Kamis, 09 Juni 2016

ANALISIS HUBUNGAN TINGKAT PENGANGGURAN DENGAN INFLASI DAN PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA


SITI NADILA/14B/PIS
                   
                    Permasalahan pengangguran memang sangat kompleks untuk dibahas dan merupakan isu penting, karena dapat dikaitkan dengan beberapa indikator-indikator. Indikator-indikator ekonomi yang mempengaruhi tingkat pengangguran antara lain pertumbuhan ekonomi negara bersangkutan dan  tingkat inflasi. Apabila di suatu negara pertumbuhan ekonominya mengalami kenaikan, diharapkan akan berpengaruh pada penurunan jumlah pengangguran sedangkan tingkat inflasi yang tinggi akan berpengaruh pada kenaikan jumlah pengangguran. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang amat penting dalam menilai kinerja suatu perekonomian, terutama untuk melakukan analisis tentang hasil pembangunan ekonomi yang telah dilaksanakan suatu negara atau suatu daerah. Ekonomi dikatakan mengalami pertumbuhan apabila produksi barang dan jasa meningkat dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas perekonomian dapat menghasilkan tambahan pendapatan atau kesejahteraan masyarakat pada periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi suatu negara atau suatu wilayah yang terus menunjukkan peningkatan menggambarkan bahwa perekonomian negara atau wilayah tersebut berkembang dengan baik.
                    Pertumbuhan ekonomi merupakan penambahan GDP. GDP itu sendiri adalah produk nasional
yang diwujudkan oleh faktor-faktor produksi di dalam negeri (milik warga negara dan orang asing) dalam sesuatu negara. Pertumbuhan ekonomi melalui GDP yang meningkat, diharapkan dapat menyerap tenaga kerja di negara tersebut, karena dengan kenaikan pendapatan nasional melalui GDP kemungkinan dapat meningkatkan kapasitas produksi. Hal ini mengindikasikan bahwa penurunan GDP suatu negara dapat dikaitkan dengan tingginya jumlah pengangguran di suatu negara. Perekonomian Indonesia sejak krisis ekonomi pada pertengahan 1997 membuat kondisi ketenagakerjaan Indonesia ikut memburuk. Padahal masalah pengangguran erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi. Jika pertumbuhan ekonomi ada, otomatis penyarapan tenaga kerja juga ada.  Setiap pertumbuhan 1 %, tenaga kerja yang terserap bisa mencapai 400 ribu orang. Jika pertumbuhan ekonomi setiap tahunnya hanya mampu menyerap tenaga kerja lebih kecil dari jumlah pencari kerja maka akan menyebabkan adanya sisa pencari kerja yang tidak memperoleh pekerjaan dan menimbulkan jumlah pengangguran di indonesia bertambah setiap tahunnya.
                    Inflasi merupakan suatu proses kenaikan harga-harga yang berlaku dalam suatu perekonomian sedangkan tingkat inflasi adalah persentasi kenaikan hargaharga barang dalam periode waktu tertentu. Semakin tingginya tingkat inflasi yang terjadi dapat berakibat pada tingkat pertumbuhan ekonomi yang menurun, sehingga akan terjadi peningkatan jumlah pengangguran.Semua negara di dunia selalu menghadapi permasalahan inflasi ini. Oleh karena itu, tingkat inflasi yang terjadi dalam suatu negara merupakan salah satu ukuran untuk mengukur baik buruknya masalah ekonomi yang dihadapi suatu negara. Bagi negara yang perekonomiannya baik, tingkat inflasi yang terjadi berkisar antara 2 - 4 persen per tahun. Dengan persentase sebesar itu, dapat dikatakan inflasi yang rendah sedangkan tingkat inflasi yang tinggi berkisar lebih dari 30 persen . Namun ada juga negara yang menghadapi tingkat inflasi yang sangat tinggi,yang disebut dengan hiper inflasi (hyper inflation). Jika suatu negara mengalami hiper inflasi bisa dipastikan jumlah pengangguran di negara tersebut akan bertambah secara drastis. Karena dengan kenaikan harga-harga di semua sektor, maka perusahaan-perusahaan akan mengambil kebijakan mengurangi biaya untuk memproduksi barang atau jasa dengan cara mengurangi pegawai atau tenaga kerja. Akibatnya, angka pengangguran yang tinggi tidak dapat dihindari dan dapat membuat perekonomian negara tersebut mengalami kemunduran. Oleh karena itu, inflasi sangat berkaitan erat dengan tingkat pengangguran.

A.    Teori Tenaga Kerja
Penduduk di suatu negara mengkonsumsi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi hanya sebagian dari mereka yang secara langsung terlibat atau berusaha untuk terlibat dalam kegiatan memproduki barang dan jasa tersebut. Berdasarkan pemikiran tersebut dapat dikatakan bahwa penduduk disuatu negara dapat dikelompokkan menjadai dua bagian yaitu ;
1.      Penduduk yang " aktif " secara ekonomi (economically active population)
2.      Penduduk yang " tidak aktif " secara ekonomi (economically inactive population).
Penduduk yang aktif secara ekonomi terdiri dari dua kelompok. Kelompok pertama adalahkelompok yang bekerja memproduksi barang dan jasa dalam perekonomian. Kelompok kedua adalah penduduk yang belum bekerja tetapi sedang aktif mencari pekerjaan. Penduduk yang tidak aktif secara ekonomi adalah mereka yang tidak bekerja atau tidak sedang mencari pekerjaan. Kelompok ini tidak memproduksi barang dan jasa dan hanya mengkonsumsi barang dan jasa yang diproduksi orang lain.
Dalam studi kependudukan tenaga kerja atau manpower sering diartikan sebagai seluruh penduduk yang mempunyai potensi untuk bekerja secara produktif. Menurut Payaman simanjuntak konsep dari tenaga kerja terdiri dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja.
Angkatan kerja dibagi menjadi dua,yaitu :
a.       Bekerja
b.      Mencari pekerjaan ( menganggur), yang dapat dibedakan antara :
Ø  Mencari pekerjaan,tetapi sudah pernah bekerja sebelumnya dan
Ø  Mencari pekerjaan untuk pertama kalinya.
Angkatan kerja dapat dikatakan sebagai bagian dari tenaga kerja yang sesungguhnya terlibat atau berusaha untuk terlibat dalam kegiatan produkti, yaitu memproduksi barang dan jasa dalam kurun waktu tertentu. Oleh karena itu, dalam konsep angkatan kerja ini harus ada referensi waktu yang pasti. Dalam konep angkatan kerja, yang dimaksud dengan bekerja adalah mereka yang mempunyai pekerjaan yang menghasilkan pendapatan, baik berupa uang ataupun barang. Bukan angkatan kerja adalah bagian dari tenaga kerja yang tidak bekerja ataupun mencari pekerjaan. Jadi mereka adalah bagian dari tenaga kerja yang esungguhnya tidak terlibat atau tidak berusaha untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi. Yang termasuk dalam kelompok buakan angktan kerja adalah mereka yang selama seminggu yang lalu mempunyai kegiatan hanya :
a.       Bersekolah
b.      Mengurus rumah tangga
c.       Pensuinan, dan/atau mendapat penghasilan bukan dari bekerja (misalnya warisan,deposito, dll)
d.      Berada di rumah sakit dalam waktu lma, di lembaga permasyarakatan, dan sebagainya.

B.     Teori Pengangguran
Defenisi pengangguran secara teknis adalah semua orang dalam referensi waktu tertentu, yaitu pada usia angkatan kerja yang tidak bekerja, baik dalam arti mendapatkan upah atau bekerja mandiri, kemudian mencari pekerjaan, dalam arti mempunyai kegiatan aktif dalam mencari kerja terebut.Menurut Sadono Sukirno Pengangguran adalah suatu keadaan dimana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya.Menurut Payman Simanjuntak Pengangguran adalah orang yang tidak bekerja berusia angkatan kerja yang tidak bekerja sama sekali  atau bekerja kurang dari dua hari selama seminggu sebelum pencacahan dan berusaha memperoleh pekerjaan. Menurut Menakertrans Pengangguran adalah orang yang tidak bekerja, sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan suatu usaha baru, dan tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan.
Pengangguran sering diartikan sebagai angkatan kerja yang belum bekerja atau tidak bekerja secara optimal. Berdasarkan defenisi tersebut maka penganggura dapat di bedakan menjadi tiga macam yaitu :
a.       Pengangguran Terselubung (Disguissed Unemployment)  adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena suatu alasan tertentu
b.      Setengah Menganggur (Under Unemployment) adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena tidak ada lapangan pekerjaan, biasanya tenaga kerja setengah menganggur ini merupakan tenaga kerja yang bekerja kurang dari 35 jam selama seminggu
c.       Pengangguran Terbuka (Open Unemployment) adalah tenaga kerja yang sungguh – sungguh tidak mempunyai pekerjaan. Pengangguran jenis ini cukup banyak karena memeang belum mendapat pekerjaan padahal telah berusaha secara maksimal.
Macam – macam pengangguran berdasarkan penyebab terjadinya dikelompokkan menjadi beberapa jenis, yaitu :
a.       Pengangguran konjungtural (Cycle Unemployment) adalah pengngguran yang diakibatkan oleh perubahan gelombang (naik-turunnya) kehidupan perekonomian / siklus ekonomi
b.      Pengangguran Struktural (Struktural Unemployment) adalah pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan struktur ekonomi dan corak ekonomi dalam jangka panjang. Pengangguran struktural bisa diakibatkan oleh beberapa kemungkinan, seperti : akibat permintaan berkurang, akibat kemajuan dan penggunaan teknologi dan akibat kebijakan pemerintah
c.       Pengangguran Friksional (Frictioal Unemployment) adalah pengangguran yang muncul akibat adanya ketidaksesuaian antara pemberi kerja dan pencari kerja. Pengangguran ini sering disebut pengangguran sukarela
d.      Pengangguran musiman adalah pengangguran yang muncul akibat pergantian musim misalanya pergantian musim tanam ke musim panen
e.       Pengangguran teknonologi adalah pengangguran yang terjadi akibat perubahan atau penggantian tenaga manusia menjadi tenaga mesin – mesin
f.       Pengangguran Siklus adalah pengangguran yang diakibatkan oleh menurunnya kegiatan perekonomian. Pengangguran siklu terjadi akibat kurangnnya permintaan masyarakat (agregat demand).
Faktor – faktor yang menyebabkan terjadinya pengangguran adalah :
a.       Besarnya angkatan kerja tidak seimbang dengan kesempatan kerja.
b.      Struktur Lapangan Kerja tidak seimbang
c.       Kebutuhan jumlah dan jenis tenaga terdidik dan penyediaan tenaga terdidik tidak seimbang.
d.      Apabila kesempatan kerja jumlahnya sama atau lebih besar dari pada angkatan kerja, pengangguran belum tentu tidak terjadi. Alasannya, belum tentu terjadi kesesuaian antara tingkat pendidikan yang dibutuhkan dan yang tersedia.
e.       Meningkatnya peranan dan aspirasi angkatan kerja wanita dalam seluruh struktur angkatan kerja Indonesia
f.       Penyediaan dan pemanfaatan tenaga kerja antar daerah tidak seimbang.

C.     Teori Inflasi
Inflasi adalah proses kenaikan harga –harga umum barang- barang secara terus-menerus. Menurut Sadono Sukirno inflasi merupakan suatu proses kenaikan harga-harga yang berlaku dalam suatu perekonomian. Didasarkan atas parah tidaknya inflasi tersebut, inflasi dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu :
a.       Inflasi ringan ( dibawah 10 % setahun)
b.      Inflasi sedang ( antara 10% - 30% setahun)
c.       Inflasi berat ( antara 30% - 100% setahun)
d.      Hiper inflasi (diatas 100% setahun)
Didasarkan pada sebab – sebab awal terjadinya inflasi terbagi atas :
a.       Demand Full Inflation, adalah inflasi yang timbul akibat adanya tekanan permintaan agregat berbagai jenis barang yang mana hal ini diilustraikan dengan bergesernya kurva permintaan
b.      Cost Push Inflation, adalah inflasi yang timbul karena kenaikan biaya produksi.
Pada umumnya inflasi disebabkan oleh dua faktor berikut :
1.      Tingkat pengeluaran agregat yang melebihi kemampuan perusahaan – perusahaan untuk memproduksikan barang dan jasa.
Pengeluaran agregat yang tinggi akibat dari meningkatnya pendapatan yang diterima oleh pelaku ekonomi akan menimbulkan kenaikan konsumsi barang dan jasa. Tetapi sebaliknya, perusahaan - perusahaan tidak dapat menghasilkan barang dan jasa sesuai dengan permintaan konsumen, maka hasilnya akan timbul kelangkaan terhadap barang tersebut. Kelangkaan barang tersebut menjadikan perusahaan – perusahaan itu untuk menahan barang yang mereka pasarkan dan hanya menjual kepada para pembeli yang bersedia membayar pada harga yang lebih tinggi. Berdasarkan ilustrasi tersebut lah yang akan mengakibatkan kenaikan harga – harga yang disebut dengan inflasi.
2.      Pekerja – pekerja di berbagai kegiatan ekonomi menuntut kenaikan upah
Apabila para pengusaha mengalami kesukaran dalam mencari tambahan pekerja untuk menambah produksinya, pekerja – pekerja yang ada akan mendorong untuk menuntut kenaikan upah. Apabila tuntutan kenaikan upah berlaku secara meluas, akan terjadi kenaikan biaya produksi dari berbagai barang dan jasa yang dihasilkan dalam perekonomian. Kenaikan biaya produksi tersebut akan mendorong perusahaan – perusahaan menaikan harga – harga barang mereka. Tetapi kedua masalah tersebut hanya berlaku apabila perekonomian sudah mendekati tingkat penggunaan tenaga kerja penuh. Dengan kata lain bahwa perekonomian sudah sangat maju. Disamping dari pada itu semua, sebenarnya ada penyebab lain dari timbulnya inflasi, yakni ; kenaikan harga – harga barang impor, Penambahan penawaran uang yang berlebihan tanpa diikuti oleh penambahan produksi dan penawaran barang, dan kekacauan politik dan ekonomi sebagai akibat pemerintahan yang kurang bertanggung jawab.

D.    Teori A.W. Phillips
Teori A.W. Phillips muncul karena pada saat tahun 1929, terjadi depresi ekonomi Amerika Serikat, hal ini berdampak pada kenaikan inflasi yang tinggi dan diikuti dengan pengangguran yang tinggi pula. berdasarkan pada fakta itulah A.W. Phillips mengamati hubungan antara tingkat inflasi dengan tingkat pengangguran. Dari hasil pengamatannya, ternyata ada hubungan yang erat antara Inflasi dengan tingkat pengangguran, jika inflasi tinggi, pengangguran pun akan rendah. Hasil pengamatan Phillips ini dikenal dengan kurva Phillip. A.W Phillips menggambarkan hubungan antara tingkat inflasi dengan tingkat pengangguran didasarkan pada asumsi bahwa inflasi merupakan cerminan dari adanya kenaikan permintaan agregat. Dengan naiknya permintaan agregat, berdasarkan teori permintaan, permintaan akan naik, kemudian harga akan naik pula. Dengan tingginya harga (inflasi) maka untuk memenuhi permintaan tersebut produsen meningkatkan kapasitas produksinya dengan menambah tenaga kerja (tenaga kerja merupakan satu-satunya input yang dapat meningkatkan output). Akibat dari peningkatan permintaan tenaga kerja, maka dengan naiknya harga-harga (inflasi) pengangguran berkurang.
Menurut Dernburg dan Karyaman Muchtar, inflasi dapat dikaitkan secara langsung dengan besarnya pengangguran yang terjadi. Hal ini dapat diketahui pada kaitan antara tingkat inflasi (upah) dengan tingkat pengangguran yang ditunjukkan dengan kurva phillips. Pada awalnya, kurva Phillips memberikan gambaran kasar mengenai kausalitas proses inflasi. Rendahnya tingkat pengangguran dianggap memiliki keterkaitan dengan ketatnya pasar tenaga kerja dan tingginya tingkat pendapatan dan permintaan dari konsumen. Kurva Phillips juga memberikan gagasan mengenai pilihan (trade off) antara pengangguran dan inflasi. Jika tingkat inflasi yang diinginkan adalah rendah, maka akan terjadi tingkat pengangguran yang yang sangat tinggi. Sebaliknya, jika tingkat inflasi yang diinginkan tinggi, maka akan terjadi tingkat pengangguran yang relatif rendah.

E.     Teori Pertumbuhan Ekonomi
Pembangunan ekonomi merupakan salah satu sasaran pembangunan. Pembangunan dalam arti luas mencakup aspek kehidupan baik ideologi, politik, sosial budaya, pertahanan dan keamanan dan lain sebagainya. Pembangunan ekonomi adalah usaha-usaha untuk meningkatkan taraf hidup suatu bangsa yang sering kali dengan pendapatan riil perkapita. Selanjutnya, pembangunan ekonomi perlu dipandang sebagai kenaikan dalam pendapatan perkapita, karena kenaikan merupakan penerimaan dan timbulnya dalam kesejahteraan ekonomi masyarakat. Laju pembangunan ekonomi suatu negara diukur dengan menggunakan tingkat pertumbuhan GDP/GNP atau PDB / PNB. Todaro menjelaskan lima pendekatan teori klasik pembangunan ekonomi, yaitu : Teori tahapan linier dan pembangunan sebagai pertumbuhan; model perubahan struktural; revolusi ketergantungan internasional; kontrarevolusi neoklasik dan teori pertumbuhan baru.
Menurut Sadono Sukirno  pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat. Dengan demikian untuk menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapai perlu dihitung pendapatan nasional riil menurut harga tetap yaitu pada harga-harga yang berlaku ditahun dasar yang dipilih. Jadi pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi dari perkembangan suatu perekonomian. Oleh karena itu konsep yang sesuai dengan pertumbuhan ekonomi adalah GDP/PDB dengan harga konstan. GDP/PDB adalah nilai barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksikan di dalam negara tersebut dalam satu tahun tertentu. Sedangkan Produk Nasional Bruto nilai barang dan jasa yang dihitung dalam pendapatan nasional hanyalah barang dan jasa yang diproduksikan oleh faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh warga negara dari negara yang pendapatan nasionalnya dihitung. Menurut Biro Pusat Statistik penetapan Gross Domestic Product (GDP) dapat dilakukan dari tiga sudut pandang, yaitu:
a.       Sudut pandang produksi, GDP merupakan jumlah nilai produksi netto dari barang dan jasa yang dihasilkan pada suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu (satu tahun). Unit-unit produksi tersebut dibagi menjadi sembilan kelompok usaha, yaitu: sektor pertanian; sektor pertambangan dan penggalian; sektor industri pengolahan; sektor listrik, gas dan air, sektor; sektor bangunan; sektor perdagangan, hotel dan restoran; sektor angkutan dan komunikasi; sektor lembaga keuangan, sewa bangunan dan jasa perusahaan; serta sektor jasa-jasa.
b.      Sudut pandang pendapatan, GDP merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh berbagai faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi dalam suatu wilayah dan dalam jangka waktu tertentu.
c.       Sudut pandang pengeluaran, GDP merupakan jumlah pengeluaran rumah tangga lembaga swasta yang tidak mencari untung dan pengeluaran pemerintah sebagai konsumen pengeluaran untuk pembentukan modal tetap serta perubahan stok dan ekspor netto di suatu daerah dalam jangka waktu tertentu.
d.      Output atau pendapatan nasional merupakan ukuran paling komprehensif dari tingkat aktivitas ekonomi suatu Negara. Salah satu ukuran yang lazim digunakan untuk output adalah Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB). GDP / PDB dapat dilihat sebagai perekonomian total dari setiap orang di dalam perekonomian atau sebagai pengeluaran total pada output barang dan jasa perekonomian . Output ini dinyatakan dalam satuan mata uang (rupiah) sebagai jumlah dari total keluaran barang dan jasa dikalikan dengan harga per unitnya. Jumlah total tersebut sering disebut sebagai output nominal, yang dapat berubah karena perubahan baik jumlah fisik maupun perubahan harga terhadap periode dasarnya. Untuk mengetahui seberapa jauh perubahan tersebut karena perubahan fisik saja, maka nilai output diukur tidak pada harga sekarang tetapi pada harga yang berlaku pada periode dasar yang dipilih. Jumlah total ini disebut sebagai output riil. Perubahan persentase dari output riil disebut sebagai pertumbuhan ekonomi. Penilaian mengenai cepat atau lambatnya pertumbuhan ekonomi haruslah dibandingkan dengan pertumbuhan di masa lalu dan pertumbuhan yang dicapai oleh daerah lain . Dengan kata lain, suatu daerah dapat dikatakan mengalami pertumbuhan yang cepat apabila dari tahun ke tahun mengalami kenaikan yang cukup berarti. Sedangkan dikatakan mengalami pertumbuhan yang lambat, apabila dari tahun ke tahun mengalami penurunan atau fluktuatif.
Faktor-faktor yang dianggap sebagai sumber penting yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi antara lain:
1)      Tanah dan Kekayaan lainnya.
2)      Jumlah, Mutu Penduduk dan Tenaga Kerja
3)      Barang Modal dan Tingkat Teknologi
4)      Sistem Sosial dan Sikap Masyarakat.
5)      Luas Pasar dan Sumber Pertumbuhan
Kuznets  memberikan enam ciri pertumbuhan yang muncul dalam analisis yang didasarkan pada produk nasional dan komponennya, dimana ciri-ciri tersebut seringkali terkait satu sama lain dalam hubungan sebab akibat. Keenam ciri tersebut adalah :
-          Laju pertumbuhan penduduk yang cepat dan produk per kapita yang tinggi.
-          Peningkatan produktifitas yang ditandai dengan meningkatnya laju produk perkapita .
-          Laju perubahan struktural yang tinggi yang mencakup peralihan dari kegiatan pertanian ke non pertanian, dari industri ke jasa, perubahan dalam skala unit-unit produktif dan peralihan dari usaha-usaha perseorangan menjadi perusahaan yang berbadan hukum serta perubahan status kerja buruh.
-          Semakin tingginya tingkat urbanisasi
-          Ekspansi dari negara lain.
-          Peningkatan arus barang, modal dan orang antar bangsa.

Permasalahan pengangguran memang sangat kompleks untuk dibahas dan merupakan isu penting, karena dapat dikaitkan dengan beberapa indikator-indikator. Indikator-indikator ekonomi yang mempengaruhi tingkat pengangguran antara lain pertumbuhan ekonomi negara bersangkutan dan  tingkat inflasi. Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya. Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi.
Inflasi pada dasarnya merupakan hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah karena inflasi dapat menimbulkan akibat yang buruk pada kondisi ekonomi maupun sosial. Pada kondisi sosial inflasi dapat menyebabkan kemakmuran sebagian golongan masyarakat menjadi menurun. Menurunnya kemakmuran ini karena harga yang meningkat lebih cepat dibandingkan upah atau income (pendapatan) yang diterima oleh masyarakat tersebut. Kemudian, kebutuhan yang biasanya dapat terpenuhi bisa menjadi harus dikurangi karena keterbatasan kemampuan untuk merealisasikannya. Sedangkan pada kondisi ekonomi, inflasi dapat menyebabkan prospek pembangunan ekonomi jangka panjang akan menjadi semakin memburuk sekiranya inflasi tidak dapat dikendalikan. Hal ini disebabkan karena inflasi yang tidak dapat dikendalikan cenderung menurunkan investasi yang produktif, mengurangi ekspor, dan meningkatkan impor. Sehingga kecenderungan ini dapat memperlambat prospek pembangunan ekonomi jangka panjang. Laju pembangunan ekonomi suatu negara diukur dengan menggunakan tingkat pertumbuhan GDP/GNP atau PDB / PNB. 
Menurut Sadono pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat. Dengan demikian untuk menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapai perlu dihitung pendapatan nasional riil menurut harga tetap yaitu pada harga-harga yang berlaku ditahun dasar yang dipilih. Jadi pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi dari perkembangan suatu perekonomian. Oleh karena itu konsep yang sesuai dengan pertumbuhan ekonomi adalah GDP/PDB dengan harga konstan. GDP/PDB adalah nilai barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksikan di dalam negara tersebut dalam satu tahun tertentu. Tingkat inflasi mempunyai hubungan positif atau negatif terhadap jumlah pengangguran. Apabila tingkat inflasi yang dihitung adalah inflasi yang terjadi pada harga-harga secara umum, maka tingginya tingkat inflasi yang terjadi akan berakibat pada peningkatan pada tingkat bunga (pinjaman). Oleh karena itu, dengan tingkat bunga yang tinggi akan mengurangi investasi untuk mengembangkan sektor-sektor yang produktif. Hal ini akan berpengaruh pada jumlah pengangguran yang tinggi karena rendahnya kesempatan kerja sebagai akibat dari rendahnya investasi.
Dengan adanya kecenderungan bahwa tingkat inflasi dan pengangguran kedudukannya naik (tidak ada trade off ) maka menunjukkan bahwa adanya perbedaan dengan kurva philips dimana terjadi trade off antara inflasi yang rendah atau pengangguran yang rendah. Pada awalnya, kurva Phillips memberikan gambaran kasar mengenai kausalitas proses inflasi. Rendahnya tingkat pengangguran dianggap memiliki keterkaitan dengan ketatnya pasar tenaga kerja dan tingginya tingkat pendapatan dan permintaan dari konsumen. Kurva Phillips juga memberikan gagasan mengenai pilihan (trade off) antara pengangguran dan inflasi. Jika tingkat inflasi yang diinginkan adalah rendah, maka akan terjadi tingkat pengangguran yang yang sangat tinggi. Sebaliknya, jika tingkat inflasi yang diinginkan tinggi, maka akan terjadi tingkat pengangguran yang relatif rendah. Kurva Phillips menggambarkan hubungan antara tingkat inflasi dengan tingkat pengangguran didasarkan pada asumsi bahwa inflasi merupakan cerminan dari adanya kenaikan permintaan agregat. Dengan naiknya permintaan agregat, berdasarkan teori permintaan, permintaan akan naik, kemudian harga akan naik pula. Dengan tingginya harga (inflasi) maka untuk memenuhi permintaan tersebut produsen meningkatkan kapasitas produksinya dengan menambah tenaga kerja (tenaga kerja merupakan satu-satunya input yang dapat meningkatkan output). Akibat dari peningkatan permintaan tenaga kerja, maka dengan naiknya harga-harga (inflasi) pengangguran berkurang.

F.       Hubungan antara Tingkat Pengangguran dengan Pertumbuhan Ekonomi
Secara teori setiap adanya peningkatan dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia diharapkan dapat menyerap tenaga kerja, sehingga dapat mengurangi jumlah pengangguran.Dari data yang ada pada tabel 1 dan 3 terlihat bahwa terdapat hubungan yang negatif antara tingkat pengangguran dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Pada tabel 1 terlihat tingkat pengangguran di Indonesia pada tahun 2008 – 2012 mengalami penurunan, berbeda dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2008 – 2012 yang justru mengalami peningkatan. Hubungan negatif antara pertumbuhan ekonomi dan jumlah pengangguran ini disebabkan karena  pertumbuhan ekonomi yang meningkat di Indonesia memberikan peluang kerja baru ataupun memberikan kesempatan kerja dan berorientasi pada padat karya, sehingga pertumbuhan ekonomi mengurangi jumlah pengangguran.


DAFTAR PUSTAKA
·         Adioetomo, Sri Moertingih, 2010. Dasar – Dasar Demografi,Salemba Empat Jakarta.
·         Badan Pusat Statistik, 2012.Data Strtegis BPS 2012, Badan Pusat Statistik Indonesia, Jakarta.
·         Latumaerissa, Julius R, 2011. Bank dan Lembaga Keuangan Lain, Salemba Empat, Jakarta.
·         Mankiw, Gregory, 2008. Makroekonomi, Erlangga, Jakarta.
·         Sukirno, Sadono, 2008. Makroekonomi (Teori Pengantar),Rajawali Pers, Jakarta.
·         Suparmoko, 1990. Pengantar Ekonomika Makro, Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta.

1 komentar:

  1. Saya ingin berbagi cerita kepada anda bahwa saya ini HANDAYANI seorang TKW dari malaysia dan secara tidak sengaja saya buka internet dan saya melihat komentar IBU DARNA yg dari singapur tentan AKI SYHE MAULANA yg telah membantu dia menjadi sukses dan akhirnya saya juga mencoba menghubungi beliau dan alhamdulillah beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor toto 6D dr hasil ritual/ghaib dan alhamdulillah itu betul-betul terbukti tembus dan menang RM.230.000 Ringgit ,kini saya kembali indon membeli rumah dan kereta walaupun sy Cuma pembantu rumah tanggah di selangor malaysia , sy sangat berterimakasih kepada AKI SYHE MAULANA dan tidak lupa mengucap syukur kepada ALLAH karna melalui AKI MAULANA saya juga sudah bisa sesukses ini. Jadi kawan2 yg dalam kesusahan jg pernah putus asah, kalau sudah waktunya tuhan pasti kasi jalan asal anda mau berusaha, ini adalah kisah nyata dari seorang TKW, Untuk yg punya mustika bisa juga di kerjakan narik uang karna AKI MAULANA adalah guru spiritual terkenal di indonesia. jika anda ingin seperti saya silahkan kunjungi situs/website AKI MAULANA ~>KLIK DISINI<~  yg punya rum terimakasih atas tumpangannya.

    BalasHapus