Selasa, 14 Juni 2016

RUANG LINGKUP SOSIOLOGI TERHADAP SOSIALISASI DALAM PEMBETUKAN KEPRIBDAIAN

NAMA:RODEARNI. S/PIS/014A
A. Pengertian dan Arti Penting Sosialisasi
Pada kegiatan belajar ini saya akan mengajak Anda untuk memperdalam materi tentang sosialisasi dan pembentukan kepribadian. Baiklah sebelum kita memperdalam hubungan antara sosialisasi dan pembentukan kepribadian, pertama-tama saya akan mengajak Anda untuk memahami pengertian sosialisasi dan arti penting sosialisasi.
Orang yang baik adalah orang yang berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat itu.
 Orang menghidari dan menjahui apa yang menjadi larangan dari masyarakat. Bila semua orang baik maka akan tercipta masyarakat yang tertib. Ketertiban masyarakat tidak lahir dari proses yang bersifat kodrati atau bersifat alamiah, melainkan lahir melalui proses belajar. Proses belajar seperti itu berlangsung secara terus menerus sepanjang hayat dan sepanjang masyarakat itu masih ada. Proses belajar seperti itulah yang dalam sosiologi disebut dengan sosialisasi. Melalui sosialisasi individu-individu masyarakat belajar mengetahui dan memahami perilaku apakah yang boleh dilakukan dan perilaku apakah yang tidak boleh dilakukan dalam masyarakat.
Seorang individu di rumah belajar bagaimana memerankan diri sebagai seorang anak, seorang seorang adik, seorang kakak, seorang cucu, dan sebagainya. Tanpa sadar seorang individu anak juga mengamati dan menirukan apa yang sedang diperankan oleh ibu dan bapaknya. Bagi individu perempuan berdandan di depan kaca rias seperti kebiasaan yang dilakukan oleh ibunya, sedangkan bagi yang laki-laki belajar.
Melalui permainan yang dimainkan oleh anak-anak di rumah, mereka belajar memainkan peran sebagai seorang bapak, seorang ibu, atau seorang anak. Dalam permainan lain mungkin memerankan diri sebagai seorang guru, sementara yang lain memainkan diri sebagai seorang siswa. Bapak, ibu, anak, adik, kakak, kakek, nenek, guru, siswa, dan seterusnya dalam sosiologi disebut dengan status atau kedudukan. Sementara tindakan-tindakan yang dilakukan sebagai seorang anak, sebagai seorang adik, kakak, dan seterusnya disebut dengan peran (role). Dengan demikian apa yang disebut dengan status? Dan apa pula yang dimaksudkan dengan peran?
Status adalah kedudukan atau posisi seseorang dalam kelompok atau masyaraka, sedangkan peran (role) adalah perilaku yang diharapkan dari seseorang yang memegang status.
Agar seorang individu dapat memainkan peran sesuai dengan yang diharapkan oleh kelompok dan masyarakatnya dibutuhkan proses belajar bagaimana cara memainkan peran sesuai dengan statusnya masing-masing. Proses pembelajaran yang diberikan oleh lingkunagn keluarga, sekolah, dan masyarakat kepada individu, dan proses belajar peran yang dilakukan secara perorangan disebut dengan sosialisasi. Melalui sosialisasi anggota masyarakat akan saling mengetahui peranan masing-masing dalam masayarakat, dan karena itu anggota masayarakat dapat berperilaku sesuai dengan peranan sosial masing-masing itu, tepat sesuai yang diharapkan oleh norma-norma sosial yang ada. Selanjutnya antar anggota masyarakat dapat saling menyerasikan dan menyesuaikan perilakunya ketika melakukan interaksi sosial. Bila demikian halnya, apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan sosialisasi?
Sosialisasi adalah suatu proses belajar yang seseorang menghayati (internalisasi) norma-norma sosial di mana ia hidup sehingga menjadi individu yang baik. Atau sosialisasi adalah suatu proses mempelajari kebiasaan dan tata kelakukan untuk menjadi bagian dari suatu masyarakat.
Diri manusia berkembang secara bertahap melalui interaksi dengan anggota masyarakat lain.          Menurut Mead, pengembangan diri manusia ini berlangsung melalui beberapa tahap yaitu tahap play stage, tahap game stage, dan tahap generalized other. Setiap anggota masyarakat harus mempelajari peran-peran yang ada dalam masyarakat – suatu proses yang dinamakan sebagai pengambilan peran (role taking). Dalam proses ini seseorang belajar untuk mengetahui peran yang harus dijalankannya serta peran yang harus dijalankan oleh orang lain. Melalui penguasaan peran yang ada ini seseorang dapat berinteraksi dengan orang lain. Pada play stage seorang anak kecil mulai belajar mengambil peran orang di sekitarnya. Ia mulai menirukan peran yang dijalankan oleh orangtuanya atau peran orang dewasa lain yang sering berinteraksi dengan dia. Namun dalam tahap ini seorang
Apakah pelaksanaan sosialisasi akan berjalan secara sempurna? Jawabannya tentu tidak. Harus diakui bahwa sosialisasi yang sempurna dalam kenyataannya memang tidak selamanya dapat diwujudkan. Pelanggaran-pelanggaran terhadap norma-norma sosial seringkali terjadi. Kita mungkin disadari atau tidak pernah melakukan pelanggaran terhadap peraturan di kantor atau norma-norma sosial. Itulah yang terjadi bahwa sosialisasi tidak selamanya sempurna. Kasus-kasus di masyarakat, seperti kebut-kebutan, minum-minuman keras, perkelahian, pencurian, pembunuhan, dan sebagainya, merupakan bukti pelanggaran terhadap norma-norma sosial.
Anda mungkin pernah diajak teman atau tetangga membicarakan sesuatu tentang yang bersifat negatif tentang seseorang. Tindakan seperti itu dalam bahasa Jawa disebut dengan ngrasani. Setiap hari kita juga membaca surat kabar atau menyaksikan di layar televisi tentang orang ditangkap polisi kemudian diadili di lembaga peradilan. Tindakan-tindakan seperti itu merupakan upaya masyarakat untuk menjaga ketertiban masyarakat. Untuk menjaga ketertiban dalam masyarakat, pelanggaran terhadap norma-norma sosial akan diberikan sanksi (punishment) mulai dari sanksi sosial berupa dipergunjingkan, dicemooh, dikucilkan hingga sanksi hukum seperti diadili kemudian dipenjara. Sebaliknya, anggota masyarakat yang mematuhi norma-norma sosial akan mendapatkan ganjaran (reward) seperti dipuji, disanjung, dihormati, dan sebagainya. Kita tidak pernah mendapatkan sanksi baik sosial maupun hukum, misalnya, sudah merupakan bentuk ganjaran yang kita terima.
Mengapa ketertiban sosial dalam masyarakat dapat bertahan dari generasi ke generasi? Jawabannya: karena proses sosialisasi berlangsung secara terus menerus dari generasi ke generasi. Proses sosialisasi mempunyai peran yang sangat penting bagi keberlangsungan keadaan tertib masyarakat. Hanya melalui sosialisasi itu norma-norma sosial dapat diwariskan dari generasi ke genarasi. Bagi individu, sosialisasi juga mempunyai peran yang cukup penting. Melalui sosialisasi individu sebagai anggota masyarakat dapat hidup normal dalam masyarakat. Hanya melalui sosialisasi seorang anggota masyarakat akan menyesuaikan perilakunya dengan norma-norma sosial. Anggota masyarakat yang cukup banyak menjalani proses sosialisasi akan mendapatkan kemudahan dalam hidup di masyarakat. Sebaliknya, anggota masyarakat [20]
yang hanya sedikit menjalani proses sosialisasi akan mengalami kesulitan dan akan mengganggu ketertiban masyarakat.
Sosialisasi dapat dibedakan menjadi sosialisasi primer dan sosialisasi sekunder. Sosialisasi primer dikaitkan dengan pembentukan dasar atau awal kepribadian. Dalam diri anak, proses ini dimulai dengan mengakumulasi pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menjadi anggota dalam masyarakat tertentu. Proses ini melibatkan berbagai aktivitas - seperti: bermain, meniru, mengamati – dan dalam interaksi dengan aktor penting sosialisasi. Aktor penting atau orang yang berpengaruh adalah orangtua, teman sebaya, dan saudara kandung. Aktivitas ini berlangsung selama tahap sosialisasi, yaitu ketika identitas primer mulai terbentuk, seperti dengan memperhatikan aspek gender, etnisitas, dan agama. Yang terpenting dari tahap ini adalah identitas tersebut dipelajari dan dibentuk secara aktif. Identitas tersebut menjadi identitas utama dan relatif stabil. Sementara itu, sosialisasi sekunder terdiri atas pengalaman-pengalaman yang komplek dan terjadi sepanjang masa untuk menjadi anggota masyarakat atau kelompok budaya tertentu. Proses ini menunjuk pada proses yang lebih luas mengenai keterampilan, pengetahuan dan peran yang dipelajari secara lebih mendalam dalam kehidupan. Sosialisasi sekunder merupakan proses memahami dan merasakan berbagai budaya yang ditunjukkan dalam kehidupan secara keseluruhan (Scott, 2011: 259 – 260).
B. Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian
Seorang bayi dilahirkan ke dunia ini seperti kertas putih bersih. Kertas putih tersebut akan ditulis atau dilukis seperti apa sangat tergantung pada siapa yang menulis atau melukisnya. Demikian juga dengan kepribadian individu manusia. Kepribadian individu manusia tidak dibawa sejak lahir, namun dibentuk oleh lingkungan sosialnya, yaitu keluarga, sekolah, tetangga, kelompok sebaya, organisasi, dan sebagainya. Pengaruh lingkungan sosial itulah yang membentuk kepribadian seseorang. Bagaimanakah dan sejauh manakah lingkungan itu mempengaruhi pembentukan, pengembangan, dan perubahan kepribadian seseorang?
Warisan biologis hanyalah menyediakan bahan mentah kepribadian. Misalnya manusia yang sehat dan normal mempunyai persamaan biologis tertentu, seperti panca [21]
indera, kelenjar seks, dan otak yang rumit. Persamaan biologis ini membantu menjelaskan beberapa persamaan dalam kepribadian. Manusia dilahirkan tidak sebagai organisme yang tegas dan dengan susunan saraf yang telah sempurna, atau dengan kata lain manusia pada saat dilahirkan tidak memiliki insting-insting kodrati yang diwarisi secara biologis. Dalam kondisi demikian dibutuhkan lingkungan sosial yang membentuk atau mempengaruhi kepribadian manusia.
Binatang, apapun jenisnya, begitu dilahirkan dari induknya dapat hidup sendiri. Seekor ular yang menetas di tengah semak-semak bisa bertahan hidup, meskipun diacuhkan oleh induknya. Tanpa hidup dalam kelompokpun seekor ular dapat bertahan hidup. Bagaimana dengan manusia? Apakah dapat bertahan hidup tanpa kehadiran kelompoknya? Bagaimana menurut pendapat Anda? Manusia tidak dapat hidup tanpa kelompok. Dalam hidupnya ia selalu tergantung pada orang lain atau kelompoknya.
Demikian juga dalam pembentukan kepribadian, manusia sangat tergantung pada orang lain atau kelompoknya. Kepribadian seseorang tidak bersifat kodrati, melainkan dibentuk setelah ia dilahirkan ke dunia. Pembentukan kepribadiannya melalui dua proses, yaitu: pertama, proses sosialisasi tanpa sengaja melalui interaksi sosial, dan kedua, proses sosialisasi secara sengaja melalui proses pendidikan dan pengajaran (Narwoko dan Suyanto, 2004: 66).
Proses sosialisasi tanpa sengaja terjadi jika seorang individu yang disosialisasi menyaksikan apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang di lingkungan sekitarnya di dalam interaksi antarmereka, kemudian individu melakukan internalisasi pola-pola tingkahlaku dan pola-pola interaksi itu beserta norma-norma sosial yang mendasarinya ke dalam mentalnya (Narwoko dan Suyanto, 2004: 66 - 67).
Proses sosialisasi yang disengaja terjadi apabila seorang individu (yang disosialisasi) mengikuti pengajaran dan pendidikan yang dilakukan dengan sengaja oleh pendidik-pendidik yang mewakili masyarakat, dengan tujuan yang disadari agar norma-norma sosial bisa dipahami individu yang disosialisasi tersebut dan bisa tertanam baik-baik dalam batinnya (Narwoko dan Suyanto, 2004: 67).
Norma-norma sosia, pola-pola tingkahlaku, dan nilai-nilai budaya yang disosialisasikan secara langsung melalui proses pendidikan dan pengajaran maupun sosialisasi secara tidak langsung kesemuanya diperhatikan dan diterima oleh individu
yang tengah terbentuk kepribadiannya, dan kemudian diinternalisasikan ke dalam mentalnya. Dapat dikatakan bahwa individu yang telah mengalami proses ini telah terbentuk kepribadiannya.
C. Media Sosialisasi
Media sosialisasi merupakan tempat di mana sosialisasi itu terjadi. Paling tidak ada tiga media sosialisasi, yaitu: keluarga, sekolah, dan lingkungan bermain.
1. Keluarga
Keluarga merupakan tempat pertama seorang anak yang baru lahir mengalami proses sosialisasi. Di keluarga inilah seorang anak mengenal lingkungan sosial dan budayanya, dan juga mengenal anggota keluarganya: ayah, ibu, kakak, kakek, dan nenek. Pembentukan kepribadian anak sangat dipengaruhi oleh bagiamana keluarga itu memberikan pendidikan kepada anak-anaknya baik melalui kebiasaan, teguran, nasihat, perintah, atau larangan.
Kelurga merupakan lembaga yang paling penting pengaruhnya dalam sosialisasi manusia. Kepribadian anak ditetukan oleh bagaimana orangtua dan anggota keluarga lain memotivasi anak agar mau mempelajari pola perilaku yang diajarkan kepadanya. Motivasi bisa positif, bisa juga negatif. Motivasi positif dengan memberikan ganjaran (reward) kepada anak bila berhasil melakukan sesuatu yang bermanfaat. Motivasi negatif dengan memberikan hukuman (punishment) bila anak tidak mentaati perintah atau melanggar larangan.
Pada nuclear family (keluarga inti) sosialisasi hanya dilakukan oleh ayah dan ibunya, atau mungkin oleh saudara kandung. Pada extended family (keluarga luas) agen sosialisasi bisa berjumlah lebih banyak dan mencakup pula kakek, nenek, paman, bibi, dan sebagainya. Pada keluarga menengah dan atas di perkotaan pembantu rumahtangga pun juga memegang peran penting dalam sosialisasi anak, setidak-tidaknya pada tahap awal.
menghitung – adalah aturan mengenai kemandirian (independence), prestasi (achievement), universalisme (universalism), dan spesifitas (specificity).
Di sekolah seorang anak harus belajar untuk mandiri. Di sekolah sebgian besar tugas sekolah harus dilakukan sendiri dengan penuh tanggungjawab. Ketergantungan terhadap orangtua seperti di rumah tidak terjadi, guru menuntut kemandirian dan tanggungjawab pribadi bagi tugas-tugas sekolah.
Peran yang diraih dengan prestasi di sekolah merupakan peran yang menonjol. Peringkat prestasi anak di kelas hanya dapat diraih melalui prestasi. Peran sekolah dalam prestasi anak lebih besar dibandingkan dengan peran keluarga. Sekolah menunut siswa untuk berprestasi, baik dalam kgiatan kurikuler maupun ekstra kurikuler. Seorang siswa didorong untuk giat berusaha mengembangkan kemampuan dan bersaing agar meraih keberhasilan dan menghindari kegagalan. Keberhasilan maupun kegagalan selama di sekolah menjadi dasar bagi penentuan peran di masa mendatang.
Aturan ketiga yang dipelajari anak di sekolah adalah universalime. Di sekolah setiap anak mendapatkan perlakuan yang sama. Perlakuan yang berbeda hanya dibenarkan bila didasarkan pada kelakuan siswa di sekolah – apakah ia berkemampuan, bersikap dan bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan sekolah.
Spesifisitas merupakan aturan keempat dan merupakan kebalikan dari kekaburan (diffuseness). Di sekolah kegiatan siswa atau penilaian terhadap kelakuan mereka dibatasi secara spesifik. Kekeliruan yang dilakukan oleh seorang siswa dalam matapelajaran sosiologi, misalnya, sama sekali tidak mempengaruhi penilaian gurunya terhadap prestasinya dalam matapelajaran bahasa Indonesia.
3. Kelompok Bermain
Nah, Anda sudah mempunyai pemahaman dua agen sosialisasi yang baru kita pelajari bersama yaitu keluarga dan sekolah. Marilah kita sekarang memahami agen sosialisasi yang ketiga yaitu kelompok bermain. Setelah mulai dapat berpergian seorang anak memperoleh agen sosialisasi lain yaitu teman bermain, baik yang terdiri atas kerabat atau tetangga dan teman sekolah. Di dalam kelompok bermain ini seorang anak mempelajari berbagai kemampuan baru. Di rumah seorang anak mempelajari hubungan antaranggota keluarga yang tidak sederajat, dalam kelompok bermain seorang anak belajar berinteraksi dengan orang yang sederajat karena sebaya. Pada tahap inilah seorang anak memasuki game stage – mempelajari aturan yang mengatur peran orang yang kedudukannya sederajat. Dalam kelompok ini pula seorang anak mempelajari nilai-nilai keadilan, kebersamaan, tolong menolong, kerjasama, solidaritas, dan sebagainya.
D. Perspektif Teori tentang Sosialisasi
Baiklah setelah Anda memahami agen sosialisasi, saya akan mengajak Anda untuk memahami sosialisasi secara teoritik. Salah satu teori sosialisasi dikemukakan oleh George Herbert Mead. Mead dalam bukunya berjudul Mind, Self, and Society menguaraikan tahap pengembangan diri manusia. Manusia yang baru lahir belum mempunyai diri. Diri manusia berkembang secara bertahap melalui interaksi dengan anggota masyarakat lain. Menurut Mead, pengembangan diri manusia ini berlangsung melalui beberapa tahap yaitu tahap play stage, tahap game stage, dan tahap generalized other.
Setiap anggota masyarakat harus mempelajari peran-peran yang ada dalam masyarakat – suatu proses yang dinamakan sebagai pengambilan peran (role taking). Dalam proses ini seseorang belajar untuk mengetahui peran yang harus dijalankannya serta peran yang harus dijalankan oleh orang lain. Melalui penguasaan peran yang ada ini seseorang dapat berinteraksi dengan orang lain.
Pada play stage seorang anak kecil mulai belajar mengambil peran orang di sekitarnya. Ia mulai menirukan peran yang dijalankan oleh orangtuanya atau peran orang dewasa lain yang sering berinteraksi dengan dia. Namun dalam tahap ini seorang anak sepenuhnya memahami isi peran-peran yang ditirunya. Dalam tahap ini seorang
anak dapat berpura-pura menjadi dokter, petani, guru atau polisi, tetapi mereka tidak mengetahui mengapa petani mencangkul, dokter menyuntik, polisi menginterogasi maling, dan guru mengajar muridnya.
Pada tahap game stage, seorang anak tidak hanya telah mengetahui peran yang harus dijalankannya, tetapi telah pula mengetahui peran yang harus dijalankan oleh orang lain. Seseorang telah dapat mengambil peran orang lain. Seorang anak yang bermain dalam suatu pertandingan tidak hanya mengetahui apa yang diharapkan orang lain darinya, tetapi juga apa yang diharapkan dari orang lain yang ikut bermain dalam pertandingan tersebut. Contoh: seorang penjaga gawang dalam pertandingan sepakbola, misalnya, ia mengetahui peran-peran yang dijalankan oleh pemain lain, wasit, hakim garis, dan sebagainya.
Pada tahap awal sosialisasi interaksi seorang anak biasanya terbatas pada sejumlah kecil orang lain – ayah dan ibu. Menurut Mead orang yang penting dalam proses sosialisasi ini dinamakan significant other. Pada tahap ketiga sosialisasi, seseorang dianggap telah mampu mengambil peran-peran yang dijalankan oleh orang lain dalam masyarakat – mampu mengambil peran generalized other. Ia telah mampu berinteraksi dengan orang lain dalam masyarakat karena telah memahami peranannya sendiri serta peran orang lain.
Menurut Charles Horton Cooley, konsep diri (self-concept) seseorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain. Diri yang berkembang melalui interaksi dengan orang lain ini disebut looking-glass self. Nama ini analog dengan orang yang sedang bercermin. Kalau cermin memantulkan apa yang terdapat di depannya, maka diri seseorang pun memantulkan apa yang dirasakannya sebagai tanggapan masyarakat terhadapnya. Looking-glass self terbentuk melalui tiga tahap. Pertama, seseorang mempunyai persepsi terhadap pandangan orang lain terhadapnya. Tahap kedua seseorang mempunyai persepsi tentang penilaian orang lain terhadap penampilannya. Tahap ketiga, seseorang mempunyai perasaan terhadap apa yang dirasakannya sebagai penilaian orang lain terhadapnya. Perasaan seseorang mengenai penilaian orang lain terhadap dirinya menentukan penilaiannya mengenai dirinya –diri seseorang merupakan pencerminan penilaian orang lain (looking-glass self).
DAFTAR PUSTAKA
Abercrombie, Nicholas. dkk. 2010. Kamus Sosiologi. Terjemahan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ashley, David and David Michael Orenstein. 2005. Sociological Theory Classical Statements. Sixth Edition. New York: Pearson Education, Inc.
Creswell, John W.. 2010. Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Terjemahan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Curry, Tim, at.all. 2004. Sociology for the Twenty-First Century. Fourth Edition. New Jersey: Pearson Prentice Hall.
Emzir. 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif: Analisis Data. Jakarta: Rajawali Press.
Hirst, Paul dan Grahame Thomson. 2001. Globalisasi adalah Mitos. Terjemahan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Horton, Paul B. & Chester L. Hunt. 1992. Sosiologi. Jilid 1. Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga. 1992. Sosiologi. Jilid 2. Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar