Selasa, 17 Mei 2016

KEBANGKITAN NASIONAL DAERAH KALIMANTAN TENGAH

Nopitasari Pitri/E/S


A.    BERDIRINYA PAKAT DAYAK
Sejak Kolonial Belanda menginjakan kakinya di bumi Kalimantan maka sudah ada bibit permusuhan. Kekuasaan Bambong, Tamanggong, Patis, Uria, di ambil alih oleh Belanda bahkan orang Dayak diharuskan upeti pada Belanda.
Dengan meletusnya perang Banjar tahun1859, adalah merupakan pencetusan secara terbuka permusuhan di antara orang Dayak dan Belanda. Dan apabila dilihat dari sejarah maka sejak perang inilah muncul perang yang tidak henti-hentinya melawan Belanda dan memakan waktu hampir kurang lebih 60 tahun. Baru setelah perang 60 tahun inilah seluruh tanah Dayak dikuasai oleh pemerintah Belanda, selesainya perang 60 tahun ini disebabkan karena ada beberapa pemimpin tokoh Dayak yang mau berdamai dengan Belanda.
Disini di ungkanpan alasan yang menyebabkan tindakan para pemimpin yang mau berdamai dengan Belanda, yaitu:
1.      Alasan pertama, adalah apabila dilihat dari sejarah mula-mula sekali dari jaman dan tempat pemukiman mereka. Dimulai dengan masuknya Mojopahit, masuknya Islam kemudian disusul dengan masuknya Belanda yang juga mengambil hak dan kekuasaan orang Dayak sendiri untuk mengurus diri mereka sendiri. Dengan pengalaman yang pahit ini tidaklah mustahil apabila mereka juga ingin hidup dengan tenang tanpa selalu diburu dan dikejar dan membunuh kesana kemari tak henti-henti.
2. Alasan kedua, adalah apabila perang ini terus dilanjutkan maka kehancuran sudah dapat dipastikan disebabkan Karena alat-alat senjata yang digunakan didalam berperang sudah jauh ketinggalan.
3.      Alasan ketiga, sebagai akibat dari termakan janji Belanda. Dijanjikan bahwa Belanda mengkaui kekuasaan yang dahulunya dipegang oleh Temanggong, Bambong, Uria dan sebagainya. Dimana didalam kenyataannya dkemudian hari adalah janji kosong belaka.
4.      Alasan ke empat, termakan propaganda Belanda untuk memecah-belahkan orang Dayak. Misalnya dilemparkan issue bahwa suku Dayak yang satunya ingin menguasai suku Dayak yang lainnya.
5.      Alasan kelima, adanya perasaan dikalangan Temanggong, Bambong, Urai sendiri yang merasa diri mereka lebih berhak atas kekuasaan dari yang lainnya.

Dengan kelima alasan tersebut di atas maka beberapa tokoh Dayak berdamai dengan Belanda. Pada permulaan gerakan melawan penjajah Belanda adalah dimulai dengan Perang Banjar dan kemudian dilanjutkan dengan Perang 60 tahun lamanya.

Munculnya organisasi dikalangan orang Dayak, adalah tidak dapat dipungkiri sebagai katalisatornya adalah orang-orang Dayak yang terpelajar. Para Misionaris yang telah menjadi guru dan pendeta lah yang mendidik orang Dayak terpelajar yang kemudian menjadi guru dan pendeta juga. Para guru dan pendeta nilah mula-mula mendirikan Pakat Guru Kristen Dayak. Meskipun gerak organisasi ini mula-mula hanya pada bidang gereja saja, tetapi cukup untuk memberikan gairah atau perangsang kepada orang Dayak lainnya atas kemampuan mereka untuk mengurus diri mereka sendiri tanpa dijajah oleh orang Eropa atau Belanda.


PAKAT DAYAK
Di dalam tahun 1919 berdirilah untuk pertama kalinya perhimpunan yang bergerak diluar Gereja yang disebut dengan Serikat Dayak. Serikat Dayak ini bertujuan dengan tegas ialah memajukan Suku Dayak dan membawa Suku Dayak kedalam perjuangan membela nasib. Serikat Dayak ini bergerak sampai dengan tahun 1926. Perhimpuanan Serkat Dayak ini berdiri di atas segala aliran kepercayaan dan agama. Kemudian setelah tahun 1926 ni maka Serikat Dayak ini berubah namanya menjadi PAKAT DAYAK.
Pada tahun 1937 gagasan untuk mendrikan Pakat Dayak ini dimunculkan untuk mengganti kegiatan yang dilakukan Serikat Dayak. Dan baru pada tahun 1938 tanggal 20 Agustus berdirilah dengan resmi Pakat Dayak yang dipimpin oleh M. Mahar. Disamping Pakat Dayak ini berdiri pula Komite Kesadaran Suku Dayak yang bertujuan menuntut hak kedudukan suku Dayak didalam Sidang Dewan Rakyat (Voksraad) didalam Pemerintahan Kolonial Belanda pada waktu itu.
Selanjutnya sebagai tujuan dari Pakat Dayak ini anatar lain disebutkan:
a.       Mengejar ketinggalan derajat suku Dayak, baik pun dalam soal politik, social dan ekonomi.
b.      Persatuan seluruh suku Dayak.
c.       Mengejar segala hak-hak yang di akui oleh Hukum Negara.
d.      Mempertinggikan kembali Adat leluhur serta kebudayaan suku.



B.     PERDERAKAN DIPEDALAMAN
Pergerakan antara tahun kurang lebih 1900-1942 ini tidaklah lepas dari perjuangan peralawananan orang Dayak sebelumnya.
1.      Tamanggung Silam dan Sultan Matseman
Perpecahan ini terjadi di Puruk Cahu di hulu Muara Teweh sekarang ini. Kepergian Tamanggong Silam ke Kalimantan Timur disebabkan:
a.       Sikap Sultan terhadap istri Tamanggong Silam, yang dimiliki tidak baik.
b.      Sultan memungut pajak dari penduduk sedangkan dia (Sultan) sendiri adalah pelarian dan meminta perlindungan dari orang Dayak Siang di hulu Barito.

Kemudian muncul dari pihak Belanda yang menawarkan kepada Tamanggong Silam apabila dapat menangkap Sultan Matseman hidup-hidup maka Tamanggong Silam akan djadikan kepala Onderdistrik Siang Murung. Taktik ini sebenarnya adalah Belanda ingin menangkap Sultan Matseman dari Banjarmasin yang melarikan diri kepedalaman dan bersama-sama dengan orang Dayak Siang bangkit melawan Belanda. Sultan Matseman ini merupakan cucu langsung dari Pangeran Antasari.
Selama kepergian Tamanggong Silam ke Kalimantan Timur ini maka Sultan Matseman terus melakukan perlawanan terhadap Belanda dan ikut serta antara lain Temanggung Jadam (Kuburannya berada di Puruk Cahu) dari Bakumpay Murung yang meningal didalam pertempuran di Tumpang Lahung.

2.      Pergerakan di Daerah Dayak Ma'anyan
Pergerakan di pesisir sungai Barito bagian Utara dengan tokohnya adalah panglima Batur seorang Dayak Dusun. Dambong Tamiang, Dambong Dayu yang kemudian menjadi Dambong Jantan, Uria Mapas, Uria Pundeh bersama-sama dengan orang Dayak Ma'anyan mengangkat senjata melawan Belanda. Bertahun-tahun lamanya perlawanan ini berlangsung dan banyak orang Dayak jatuh menjadi korban didalam peperangan ini. Dengan jalan dituturkan dimulai dengan pertempuran di Burung Lepas (Kalimantan Selatan sekarang ini) kemudian terus menyisih. Pertempuran di Burung Lepas ini diperkirakan sewaktu dimulainya Perang Banjar yang dipelopori oleh Pangeran Hidayat tahun 1859. Diceritakan didalam peperangan ini dimenangkan oleh orang Dayak. Dan sebagai bukti bendera Lalayu dan sepucuk meriam sekarang masih ada dikuburkan di Haringen kurang lebih 4 km kesebelah Timur Tamiang Layang.
Sesudah ini maka kekalahan demi kekalahan ditelan oleh orang Dayak disebabkan karena persenjataan yang jauh ketinggalan. Ditambah lagi selama peperangan ini sanak keluarga yang ditinggalkan mulai ditangkap oleh Belanda dan keamanan disetiap pemukiman terganggu dan di medan pertempuran banyak yang gugur.
Dengan melihat kenyataan ini dan kekalahan demi kekalahan maka Panglima Jelan dan panglima Abu keluar mau berdamai dengan Belanda dengan syarat orang Dayak jangan diganggu dan kekuasaan semula yang dimiliki tetap di akui.
Belanda mengakui syarat ini dimana ternyata dikemudain hari kekuasaan ini tidak lain adalah bagian dari Pemerintahan Kolonial Belanda. Dan daerah orang Dayak Ma'anyan seluruhnya berada dalam satu Distrik yang disebut Distrik Barito Timur dengan ibukotanya Telang. Setelah berdamai dengan Belanda maka Sutauno di angakt oleh Belanda menjadi Kepala Distrik Dusun Timur sedangkan Tamanggong jaya Karti sebagai Kepala Onderdistrik saja.

3.   Kesultanan kerajaan Kotawatingin
Pada bulan Agustus 1905 Controleur van Duve datang  dari Banjarmasin untuk menyelesaikan persengketaan siapa yang berhak atas tahta kerajaan Kotawatingin. Tanpa dikira oleh masyarakat juga oleh para menteri, Residen mengumumkan bahwa yang menjadi Sultan untuk kerajaan Kotawatingin ialah Pangeran Paku Negara dari keturunan Pangeran Ratu Imanudin. Pangeran Paku Negara dilantik dan di ambil sumpahnya menajdi sultan kerajaan Kotawatingin yang ke XII dengan gelar Sultan Pangeran Ratu Sokma Negara.
Sultan Pangeran Ratu Sokma Negara telah memerintah sejak tahun 1905-1913. Beliau berputrakan tiga orang anak, yaitu:
1.      Pangeran Kusuma Alam alias Pangeran Bawangan
2.      Pangeran Kalana
3.      Pangeran Penghulu

Yang menggantikan kedudukan Sultan Pangeran Ratu Sokma Negara ialah putra sulungnya yaitu Pangeran Ratu Kusuma Alamsyah dari tahun 1913-1939 sebagai raja Kotawatingin yang ke XIII.
Pada tahun 1913 Pangeran Ratu Kusuma Alamsyah menandatangani surat perjanjian kontrak pendek (korteverklaring) yang isinya bekerjasama dengan Belanda untuk hidup berdampingan satu dengan yang lainnya. Dari sejak inilah maka terhentilah perlawanan rakyat melawan Belanda sampai masuk Jepang.

DAFTAR PUSTAKA
1)      Bambang Suwondo. 1977/1978. Sejarah daerah Kalimantan Tengah, Halaman 151
2)      F. Ukur, Tentang Jawab Suku Dayak, Disertasi, Halaman 52

Tidak ada komentar:

Posting Komentar