Sabtu, 04 Juni 2016

PERANG HEGOMONI ANTARA JAMBI DAN JOHOR


LAILATUL HASANAH / SI IV

Jambi Awal Abad Ke 17
Pada awal abad 17 negeri Jambi di bawah kekuasaan sultan Pengeran Keda Abdul Kohar, gelar Sultan Abdul Kohar (1615-1643). Di negeri Jambi pada awal abad 17 sedang mengalami beberapa peristiwa penting, antara lain sebagai berikut :
  • Keadaan dalam negeri sedang mengalami masa kejayaan, dan bandar-bandar dagang ramai dikunjungi pedagang mancanegara.
  • Pada tahun 1616 Belanda berhasil mendirikan kantor VOC setahun setelah kehadirannya di Jambi.
  • Para ahli hukum dan ahli adat sedang melakukan rekonstruksi undang-undang kerajaan Jambi guna menerapkan unsur-unsur ajaran Islam ke dalam hukum adat dan peraturan pemerintahan.
  • Hubungan dengan Mataram sedang masa puncaknya.
  • Hubungan dengan Johor dalam keadaan tegang karena Masalah Tungkal.
Jauh sebelum kedatangan Belanda tahun 1615, daerah Jambi menjadi penghasil utama lada besar dan emas, pinang, gaharu, getah balam merah, getah jernang, dan getah jelutung. Menginjak awal abad 17 negeri Jambi dikunjungi pedagang Cina, India, Parsi, Arab, Portugis, dan Inggris dan Belanda. Pedagang Portugis dan Inggris lebih dahulu datang ke Jambi namun tidak mendapat izin mendirikan kantor dagang, tapi mereka diizinkan berjual beli dengan penduduk setempat. Baru 1 tahun menginjakkan kaki di Jambi ternyata Belanda memperoleh izin sultan membuka kantor dagang VOC di Jambi. Hal ini menimbulkan kecurigaan dari pedagang barat lainnya dan negeri-negeri tetangganya. Namun karena tidak disenangi rakyat dan sulitnya berhubungan dagang dengan petani lalu Belanda menutup sendiri kantornya tahun 1623. Dan tahun 1636 Belanda mendapat izin lagi membuka kantor dagang VOC di bandar Muara Kumpeh. Jalur perdagangan utama Jambi melalui 2 pintu. Pintu pertama melalui bandar Zabaq, Koto Kandis, Muara Kumpeh, Jambi, Muara Tembesi dan Muara Tebo. Pintu kedua adalah melalui sungai Tungkal di bandar Pelabuhan Dagang.


Perang Jambi-Johor Pecah
Dalam catatan sejarah, perang terbuka antara Jambi dengan Johor berlangsung lebih kurang 14 tahun lamanya sejak tahun 1667 – 1681 M. Dalam kurun waktu 14 tahun itu telah terjadi paling kurang 4 kali perang. Dengan kata lain hubungan Jambi dengan Johor dalam kurun waktu selama 14 tahun diwarnai dengan penderitaan rakyat akibat peperangan. Dalam catatan sejarah Jambi tahun peperangan Jambi-Johor adalah sebagai berikut.
  • Perang Jambi-Johor ke I tahun 1667 M.
  • Perang Jambi-Johor ke II tahun 1673.
  • Perang Jambi-Johor ke III tahun 1677-1679 M.
  • Perang Jambi-Johor ke IV tahun 1680 – 1681 M.
Dua (2) tahun sebelum perang meletus, di mana penguasa Jambi Sultan Agung wafat lalu diganti oleh putranya Raden Penulis, gelar Sultan Abdul Mahyi Sri Ingolopo (1665 – 1690). Puncak ketegangan yang telah berlangsung puluhan tahun adalah meletusnya perang besar antara Jambi dengan Johor tahun 1667. Dalam perang ini Jambi mendapat serangan pasukan Johor. Palembang ikut terlibat peperangan dengan memihak Johor. Sedangkan petualang Bugis pimpinan Daeng Mangika, ikut pula berkhianat dengan membantu Johor dan menyerang Jambi. Dalam perang ini Jambi mengalami kekalahan dan menderita banyak menderita kerugian. Namun tahun 1673 Jambi dapat merebut Tungkal.
Kekalahan Jambi dalam perang melawan Johor tahun 1667 menyebabkan Sultan Abdul Mahyi Sri Ingologo sangat marah karena kekalahan ini adalah penghinaan oleh Sultan Abdul Jalil Riayat Syah Johor. Dalam situasi sulit yang sedang dihadapi sultan Jambi itu, maka Belanda menawarkan kerja sama dan Jambi menerima uluran tangan Belanda tersebut. Kemarahan sultan Jambi lalu diungkapkannya dalam sebuah surat tantangan untuk Sultan Johor. Surat sultan Jambi sengaja dibuatnya dengan nama dan cap surat diletakkan di atas kepala surat. Dalam tradisi Melayu bilamana nama dan cap surat di atas kepala surat, artinya negeri yang menerima surat tersebut adalah wilayah taklukan negeri pengirim surat. Membaca surat sultan Jambi itu maka Raja Bujang atau Sultan Abdul Jalil Riayat Syah sangat murka, seolah-olah negeri Jambi lebih berkuasa dari pada Johor. Surat ini dipandang sebagai penghinaan yang menyakitkan segenap rakyat Johor yang berdaulat. Setelah pengiriman surat ini masing-masing pihak telah dapat merasakan bahwa peperangan akan terulang lagi.
Pada awal tahun 1673 ada usaha Johor untuk berdamai dengan Jambi melalui Belanda sebagai perantara, namun mengalami kegagalan. Karena kegagalan perdamaian ini maka Jambi dan Johor telah bersiap diri menghadapi segala kemungkinan pecah perang Jambi­ Johor ke II. Tidak menunggu lama dalam bulan April tahun 1673 perang Jambi-Johor memang terulang kembali dengan skala lebih besar. Belanda dan Palembang serta petualang Bugis pimpinan Daeng Mangika mendukung Jambi. Perang Jambi-Johor ke II ini, diawali dengan serangan Jambi ke pusat/jantung ibu negeri Johor di Johor Lama, yang terletak di pinggiran sungai Johor. Angkatan perang Jambi menduduki ibu negeri di Johor Lama, sultan Abdul Jalil Riayat Syah bersama pembantunya melarikan diri ke Pahang dan Datuk Bendahara Johor ditawan Jambi. Dalam perang tahun 1673 ini, Johor Lama dapat dihancurkan. Dan Tungkal dapat direbut kembali oleh Jambi. Pasukan Jambi dalam perang tahun 1673 membawa serta barang rampasan perang antara lain sebagai berikut.
  • Empat (4) ton emas murni.
  • Meriam besi 95 pucuk.
  • Tawanan perang sebanyak 1268 orang.
  • Dan berbagai jenis senjata api.
Setahun setelah kalah perang maka Johor bangkit kembali dan mengadakan persiapan membalas kekalahannya. Pasukan Johor dibantu Palembang dan petualang Bugis pimpinan Daeng Mangika, sedangkan Jambi dibantu VOC dengan peralatan militer. Perang Jambi-Johor ke III ini berlangsung dari tahun 1677-1679. Dalam perang ini Jambi dikalahkan Johor dan Jambi harus membayar kepada Johor antara lain sebagai berikut.
  • Uang Tunai 10.000 rijksdaalders.
  • Meriam Besi 2 buah.
  • Sejumlah emas,
  • Mengembalikan Tawanan tahun 1673.
Setelah kekalahan Jambi dalam perang ke III maka tahun 1680 – 1681 pecah perang ke Jambi-Johor ke IV. Angkatan perang Johor dibantu Palembang dan Daeng Mangika menyerang Jambi. Ketiga pasukan gabungan ini mengepung Jambi dari segala penjuru. Dalam perang ini Jambi dibantu secara penuh oleh Belanda dengan berbagai macam perlengkapan militer dan dana. Akhir dari peperangan ini ternyata serangan Johor, Palembang dan petualang Bugis dapat dipukul mundur dan Johor menderita banyak kerugian. Daerah Tungkal serta Indragiri dikuasai sepenuhnya oleh Jambi.
Hampir selama abad 17 hubungan Jambi dengan Johor penuh dengan perselisihan, pergolakan dan peperangan. Perang Jambi Johor selama hampir 14 tahun ternyata di kemudian hari kedua belah pihak tidak memperoleh keuntungan apapun juga, kecuali kehancuran, kemunduran, dan penderitaan rakyat. Yang beruntung dalam perang Jambi­-Johor adalah kaum penjajah Belanda, Inggris, dan Portugis serta petualang Bugis pimpinan Daeng Mangika. Analisis dampak negatif akibat perang Jambi-Johor adalah sebagai berikut :
1. Negeri Jambi.
  • Secara ekonomis negeri Jambi mengalami kebangkrutan ekonomi karena biaya perang yang sangat besar.
  • Kejayaan negeri Jambi mulai turun dan melemah peranannya di kawasan pantai timur Sumatra.
  • Belanda secara terang-terangan mulai memihak atau terlibat masalah perebutan kekuasaan antar keluarga keraton Jambi.
  • Sultan Abdul Mahyi Sri Ingologo tahun 1690 turun takhta lalu ditangkap dan dibuang ke Pulau Banda.
  • Dampak perang Jambi-Johor yang paling menyakitkan hati rakyat Jambi adalah semakin tahun kedudukan Belanda semakin kuat, dan semakin banyak perjanjian ditanda-tangani sultan, maka semakin banyak bagian negeri Jambi tergadai kepada Belanda.
2. Negeri Johor.
Bagi Johor dampak negatif perang Jambi-Johor yang melelahkan itu hampir tidak berbeda dengan Jambi, yakni mengalami kehancuran, kemunduran dan penderitaan rakyat. Untuk membangun kembali Johor Lama yang hancur dan memulihkan pembangunan dalam negeri akibat perang, maka sultan Johor sangat memerlukan suasana aman dan damai. Dalam kondisi Johor seperti ini tidak heran kalau sultan/penguasa Johor berikutnya melakukan perjanjian dengan bangsa Barat, negeri tetangga dan memberi peran para petualang Bugis yang memang sangat berjasa dalam perang Jambi-Johor. Menurut pandangan penulis berdasarkan catatan sejarah di Jambi, karena kondisi dan situasi negeri Johor selesai perang Jambi-Johor telah melapangkan jalan para petualang Bugis berperan lebih jauh dalam bidang politik negeri Johor. Proses ini adalah awal dari proses panjang adanya menuju pergeseran dinasti di dalam keraton negeri Johor.
Hubungan Jambi-Johor Abad 19        
Pada abad 19 hubungan Jambi-Johor dapat dikatakan berjalan dengan baik karena adanya saling pengertian. Sejak negeri Jambi diperintah oleh Sultan Thaha Syaifuddin (1855 – 1904) hubungan Jambi-Johor terlihat sangat harmonis. Hubungan baik antara Jambi-Johor masih terlihat sampai masa Indonesia/Jambi menghadapi agresi militer Belanda kedua tahun 1949.
Sejak sultan Thaha Syaifuddin naik takhta kesultanan Jambi tahun 1855-1904, penjajah Belanda tidak pernah tenang hatinya, karena sultan Jambi telah mengambil garis kekerasan yakni menentang segala bentuk kehadiran Belanda di negeri Jambi. Garis keras ini menyebabkan Belanda menyerang keraton Jambi tahun 1858 dan Belanda merebutnya. Sejak saat itu sultan beserta pengikutnya menyingkir ke Muara Tembesi dan mengadakan perlawanan di sana. Pada tahun 1901 Muara Tembesi diduduki Belanda maka sultan beserta pengikutnya menyingkir ke pedalaman hutan Jambi, lalu mengadakan perlawanan gerilya.
Sebelum pecah perang di Muara Tembesi, keluarga sultan dan keluarga pengikutnya masih sempat diungsikan terlebih dahulu menuju tempat yang aman. Salah satu tujuan pengungsian bagi keluarga sultan dan pengikutnya adalah negeri Johor Malaysia. Dalam keterangan keluarga keturunan Sultan Thaha Syaifuddin yang ada di Batu Pahat, Johor, Malaysia, kedatangan pengungsi keluarga sultan Jambi ke negeri Johor berlangsung 2 periode. Selain pengungsi keluarga terdapat pula pengungsi politik.
Pertama, pengungsian terjadi akhir abad 19 sebelum pecah perang Muara Tembesi tahun 1901. Route pengungsian dimulai dari Sungai Alai, lewat jalan darat/hutan belantara menuju Muara Tebo. Perjalanan lewat hutan belantara dilanjutkan menuju Merlung. Dari Merlung perjalanan darat melewati hutan lebat diteruskan menuju Siak Indragiri. Dari Siak Indragiri perjalanan lewat hutan diteruskan menuju Kuala-Kampar, Riau. Dari Kuala Kampar perjalanan dilanjutkan berlayar dengan menyewa sebuah Tongkang menuju daerah Lubuk negeri Johor. Perjalanan dari negeri Jambi menuju negeri Johor berlangsung 6 tahun lamanya dan mereka sempat berladang padi dalam perjalanan. Karena Belanda selalu mengejar, ladang ditinggal dan perjalanan dilanjutkan. Dalam perjalanan banyak pengungsi sakit dan meninggal dunia. Setelah membuka hutan untuk berladang di Lubuk kurang lebih 5 tahun lamanya, maka atas kebaikan hati sultan Johor mereka diberi suatu kawasan hutan di sekitar Tanjung Semberong, Batu Pahat. Para pengungsi yang sampai di negeri Johor, antara lain sebagai berikut.
1.      Raden Muhammad Yasin, sebagai pimpinan pengungsi, adalah putra Raden Hamzah.
2.      Penghulu Haji Ali, dari dusun Teluk, termasuk dalam daftar hitam/orang yang
harus ditemukan hidup atau mati oleh Belanda.
3.      Syarifah Dempak.
4.      Ratunas Badaniah Binti sultan Thaha Syaifuddin, ia adalah seorang janda membawa 2 orang putra,satu diantaranya bernama Raden Haji Bagong (Raden Haji Abdurrahman)
5. Dan belasan orang pengungsi lainnya serta anak-anak belum dewasa.
    Kedua, setelah Muara Tembesi jatuh ke tangan Belanda, sultan Thaha
Syaifuddin mengirim pula pengungsi keluarga keraton menuju Johor :
  • Raden Hanafiah, Bin Raden Abdur Rahman, sebagai pimpinan rombongan.
  • Beberapa keluarga.
  • Dan beberapa orang anak belum dewasa.
Rute perjalanan pengungsi keluarga periode kedua ini melewati rute pengungsi periode pertama. Di Kuala Kampar karena keadaan, dengan terpaksa mereka merampas kapal tongkang untuk menuju Batu Pahat, Johor. Di Batu Pahat, tongkang yang mereka tumpangi kandas dan pecah di tengah sungai Batu Pahat. Sampai sekarang daerah sekitar sungai Batu Pahat tempat tongkang pecah masih bernama Tongkang Pecah. Di Batu Pahat, lalu mereka menyatu dengan pengungsi sebelumnya di Tanjung Semberong. Dari Tanjung Semberong pemukiman pengungsi Jambi meluas sampai ke Sungai Biuh, Segamat, dan sekitarnya. Di hulu sungai Johor terdapat sebuah pemukiman penduduk yang bernama Kampung Haji Muhammad Jambi.
Sedangkan pengungsi politik adalah para pengungsi yang terdiri dari pembesar negeri Jambi. Pada awal abad 20 setelah Muara Tembesi diserang Belanda, lalu sultan Jambi mengirim utusan ke Turki untuk meminta bantuan. Dalam catatan sejarah Jambi  ke Turki itu adalah sebagai berikut :
  • Haji Abdul Karim, seorang Perdana Menteri.
  • Mukti (Hasim).
  • Seorang Ajudan.
  • Dua (2) orang Kadi (Kepala Penghulu).
Pulang dari Istambul mereka menyaksikan negeri Jambi dalam keadaan kacau, para pengikut setia sultan tercerai berai dan dikejar oleh Belanda serta Sultan Thaha Syaifuddin telah gugur tahun 1904, dan sebagian keluarganya mengungsi ke Johor. Mereka utusan ke Turki masuk dalam daftar hitam pejabat negeri Jambi yang sangat dicari Belanda. Dalam catatan di Jambi tidak diketahui dengan pasti mereka yang menetap di Malaysia. Menurut informasi yang masih perlu penelitian lanjutan disebutkan bahwa mereka itu menetap dan bermukim di Pasir Gajah, Kemaman, Trengganu, Malaysia, dan masih menyimpan Medali Emas dan piagam pemberian sultan Turki.

DAFTAR PUSTAKA :
1. Deker,Nyoman.1974.Sejarah Indonesia Dalam Abad XIX 1800-1900.Malang:YDTP Ikip Malang
2. Kartodirdjo,Sartono.1999.Penganar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900.Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
3. M.Yahya Harun.1995.Kerajaan Islam Nusantara XIV & XVII:Yogjakarta:Kurnia Kalam Sejahtera
4. Pusonegoro.Marwati Joend.1990.Sejarah Nasional Indonesia IV.Jakarta:Balai Pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar