Sabtu, 04 Juni 2016

MOBILISASI KOTA BUKITTINGGI PADA MASA KOLONIALISME HINDIA BELANDA

FANDY MUHAMMAD/SI4/014A

Kota Bukittinggi menarik untuk dibicarakan, bukan saja karena peran sejarah yang telah dimainkannya selama sejak kurun waktu satu setengah abad yang lalu, 2tetapi juga keberadaannya sebagai kota kedua di Sumatera Barat, setelah Padang yang menjadi ibukota provinsi itu. Sejak tiga dasa warsa yang lalu, Bukittinggi telah pula berkembang menjadi pusat perdagangan konveksi untuk kawasan Sumatera, sehingga disebut sebagai Tanah Abang II.
Pertumbuhan Wilayah Kota Bukittingi
Cikal bakal kota Bukittinggi dimulai dari sebuah pasar, yang didirikan dan dikelola oleh para penghulu Nagari Kurai. Pada awalnya Pasar itu diadakan setiap hari Sabtu, kemudian setelah semakin ramai diadakan pula setiap hari Rabu. Oleh karena pasar itu terletak di salah satu "bukik nan tatinggi" (bukit yang tertinggi), maka lama kelamaan berubah menjadi Bukittinggi. Akhirnya nama Bukittinggi itu pun digunakan untuk menyebut pasar, sekaligus masyarakat dan Nagari Kurai. Sebelum kedatangan Belanda di daerah Dataran Tinggi Agam (1823), pasar Bukittinggi telah ramai didatangi oleh pedagang dan penduduk sekitarnya. Pada tahun 1926 Kapten Bauer, Kepala Opsir Militer Belanda untuk Dataran Tinggi Agam, mendirikan benteng Fort de Kock, di Bukit Jirek yang terletak sekitar 300 m di sebelah Utara pasar
Bukittinggi. Kawasan bukit itu diberikan oleh para penghulu Nagari Kurai kepada Kapten Bauer dengan perjanjian akan saling membantu dalam mengahadap Kaum Paderi. Sejak berdirinya Fort de Kock dan Belanda berhasil mengalahkan Kaum Paderi serta menguasai Minangkabau, maka perkembangan Bukittinggi pada tahap selanjutnya lebih ditentukan oleh kebijakan pemerintah Hindia Belanda. Secara perlahan pemerintah kolonial memperluas "wilayahnya" dengan meminjam atau membeli tanah kepada para penghulu Nagari Kurai. Bahkan, pada kasus-kasus tertentu, "kepemilikan" tanahnya itu ditentukan secara sepihak oleh Belanda. Pada tahun 1856 Belanda meminjam tanah perbukitan yang terletak disekitar pasar Bukittinggi dan jika nanti tidak diperlukan lagi, maka Belanda akan mengembalikannya kepada para penghulu Nagari Kurai. Tanah itu meliputi 7 (tujuh) bukit yang bertautan satu sama lainnya dan mempunyai lembah-lembah yang sempit. Ketujuh bukit itu adalah Bukit Jirek, Bukit Sarang Gagak, Bukit Tambun Tulang, Bukit Cubadak Bungkuak, Bukit Bulek, Bukit Malambuang, dan Bukit Parak Kopi. Di atas ketujuh bukit itulah, secara bertahap Belanda membangun berbagai infrastruktur untuk kepentingan kolonialnya, seperti kantor dan perumahan, gudang-gudang kopi, los-los pasar, perkampungan Cina, dan India. Akan tetapi, daerah itu tidak memiliki dataran yang luas untuk dijadikan berbagai keperluan militer. Oleh karena itu pada tahun 1861 Belanda membeli tanah dataran di bagian Selatan Bukittinggi dengan harga f.46 .090,-. Daerah itu dibangun untuk perkantoran militer, lapangan, perumahan perwira, asrama, tangsi, rumah sakit, gedung sekolah, dan sebagainya.
Mengikuti perkembangan pembangunan berbagai infrastruktur itu, maka kota Bukittinggi juga semakin berkembang dan maju. Oleh karena itu pada tahun 1888 pemerintah menetapkan sebagai sebuah "kota"
Pembangunan Infrastruktur Kota Bukittinggi (pasar)
Pada awalnya secara pisik Pasar Bukittinggi masih sangat sederhana, yakni berupa warung-warung yang tonggaknya terbuat dari bambu atau kayu dan beratap daun rumbia atau daun ilalang. Separuh bagian bawahnya didinding, sedang bagian atasnya dibiarkan terbuka, sehingga ketika pasar sudah usai kan terlihat kerangkanya. Warung itu akan ditinggal oleh pedagang selama seminggu, kemudian mereka akan datang pada hari (Sabtu dan Rabu) pasar berikutnya. Bagi pedagang yang tidak mempunyai warung, biasanya mereka menggelar dagangannya di atas tanah dengan beralaskan katidiang (bakul) atau daun pisang. Upaya pertama yang dilakukan Belanda untuk mengembangkan Pasar Bukittinggi itu adalah dengan mendatarkan lokasinya sehingga terlihat semakin luas. Kemudian, di sekelilingnya dibangun jalan-jalan dan selokan-selokan. Untuk itu kepada pemilik pedati yang datang ke Bukittinggi diharuskan membawa batu dan pasir. Sedangkan pekerjanya adalah tenaga kerja rodi, yang didatangkan dari nagari-nagari dalam wilayah Onderafdeeling Agam Tua, seperti Nagari Banuhampu, Padanglua, Sariak, Guguak, Kototuo, dan IV Angkek. Selain itu, dipekerjakan juga para tahanan yang mendekam dalam tangsi Bukittinggi.
Seiring dengan ditetapkannya batas-batas Bukittinggi (1888), maka pembangunan pasarnya juga semakin digiatkan. Pada tahun 1890 dibangun sebuah loods (orang Minang menyebutnya dengan loih) di tengah pasar Bukittingi. Masyarakat menyebutnya dengan Loih Galuang (Los Melengkung) karena atapnya berbentuk setengah lingkaran (melengkung). Biaya pembangunannya berasal dari Pasar Fonds dan pinjaman dari Singgalang Fonds sebanyak f.400 ,-. Dana pinjaman itu digunakan untuk membeli bahan bangunan, seperti besi dan seng. Adapun bahan-bahan bangunan lainnya, seperti kayu, pasir, dan batu dibebankan kepada nagari-nagari dalam wilayah Onderafdeeling Oud Agam. Demikian juga pekerjanya diambil dari daerah itu. Mereka dipekerjakan sebagai tenaga rodi bersama-sama dengan para tahanan dari tangsi Bukittinggi. Enam tahun kemudian (1896) dibangun lagi sebuah loods di bagian Timurnya. Kedua los itu diperuntukan bagi pedagang kain, kelontong, dan sejenisnya. Pada tahun 1900 dibangun lagi sebuah loods yang khusus untuk menjual daging dan ikan basah, baik ikan air tawar maupun ikan laut. Loods itu dibangun di pinggang bukit sebelah Timur supaya kotoran dan air limbahnya dapat dialirkan langsung ke selokan (bandar) yang mengalir di kaki bukit itu. Oleh karena lokasinya itu berada di kemiringan, maka pasar itu dinamakan oleh masyarakat dengan Pasar Teleng (Miring). Adapun rumah potongnya dibangun di sisi sebelah Selatan, persis si pinggir anak sungai, sehingga memudahkan pula untuk membuang kotoran dan sisa penyembelihan hewan. Sekitar 500 m ke arah Baratnya didirikan pula Pasar Ternak. Penataan Pasar Bukittinggi dilakukan secara besar-besaran pada masa pemerintahan Controleur Oud Agam, L.C. Westenenk (1901-1909). Lokasi pusat pasar diperluas dengan mendatarkan gundukan tanah bukit di sekitarnya. Warung-warung yang tidak teratur letaknya dirobohkan. Sebagai gantinya dibangun beberapa loods dengan mengikuti topografis Bukittinggi yang berbukit itu, sehingga pasar Bukittinggi menjadi bertingkat-tingkat. Untuk menutupi biaya perbaikan dan pembangunan pasar Bukittinggi yang relatif besar itu, Controleur Westenenk meninjam uang kepada N.I. Escompto Maatschappij sebanyak f.12 .000'-. Sebagai jaminan diborohkannya pasar Bukittinggi. Loods yang dibangun berjumlah sebanyak 6 buah. Masing-masingnya tiga loods dibangun bersebelahan dengan Loih Galuang, satu loods dibangun di sebelah Timur Laut yang lokasinya lebih rendah. Loods ini dibangun khusus untuk menampung pedagang ikan kering dan dinamakan dengan Loih Maco.         
DAFTAR PUSTAKA
-Asnan, Gusti. 2006. Pemerintahan Sumatra Barat dar VOC Hingga Reformasi-Yogyakarta
-Gottchalk, Louis. 1985. Mengerti Sejarah terj. Nugroho Notosusanto, Jakarta : UI Press.
-Notosusanto, Nugroho. 1984. Sejarah nasional Indonesia VI. Jakarta :Depdikbud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar