Selasa, 31 Mei 2016

SEJARAH PERJUANGAN RAKYAT TAMBO ALAM KERINCI MELAWAN BELANDA



NUKE ANGELA PUTRI / SI IV/ 14 A
Sekilas Tentang Bumi Alam Kerinci
Bumi alam Kerinci sepanjang sejarah dikenal sebagai daerah yang damai dan tenang, kehidupan masyarakat alam Kerinci yang harmonis ditandai dengan adanya hubung­ an diplomasi dengan Kerajaan Melayu Jambi dan Singasari Majapahit di pulau Jawa,dan alam Kerinci sejak 450 tahun yang silam telah menjalin hubungan dengan Indrapura. Bukti dalam "Tambo  Kerinci" menye­ butkan bahwa sekitar 450 tahun yang silam, Sultan Permansyah dari Indrapura pernah melakukan perang terbuka dengan Belanda, pada waktu itu Sultan Permansyah mengundang Rajo Mudo dari alam Kerinci untuk membantu Indrapura yang berperang dan bertempur selama 9 bulan, bantuan yang diberikan Rajo Mudo membuat penjajah Belanda mengundurkan diri meninggalkan Indrapura, kemudian diganti oleh Inggeris dari Bengkulu. Ini menunjukkan suku Kerinci telah menjalin hubungan baik dengan daerah luar alam Kerinci
Bukti lain yang terdapat dalam tulisan yang ada dalam "Tambo" disebutkan bahwa para pemimpin dan rakyat Suku Kerinci telah men­ jalin hubungan erat dengan kerajaan Jambi, bukti adanya hubungan yang baik itu dapat dilihat dalam surat Pangeran Suria Karta Negara (1100.H).Surat Pangeran Suta Wijaya (1116H), Surat Pangeran Suria Kusuma dan surat Pangeran Rata. Surat Sultan Ahmad Badaruddin, Surat Pangeran Citra Puspa (1340.H), Surat Pangeran Temenggung Mangku Negara dan beberapa surat surat lainnya yang berasal dari pemerintahan kerajaan jambi.
Para Sejarawan memperkirakan alam Kerinci dan rakyatnya sejak masa Hindu­Budha telah menjalin hubungan dengan daerah­daerah di sekitar alam Kerinci, Puncak hubungan baik itu terjadi sekitar tahun 1815 (awal abad ke 19), pada tahun itu Belanda berhasil mencengkeramkan kuku imprealisnya di daerah Muko muko dan Inderapura,jiwa menjajah yang tertanam paada imprealis Belanda terus berusaha untuk menguasai semua  persada nusantara.
Menurut H.Sutan Kari,BA (Alm) dan Iskandar Zakaria Sejarawan dan Budayawan Kerinci, Kekayaan alam Kerinci terutama kekayaan hasil pertanian dan perkebunan yang melimpah kesuburan tanah dan panorama alamnya yang mempesona mengundang niat Belanda untuk menguasai bumi alam Kerinci yang kaya subur dan mempesona, awal tahun 1900 penjajah Belanda dengan balatentaranya dari wilayah Muko muko mengirimkan pasukannya berpatroli di bukit Sitinjau laut.di ka­ wasan puncak Gunung Raya mendirikan pesanggrahan dan memasang tanda sebagai peringatan dan pemberitahuan bahwa Belanda telah memasuki kawasan alam Kerinci.
Melihat sikap Balatentara Belanda yang mulai mengibarkan bendera perang dan menunjukkan itikad tidak baik membuat rakyat Kerinci men­ jadi marah, (Depati H. Sutan Kari,BA) para Depati depati, Hulubalang dan rakyat Kerinci menjadi geram dan marah, utusan tentara Belanda yang dipimpin oleh Imam Marusa dan Imam Mahdi di dicegat dan Iman Marusa ditangkap dan dibunuh di perjalanan oleh hulubalang dibawah pimpinan Depati Parbo dari daerah Lolo dan Depati Agung dari daerah Lempur. sedangkan Imam Mahdi dibiarkan hidup dan diperintah untuk kembali menghadap Belanda, peristiwa yang menimpa kedua orang utusan Belanda itu menyulut kemarahan tentara Belanda, akibatnya tentara Belanda dengan sikap arogan dan watak imprealis mencari jalan untuk masuk dan menaklukan serta menduduki alam Kerinci. Niat licik dan nafsu ingin mengusai dan menjajah alam dan rakyat Kerinci telah tercium oleh hulubalang hulubalang se alam Kerinci.
Untuk menumbuh kenali kembali jejak perjuangan Pahlawan Perang Kerinci Depati Parbo dan pejuang pejuang alam Kerinci lainnya, penulis bersama budayawan alam Kerinci Iskandar Zakaria dan Antri Mariza Qadarsih,S.Sos (7/03­2012) melakukan kunjungan ke lokasi­lokasi basis perjuangan Depati Parbo dan hulubalang­hulubalang tokoh pejuang alam Kerinci di Kawasan Renah Manjuto, Dusun Lolo, Kebun varu,Dusun Talang Kemuning Dusun Baru Pulau Tengah, Dusun Koto Tuo, Dusun Telago Pulau Tengah, Benik, Jujun Sanggaran Agung Kecamatan Da­ nau. Penulis bersama Iskandar Zakaria dan Antri Mariza Qadarsih juga mengunjungi kediaman dan makam Depati Parbo di Dusun Lolo Kecil tempat Depati Parbo di lahirkan dan dibesarkan.
Suku Kerinci yang dikenal sejak zaman prasejarah sebagai suku pemberani dan telah memiliki tingkat kebudayaan dan peradaban serta kecerdasan yang tinggi dengan semangat menyala dan pantang menyerah dengan gagah perkasa dengan senjata dan amunisi yang sangat terbatas menghadapi balatentara Belanda yang bersenjata lengkap. Perang pertama meletus tahun 1901 di kawasan Renah Manjuto laskar hulu balang Kerinci yang berjunlah 18 orang dipimpin Depati Parbo berhasil mematahkan serangan Prajurut Belanda yang berjumlah sekitar 300 orang, dengan semangat menyala dan pantang menyerah hulubalang Kerinci berhasil memukul mundur dan menewaskan puluhan tentara Belanda,tahun itu merupakan tahun dimulainya pertempuran hulubalang alam Kerinci dengan prajurit Penjajah Belanda.
Tokoh dan pemimpin perjuangan rakyat Kerinci yang menonjol disaat itu adalah Depati Parbo bersama hulubalang hulubalang dari berbagai negeri/dusun di alam Kerinci bahu membahu menghadapi dan berjuang habis habisan menghadapi kaum Imprealisme Belanda.. Di Ranah Man­ juto terjadi penyerangan yang dilakukan oleh pasukan tentara Belanda. Pasukan Belanda dari Indrapura melewati Bukit Sitinjau Laut bersama pasukan Belanda yang didatangkan dari Muko muko dipimpin Kapten Bolmar melakukan penyerangan terhadap markas pejuang Alam Kerinci yang dipimpin Panglima Perang Depati Parbo,Kubu kubu pertahanan dibangun pasukan Belanda disebelah Utara Renah Manjuto.
Setelah bermufakat dengan Depati Agung, Depati Parbo memper­ siapkan hulubalang hulubalang yang gigih dan berani mati untuk men­ yongsong dan melakukan pertempuran hidup mati menghadapi pasukan Belanda yang bersenjata lengkap dan modern. Setelah berjalan melewati rimba belantara yang ganas, Depati Parbo dan para pejuang beristirahat sambil mempersiapkan makanan untuk makanan sore, sebagian dari pejuang ada yang tidur tiduran sambil melepas lelah, tanpa diduga tiba tiba pasukan Belanda mengepung dan telah berdiri dengan senjata lengkap dihadapan Depati parbo dan para pejuang, dengan kondisi yang belum siap. Pasukan Belanda melakukan penyerangan terhadap pejuang. dalam suasana tidak siap para pejuang dengan gagah berani menghadapi serangan musuh, puluhan korban berjatuhan dari kedua belah pihak, beberapa opsir dan serdadu belanda tewas bersimbah darah.
Dengan bekal semangat jihad yang tinggi dan dengan ilmu kebatinan dan ilmu kebal yang dimilikinya, setelah tiga hari bertempur, Depati Parbo dan para pejuang mampu memukul mundur pasukkan Belanda, pada saat bertempur Depati parbo dibantu oleh M. Judah gelar Depati Santiudo Pamuncak alam, Haji.Syukur, Depati Nali, Seman Gelar Depati Nyato Negoro.H.Mesir.H.Ilyas,Mat  Pekat  dan H.Yasin.
Ridwan, SN seniman dan budayawan Jambi asal Merangin ( Jambi 10:6:2012) menyebutkan pada pertempuran yang terjadi di Renah Men­ juto dua orang hulubalang asal Pangkalan Jambu Perentak yakni H.Muhi (asal dusun baru Perentak) dan H.Maktam hulubalang asal Lempur yang menikah dengan warga pangkalan Jambu Perentak(Kerinci Rendah) ikut membantu perjuaangan yang dipimpin Depati Parbo, kedua hulubalang tersebut mampu membantu perjuangan Depati Parbo dalam menumpas serdadu Belanda yang ingin menguasai alam Kerinci.
Depati Parbo pejuang Kerinci yang dikenal gigih dan pantang menye­ rah itu sangat ditakuti oleh para serdadu Belanda, dengan kemampuan bela dirinya yang tinggi, Depati Parbo menghadapi serdadu dalam per­ tempuran menggunakan tangan kosong dan mempraktekan ilmu bela diri silat, salah satu cirri khusus Depati Parbo dalam menghabisi musuh dengan cara memelintirkan kepala musuh kearah belakang, serangan Depati Parbo dilakukan tanpa diketahui oleh musuh, hal lain yang di­ lakukan oleh Depati Parbo adalah membengkokkan ujung senjata api milik musuh hingga tidak dapat dipergunakan musuh.
SEKILAS TENTANG DEPATI PARBO PANGLIMA PERANG ALAM KERINCI
Mengutip Buku Depati Parbo Pahlawan Perang Kerinci yang diter­ bitkan oleh Pemerintah Daerah Kerinci Tahun 1972 yang digagas oleh Bupati Kerinci Rusdi Sayuti,BA, (Dpt.H.Sutan Kari,BA (Alm) dan Hj.Aida Rosnan,BA) menyebutkan alam Kerinci nan elok dan permai dikenal sebagai daerah yang memiliki hawa yang sejuk dengan panorama alamnya yang indah dan menawan, di kaki Gunung Raya tepatnya di dusun (Desa) Lolo dan sekarang dikenal dengan wilayah Kecamatan Gunung Raya Kabupaten Kerinci sekitar tahun 1839 telah lahir seorang bayi tampan anak sulung dari hasil pernikahan sepasang pasangan muda Bimbe  (ayah) dan  Kembang (ibu).
Bayi mungil yang tampan itu oleh kedua orang tuanya diberi nama Kasib, kelak bayi mungil dengan kulit bersih berwarna putih kuning tum­ buh menjadi anak muda yang tampan dan kelak ia itu menjadi sosok pria dewasa yang perkasa dan dikenal sebagai pria berani dan menjadi musuh bebuyutan pasukkan penjajah Belanda. Kasib kecil dilahirkan dari keluarga sederhana dan disegani oleh masyarakat di kampung, kelahi­ ran bayi munggil Kasib disambut gembira keluarga besar Bimbe dan Kembang, disamping tampan dengan kulit yang bersih, ternyata Kasib kecil sejak lahir telah menampakkan tanda tanda keistimewaan, salah satu keistimewaan bawaan lahir Kasib telah memiliki gigi geraham yang berwarna hitam seperti warna besi, disamping itu pada beberapa tempat di tubuhnya terdapat bintik bintik kecil dan tahi lalat berwarna hitam, dan demi melihat tanda tanda keistimewaan yang ada pada bayi munggil itu oleh kedua orang tua dan keluarganya nama Kasib sering ditambah nama "German Besi".
Di Dusun Tanjung Tanah Kemendapoan Seleman, Kasib muda menjalin persahabatan dengan seorang pria paruh baya yang lebih tua darinya. Pria itu bernama Supik gelar Depati Suko Barajo, seorang pedagang ternak kerbau. Kasib muda juga memiliki bakat dagang, hubungan persahabatan mereka sangat inti. ,Kasib juga memiliki teman seperjuangan antara lain Bangkit gelar Haji Bahaudin dari Dusun Lolo, Seman pria asal Talang Kemuning. Pada suatu ketika Kasib pernah menunjukkan keistimewaan yang diberikan oleh Allah Swt, kepadanya pada suatu siang di dusun Talang Kemuning. Pada saat yang sama, di desa tersebut ada kejadian seekor kerbau putus tali menggila dan mengamuk menyeruduk setiap benda yang ditemuinya, ironisnya kerbau yang menggila itu menyeruduk dan menanduk seseorang warga hingga tewas.
Pada saat itu semua orang orang yang berada di sekitar lokasi kerbau mengamuk hanya berusaha menghindar untuk menyelamatkan diri dari amukkan kerbau menggila. Tak ada seorang pun yang berani mendekat dan menangkap kerbau jalang yang mengamuk, masyarakat yang menyaksikan salah seorang dari warganya tewas menjadi geram bercampur marah, namun mereka tak kuasa untuk menjinakkan dan menangkap kerbau itu. Pada saat yang kritis dan mencekam itulah, pemuda Kasib tanpa banyak bicara turun tangan ke lapangan berhadapan dengan kerbau yang mengamuk. Lewat pertarungan yang sengit antara hewan kerbau liar dengan seorang anak muda, akhirnya Kasib berhasil membuktikan kekuatan dan kemampuannya menaklukan kerbau jalang yang mengamuk itu. Kasib berhasil menahan dan menangkap dengan tangan tanduk runcing si Kerbau yang siap rmenyeruduknya. Setelah mampu menahan dengan kedua tangannya dari serudukan tanduk runcing kerbau, barulah ma­ syarakat dan hulubalang kampung beramai ramai mengikat kerbau dan selanjutnya "membantai" kerbau itu hingga mati.
Sebagai pria yang semakin tumbuh dewasa. Kasib memiliki kebiasaan merantau, sekitar 3­4 tahun(1859­1862) Kasib muda pernah melanglang buana "menuntut ilmu" hingga ke Rawas­Palembang, ia pernah bertapa memperdalam ilmu kebatinan di Gunung Kunyit, belakangan ketika ia pulang ke tanah kelahirannya terjadi beberapa perubahan pada diri Kasib, ia menjadi agak pendiam, lebih tenang dan memiliki kharisma tersendiri, terkadang ia sering diminta bantuan oleh masyarakat untuk mengobati berbagai penyakit yang diderita oleh penduduk. Saat berada di daerah Rawas­Palembang –Sumatera Selatan Kasib dipanggil pulang oleh keluarga dan karib kerabatnya di dusun Lolo, pada saat itu tahun 1862 dilaksanakan ' Kenduri Sko ( kenduri adat ) di dusun Lolo untuk mengangkat para pemangku adat (Depati) untuk menggantikan Depati Depati yang telah meninggal dunia. Para Depati Depati ini ditengah tengah masyarakat adat sangat dibutuhkan untuk mengurus negeri dan mengurus anak batino/anak kemenakan (keluarga batih). Beberapa Depati yang tekah uzur pada saat itu menyerahkan tongkat estapet kedepatian kepada generasi penerus. Menurut adat di alam Kerinci "Depati hilang (wafat) diangkat Depati baru, pemuda yang telah memiliki persyaratan, menguasai adat dan cakap serta bijaksana diangkat untuk menjadi pemangku adat (Depati) pada acara "Kenduri Sko" yang mengharuskan memotong kerbau seekor, beras seratus dengan mengundang segenap sanak saudara yang berada dalam satu kesatuan  wilayah adat.
Di usia sekitar 23 tahun,, Kasib yang dikenal cerdas memiliki kha risma watak kepemimpinan yang menonjol dan memiliki kelebihan spiritual dipilih menjadi "Depati" pemimpin dusun Lolo dengan gelar "Depati Parbo" sebuah gelar adat tertinggi yang didapat dari gelaran dari pihak ayahnya (Bimbe) dan sejak saat itu resmilah Kasib menyandang gelar pusaka dengan gelar "Depati Parbo". Kasib dengan Gelar "Depati Parbo" saat itu dipercayakan secara adat untuk memimpin negeri wilayah adat Dusun Lolo, selama pemerintahan ditangannya, kehidupan dan suasana negeri Lolo berkembang pesat, kehidupan masyarakat berjalan harmonis, pemerintahan adat berlangsung tertib dan penuh dengan kedamaian.dalam melaksanakan pemerintahan di dalam negeri Lolo, Depati Parbo dibantu oleh Depati Gento, Depati Kertau Udo, Depati Jajo, Depati Lolo dan Depati Judo.
Suasana kehidupan dusun dusun di alam Kerinci termasuk di dusun Lolo yang damai dengan nuansa yang harmonis mengalami gangguan, saat tiba tiba Pemerintah Belanda yang telah bercokol di daerah Muko muko (Bengkulu) dan di daerah Inderapura ( Minangkabau) mulai membuat masalah dengan penduduk Kerinci. Imprealis Belanda berniat untuk menduduki alam Kerinci yang dikenal pada waktu itu sangat kaya dengan hasil pertanian padi sawah dan tanaman Casiavera dan Kopi dan iklimnya sangat cocok untuk usaha perekebunan teh. Belanda mulai mengatur siasat liciknya dengan memata­matai alam Kerinci, merasa yakin dapat memasuki Alam Kerinci dengan mudah, pemerintah Belanda mengirimkan dua orang utusan masing masing Imam Marusa dan Iman Mahdi untuk menemui sekaligus membujuk para Depati Depati agar menerima Belanda untuk bercokol di Alam Kerinci, dengan mengedepankan akal bulusnya membujuk rakyat Kerinci agar bersedia bekerja sama dengan Belanda membangun alam Kerinci.
Akal licik Belanda telah tercium oleh para depati­depati dan para Hulubalang negeri di seluruh alam Kerinci, kedatangan utusan Belanda tersebut ditanggapi dingin para Depati Depati yang enam, para depati depati dengan tegas menolak ajakan Belanda untuk bekerja sama, bahkan salah satu dari utusan Belanda di eksekusi hingga tewas di daerah Perbatasan antara Lolo dengan Lempur. Dengan kejadian itu, maka dimulailah babak baru perjuangan rakyat di Alam Kerinci,Depati Parbo bersama para Hulu balang dalam negeri se­alam Kerinci mulai waspada dan mempersiapkan diri untuk mengha­ dapi segala ancaman dan kemungkinan buruk yang bakal terjadi.Depati Parbo yang dikenal cerdas dan memiliki mata bathin yang tinggi mulai mengadakan serangkaian pertemuan dengan para Depati. Bersama para Depati di Lempur dibawah pimpinan Depati Agung dilaksanakan musyawarah untuk membangun benteng pertahanan guna mengan­ tisipasi setiap ancaman dan ganguan dari musuh (Belanda) yang ingin mencengkramkan kukunya di persada alam Kerinci yang subur elok dan permai.
Pada pertemuan itu disepakati untuk membangun pertahanan bersama guna mengantispasi penyerangan yang dilakukan oleh pihak penjajah Belanda yang licik yang diprediksi akan memasuki alam kerinci dari arah Muko muko. Para Depati dibawah Komando Panglima Perang Depati Parbo mengintruksikan setiap pria dan perempuan dewasa untuk mengaktifkan ilmu bela diri dan melakukan latihan perang dengan menggunakan pedang dan tombak, khusus bagi kaum wanita mendapat tugas menjadi barisan pengawal negeri dan dusun, para wanita dewasa dilatih menggunakan senjata "sumpit" yang telah diisi Merica (Lada) yang setiap saat dapat di tiupkan ke arah wajah dan bola mata musuh. Depati Parbo sejak melakukan eksekusi terhadap utusan Belanda yakni Iman Marusa, setiap waktu sibuk melakukan koordinasi dan menggalang kekuatan dengan para pemangku adat, Depati dan para Hulubalang negeri se alam Kerinci.
Tanpa mengenal lelah Depati Parbo sibuk mengatur pertahanan di setiap negeri, hampir setiap waktu Depati Parbo hilir mudik menemui para Depati, kemarin pagi berada di daerah hilir, besok atau lusa Depati Parbo telah berada di Kerinci tengah dan Kerinci mudik, siang bertemu dengan Depati di Seleman atau tanjung tanah, malamnya ia sudah berada di Hiang atau di Pulau Tengah atau Jujun, tujuannya tidak lain adalah untuk memperkokoh rasa kekompak­ kan dan rasa kesatuan dan persatuan untuk bersama­sama menghadapi imprealis Belanda yang nekad untuk menjajah bumi alam Kerinci. Dalam berjuang Depati Parbo mendapat dukungan penuh dari semua lapisan  pemerintahan adat dan segenap masyarakat di alam Kerinci,para pejuang dan hulubalang secara bersama­sama saling bahu membahu menghadapi pertempuran demi pertempuran menghadapi Belanda.
Meski telah berjuang dan telah banyak pejuang yang gugur di medan juang, akhirnya dengan akal licik yang didukung oleh alat persenjataan dan amunisi modern, akhirnya Belanda berhasil memasuki alam Kerinci meski dengan cara tidak mudah, karena ratusan prajurit bayaran dan tentara Belanda telah jatuh bergugura dan ratusan pejuang dan mujahid alam Kerinci telah gugur di pangkuan bumi persada " Ranouh Alam Kincai". Bersama­sama rakyat di Alam Kerinci Depati Parbo melakukan perang gerilya dan setiap waktu musuh selalu mengintai, perlawanan dari rakyat terus dilancarkan oleh rakyat di Pulau Tengah, Siulak, Pengasi, Semurup, Hiang, Jujun, Rawang, Pungut, Sungai Penuh, Sanggaran Agung dan hampir disetiap pelosok negeri di alam Kerinci, perjuangan yang dilakukan oleh para pejuang terinspirasi dan dijiwai oleh semangat juang Depati Parbo Sepak terjang Panglima Perang Depati Parbo selalu diawasi dan di­ matai matai oleh tentara Belanda, beberapa tipu muslihat dan beberapa kali penyerangan yang dilakukan oleh Tentara Belanda semata mata untuk mematahkan perjuangan bahkan dengan tipu muslihat Belanda berupaya untuk menjebak dan menangkap Depati Parbo, namun berkali kali usaha itu sia sia.
Depati Parbo dengan taktiknya yang licin dan strategi gerilya yang jitu mampu mengecohkan tentara Belanda yang berusaha untuk menangkap Depati Parbo berserta para Hulubalang yang setia mengikuti dan mengawasi Depati Parbo yang dikenal berjiwa patriot dan pejuang sejati. Pemerintah kolonial Belanda berpikir, bahwa sebelum Depati Parbo ditangkap dan tewas maka api pemberontakan yang dilakukan oleh Hulubalang Hulubalang dan rakyat di alam Kerinci tidak akan pernah padam. Mulailah upaya penaklukan Depati Parbo oleh pemerintah kolo­ nial Belanda. Saat dilakukan pengejaran dan upaya penangkapan, Depati Parbo melakukan gerilya dan menyingkir di daerah perbukitan sehingga dari kejauhan Depati Parbo bisa menyaksikan kebiadaban Belanda yang melakukan penyerangan dan pembantaian terhadap orang­orang yang tidak berdosa.
Belanda dengan biadab dan keji menyerang secara membabi buta dengan senjata meriam dan senjata modern menyerang warga tak berdosa, Belanda degan keji membakar dusun baru dan meng­ hancurkan benteng benteng pertahanan yang dibangun para pejuang. Dengan raut wajah sedih bercampur marah Depati Parbo berupaya untuk membangun mental pejuang dan rakyat untuk tidak mengenal kata menyerah. Bersama sama para pejuang dan Hulubalang hulubalang tetap melanjutkan perjuangan hingga tetes darah terakhir, secara bergerilya Depati parbo dan para pejuang melanjutkan perjuangan dengan taktis gerilya dan melakukan penyerangan saat Belanda lengah. Dengan politik kotor Devide et Ampera, Belanda melakukan berbagai siasat dan jebakkan untuk menangkap Depati Parb. Suatu saat Belanda pernah membujuk anak angkatnya bernama Jurid untuk menangkap Depati Parbo, namun upaya Belanda ini gagal. Sejak belanda menginjak kaki hingga 2 tahun lebih Belanda belum sepenuhnya me­ nguasai alam Kerinci karena Depati Parbo masih hidup dan memimpin langsung perlawanan.
Perang Ranah Manjuto 1903-1906
Pertempuran di kawasan Ranah Manjuto dalam catatan sejarah perjuangan rakyat alam Kerinci dalam menghadapi imprealis Belanda tercatat sebagai awal perjuangan rakyat Kerinci mengangkat senjata dalam menghadapi imprealis Belanda. Pasukan Belanda yang bermar­ kas di Muko­ muko dengan bantuan Belanda yang berada di Indrapura dengan kekuatan 120 orang serdadunya yang dipimpin Kapten Bolmar memasuki kubu kubu pertahanan yang dibangun Belanda sebelah utara Ranah Manjuto. Kabar kedatangan Belanda yang telah memasuki Ranah Manjuto didengar oleh para hulubalang dan tokoh adat di daerah Lempur dan Lolo, dengan semangat anti penjajah para hulubalang yang hanya berjumlah 12 orang berjaga jaga di Renah Manjuto mengintai kedatang­ an serdadu Belanda, Sebelumnya pihak Belanda pernah membangun pilar pilar dan Pos untuk memantau dan bertahan di renah  Manjuto, pilar pilar dan Pos ini telah dihancurkan oleh para pejuang di Lolo dan lempur yang dipimpin oleh Depati Parbo.
Panglima Perang Depati Parbo membuat kesepakatan dengan Depati Agung dari Lempur untuk mempersiapkan para Hulubalang hulubalangnya untuk menghadapi dan melakukan perlawanan hingga tetes darah penghabisan melawan Belanda yang nekad memasuki wilayah Adat Alam Kerinci, Depati Parbo memimpin langsung penye­ rangan menghadapi serdadu Belanda yang jumlahnya tidak berimbang, Belanda mengirimkan 120 serdadu yang dilengkapi dengan persenjataan modern, sementara dilain pihak Depati Parbo hanya memiliki 12 orang Hulubalang tangguh. Perjalanan yang cukup melelahkan melewati hutan belantara yang lebat serta tantangan alam yang keras tidak menyurutkan tekad dan semangat Depati Parbo dan para Hulubalang hulubalangnya, setelah melewati perjalanan panjang yang melelahkan dan menyeberangi Sungai Batang Manjuto pasukan beristirahat dan sebagian mempersiapkan makanan sore, beberapa orang Hulubalang tertidur karena kelelahan, dan tanpa diduga pasukan Belanda telah sampai di lokasi yang sama, melihat kehadiran seratusan serdadu Belanda, para Hulubalang yang telah terkepung oleh pasukan serdadu Belanda melakukan perlawanan yang gigih, 50 orang serdadu Belanda termasuk beberapa orang opsir dan Perwira Belanda tewas mengenaskan bersimbah darah ditikam keris para Hulubalang, 2 orang Hulubalang ikut tewas ditembak pasukan Belanda.
Dalam keadaan kritis dan terdesak Panglima Perang Depati Parbo menunjukkan watak kejuangan yang kental. meski dengan hanya sebilah keris Depati Parbo mampu memukul mundur pasukan Belanda yang telah tercerai­berai menuju Ipuh tempat markas induk pasuk­ kan serdadu Belanda, Depati Parbo yang disebut­sebut memiliki ilmu kebatinan yang tinggi berhasil menewaskan puluhan serdadu Belanda, pertempuran di Renah Manjuto berlangsung selama 3 hari. Catatan sejarah menyebutkan ada 12 orang anggota pasukan inti Hulubalang yang dipimpin Panglima Perang Depati parbo, para Hulubalang yang terkenal tangguh dan perkasa itu adalah: Depati Agung, M.Judah gelar Depati Santiudo Pamuncak Alam,H.Syukur, Depati Nali Seruan Depati, H.Mesir, H.Ilyas.Mat Pekat. H.Yasin, Seman Gelar Depati Nyato Negaro, dan dua orang hulubalang lainnya yang tewas di medan peperangan di Renah Manjuto hingga saat ini penulis belum memperoleh identitas  nama  hulubalang tersebut. Keberhasilan Depati Parbo dalam memukul mundur pasukan Belanda tersebar luas dikalangaan para hulubalang se­alam Kerinci, nama besar dan keberanian Depati Parbo menjadi sumber inspirasi para hulubalang dan pejuang se­alam Kerinci untuk bersatu berjuang bersama Depati Parbo untuk mengusir Imprealis Belanda.
Para hulubal­ ang menyadari bahwa untuk menghadapi musuh yang jumlahnya besar dengan persenjataan lengkap tidak ada jalan lain kecuali bersatu padu, peristiwa pertempuran di Renah Menjuto merupakan pengalaman yang paling berharga bagi para pejuang untuk melanjutkan pertempuran melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Bagi Belanda kekalahan di RenahMenjuto merupaan tamparan keras yang sangat memalukan, 12 orang hulubalang mampu menewaskan 50 orang Belanda dan mampu memukul mundur 70 orang serdadu Belanda yang bersenjata lengkap. Kekalahan telak ini menbuat pihak Belanda berpikir ulang untuk menerobos benteng pertahanan rakyat dan pejuang alam Kerinci, ternyata tidak mudah bagi Belanda untuk memasuki dan menjajah bumi alam Kerinci. Pengalaman Renah Manjuto kembali dievaluasi, para pemimpin tentara Belanda kembali melakukan perencanaan yang lebih matang dan menyusun kekuataan untuk kembali melanjutkan pertempuran menghadapi para Hulubalang Alam Kerinci yang tungguh.
Sejak pertempuran di Renah Manjuto terjadi, maka selama 4 bulan Belanda melakukan persiapan untuk melakukan penyerangan, Guber­ nur Jenderal Van Meues yang berkedudukan di Batavia, mengirim surat kepada Gubernur J.Valot di Padang. Surat tersebut diteruskan kepada Asisten Residen J.Engel di Painan. Dari Painan surat dari Gu­ bernur Jenderal Van Meues diteruskan kembali oleh J.Engel kepada Komendur H.K.Manupasha di Indrapura, selanjutnya surat tersebut diberikan pula kepada Tuanku Regen Indrapura, bernama Sutan Rusli Gelar Mohamadsyah. Isi surat itu pada intinya adalah agar Tuanku Regen, menganjurkan kepada rakyat Kerinci, terutama kepada para Depati selaku penguasa di daerah atau dusun­dusun itu agar menerima kehadiran bangsa Belanda dengan cara baik baik oleh rakyat Kerinci.
Belanda dengan taktik bujuk rayu dan tipu muslihat menjanjikan bila Belanda diterima dengan baik oleh penduduk Alam Kerinci, maka hak-hak kesultanan Tuanku Regen akan dikembalikan, bahkan Belanda menjanjikan akan membangun sebuah Istana untuk Sultan Mohamadsyah di Kerinci, bahkan Belanda mengiming­ imingi Tuanku Regen akan memperluas Pemerintahan Sultan meliputi daerah Alam Kerinci sampai ke daerah Bandar Sepuluh, dan semua hasil Negeri dan hutan, laut serta sawah akan diberikan kepada Sultan, serta Belanda juga mengobral Janji akan memberi gaji Sultan sebesar. F.2000,­setiap bulan.
Merasa berhasil memperalat Tuanku Regen, Belanda dengan leluasa melanjutkan perjalanan menuju Sekungkung,kedatangan Belanda disambut kegigihan para pejuang dan rakyat. Akan tetapi perjuangan itu dapat dipatahkan oleh Belanda, serangan selanjutnya diarahkan ke Belui, Kemantan, Koto Lanang dan berakhir di Rawang. Selanjutnya di Hamparan Besar tanah Rawang dijadikan sebagai Markas pertahanan Belanda. Penyerangan dilanjutkan ke Siulak, rakyat Siulak dengan gigih berusaha menghadang ekpansi Belanda, namun mereka kalah senjata.
Di daerah Kerinci bagian Hulu tercatat nama nama pejuang antara lain H.A.Rahman dan H.Mahmud di Kemantan,Haji Sutan Taha Rio Bidi dan Imam berkat dari Belui,Depati Mat Syarif dari Sekungkung. H.M.Yunus, H.Bagindo Sutan Depati Kebalo Sembah.H. Manin Depati Negaro Negeri, Ijung Pajina dan H.Muhamad dari Semurup. Setelah berhasil melumpuhkan perlawanan rakyat di bagian hulu Kerinci, maka pihak Belanda melanjutkan serangan ke daerah Kerinci Hilir. Di daerah Hiang para depati dan rakyat membuat Benteng Per­ tahanan dari Bambu. Dan di daerah ini pejuang Kerinci di pimpin oleh H.Siam Depati Atur Bumi, sementara H.Sudin pimpinan Hulubalang dari Tanjung Tanah bersama 20 orang pasukan Hulubalang ditugaskan untuk mengintai musuh di sepanjang Sungai Batang Sangkir, sebelum memasuki wilayah Adat Hiang. Belanda dengan menggunakan perahu menyusuri Sungai Batang Sangkir, didaerah ini pertempuran berlangsung dengan sengit, sejumlah korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Na­ mun karena kekuatan tidak seimbang maka pasukan H.Sudin tinggal 12 orang dan terpaksa mundur ke Hiang dan bergabung dengan pasukan H.Siam.
Belanda berhasil menghancurkan dan menembus benteng bambu di Hiang. Demi melihat Benteng behasil dimasuki Belanda maka pasukan H.Siam memilih mundur ke Sanggaran Agung, sementara pa­ sukan Belanda mendapat tambahan serdadu dan persenjataan dari arah Temiai sehingga bisa terus mendesak pejuang yang terus melakukan perlawanan. Pasukan serdadu Belanda berhasil menduduki Sanggaran Agung dan menjadikan Sanggaran Agung sebagai Markas Besarnya untuk wilayah alam Kerinci. Dan dari Sanggaran Agung inilah Belanda mengatur strategi dan berhasil menaklukkan daerah daerah disekeliling Danau Kerinci seperti Tanjung Batu, Pengasi dan Jujun.

Pejuang Wanita H. Fatimah Srikandi  Alam Kerinci
Dalam setiap periode perjuangan di setiap daerah selalu muncul sosok tokoh Srikandi yang rela ikut berjuang mengangkat senjata meng­ hadapi musuh. Pada masa perjuangan secara nasional dikenal tokoh pejuang wanita seperti Cut Nyak Dien,Dewi Sartika, Rohana Kudus, dan di Bumi alam Kerinci pada masa awal perjuangan menghadapi imprealis Belanda juga memiliki sosok srikandi yang rela mengorbankan jiwa dan raga untuk merebut kemerdekaan. Adalah pada tahun 1903, seorang wanita pemberani sepupu Panglima Perang Kerinci Depati Parbo, bernama H.Fatimah yang dengan semangat juang menyala terjun ke medan peperangan.
Dalam pertempuran yang terjadi di dusun Lolo dan Lempur, pasukkan Belanda yang berjumlah 500 orang berangkat menuju negeri Lolo, dan disebuah dusun yang bernama Lolo kecil pasukan Hulubalang yang dipimpin Panglima Perang Depati Parbo dengan taktik gerilya telah menunggu pasukkan Belanda yang bergerak maju menuju negeri Lolo. Pertempuran sengit tidak terelakkan, pasukan cukup berimbang, para pejuang dan penjajah saling berhadapan satu lawan satu, meski diantara pasukkan Belanda terdapat pasukkan bayaran dari bangsa sendiri, sehingga dalam kondisi seperti ini para pejuang tanpa pilih bulu memerangi prajurit Belanda.
Dengan semangat pantang menyerah, Depati Parbo dengan gagah berani mampu menewaskan berlusin lusin pasukkan Belanda dengan tangannya sendiri. Pertempuran di Dusun Lolo kecil berlangsung selama 3 hari siang dan malam. Sengitnya pertempuran memaksa para wanita, orang tua dan anak anak diungsikan ke bukit bukit dalam wilayah kubu pertahanan. Melihat darah para pejuang yang membasahi bumi ranouh alam Kerinci membuat geram seorang wanita asal negeri Lolo, wanita yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Panglima Depati Parbo turun ke medan peperangan dengan menggunakan tangan sendiri. Perempuan pemberani dengan sikap waspada bersenjata tombak dipintu gerbang dusun Lolo mengintai pasukan Belanda,saat memasuki gerbang Lolo. H.Fatimah dengan semangat menyala­nyala, dengan hanya menggunakan senjata tombak menyerang pasukkan Belanda. Keberaniannya tidak sia sia, karena dengan tangannya H.Fatimah mampu menewaskan 4 orang pasukan Belanda, bahkan seorang Perwira Belanda berpangkat  Letnan  berhasil ditewaskannya.
Melihat 4 orang pasukkannya berhasil di tewaskan oleh seorang patriot wanita, membuat pasukkan Belanda menjadi beringas, dengan membabi buta mereka memuntahkan peluru kepada Hj.Fatimah se­ hingga gugur. Hj.Fatimah wafat secara syahid, jenazahnya dimakamkan di pemakaman umum keluarga di Dusun Lolo. Peristiwa itu membuat pasukan Belanda mendidih, sehingga dengan membabi buta pasukkan Belanda melakukan pembalasan, puluhan rumah rakyat, lumbung padi dan ternak menjadi korban dan dibakar habis oleh pasukan Belanda.
Kondisi yang semakin memanas membuat Depati Parbo terpaksa mengatur siasat, dan atas perintahnya para hulubalang dan pasukkan pejuang mundur ke kubu pertahanan, sementara serdadu Belanda melanjutkan perjalanan menuju arah Lempur. Di sana para pejuang dan hulubalang alam Kerinci dibawah kepemimpinan Depati Agung dengan gagah dan perkasa telah menunggu kedatangan pasukkan Belanda. Namun karena jumlah serdadu Belanda terlalu banyak, dan jika dihadapi satu lawan satu pejuang pasti akan kewalahan, maka Depati Agung memerintahkan pasukkan pejuang untuk mundur dan bertahan dalam  kubu pertahanan.
Belanda mengira pasukkan pejuang alam Kerinci takut menghadapi tentara Belanda, dan mereka tidak menemukan satu orangpun pejuang berada di dalam dusun. Setelah beberapa waktu melepas lelah, akhirnya pasukkan Belanda meninggalkan Dusun Lempur dan balik kanan menuju dusun Pulau tengah sekitar 12­15 Km dari Lempur. Di Pulau tengah keadaan masih siang, para petani dan masyarakat Pulau Tengah saat itu tengah mengerjakan lahan pertanian di sawah. Karena merasa tidak siap menghadapi Belanda yang bersenjata lengkap, warga Pulau Tengah menyelamatkan diri di balik bukit bukit menghindari pertumpahan darah dan pengorbanan yang sia sia.
Demi melihat suasana masyarakat yang kalang kabut, beberapa orang serdadu Belanda mengejek orang Pulau Tengah dengan mengatakan "Pulau Tengah istri Lolo" artinya tidak jan­ tan seperti orang Lolo. Sindiran itu sangat menyakitkan hati hulubalang hulubalang Pulau Tengah, dalam hati mereka agaknya mengatakan nanti tunggu saatnya tiba kami akan basmi serdadu Belanda.dari Pulau Tengah. Serdadu Belanda melanjutkan perjalanan ke hamparan Rawang, dan menyangka negeri sudah aman, para hulubalang tak sanggup menghadapi Belanda, padahal sesungguhnya para pejuang dipimpin Depati Parbo tengah menyusun strategi dan mengatur siasat untuk melakukan serangan selanjutnya.
Walau keadaan negeri relatif aman dan tidak ada gejolak peperangan, akan tetapi rasa sakit hati para hulubalang Pulau Tengah terhadap serdadu Belanda masih membara dan mereka menunggu saatnya untuk membuktikan keberanian mereka. Setelah menyelesaikan pekerjaan menggarap lahn lahan persawahan, para hulubalang dan para pejuang Dusun Pulau Tengah, pemangku adat, alim ulama dan masyarakat bersepakat untuk bersama sama menghancurkan Belanda yang telah menjadi musuh bersama dan harus dilenyapkan dari "ranouh alam Kincai". Pada waktu bersamaan Depati Parbo sedang bertahan di daerah ulu air Lolo dibawah gunung kunyit. Pada suatu hari Depati Parbo dengan melakukan penyamaran sebagai sosok petani turun gunung menemui para hulubalang dan pemimpin perang rakyat Pulau Tengah, Depati Parbo datang untuk memberikan petunjuk dan mengatur siasat serta memberikan dukungan moral dan semangat kepada para pejuang Pulau Tengah untuk berjuang mati matian mempertahankan negeri Pulau Tengah yang merupakan Benteng terakhir dari sejarah perjuangan rakyat alam Kerinci.
H.Ismail seorang ulama terkemuka asal dusun Koto Tuo Pulau Tengah dan dikenal sebagai Imam perang mengomandani peperangan yang disebut perang Sabilillah mempertahankan agama dan tanah air. Untuk menjaga segala kemungkinan yang bakal terjadi para pejuang membangun 5 buah benteng pertahanan masing masing:
1. Benteng pertahanan pertama berada daerah Telaga antara Pulau Tengah­Jujun, benteng Ini dibawah pimpinan Bilal Sengak dengan beberapa tokoh pejuang yang siap tempur dan Berani mati.
2. Benteng pertahanan di Koto putih dengan hulubalang hulubalang dan Pemuda pilihan dipimpin H.Sultan dan didalam Benteng ini terdapat seorang orang tua bernama H.Mat Serak
3. Benteng ketiga berada di Lubuk Pagar yang  dipimpin oleh H.Husin dibantu Mat Pekat
4. Benteng keempat merupakan Benteng pertahanan yang berada di Sungai Buai dibawah kepemimpinan Depati Gayur dan H.Syukur
5. Benteng kelima dipimpin seorang wanita bernama Fatimah Jura,Benteng ini berada dipinggir danau merupakan benteng per­ tahanan wanita..Benteng di Danau dibangun dari bambu yang telah diisi batu dan ditanam rapat disetiap muara.di Benteng ini semua wanita tanpa kecuali termasuk janda dan gadis harus bertahan di dalam benteng , kecuali kaum wanita yang memiliki anak usia balita yang diizinkan tinggal didalam dusun. 
Di Pulau Tengah dikenal banyak memilki Hulubalang hulubalang, diantara hulubalang yang pemberani terdapat nama nama seperti H.Mesir, Depati Gento Menggalo, Depati Mudo, H.Syafri. Sementara para hulubalang berlatih ilmu beladiri, sebagian diantara penduduk Dusun Baru danKotoTuo Pulau Tengah menggali Lobang sebagai tempat persembunyian dan tempat perlindungan bagi anak anak dan wanita, lobang lobang pengamanan tersebut juga dimanfaatkan untuk lumbung menyimpan  perbekalan makanan. Beberapa Benteng pertahanan ada yang terbuat dari batu yang diperkuat dengan senjata lenting yang terbuat dari bambu dan dipasang ranjau jebakkan. Negeri Pulau Tengah memang sangat strategis dan merupakan salah satu basis perjuangan gerilya para pejuang dan Hulubalang, dibelakang dusun terdapat bukit bukit yang penuh dengan hutan lebat, air sungai mengalir bening dicelah bebatuan yang licin. dan dihadapan bukit terbentang danau Kerinci. Jalan jalan di daerah benteng pertahanan saat itu sangat sulit dilewati dan disepanjang areal perbukitan dijaga ketat oleh para hulubalang dan pemuda pejuang yang tangguh.
Negeri Pulau Tengah yang terdiri dari beberapa dusun merupakan ka­ wasan paling strategis bagi para pejuang untuk melakukan   perjuangan, para serdadu Belanda dalam berbagai peristiwa peperangan sangat kewalahan dalam menghadapi para hulubalang dan pejuang, rakyat Pu­ lau Tengah baik tua muda, pria wanita yang merasa cukup umur tanpa diperintahkan terjun lansung ke medan peperangan. Hampirdisetiap jalan dan titik vital selalu dijaga oleh para hulubalang hulubalang. Medan peperangan di kawasan Pulau Tengah sangat menantang, para hulubalang dari dusun dusun lain di luar Pulau Tengah yang belum puas menghadapi serdadu Belanda di dusun mereka masing masing, dengan semangat berkobar datang ke Pulau Tengah untuk bergabung bersama para hulubalang Pulau Tengah berperang menghadapi Belanda yang merupakan musuh bersama. Pada saat itu penduduk Negeri Pulau Tengah hanya berjumlah 2.000 orang, jumlah ini semakin bertambah dengan kehadiran ratusan hulubalang yang berdatangan dari setiap penjuru dusun di alam Kerinci.
Pembangunan benteng benteng pertahanan di Pulau Tengah berlansung selama 1 Bulan, setelah merasa cukup kuat Imam perang Pulau Tengah H.Ismail mengirimkan 2 orang utusan untuk menghadap Komandan serdadu Belanda yang bermarkas di Rawang untuk menyampaikan bahwa hulubalang dan pejuang pejuang Pulau Tengah menyatakan secara terbuka siap melawan Belanda. Mendengar ucapan utusan dari Pulau Tengah, maka Overste Bense mengirim surat kepada pimpinan pejuang di Pulau Tengah yang intinya memerintahkan agar senjata segera dikumpulkan dan diserahkan kepada Belanda, kontan para pejuang dalam suratnya dengan tegas menolak untuk menyerahkan senjata kepada Belanda.
Perang Pulau Tengah  Membara
Catatan Sejarah yang ditulis dalam buku Depati Parbo Panglima Perang Kerinci (1972 : 33­ 37) tanggal 27 Mei 1903 Serdadu Belanda mulai melancarkan serangan dari tiga jurusan. Jurusan pertama bergerak dari Sandaran Agung terus ke Jujun, Pasukkan penjajah Belanda membidik sasaran ke Benteng Telaga yang dibawah pimpinan Bilal Sengak. Dari arah rawang Belanda menyerang dua benteng pertahanan yakni benteng Sungai Buai dan Lubuk Pagar masing masing dibawah pimpinan Depati Gajur dan H.Syukur dan H.Husyin bersama Mohd.Pekat. Pertempuran antara pasukan Pejuang yang melibatkan para hulubalang, alim ulama, pemuka adat, pria dan wanita dewasa berhadapan dengan pasukan Belanda di Pulau Tengah merupakan perang terbesar dan memakan waktu yang cukup lama serta menelan korban jiwa beratus ratus masyarakat tak berdosa terutama anak anak balita dan wanita lanjut usia. Catatan se­ jarah menyebutkan pertempuran di Pulau Tengah memakan waktu lebih 6 bulan, dimulai pada bulan Mei 1903 dan berakhir November 1903.
Pertempuran antara pejuang Pulau Tengah dan Serdadu Belanda pada prinsipnya terjadi setelah diawali dengan undangan untuk ber­ perang yang dlakukan oleh pihak Pejuang Pulau Tengah kepada pihak Belanda. Tokoh tokoh adat, hulubang serta masyarakat Pulau Tengah merasa sangat tersinggung atas sikap Belanda yang mengejek orang Pulau Tengah "sebagai anak Betino Lolo". Para pejuang dan masyarakat Pulau Tengah yang terdiri dari Dusun Baru, Koto Tuo dan Koto Dian sebelum mengundang Belanda berperang terlebih dahulu mengadakan rapat di Mesjid Tuo Pulau Tengah. Rapat dipimpin H.Ismail yang baru kembali dari Kedah­Malaya (sekarang dikenal sebagaiMalaysia). H.Ismail dengan orasinya yang berapi­api membakar semangat masyarakat dan Pejuang Pulau Tengah agar berjuang hingga tetes darah penghabisan demi mempertahankan agama dan Tanah Air. Orang orang Kafir dan kaum Musrik yang ingin menjajah dan merampas kedaulatan Negeri harus Ditumpas melalui Perang Sabillihhah atau "melakukan  "Jihad".
Pihak Belanda yang menerima tawaran dan undangan berperang yang ditawarkan oleh Pejuang dan Hulubalang Tengah menyambut dingin tawaran itu, namun Overste Bense justru membalas surat dari para pejuang Pulau Tengahyang intinya meminta agar para pejuang Pulau Tengah agar meletakkan senjata dan bekerja sama dengan Belanda. Akan tetapi pihak pejuang tidak menggubris surat yang disampaikan oleh Overste Bense dan H.Ismail yang saat itu memimpin para pejuang kembali membalas surat yang intinya menolak permintaan  Belanda, rakyat dan Pejuang Pulau Tengah siap mempertaruhkan jiwa dan raga demi menjaga dan melindungi negeri Pulau Tengah dan alam Kerinci.
Mendengar jawaban itu Belanda mempersiapkan tentaranya untuk bersiap menyerang Pulau Tengah. Sebuah catatan menyebutkan Pihak Belanda memberikan hadiah kepada 2 orang penduduk pribumi untuk membantu Belanda menyelidiki jalan yang baik untuk menyerang Pulau Tengah. Perjalanan dillakukan dari dua arah yakni dari arah utara melalui jalan darat melintasi kumun–Semerap langsung menuju sasaran. Dari arah timur melalui jalur sungai menggunakan perahu melintasi Danau Kerinci.
Pertempuran di Pulau tengah antara para hulubalang dan pejuang dengan pihak Belanda memiliki beberapa latar belakang yang komplit dan berbeda dengan kisah pertempuran di daerah lainnya. Peperangan yang terjadi di daerah Pulau tengah antara lain disebabkan karena para pejuang di Pulau tengah merasa terhina oleh ejekkan serdadu Belanda yang mengejek dengan kata kata "orang Pulau tengah orang penakut dan dianggap sebagai perempuan dari Lolo", ejekkan inilah yang merupakan salah satu factor pemicu utama yang mendorong para hulubalang dan masyarakat merasa tertantang dan ingin membuktikan siapa yang lebih jantan dari mereka.
Penyebab lain marahnya orang Pulau tengah karena Belanda karena telah memerangi rakyat Kerinci dan ingin menjajah bumi Alam Kerinci, banyaknya korban yang berjatuhan di medan pertempuran di sejumlah dusun dusun di Alam Kerinci, serta perbedaaan agama me­ rupakan pemicu yang ikut menyulut api peperangan di Pulau Tengah. Para hulubalang dan tokoh masyarakat Pulau tengah yang tergabung dalam kaum empat jenis yang saat itu berasal dari dusun baru, dusun koto tuo dan dusun koto Dian melakukan rapat yang dipusatkan di dalam masjid kuno pulau tengah dengan dipimpin Haji Ismail, menghasilkan 3 keputusan penting yakni :
1. Hulubalang dan pejuang serta masyarakat Pulau Tengah mengundang Belanda untuk berperang di Pulau Tengah.
2. Memerintahkan semua komponen masyarakat termasuk Ulama, Tokoh adat, Hulubalang, para pemuda, serta segenap masyarakat yang berada di Pulau Tengah untuk angkat senjata dengan terlebih dahulu melakukan persiapan untuk keperluan perang antara lain menyiapkan senjata pedang, senjata api rakitan, keris,jerat lenting, membangun Benteng pertahanan, mempersiapkan perbekalan berupa makanan dan membuat lubang lubang perlindungan bagi wanita, anak anak dan manula.
3. Seluruh masyarakat di Pulau Tengah yang meliputi masyarakat 3 Dusun beserta para Hulubalang, Tokoh adat , Ulama serta anak jantan dan anak betino mengikrarkan Sumpah sanggup berperang dengan Belanda hingga tetes darah terakhir.
Benteng Pertahanan Pejuang Pulau Tengah di Lubuk Pagar yang dipimpin Haji Husin dan Mat Pekat, Benteng yang berada di lereng bukit yang terjal ini dijadikan sebagai markas pertahanan untuk menangkis serangan musuh dari arah utara (Semerap) Benteng ini pada masa pertempuran sangat strategis dan sulit ditembus oleh pihak musuh. Dari arah Benteng Lubuk Pagar para pejuang dengan leluasa menjebak serdadu Belanda dan dengan taktik perang gerilya berhasil memukul mundur musuh. Sementara senjata "Jerat Lenting " yang terbuat dari bambu dengan cara membengkokkan ujungnya sampai ke tanah dan diberi tali, namun ketika musuh mendekat, maka talinya dilepaskan dan ujung bambu yang diberi senjata akan melenting dan mengenai musuh.
Senjata lentingan ini menurut tokoh masyarakat setempat mampu menewaskan puluhan serdadu Belanda. Pihak pejuang dan hulubalang juga melakukan pembangunan benteng pertahanan dari bambu yang disusun batu dan tanah yang diberi lubang tempat mengintai musuh,di sepanjang Sungai Buai dan dipinggiran danau Kerinci dipasang ranjau dari bambu runcing, dan ternyata pertahanan ini tidak dapat diterobos oleh serdadu Belanda, puluhan serdadu serdadu Belanda tewas dengan mayat bergelimpangan di sepanjang Sungai Buai yang muaranya berada di pinggiran Danau di kawasan dusun baru.
Dalam sejarah perjuangan dan pertempuran yang terjadi di basis­basis perjuangan di nusantara, hanya basis perjuangan di Pulau Tengah Alam Kerinci yang agak "uniek". Pertempuran yang terjadi di daerah ini diawali oleh "Undangan Perang" yang disampaikan tokoh pejuang Hulubalang dan disampaikan secara khusus oleh utusan khusus Panglima Perang Pulau Tengah H.Ismail yaitu Ali Akbar Gelar Rio Indah dan Haji Iskak, berisikan "Rakyat Pulau Tengah tidak mau tunduk " kepada Pemerintahan Belanda, dan siap untuk melakukan perang di Pulau Tengah.
Surat yang dibawa utusan khusus (Kurir) dibawa ke Rawang dengan maksud diberikan kepada Tuanku Regen yang oleh pejuang dianggap telah berkhianat terhadap perjanjian Sitinjau Laut, namun pada saat surat akan diserahkan di Rawang, ternyata Tuanku Regen sedang berada di Daerah Semurup untuk mengatur siasat memadamkan api perlawanan rakyat di Siulak.Di semurup surat undangan Perang disampaikan langsung kepada Tuanku Regen, oleh Tuangku Regen surat tersebut selanjutnya diserahkan kepada pihak penguasa Belanda, dan pihak Belanda yang menerima surat undangan Perang merasa heran, sebab selama ini jika Belanda ingin menduduki suatu daerah pihak Belanda langsung melakukan penyerangan, tapi kali ini justru mereka yang diundang untuk melakukan  pertempuran.
Menanggapi surat Undangan perang yang disampaikan Panglima Perang Pulau Tengah, awalnya " Overste Bengse" menanggapi secara dingin, bahkan pihak Belanda justru membalas surat yang intinya"agar masyarakat Pulau Tengah untuk tunduk kepada Belanda dan segera menyerahkan semua persenjataan kepada pihak Belanda. Namun setelah surat balasan dari Belanda diterima oleh Haji Ismail, kembali H.Ismail menyurati Belanda yang intinya "Pulau Tengah tidak akan meletakkan senjata, Pulau Tengah tidak akan menyerah kepada Belanda, Rakyat Pulau Tengah siap berperang demi mempertahankan tanah air.
Mendapat jawaban dari H.Ismail, maka pihak Belanda mengirimkan pasukan dan perlengkapan perang untuk menyerang Pulau Tengah, Belanda memperalat dua orang penduduk pribumi untuk menjadi penunjuk jalan untuk melakukan penyerangan ke Pulau Tengah, kedua penduduk pribumi itu diperalat dengan di iming imingi akan diberi hadiah oleh Belanda.
Pada tanggal 27 Mei 1903, Belanda mulai melancarkan serangan dari dua arah dan jurusan secara serentak. Peperangan di kawasan ini berlangsung seru, sangat sulit bagi Belanda untuk menembus benteng pertahanan rakyat dan pejuang Kerinci, dengan kekuatan maksimal Belanda terus menggempur pertahanan para pejuang namun dapat dipatahkan. Puluhan bala tentara Belanda tewas akibat jerat Lentingan yang dipasang pejuang dan rakyat dibelakang lawang (pintu masuk) saat memasuki lawang yang terbuka sedikit dan Belanda berkumpul di daerah itu, dan tanpa mereka duga, para pejuang yang terdiri dari hulubalang, alim ulama dan rakyat memutuskan tali penahan lentingan, akibatnya pasukan penjajah Belanda tewas terhempas oleh lentingan bambu. Karena merasa kewalahan pasukkan Belanda yang bersenjata lengkap pontang panting mundur menyelamatkan diri masing masing menuju titik aman.
Meski telah jatuh banyak korban namun pihak Belanda tetap keras kepala dan berusaha untuk menaklukkan Pulau Tengah, Belanda kembali mendatangkan bala bantuan dan per­ senjataan modern terdiri dari meriam, bayonet dan senjata senapang laras panjang, bersama bala bantuan yang didatangkan dari Padang, Belanda untuk kedua kalinya kembali melancarkan serangan dengan sasaran Lubuk Pagar menuju Dusun Baru dan kearah Benteng Telaga. Pada jam 6.30 pagi Belanda melakukan penyerangan ke Benteng Telaga, kali ini serangan Belanda dapat dilumpuhkan oleh para hulubalang dan para pejuang, dan menimbulkan banyak korban jiwa dari pihak rakyat dan pejuang telah gugur 3 orang. Keesekoan harinya untuk membalas kekalahan kedua, Serdadu Belanda kembali menggempur markas benteng pertahanan pejuang. saat pagi pagi buta sekitar jam04.00­06.30. Belanda melakukan serangan fajar dan menimbulkan korban yang sangat besar dari pihak Belanda, lebih 300 orang serdadu Belanda tewas bergelimpangan, sementara dari pihak pejuang dan rakyat tercatat 31 orang yang gugur.
Belanda dengan keserakahan dan akal liciknya baru berhasil merampas dan menduduki benteng Telaga setelah Belanda berhasil menewaskan pimpinan perang "Bilal Sengak" beserta 2 orang Hulubalang yakni H.Abdul Kasim dan H.Bilal Pakih, ketiga orang tokoh pejuang ini gugur akibat terkena peluru yang ditembakan musuh. Pasukan Belanda kembali melakukan serangan di Kota putih yang merupakan pintu gerbang masuk ke Pulau Tengah, para pejuang dengan gigih sampai tetes darah terakhir dengan kekuatan yang ada berusaha mempertahankan Kota Putih, dan dalam pertempuran selama satu hari jatuh 2 orang korban yakni hulubalang "Malin Malelo dan H.Yakin", Pasukkan Belanda setelah mampu menewaskan kedua orang hulubalang melanjutkan perjalan ke gunung raya, mereka melewati dusun Benik  dusun Jujun dengan maksud menggempur markas pertahanan rakyat di sebelah utara.
Di pihak lain pasukan Belanda yang datang dari jurusan Lempur, dan Semurup naik ke Bukit Betung dan sebagian dari pasukan Belanda melanjutkan perjalanan ke Gunung Raya dan bergabung dengan pasu­ kan yang dating dari Jujun, beberapa diantaranya menuju sungai Buai, dan di daerah ini terjadi pertempuran, pada pertempuran ini seorang pemuda Mat Saleh dan H.Husin dengan pedang terhunus melakukan penyerangan terhadap pasukan Belanda secara membabi buta. Peperangan di Sungai Buai berlangsung selama 3 jam, pada per­ tempuran ini puluhan serdadu Belanda tewas ditangan para hulubalang dan pejuang, meskipun pada pertempuran itu Mat Saleh gugur sebagai syuhada bangsa. Di daerah Pulau Tengah pertempuran berlangsung selama 3 bulan, pihak serdadu Belanda merasa kewalahan menghadapi para pejuang asal Pulau Tengah Kerinci, pada pertempuran ini ratusan serdadu Belanda dan 4 orang Opsir Belanda Tewas, pada masa pertempuran antara Belanda dan pejuang Pulau Tengah tercatat nama seorang Hulubalang bernama "Rio Indah" yang bertugas sebagai kurir besar keluar dusun.
Melihat Kezaliman dan kebiadaban yang dilakukan oleh serdadu Belanda, para alim ulama, tokoh tokoh adat menunjukkan sikap per­ lawanan, mereka dengan semangat jihad Fisabilillah menghadapi Be­ landa, pertempuran sempat terhenti karena pihak Belanda menunggu kedatangan bala bantuan dari Padang, sementara hulubalang, rakyat termasuk warga/tokoh dari Siulak (Depati Intan), Rawang dan Kerinci bahagian Hulu dengan siap siaga dan persenjataan pedang dan senjata sederhana mengintai kedatangan pasukan Belanda di puncak "Bukit Gedang". Pada saat yang sama, di "Bukit Sitinjau Laut dan Ranah Manjuto terjadi pertempuran antara Belanda dan pasukan yang dipimpin Depati Parbo dan Depati Agung,dengan taktik Perang Gerilya.
Belanda mengirimkan sekitar 1000 orang pasukan dari padang, akan tetapi pasukan ini tak pernah sampai di Kerinci karena berhasil dipukul miundur para pejuang. Namun Belanda tidak pernah berputus asa, karena pada tahap berikutnya Belanda meminta bantuan ke da­ erah Jambi, dan karena pertahanan pejuang di Temiai tidak terlalu kuat dan tidak terjaga rapi, maka dengan leluasa sekitar1500 orang serdadu Belanda memasuki zona pertempuran di Alam Kerinci yang dipusatkan di Pulau Tengah.
Fatimah Jura Pejuang Wanita Pemberani Dari Pulau Tengah
Jika di Lolo wilayah Gunung Raya kita mengenal Srikandi Hajjah Fatimah yang berani mati dalam perjuangan di wilayah Dusun Lolo Gunung Raya, Kerinci juga memiliki seorang sosok wanita pemberani. Catatan dan keterangan yang penulis himpun mengungkap­ kan pada peristiwa pertempuran yang terjadi di Pulau Tengah, seorang wanita pemberani dari Pulau Tengah bernama "Fatimah Jura" dengan sekuat tenaga dan semangat yang menyala ia mempertahankan negerinya, sebagai "Panglima Perang" wanita Fatimah Jura tanpa mengenal rasa takut dan dengan taktik strategi yang sempurna ia menyerang pasukan serdadu Belanda.
Beberapa serdadu belanda termasuk seorang Letnan Belanda berhasil dibunuh dengan sebilah keris di tangannya. Akibatnya bisa diduga, para serdadu Belanda meningkatkan serangannya secara membabi buta, tanpa rasa perikemanusiaan membakar Dusun Baru Pulau Tengah. Dalam kondisi dusun terbakar, pertempuran di Dusun Koto Tuo Pulau Tengah berlangsung hebat, Srikandi Fatimah Jura pun mengamuk dan tanpa ampun menyerang musuh. Fatimah Jura dengan sengit memimpin para wanita pejuang lainnya, ditengah tengah kobaran. api dan asap hitam yang mengepul membubung ke angkasa dari rumah ke rumah. Fatimah Jura memerintahkan kepada laskar pejuang untuk tidak menyerah, karena bagi Fatimah Jura dalam peperangan hanya ada satu kata "mati sebagai syuhada", kemarahan Fatimah Jura semakin memuncak saat ratusan wanita, anak anak dan orang tua tua yang berlindung di lobang perlindungan hangus terbakar oleh api yang membara, pekikan dan tangisan yang sangat memilukan membuat hati Fatimah Jura semakin mendididh, pada saat kebakaran para korban tak dapat diselematkan, karena pada saat yang bersamaan juga terjadi pertempuran sengit antara pejuang dengan serdadu Belanda.
Meski pertempuran seru yang menelan korban jiwa ratusan orang dari pihak pejuang dan masyarakat Pulau Tengah dan Fatimah Jura pun telah gugur ditembak peluru Belanda, namun pejuang dan Panglma Perang Haji Ismail tetap tidak mau menyerah termasuk beberapa orang hulubalang lainnya, para pejuang itu termasuk H.Ismail bersembunyi dari satu rumah ke rumah penduduk lainnya di Dusun Koto Dian, beberapa puluh orang rakyat Pulau Tengah ditangkap dan disiksa Belanda karena mereka tidak bersedia menunjukkan tempat persembunyian para pejuang termasuk H.Ismail. Seorang pejuang lainnya H.Sultan dapat diketahui oleh Belanda, dan saat dikepung oleh serdadu Belanda pada salah satu rumah persembunyiannya, dengan keris di tangan, H.Sultan melompat ke luar rumah dengan keris terhunus dan "berselempang semangat", menyerang serdadu serdadu Belanda, berhasil membunuh para beberapa orang serdadu Belanda, meski akhirnya iapun ikut gugur ditembak serdadu Belanda.
Pencarian H.Ismail terus berlanjut, dan pihak Belanda secara fisik tidak mengenal wajah H.Ismail. Rakyat dengan segala resiko yang akan terjadi tetap bertekad untuk melindungi H.Ismail dan tidak akan pernah menunjukkan tempat persembunyian H.Ismail, bahkan beberapa orang hulubalang dengan tegas mengabarkan bahwa H.Ismail telah tewas pada saat Dusun Baru menjadi lautan api. Mendengar kabar H.Ismail telah tewas barulah Belanda mengurangi aksi sapu bersih dan mengurang serangan terhadap pejuang, beberapa masyarakat yang mengetahui H.Ismail masih hidup meminta agar H.Ismail turun gunung tidak bergerilya. Di dusun H.Ismail berubah nama menjadi Haji.Abdul Samad, dan sampai beliau wafat pada tahun 1925 pihak Belanda tidak pernah tahu bahwa H.Abdul Samad, sebenarnya adalah H.Ismail yang mereka cari selama ini.
Pada saat pertempuran banyak korban jatuh, akan tetapi rakyat dan pejuang Pulau Tengah tetap merasa bangga dan puas, karena para pejuang dan rakyat telah membuktikan kepada Belanda bahwa rakyat Pulau Tengah bukanlah manusia pengecut, rakyat Pulau Tengah bu­ kanlah "anak betino orang lolo". Jiwa kesatria hulubalang hulubalang diPulau Tengah sangat teruji, mereka dengan gagah berani dan siap mati bertempur tanpa kenal lelah dan menyerah menghadapi serangan musuh, masyarakat tanpa terkecuali bergotong royong mempersiapkan makanan untuk masa setahun pertempuran, kondisi asupan makanan yang cukup membuat para pejuang tak pernah melangkah surut, bagi mereka sekali berarti sudah itu mati untuk membela ibu pertiwi.
Saat masyarakat mempersiapkan kebutuhan untuk perang, pihak Belanda tidak mengetahui, karena pada saat itu Belanda sedang menghadapi pertempuran dengan pejuang di dusun dusun lain di luar Pulau Tengah. Rakyat Pulau Tengah bersatu padu bergotong royong dan bekerja secara diam diam membangun benteng pertahanan dan menggali lubang lubang perlindungan di bawah tanah, pekerjaan ini dilakukan secara ekstra hati hati dan tak satupun warga di luar Pulau Tengah yang mengetahui pekerjaan yang dilakukan oleh masyarakat Pulau Tengah.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa pada pertempuran itu lebih 300 orang serdadu Belanda tewas, sedangkan dari pihak pasukkan Pulau Tengah terdapat 31 orang pejuang gugur dimedan juang, diantara yang gugur tersebut termasuk Panglima Perangya H.Saleh. Informasi yang diperoleh, sebelum terjun ke medan peperangan H.Saleh terlebih dahulu melakukan shalat dan setelah shalat sunat H.Saleh dengan pekikkan "Allahhu Akbar" dan semangat heroik ia melakukan penyerangan terhadap serdadu Belanda, hanya dengan sebilah keris di tangan kanan ia mengamuk ditengah tengah serdadu Belanda, beberapa orang sedadu Belanda tewas bermandikan darah akibat tikaman keris H.Saleh, meski kemudian iapun gugur di tembak Serdadu Belanda yang bersenjatakan lengkap. Hingga saat ini ia dikenng sebagai Panglima Perang yang gugur sebagai syuhada bangsa.
Perlawanan yang dilakukan oleh srikandi Fatimah Jura dalam catatan resmi sejarah perjuangan Alam Kerinci, bahwa ia adalah sosok panglima p erang wanita yang paling ditakuti oleh pihak Belanda, yang dengan bersenjatakan sebilah Keris Fatimah Jura berhasil menewaskan puluhan serdadu dan seorang perwira Belanda ditangannya. Hal ini membuat pihak Belanda menjadi "Kalap" dan mengamuk diluar batas perikema­ nusiaan, serdadu Belanda membakar Dusun Baru. Di antara kobaran api, Fatimah Jura meneriakkan semangat memimpin pasukannya untuk bertempur dan melibaskan senjatanya kepada setiap serdadu Belanda yang ditemuinya.
Kobaran api yang menyala nyala dan asap tebal yang menyelimuti langit Pulau Tengah, menimbulkan kepanikkan tersendiri dikalangan wanita, anak anak dan orang­orang tua yang berlindung di dalam lubang­lubang perlindungan yang dibangun dibawah rumah­ rumah penduduk. Kobaran api tersebut menyulitkan wanita dan anak­ anak yang berlindung di dalam lubang untuk keluar, dan akhirnya ratusan orang (lebih 300 orang) terutama wanita, anak anak dan orang tua tewas hangus terpanggang dibawah reruntuhan lubang lubang perlindungan.
Peristiwa Pulau Tengah menjadi Lautan Api dan semangat heroik para pejuang hampir memiliki kesamaan dengan Peristiwa Bandung Lautan Api di kota Bandung dan Peristiwa Perlawanan rakyat tanggal 10 Novem­ ber di Surabaya. Untuk di kawasan Sumatera, tampaknya perjuangan yang menewaskan ratusan rakyat dalam masa satu kali pertempuran hanya terjadi di Pulau Tengah­Kerinci­Propinsi Jambi, karena saat itu di pihak Belanda korban tewas mencapai lebih dari 300 serdadu tewas dalam waktu 6 bulan pertempuran di lokasi tersebut. Kisah pertempuran rakyat Pulau Tengah dan jumlah Korban yang tewas dari kedua belah pihak tercatat sebagai pertempuran paling ban­ yak menimbulkan korban dan berlangsung paling lama sepanjang sejarah perjuangan di alam Kerinci. Pertempuran berlangsung selama 6 bulan, pihak Belanda telah mengerahkan lebih dari separuh kekuatannya yang ada di alam Kerinci, pihak Belanda juga mengirimkan bantuan serdadu dan peralatan perang dari Padan, bahkan seluruh kekuatan di markas Rawang dikirim ke medan pertempuran Pulau Tengah.
Seperti juga kisah heroik pertempuran di tempat lain, maka per­ juanan rakyat alam Kerinci pun diwarnai peristiwa pengkhianatan yang dilakukan oknum penduduk pribumi yang terhasut dan tergiur oleh janji janji manis pihak Belanda. Adapun penghianatan yang tercatat dalam se­ jarah perjuangan di Alam Kerinci dilakukan oleh Tuanku Regen Indrapura dan beberapa orang oknum penduduk alam Kerinci sendiri. Tembusnya Benteng Batang Sangkir di Hiang, runtuhnya benteng benteng di Pulau Tengah antara lain disebabkan oleh pengkhianatan orang dalam sendiri yang direkrut Belanda untuk jadi mata­mata.
Dalam catatan sejarah (Tambo Alam Kerinci 3. Halaman 113­114), adanya pengkhianat tersebut tampak dalam penyerangan Ki Marakabeh di Markas Rawang. Dalam tambo disebutkan ketika Belanda melakukan pertempuran di Pulau Tengah, markas serdadu Belanda di Rawang kurang dijaga oleh serdadu Belanda, karena ratusan serdadu Belanda dikirim ke Pulau Tengah. Kondisi ini dimanfaatkan oleh Ki Marakabeh dari Semurup yang mengajak beberapa puluh orang pemuda dusunnya untuk menyerang markas Belanda di Rawang. Namun rencana ini tercium oleh Belanda karena adanya bocoran dari penghianat yang ada di kalangan penduduk Semurup sendiri, sehingga pihak Belanda bisa menangkis serangan tersebut. Saat itu Belanda menyiapkan diri dengan taktik berlindung dan bersembunyi diatas loteng loteng rumah penduduk di dusun Koto Lanang.
Saat rombongan Ki Marakabeh memasuki dusun Koto Lanang dalam perjalanannya menuju markas Belanda di Rawang, diluar Perkiraan pihak Ki Marakabeh tiba tiba serdadu Belanda yang telah siap siaga melespaskan tembakan gencar dari loteng rumah ke arah rombongan pejuang. Saat mendapat serangan mendadak yang tidak di duga­duga itu pasukkan Ki Marakabeh berlindung dan berlari berpencar, beberapa diantaranya gugur di terjang peluru Belanda.
Panglima Perang Depati Parbo Ditangkap Belanda
Kisah perjuangan Depati Parbo yang Heroik membuat gusar para pejabat pemerintah Belanda, berbagai cara dan upaya terus dilakukan untuk menangkap Depati Parbo hidup atau mat., pengejaran terhadap tokoh pejuang yang sangat ditakuti Belanda dan disayangi oleh hulubalang dan rakyatnya terus dilakukan, namun dengan cara tipu muslihat akhirnya Belanda berhasil menangkap sosok pejuang panglima perang alam Kerinci tersebut.
 Pada hari Jum'at saat masyarakat sedang melakukan shalat Jumat, (versi lain menyebutkan pada malam hari saat warga melakukan shalat Nisfu Sya'ban) beberapa serdadu Belanda melakukan pengepungan dan penyanderaan terhadap masyarakat di dalam rumah ibadah Masjid Lolo. Saat itu pihak Belanda mengancam  akan membunuh rakyat/penduduk desa Lolo yang mendukung perjuangan Depati Parbo dan keluarga Depati Parbo yang sedang berada di rumah, apabila Depati Parbo tidak mau menyerah kepada pasukkan Belanda.
Pihak Belanda yang terkenal dengan tipu muslihatnya dan arogan, memerintahkan kepada para Depati untuk mencari dan menghubungi Depati Parbo agar mau diajak berunding. Ancaman dan intimidasi yang dilakukan Belanda membuat penduduk terutama kaum wanita dan usia lanjut serta anak anak menjadi gelisah dan ketakutan. Melalui perundingan yang sangat menegangkan dan demi menyelamatkan nyawa puluhan rakyat yang disandera, akhirnya dengan sangat berat hati beberapa depati dan tokoh masyarakat melakukan pencaharian terhadap Depati Parbo yang melakukan taktik perang gerilya di dalam hutan belantara di daerah Lempur Lolo hingga ke Renah Menjuto.
Setelah berhasil menemui Depati Parbo, maka utusan menyampaikan agar Depati Parbo menyerah kepada Belanda, karena jika Depati Parbo tidak menyerah maka rakyat dan keluarga yang tidak berdosa dan disandera Belanda di dalam Mesjid termasuk istri Depati Parbo akan dibunuh oleh serdadu Belanda. Dibawah tekanan mental serta dalih diajak untuk berunding serta untuk menghindari pertumpahan darah dikalangan rakyat tidak berdosa, akhirnya Depati Parbo bersedia turun gunung keluar hutan dan menerima tawaran Belanda untuk diajak berunding. Namun ternyata pihak Belanda dengan liciknya memanfaatkan kondisi ini untuk menangkap Panglima Perang Depati Parbo.
Sebenarnya Depati Parbo bersedia menemui Belanda bukan untuk menyerah, akan tetapi diajak berunding. Dan ia bersedia diajak berunding semata mata karena untuk menyelamatkan nyawa rakyat yang tidak berdosa yang disandera dan diancam dengan ancaman senjata api serdadu Belanda. Sebelumnya, beberapa kali Depati Parbo berhadapan dengan serdadu Belanda, akan tetapi selalu lolos dari upaya penangkapan, karena ket­ rampilan tinggi ilmu bela dirinya merupakan perisai yang menyelamatkan Depati Parbo dari serangan dan upaya penangkapan. Pada dasarnya dalam semangat dan perjuangan yang dilakukannya, semata mata karena panggilan jihad fisabilillah, perjuangan untuk membebaskan negeri dari cengkaraman penjajah, dan bukan kehormatan diri.
Depati Parbo Diasingkan Ke Ternate
Berbagai siksaan dan tekanan telah diderita Depati Parbo sejak ditangkap Belanda. Namun kekuatan fisik dan spiritual Depati Parbo yang tangguh akhirnya menimbulkan rasa kagum bagi serdadu dan pe­ jabat Belanda. Depati Parbo menjalani masa pembuangan/pengasingan dan hukuman seumur hidup di Ternate sejak ditangkap tahun 1903, hingga kembali dibebaskan oleh persetujuan Ratu Belanda, Wilhelmina tahun 1926. Sejak ditangkap hingga kembali ke tanah kelahirannya Depati Parbo praktis telah menjalani masa hukuman buangan selama 25 tahun.
Panglima Perang Depati Parbo ketika ditangkap Belanda pada tahun 1903, tetap tidak mau menyerah kalah, sebagai Patriot sejati tidak mau menundukkan kepala tanda menyerah, dan dengan gagah Depati Parbo berjalan ditengah bayonet dan senapan yang siap memuntahkan peluru,. Depati Parbo sadar bahwa resiko seorang pejuang hanya ada dua yakni gugur bersimbah darah atau hidup dipenjarara dan diasingkan dari sanak keluarga. Sosok Depati Parbo tidak pernah mengenal kata menyerah, bagi Depati Parbo lebih baik mati berkalang tanah dari pada hidup berputih mata dan dijajah oleh bangsa asing. Di zamannya, bagi tokoh sekelas Depati Parbo mati syahid lebih mulia dari pada hidup di bawah tekanan kaum penjajah. Depati Parbo pada saat melakukan perlawanan dan berperang tidak pernah bermimpi untuk dijadikan Pahlawan.
Pemerintah Belanda sangat khawatir dengan sepak terjang dan kegigihan Depati Parbo dalam berjuang. Maka agar Depati Parbo tidak mudah lolos dari wilayah tempat ia diasingkan, Pemerintah Belanda mengasingkannya ke Ternate, sebuah wilayah yang sangat sulit dijang­ kau dari pulau Sumatera saat itu. Dalam pikiran Depati Parbo saat itu, walaupun dihukum dan dibuang seumur hidup namun tetap kukuh pada pendiriannya, yakin bahwa kehidupan itu sudah ada yang mengatur, Allah tidak pernah tidur dan pasti akan memberikan jalan terbaik bagi hambaNya yang beriman.
Setelah melewati perjalanan panjang dan melelahkan menyeberangi laut luas dengan gelombang besar akhirnya Depati Parbo sampai di Ternate, selama 25 tahun Depati Parbo hidup diasingkan, jauh dari kampung halaman dan sanak saudara serta teman sepejuangan di alam Kerinci. Selama dalam masa pembuangan, Depati Parbo melewati hari­hari sepinya dengan menekuni pengetahuan dan pemahaman terhadap ajaran agama Islam yang telah ia yakini kebenarannya.. Dan karena wataknya yang suka menolong orang serta ilmu kebatinan yang ia miliki, membuat Depati Parbo disegani oleh sesama orang buangan maupun oleh serdadu dan pemerintah Belanda yang ada di Ternate. Selama berada di pengasingan ia berusaha menjadi pedagang keci­kecilan, dan hasilnya selain untuk hidup sebagian disisihkan ssbagai tabungan yang belakangan ternyata jumlah tabungannya itu bisa digunakan sebagai tambahan biaya untuk menunaikan ibadah haji tahun 1927 bersama keluarganya.
Di pengasingan, Panglima Perang Depati Parbo yang berisi ilmu, dikenal sebagai orang sebagai "Tabib" (orang Kerinci menyebut istilah Dukun). Pada suatu hari salah seorang anak dari Asisten Residen Belanda di Ternate menderita Sakit. Sebagai pejabat tinggi pemerintah Belanda, Asisten Residen telah berupaya mencari obat untuk anaknya itu, disamp­ ing upaya yang telah dilakukan beberapa orang Dokter, namun penyakit sang anak tak kunjung sembuh. Akhirnya Asisten Residen memohon bantuan Depati Parbo untuk mencari jalan kesembuhan bagi anaknya. Dengan kehendak dan kuasa Allah, lewat tangan Depati Parbo beberapa waktu kemudian setelah mendapat perawatan dan pengobatan secara spiritual, akhirnya anak Asisten Residen secara perlahan pulih dan sembuh dari penyakit yang dideritanya.
Asisten Residen merasa sangat berterima kasih dan berhutang budi terhadap jasa baik dan bantuan pengobatan yang diberikan Depati Parbo. Sebagai ungkapan rasa terima kasih atas pertolongan yang telah diberikan Depati Parbo kepada anaknya, Asisten Residen menawarkan dua macam hadiah yang harus dipilih salah satu oleh Depati Parbo. Tawaran hadiah itu adalah Depati Parbo ditawarkan keliling dunia atau kembali ke kampung halamannya di alam Kerinci dengan biaya dari Asisten Residen. Karena rindunya terhadap tanah kelahirannya, maka Depati Parbo menjatuhkan pilihan untuk pulang kembali ke negeri tercinta untuk hidup bersama di tengah­tengah sanak saudara dan rakyat alam Kerinci yang ia cintai dan telah lama ditinggalkannya.
Asisten Residen menyetujui pilihan Depati Parbo, dan selanjutnya Asisten Residen menulis surat permohonan kepada Ratu Belanda agar membebaskan Depati Parbo. Surat itu ditanda tangani oleh Depati Parbo, alamat sampul dan tujuan surat pada sampul ditulis tangan oleh Asisten Residen. Inti surat tersebut adalah memohon agar Depati Parbo dibebaskan dari hukuman, atas jaminan dari para Depati Depati se Alam Kerinci, namun sebelum balasan dan keputusan dari Ratu Be­ landa diterima, ternyata dalam waktu yang hampir bersamaan Asisten Residen dimutasikan dari Ternate, dan ia meminta Depati Parbo untuk bersabar, bahkan berjanji tetap akan mencari jalan serta berusaha untuk membebaskan Depati Parbo dan memulangkan Depati Parbo ke negeri leluhurnya di alam Kerinci.
Seminggu setelah Asisten Residen berangkat dari Ternate, Depati Parbo menerima sepucuk surat dari negeri Belanda yang intinya menyatakan bahwa Depati Parbo dibebaskan dari tahanan seumur hidup dan boleh pulang ke Kerinci. Tidak terlalu lama menunggu akhirnya dengan diantar oleh Kapal Perang Belanda, Depati Parbo menyeberangi lautan luas hingga ke Aceh, dan melalui jalan darat Depati Parbo melan­ jutkan perjalanan ke Padang (Sumatera Barat) dan akhirnya sampailah di kampung halaman. Berakhir sudah pembuangan dan hukuman seumur hidup yang telah beliau jalani selama 25 tahun.
Depati  Parbo  menghabiskan  masa  Tua  di tanah  Kelahiran (1926- 1929 )
Usia yang mulai memasuki usia senja membawa perubahan yang cukup besar atas diri sang Panglima. Namun meski usia beliau sudah tua, akan tetapi fisik Depati Parbo masih kokoh dan sehat, kharisma beliau masih memancar dari wajahnya yang mulai memasuki usia manula. Saat beliau sampai di Padang dari Aceh, disambut dengan suka cita oleh anak beliau, Haji Thaher, dan beberapa sanak famili. Setelah istirahat sejenak akkhirnya beliau melanjutkan perjalan menuju bumi alam Kerinci, meski tak terlihat upacara penyambutan namun dari sorot dan pancaran mata rakyat yang menyaksikan kepulangan Depati Parbo ada tergambar rasa haru dan suka cita, meskipun wajah­wajah tersebut diselimuti awan mendung karena masih khawatir dan takut dengan ancaman Belanda yang semakin bercokol di alam Kerinci.
Pahlawan Legendaris Depati parbo yang tekah lanjut usia hidup menetap di kampung halamannya di dusun Lolo Kecil. Meski Depati Parbo telah bebas dari hukuman, namun  gerak geriknya masih tetap diawasi dan dicurigai oleh pemerintah kolonial, pernah selama 3 bulan Depati Parbo kembali ditanngkap dan ditahan oleh Belanda di Sungai Penuh. Penahanan ini dilakukan karena beliau melarang pemerintah kolonial Belanda membuat jalan pada sawahnya yang menghubungkan dusun Lolo Kecil dengan Talang Kemuning. Namun dakwaan yang diajukan adalah karena beliau telah melakukan Pembunuhan, yang ternyata setelah diselidiki tuduhan itu fitnah belaka.
Dimasa kecil Depati Parbo telah dikenal sebagai anak muda yang santun dan taat beribadah serta mendapat anugerah Allah dengan mendapat tambahan tenaga supranatural dan kebal terhadap senjata tajam. Beliau sangat disegani kawan dan ditakuti lawan, pemahaman ilmu tentang agama islam tertanam kuat hingga jelang masa hayatnya. Itu sebabnya meski dalam usia tua, Depati Parbo bertekad untuk menunaikan rukun islam ibadah haji ke tanah suci Mekah Al Mukarammah. bersama keluarganya. Beliau berangkat bersama rombongan (sekarang dapat dipersamakan dengan kloter) calon jemaah haji.
Rombomgan calon jemaah haji  tersebut adalah Abdul Kadir dari Dusun Baru Sungai Penuh. Said dari Lolo Kecil, Yatim dari Lempur, Zainudin,Ilyas,Rauf dari Pulau Sangkar, Majid dan Abdul Rah­ man dari Koto Iman, Abdul Aziz dan Ismail dari Tanjung Tanah, Zakaria dari Kumun, Ismail,M. Thaib,Hhudri,Ishak dari Sungai Penuh dan Bakri dari Semurup. Kembali dari menunaikan ibadah haji, Depati Parbo mendapat nama 'Haji Kasian". Saat menunaikan ibadah Haji beliau telah memasuki usia renta (Manula) dan karena sudah tua aktifitas beliau hanya melaksanakan ibadah, dan pada tahun 1929 Panglima Perang Kerinci" Depati Parbo " menghembuskan nafas terakhir menghadap Illahi dengan tenang, jena­ zah beliau dimakamkan di pemakaman keluarga dusun Lolo Kecamatan Gunung Raya , almarhum dimakamkan bersama sama dengan jenazah Istri, putra putri dan sanak keluarganya. Kepergian Sang Pejuang ditangisi oleh sebagian besar rakyat alam Kerinci yang mendengar berita kematian beliau.
Depati Parbo boleh meninggalkan dunia, namun semangat dan jiwa patriotiknya tetap akan dikenang sepanjang masa. Mungkin inilah jalan pikiran umumnya warga alam Kerinci terhadap Depati Parbo: "Selamat jalan pahlawan ku, pergilah engkau menghadap Tuhan dengan ridho dan diridhoiNya. Dan dimasa Pembangunan ini namamu pasti akan hidup lagi, ibarat kata Pujangga bara dan kagum menjadi api, dan selamanya perjuangan dan pengabdianmu akan dikenang oleh anak anak negeri.Tidurlah wahai pahlawan bangsaku, pahlawan negeriku. Doa senantiasa kami mohonkan kepada Tuhanku agar engkau damai dan abadi dalam pangkuan Nya".
DAFTAR PUSTAKA
1.      Djakfar Indra. 2001. "Menguak Tabir Sejarah di Alam Kerinci". Kanisius
2.      Disparbud, 2004. Sejarah Perjuangan Rakyat Kerinci Melawan Belanda. Pemerintahan Kabupaten Kerinci
3.      http://www.academia.edu/6568244/48_Perjuangan_Rakyat_Alam_Kerinci_dipimpin_Depati_Parbo.html
4.      http://kerinciinspirasi.logspot.co.id/2015/05/sejarah-perjuangan-rakyat-kerinci.html
5.      https://djangki.wordpress.com/2013/02/23/menelusuri-jejak-pahlawan-depati-parbo.html

1 komentar:

  1. KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.

    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.


    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.

    BalasHapus