Selasa, 17 Mei 2016

PENDIDIKAN BENUA EROPA SELATAN TERKHUSUSNYA DI KOTA ROMA

WILDA/SP/B

Kurang lebih abad kee-4 SM masyarakat agraris. Orang-orang memelihara tanahnya sendiri dan tersapat ekonomi rumah tangga. Pada zaman kaisar banyak orang yang memiliki tanah-tanah yang luas dan besar. Disamping itu ada ahli-ahli industri dan perdaganggannya. Kekayaan Roma makin bertambah. Perdagangan mulai meluas sampai Mediterania, memberi akibat percampuran pemikiran Barat dan Timur. Dan makin menyebarnya kebudayaan Yunani Roma.
            Mulai abad ke-3 aktivitas perdagangan makin lama makin menurun. Di dalam waktu ini terdapat golongan bangsawan yang memiliki tanah yang bukan main besarnya. Akibat suksesnya di dalam lapangan ekonomi ndan politik timbullah golongan bangsawan baru yaitu kaum optimaat.di samping itu terdapat golongan Proletar yang hidup di dalam kemiskinan dan bergantung kepada golongan atasan. Di antaranya terdapatlah kaum borjuis (golongan pertengahan). Golongan ini mempunyai peranan penting di dalam berbagai pekerjaan (militer, administrasi, perdagangan dan menjadi kelas kapitalis).

            Pada abad ke-3 SM di Roma terdapat golongan budak yang besar sekali sehingga boleh dikatakan penjualan budak bukan suatu hal yang aneh di sana. Dengan turunnya kekuasaan kaisar maka berkuasa sehingga perbudakan semakin besar.
1.      Status kaum wanita
Apabila dibandingkan dengan Athena lebih memiliki kemerdekaan di dalam lapangan ekonomi, kepribadian, dan sosial. Tetapi meskipun  demikian di dalam keadaan sehari-hari masih pula memiliki sifat inferior terhadap kaum laki-laki.
Pada 195 SM boleh dikatakan di Roma mulai diadakan emansipasi. Ialah ketika Roma makin dipengaruhi kebudayaan Yunani, sehingga keadaan masyarakat berubah.
Dalam periode transisi Roma mengalami krisis sosial sehingga kebudayaan dan cara hidupnya yang lama mengalami perubahan. Hal ini mengakibatkan bertambahnya kemerdekaan wanita.
2.      Sekitar perubahan politik
Roma berkembang, lama kelamaan kekuasaannya sangat besar dan pada saat itu Roma menjadi pelindung negara di Timur Jauh seluruh Eropa kecuali Jerman. Setelah ini Roma berubah pemerintahaannya dari monarki menjadi republik dan kemudian menjadi bentuk negara Aristokrat kekaisaran. Kekuatan Roma terletak di dalam pemeliharaan bentuk republiknya. Disamping itu demokrasi berkembang secara baik. Tetapi pernah terjadi keadaan pemerintah yang sulit ialah golongan bawah yang selalu menentang golongan atas. Golongan bawah pada umumnya diizinkan untuk memberi suara tetapi tidak pernah mempunyai kesempatan untuk memegang pimpinan di dalam lapangan politik. Di atas golongan ini ada golongan yang disebut golongan warga negara penuh. Ia memiliki hak untuk memegang jabatan yang legal tetapi pada umumnya di dalam lapangan ekonomi golongan ini lemah.
Lapangan politik yang paling tinggi masih dikuasai golongan aristokrat. Golongan ini selain mempunyai darah bangsawn juga memiliki kekayaan yang tidak sedikit.
Antara 300 sampai 145 SM sebagai akibat dari peperangan dengan Italia, Penesia, Macedonia, maka negara Roma memiliki kekuatan yang besar dan kebudayaan Yunani berkembang dengan baik. Tetapi kemudian terdapat kemerosotan sebagai akibat dari keadaan ekonomi sosial dan politik.
Cita-cita bangsa Roma ini boleh dikatakan sungguh-sungguh hanya berakar pada golongan atas. Golongan bawah tidak mempunyai hak dan kedudukan di dalam masyarakat. Pada waktu itu telah ada cita-cita universalisme yang didasarkan atas teori struktur politiknya yang mempunyai 3 prinsip :
1. Kemerdekaan warga negara
2. Kekuasaan rakyat
3. Keunggulan hukum
Sebagai ekspresi dari kemauan rakyat sehingga boleh dikatakan bahwa didalam lapangan pemerintahan dan hukum Roma menjadi guru dunia Barat.
Jatuhnya kekuasaan Roma menimbulkan ketakutan terhadap golongan kaum Kristen dan Barbar. Tetapi sesudah orang mulai menguasai adanya cita-cita kaum kristen untuk mendirikan negara didunia maka anggapan terhadap kebesaran negara Roma diperolehnya dalam bentuk yang lain.
3.      Keagamaan
Di sekitar kota didirikan dinding suci. Semua aktivitas keagamaan dilaksanakan disitu. Di sana ada pendeta tetapi golongan pendeta ini tisak berkedudukan sebagai kasta tertentu. Tetapi kewajiban di dalam lapangan keagamaan itu dianggapnya sebagai kewajiban negara atau bangsa.
Pada 500 sampai 200 SM pemujaan terhadap agama asing terutama Yunani makin mendalam. Pada 339 terdapat oposisi dari golongan konservatif. Tetapi ketika masyarakat makin memperkembangkan individualisme dan demokrasi, religi tidak lagi memiliki sifat sosial yang lebih luas, sebagai akibatnya sistem tradisional semakin berkurang. Di bawah kekuasaan republik dan kaisar liberalisme semakin kuat, maka pemujaan terhadap agama semakin bebasa pula. Karena ada hubungan dengan bangsa Yunani dan agama Kristen maka timbullah golongan-golongan intelektual yang lazim dikenal sebagai golongan Stoa dan Epicurus.
Cara berpikir dan berfilsafat semacam ini akhirnya sampai pada puncaknya. Pada abad ke-4 M Kaisar menghargai agama Kristen sebagai agama negara. Tetapi disamping itu golongan Barbar selalu berusaha untuk menentangnya kira-kira selama 200 tahun.
4.      Pengaruh Asing
Pengaruh asing yang terpenting dari Yunani. Kira-kira 600 SM alfabet masuk ke Roma, kemudian disusul oleh tulisan lain. Pada 449 SM di Roma terdapat hukum yang tertulis yang disebut hukum 12 meja. Tahun 70 SM sampai 14 M disebut abad kesusastraan sewaktu hidupnya Cicero.
Pada abad 2 SM terdapat seorang penulis bernama Katto dan 100 tahun kemudian terdapat seorang penulis lagi bernama Varro. Keduanya mempunyai perhatian di dalam pendidikan. Varro-pendidikan liberal. Katto-pendidikan yang bukan liberal.
Pada pokoknya Roma mendapatkan pengaruh dari Yunani, tetapi menurut golongan Epicurus mengatakan bahwa Roma mempunyai jiwa sendiri. Sehingga pada 161 SM golongan ini berhasil. Membuat suatu tuntutan supaya mengeluarkan orang-orang yang memiliki jabatan penting. Golongan ini terutama golongan Yunani yang menjadi guru. Tetapi meskipun demikian guru-guru Yunani ini telah memberikan pendidikan yang tidak sedikit artinya kepada murid-murid Roma sendiri.
5.      Watak bangsa Roma
Berbeda dengan bangsa Yunani yang mempunyai watak berpikir. Bangsa Roma ini lebih tertuju pada perbuatan dalam lapangan kesusastraan tidak mencipta apa-apa hanya meniru. Mereka mempunyai pesona cukup terhadap penerimaan ilmu alam dari bangsa Yunani. Bangsa Roma mempunyai kelebihan dari bangsa lain ialah terhadap hukum, pemerintahan dan teknik. Jadi bangsa Roma tahu bagaimana cara memerintah, bangsa Yunani tahu bagaimana memikirkan dunia.
6.      Pendidikan Roma di dalam periode kuno
Pendidikan bersifat informal, moral dan jabatan. Sejak anak-anak dilahirkan, anak dibawah kekuasaan orang tua mereka. Baru setelah masuknya alfabet ke Roma anak mulai belajar. Mungkin pada waktu itu tidak ada sekolah yang formal. Tetapi orang Roma mengganggap bahwa masyarakat itu merupakan sekolah. Sampai umur 7 tahun anak diberi latihan moral oleh ibunya. Sesudah anak berumur 7 tahun anak mencari pengalaman sesuai dengan pekerjaan ayahnya. Pada waktu yang sama (7 tahun ke atas) anak wanita dibimbing oleh ibunya mengenai seluk beluk kerumahtanggaan, sosial dan religi. Suasana keagamaan yang terdapat di rumah memberikan sumbangan yang tidak sedikit terhadap pembentukan watak mereka. Sebab memang di Roma lapangan ekonomi sosial dan politik terjalin dengan agama.
7.      Kejasmanian
Tuntutan didalam lapangan kejasmanian ini terutama di dalam lapangan formal dan lapangan-lapangan in formal, sehingga pernah bangsa Roma menjadi bangsa yang kuat. Macam-macam latihan badan antara lain berenang, mengendara kuda, lari, melompat dan sebagainya. Kepentingan dari gerak badan selain untuk kesehatan, kekuatan dan kecakapan yang praktis.
8.      Pendidikan di dalam masa transisi
Pendidikan informal banyak sistemnya yang dilanjutkan misalnya pertukangan, kesenian yang mekanis, pelajaran berdagang dan latihan perang-perangan. Pelajaran memagang buku telah ada pada waktu itu. Mereka tidak belajar disekolah tetapi didalam prektek.
Pendidikan yang secara formal baru timbul pada 300 SM. Pada umumya sekolah dan pendidikannya meniru model Yunani. Anak-anak kemudian di serahkan kepada guru-gurunya untuk mempersiapkan anak di dalam cara hidup yang praktis supaya berguna dan dapat memegang pimpinan di dalam politik. Yang terpenting ialah mempersiapkan agar anak-anak menjadi orator sempurna. Menurut orang Roma seorang orator adalah yang berpendidikan sempurna yang memiliki semua pengetahuan dan kecakapan. Semua pendidikan untuk anak laki-laki baik yang rendah, menengah atau yang tinggi semua ditujukan ke arah orator tersebut.
Ahli teori Roma yang bernama Cicero dan Quintilianus terkenal juga didalam pandangannya mengenai didaktik.
9.      Metode pendidikannya
Teori tentang ilmu jiwa misalnya teori jiwa Aristoteles, Quintilianus dengan metodenya yang lebih progresif. Di samping ituterdapat golongan-golongan praktis yaitu yang melanjutkan pendidikan di dalam hubungannya yang praktis. Umpama pendidikan moral dilanjutkan dengan contoh-contoh di rumah. Seorang orator mencari pengetahuannya dengan menambah pengetahuan praktek misalnya di pengadilan untuk belajar berdebat. Maka di dalam transisi kebanyakan metode formal yang bersifat teoritis diganti dengan metode yang lebih praktis.
10.  Organisasi dan mata pelajaran di sekolah
a.       Ludus yaitu sekolah rendah yang timbul kira-kira 300 SM. Di sini diberi pelajaran seperti : membaca, menulis, matematika dan hukum. Yang masuk sekolah ini ialah anak-anak dari umur 7 tahun sampai 12 tahun. Sekolah ini berlangsung kira-kira 200 tahun.
b.      Sekolah Gramatika (the Grammar School)
Sesudah 300 SM sekolah ini didirikan oleh guru-guru Yunani. Adapun maksaudnya untuk mempelajari bahsa dan kesusastraan Yunani. Ketika kesusastraan Latin mulai berkembang didirikan pula sekolah-sekolah semacam oleh bangsa Yunani. Jadi kalau kita bandingkan dengan bangsa Roma, bangsa Yunani ini inferior terhadap politik dan moral, tetapi superior di dalam lapangan filsafat, kesenian dan kesusastraan. Oleh karena itu bangsa Roma menghargai kesusastraan Yunani lebih tinggi dari pada kesusastraan latin. Mendekati akhir abad pertenganahan, Quantilianus berkata bahwa pendidikan bangsa Roma harus dimulai dengan pelajaran bahasa Yunani. Memang di Roma sendiri kecenderungan untuk mempelajari bahsa asing lebih dari pada bahas Ibu. Bahasa Yunani menjadi perantara di dalam arti kebudayaan yang luas. Sekolah Gramatika ini lamanya 4 tahun, yang memasuki anak-anak umur 12 tahun. Sekolah ini sifatnya liberal, oleh karena itu memberikan latihan kesusasteraan yang luas.
c.       Sekolah Retorika (the Rethoric School)
Karena ketakutan untuk selalu tinggal secara konservatif, maka pada abad ke-2 M timbullah di Roma sekolah-sekolah Retorika. Ada yang masuk sekolah ini kira-kira umur 17 tahun dan mempelajari teknik sebagai orator. Tipe sekolah ini semacam sekolah Yunani dan mendasaarkan pandangan atas retorika dari Aristoteles, Cicero dan Quintilianus. Yang menjadi pelajaran utama ialah : teori orator dan deklamasi. Sampai pada periode transisi cara-cara demikian tidak hanya dipelajari disekolah tetapi juga didalam lapangan pekerjaan. Murid-murid selalu berusaha untuk dapat menulis dan berpidato sesuai dengan zaman pada waktu itu. Seorang orator hendaklah seorang yang bijaksana dengan perbuatan. Oleh karena itu seorang orator harus aktif di dalam kehidupan biasa. Sekolah-sekolah itu pada umumnya swasta, maka tidak ada hubungannya dengan pemerintah.

11.  Pengawasan negara terhadap pendidikan
Oleh karena pengaruh teori Plato dan Aristoteles yang menasehatkan pengawasan pendidikan oleh negara, maka kaisar Roma melakasanakan teori ini didalam praktek. Miasalnya saja : guru ditunjuk negar, pemerintah membayar guru itu, guru diberi hak istimewa, bebas dari pajak dan dianggap suci. Hak istimewa ini kemudian menjadikan problema sampai abad pertengahan sampai timbulnya universitas. Diberikan pula subsidi pada sekolah swasta.
Pada 429 M diumumkan sekolah sama dengan badan Negara, barang siapa mendirikan dan memberikan pelajaran tanpa izin Negara dianggap melanggar hukum. Jadi sejak itu sekolah menjadi suatu sistem yang diawasi oleh Negara.

            Daftar Pustaka :
·         Drs.T.Suparman,M.pd.2012.Sejarah Pendidikan.Yogyakarta:Ombak
·         Dr.Sugeng Priyadi,M.Hum.2012.Metode Penelitian Pendidikan Sejarah.Yogyakarta:Ombak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar