Selasa, 14 Juni 2016

PENDIDIKAN PERANCIS


YULIA YANTIKA/SP/015B
  1. Pendidikan Perancis Pada Persimpangan, Keterbatasan Publik Dan Manajemen Yang Bersifat Sentralisasi.
Perancis adalah sebuah negara yang luas di benua Eropa sesudah Rusia, dengan luas area 549.000 km persegi. Negara perancis beriklim sedang, akan tetapi pegunungan Alpen dan Pyrennees yang tinggi cukup merepotkan pengorganisasian sekolah sehingga diperlukan pengelompokan murid disaat-saat musim dingin. Agar pendidikan dapat berjalan lancar sebagian besar murid harus diasramakan (boarding). Perancis saat ini berpenduduk kurang dari 59 juta jiwa dengan distribusi : yang berusia dibawah 15 tahun 18,7%, dan diatas 65 tahun 16,0%, dengan tingkat litarasi 99% (1994). Jumlah komunitas lokal sangat tinggi : 36,934, kurang lebih tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan penduduk negara-negara Eropa lainnya. Kebanyakan komunitas itu sangat kecil (lebih dari 100.000 komunitas berpenduduk dibawah 200 orang), dan komunitas sekecil itu tidak dibenarkan mempunyai sebuah sekolah dasar. Komposisi etnis penduduk Perancis, pada dasarnya adalah homogen setelah dua abad menjalani pemerintahan negara yang bersifat sentralistis, dengan bahasa resmi, bahasa Perancis. Akan tetapi ada desakan keras untuk mengajarkan bahasa-bahasa
daerah setempat terutama di daerah Brittany, Alsace, daerah Banque, dan Corsica; pengajaran bahasa-bahasa ini dilakukan pada lembaga –lembaga pendidikan guru. Buruh-buruh asing yang jumlahnya cukup besar (lebih dari 4 juta) juga mempengaruhi kurikulum dan metodologi mengajar dengan pembukaan kelas-kelas khusus untuk anak-anak asing. Pada awal abad 19, Perancis masih didominasi oleh daerah pedalaman (rural area) dengan jumlah penduduk relatif besar yang aktif dan produktif di bidang pertanian. Jumlah ini menurun dari 50 % dalam tahun 1900 menjadi 35 % dalam tahun 1946. Perancis kemudian mengalami proses industrialisasi yang cepat dan modernisasi pertanian sehingga pada tahun 1982 hanya 8 % penduduk yang masih bertani secara tradisional. Salah satu dampak dari transformasi ini terhadap sistem pendidikan adalah berkembangnya dengan cepat pelatihan-pelatihan teknik, yang selanjutnya melahirkan sekolah-sekolah menengah tingkat atas teknik (lycees techniques) yang terpisah dari sekolah-sekolah menengah umum yang lebih tradisional. Penurunan tajam dalam sektor primer (pertanian) menguntungkan sektor jasa (services). Dari tahun 1962 sampai 1975, sementara jumlah orang yang aktif di sektor pertanian menurun 47 %, jumlah disektor jasa meningkat 35 %, dan di sektor industri dan transportasi naik hanya 13 %. Pada waktu yang sama, 75 % lapangan kerja baru ada pada bidang jasa, terutama pada jajaran pemerintah dan komunitas lokal. Ini semua menuntut pendidikan. Hampir sepanjang sejarah sistem pendidikan Perancis sangat bersifat sentralistis. Reformasi yang dilakukan pada awal 1980-an memberikan otonomi kepada daerah-daerah, kementrian dan komunitas, tetapi bagaimana hasilnya belum dapat diketahui secara pasti.
  1. Tujuan Pendidikan
Pada awal republik ketiga berdiri, rasa kesatuan dalam masyarakat Perancis masih sangat tipis; yang ada saat itu masih perasaan pertentangan yang sangat dalam antara pihak-pihak yang menerima Revolusi Perancis dan yang menolak dan berjuang untuk itu. Oleh karena itu yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah meningkatkan nasionalisme. Upaya peningkatan nasionalisme ini dilakukan melalui sekolah dengan mempromosikan buku-buku teks yang seragam yang isinya antara lain menekankan perlunya melanjutkan negara Perancis dan pembentukan sistem baru bersifat sentralistis yang ketat. Pada tingkat sekolah dasar yang pendidikannya adalah gratis, wajib dan tidak membedakan aliran keagamaan, terdapat dua jenis pendidikan yang paralel ; sekolah umum pemerintah, dan sekolah-sekolah menengah kecil disebut "lycees". Sekolah yang terakhir ini sering menampung murid-murid yang berasal dari kelas menengah borjuis, yang selalu keberatan mengirim anak-anaknya ke sekolah yang sama bersama anak-anak rakyat biasa. Tujuan sekolah lycees adalah untuk mendidik kelompok elit, dan melakukan pengajaran bahasa Yunani dan bahasa Latin karena mata pelajaran ini dianggap sangat berharga dalam pembentukan pikiran. Pada masa yang sama, sampai Perang Dunia II, tujuan lain sistem pendidikan mendidik orang-orang yang "qualified" -mulai menjadi penekanan dalam pernyataan-pernyataan resmi. Langkah-langkah intensif untuk memikirkan kembali sistem pendidikan di Perancis dilakukan sesudah Perang Dunia II, dan ini disimpulkan dari laporan komisi yang disebut "Langevin-Wallon Commission" (1947). Itulah untuk kali pertama tujuan pendidikan dinyatakan dengan jelas. Tujuan sistem sekolah harus :
  • meningkatkan kesempatan yang sama dalam hidup bagi setiap orang;
  • memenuhi kebutuhan sistem yang produktif bagi orang-orang yang "qualified";
  • memberikan prioritas pada pengembangan kepribadian setiap anak.
Belum ada proposal yang tepat untuk mengimplementasi tujuan-tujuan tersebut yang dianut oleh pemerintah. Masalahnya antara lain, adalah tujuan-tujuan itu sebagian bertentangan satu sama lain, biaya untuk mengimplementasikan reformasi itu sangat tinggi, dan konsensus di parlemen mengenai penentuan prioritas pendidikan tidak dijumpai. Namun demikian, tujuan sistem pendidikan seperti di atas telah dipertegas lagi dalam beberapa perencanaan komisi mulai dari perencanaan ketiga dan seterusnya. Secara umum, lebih banyak sumber yang mengutamakan sistem pendidikan untuk kepentingan ekonomi dibandingkan dengan kepentingan meningkatan persamaan kesempatan. Kenyataan bahwa siswa/mahasiswa tidak puas dengan sistem yang ada terbukti pada tahun 1968. Pemerintah mengabulkan tuntutan mereka untuk memperoleh persamaan dalam pendidikan dengan memberikan pintu terbuka bagi yang ingin masuk ke pendidikan tinggi. Akan tetapi, pada tahun-tahun berikutnya, bidang atau program pendidikan tertentu tidak menerima mahasiswa baru lagi, yang makin meningkat jumlahnya, sehingga pada awal 1980-an, mahasiswa menggunakan label "terbuka" untuk kepentingan politik dan menolak masuk ke pasar kerja.
  1. Struktur Dan Jenis Pendidikan
  • Pendidikan Formal
Hampir seluruh sistem pendidikan formal di Perancis dilaksanakan secara tersentralisasi yang ketat dan dikontrol oleh Kementrian Pendidikan. Seperti terlihat pada gambar 1. Pendidikan dasar berkembang dengan baik. Anak-anak boleh memulai pendidikannya pada umur 2 tahun. Sekitar 91% dari anak-anak usia 3 tahun sudah masuk sekolah pada tahun 1982 dibandingkan dengan hanya 42% pada tahun 1964, dan di kota-kota persentase itu mencapai 100%. Hasil penelitian membuktikan bahwa anak-anak berusia empat tahun di tingkat pendidikan dasar rata-rata hasilnya lebih rendah dibandingkan dengan hasil yang dicapai anak-anak berusia tiga tahun seperti dijumpai dalam "Service d'information de Gertion et etudes Stastiques" (SIGES 1982). Semua anak berusia 6 tahun dan sepuluh tahun, kecuali anak cacat masuk pendidikan dasar. Sekolah khusus bagi anak-anak cacat berkembang dengan cepat, baik jumlah maupun kualitasnya, dan kira-kira 8% dari anak-anak umur sekolah pendidikan dasar berada di sekolah khusus. "Dropout" tidak ada dalam sistem pendidikan Perancis karena hal itu dilarang oleh undang-undang, tetapi kenaikan kelas secara otomatis bukan pula menjadi aturan sekolah.

  • Pendidikan Nonformal
Program-program pendidikan non formal sangat bervariasi dari beberapa hari sampai beberapa bulan. Orang yang terlibat dalam program-program nonformal yang dibiayai oleh pemerintah atau sumbangan wajib dari majikan yang ditetapkan tahun 1970-an meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun, tetapi tahun 1980-an cenderung menurun. Kira-kira 60% adalah buruh-buruh pekerja tangan, kira-kira 25% para teknisi dan kira-kira 15% eksekutif.
  1. Manajemen Pendidikan
  • Otorita
Semenjak zaman Napoleon, Perancis merupakan negara yang sangat sentralistis. Pada pertengahan abad ke-19 di bawah wewenang sebuah kementrian. Untuk setiap daerah, mentri diwakili oleh seorang "perfect" yang kemudian oleh seorang Rektor. Sejak akhir 1800-an, seluruh guru yang ada di sekolah dan dosen di universitas negeri menjadi pegawai negeri. Program-program sekolah diatur pada level menteri dan kualifikasi atau persyaratan berlaku secara nasional. Kementrian Pendidikan yang ada saat ini mengawasi pendidikan formal di semua tingkat : prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah pertama dan atas serta pendidikan tinggi. Terdapat beberapa pengecualian. Kementrian Pertanian mengawasi dan menyelenggarakan pendidikan menengah atas, dan beberapa sekolah tinggi bidang agronomi. Kementrian Angkatan Bersenjata memiliki pula beberapa sekolah menengah atas dan sekolah perwira. Beberapa kementrian lainnya menyelenggarakan pula beberapa sekolah keinsinyuran atau sekolah keadministrasian dan langsung berada di bawah pengawasan mereka. Sekolah-sekolah kejuruan sebagian diselenggarakan dan dikontrol oleh perusahaan atau badan yang dibentuk sendiri oleh perusahaan.
  • Pendanaan
Belanja pendidikan keseluruhan pada tahun 1980 adalah 176,9 trilyun franc, yaitu 6,4 % GNP (Gross NationalProduct). Belanja pendidikan ini dipikul bersama oleh beberapa lembaga antara lain Kementrian pendidikan dan Kementrian-kementrian lain, pemerintah daerah, perusahaan, keluarga dan sebagainya. Sekolah-sekolah negeri dibiayai sebagian besar oleh pemerintah pusat, pemerintah lokal/daerah kurang berperan, sedangkan masyarakat atau keluarga secara keseluruhan menyumbang 13% dari total pengeluaran. Pada tahun 1990, belanja pendidikan nasional mencapai FF141 miliar (US$75,8 miliar) sama dengan 6,4% dari GNP Perancis saat itu.
  • Personalia
Dalam tahun 1979, jumlah guru yang ada dalam sistem pendidikan Perancis 750.000 orang. Dari jumlah itu, 10% berada di tingkat pendidikan prasekolah, 32% di tingkat pendidikan dasar, 50% di tingkat pendidikan menengah, 5,5% di pendidikan tinggi, dan sisanya memegang jabatan selain mengajar. Kurang lebih 16% dari guru-guru mengajar di sekolah swasta, dan jumlah guru seluruhnya bervariasi dari 98,6% pada tingkat pendidikan dasar dan 24,3% pada perguruan tinggi. Pendidikan dan pelatihan untuk guru pendidikan dasar dilaksanakan di setiap daerah pada sekolah yang disebut 'ecole normale dan pendidikan ini selama tiga tahun. Para calon guru ini direkrut dari tamatan baccalaureat (tamatan sekolah menengah) dengan terlebih dahulu mengikuti ujian masuk. Pendidikan di 'ecole normale dibina oleh dosen-dosen dari universitas, dan kepada yang berhasil menyelesaikan pendidikannya diberikan gelar universitas. Guru-guru sekolah menengah direkrut secara nasional setelah berhasil lulus dalam suatu seleksi yang khusus untuk itu, dan di tingkat pendidikan tinggi rekrutmen staf pengajar juga dilaksanakan secara nasional..
  • Kurikulum dan Metodologi
Oleh karena sistem pendidikan Perancis bersifat sentralistis, maka pengembangan kurikulum sekolah diatur oleh sebuah komisi nasional beranggotakan terutama anggota korp inspektur jendral. Cakupan kurikulum bersifat nasional dan sedikit sekali peluang yang diberikan untuk muatan lokal daerah. Para inspektur pendidikan diberi tugas mengunjungi sekolah dan kelas-kelas pada waktu tertentu secara teratur untuk memonitor apakah pengajaran sebagaimana telah digariskan secara resmi dilaksanakan oleh guru dan sekolah. Berbeda halnya di tingkat pendidikan tinggi yang lebih bersifat independen, walaupun universitas harus mengikuti program umum nasional agar terdapat keseragaman sistem pemberian gelar secara nasional. Sehubngan dengan otonomi perguruan tinggi, banyak yang menilai telag terjadi penyimpangan baik dalam hal hakikat maupun isi pengajaran. Sebaliknya, ditingkat pendidikan yang lebih rendah, diminta kebebasan atau independensi yang lebih besar.

  • Ujian, Kenaikan Kelas, dan Sertifikasi
Sistem ujian sepenuhnya berada di tangan guru. Tidak ada sertifikat yang diberikan kepada murid sampai menyelesaikan pendidikan pada siklus pertama pendidikan menengah, yaitu setelah mendapat pendidikan selama sembilan tahun. Pada pendidikan dasar, kenaikan kelas ditentukan hanya oleh para guru pada akhir tahun ajaran.

  • Penelitian Pendidikan
Penelitian pendidikan dapat dikatakan tidak terorganisasi dengan baik dan sering dilakukan terkotak-kotak dalam disiplin ilmu tradisional seperti psikologi, sosiologi, sejarah atau ekonomi; tetapi semenjak 1960 telah banyak perkembangannya. Selain penelitian sejarah pendidikan, yang selalu mendapat perhatian di Perancis, dua bidang yang telah diteliti dalam tahun-tahun terakhir yaitu yang berkaitan dengan sistem efisiensi pendidikan internal dan eksternal. Dalam efisiensi internal, topik penelitian punya rentangan dari proses pemagangan sampai pada masalah manajemen sekolah dan universitas dalam sistem sentralisasi. Dalam penelitian efisiensi eksternal, topik-topik penelitian berkisar dari analisis hubungan sistem sekolah dan sistem produksi, dan kekurang-serasian keduanya sampai pada perhitungan hasil yang diberikan oleh diploma yang telah dikeluarkan. Tetapi mulai tahun 1980-an, prioritas penelitian beralih pada pengkajian tentang transisi antara sekolah dan pekerjaan dengan perhatian khusus pada mereka yang meninggalkan sekolah tanpa memperoleh ijazah atau pendidikan profesional.
DAFTAR PUSTAKA
-          Nur, A.,S. (2001). Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara. Bandung : Lubuk Agung.
-          Mazurek, K., Winzer, M.,A, Mazorek, C. (2000). Education In Global Society, A Comparative Perspektive. Bonton : Allyn and Bacon
-          Djumhur dan Danasuparta. 1976. Sejarah Pendidikan. Bandung: CV Ilmu Bandung
-          Kadir, Sardjan dan Umar Ma'sum. (1982). Pendidikan Di Negara Sedang Berkembang. Surabaya: Usaha Nasional


1 komentar:

  1. Ass Wr Wb, Saya ingin berbagi cerita kepada anda bahwa saya seorang TKI dari malaysia dan secara tidak sengaja saya buka internet dan saya melihat komentar IBU YOSHI yg dari singapur tentan Pesugihan AKI RUSLAN SALEH yg telah membantu dia menjadi sukses dan akhirnya juga saya mencoba menghubungi beliau dan alhamdulillah beliau mau membantu saya untuk menarik dana Hibah Melalui ritual/ghaib dan alhamdulillah itu betul-betul terbukti dan mendapat hasil tarikan RM.347.000 Ringgit, kini saya kembali indon membeli rumah dan mobil walaupun sy Cuma pekerja kilang di selangor malaysia, sy sangat berterimakasih banyak kepada AKI RUSLAN SALEH dan saya juga tidak lupa mengucap syukur kepada ALLAH karna melalui AKI RUSLAN SALEH saya Bisa sukses, Jadi kawan2 yg dalam kesusahan jg pernah putus asah, kalau sudah waktunya tuhan pasti kasi jalan asal anda mau berusaha, ini adalah kisah nyata dari seorang TKI, Jika Anda Ingin Di Bantu Ritual Pesugihan Hubungi 0852=8584=7477 Atau [klik] AHLI PESUGIHAN TANPA TUMBAL
    KEAMPUHAN RITUAL AKI RUSLAN SALEH
    1.Penarikan Dana Hibah Melalui Bank Ghaib
    2.Penarikan Uang Melalui Mustika
    3.Ritual Angka Tembus Togel/Lotrey
    4.Jimat Pelaris Usaha DLL
    Dan Masih Banyak Lagi, AKI RUSLAN SALEH Banyah Dikenal Oleh Kalangan Pejabat, Pengusaha Dan Artis Ternama Karna Beliau adalah guru spiritual terkenal di indonesia. Untuk yg punya rum terimakasih atas tumpangannya.

    BalasHapus