Selasa, 31 Mei 2016

TRADISI TEPUK TEPUNG TAWAR ADAT MELAYU DI KABUPATEN PELALAWAN

 T.Kazni Riska Sri Afriani / Pend Budaya Melayu
Mayoritas masyarakat Riau masyarakatnya adalah melayu, yang memiliki nilai budaya melayu. Dalam sejarah terungkap bahwa pada zaman dahulu orang melayu adalah bangsa "penakluk" dan berhasil "memerintah" suku-suku lainnya di Nusantara. Orang melayu dulunya adalah pedagang perantara yang lihai sekaligus membawa Islam dan budaya melayu ke segenap pelosok Nusantara dan Asia Tenggara.
Menurut Khalis  "Kebudayaan masayarakat Riau, pada umumnya memiliki tradisi yaitu tepuk tepung tawar". Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Melayu khususnya di daerah Pelalawan. Tradisi ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur masyarakat Melayu, setelah mereka merasakan nikmat dari Allah swt, entah itu nikmat sehat, nikmat rizki dan nilmat-nikmat lainya.          
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat ini memiliki serta menggunakan bahasa, adat, dan kebudayaan Melayu. Riau memang kaya dengan adat dan tradisi,salah satunya 'tepuk tepung tawar'. Tepuk  tepung tawar adalah suatu upacara adat budaya melayu Riau peninggalan para Raja-raja terdahulu. Tepuk tepung tawar merupakan upacara adat dan juga bentuk persembahan syukur atas tekabulnya suatu keinginan atau usaha, upacara ini dilakukan pada dua ketentuan,baik pada manusia maupun pada benda. Tepuk tepung tawar biasa di pergunakan dalam acara-acara tertentu  misalnya : pernikahan, menempati rumah baru, mengendarai kendaraan baru, khitanan, serta bentuk-bentuk  dari luapan rasa kegembiraan bagi orang-orang yang mempunyai hajatan, atau semacam upacara adat yang sakral lainnya.
            Berdasarkan makna ritual tepuk tepung tawar bagi masyarakat Suku Melayu ada pepatah mengungkapkan  "kalau buat keje nikah kawin, kalau belum melaksanakan acara tepuk tepung tawar (dalam bahasa melayu: ketik tepung tawo) belum sah (afdhal) acara yang dilaksanakan". Selain itu, seiring dengan perkembangan zaman, pelaksanaan tradisi tepuk tepung tawar yang dilakukan oleh masyarakat Melayu juga mengalami perubahan pada sebagian ritualnya. Hal ini tentu saja menimbulkan perubahan makna pada tradisi yang bersangkutan.
            Perubahan makna yang terjadi pada tradisi tepuk tepung tawar bagi masyarakat Melayu sebenarnya berkaitan juga dengan perubahan dari individu pendukung adat dan budaya itu sendiri.Tepuk Tepung Tawar bagi masyarakat Melayu merupakan simbol budaya dan akan tetap terpelihara jika semua unsur pendukung budaya itu selalu berupaya dan menjunjung tinggi keberadaan Tepuk Tepung Tawar tersebut. Dengan demikian juga akan melanggengkan keberadaan Tepuk Tepung Tawar dalam kehidupan masyarakat.Namun kenyataannya banyak dari acara Tepuk Tepung Tawar yang berubah dalam pelaksanaannya sehingga mengakibatkan terjadinya perubahan makna.
            Menurut  Ediruslan  "Terjadinya perubahan makna dalam pelaksaan ritual Tepuk Tepung Tawar ini merupakan ide dasar utuk mempermasalahkan bagaimana masyarakat Melayu memaknai Tepuk Tepung Tawar yang sesungguhnya, dan perubahan apa yang terjadi yang menyebabkan perubahan makna ritual Tepuk Tepung Tawar saat ini". Perubahan makna tepuk tepung tawar tidaklah terlepas dari nilai-nilai budaya yang dianut masyarakatnya dan dengan demikian juga akan tercermin dari kebudayaan secara umum. Akan tetapi dalam perjalanan waktu dan pengaruh yang datang dari luar atau dari dalam konsep pikir dan pengetahuan masyarakatnya, maka kebudayaan kemudian mengalami perubahan.
 Jika benda budaya adalah hasil sebuah konsep pemikiran pepenganut kebudayaan tersebut yang ternyata kemudian berubah karena berbagai sebab, maka dapatlah disimpulkan bahwa telah terjadi perubahan sosial budaya. Hal ini dapat diterima karena kebudayaan tidaklah selalu statis atau tetap tapi akan selalu berubah. Sorokin (Kuntjaraningrat, 1985:55) menyatakan bahwa perubahan adalah gejala alamiah dan gerak perubahan itu sendiri mengarah kepada gejala yang menyerupai lingkaran atau siklus yang selalu mengiringi perjalanan sejarah umat manusia.
Menurut  Kleden (Kuntjaraningrat, 1985:12) menyebutkan bahwa "kebudayaan selalu berproses untuk menerima perubahan dan mengembangkan identitasnya, yang lebih jauh dijelaskan bahwa perubahan dapat dilihat dari sistim pengetahuan dan sistim makna ( system of meaning ) yang memberi warna kepada perubahan kebudayaan dalam bentuk penerimaan pengetahuan dan kerangka makna yang baru".
1.      Pengertian Tepuk Tepung Tawar
Menurut M.Rahmad "Tepuk tepung tawar hakikatnya mengandung makna menolak segala bala dan pemberian restu do'a bagi kesejahteraan kedua pengantin dan seluruh keluarga". Secara harfiah, tepuk tepung tawar berarti menepuk-nepukkan bedak pada  punggung dan telapak  tangan dan merenjis-renjiskan air mawar pada orang yang akan di tepuk tepung tawari, dan dilengkapi dengan menabur-naburkan bunga rampai, beras putih, dan beras kuning ke badan orang yang bersangkutan, kemudian diakhiri dengan doa oleh alim ulama. Masyarakat melayu menganggap acara tepuk tepung tawar adalah serentetan upacara yang tidak boleh ditinggalkan.
2.      Alat dan Tata Cara Tepuk Tepung Tawar
            Masing-masing alat atau peralatan yang digunakan adalah Ramuan  penepuk, perenjis dan pebabur. Tata cara melakukan tepuk tepung tawar sebagai berikut:
a.       Mengambil daun perenjis, yaitu daun yang diikat jadi satu dicelupkan kedalam air yang dicampur bedak, jeruk, bunga mawar, lalu direnjis pada kedua tangan yang telungkup diatas paha yg dialas bantal tepung tawar yang dialas dengan kain putih.
b.      Penepuk tepung tawar mengambil beras kunyit, basuh, bertih dan bunga rampai, lalu ditabur kepada orang yang ditepung tawari. Bila yang ditepung tawari orang yang terhormat dapat ditabur sampai atas kepala dengan putaran dari kiri kekanan sambil membaca salawat.
c.       Merenjiskan air percung kepada pengantin atau yang ditepung tawari. Mengambil sejemput inai lalu dioleskan di telapak tangan kanan dan kiri.
d.      Penepuk tepung tawar mengangkat tangan atur menyembah dengan  mengangkat tangan.
e.  Setelah semua orang yang ditunjuk sebagai penepuk tepung tawar selessai, acara ditutup dengan doa selamat. Jumlah penepuk tepuk tawar adalah bilangan ganjil, dimulai dari 3,5,7,9, dan 13.
Makna tepuk tepung tawar :
1.      Beras kunyit, beras basuh, dan beretih yang dihamburkan bermakana ucapan selamat      dan turut bergembira.
2.      Merenjis kening bermakna berfikirlah sebelum bartindak atau teruslah menggunakan akal yang sehat.
3.      Merenjis di bau kanan dan kiri bermakna haru siap memikul beban dengan penuh rasa tanggung jawab.
4.      Merenjis punggung tangan bermakna jangan pernah putus asa dalam mencari rezeki, selalu dan terus berusaha.dalam menjalani kehidupan
5.      Menginai telapak tangan bermakna penanda bahwa mempelai sudah berakad nikah. Dalam konsekuensinya penyadaran bahwa "sekarang" sudah tidak bujang atau dara lagi (sudah ada pendamping).
Doa selamat di penutup acara bermakna pengharapan apa yang dilakukan mendapat berkah dan ridho dari Allah Swt.
Dalam ritual tepuk tepung tawar terdapat berbagai perubahan yaitu sebagai berikut :
a.       Perubahan sosial budaya
Ritual tepuk tepung tawar menjadi kebanggaan masyarakat Melayu, sehingga mereka selalu mengikut sertakan diseluruh acara yang mereka lakukan, jika mereka melakukan ritual tepuk tepung tawar mereka akan dipandang sebagai keluarga yang mematuhi adat,mereka melakukan dengan penuh kesadaran bahwa jika melakukan ritual tepuk tepung tawar, mereka sudah melaksanakan apa yang telah diwariskan oleh kakek nenek mereka, sehingga  mereka telah ikut serta ikut melestrikan budayanya.
b.      Perubahan Pandangan Masyarakat
Saat ini, masyarakat Melayu Selatpanjang sudah lebih modern selaras dengan perkembangan zaman saat ini. Mereka sudah bisa menerima kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Konsekuensinya, mereka mulai merubah pandangan mereka terhadap adat istiadat dan kebiasaan yang selama ini mereka anut. Salah satunya adalah pandangan  terhadap pelaksanaan ritual tepung tepung tawar. Mereka tidak lagi memandang tepuk tepung tawar sebagai sesuatu yang sacral, akan tetapi sebagai suatu adat istiadat, boleh juga tidak melakukannya. tidak ada sanksi hukum bagi yang tidakidak melaksanakannya.
Seiring dengan perkembangan zaman, terjadi perubahan makna dalam pelaksanaan ritual tepuk tepung tawar. Tepuk tepung tawar yang dilaksanakan oleh masyarakat Melayu tidak lagi sesakral pelaksanaan dahulu kala.
           
DAFTAR PUSTAKA
Amanriza. Ediruslan. Pe.t.t. Adat Perkawinan Melayu Riau.Riau : Unri Press
Binsar,Khalis,Dkk.2011.Budaya Melayu Riau.Solo:Inti Prima Aksara
Rahmad, M. 2014. Tata upacara adat perkawinan melayu riau. Smkbungaraya. Blogspot.com/2014/01/tata-upacara-adat-perkawinan-melayu-riau.html
http://wa-iki.blogspot.com/2010/10/upacara-tepuk-tepung-tawar.html.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar