Nasakom

Muhammad Hasbi / SIV

Nasakom adalah singkatan Nasionalis, Agama dan Komunis, dan merupakan konsep dasar Pancasila. Konsep ini diperkenalkan oleh Soekarno Presiden pertama Republik Indonesia yang menekankan adanya persatuan dari segala macam ideology Nusantara untuk melawan penjajahan, dan sebagai pemersatu Bangsa untuk Revolusi rakyat dalam upaya memberantas kolonialisme di bumi Indonesia. Dengan penyatuan tiga konsep ini (Nasionalis, Agamis dan Komunis) Soekarno berusaha untuk mengajak segala komponen bangsa tanpa melihat segala perbedaan yang ada. Baik itu perbedaan Religius maupun suku dan budaya. Bisa di katakan bahwa Nasakom adalah penjelmaan atau penerapan daripada Pancasila, terutama azas Bhineka Tunggal Ika.
Teori Nasakom, telah lahir dan di rumuskan oleh Sukarno Sejak tahun 1926, yang waktu itu di istilahkan dengan tiga hal pokok yakni "Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Yang pada intinya di persatukan dalam satu tujuan yaitu Gotong-royong (bekerja bersama-sama) untuk Revolusi Indonesia dalam melawan Imperialisme.
namun ideologi ini runtuh ketika tragedi 30 september yang diduga adalah rekayasa kudeta yang dilakukan rezim soeharto dengan memanfaatkan musuh politiknya (Partai Komunis Indonesia / PKI) yang kemudian di lakukan penghapusan pada partai tersebut dan di sertai dengan pembantaian rakyat indonesia yang terkait dengan partai tersebut yang di prediksi antara satu juta lebih jiwa yang terbantai pada peristiwa tersebut, dan merupakan pelanggaran HAM terberat sepanjang sejarah Indonesia.
Mendekontruksikan Nasakom
Konsep nasakom saya tempatkan sebagai bagian penting dalam makalah ini yang merupakan pemikiran sejati bung karno. Bahkan menurut saya, ajaran inilah yang layak untuk menjawab pertanyaan mengenai bagaimanakah pemikiran dan ajaran-ajaran bung karno. Obsesi untuk menyatukan aliran nasionalisme, agama, dan komunisme tampaknya adalah hal yang paling tepat untuk memahami pemikiran bung karno. Konsep itu di akhir tahun 1920-an telah melejitkan namanya, dan pada awal tahun 1960-an juga ditegaskannya kembali.
Nasionalisme, agama, dan komunisme ( nasakom ) tidak lebih dari ideology yang harus dipahami sebagai konsepsi pemikiran yang digunakan untuk melawan penjajahan dan penindasan atau imperialisme. Cara inilah menurut saya, yang paling tepat untuk memahami sejenis pemikiran apakah nasakom itu. Kalau kita jeli, ketiga ideology itu dalam cara pandang bung karno diekspresikan untuk membangun bangsa yang kuat, luas, yang dipilari pertama-tama oleh persatuan dan kemudian keadilan social yang diperoleh setelah upaya melawan penjajahan ( imperialism ) mencapai kemenangan.
Sebagai pemikiran politik, yang mulai ditangkap soekarno setelah pemberontakan radikal babak pertama ( dibawah pimpinan PKI akhir tahun 1926 dan awal tahun 1927 ) yang dapat diberangus oleh kolonialis belanda, maka pada akhir tahun 1920-an soekarno muncul sebagai aktivis gerakan yang memiliki kemampuan yang lihai dalam menangkap kehendak dan tuntutan rakyat akan kemerdekaan dari penjajahan. Artikelnya berjudul "Nasionalisme, Islam, dan Marxisme", yang ditulis tahun 1926 dalam " suluh Indonesia Muda",adalah cikal-bakal konsep Nasakom yang dilontarkan kembali pada pertengahan tahun 1960-an.
Bung karno hanya ingin membedakan bahwa pemikiran politiknya tidak sama dengan orang lain. Bung karno sendiri sering kali menyatakan bahwa kewpercayaannya untuk mencampurkan ketiga ideology itu merupakan Sesutu hal yang membedakan pemikirannya dengan orang lain, mungkin kita bias ideology soekarnoisme : nasakom sama dengan Soekarnoisme.
Soekarnoisme, tampaknya merupakan istilah yang dimaksudkan untuk mencirikan bahwa bung karno dapat secara mandiri menggagas hasil pemikirannya sendiri. Jika kita sepakat bahwa pemikiran seorang ideology tersebut, maka memang penting untuk memahami latar belakang tersebut, maka memang penting untuk memahami latar belakang kenapa bung karno menggulirkan gagasan ideologisnya itu.
Bung karno adalah ia yang mengambil semua hal yang dirasanya baik bagi persatuan Indonesia agarkesatuan bangsa yang terdiri dari pulau-pulau itu tetap bertahan. Tentu saja bukan semata-mata persatuan , tetapi persatuan yang diarahkan pada perlawanan terhadap penindasan. Karenanya, nasionalisme bung karno bukanlah nasioanalisme semu dimana rakyat hanya disuruh bersatu tanpa menunjukkkan adanya musuh-musuh yang kongkret.
Boleh saja orang beranggapan bahwa nasionalisme, islam, dan marxisme-sosialisme-komunisme tak bisa disatukan. Mungkin orang yang memegang pandangan seperti itu tidak menguak secara lebih jauh potensi dari masing-masing ideology untuk dapat bersatu. Karenanya, perlu sekali untuk mengetahui bagaimana masing-masing ideology ( dalam nasakom ) sesuai dengan pandangan bung karno. Jika nasionalisme dipahami secara sempit, sebagaimana chauvinism ataupun rasionalisme kebangsaan, dia memang tidak akan dapat disambungkan dengan ideology lainnya, seperti marxisme dan islam yang tak mengenal ras dan suku bangsa ( pan-islamisme dan internasionalisme dalam sosialisme ). Karena itulah, untuk memahami nasakom, orang harus mengerti dulu pada sisi mana masing-masing ideology ( baik nasionalisme, islamisme, maupun komunisme ) secara baik dan benar. Untuk meyakini kebenaran nasakom, orang tak bias menjadi nasionalis sempit, islam sempit, atau marxisme salah kaprah. Saat
gagasan dituliskan pada tahun 1926, bung karno sudah mengingatkan seperti ini:
"Nasionalis yang sejati, yang cintanya pada tanah air itu bersendi pada pengetahuan atas susunan ekonomi-dunia dan riwayat, dan bukan semata-mata timbuil dari kesombongan bangsabelaka__nasionalis yang bukan chauvinis,tidak boleh tidak,haruslah menolak segala paham pengecualian yang sempit budi itu. Nasionalis yang sejati yang nasionalismenya itu bukan semata-mata suatu copy atau tiruan dari nasionalisme barat, akan tetapi timbul dari rasa cinta akan manusia dan kemanusiaan_nasionalis yang menerima rasa nasionalismenya itu sebagai suatu wahyu dan melaksanakan rasa itu sebagai suatu bakti…baginya, maka rasa cinta bangsa itu adalah lebar dan luas,dengan memberi tempat pada segenap sesuatu yang perlu untuk hidupnya segala hal yang hidup"
Intinya, nasakom akan mudah diterima oleh mereka yang berpikiran luas dan lapang, orang yang berpengetahuan luas dan selalu menganalisis berdasarkan pengetahuan terhadap perkembangan atau "susunan" ekonomi dunia, serta memahami kontradiksi-kontradiksi yang berkembang didunia dengan pengaruhnya ke negaranya sendiri; dan dengan menganalisis corak produksi dan pemikiran masyarakat sendiri. Bung karno, sebagai penggagas nasakom, memang mengetahui susunan ekonomi dunia, sekaligus memahami perkembangan masyarakatnya sendiri. Dan ia melihat bahwa ideology-ideologi yang berkembang di masyarakatnya itu sebagai jawaban atau reaksi yang 'pas' untuk melawan penjajahan asing.
Singkatnya, nasakom bertemu dalam suatu proyek anti-penjajahan asing. Jadi, kaum nasionalis yang tidak anti-penjajahan asing, tak mungkin ia setuju dengan nasakom; islamis yang tak anti-penjajahan asing, mustahil ia akan pro-nasakom; dan komunis yang tak tahu bahwa semangat nasionalisme dan agama juga dapat digunakan untuk melawan imperialism, mustahil ia pro-nasakom. Tak heran jika sejak kelahirannya, nasakom diserang dan dimusuhi oleh islam sempit, nasionalis picik, atau marxis yang ke-kiri-kirian!
"apakah rasa nasionalisme, yang oleh kepercayaan akan diri sendiri itu, begitu gampang menjadi kesombongan bangsa, dan begitu gampang mendapat tingkatnya yang kedua, ialah kesombongan ras, walaupun paham ras (jenis) ada setinggi langit bedanya dangan paham bangsa oleh karena ras itu ada suatu paham biologis, sedang nasionalitas itu suatu paham sosiologi (ilmu pergaulan hidup)_apakah nasionalisme itu dalam perjuangan jajahan dapat bergandengan dengan islamisme yang dalam hakikatnya tiada bangsa, dan dalam lahirnya dipeluk oleh bermacam-macam bangsa dan bermacam-macam ras-apakah nasionalisme itu dalam politik colonial dapat rapat diri dengan marxisme yang internasional interracial itu?".

Daftar pustaka :
Wikipedia,
Soyomukti,Nurani.Soekarno&Nasakom.Jogyakarta:Garasi,2008

Fase-fase Pahlawan sebelum kebangkitan nasional


ABDURRAHMAN SI III / A

1.      Kapiten Pattimura
Lahir                : Saparua, Maluku, 8 Juni 1783
Wafat              : Ambon, 16 Desember 1817
Makam            : Ambon
                        Bernama asli Thomas Mattulessi, Pattimura pernah mengikuti pendidikan militer saat Inggris berkuasa di Maluku dan memperoleh pangkat sersan mayor. Namun, belanda kembali berkuasa di Maluku karena terikat pada Konvesi London (13 Agustus 1814), yaitu perjanjian yang mewajibka Inggris untk mengembalikan wilayah Nusantara kepada Belanda termasuk Maluku.
                        Pada tanggal 14 Mei 1817, seluruh rakyat Separua bersumpah setia mengangkat Thomas Mattulessi sebagai Kapiten Pattimurs untuk mrlakukan pemberontakan terhadap Belanda. Pada tanggal 16 Mei 1817, Pattimura berhasil merebut Benteng Duurstede dan menewaskan Residen Van den Berg. Perjuangan Kapiten Pattimura dibantu oleh Paulus Tiahahu dari Nusa Laut, Anthony Reebook wakilnya di Saparua, dan Kapiten Philip Latumahina.
                        Akibatnya pengkhianatan Raja Booi dan politik devide et empera, akhirnya pada tanggal 11 November 1817 Pattimura berhasil ditangkap oleh Belanda. Pattimura ditangkap bersama pemimpin-pemimpin lainnya dan dijatuhi hukuman mati.
                        Pada tanggal 16 Desember 1817, Kapiten Pattimura, Anthony Reebook, Philip Latumahina dan Said Parintah dihukum mati dengan cara digantung di depan benteng Nieuw Victoria di Ambon. Sementara itu Paulus Tiahahu dihukum tembak mati di depan rakyatnya di Nusa Laut.
                        Untuk menghormati jasa-jasa Kapiten Pattimura, berdasarkan surat keputusan Presiden RI. NO. 087 / TK /b1973, pemerintah menganugrahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya.
2.      Pangeran Antasari
Lahir                : Banjarmasin, 1797
Wafat              : Bayan Begak, 11 Oktober 1862
Makam            : Banjarmasin
Perlawanan rakyar Banjarmasin terhadap Belanda dimulai saat Belanda
mengangkat Tamjidillah sebagai sultan Banjar menggantikan Sultan Adam yang wafat. Rakyat Banjat dan Kesultanan Banjar termasuk pangeran Antasari menuntut agar Pangeran Hidayatullah sebagai pewaris sah tahta Kesultanan Banjar, harus menjadi Sultan Banjar. Sejak saat itulah rakyat Banjar dengan dipimpin oleh Pangeran Hidayatullah, Pangeran Antasari dan Demang Leman mengangkat senjata melawan Belanda.
            Pangeran Antasari berhasil menyerang dan menguasai kedudukan Belanda di Gunung Jabuk. Pangeran Antasari juga menyerang tambang batubara Belanda di Pengaron. Pejuang-pejuang Banjar juga berhasil menggelamkan kapal Onrust beserta pemimpinnya, seperti Letnan Van der Velde dan Letnan Bangert. Peristiwa yang memalukan Belanda ini terjadi atas siasat Pangeran Antasari dan Tumenggung Suropati.
            Pada tahun 1861, Pangeran Hidayatullah berhasil ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Pangeran Antasari kemudian mengambil alih pimpinan utama. Ia diangkat oleh rakya sebagai Penembahan Amiruddin Khalifatul Mu'min sehingga kualitas peperangan menjadi semakin meningkat karena ada unsure agama. Sayang, Pangeran Antasari akhirnya wafat pada tanggal 11 oktobe 1862 karena penyakit cacar saat itu sedang mewabah di Kalimantan Selatan. Padahal, saat itu ia sedang menyiapkann serangan besar-besaran terhadap Belanda.
            Untuk menghormati jasa-jasa Pangeran Antasari berdasarkan keputusaan Presiden RI. NO. 06 / TK/ 1968, Pemerintah menganugrahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional kepadanya.
3.      Pangeran Diponegoro
Lahir                : Yohyakarta, 11 November 1785
Wafat              : Makassar, 8 Januari 1885
Makam            : Makassar                                                                      
Nama asli Pangeran Diponegoro adalah Raden Mas Ontowiryo. Ia juga bergelar "Sultan Abdul Hamid Herucokro Amirulmukmin". Pangeran Diponegoro adalah anak dari Pangeran Adipati Anom (Hamengkubuwono III) dari garwa ampeyan (selir). Perlawanan Pangeran Diponegoro dimulai ketika dia dengan berani mencabut tiang-tiang pencang pembangunan jalan oleh Belanda yang melewati rumah, masjid, dan makam leluhur Pangeran Diponegoro. Pembanguna jalan ini dilakukan atas inisiatif Patih Danurejo IV yang menjadi antek Belanda. Belanda yang dibantu Patih Danurejo IV kemudian menyerang kediaman Pangeran Diponegoro di Tagalrejo. Sejak saat itu, berkobarlah perang besar yang disebut Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-1830).
            Belanda sulit mengalahkan Pangeran Diponegoro yang menggunakan taktik gerilya. Dengan dibantu oleh Kyai Mojo (Surakarta), sentot Alibasya Prawirodirjo, Pangeran Suryo Mataram, Pangeran Pak-pak (Serang), Pangeran Diponegoro berhasil memberikan perlawanan yang hebat kjepada Belanda.
            Belanda telah menggunakan berbagai cara untuk menangkap Pangeran Diponegoro namun gagal. Sampai pada akhirnya digunakanlah siasat licik dengan berpura-pura mengajak berunding dan berjanji aka menjaga keselamatannya. Namun ternyata Belanda ingkar janji dan menangkap Pangeran Diponegoro pada tanggal 28 Maret 1830 saat terjadi perundingan di Magelang. Tanpa rasa malu Jenderal Hendrik de Kock menangkap Pangeran Diponegoro agar perang besar di pulau Jawa tersebut dapat segera diakhiri. Pangeran Diponegoro kemudian dibuang ke Manado dan ditempatkan di Benteng Amsterdam. Namun, empat tahun kemudian ia dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar hingga wafatnya dan dimakamkan di Kampung Melayu, Makassar.
            Untuk menghormati jasa-jasa Pangeran Diponegoro, berdasarkan surat keputusan Presiden RI. NO. 087/TK/1973, pemerintah menganugrahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya.
4.      Sisingamangaraja XII
Lahir                : Bakkara, Tapanuli, 1849
Wafat              : Simsim, 17 Juni 1907
Makam            : Pulau Samosir
            Nama aslinya adalah Patuan Besar Ompu Pulo Batu. Nama Sisingamangaraja baru dipakai pada tahun 1867, setelah ia diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya yang mangkat. Sang ayah meninggal akibat serangan penyakit kolera.
            Februari 1878, Sisingamangaraja mulai melakukan perlawanan terhadap kekuasaan colonial Belanda. Ini dilakukannya untuk mempertahankann daerah kekuasaannya di Tapanuli yang dicaplok Belanda. Dimulai dari penyerangan pos-pos Belanda di Bakal Batu, Tarutung. Sejak itu penyerangan terhadap pos-pos Belanda lainnya terus berlangsung diantaranya sebagai berikut :
-          Mei 1883, pos Belanda di Ulun dan Balige diserang oleh pasukan Sisingamangaraja.
-          Tahun 1884, pos Belanda di Tangga Batu juga dihancurkan oleh pasukan Sisingamangaraja.
Tahun 1907, Belanda berhasil memperkuat pasukan dan persenjataan. Kondisi ini membuat pasukan Raja Batak ini semakin terdesak dan terkepung.pada pertempuran yang berlangsung di Pak-pak inilah Sisingamangaraja XII gugur tepatnya pada tanggal 17 juni 1907. Bersama-sama dengan putrinya (Lopian) dan dua prang putranya (Patuan Nagari dan Patuan Anggi).
      Sisingamangaraja kemudian dimakamkan di Balige dan selanjutnya kembali dipindahkan ke Pulau Samosir. Sisingamangaraja XII dianugrahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI NO.590/1961.
5.      Sultan Mahmud Badaruddin II
Lahir                : Palembang 1767
Wafat              : Ternate, 26 November 1852
Makam            : Ternate, Maluku Utara
            Semenjak ditunjuk sebagai Sultan Kerajaan Palembang menggantikan ayahnya Sultan Muhammad Baha'uddin, Mahmud Badaruddin melakukan perlawanan terhadap Inggris dan Belanda. Ketika Batavia berhasil disusuki Inggris pada tahun 1811, Sultan Mahmud justru berhasil membebaskan Palembang dari cengkraman Belanda pada tanggal 14 Mei 1811.
            Tahun 1812, peprangan dengan Inggris dimulai karena Sultan tidak mau mengakui kekuasaan Inggris di Palembang. Maret 1812, Inggris berhasil menguasai Palembang dan mengangkat Najamuddin menggantikan Sultan Mahmud Badaruddin II yang menyingkir ke Muara Rawas.
            Berdasarkan Konvesi London tahun 1814, kekuasaan Belanda di Indonesia harus dipulihkan, tahun 1818 Inggri mengembalikan kekuasaan Palembang kepada Belanda. Selanjutnya Inggris juga kembali mengangkat Sultan Mahmud Badaruddin II sebagai Raja Palembang.
            Namun sejak tahun itu pula perang antara Sultan Mahmud Badaruddin II dengan Belanda kembali berkobar. Tanggal 1 Juli 1821, kesultanan Palembang berhasil diduduki Belanda dan Sultan berhasil ditawan.Sultan Mahmud Badaruddin II kemudian dibuang ke Ternate, Maluku Utara hingga wafatnya. Sultan Mahmud Badaruddi II tercatat sebagai salah satu Pejuang Nasional yang melakukan perlawanan terhadap dua penjajah sekaligus yaitu Inggris dan Belanda.
            SK Presiden RI.NO063/TK/1984 menganugrahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya.
DAFTAR PUSTAKA
Arya Ajisaka,2004. Mengenal Pahlawan Indonesia.Depok:Kawan Pustaka
Kuncoro hadi dan Sustianingsih,2013. Pahlawan Nasional.Yogyakarta:Familia

Thomas Stamford Raffles

Abdurrahman/SI   III/ A

1.     Gubernur yang pertama berjiwa Libelarisme.
Setelah kekalahan Belanda dan Prancis, semua daerah kekuasaan Belanda di Nusantara pindah ketangan pemerintah Inggris pada tahun 1811 sampai 1816. Kekuasaan itu mencakup Jawa, Pelembang, Banjarmasin, Makassar,Madura, dan sunda kecil,dan pusat pemerintahannya berkedudukan di Madras India, dengan Lord Minto sebagai gubernur jendral. Pemerintahan di bekas daerah belanda itu di pimpin oleh seorang letnan gubernur Thomas Stamford raffles.
            Selama empat setengah tahun pemerintahannya, Raffles berusahan melaksanakan pembaruhaan yang bersifat liberal di Nusantara. Secara teoritis pembaruan itu mirip dengan usul-usul yang perrnah dikemukakan oleh Dirk van Hogendorp. Intinya, kebebasan berusaha bagi setiap orang, dan pemerintah yang berhak menarik pajak tanah dari penggarap. Pemerintahan dijalankan untuk mencapai kesejahteraan umum. Motifnya, kesadaran baru bahwa baik serikat dagang, terlebih lagi kekuasaan negara, tak mungkin bertahan hidup dengan memeras masyarakat.
            Dalam praktik, sedikit sekali cita-cita pembaruan itu dapat diwujudkan. Mengapa demikian? Pertanyaan ini dapat menjadi pokok bahasan yang menarik dan penting hingga jauh ke masa depan. Yang sudah pasti, hampir tak ada unsure dalam suasana kemasyarakatan di Nusantara waktu itu yang memudahkan terlaksananya rencana Raffles dalam waktu sedemikian singkat. Bahkan, pengetahuan yang cukup memadai tentang suasana itupun tidak dimiliki oleh Raffles.
            Tidaklah mengherankan bahwa seluruh rencana Raffles hanya dapat mengandalkan keahlian segelintir pejaba Belanda, terutama Herman Warner Muntinghe. Dia ini bekas Sekretaris Jendral dan Ketua Dewan Hindia dibawah Daendels. Namun demikian, ide yang terkandung dalam rencana itu diakui sangat berjasa dalam meletakkan ukuran pemerintahan demi kesejahteraan rakyat masa-masa selanjutnya.
            Cita-cita pembangunan itu diumumkan oleh Lord Minto sendiri dalam proklamasinya di tengah pertempuran, 11 September 1811. Ia menegaskan bahwa system monopoli Belanda yang merusak itu (vexatious system of monopoly) harus segera diganti dengan politik pemerintahan yang lebih menyejahterakan. Kepala Desa akan diberi kuasa mengatur penarikan pajak yang serendah mungkin dari penggarap.
            Selain itu dihapus pula hak pemerintah atas sebagian hasil bumi penduduk (contingenten) dan atas kerja rodi (herendiensten). Hal serupa dikenakan pula atas penguasa local (pantjendiensten). Kekuasaan local dibatasi hanya di bidang kepolisian. Penanaman kopi tidak lago dipaksakan, tetapi didorong, dan pemerintah akan membeli dari petani kelebihan hasil dengan harga tertinggi menurut pasar. Kebebasan berusaha dan berdagang dijamin. Hanya dalam penyediaan dan distribusi garam pemerintah bertanggung jawab. Itu pun akan dilakukan demi melindungi rakyat dari permainan harga yang sering tak terkendali.
            Pada 15 Oktober 1813. Dari istananya di Buitenzorg keluar pula proklamasi Raffles mengenai kaidah-kaidah perubahan itu (Proclamation, declaring the principles of the intended change of system). Dirinci dalam tujuh butir, secara umum kaidah-kaidah itu lebih mempertajam lagi proklamaso Lord Minto. Disebutkan, pemerintahan Raffles bertujuan "memperbaiki keadaan hidup penduduk dengan member perlindungan bagi kegiatan individu, yang akan menjamin pemanfaatan hasil keringat dengan tenang dan adil bagi setia kelompok dalam masyarakat.
          Yangpaling terkenal dalam pembaruan Raffles berdasarkan kaidah-kaidah itu adalah pelaksanaan pajak tanah (land-rent). Hal ini terkenal sebagian karena sama sekali berbeda dengan pola Belanda yang sebelumnya, yakni penyerahan hasil bumi secara paksa (contingenten) dari petani, sebagian lagi karena penguasa local, bahkan pejabat yang orang Eropa tak boleh ikut campur dalam pemungutan pajak tanah.
2.     Tangan Liberal yang Mendahului Zaman Land-rent
Namun demikian, sebelum kaidah-kaidah itu mulai dilaksanakan, Raffles harus mengikisi wibawa kekuasaan para pembesar Bumiputra tak ubahnya seperti yang dikerjakan oleh Daendles. Pengikisan wibawa itu menimpa Palembang, Cirebon, Jawa Tengah dan Makassar. Macam-macam dalih yang digunakan oleh Raffles untuk melemahkan raja-raja tersebut, tetapi alasan utamanya adalah mereka cenderung menonjolkan kedaulatan dan kemandirian. Setelah kekuasaan likal dikikis, Raffles membagi daerahnya menjadi 16 keresidenan, termasuk empat daerah kekuasaan Jawa Tengah.penguasaan daerah itu disebut resident menggantikan prefek, istilah ciptaan Daendles.
            Lalu tibalah saatnya, Oktober 1813, Raffles coba memperkenalkan sumber pendapatan pemerintahnya dari pajak tanah (land-rent). Pajak ini diharapkan dibayar dalam bentuk uang kontan. Hanya dalam keadaan terpaksa, rakyat boleh menggantikannya dengan hasil bumi, khususnya padi. Sehubung dengan itu dibedakan dua jenis mutu tanah dengan tingkat pajak yang berbeda pula, yaitu sawah dan tegalan. Hasil sawah kelas satu dibebani 50 persen pajak, kelas dua 40 persen, dan kelas tiga 33 persen. Hasil tagelan kelas satu kena pajak 40 persen, kelas dua 33 persen dan kelas tiga 25 persen.
            Kendati demikian, tak bisa disangkal unggulnya ideal pemerintahan yang diinginkan oleh Raffles dibanding pola Belanda. Penyerahan paksa hasil bumi membutuhkan kekuasaan perantara yang rumit. Kekuasaan perantaraan itu tidak hanya terdiri dari pejabar Belanda dan pembesar Bumiputra, tetapi juga orang-orang cina yang memborong tugas-tugas pemungutan (tax farming). Mereka tidak hanya mengambil lebih banyak untuk diri sendiri dari pada yang diterima oleh pemerintah, tetapi juga melemahkan masyarakat dengan pemerasan hasil dan tenaga rodi. Ideal pemerintahan Raffles mensyaratkan, tak ada pemerintahan yang bisa bertahan jika aparatnya rusak oleh korupsi dan masyarakat yang tak berdaya oleh beban yang terlalu menindih.
            Mudah membayangkan betapa kuat daya tarik system pajak tanah ini bagi Raffles. Masalahnya adalah cocok tidaknya pola itu dengan susunan masyarakat Nusantar, khususnya Jawa. Dalam hal ini, tampaknya Raffles berpendapat bahwa pola itu sesuai sekali. Dari apa yang didengarnya, sejak dahulu tanah di Nusantarra dianggap merupakan milik pengusaha yang berdaulat. Dalam hal ini, Raffles keliru, sebagaimana ternyata setelah penelitian pemerintah Hindia-Belanda selama 1867-1912.
            Kendati demikian, Raffles menganggap bahwa pola pemilikan tanah oleh penguasa, seperti yang didengarnya itu, patut juga berlaku dibawah kekuasaan Inggris. Perbedaannya, Raffles menganggap bahwa antara pemerinttah dan masyarakat penggarap tanah tak boleh ada kekuasaan lain yang turut campur untuk mengambil keuntungan buat diri sendiri. Bahkan pemerintahnya pun hanya berhak menerima pajak dari para penggarap.
            Agar penerimaan pajak tidak kembali menjadi sumber penyelewengan para pejabat, Raffles menegaskan terpisahnya fungsi pendapatan (revenue) dan fungsi peradilan (judicial) dalam wewenang pemerintahan. Ia tentu berharap bahwa dengan demikian aparatnya sendiri akan terhindar dari penyelewengan kekuasaan, sepeti mengambil secara paksa dari penduduk, baik hasil bumi (contingenten) maupun kerja rodi (herendiensten).
            Pada mulanya Raffles melaksanakan rencana fiskalnya dengan kepala desa sebagai wakil penggarap sesuai dengan dua proklamasi tersebut diatas. Setahun kemudian, 1814, ia berpendapat lain. Aparat pemungut pajak menurutnya harus langsung berhubungan dengan setiap orang yang menggarap tanah, bukan kepala desa. Dalam penjelasannya kepada Lord Minto, ia mengatakan telah memutuskan memilih apa yang dikenal denga India sebagai ryotwari(individu), bukan zamindari (kepala desa).
            Dalam pelaksanaan pola fiscal Raffles tersebut tidak sebagus rencananya.dengan hanya 12 orang tenaga inti, sekedar pengawasan pun sudah jelas susah dilaksanakan, apalagi pekerjaan yang begitu luas, rumit dan rinci. Pejabat yang orang eropa, termasuk residen, kebingungan karena tidak mengenal lapangan. Karena pengumpulan pajak tak mungkin ditunda sampai petugas mahir lapangan, pelaksanaan berlangsung seenaknya saja. Akibatnya, pencatatan kacau dan pola Belanda pun sering terpaksa dilakukan.
            Petugas Bumiputra sendiri tak bisa berbuat banyak. Hamper setiap kepala desa buta huruf, jangankan mencatat data dalam formulir, menghitungpun mereka susah. Masuk akal jika kepala desa lebih sering mengarang data, menggampangkan tugas dengan menggabungkan beberapa desa sekaligus, bahkan menyelewengkan kekuasaannya.
                        Hasil penelitian komisi jendral pada 1816, ketika kekuasaan Belanda dipulihkan, menunjukkan tiadanya pola yang jelas dalam pemungutan pajak. Di Cirebon misalnya, mula-mula taksiran pajak berjumlah 156.000 rupiah. Oleh pejabat yang baru dating taksiran naik menjadi 399.000 rupiah. Pajak yang nyata terkumpul cuma 89.000 rupiah. Di Surabaya, taksiran pajak bisa mengambil 80 persen hasil. Penduduk sering menolak membayar sehingga pejabat harus main paksa. Betapa tidak, penaksiran memang sering tidak tahu mutu tanah dari peri kehidupan penggarapan.
Daftar Pustaka
Aziz, Maliha dan Asril .2006.sejarah indonesia III.pekanbaru :Cendikia Insani Pekanbaru
 Simbolon Parakitri. 2007. Menjadi Indonesia. Jakarta: Penerbit Kompas

PERANG MAKASAR


Ayu aryanti/A/S3

TujuanVOC untuk memonopoli perdagangan langsng bertentangan dengan prinsip sistem terbuka yang di anut oleh kerajaan Goa yang di mana sistem keterbukaan ini memberi kesempatan pada pedagang-pedangan portugis, prancis, denmark dan belanda untuk datang ke makassar yang di mana kedudukan makassar sebagai pusat perdagangan  dengan hegemoni politik sebagai dukungannya. Konflik semakin memuncak sejak tahun 1660 dengan adanya inisden-insiden dan faktor-faktor sebagai berikut :
1.        Pendudukan benteng Pa"Nakkukang oleh VOC dirasakan sebagai ancaman terus menerus terhadap Makassar
2.       Peristiwa De Walvis pada tahun 1662 , waktu meriam – meriam nya dan barang – barang muatannya disita oleh pasukan Karaeng Tallo , sedang tuntutan VOC untuk mengambalikannya di tolak.
3.        Peristiwa kapal Leeuwin (1664) yang terkandas di pulau Don Duango dimana anak kapal dibunuh dan sejumlah uang disita.
Untuk menghadapi kemungkinan pecahnya perang dengan Belanda , Sultan Hasanudin pada akhir Oktober 1660 mengumpulkan semua bangsawan yang diminta bersumpah setia kepadanya. Meskipun sultan hasanuddin dan kelompok besar bangsawan leberpolitik damai lebih suka jalan damai namun ada partai perang di bawah pimpinan Karaeng Popo. Pertahanan di bagi atas beberapa sektor:
1.       Pasukan sebesar 3000 orang di bawah pimpinan Daeng Tololo saudara laki-laki sultah sendiri, mempertahankan benteng.
2.       Sultan Hasanuddin dan Kareang Tallo menjaga istana Sombaopu
3.       Pertahanan daera Portugis di serahkan kepada Kareang Lengkese
4.       Kareang Karunrung sebagai komandan benteng Ujung Pandang yang di mana wanita dan anak-anak diusingka ke pedalaman sedangkan orang laki-laki di kerahkan untuk mengangkat senjata dan mempertahankan kerajaan. Di kabarkan bahwa pasukan Makassar yang di tempatkan di tepi Sungai Kalak Ongkong ada sekitar 1500 orang,  dan di bantaeng ada 5 sampai 6000 orang.
Kekuatan VOC sangat ditentukan oleh aliansinya dengan Toangke juga dari Soppeng dan Bone yang dengan demikian kekuatan pasukan bisa mencapai jumlah 10 – 18.000 orang.      Sedangkan Goa dan Tallo tergantung pada aliansi dengan kerajaan tetangga di Sulawesi Selatan di tambah dengan vasal-vasalnya di seberang lautan. Akhirnya bangsa melayu yang menjadi kekuatan  yang  andalkan oleh makassar karena jalannya perang menentukan mati-hidupnya mereka.
Jalannya perang di tentukan oleh juga oleh faktor iklim, suatu faktor yang sejal awal di perhitungkan oleh VOC yang di mana apabila musim hujan terjadi di kwatirkan pelabuhan makassar kurang aman bagi kapal-kapal yang akan berperang. Antara tahun 1666-1669 terjadi musim hujan yang di mana tidak banyak di lakukan operasi perang. Konlik bersenjata yang di kobarkan anatara munculnya angkatan perang VOC di pelabuhan Makassar dan jatuhnya Somboapu di tangannya merupakan konflik bedar kedua yang di alami VOC dalam menjalankan penetrasinya di Nusantara. Dari perang makassar ini di perolah bantuan untuk membantu VOC yang memungkinkan kemenangan dengan aliansi dengan Arung Palakan besert Toangkeknya. Berkali-kali VOC akan dapat memanfaatkan konflik atau perpecahan di antara pribumi dengan VOC membentuk aliansi dengan salah satu pihak. Konflik intern yang terdapat pada masyarakat pribumi itu memberi keleluasaan bagi kekuasaan kolonial menjalankan politik DEVIDE ET IMPERA nya.Hal ini membuat VOC tidak hanya berhasil merebut monopoli perdagangan tetapi juga menempatkan kekuasaan politiknya.
Jalannya Perang (Desember 1666 - Juni 1669 )
Angkatan perang VOC yang berangkat pada tanggal 24 November 1666. Berdasarkan instruktur Dewan VOC di Batavia segera di kirim oleh utusan untuk menyampaikan surat kepada Kareang Goa berisi tuntutan agar di berikan penggantian dan di penuhi tuntutan Voc secara memuaskan. Tuntutan itu di sertai ancaman bahwa sikap dendam akan di hadapi dengan kekerasan. Tuntutan itu di tolak oleh Sultan Hasanuddin, yang hanya bersedia memberi ganti rugi apa yang di derita oleh VOC. Karena kegagalan itu, speelman kemudian memerintahkan untuk melakukan pemboman terhadap Makassar untuk melakukan intimidasi.
Meskipun Arung Palaka mendesak untuk segera melakukan serangan, Speelman memutuskan untuk menunda operasi itu. Ekspedisi bergerak menuju ke arah Butung, perjalanan itu melampaui Bathaeng, di mana terdapat persediaan beras dan di serang tempat itu sampai hancur lebur. Di Buntung terdapat pasukan Makassar di bawah pimpinan Karaeng Bottomarannu, Sultan Bima, dan Opu Cening Luwu yang di perkirakan jumlahnya lima belas ribu orang. Angkatan laut belanda berlayar ke maluku sedangkan Arung Palaka denan pasukannya beroperasi di Butung. Berita tentang peristiwa di butung  menggelisahkan rakyat makassar maka dari itu persiapan pertahanan di tingkatkan. Di Bone peristiwa itu di sambut dengan antusiasme, semangat rakyat bangkit kembali, lebih-lebih setelah Arung Bela dam Arung Kaju tiba dengan pasukan dari Butung. Persiapan dilakukan untuk mengadakan ofensif terhadap Goa.
Sementara itu kunjungan Speelman ke maluku berhasil mengajak Sultan Ternate ikut serta dalam perang. Agar mobilitas pasukan Bugis dapat di perlancar serta semangat rakyat dapat di kobarkan untuk mendukung perjuangan melawan Goa, maka Arung Palaka berkunjung ke Bone yang di mana pemuka Bone dan Soppeng di adakan sumpah setia berdasarkan perjanjian Attapang. Tujuan ofensif pasukan VOC-Bugis terarah kepada Gelesong, suatu kunci strategis sebagai pertahanan terakhir dari Makassar.
Serangan pasukan VOC-Bugis disertai pertempuran sengit untuk merebut benteng di Galesong akhirnya dapat memukul mundur pasukan Makassar dan pada akhir Agustus 1667 Galesong di kosongkan dan mereka mundur ke Makassar. Setelah Galesong jatuh, suatu deretan benteng-benteng pertahanan antara Besombong da Tallo perlu di hancurkan. Di sana pasukan VOC-Bugis menghadapi perlawanan yang gigih. Tetaoi semanngat itu menurun ketika mendengan berita invasi pasukan Mkassar ke Bone dan juga bantuan dari Batavia todak banyak karena adanya perang antara negeri belanda dan inggris. Bantuan itu datang dari pasukan Soppeng setelah beberapa bangsawan Soppeng bergabung dengan Arung Palaka. Pada saat itu sudah banyak raja-raja serta para  bangsawan yang menyesuaikan diri dan menyatakan loyalitasnya kepada Arung Palaka.
Sewaktu pasukan VOC-Bugis mengadakan pengepungan Makassar, timbullah perbedaan pendapat antara Arung Palaka dan Speelman dari satu pihak serta dewan di Batavia di lain pihak. Pihak yang pertama bertekad untuk meneruskan penyerangan, sedangkan pihak kedua ingin berdiplomasi mencari perdamaian. Suatu pertempuran besar terjadi  pada tanggal 26 oktober 1667 di mana pasukan makassar mengalami kekalahan. Suatu gencatan senjata selama tiga hari terjadi dan pada akhirnya Karaeng lengkese dan karaeng bontosungu dengan kekuasaan dari Sultan Hasanuddin datang berunding. Perundingan itu di mulai tanggal 13 november 1667 di desa bongaya dekat besombong. Tujuan peridungan itu untuk menimbulkan keseimbangan dan hidup berdampinan secara serasi dalam suasana persaudaraan.
DAFTAR PUSTAKA
Kartodirdjo, Sartono, 1987, pengantar sejarah indonesia baru 1500-1900, Jakarta:PT. Gramedia Pustaka Utama