Sabtu, 04 Juni 2016

Perjuangan Sultan Hemengku Buwana IX Menjadikan Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat Menjadi Bagian dari RI


Romadina Permatasari/E/S

Pada 17 Agustus 1945, telah tersebar berita mengenai Proklamasi kemerdekaan Indonesia. Di yogyakarta tersiar melalui kantor berita Domei dari Jakarta. Pada hari jumat melalui khotbah masjid jumat di Masjid alun-alun Utara dan masjid Paku Alaman.  Lalu pada sore harinya Ki Hajar Dewantara berkeliling kota dengan sepedanya untuk mengabarkan berita kemerdekaan kepada masyarakat. waktu inilah dimana sang "Merah Putih" berkibar. hingga saat ini  berkibar karena pengabdian para fouding fathers yang ikhlas untuk rakyat.
Bagi Sultan pribadi, proklamasi kemerdekaan itu merupakan peristiwa yang membuka jalan untuk melepaskan diri dari penderitaan batin sekaligus menempuh jalan bebas guna menentukan nasib kemudian hari.[1] 
Sultan HB IX adalah seorang Raja pada kerajaan Yogyakarta yang sudah eksis selama ratusan tahun yang lalu. Dimana dalam batinnya bergejolak keinginan untuk merdeka dan mensejahterakan rakyat. Sementara itu pada waktu itu upaya yang dilakukan yakni dengan berdiplomasi dan konsolidasi. Sultan HB IX memberi
dukungan sepenuhnya terhadap proklamasi kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Pendirian sultan untuk mendukung proklamasi kemerdekaan ditandai dengan pengiriman telegram pada 18 Agustus 1945 kepada Soekarno-Hatta dan kepada KRT Rajiman Wedidiningrat (mantan ketua BPUPKI). Adapun makna telegram tersebut merupakan ucapan selamat atas terbangunnya Negara Republik Indonesia dan terpilihnya kedua pemimpin tersebut sebagai Presiden dan wakil Presiden. Pada tanggal 19 Agustus 1945 di bangsal kepatihan sultan mengumpulkan pemimpin-pemimpin kelompok muda. Mereka antara lain dari golongan agama, nasionalis, kepanduan dan keturunan cina yang jumlahnya mencapai 100 orang. Pada pertemuan itu sultan berpidato dengan isi pidato yakni :[2]
"Kita telah beratus-ratus tahun dijajah bangsa lain. Maka selama itu perasaan kita tertekan dan sekarang kita merdeka. Tentu persaaan yang lepas dari tekanan akan melonjak. Melonjaknya ini yang harus kita jaga. Biarlah melonjak setinggi-tingginya, sepuas-puasnya akan tetapi jangan sampai menyerempet yang tidak perlu, yang bisa menimbulkan kerugian. Menurut sejarah, dimana terjadi perubahan besar  dan mendadak seperti yang terjadi di tanah air kita sekarang pemuda senantiasa memegang peranan. Oleh karena itu saudara-saudara saya minta menjaga keamanan masyarakat. baik di kampung-kampung, di perusahaan-perusahaan, di toko-toko dan lain-lain jangan sampai terjadi kerusauhan, kalau terjadi sesuatu laporkan kepada saya. dan bertindak sebagai wakil saya dalam hubungannya dengan saudara-saudara adalah Pangeran Bintara. "
Lalu pada 20 agustus 1945, Sultan HB IX untuk kedua kalinya mengirim telegram kepada presiden dan wakil presiden. Dalam telgram tersebut secara tegas menyatakan"sanggup berdiri di belakang pimpinan Paduka Yang Mulia".
Sementara itu dalam upaya menindaklanjuti amanat proklamasi, pada 24 agustus 1945 dengan dukungan Sultan dan Paku Alam, rakyat membentuk Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID). KNID yang terdiri dari unsur masyarakat dan tokoh menyetujui amanat Sultan HB IX yakni  bahwa dalam amanat tersebut menyatakan :
1.      Bahwa Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat yang bersifat Kerajaan adalah Istimewa dari Negara Republik Indonesia.
2.      Bahwa kami sebagai Kepala Daerah memgang segala kekuasaan dalam Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat, dan oleh karena itu berhubung dengan keadaan pada dewasa ini segala urusan pemerintahan dalam Neegeri Ngayogyakarta hadiningrat mulai saat ini berada di tangan Kami dan kekuasaan-kekuasaan lainnya kai pegang seluruhnya.
3.      Bahwa perhubungan antara Negeri Ngayogyakarta hadiningrat dengan pemerintah Pusat Republik Indonesia, bersifat langsung dan Kami bertanggungjawab atas Negeri Kami langsung kepada Presiden Republik Indonesia.
Lalu amanat tersebut ditanggapi oleh Presiden Soekarno dengan sebuah piagam kedudukan Sri Sultan yang dibawa langsung oleh Menteri Mr. Sartono dan Mr. Maramis. Adapun isi piagam tersebut yakni
Kami, Presiden Republik Indonesia, mentapkan :
Ingkang Sinuwun kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalogo, Abdulrachman Sayidin Panotogomo Kalifatullah ingang kaping IX ing Ngayogyakarta Hadiningrat pada kedudukannya, dengan kepercayaan, bahwa Sri Paduka Kanjeng Sultan akan mencurahkan segala pikiran, tenaga, jiwa dan raga untuk keselamatan Daerah Yogyakarta sebagai bagian dari pada Republik Indonesia.
tertanggal jakarta, 19 agustus 1945 tertandatangan Soekarno.
Piagam tersebut berisi pengakuan pemerintah kepada kesultanan Yogyakarta sebagai bagian dari Republik Indonesia.
Pernyataan bahwa Kesultanan Yogyakarta bagian dari NKRI merupakan semangat kebangsaan dan merupakan sumbangsih Sri Sultan HB IX dengan semangat kebangsaannya. Dengan segenap upaya dan usaha akan membela kemerdekaan walau pada waktu itu pihak belanda masih tetap melakuan bujuk rayu agar Kesultanan Ngayogyakarta berada dipihaknya. Peran tesebut bukan merupakan permulaan kontribusi Sri Sultan Hamengu Buwono IX kepada bangsa Indonesia. sebalumnya Sultan telah merombak birokrasi kesultanan dan mengubah stuktur masyarakat yogyakarta. Selain itu, dalam pembinaan masyarakat sultan memajukan pendidikan yakni dengan berdirinya sekolah rakyat (SR), lalu mendirikan SMP dan kemudian mendiirikan sekolah menengah tinggi (SMT).
1.                  Peranan Sultan Pada Waktu Yogya Sebagai Ibukota RI
Pasca kemerdekaan Indonesia, belanda tidak tinggal diam. Dengan menumpang tentara Sekutu yang dipimpin oleh tentara Inggris. mereka akan mengumpulakan bekasinterniran dan tahanan tentara jepang di Jakarta. Tentara Belanda bersikukuh tetap ingin mengembalikan Indonesia sebelum tanggal 8 maret 1942. Dapat kita bayangkan keadaan Jakarta waktu itu sangat genting. Para pemimpin negara khawatir akan ditangkap, di tahan dan diasingkan. Sehingga perlu agara para pemimpin republik menyelematkan diri dan memindahkan ibukota negara.
Melihat kenyataan itu Sri Sultan HB IX tidak tinggal diam. Dengan segara sultan menawarkan Yogyakarta sebagai pusat dan tempat kedudukan pemerintahan republik. Gayung pun bersambut pada sidang kabinet memutuskan bahwa pusat pemerintahan di pindahkan ke Yogyakarta. Sehingga Yogyakarta menjadi ibukota sementara Republik Indonesia. Presiden dan wakil menteri dan para pemimpin kementerian pindah ke Yogyakarta. Sultan memberikan Fasilitas yang ada agar roda pemerintahan tetap berjalan. Antara lain fasilitas itu adalah gedung, keamanan dan lain sebagainya. Sultan berusaha menjadi "Tuan rumah yang baik". Loyalitas sultan tidak diragukan laugi. Meskipun lama dididik di keluarga belanda dan di sekolah di negeri belanda namun ia tetaplah nasionalis orang pribumi asli.
2.                  Perananan Sultan Pada waktu Perang Kemerdekaan
Pada tahun 1946, Belanda melakukan Agresi Militer Belanda 1. agresi itu berhenti setelah dikeluarkan resolusi oleh Dewan Keamanan PBB. Untuk kemudian menghasilkan perundingan Renville. Pada 19 desember 1948 belanda melakukan agresi militer yang ke II. Sasaran penyerbuan adalah Ibukota Yogyakarta.  Atas hasil rapat kabinet Presiden Soekarno memerintahkan Mr. Syarifudin Prawiranegara supaya membentuk pemerintah darurat republik Indonesia di Sumatera. Sementara itu pada 22 Desember 1948 Presiden Soekano, Wakil Presiden Moh. Hatta dan para pembesar lainnya di tangkap belanda dan dibawa ke luar yogyakarta untuk kemudian diasingkan ke brastagi dan Bangka. Sementara itu Sultan tidak di tangkap mengingat kedudukannya yang istimewa dan dikahwatirkan akan mempersulit keberadaan belanda di yogyakarta. Yogyakarta waktu itu diakui sebagai kerajaan dan Belanda harus menghormati kearifan setempat.  Meskipun Belanda mengajak Sultan untuk bekerjasama tetapi dengan tegas sultan menolak. Sultan tidak mau diperalat oleh belanda. Yogyakarta waktu itu sudah terkurung dan dikuasai oleh belanda sementara itu Ibukota Negara di pindahkan ke Sumatra dengan pemimpin Mr. Syarifudin.
Disinilah peran Sultan HB IX dalam upaya menunjukkan kepada dunia Internasional bahwa Indonesia masih eksis. Hal itu penting untuk keperluan Diplomasi dan menekan Belanda dalam forum PBB.  Pada bulan Feburuari 1949, dengan bantuan kurir, Sultan menghubungi Panglima Besar Sudirman untuk meminta persetujuannya melaksanakan siasat dan untuk langsung menghubungi komandan geriliya. Komandan Geriliya itu yakni Letnan Kolonel Suharto.  dengan segala perencanaannya suatu serangan umum akan dilancarkan untuk membebeaskan yogyakarta. Ternyata serangan itu berhasil yakni sekitar enam jam geriliya dapat menguasai yogyakarta. Peristiwa itu dikenal dengan peristiwa "serangan umum satu maret". Peristiwa itu lalu disiarkan melalui radio dan diteruskan ke Bukittinggi untuk kemudian diteruskan ke India dan lalu teruskan lagi ke PBB.  Sehingga serangan tersebut mematahakn argumen kerajaan belanda yang mengarakan bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada. Serangan umum 1 maret menunukkan bawa TNI masih hidup dan NKRI masih tegak berdiri. Sehingga mau tidak mau belanda harus menerima resolusi dewan keamanan PBB tangga 28 januari 1949 yaitu tentang perundingan. Perundungan dilaksanakan oleh Mr. Moh. Roem dan Dr. Van-Royen di bawah pimpinan Cockran anggota komisi PN untuk masalah Indonesia. Perjanjian itu ditandatangani tanggal 7 meri 1949. Adapun isi perjanjian Roem Royen adalah :
1.      Penghentian tembak-menembak
2.      Penarikan mundur belanda dari yogyakarta
3.      Pemimpin-pemimpin Republik dibebaskan dan kembali ke Yogyakarta
4.      Syarat dan waktu diadakan KMB (konferensi Meja Bundar)
Lalu dengan adanya isi perjanjian itu Sultan sebagai pemimpin Yogyakarta merencanakan proses  dan tatacara penarikan pasukan belanda dari yogyakarta. Pada 29 juni 1949 secara bertahap belanda ditarik mundur dari seluruh wilayah yogyakarta.  Sementara itu TNI, Polisi, Gerilyawan , Pamong praja dan rakyat yag dul mengungsi ke luar lalu mulai memsuki yogyakarta.  Setelah itu presiden Soekarno dan wakil presiden serta para pembesar lainnya kembalike yogyakarta dan disambut oleh Sultan HB IX. Begitu juga Syarifudin yang memimpin pemerintahan sementara di sumatra kembali ke Yogykarta.
Pada 13 juli 1949 di Yogyakarta diadakan sidang kabinet dan salah satu keputusan mengangkan Sultan HB IX sebagai Menteri Pertahanan. Pada waktu itu Moh. Hatta memimpin delegasi diplomasi ke Belanda untuk megnadakan konfrensi Meja Bundar (KMB). KMB sendiri menghasilkan RIS dan belanda menyerahkan kedaulatan kepada pemerintah.
3.                  Peranan Sultan dalam Bidang sosial dan Ekonomi
Pada saat usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia keadaan ekonomi dan sosial pada saat itu sangat memprihatinkan.  Akal bulus pihak Belanda dengan berbagai upaya menggencet keadaan ekonomi hingga faktor produksi dan pertanian tidak dapat berjalan dengan baik. Kekeringan dan kelangkaan bahan pangan terjadi di Yogyakarta. Bahan makanan harganya melonjak tajam. Dapat dibayangkan kondisi masyarakat pada waktu itu sungguh memperihatinkan. Kelaparan dimana-mana. Sementara itu uang khas Indonesia sudah tidak ada. Maka dari itu untuk menjamin agar roda pemerintahan tetap berjalan, maka Sultan HB IX menyumbangkan kekayaannya untuk membiayaai pemerintahan dan kebutuhan hidup para pegawai pemerintah dan para pemimpin. Sekitar enam juta Gulden disumbangkan oleh Sultan untuk membiayaai pemerintahan dan membiayai kebutuhan rakyat. Selain itu sumbangsih sultan juga digunakan untuk membayai pasukan Geriliya.  Bahkan sultan membiarkan Rakyat mendirikan rumah di dalam tembok kraton agar terlindung dari serangan agresor Belanda.
4.                  Peranan Sultan HB IX terhadap berdirinya UGM
Sultan HB IX adalah tokoh penting yang berperan sebagai pelopor berdirinya Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada. Balai tersebut merupakan benih lahirnya Universitas Gadjah Mada. Bersamaan dengan naiknya peranan Yogyakarta sebagai Ibukota Republik Indonesia pada 3 maret 1946, dan di kota ini pula untuk menunjukkan kepada dunia bahwa di dalam suatu negara Republik Indonesia telah berdiri suatu universitas. Pada waktu itu bernama "balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada".  Pada aktu itu merupakan lembaga pendidikan tinggi Partikelir. Yayasan pendidikan tersebut antara lain dibentuk oleh Prof. Priyono, Prof. Dr. Sardjito, Prof. Mr. Jakosutona, Prof. Mr. Kertanegoro dan Prof. Mr. Notonegoro. [3] Gedung yang dipergunakan untuk tempat belajar adalah Pagelaran Sitihinggil, yaitu bagian dari kraton yogyakarta yang dipinjamkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, pada waktu itu berdiri Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada yang baru memiliki fakultas Hukum dan fakultas Sastra.[4]
Pemerintah melalui peraturan Pemerintah No. 23 tahn 1949 menetapkan bahwa seluruh perguruan tinggi negeri di yogyakarta ditetapkan duntuk digabungkan menjadi satu universitas. Balai perguruan tinggi negeri itu pada 19 Desember 1949 dinyatakan sebagai "Universitas Negeri Gadjah Mada. Adapun ketua senat universitas yakni Prof. Dr. Sardjito. Pada waktu itu universitas terdiri dari beberapa fakultas antara lain fakultas sastra, hukum, teknik, kedokteran, kedokteran gigi dan farmasi, pertanian dan kedokteran hewan.  Sementara itu pada waktu itu belum ada sarana dan prasaran untuk dapat dikatana layak sebagai universitas. Maka dari itu Sutan HB IX menyediakan dan mempersilahkan mmepergunakan rumah yang kosong di dalam area kesultanan untuk dijadikan ruang kelas. Ruang-ruang tersebut yakni Pagelaran, Sitihinggil, bangsal Mangkubumen, Pugeran, Mangkuwilayan, Wijilan dan berbagai ruang dan tempat lain dengan segala fasilitasnua disediakan untuk perkuliahan dan kepentingan Gadjah Mada.
Pada 11 juli 1955 atau pada usianya yang keenam Universitas Negeri gadjah Mada berubah nama menjadi Universitas Gadjah mada. UGM semakin berkembang dan maju. UGM telah menjadi unsur dalam negara Indonesia menuju ke arah masa depan. Maka dipikirkanlah mengenai perluasan dan pemekaran.  Sultan tanpa diminta langsung menunjuk tanah di Bulaksumur sebagai lokasi kampus (tanah Sultan Ground). Selain menyediakan fasilitas bangunan dan tanah untuk mengembangan pendidikan, Sultan juga merintis pembangunan asrama-asrama mahasiswa di yogyakarta. Sultan telah membuka pintu Yogyakarta untuk menampung warga masyarakat dari seluruh penjuru Indonesia.
Kini, kita semua sudah mahfum bahwa UGM telah menjelma menjadi perguruan tinggi yang banyak melahirkan generasi penerus bangsa. Julukan kampus kerakyatan dan kampus perjuangan telah melekat pada UGM. Bahkan menjadi perguruan tinggi favorit dan menjadi Idaman. Sebagai warga civitas akademika kita semua harus menyadari sumbangsih Sultan HB IX. kita harus memaknainya sebagai semangat inspirasi agar kita betul-betul memanfaatkan segala kenikmatan ini guna mendapai tujuan kemaslahatan rakyat Indonesia. UGM telah membuktikan dengan adanya program pengabdian KKN PPM yang menurukan mahasiswanya kepada masyarakat sebagai problem solver. Sehingga tidak berlebihan jika Prof. Sudjarwadi (mantan Rektor UGM) mengatakan bahwa mahasiswa UGM bukanlah mahasiswa yang takut akan nasibnya sendiri, tetapi takut dan khawatir akan permasalahan di sekitar lingkungannya. Ungkapan tersebut bermakna sama seperti semangat dari sosok Sultan HB IX yang selalu memikirkan kondisi rakyat di sekitarnya dan juga nasib bangsa Indonesia.
5.                  Keistimewaan Yogyakarta
Roem "Bagaimana Nasib Republik ini apabila Sri Sultan tidak ada"
Berdirinya negara ini tidak lepas dari peran dan wewenang Sultan HB IX melalui jalur konsolidasi dan diplomasi. Yogyakarta memegang peran penting dalam kemerdekaan dan usaha mempertahankan kemerdekaan republik Indondesia. Keistimewaan Yogyakarta ditandai dengan amanat 5 september 1945 oleh Presiden Soekarno yang intinya adalah Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat yang bersifat kerajaan adalah Daerah Istimewa dari Republik Indonesia. Pengorbanan Sultan HB IX baik sebagai raja yang demokratis dan mementingkan kepentingan rakyat. Sultan juga berkontribusi melakukan NKRI mengabdikan dirinya dengan menjabat tanpa pamrih dan mengutamakan pengabdian.
Penutup
Seperti yang telah disampaikan diatas, bahwa peran Sultan Hamengku Buwono IXsangatlah istimewa dalam sejarah Indonesia. Sikap politiknya jelas berada di belakang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peran istimewa antara lain menyediakan Yogyakarta sebagai Ibukota sementara. sementara itu di saat genting beliau juga aktif melakukan diplomasi dan konsolidasi. Tidak hanya pada saat saat kemerdekaan tetapi juga pasca kemerdekaan republik ini. Sementara itu sikap beliau sebagai negarawan yang dapat kita teladani adalah sikap rendah hati, tanpa pamrih dan tidak ambisius. Maka dari itu kita sebagai generasi muda harus meneladai jejak perjuangan beliau. Jadikan semangat perjuangan Sultan Hamengku Buwono IX sebagai inspirasi. Inspirasi untuk terus menjadi problem solver, inspirasi bahwa pengabdian adalah hal utama dalam sosok negarawan, Inspirasi bahwa kita generasi muda tidak boleh terjebak dalam pusaran korupsi, Inspirasi bahwa Intelektualitas kita harus sejajar dengan negara lain. Kobarkan semangat perjuangan beliau. Semangat bahwa kita bangga menjadi bangsa Indonesia (Proud tobe Indonesian Nation).

Daftar Pustaka :
[1] Biografi Pahlawan Nasional, Sultan Hamengku Buana IX, Debdikbud, 1998, Jakarta. Hlm. 31
[2] Badan Musyawarah Musea Daerah Istimewa Yogyakarta Perwakilan Jakarta, Sejarah Perjuangan Yogya Benteng Proklamasi (Jakarta : Barahmus, 1985) hl. 48-49.
[3] 30 tahun Indonesia Merdeka 1945-1949 (Jakarta : Tira Pustaka. 1980). Hal. 88
[4] Kota Jogjakarta 200 Tahun Tahun 7 Oktober 1756- 7 Oktober 1956 (yogyakarta :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar