Sabtu, 04 Juni 2016

SUN TZU Bapak Spionase Negeri Tirai Bambu (330-236 M)

DINA ULI ARTA SINAGA/SAT/15 A

Biografi Sun Tzu (China)
            Pada era Dinasti Tong Ciu Liat Kok atu zaman musim semi dan musim rontok, hidup seorang guru bernama Sun Pin. Dia dilahirkan di negeri Chao (ketika itu negeri Tiongkok masih terpecah dan banyak berdiri negara-negara kecil). Sun Pin hidup diantara tahun 330-236 SM. Sun Pin adalah seorang guru yang kemudian hari banyak menulis, menciptakan kitab "Seni Berperang" yang sampai hari ini cukup terkenal dan banyak diburu orang. Nama panggilan sehari-harinya ialah Guru Sun, dan setelah ia menciptakan kitab seni Berperang, Dia kerap dipanggil dengan Sun Tzu. Dan Sun Tzu diakui juga sebagai "Bapak Spionasme" negeri Tirai Bambu. Konon, Sun Tzu semasa hidupnya hanya menghasilkan tiga buah karya monumental. Tetapi, yang sangat terkenal hanya "Seni Berperang Sun Tzu" yang terdiri dari 13 bab. Konon kehidupan Sun Tzu tidak begitu sukses, melainkan banyak kegagalan yang dialaminya. Tetapi, minatnya yang tinggi terhadap ajaran Konfisianisme menyebakan
Dia menjadi seorang filsuf yang di berkahi bermusuhan dari satu orang atau dari satu kelompok dengan kelompok lainnya. Salah seorang musuhnya adalah Bang Koan. Sun Tzu kemudian meninggalkan Ch'i dan pergi ke negeri Chu. Di negeri Chu, Dia diangkat menjadi pembesar pemerintah yang terletak di
bagian selatan. Sun Tzu pernah diberhentikan dari jabatannya, tetapi kemudian Dia diangkat kembali. Semasa hidupnya, Sun Tzu sering berkunjung ke negeri-negeri tetangga lain. Suatu ketika Dia kembali ke tanah dimana Dia dilahirkan, yaitu negeri Chao. Di negeri ini Dia dibesarkan dan disitu pula Dia banyak mengenang masa lalu hidupnya. Tetapi ketika Dia lulus dari pendidikan dan hidup sebagai seorang pembesar, Sun Tzu justru merasa bukan di negerinya dia mengabdi, melainkan negeri lain. Dia un bersedih.Suatu kali Dia mengunjungi negeri Qin yang terletak di bagian barat. Ada 2 hal penting dalam hidup Sun Tzu. Pertama, Ia mengajarkan ilmu-ilmunya kepada dua orang pengabdi (cantriknya) yang setia serta beberapa pengikut yang dianggap murid. Kedua, Dia masih sempat menulis buku walaupun tidak seproduktif penulis-penulis abad modernyang didukung dengan segala peralatan modern pula. Artinya, masih ada hasil karya Sun Tzu yang bisa kita nikmati termasuk Kitab " Seni Berperang". Seorang filsuf, hal terpenting dalam hidup Sun Tzu adalah ketika Dia berbicara masalah teori bahasa. Dan teori bahasa ini sangat menarik bagi para peminat bahasa dan aliran filsuf lain yang juga menggunakan teori bahasa itu sendiri.
A.    Ajaran-ajaran Sun tzu
            Dalam penjabarannya tentang teori bahasa, Sun Tzu terasa sangat modern. Dia menggunakan berbagai asumsi bahkan "tanda tanya" sebagai alat pengungkap. Misalnya: Apakah kata itu? Apakah pengertian itu? Mengapa harus ada nama? Dan sebagainnya. Umumnya filsuf Cina Kuno lebih dikenal sebagai "penganut Dialetika" yang mengemukakan bahwa preposisi sebagai "Kuda Putih bukan Kuda". Begitu juga ajaran dari paham lain yang terkadang menggunakan preposisi-preposisi yang pelik sehingga membingungkan orang yang terimbas atas pemahaman baris demi baris kalimat-kalimat dimaksud. Hal demikian ini lebih cenderung mendekati simbol atau ungkapan berbentuk paradoks dalam upaya mempengaruhi pekiran orang lain. Lalu, Sun Tzu pun terpaksa berjuang dalam melawan pikiran yang berbentuk demikian itu. Sebab itu, Sun Tzu terkenal sebagai seorang penanya ulung namun juga memberikan jawabannya. Sebagai contoh berikut: Apa yang merupakan dasar dari persamaan dan perbedaan? Pertanyaan-pertanyaan demikian dirasakan sungguh dirasa dianggap aneh didengar oleh telinga. Namun tidaklah segampang itu menjawabnya. Filsuf Yunani, Plato menyebutkan bahwa adanya salinan inti ide yang mengungkapkan adanya persamaan dan perbedaan itu.
Demikianlah corak sari pati dari ajaran Sun Tzu tentang filsafat hidup. Dalam hidup Sun Tzu, ajaran yang mengental dalam tiap jengkal hidupnya dalam mengambil tiap sikap atas keputusan selalu mengaju pada ajaran kebajikan Konfusianisme mewarnai tulisan-tulisan Sun Tzu. Dari sumber literatur yang ditemukan, ada sebuah buku yang menggunakan nama Sun Tzu sebagai judul buku. Dan buku itu merupakan sumber utama dalam mencari kebenaran ilmu filsafat yang di kembangkan Sun Tzu sebagai judul buku. Dan buku itu merupakan sumber utama dalam mencari kebenaran ilmu filsafat yan dikembangkan Sun Tzu, namun beberapa bagian diduga ditulis oleh pengikut-pengikut/murid-muridnya.  Dugaan itu berawal dari isi dan gaya tulisan yang di komprehensifkan antara satu bagian dengan bagian yang lain dan ditemukan ada enam bab terakhir yang tidak sama tulisan( gaya, alur pikiran, konteks filsafat) dengan apa yang dipersoalkan lebih lanjut sebab semua ajaran yang terkandung didalam kitab itu masih dalam koridor kebenaran. Para pengikut Sun Tzu menyebutnya sebagai inti kebenaran yang hakiki.
B.     Kejayaan dan Wafatnya Sun Tzu
Pada karya Sun Tzu yang lain diketahui bahwa Dia sebagai seorang konfusianisme dan memasukan ajaran-ajaran Konghucu pada ajarannya yaitu adanya kesamaan yang ditemukan pada kitab klasik Konfusianisme yaitu "Li Chi" (catatan mengenai upacara). Pada kitab Sun Tzu juga ditemukan penjabaran  penting dengan sejumlah deretan panjang uraian tentang tata cara berupacara. Sehingga ada kemungkinan bahwa bagian-bagian penting disalin dari kitab Li Chi ke dalam kitab Sun Tzu. Mungkin Shun Tzu menganggap hal itu penting. Karir Sun Tzu di pemerintahan kerajaan tidaklah secemerlang pemikirannya. Ketika atasannya meninggal duni, Dia pun dipecat dari jabatannya sekitar tahun 237 SM. Setelah itu tak terdengar lagi kabar berita mengenai Sun Tzu dan perselisihannya dengan lawan politknya di istana kerajaan. Justru, kebenaran itu didapat setelah Dia meninggal dunia.
Dan kebesaran itu ada pada hasil karya yang ditinggalkannya. Juga, sekarang kita serta banyak orang berlomba memburu seutas pencerahan intelektual itu lewat buku yang ditulis dari lebih dari dua ribu tahun lalu. Seni perang adalah salah satu yang paling sering dibaca di dunia. Pengarang Sun Tzu dulunya adalah seorang penasihat raja dari negara Wu, suatu daerah yang sekarang ini menjadi propinsi Zhejiang, China Timur. Lebih dari tiga ratus perang terjadi antar beberapa negara selama rentang waktu seratus lima puluh tahun. Senjata yang digunakan sangat berbeda dengan yang digunakan saat ini, tetapi tujuan dari perang tetap sama , bertahan atau mendominasi. Meskipun kita tidak mengetahui banyak mengenai Sun Tzu, tidak diasingkan lagi bahwa Dia adalah orang yang jenius pada masanya, seperti Organisasi dan kepemimpinan, yaitu perang adalah hal yang serius, dampaknya tergantung pada apakah itu hanya sekedar perang dan apakah ada kepemimpinan militer yang bijaksana terlibat dalamnya. Perang itu penuh dengan ketidakpastian. Seorang jenderal yang baik adalah orang yang tahu kapan harus berperang dan tidak, orang yang selalu siap mengambil keputusan. Seorang jenderal yang bagus seharusnya mampu memberi komando kepada satu orang. Perencanaan yang cermat, yaitu seorang jenderal yang baik sudah terbiasa dengan perbandingan kualitatif dan kuantitatif antara kekuatan dan kelemahannya.
Cara terbaik untuk menang adalah dengan mengalahkan strategi musuh secara keseluruhan, cara terbaik yang kedua adalah mengalahkan dalam percaturan politik dan diplomatik. Yang selanjutnya adalah penempatan, yaitu dengan prinsip yang sama, jangan berikan musuh untuk bernapas, jangan berikan mereka untuk memulihkan diri, tetaplah menekan untuk melemahkan mereka. Yang selanjutnya ada strategi dan taktik, yaitu sebuah perang adalah kombinasi antara hal-hal yang terduga dan tidak. Jika berperang di kandang musuh, maka manfaatkan pasokannya untuk menyuplau pasukanmu. Perlakukan tawanan perang dengan baik. Berilah penghargaan pada yang berani. Kamu boleh melewati batas umum dalam memberi penghargaan untuk memperlihatkan penghargaanmu terhadap keberanian yang luarbiasa. Yang selanjutnya adalah tipu muslihat, dan pengumpulan informasi. Seni perang adalah buku klasik tantang ilmu perang, psikologi perang dan filosofi perang. Tetapi prinsip yang diungkapkan dalam buku legendaris itu membahas lebih dari lingkup peperangan militer. Analisis Sun Tzu yang mendalam tentang watak manusia, organisasi kepemimpinan, pengaruh linhkungan, dan pentingnya informasi memiliki relavansi dengan peperangan ekonomi sama seperti pada peperangan militer. 

Daftar pustaka :
Michael Tang, D. 2006. Kisah-kisah Kebijaksanaan China klasik. Jakarta: Gremedia pustaka utama.
Nyoto. 2003. Tanglung( Seri Sejarah Tiongkok I). Pekan Baru: Unri Press. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar