Selasa, 05 Januari 2016

PERTEMPURAN KEPULAUAN STEWARD,NEGERI PASIFIK YANG DICABIK PERTUMPAHAN DARAH

KATRI NUGRAHENI/PIS/B


Oceania adalah sebutan untuk wilayah yang terletak di samudera pasifik bagian tengah di mana Negara-negara yang menyusun oceania terdiri dari Negara pulau atau pulau kecil . karena luasnya yang relative kecil dan letaknya yang terisolasi dari benua lainnya, namun bukan berarti oceania tidak memiliki sejarah yang menarik. kali ini kita akan membahas tentang sejarah konflik di kepulauan Solomon salah satu kawasan di ocenia.

Negara kepulauan ini juga yang menformalkan pendirian negara-negara Ujung Tombak Melanesia, Melanesian Spearhead Group (MSG) pada 1988 di Port Villa Vanuatu. Kepulauan ini sangat terkenal saat pecah Perang Dunia Kedua atau Perang Pasifik. Pulau Gualdalcanal. Savo dan Florida merupakan wilayah pertempuran hebat antara tentara Jepang dan Amerika Serikat di wilayah Pasifik Selatan. Persitiwa perang Gualdacanal sampai saat ini diabadikan di dinding koridor gedung Pentagon, Washington DC.Amerika Serikat.

Luas Kepulauan Solomon adalah 28.450 KM persegi, sedangkan luas daratan hanya 27.540 KM persegi saja. Negara ini terdiri dari enam pulau utama dan puluhan pulau-pulau kecil. Enam pulau utama itu adalah Gualdacanal, Malaita, San Cristobal atau Makira, New Georgia, Santa Isabel dan Choiseul atau Lauru. Pulau-pulau lain yang masuk dalam gugusan pulau Florida dan Russel, Shorland, Mono, Vella Lavella, Kolombangara, Ranongga, Gizo dan Rendova.

Ibukota Kepulauan Solomon terletak di Honiara, Pulau Gualdacanal, kota ini baru dibangun setelah Perang Dunia Kedua. Hampir sama dengan kota-kota di Pasifik Selatan berkembang setelah Perang Pasifik berkecamuk. Sebelumnya ibukota Solomon berada di Tulagi termasuk dalam Kepualuan Florida.

Jumlah penduduk di Solomon Island pada 1991 baru mencapai 347.115 jiwa dengan pertumbuhan penduduk rata-rata sebesar 3,5 persen per tahun.

Mayoritas penduduk di Solomon Island adalah Melanesia sebanyak 93 persen dari populasi penduduk. Kelompok etnis kedua adalah Polinesia hanya empat persen.
Meski Polinesia sedikit dari populasi, tetapi mereka menyebar secara ekonomis di pulau-pulau kecil dan penting di Solomon Island yaitu Ontong Java, Sikiana, Rennel, Bellona, Reef dan Tikopia.

Sedangkan penduduk lainnya berasal dari ras Mikronesia, terutama penduduk dari Kiribati(1,5 persen), Eropah (0,8 persen), Cina(0,3 persen) dan lain-lain (0,4 persen). Mereka ini boleh disebut sebagai masyarakat pendatang dan bermukim di ibukota Honiara.

Dilihat dari struktur masyarakatnya, Kepulauan Solomon terdapat dua struktur sosial, Melanesia dan Polinesia. Hampir sama dengan negara Fiji yang mayoritas Melanesia dan Polinesia. Perbedaan mencolok antara kedua ras Melanesia dan Polinesia ini terdapat pada garis keturunan. Orang Melanesia garis keturunannya berdasarkan patrilineal yang terdapat di Pulau Malaita, Gualdacanal. Makira dan Choiseul.
Pertempuran Laut Kepulauan Solomon Timur (juga dikenal sebagai Pertempuran Kepulauan Stewart dan, di sumber-sumber Jepang, sebagai Pertempuran Kedua Laut Solomon  terjadi pada tanggal 24–25 Agustus 1942, dan merupakan pertempuran antar kapal induk ke tiga di Mandala Pasifik pada Perang Dunia II dan adalah bentrokan besar kedua antara AL Amerika Serikat dan AL Kekaisaran Jepang selama kampanye Guadalcanal. Seperti halnya Pertempuran Laut Koral dan Pertempuran Midway, kapal-kapal dari pihak yang bertarung tidak pernah melihat satu sama lain. Melainkan semua serangan dilakukan oleh pesawat yang berpangkalan di kapal induk atau di darat.
A. latar belakang
Pada tanggal 7 Agustus 1942, pasukan Sekutu (terutama kesatuan-kesatuan Korps Marinir AS) mendarat di Guadalcanal, Tulagi, dan Kepulauan Florida di Kepulauan Solomon. Pendaratan-pendaratan itu dimaksudkan untuk mencegah penggunaan pulau-pulau tersebut oleh Jepang sebagai pangkalan untuk mengancam rute-rute pasokan antara As dan Australia, dan mengamankan pulau-pulau tersebut sebagai titik peluncuran bagi kampanye yang tujuan akhirnya adalah mengisolasi pangkalan besar Jepang di Rabaul sekaligus juga mendukung kampanye New Guinea Sekutu. Pendaratan-pendaratan tersebut memicu kampanya Guadalcanal yang berlangsung seama enam bulan.
Pendaratan-pendaratan tersebut didukung secara langsung oleh tiga Gugus Tugas kapal induk AS (TF): TF 11 (USS Saratoga), TF 16 (USS Enterprise), dan TF 18 (USS Wasp), grup udara mereka masing-masing, dan kapal-kapal perang permukaan pendukungnya, termasuk sebuah kapal tempur, kapal-kapal penjelajah, dan kapal-kapal perusak. Komandan keseluruhan dari ketiga gugus tugas kapal induk tersebut adalah Laksamana Madya Frank Jack Fletcher, yang mengibarkan benderanya di Saratoga. Pesawat dari ketiga kapal induk itu menyediakan dukungan udara dekat untuk pasukan invasi dan berjaga terhadap serangan udara Jepang dari Rabaul. Setealh pendaratan yang berjalan sukses, mereka yang tetap tinggal di wilayah Pasifik Selatan diberi empat tugas utama: (1) menjaga garis komunikasi antara pangkalan-pangkalan besarSekutu di Kaledonia Baru dan Espiritu Santo; (2) memberikan dukungan kepada pasukan darat Sekutu di Guadalcanal dan Tulagi terhadap ofensif balasan Jepang yang mungkin terjadi; (3) melindungi pergerakan kapal-kapal perbekalan yang membantu Guadalcanal; dan (4) menghadapi dan menghancurkan kapal-kapal perang Jepang yang mendekat.
Antara tanggal 15 dan 20 Agustus, kapal-kapal induk AS melindungi pengiriman pesawat tempur dan pembom ke Henderson Field yang baru saja dibuka di Guadalcanal. Lapangan terbang kecil tapi diperoleh dengan susah payah ini adalah titik kritis di seluruh rangkaian pulau, dan militer kedua pihak menganggap secara strategis bahwa penguasaan pangkalan udara tersebut memberikan kendali potensial pada wilayah udara wilayah tempur lokal. Kenyataannya, Henderson Field dan pesawat yang berpangkalan di situ segera berpengaruh besar kepada pergerakan pasukan Jepang di Kepulauan Solomon dan kepada pelemahan pasukan udara Jepang di wilayah Pasifik Selatan. Secara sejarah, kendali Sekutu atas Henderson Field menjadi faktor kunci semua pertempuran untuk memperebutkan Guadalcanal.
Terkejut oleh ofensif Sekutu di kepulauan Solomon, pasukan AL Jepang (di bawah pimpinan Laksamana Isoroku Yamamoto) dan pasukan AD menyiapkan sebuah ofensif balasan, dengan tujuan mengusir Sekutu dari Guadalcanal dan Tulagi. Ofensif balasan tersebut dinamai Operasi Ka (Ka diambil dari suku kata pertama untuk Guadalcanal jika dilafalkan dalam bahasa Jepang) dengan pasukan laut mendapat tugas tambahan untuk menghancurkan pasukan kapal perang Sekutu di wilayah Pasifik Selatan, secara spesifiknya kapal-kapal induk AS.
B. PERTEMPURAN KAPAL INDUK 24 AGUSTUS 1942
Pukul 01.45 tanggal 24 Agustus, Nagumo memerintahkan Laksamana Muda Chūichi Hara di atas kapal induk ringan Ryūjō, bersama kapal penjelajah berat Tone dan kapal perusak Amatsukaze dan Tokitsukaze untuk maju di depan armada utama Jepang, dan mengirimkan pesawat-pesawat penyerbu ke Lapangan Udara Henderson Field pada saat fajar. Misi Ryūjō kemungkinan sebagai jawaban atas permintaan komandan Angkatan Laut Jepang di Rabaul, Nishizo Tsukahara. Misi tersebut dimaksudkan untuk membantu armada gabungan dalam menetralisir Lapangan Udara Henderson. Misi tersebut kemungkinan juga dimaksudkan Nagumo sebagai umpan untuk mengalihkan perhatian Amerika Serikat, sehingga armada kapal perang Jepang yang lain dapat mendekati armada angkatan laut Amerika Serikat tanpa terdeteksi, sekaligus sebagai bantuan perlindungan dan tabir bagi konvoi Tanaka. Sebagian besar dari pesawat-pesawat di Shōkaku dan Zuikaku sudah bersiap-siap untuk lepas landas begitu ada peringatan kapal-kapal induk Amerika Serikat sudah ditemukan. Antara pukul 05.55 dan 06.30, kapal induk Amerika Serikat (khususnya Enterprise), ditambah pesawat Catalina dari Ndeni, memberangkatkan pesawat pengintainya sendiri untuk mencari kapal-kapal perang Jepang.
Pada pukul 09.35, sebuah pesawat Catalina untuk pertama kalinya melihat armada kapal-kapal Ryūjō. Masih pada pagi itu, kapal induk dan pesawat-pesawat pengintai Amerika Serikat yang lainnya juga beberapa kali melihat Ryūjō dan armada kapal-kapal Kondo serta Mikawa. Sepanjang pagi dan siang hari, pesawat-pesawat Amerika Serikat juga melihat beberapa pesawat pengintai dan kapal selam Jepang. Penampakan tersebut menyebabkan Fletcher yakin pihak Jepang sudah tahu lokasi kapal-kapal induk Sekutu. Namun sebetulnya, Jepang belum tahu. Fletcher masih ragu untuk memerintahkan serangan ke gugus kapal-kapal perang Ryūjō hingga dirinya yakin betul bahwa tidak ada lagi kapal-kapal induk Jepang yang ada di daerah itu. Pada akhirnya, meskipun belum jelas mengenai keberadaan atau lokasi kapal-kapal induk Jepang lainnya, Fletcher pada pukul 13.40 memberangkatkan 38 pesawat terbang dari Saratoga untuk menyerang Ryūjō. Meskipun demikian, Fletcher tetap menyisakan pesawat-pesawat terbang di kedua kapal induk Amerika Serikat dalam keadaan siaga, kalau-kalau ada armada kapal induk Jepang yang terlihat.
Pukul 12.20, Ryūjō memberangkatkan enam pesawat pengebom "Kate" dan 15 pesawat tempur A6M Zero untuk menyerang Lapangan Udara Henderson bersamaan dengan datangnya serangan bantuan dari Rabaul yang berkekuatan 24 pesawat pengebom "Betty" dan 14 pesawat tempur Zero. Namun tanpa diketahui oleh pesawat-pesawat dari Ryūjō, pesawat-pesawat dari terhadang cuaca buruk dan harus kembali ke pangkalan mereka pada pukul 11.30. Pesawat-pesawat dari Ryūjō terdeteksi oleh radar di Saratoga ketika mereka terbang menuju Guadalkanal. Dari arah kedatangan mereka dapat dipastikan lokasi kapal-kapal induk Jepang. Pesawat-pesawat dari Ryūjō tiba di atas Lapangan Udara Henderson pada pukul 14.23. Ketika melakukan pengeboman, pesawat-pesawat Jepang harus menghadapi pesawat-pesawat tempur dari Henderson (anggota Angkatan Udara Kaktus). Dalam pertempuran udara di atas Henderson, tiga pesawat pengebom Nakajima B5N Kate, 3 pesawat tempur Zero, dan 3 pesawat tempur Amerika Serikat ditembak jatuh, tapi Lapangan Udara Henderson tidak menderita kerusakan yang berarti.
Pada pukul 14.25, pesawat pengintai Jepang dari kapal penjelajah Chikuma melihat kapal-kapal induk Amerika Serikat. Sebelum pesawat pengintai tersebut ditembak jatuh, awak pesawat sempat pengirimkan pesan radio, dan Nagumo segera memerintahkan pesawat-pesawat dari kesatuan pemukul untuk lepas landas dari Shōkaku dan Zuikaku. Gelombang pertama serangan Jepang berkekuatan 27 pesawat pengebom tukik Aichi D3A "Val" dan 15 pesawat tempur Zero diberangkatkan pada pukul 14.50 menuju kapal induk Amerika Serikat Enterprise dan Saratoga. Kira-kira pada waktu yang bersamaan, dua pesawat pengintai Amerika Serikat akhirnya menemukan armada utama Jepang. Meskipun demikian, masalah komunikasi menyebabkan laporan penglihatan tersebut tidak pernah sampai ke Fletcher. Dua pesawat pengintai Amerika Serikat menyerang Shōkaku sebelum terbang menjauh, dan hanya menyebabkan kerusakan sepele. Gelombang kedua yang berkekuatan 27 pesawat pengebom tukik Aichi D3A "Val" dan 9 Zero diluncurkan dari kapal induk Jepang pada pukul 16.00 dan terbang ke arah selatan menuju armada Amerika Serikat. Gugus Barisan Depan Abe juga bergerak maju ke depan untuk mengantisipasi pertemuan dengan kapal-kapal Amerika Serikat setelah malam tiba.
Kira-kira pada saat itu juga, pesawat-pesawat kekuatan pemukul dari Saratoga tiba di atas Ryūjō dan memulai serangan. Ryūjō terkena 3 atau 5 bom, atau mungkin satu torpedo, dan menewaskan 120 awak kapal. Setelah rusak berat, Ryūjō ditinggalkan oleh para awak kapal ketika malam tiba, dan tidak lama kemudian tenggelam. Amatsukaze dan Tokitsukaze datang menolong awak kapal Ryūjō yang selamat berikut para penerbang yang terpaksa mendaratkan pesawatnya di laut ketika kembali ke Ryūjō dari misi menyerang kapal Sekutu. Pada waktu itu pula, beberapa pesawat pengebom B-17 tiba untuk menyerang Ryūjō yang sudah dalam keadaan lumpuh, namun tidak menyebabkan kerusakan lebih lanjut. Setelah operasi pertolongan selesai, kedua kapal perusak Jepang dan Tone kembali bergabung dengan gugus utama Nagumo.
Pada pukul 16.02, ketika masih menunggu laporan pasti tentang lokasi kapal-kapal induk Jepang, radar di kapal-kapal induk Amerika Serikat mendeteksi gelombang pertama pesawat Jepang. Dari dua kapal induk Amerika Serikat diberangkatkan 53 pesawat tempur F4F Wildcat dengan dipandu oleh radar ke arah datangnya pesawat Jepang. Meskipun demikian, hanya segelintir dari pesawat tempur Wildcat yang dapat menemukan pesawat pengebom Jepang sebelum mereka memulai serangan terhadap kapal-kapal induk Amerika Serikat. Penyebabnya adalah masalah komunikasi dan keterbatasan kemampuan sistem pengenalan kawan dan lawan pada radar, prosedur kontrol yang primitif, dan pentabiran yang efektif terhadap pesawat pengebom Jepang yang dilakukan pesawat-pesawat Zero yang bertugas sebagai pengawal. Persis sebelum pengebom tukik Jepang memulai serangannya, geladak kapal induk Enterprise dan Saratoga telah dibersihkan dari pesawat-pesawat untuk mengantisipasi kedatangan serangan Jepang. Pesawat-pesawat tersebut sudah berada dalam keadaan siap luncur di geladak, kalau-kalau terlihat armada kapal induk Jepang. Pesawat-pesawat tersebut diperintahkan untuk terbang ke utara dan menyerang apa saja yang mereka dapat temui, atau terbang berputar di sekeliling zona pertempuran, hingga keadaan aman bagi mereka untuk kembali.
Pada pukul 16.29, pesawat-pesawat pengebom tukik Jepang memulai serangan mereka. Walaupun beberapa di antaranya berusaha menyusun serangan terhadap Saratoga, mereka dengan cepat mengalihkan serangan ke kapal induk Enterprise yang berada di dekatnya. Enterprise dijadikan sasaran hampir semua pesawat Jepang. Dalam usaha nekat untuk mengacaukan serangan mereka, beberapa pesawat Wildcat terbang mengejar pesawat-pesawat pengebom Jepang yang sedang melakukan serangan menukik, walaupun sedang ditembaki artileri antipesawat dari Enterprise dan kapal-kapal perang pelindungnya. Selain beberapa pesawat pengebom "Val" Jepang, sejumlah empat pesawat tempur Wildcat tertembak jatuh oleh tembakan antipesawat.
Berkat tembakan antipesawat yang efektif dari kapal-kapal perang Amerika Serikat, dibantu manuver mengelak, bom-bom dari 9 pesawat Val yang pertama gagal mengenai Enterprise. Namun pada pukul 16.44, sebuah bom penembus perisai-aksi lambat menembus dek pesawat di dekat lift belakang dan melewati tiga lapis geladak sebelum meledak di bawah lambung timbul menewaskan 35 awak dan melukai 70 lainnya. Air laut yang masuk menyebabkan Enterprise agak miring ke salah satu sisi, namun ledakan tersebut tidak membahayakan integritas lambung kapal.
Hanya dalam 30 detik kemudian, bom dari pesawat Val berikutnya jatuh persis 4,5 m (15 feet) jauhnya dari tempat jatuhnya bom pertama. Ledakan bom tersebut menyambar ke peti bubuk mesiu untuk meriam 5 inci yang berada di dekatnya, menewaskan 35 personel meriam yang berada di dekatnya dan menyebabkan kebakaran besar
Sekitar satu menit kemudian, pada pukul 16.46, bom ketiga dan terakhir jatuh mengenai Enterprise di geladak pesawat depan, tidak jauh dari tempat jatuhnya dua bom pertama. Bom tersebut jatuh langsung meledak, menyebabkan lubang sebesar 3 meter di geladak, tetapi tidak menyebabkan kerusakan lebih lanjut. Empat pesawat Val lainnya memisahkan diri dari kawanan yang menyerang Enterprise untuk menyerang kapal tempur Amerika Serikat North Carolina, namun semua bom yang dijatuhkan mereka luput, dan keempat pesawat Val itu ditembak jatuh oleh tembakan antipesawat atau pesawat tempur Amerika Serikat. Serangan udara Jepang berakhir pada pukul 16.48, dan pesawat Jepang yang selamat berkumpul dalam gugus-gugus kecil dan kembali ke kapal masing-masing.
Kedua belah pihak mengira telah mengakibatkan kerusakan yang sangat besar di pihak lawan, namun perkiraan mereka sebetulnya jauh dari kenyataan. Pihak Amerika Serikat mengklaim telah menembak jatuh 70 pesawat terbang Jepang, meskipun sebetulnya hanya ada 42 pesawat Jepang yang diterbangkan dalam pertempuran. Kerugian pihak Jepang yang sebenarnya dalam pertempuran adalah 25 buah pesawat yang jatuh akibat berbagai sebab. Sebagian besar awak dari pesawat yang jatuh tidak dapat ditemukan kembali atau diselamatkan. Sebaliknya, pihak Jepang dengan salah mengira mereka telah menyebabkan kerusakan besar terhadap dua kapal induk Amerika Serikat, padahal hanya satu kapal induk yang rusak berat. Pihak Amerika Serikat kehilangan enam pesawat terbang dalam pertempuran. Sebagian besar dari awak pesawat dari pesawat yang jatuh dapat diselamatkan.
Walaupun Enterprise rusak berat dan terbakar, regu pengendalian kerusakan di atas kapal mampu melakukan perbaikan-perbaikan yang cukup hingga kembali dapat melanjutkan operasi penerbangan pada pukul 17.46, hanya satu jam setelah pertempuran berakhir. Pada pukul 18.05, pesawat-pesawat dari kesatuan pemukul Saratoga kembali dari kapal induk Ryūjō yang sedang tenggelam, dan selamat mendarat tanpa ada insiden berarti. Gelombang kedua pesawat-pesawat Jepang mendekati kapal-kapal induk Amerika Serikat pada pukul 18.15, tapi tidak berhasil menemukan lokasi formasi armada Amerika Serikat disebabkan masalah komunikasi. Mereka akhirnya harus kembali ke kapal induk masing-masing tanpa menyerang satu pun kapal Amerika Serikat, dengan kerugian 5 pesawat jatuh dalam perjalanan akibat kecelakaan operasional. Sebagian besar pesawat kapal induk Amerika Serikat yang diluncurkan persis sebelum serangan gelombang pertama Jepang, gagal menemukan sebuah sasaran pun. Namun, 5 TBF Avenger dari Saratoga melihat gugus pelopor Kondo dan menyerang kapal induk pesawat terbang laut Chitose, dengan hasil dua bom nyaris telak yang mengakibatkan kerusakan berat terhadap kapal yang memang tidak dilengkapi perisai. Pesawat-pesawat Amerika Serikat yang berpangkalan di kapal induk, mendarat di Lapangan Udara Henderson atau dpaat kembali ke kapal induk masing-masing setelah senja. Kapal-kapal Amerika Serikat mundur ke arah selatan untuk keluar dari jangkauan kapal-kapal perang Jepang yang sedang mendekat. Pada kenyataannya, gugus barisan depan Abe dan gugus pelopor Kondo berlayar ke selatan untuk berusaha mengejar gugus tugas kapal induk Amerika Serikat, dan menantangnya dalam pertempuran laut, namun armada Jepang berbalik arah saat tengah malam tanpa pernah bertemu dengan kapal-kapal perang Amerika Serikat. Gugus utama Nagumo juga mundur ke arah utara setelah menderita kerugian pesawat dalam jumlah besar, dan bahan bakar yang tinggal sedikit.
C. Pertempuran 25 Agustus
Konvoi bala bantuan di bawah pimpinan Tanaka memperkirakan dua kapal induk Amerika Serikat telah berhasil dilumpuhkan dalam pertempuran setelah mengalami rusak berat. Konvoi bala bantuan Jepang kembali dilayarkan menuju Guadalkanal, dan telah berada dalam jarak 150 mil (240 km) dari tujuan mereka pada pukul 08.00 tanggal 25 Agustus 1942. Pada waktu itu, konvoi Tanaka dikawal oleh 5 kapal perusak yang telah selesai bertugas membombardir Lapangan Udara Henderson dan menyebabkan kerusakan ringan di sana pada malam sebelumnya. Pada pukul 08.05, sejumlah 18 pesawat dari Lapangan Udara Henderson menyerang konvoi Tanaka, mengakibatkan kerusakan berat pada Jintsu, menewaskan 24 awak kapal, dan membuat Tanaka kehilangan kesadaran. Kapal angkut pasukan Kinryu Maru juga terkena dan akhirnya tenggelam. Ketika menghampiri Kinryu Maru untuk menolong para awak kapal dan prajurit, kapal perusak Jepang Mutsuki juga diserang oleh empat pesawat B-17 dari Espiritu Santo yang berhasil menjatuhkan lima bom secara tepat di Mutsuki dan sekitarnya hingga tenggelam dengan segera. Tanaka sudah kembali sadar dan tidak terluka, walaupun terguncang. Setelah dipindahkan ke kapal perusak Kagero, Tanaka memerintahkan Jintsu untuk kembali ke Truk, dan memimpin konvoi ke pangkalan Jepang di Kepulauan Shortland.
Pihak Jepang dan Amerika Serikat keduanya memilih untuk menarik mundur secara total kapal-kapal perang mereka dari daerah pertempuran, dan pertempuran berakhir. Sebelum akhirnya dipulangkan ke Truk pada 5 September 1942, kapal-kapal perang Jepang tetap berkeliaran di dekat utara Kepulauan Solomon, namun jauh dari jangkauan terbang pesawat-pesawat Amerika Serikat yang berpangkalan di Lapangan Udara Hederson.

DAFTAR PUSTAKA
Halimatus sakdiyah, siti. 2008. Geografi Regional Dunia. Malang. Ditjen Dikti Depkes
Suboro,J. (1996). Sejarah Australia. Bandung : Tarsito


Tidak ada komentar:

Posting Komentar