Sabtu, 04 Juni 2016

PENGARUH PENGANGGURAN DITINJAU DARI BERBAGAI ASPEK KEHIDUPAN

NURBANI/ 14B/ PIS
Pendahuluan
Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah - masalah sosial lainnya.
Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran,
produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya. Untuk mengukur tingkat pengangguran pada suatu wilayah bisa didapat dari prosentase membagi jumlah pengangguran dengan jumlah angkaran kerja.
1.      Pengangguran Dilihat Dari Aspek Sosiologi
Adanya pengangguran dapat dipengaruhi kurangnya pengetahuan atau informasi tentang peluang usaha malas mencari informasi dari surat kabar atau internet, karena pendidikan rendah sehingga malas untuk melamar kerja dan lebih suka santai-santai di rumah menikmati hidup. Mungkin orang semacam ini punya sumber pemasukan dari berbagai sumber pasif. Orang yang memiliki penyakit atau cacat tubuh biasanya minder dan merasa rendah diri dari orang normal. Padahal belum tentu begitu jika kita punya suatu kemampuan atau bakat yang jarang dipunyai orang lain. Bisa pula dikarenakan seseorang yang gaptek sehingga tidak bisa menggunakan internet untuk mencari informasi informasi tentang lowongan pekerjaan.
2.      Pengangguran Dilihat Dari Aspek Ekonomi
Tingginya tingkat pengangguran dalam sebuah perekonomian akan mengakibatkan kelesuan ekonomi dan merosotnya tingkat kesejahteraan masyarakat sebagai akibat penurunan pendapatan masyarakat. Kondisi rendahnya ekonomi warga membuat warga memiliki pendidikan yang rendah, sehingga pengalaman ketrampilan dan pengetahuan hanya sedikit pula, padahal syarat untuk bekerja minimal lulusan SLTA. Kondisi ekonomi yang sedang  jatuh dapat membuat permintaan akan tenaga kerja tidak sebanding dengan penawaran tenaga kerja sehingga menyebabkan banyak PHK dan lowongan kerja baru yang langka. Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sangat penting untuk dikembangkan dengan semangat wirausaha yang tinggi. Untuk itu diperlukan peran serta pemerintah dan masyarakat untuk menumbuhkembangkan ukm-ukm yang ada secara profesional. Pengangguran juga memiliki dampak terhadap perekonomian. Semakin lama seseorang menganggur semakin besar beban psikologis yang ditanggungnya. Orang yang memiliki pekerjaan berarti ia memiliki status sosial di tengah-tengah masyarakat. Seseorang yang tidak memiliki pekerjaan dalam jangka waktu lama akan merasa rendah diri (minder) karena statusnya yang tidak jelas.
Pengganguran berdampak negatif terhadap kegiatan perekonomian, seperti:
1. Pengangguran bisa menyebabkan masyarakat tidak dapat memaksimalkan tingkat kemakmuran yang dicapainya. Hal ini terjadi karena pengangguran bisa menyebabkan pendapatan nasional riil (nyata) yang dicapai masyarakat akan lebih rendah daripada pendapatan potensial (pendapatan yang seharusnya). Oleh karena itu, kemakmuran yang dicapai oleh masyarakat pun akan lebih rendah.
2. Pengangguran akan menyebabkan pendapatan nasional yang berasal dari sector pajak berkurang. Hal ini terjadi karena pengangguran yang tinggi akan menyebabkan kegiatan perekonomian menurun  sehingga pendapatan masyarakat pun akan menurun. Dengan demikian, pajak yang harus dibayar dari masyarakat pun akan menurun. Jika penerimaan pajak menurun, dana untuk kegiatan ekonomi pemerintah juga akan berkurang sehingga kegiatan pembangunan pun akan terus menurun 
3. Pengangguran tidak menggalakkan pertumbuhan ekonomi. Adanya pengangguran akan menyebabkan daya beli masyarakat akan berkurang sehingga permintaan terhadap barang-barang hasil produksi akan berkurang. Keadaan demikian tidak merangsang kalangan Investor (pengusaha) untuk melakukan perluasan atau pendirian industri baru. Dengan demikian tingkat investasi menurun sehingga pertumbuhan ekonomipun tidak akan terpacu.
3.      Pengangguran Dilihat Dari Aspek Antropologi
Pengangguran yang dalami semakin meingkat dikarenakan SDM yang tidak memadai ini bisa disebabkan kurikulum perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan yang dibutuhkan industri, dan juga anggaran yang disediakan pemerintah untuk sektor pendidikan yang masih rendah sehingga yang dihasilkanpun tidak mencapai 'buah' yang maksimal. Dapat juga timbulnya pengangguran dikareakan budaya remaja yang masih ingin bersenang- senang, apalagi anak dari seseorang yang orang tuanya sudah memiliki penghasilan menengah keatas, anak tersebut menggantungkan harta orang tua untuk memenuhi kebutuhannya, orang tua selalu memenuhi apa yang diinginkan anaknya, sehingga memuat anak tidak belajar mandiri, anak-anak sekarang juga banyak yang selalu mengikuti budaya luar yang selalu update dengan segala hal namun dia tidak mau bekerja, hanya menggantungkan hasil rang tua, jadi kebiasaan buruk itu yang membuat pengangguran di banten dan semakin naik, seharusnya bisa dubah dengan mengubah pola pikir seseorang dan yang lainnya.
4.      Pengangguran Dilihat Dari Aspek Geografi
Penyebab pengangguran paling dominan di Banten ini adalah urbanisasi, di mana banyak pendatang yang masuk ke Banten karena menganggap wilayah ini merupakan wilayah yang menjanjikan secara ekonomis. Urbanisasi sebenarnya merupakan sebuah konsekuensi logis dari pembangunan ekonomi yang tidak merata akibat industrialisasi yang ekstensif. Industrialisasi yang ekstensif apabila hanya terjadi di kota akan mengakibatkan arus urbanisasi semakin meningkat. Hal ini dikarenakan industri yang semakin meningkat khususnya di perkotaan akan menjadi faktor penarik terjadinya urbanisasi.
Urbanisasi yang terjadi dikarenakan sedikitnya lapangan pekerjaan bisa disebabkan oleh perkonomian yang terhambat. Akan tetapi urbanisasi terkadang bisa menjadi faktor pendorong terjadinya pengangguran dikarenakan jumlah masyarakat yang semakin banyak di dalam kota. Pemerintah bisa berperan penting dalam menangani urbanisasi melalui kebijakan-kebijakan yang dibuat. Akan tetapi pemerintah dalam menangani masalah urbanisasi terbentur dengan kepentingan-kepentingan beberapa stakeholder maupun minimnya kemampuan pemerintah itu sendiri. Dalam teori governance tata kelola pemerintahan ialah suatu pengelolaan pemerintahan yang memberi ruang kepada pihak di luar pemerintah untuk berperan secara optimal sehingga memungkinkan adanya sinergi di antara mereka (pemerintah, bisnis dan masyarakat atau LSM).
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh perorangan ataupun sekelompok orang yang secara sukarela yang memberikan pelayanan kepada masyarakat umum tanpa bertujuan untuk memperoleh keuntungan dari kegiatannya. (wikipedia.com). Sebagai sebuah lembaga yang netral dari wilayah pemerintah maupun swasta, tentunya LSM akan bebas dari tekanan kebijakan dan ekonomi pasar. Selain itu, LSM merupakan lembaga akar rumput yang lebih dekat dengan masyarakat terutama di daerah pedesaan.
5.      Pengangguran Dilihat Dari Aspek Psikologi
Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya. Yaitu tidak bisa memenuhi kebutuhan dirinya  dan keluarga, seseorang dapat melakukan hal negatif untuk memenuhi kebutuhannya seperti mencuri, menipu, merampok, mencopet, dll sehingga pengangguran itu sangat memiliki dampak terhadap psikologis seseorang, kemudian faktodari pengangguran tersebut dapat dipengaruhi oleh rasa malas seseorang, seseorang yang rumah atau tempat tinggalnya terpencil mereka malas utuk mencari kerja karena tempatnya yang jauh dari kediamannya.
6.      Analisis Pengangguran Dilihat Dari Aspek Politik
Pengangguran jika dianaisis dari aspek poltik yaitu pemusatan perhatian terhadap penuntasan pengangguran terbuka tidak seharusnya hanya tefokus pada lulusan universitas, karena faktanya angka pengangguran terbuka ditempati lulusan SMU cukup merisaukan. Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara.
Besarnya angka pengangguran terbuka itu tentu menjadi pekerjaan rumah pemerintah tanpa harus membedakan latar belakang dan tingkat pendidikannya. Pasalnya, secara konstitusional, UUD 1945 menyebutkan, setiap orang berhak atas pekerjaan dan penghasilan yang layak, kemudian dalam peraturan pemerintah republik indonesia Nomor 14 tahun 1958 Kesejahteraan Penganggur dan pemberian kerja kepada Penganggur kepada daerah-daerah.
7.      Pengangguran Dilihat Dari Aspek Tata Negara
Keberlakuan pasal-pasal yang telah di cantumkan di atas, telah direalisasikan oleh peerntah walaupun belum, merata, seperti penanggulangan pengangguran, yaitu diberikan LSM kepada masyarakat, untuk mencari mata pencaharian, agar meiliki penghasilan untuk emenuhi keutuhan hidup mereka sehari- hari. LSM atau Lembaga swadaya masyaraka adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh perorangan ataupun sekelompok orang yang secara sukarela yang memberikan pelayanan kepada masyarakat umum tanpa bertujuan untuk memperoleh keuntungan dari kegiatannya.
Seseorang berhak hidup tentram, aman, damai, bahagia, sejahtera lahir dan batin yang perlu diperjuangkan guna pemenuhan harkat martabat manusia. Maka dengan LSM yang berjiwa menyikapi dalam penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) setiap orang berhak atas perlindungan HAM dan kebebasan manusia tanpa diskiriminasi yakni perbedaan dan kebutuhan masyarakat hukum adat harus lebih diperhatikan dan dilindungi oleh hukum masyarakat dengan cara musyawarah, gotongroyong dan mupakat dan hukum pemerintah harus dilindungi bahwa manusia sebagai Makhluk Tuhan Yang Maha Esa, yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh Negara secara manusiawi. LSM secara kodrat selaku sosial kontrol dat/atau mitra pemerintah dalam upaya menciptakan hubungan dibidang pengabdian dan pengawasan masyarakat terhadap penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).
8.      Pengangguran Dilihat Dari Aspek Sejarah 
Angka Penggangguran di Provinsi Banten sangat fluktuatif yang tercatat pada tabel 1 mencapai 726.577 Jiwa pada tahun 2010 yang mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya yaitu 652.362 Jiwa dari jumlah penduduk Banten yang mencapai 10.632.166 Jiwa. Dari data yang ada, kita bisa melihat angka tingkat pengangguran tertinggi di Banten terjadi pada tahun 2006, dimana Kabupaten Tangerang menyumbang angka pengangguran tertinggi yaitu 311.748 Jiwa.
Dari tahun ke tahun, Kabupaten Tangerang selalu memiliki angka pengangguran tertinggi dibandigkan Kota atau Kabupaten lainnya di Banten. Penurunan Angka Pengangguran tertinggi terjadi pada tahun 2007 di daerah Kabupaten Pandeglang. Angka pengangguran terendah dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2010 dimiliki oleh Kabupaten Lebak pada angka 9.423 Jiwa.
Angka pengangguran bisa disebabkan oleh output atau jumlah barang yang tersedia melebihi jumlah konsumsi masyarakat. Sehingga para pelaku produsen menurunkan angka produksi sehingga mencapai batas maksimal konsumsi masyarakat yang akhirnya para produsen akan menurukan pengugunaan faktor-faktor produksi, salah satunya tenaga kerja.
DAFTAR PUSTAKA
Assauri Sofyan.1997. Matematika Ekonomi. Jakarta: Rajawali Pers.
Baridwan, zaki. 1984. Intermediate accounting. Yogyakarta: BPEE
Budiono, Dr. 2002. Ekonomi Makro. Yogyakarta: BPEE
Chotib, Dzazuli, Suharmo, Tri, Abubakar, Catio. 2007. Ekonomi. Jakarta: PT. Ghalia Indonesia



Terkirim dari Yahoo Mail. Dapatkan aplikasinya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar