Selasa, 05 Januari 2016

SEJARAH PERAHU BAGANDUANG


TURISNO/ SV

A.    SEJARAH PERAHU BAGANDUANG
Perahu Baganduang merupakan sebuah atraksi budaya khas masyarakat Kuantan Mudik berupa parade sampan tradisional yang dihiasi berbagai ornamen dan warna-warni yang menarik. Perahu baganduang mempunyai arti dua atau tiga perahu yang dirangkai / diikat menjadi satu (diganduang) menggunakan bambu dan dihiasi oleh berbagai simbol adat yang berwarna-warni. Kecamatan Kuantan Mudik, tempat berlangsungnya Festival Perahu Baganduang, berjarak sekitar 21 km dari Kota Teluk Kuantan. Untuk menuju Kota Teluk Kuantan wisatawan dapat menggunakan kendaraan seperti mobil dan sepeda motor.

Festival Perahu Baganduang merupakan acara lomba yang terbilang ramai dan sekaligus merupakan ritual yang mencerminkan kebesaran adat masyarakat Kuantan. Hal ini dapat dilihat dari antusiasme kedatangan masyarakat Kuantan serta pernak-pernik hiasan perahu yang digunakan dalam festival ini.
Manjopuik Limau adalah prosesi setelah kegiatan  mengadakan kegiatan batobo ke sawah antara pemuda pemudi yang menaruh kasih sayang diperantara oleh orang ketiga yang  disebut (titian sosok)[1].
Tradisi berlayar dengan perahu baganduang telah ada semenjak masa kerajaan-kerajaan dahulu, Perahu ini biasanya dipakai oleh raja sebagai sarana transportasi. Perahu Baganduang ini pertama kali ditampilkan sebagai festival pada tahun 1996.
RISALAH PERAHU BAGANDUANG
            Beratus tahun silam keadaan penduduk Kuantan Mudik khususnya, Riau pada umumnya sangatlah serba kekurangan/ketinggalan bila di banding dengan negeri-negeri lainnya. Walaupun demikian, para penghuni Kuantan Mudik terutama Kenegrian Lubuk Jambi para pemuda/pemudinya orang-orang kreatif, dan mempunyai gagasan yang luas, suka bergotong royong untuk membangunn desa, untuk mensejahterakan penduduk[2].
Para pemuda/pemudi beserta orang tua-tua bahu membahu untuk mengerjakan sesuatu, contohnya turun ke sawah, untuk mengerjakan sawah yang begitu luasnya, mereka mendirikan perkumpulan kerja yang disebut "batobo". Tobo ini terdiri darii bujang gadis dan orang tua untuk mengatur pekerjaan di sawah.
Alat pertanian di masa lalu adalah alat yang sangat unik, mesin-mesin seperti sekarang belum ada. Para petani hanya menggunakan binatang ternak kerbau, dan untuk membajak hanya satu-satu saja dengan arti kata tenaga kerbau di gunakan untuk meroncah, menghancurkan rumput menjadi bubur tanah, sehingga para petani dapat bantuan tenaga pengelolaan tanah. Kalau tanah kering, maka muda/mudi tadi membanting tulang bersama-sama batobo mencakul tanah[3].
Begitulah kerja muda/mudi di kampungnya sepanjang tahun, pekerjaan apapun mereka kerjakan bersama baik menanam, menyiang, dan terakhir menuai. Didalam kelompok tobo inilah masing-masing muda/mudi mulai menjalin masa perkenalan untuk saling mencintai, tapi semua percakapan ini sangat rahasia sekali, antara pemuda dengan pemuda tak tahu sedikitpun, yang pemudinya antara satu sama lain juga tidak ada yang mengetahui, semuanya sama-sama rahasia.
Kalau muda/mudi sekarang saling membeberkan baik sesama teman maupun sama orangtuanya, bertolak belakang dengan muda/mudi yang dulu. Untuk lebih akrabnya hubungan mereka itu, di waktu batobo siangnya mereka membuat suatu persetujuan yang berikut ini adalah dialognya.
Abang: saya ingin dating ke sini untuk membicarakan hubungan kita agar lebih serius lagi. Apakah adik     bersedia?
Adik: ambo setuju sekali (saya setuju sekali)
Abang: kok lai satuju, abang datang beko malam kerumah adik/ mancaliak. (kalau setuju, abang nanti malam datang kerumah adik/mengunjungi.)
Adik: datanglah.
Abang: dimano tompek adiak tiduar? (dimana tempat adik tidur?)
Adik: dokek balobek ujuang. (dekat jendela paling ujung sekali)
Abang: yolah tarima kasih.( iyalah terima kasih)
Kalau di lihat mereka berdua ini seakan-akan tidak sedang membicarakan sesuatu yang serius. Ketika hubungan mereka semakin erat tidak ada satu orang teman pun yang mengetahui hal tersebut. Ketika memanen padi mereka terus melaksanakan batobo. Tuo tobo menyampaikan kepada anak tobo. Yang laki-laki mencari pikan tuai, yang perempuan mengisi bersama-sama, untuk kemudian diteruskan untuk mengisi kombuik. di waktu menuai inilah lahir pemikiran baru, para pemuda tidur bersama-sama di surau. Mereka berunding lagi untuk menghadapi hari raya. Biasanya sudah sejak dahulu kala bagi kaum muslim akan menghadapi hari raya mereka, mereka melaksanakan mandi balimau ]setelah puasa 1 bulan penuh. Bagi para pemuda tadi, yang akan membuat limau dengan limau di beli, maka mereka tidak akan berhasil membuatnya. Keputusan perundingan tahun ini si anu kita perintahkan untuk menjemput limau kerumah si anu gadis tobo kita.
Dalam perundingan tadi, semua masalah telah diselesaikan secara bersama segala sesuatunya akan ditanggung bersama-sama pula. Bak kata orang-orang dulu, berat sama di pikul, ringan sama dijinjing. Pada malam hari raya itu para pemuda tadi sudah siap dengan berbagai persiapan, lampu, galah, pendayung tukang rarak, tukang doa. Semua perlengkapan perahu baganduang seperti kain-kain untuk penghiasnya di buat secara bersama-sama, sehingga menjadi perahu baganduang yang anggun. Limau yang di jemput kerumah gadis tobo tadi, di bawa pulang untuk mandi balimau di tepi sungai pagi itu.
Pada malam-malam berikutnya selepas lebaran para pemuda/pemudi itu terus menceritakan kegiatan tobonya itu. Apapun mereka kerjakan bersama-sama, jadi semua pekerjaan itu tetap terselesaikan setelah lebih kurang 2 bulan. Setelah lebaran, tibalah hari raya kurban atau hari raya haji. Disinilah kebulatan hati pemuda yang manjopuik limau tadi, apakah ia ingin memperistri gadis yang di jopuik limau tadi atau tidak. namun saat ini resepsi manjopuik limau dan perahu baganduang dijadikan sebagai perlombaan oleh masyarakat Lubuk Jambi, yang mana acara ini dilaksanakan minggu pertama selepas hari raya idul fitri ( 8 syawal hijriah )[4].

B.     MAKNA DALAM SETIAP BAGIAN-BAGIAN DARI PERAHU BAGANDUANG
Hiasan –hiasan yang terdapat dalam perahu baganduang, mulai dari bawah berupa umbul-umbul, ditengah diberi janur, dan hiasan-hiasan lain. Supaya lebih jelas bisa dilihat dari gambar perahu baganduang . Arti lambang yang ada di perahu baganduang adalah sebagai berikut:
    • Perahu digandeng tiga melambangkan tali nan tigo sapilin.
    • Lantai yang dipagar merupakan arena pencak silat.
    • Beranda melambangkan balai adat.
    • Tanduk melambangkan keadilan.
    • Labu-labu melambangkan persatuan dan kesatuan.
    • Cermin polos melambangkan urang malin nan barompek yang suluahbendang dalam nagori.
    • Lima buah payung lambang rukun islam.
    • Padi baranggik dan dua buah merawagh lambang kemakmuran.
    • Bulan bintang lambang ketuhanan.
    • Kain panjang yang warna warni melambangkan masyarakat yang banyak suku.
    • Foto presiden dan wakil presiden melambangkan masyarakat Kuansing mendukung pemerintah.
    • Payung kuning lambang kemakmuran.

C.     ASPEK-ASPEK DALAM FESTIVAL PERAHU GANDUANG
Dalam setiap pestival perahu baganduang ini selalu di hadiri juta'an pasang mata. Dalam acara ini sangat meriah karena dihadiri oleh petinggi negeri, seperti bupati beserta rombongan, niniak mamak, tokoh adat dan tuo mudo. Bupati atau yang mewakili akan naik ke atas perahu yang telah di sediakan dan bergerak dari hulu sungai kuatan tepatnya dari desa Koto Lubuk Jambi dan berlabuh pada tempat acara di adakan dan di sambut oleh penari-peneri. Selanjutnya barulah acara pertandingan di mulai dengan ledak-ledakan "bedir ". Tiap desa yang ada di daerah Kuantan Mudik dalam festival ini biasanya mengirimkan perwakilan perahunya untuk dinilai.  Acara perahu bergandung ini di ikuti lebih kurang 15 desa yang ada di kecamatan kuantan mudik. Dewan jurinya terdiri dari tokoh adat dan   niniak mamak  yang akan menilai keindahan dan kelengkapan adat yang ada pada perahu peserta. Perahu peserta yang memiliki kriteria lebih, dari sisi keindahan dan adat, akan ditetapkan sebagai pemenang.
Sebelum hari H nya, muda-mudi akan menggandingkan dua buah perahu dan menghiasainya dengan daun kelapa, kain panjang dan mempunyai kuba di puncaknya. Kuba tersebut di buat berbentuk bulan atau bintang yang melambangkan penyambutan hari raya idul fitri. Perlombaan ini di laksanakan pada hari ke 6 dan di ikuti pula dengan calempong randai, salung, tari-tarian dan lain sebagainya. Sistem penilaian di lihat dari kerapian dan keindahan perahunya[5]

D.    PROSESI MANJOPUIK  LIMAU
Mengantar limau di lakukan oleh pihak lelaki sebelum shalat idul fitri. Setelah 5 hari acara pengantaran limau maka barulan tiba saat perbandingan. Manjopuik Limau adalah prosesi setelah kegiatan  mengadakan kegiatan batobo ke sawah antara pemuda pemudi yang menaruh kasih sayang diperantara oleh orang ketiga yang  disebut  (titian sosok).
Pada malam-malam berikutnya selepas lebaran pemuda/pemudi itu terus menceritakan kegiatan tobo. Mereka melakukan semua pekerjaan bersama-sama, jadi semua tetap terselesaikan setelah lebih kurang 2 bulan. Setelah lebaran, tibalah hari raya kurban atau hari raya haji. Disinilah kebulatan hati pemuda yang manjopuik limau tadi, apakah ia ingin memperistri gadis yang telah dijopuik limau tadi atau tidak.
Kalau mangkok limau tadi diisi pemuda itu dengan:
  • Minuman (teh, kopi, susu dan uang secukupnya)
  • Kain panjang dan kain baju.
  • Sebuah cincin atau gelang.
Yang nomor satu diantarkan secara bersama-sama dengan pemuda itu. Dua dan tiga pribadi pemuda yang akan mengantarkan tanda yang ingin memperistri si gadis tobo itu. Beberapa hari kemudian barulah diperoleh kabar tentang diterima atau tidaknya pemuda tadi dari keluarga si gadis. Kalau diterima, pemuda tadi bersiap-siap mengumpulkan dana untuk berumah tangga.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Yasir. 2009. Pengantar    Ilmu Komunikasi. Pekanbaru: Pusat Pengembangan Pendidikan.
[2] Widagdo, Joko. 1991. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta:  Bumi Aksara.
[3] Perahu Baganduang (online) http://lubukjambi.wordpress.com
[4] Wikipedia (online) http://id.wikipedia.org
[5] Widjaja, 2000. Komunikasi Hubungan Masyaraka Jakarta: Bumi Aksara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar