gowa dengan pesan-pesan khusus. Pesan tersebut selain berupa tanda persahabatan juga ajakan agar gowa ikut menyerang banda yang menjadi gudang rempah-rempah, tetapi ajakan VOC ditolak, karena tidak menjawab ajakan tersebut. Kunjungan-kunjungan anggota kompeni mulai sering dilakukan ke kerajaan gowa. Mereka selalu berusaha mengajak raja gowa untuk tidak lagi mejual beras kepada orang-orang portugis. Akan tetapi raja Gowa ini tidak mau dengan begitu saja merugikan dirinya sendiri dengan memutuskan hubungan dagang yang baik dengan orang-orang portugis, raja bahkan mengeluh, bahwa kapal-kapal kompeni telah menyerang ke Maluku. Keadaan antara kerajaan gowa dengan kompeni makin memburuk, karena kedua-duanya memiliki kepentingan yang sama dalam bidang perdagangan. Oleh sebeb itu tidak dapat dielakkan terjadinya bentrokan.
Beberapa sebab yang menimbulkan suasana permusuhan adalah karena kelicikan orang-orang belanda yang hendak menagih hutang dari pembesar-pembesar gowa pembesar-pembesar ini diundang untuk dijamu , akan tetapi setibanya di kapal, mereka dilucuti. Timbulah bentrokan di mana jatuh korban. Peristiwa ini yang membuat orang-orang Makasar tidak senang kepada kompeni, yang dengan segala cara untuk memaksakan kehendaknya kepada raja gowa. Sebagai balas dendam awak sebuah kapal VOC yang tidak tahu menahu mengenai insiden pada tahun 1616 turun di sumba tanpa menaruh curiga, kemudian orang-orang makasar membunuh awak kapal tersebut. Peristiwa ini membuat jan peter coen menaruh dendam terhadap orang-orang Makasar yang mempersulit mereka dimana-mana.
Sikap antara VOC dengan orang makasar tidak ada lagi ampun mengampuni bila salah satu jatuh ketangan lainnya. Hal ini semakin meruncingkan keadaan, kedua belah pihak berlomba-lomba untuk menyebarkan pengaruhnya karena VOC menginginkan bagian terbesar dalam perdagangan rempah di Maluku, sedangkan pada waktu itu perdagangan ini ada di tangan orang-orang makasar, maka sering terjadi konflik.
Sebagai kerajaan maritime Kerajaan Gowa harus dilumpuhkan di laut, oleh karena itu blokir terhadap kerajaan gowa diadakan pada tahun 1634. VOC mengirim suatu armada ke Martapura. Armada ini terdiri dari enam kapal yang dilengkapi dengan persenjataan. Dari Martapuralah VOC menghadang perahu-perahu orang makasar yang berdagang lada. Disitulah mereka menerima perintah untuk tidak membuang-buang waktu dan langsung merusak, merongrong, menghancurkan merebut kapal portugis dan india yang berada di perairan Sombaopu serta tidak ketinggalan perahu-perahu milik orang Makasar.  Di samping merusak dan merongrong musuh mereka, desa-desa dan kota-kota di kerajaan gowa juga harus dimusnahkan. Namun misi tersebut tidak mengenai sasaran, karna Raja Gowa telah mendapat berita dari jepara tentang rencana VOC, sehinnga tiga minggu sebelumnya kapal-kapal portugis telah berangkat menuju Kakao. Perahu dagang kaum pribumi telah berangkat. Armada belanda hanya berasil memblokir suatu armada kecil yang akan menuju Maluku atau memberi bantuan kepada Maluku melawan VOC. Armada kecil itu kemudian lolos karena rampingnya dapat menusuri pantai karan tanpa dapat menghindari kompeni dengan kapal besarnya. Armada Makasar ini dengan lajunya menuju Ambon.
Pada tahun berikutnya VOC diperkuat lagi dalam blokade, tetapi kekuatan ini tidak dapat menghindari lolosnya perau-perahu makasar, orng-orang makasar mellui jalan darat menyeberang ke timur tepatnya di pantai yang berbatasan dengan Bone dan dari sanalah mereka berlayar menuju Maluku untuk berdagang. Untuk beberapa waktu keadaan yang sulit dialami oleh VOC.  Buton juga tidak dapat membantu VOC karena berada dibawah pengaruh kerajaan gowa, di Buton tidak banyak terjadi penyerbuan dan pembunuhan terhadap orang-orang VOC. Karena keadaan ini maka VOC kembali mengambil jalan untuk mendekati kerajaan gowa kembali. Suatu utusan dikirim untuk mengadakan perdamaian, utusan ini disambut dengan baik dan raja menyambut maksud ini akan tetapi pelayaran antara Malaka dan seram untuk kehidupan bangsanya. VOC tidak setuju akan hal ini dan raja kemudian raja menyetujui bilamana orang-orang makasar masuk perairan kekuasaan kompeni dapat dianggap sebagai musuh, jadi dapat diserang tanpa memutuskan kontrak antara gowa dan kompeni. Perjanjian perdamaian berlangsung dari 1637 hingga 1654. Selama perjanjian berlangsung banyak terdapat hal-hal yang membawa kedua belah pihak kejurang peperangan. Sebagai contoh kejadian pada tahun 1638 VOC merampok angkutan kayu cendana yang telah dijual oleh orang-orang makasar kepada orang-orang Portugis. Orang-orang Portugis yang berlayar dengan membawa bendera Kerajaan Gowa memprotes, pembesar-pembesar kerajaan Gowa membela mereka. Ganti kerugian dituntut kepada VOC. Pada awalnya mereka tidak mau mengganti rugi sehingga Karaeng Petengaloan dan Baraung mengancam untuk mengusir VOC dari Sombapou. Atas ancaman tersebut VOC terpaksa membayar apa yang dituntut oleh pembesar-pembesar kerajaan Gowa tersebut. Sebab-sebab lain adalah hak-hak istimewa yang diberikan oleh raja Gowa kepada orang Denmark, Portugis, dan Inggris dalam mengirimkan bantuan pasukan dan senjata kepada Hitu dan Seram.
Perang terbuka pecah pada tahun 1654 hingga 1655 yang terjadi dibeberapa tempat seperti di pelabuhan Sombopou, Buton, Maluku. Bagi VOC perang ini yang hrus dijalankan sekaligus di beberapa tempat yang berjauhan sangat merepotkan, oleh karena itu mereka kembali membuat pendekatan kepada Gowa untuk membuat perjanjian, namun Gowa menolak dengan gigih dan meneruskan perang meskipun menghadapi kekurangan bahan makanan dan senjata.paa bulan maret 1655 Majira menyerbu benteng luku dan seram kecil, namun gagal. Bagi VOC pengeluaran uang untuk perang saat itu sangat tinggi, sehingga VOC meminta bantuan ke Batavia untuk membuat perjanjian. Hal ini terlaksana tanggal 27 februari 1656. Isi perjanjian ini menurut VOC sangat menguntungkan gowa seperti membolehkan gowa menagih hutangnya di ambon, melepaskan tawanan masing-masing, musuh VOC bukan Raja Gowa, VOC tidak boleh ikut campur dengan urusan orang Makasar.
Dengan perjaanjian yang mereka anggap sangat merugikan VOC maka kembali erjadi perang, pada 1660 suatu ekspedisi yang terdiri dari 31 kapal dan 2600 pasukan dikirim ke Sulawesi. Perang mulai berkobar ketika paukan ini tiba di pelabuhan Sombapou dan berhasi merebut benteng penakukang. Atas kekalahan ini raja gowa dipaksa menandatangani suatu perjanjian yang sangat merugikan karena harus melepaskan Buton, Manado dan Maluku. Dan portugis harus meninggalkan kerajaan Gowa.  
Daftar pustaka
1.      Kartodirdjo, Sartono. 1999. Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
2.      Poesponegoro, Marwati Djoened.1993.sejarah nasional Indonesia III.Jakarta.Balai Pustaka

Pemberontakan Ki Tapa (Pahlawan Banten)


Rizki Aiditya/SI3/B
Kapal-kapal yang berlayar dengan menggunakan urat jalannya menggunakan perdagangan yang aktif di Nusantara. Atas bantuan oiak inggris, Denmark, dan cina, maka orang-orang banten berdagang dengan Persia, india, siam, Vietnam cina, pilipina dan jepang. Sultan agung merupakan musuh dari VOCyang kuat. Pihak belanda ingin mendapatkan hak monopoli pedagangan lada di banten yang sangat kaya ini dan merasa cemas akan adanya sebuah Negara yang kaya dan sangat kuat yang letaknya dekat dengan markas besar mareka di Batavia.
Permusuhan Banten dengan VOC yang mengiringi takluknya Batavia pada tahun 1619 telah dibahas dalam beberapa bacaan. Pada tahun 1633 terjadi lagi peperangan lain yang berakhiar dengan dicapainya   suatu persetujuan yangsamar-samar untuk menghentikan permusuhan. Pada tahun 1645 ditandatngani suatu perjanjian yang mengatur hubungan VOC dan Banten. Akan tetapi segera timbul lagi konflik ketika sultan agung naik tahta pada tahun1651. Pada tahun 1656 meletus perang: pihak Banten menyerang daerah-daerah Batavia dan kapal-kapal VOC, sedangkan VOC memblokade pelabuhan. Pada tahun 1659 tercapai suatu penyelesaian damai.
Putra mahkota banten yang kelak bergelar sultan haji 1682-1687 menjalankan kekuasaan yang sangat besar di banten dan dijuluki oleh VOC sebagai sultan muda sementara ayahnya dijuluki sultan tua. Ambisi ayah dan anak telah menimbulkan konflik dan hubungan dengan VOC tentu saja terbawa-bawa ke dalam pertikaian-pertikaian mereka. Istana terpecah menjadi dua kelompok. Pihak putra mahkota berupaya untuk meminta bentuan kepada belanda. Dan pihak dari sultan agung sendiri menentang VOC yang semakin hari semakin semena-mena dan muali melanggar perjanjian yang telah disepakati. Pihak sultan agung juga didukung oleh golongan elite islam.
Pada bulan maret 1682 sebuah pasukan VOC yang dipimpin oleh francois tack dan Isaac de saint-martin berlayar menuju banten. Pada saat ini putra mahkota sudah terkepung di dalam istananya. Para pendudkung sultan agung telah berhasil kembali merebut kota tersebut dan membakarnya. Pangeran secara sempurna tunduk kepada VOC, dan VOC pun mengakuinya sebagai sultan Banten. Belanda kini berperang di pihaknya. Orang-orang eropa yang selain VOC melakukan perdagangan di banten diusir, orang-orang inggris mengundurkan diri ke Bengkulu, sumatera selatan yang merupakan pos permanen mereka yang masih aktif di Indonesia.
Artileri pihak belanda memaksa keluar sultan agung dari kediamannya, dan setelah dikejar sampai daerah pegunungan, maka pada bulan maret 1683 dia menyerah. Untuk beberapa waktu lamanya dia ditahan di Banten, dan dipindahkan ke Batavia kemudian beliau meninggal tahun 1695. Dan banten di kuasai total oleh VOC sejak itu. 
Ketidakstabilan kerajaan-kerajaan sebagai system politik terwujud setiap kali ada pergantian tahta, bahkan pada masa pemerintahan seorang raja masalah pergantian sudah menjadi sumber pertentangan yang memuncak sebagai krisis politik. Apa yang terjadi di Banten sekitar tahun1750 dapat dipandng sebagai suatu coup de, etat di lingkungan istana atau semacam revolusi istana. Yang menjadi tokoh pusat dalam hal ini ialah permaisuri putri mahkota ratu Syarifah Fatimah, seorang putri dari ulama arab. Sebagai putra Sultan Zainal Abidin, Ranamanggala baru diangkat menjadi putra mahkota setelah kakanya Muhammad soleh , mati terbunuh. Pada tahun 1733 dia menggantikan ayahnya dan berelar Sultan Abdulfatah Muhammad Syafii Zainal  Arifin. Segera ratu Syarifa Fatimah memakai sebutan ratu sultan serta mulai memperluas kekuasaannya.
Dengan intriknya sultan dan putra mahkota diadu domba sehingga yang terakhir bersama pengikutny mengungsi ke Batavia. Kemudian sebagai penggantinya diusulkan seorang kemenakannya yang telah menikah dengan seorang putra sultan yang lahir dari istri lain. Ialah syarif Abdullah Muhammad syafei. Kekuasaan ratu syarifah semakin bertambah luas setelah sultan zainal arifin menderita penyakit jiwa. Banyak kelaliman dan kesewenang-wenangan terjadi singga para pembesar merasa tidak aman berada di lingkungan keraton.  Berdasarkan saran dari ratu syarifah diangkat sebagai wali seperti yang ditetapkan dalam akte 28 november 1748. Peralihan kekuasaan berjalan sangat licin dengan dukungan VOC yang sudah barang tentu menuntut balas jasa yaitu penyerahan hasil lada.
Usurpasi ratu syarifa Fatimah tidak hanya berhasil menyingkirkan dinasti lama serta menggantikannya dengan keluarganya sendiri, akan tetapi kekasaanya merajalela dalam arti sebenarnya dan menjadi suatu despotism.  Semua selir sultan diusir dari keratin dan para pembesar dicemoohkan akan sifat pengecutnya dalam menghadapi kumpeni. Kesemuanya  itu dijalankan di dalam pengawasan kumpeni yang bersikap masa bodoh terhadap hal ini dan membiarkan ratu syarifah bertindak demikian selama dia menjamin kelanaran penyerahan lada kepada kumpeni. Memang sejak semula hubungan antara banten dengan  VOC  berkisar sekitar perdagangan lada dan mengusir semua penyaing dari sana.
Revolusi istana tersebut dapat diduga membawa pengaruh besar di kalangan rakyat yang masih sangat loyal kepada kesultanan dengan dinastinya. Kegelisahan menjurus kesuatu pergolakan besar dan kecenderungan structural sudah membuat rakyat yakin untuk bergerak. Tidak mengherankan apabila Ki Tapa sebagai seorang keramat yang penuh kewiabawaan, dalam waktu singkat dapat memoblisasi si pengikut yang banyak dan jauh sampai daerah bogor. Kepemimpinan gerakan diperkuat dengan tergabungnya ratu siti seorang istri sultan yang terasingkan dan ratu bagus buang. Pura dari Panembahan pangeran putra yang mengungsi ke Batavia pada masa pemerintahan sultan zainal arifin. Rakyat percaya bahwa dia belum meninggal dan memimpin pemberontakan, maka segera pergolakan menjadi luas sekali
Pada awal November  arisan di bawah gerakan Ki Tapa mulai mengepung ibu kota.  Dalem sultan, benteng speelwijk, dan pos karangatu terancam semua . ada lagi bangsawan yang mengabungkan diri dengan pemberontak, antara lain Raden Derma, saudara sultan dan pengaeran Madura, seorang kemenakannya. Barulah kompeni menyadari benar bahwa keresahan dan ketidakpuasan rakyat disebabkan oleh pergeseran dinasti banten banten. Segera kompeni mengambil keputusan untuk mengasingkan ratu syarifah dan putra mahkota ke pulau edam
Dengan tindakan itu keadaan belum mereda bahkan ada kekhawatiran pada kompeni kalau-kalua pergolakan akan meluas ke Lampung dan dengan demikian akan membahayakan produksi lada di sana. Lagipula ditakutkan  bahwa pihak inggris dari Bengkulu akan dapat memberi bantuan kepada pemberontak. Sementara waktu kompeni tidak berdaya oleh karena perang perebutan tahta di Jawa Tengah memerlukan konsentrasi pasukannya di sana. Dengan diserbunya pos di daerah tersebut, tamatlah kekuasaan kompeni itu.
Ratu bagus buang diangkat sebagai sultan denga gelar abinadir mohamad jusuf ahmad adil aralikfidin dan menikah dengan ratu siti dengan maksud untuk memperkuat legimitasnya di tahta banten. Ki Tapa mengorbankan semangat rakyat denan mendengungkan cita-cita perjuangannya, ialah mengusir belanda dari Jawa, jalan antara Banten dan Jasinga diduduki, desa-desa di tepi cidani di bakar, antara lain kadipaten jampang dan curipan. Ofensifnya ditujukan ke daerah antara cidani dan ciliduk, dimana banyak penggilingan gula dihancurkan. Pertahanan kompeni di tepi sungai angke di muara cidani, tangerang dan ciampea. Barisan Ki Tapa diserang dari dua sisi, sehingga terpaksa mundur. Pertahanan mereka satu persatu jatuh ketangan kumpeni pada 13 juli 1751.
Dalam ekspedisi selanjutnya rakyat di daerah pontang, tanara, dan aringin dapat ditundukkan oleh pasukan Kompeni. Namun perlawanan barisan Ki Tapa masih meneruskan perjuangannya dengan konsentrasi kekuatan di sekitar gunung karang dengan bantuan pangeran wali dan pangeran Mustafa jayamanggala seorang kemenakan sultan yang dibuang ke Ambon, eksoedisi terus dijalankan. Dalam pertempuran cibdas pada tanggal 17 agustus 1751 barisan pemberontak mengalami kekalahan besar. Ki Tapa menyelamatkan diri ke selatan. Dengan bantuan Mustafa  van ossenberg dan couvert memperoleh kemenangan yang sangat menentukan itu.
Pada awal bulan desember 1751 sisa-sisa barisan pemberontak di bawah pangeran Madura dan aria suba beroperasi di daerah bogor, khususny di lereng gunung salak. Karena tidak dapat berjalan , ratu bagus buang terpaksa menyerah kepada kumpeni.
Kebijaksanaan VOC untuk memanggil kembali putra mahkota yang sah, pangeran gusti dari sailan menimbulkan ketegangan di kalanga istana. Pangeran wali merasa terancam kedudukannya dan mengadakan kontak dengan golongan pemberontak. VOC menghadapi suatu dilemma, oleh karena pangeran wali dianggap kurang akap untuk memangku jabatan pimpinan. Dalam gerakannya itu dia dibantu oleh pangeran hamid dan raja sulaiman. Keduanya kemudian diamankan ke Batavia.
Keributan sekitar masalah pergantian tahta membangkitkan semangat pemberontak lagi. Barisan Ki Tapa bergerak ke Pulosari, sedang barisan ratu bagus ke caringin, kedua pasukan dikonsentrasikan dekat ibu kota. Pertahanan diserang oleh pimpinan patih Aria Kusumadiningrat dan pangeran rajasantika. Akhirnya kumpeni dapat menyelesaikan masalah tahta banten . berdasarkan prinsip bahwa banten telah ditakhlukkannya lewat perang sehingga berada di bawah suzeeinitas VOC dan diperintahnya untuk menjamin ketentraman dan ketertiban.
Karena ada rasa hormat terhadap sultan haji abunasir abdulkahar, maka pemerintah banten sebagai leegoed/ feodum diserahkan kepada pangeran wali yang diangkat sebagai sultan dengan gelar paduka sri sultan abdulmaali mhammad wakiul halimin. Sekaligus pangeran gusti diangkat resmi sebagai putra mahkota. Sudah barang tentu pengangkatan itu dibubuhi persyaratan lain, seperti hak monopoli lada dan penutupan banten bagi pedagang asing.
Pengangkatan pangeran gusti sebagai putra mahkota menimbulkan keresahan baik di kalangan keraton maupun diantara pemberontak. Berkali-kali hidupnya terancam dan menurut dugaan karena persekongkolann di bawah pimpinan istri sultan (pangeran wali).  Sebaiknya  pangeran gusti sangat ambisius dan berusaha keras agar segera dapat naik tahta. Sebagai cucu sultan haji dari kedua pihak orang tuanya merasa punya hak penuh atas tahta. Dia mendesak kepada VOC  agar pangeran wali menyerahkan tahta kepadanya. Baik pihak pangeran wali maupun VOC menyetujuinya dengan kondisi bahwa pangeran wali tetap menerima penghasilannya seumur hidup. Putra mahkota bergelar  pangeran ratu abdulmufakir Muhammad aria zainul abidin. Penobatan diselenggarakan pada tanggal 17 april 1752.
Pada kesempatan itu para pemberontak diberi amnesti, kecuali Ki Tapa dan sekelompok pemimpin yang benar menolak perdamaian dengan VOC. Oleh karena itu pergolakan belum reda. Di daerah sekitar karang, kanari, karkasana, jasinga, dan lancer masih diduduki    oleh barisan pemberontak. Pontang dibumihanguskan. Barisan Ki Tapa terus bergerak semula disinyalir di hulu cidurian, kemudian pada akhir juni di caringin. Dalam pertempuran melawan pasukan pangeran rajanegara, barisan pemberontak mengalami kekalahan besar dan pecah pangeran Madura beserta ratu siti mengungsi ke pegunungan di anten selatan sedangkan Ki Tapa dan ratu bagus berhijrah ke Jawa tengah untuk menggabungkan diri dengan pemberontak di sana.
DAFTAR PUSTAKA
Ricklefs, M. C, 1991, Sejarah Indonesia Modern,  Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
 Kartodrdjo, Sartono, 1999, Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900 dari Emporium sampai Imporium, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama