Minggu, 10 Januari 2016

PERANAN SULTAN MENJADIKAN KERAJAAN NGAYOGJAKARTA HADININGRAT MENJADI BAGIAN DARI RI


SHALEHATUL MAWADDAH / SI V
            Pada 17 Agustus 1945 sekitar pukul 12.00 siang. Kantor berita Domei Yogyakarta telah menerima berita proklamasi kemerdekaan Indonesia dari kantor Berita Domei pusat Jakarta. Baru beberapa saat berita diterima,muncul berita susulan dari gunseikanbu agar berita proklamasi jangan sampai diumumkan kepada masyarakat. Namun secara sembunyi-sembunyi berita penting itu menyebar juga dari mulut ke mulut.terutama dikalangan tokoh-tokoh masyarakat dan pemuda. Kebetulan sekali pada hari jum'at sehingga berita proklamasi berhasil disampaikan melalui khotbah di Mesjid Besar Alun-alun Utara dan Masjid Paku Alaman. Pada sore harinya Ki Hajar Dewantara bersepeda keliling kota untuk menyampaikan berita proklamasi kemerdekaan kepada masyarakat.Bagi Sultan
pribadi,Proklamasi kemerdekaan itu merupakan peristiwa yang membuka jalan untuk melepaskan diri dari penderitaan bathin. Sekaligus menempuh jalan bebas guna menentukan sendiri nasib dikemudian hari. Begitu mendengar berita proklamasi kemerdekaan.Sultan segera memanggil Sri Paku Alam VIII dan KRT Honggowongso. Seorang staf senior di kepatihan. Pada waktu itu Sri Sultan minta pertimbangan, "Bagaimana sikap kita sebaliknya". Oleh Paku Alam dikatakan bahwa soal kemerdekaan Indonesia di Jakarta.Sri Sultan kemudian berkata," bahwa memang itulah pendirian saya". untuk selanjutnya KRT Honggowongso diperintahkan mempersiapkan sebuah telegram.
            Oleh sebab itu tidak mengherankan. Jika sehari setelah proklamasi kemerdekaan diumumkan yaitu pada 18 Agustus 1945, Sri Sultan langsung mengirim telegram kepada Sukarno-Hatta an KRT Rajiman Wedidiningrat mantan ketua BPUPKI. Dengan spontan Sultan mengucapkan selama atas terbangunanya Negara Republik Indonesia dan terpilihnya kedua pemimpin itu sebagai Presiden dan wakil Presiden. Tentu saja pengiriman telegram itu tidak diketahui oleh masyarakat luas. Barang kali terbatas pada lingkungan kecil. Yaitu hanya beberapa orang yang dekat dengan Sultan. Disamping mengirim ucapan selamat ke jakarta.Sultan menginstruksikan agar keesokan harinya pukul 09.00 semua pemimpin kelompok-kelompok pemuda berkumpul di Bangsal Kepatihan.
            Pada 19 Agustus 1945 harian"Sinar Matahari" yang terbit di Yogyakarta. Baru memuat berita proklamasi kemerdekaan bersama-sama Undang-Undang Dasar yang telah ditetapkan sehari sebelumnya. Dengan dimuatnya berita tersebut.maka bagi masyarakat luas semakin menjadi jelas bahwa kemerdekaan Indonesia benar-benar telah diproklamasikan. Lebih jelas lagi setelah para pemimpin pemuda memenuhi panggilan Sultan guna menyambut zaman baru yakni Indonesia Merdeka. Mereka hadir mewakili golongan agama. Golongan nasionalis. Kelompok kepanduan dan golongan keturunan Cina yang seluruhnya berjumlah 100 orang. Dalam pertemuan itu Sultan berpidato dan memberi petunjuk mengenai arti kemerdekaan bagi suatu bangsa.
Adapun isi pidatonya antara alin sebagai berikut :
"Kita telah beratus-ratus tahun dijajah bangsa lain. Maka selama itu perasaan kita tertekan dan sekarang kita merdeka. Tentu perasaan yang lepas dari tekanan akan melonjak . Melonjaknya ini yang harus kita jaga. Biarlah melonjak setinggi- tingginya, sepuas-puasnya akan tetapi jangan sampai menyerempet-nyerempet yang tidak perlu, yang bisa menimbulkan kerugian. Menurut sejarah, dimana terjadi perubahan besar dan mendadak seperti yang terjadi di tanah air kita sekarang pemuda senantiasa memegang peranan. Oleh karena itu saudara-saudara saya minta menjaga keamanan masyarakat. Baik di kampung-kampung, di perusahaan-perusahaan, di toko-toko dan lain-lain jangan sampai terjadi kerusuhan, kalau terjadi sesuatu laporkan kepada saya. Dan bertindak sebagai wakil saya dalam hubungannya dengan saudara-saudara adalah Pangeran Bintara."
Untuk mengakhiri pertemuan itu, sekali lagi Sultan menegaskan kepada para pemuda untuk turut menjaga ketertiban umum. "Sanggupkah saudara-saudara sekalian?"hadirin secara serentak menjawab : Sanggup !
Pada hari yang sama Yogyakarta Kooti Hookookai mengadakan sidang istimewa untuk menyambut pengumuman Kemerdekaan Indonesia. Sidang yang mengambil tempat di gedung Sono Budoyo itu telah mengambil beberapa keputusan, yaitu :
           1.         Melahirkan rasa gembira dan syukur kehadapan Tuhan yang Maha Esa atas lahirnya Negara Republik Indonesia
      2.      Menyatakan dengan keyakinan seteguh-teguhnya kepada Pemerintah Indonesia akan mengikuti dan tunduk tiap-tiap langkah dan perintahnya:
          3.         Mohon kepada Ilahi agar negara Indonesia Indonesia berdiri kokoh teguh dan abadi.
Keesokan harinya yaitu 20 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengku Buwana IX selaku Ketua Yogyakarta Kooti Hookookai untuk kedua kalinya mengirim telegram kepada Presiden dan Wakil Presiden. Dalam telegram ini ia secara tegas menyatakan " sanggup berdiri di belakang pemimpin Paduka yang Mulia". Kedua pernyataan diatas selalu diikuti dengan jalan yang sama dari Sri Paku Alam VIII. Tindakan tersebut menunjukan betapa tegas dan positif sambutan Republik Indonesia.Namun demikian disadari juga bahwa pengiriman kedua telegram itu masih bersifat pribadi. Belum mencerminkan aspirasi dan kehendak rakyat.
Selain itu Sultan berkenan pula memberikan sambutan tertulis,seprti dimuat dalam harian Sinar Matahari. Isinya antara lain sebagai berikut :
"Sekarang kemerdekaan telah berada ditangan kita,telah kita genggam,nasib nusa dan bangsa adalah ditangan kita pula,tergantung pada kita sendiri.kita harus menginsyafi,bahwa lahirnya Indonesia merdeka itu dalam masa kepentingan.maka semua tiada kecualinya,harus bersedia dan sanggup mengorbankan kepentingan kita bersama,ialah menjaga,memelihara dan membela kemerdekaan nusa dan bangsa.
Sekarang bukan waktunya mengemukakan dan memperbesar segala pertentangan dan perselisihan faham.tiap-tiap golongan harus sanggup menyampingkan kepentingannya.sanggup untuk mencapai persatuan yang baru dan kokoh sehingga bangsa Indonesia mendapatkan senjata untuk memperjuangkan kemerdekaannya. Buat menyelesaikan tanggung jawabnya terhadap angkatan-angkatan Bangsa Indonesia yang akan datang dan membikin sejarah yang gemilang".
Sambutan diatas secara jelas Sultan mengajak bangsa Indonesia untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Guna mempertahankan kemerdekaannya.
Sementara itu dalam upaya menindaklanjuti amanat proklamas.pada tanggal 24 Agustus 1945 dengan dukungan Sultan dan Paku Alam,rakyat membentuk Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Pembentukan itu terjadi dua hari setelah Presiden Sukarno mengeluarkan maklumat pendirian Komite Nasional Indonesia (KNI).Adapun angotaKNID diambil dari berbagai lapisan masyarakat. Oleh karena itu baik Sri Sultan maupun Paku Alam mengakui KNID sebagai badan perwakilan rakyat.
Pada awal September 1945. Sesudah KNID terbentuk. Sultan mengadakan pembicaraan-pembicaraan dengan Sri Paku Alam VIII. Ki Hajar Dewantara dan beberapa tokoh lain seperti Purwokusumo dari hasil pembicaraan itu Sultan dapat menyimpulkan, bahwa rakyat Yokyakarta menyambut proklamasi kemerdekaan itu dengan rasa lega. Melihat kenyataan yang ada maka atas persetujuan KNID Sri Sultan mengeluarkan amanat 5 september 1945. Secara tegas dinyatakan bahwa daerah Kesultanan Yoyakarta adalah bagian dari Republik Indonesia dengan kedudukan
Daerah Istimewa. Dibawah ini dapat kita ketahui pengakuan Sri Sultan sendiri sehubungan dengan dikeluarkannya amanat 5 september itu :
"baru tanggal 5 September saya berani berbicara atas nama rakyat di sini. Saya menyatakan demikian itu oleh karena perhitungan saya, dus keyakinan saya bahwa suatu waktu Belanda akan datang di Yogya. Kalau itu terjadi maka dengan pernyataan itu saya tidak bisa diadu domba dengan para intelektuil. Para politisi dan rakyat di Yokyakarta ini perhitungan saya untuk menyatakan bahwa Yogya itu adalah bagian dari pada Republik Indonesia".
Amanat itu secara keseluruhan memuat tiga pernyataan,yaitu           :
AMANAT
Sri Paduka Ingkang Kanjeng Sultan Kami Hamengku Buwana IX. Sultan Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat, menyatakan         :
1.      Bahwa Negeri Ngayogyakara Hadingrat yang bersifat kerajaan adalah daerah Istimewa dari Negara Republik Indonesia.
2.      Bahwa Kami sebagai Kepala Daerah memegang kekuasaan dalam Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat,dan oleh karena itu segala ursan pemerintahan dalam Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat mulai saat ini berada ditangan kami dan kekuasaan-kekuasaan lainnya Kami pegang seluruhnya.
3.      Bahwa perhubungan antara Negeri Ngayogkarta Hadiningrat dengan Pemerintah pusat Negara Republik Indonesia,bersifat langsung dan kami bertanggung jawab atas Negeri Kami langsung kepada Presiden Republik Indonesia.

Kami memerintahkan supaya segenap penduduk dalam Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat mengindahkan Amanat Kami ini.                    
                                                                                                                                                                                               Ngayogyakarta Hadiningrat
                                                                                                                                        28 Puasa Ehe 1876
                                                                                                                                             atau 5-9-1945 
                                                                                                                                         Hamengku Buwono IX                                                                                                                                                                             
     
Pada saat yang hampir bersamaan,Sri Paku Alam VIII juga mengeluarkan amanat serupa yang isi dan kata-katanya persis sama untuk Projo Pakualaman.
                        Keesokan harinya, 6 September 1945 Presiden Sukarno mengutus dua orang Menteri Negara yaitu Mr. Sartono dan Mr. Maramis untuk datang di Yogyakarta. Kedatangan mereka itu dalam rangka menyampaikan "Piagam Kedudukan Sri Sultan" dari Presiden Republik Indonesia. Adapun isi piagam kedudukan itu adalah sebagai berikut            :
Kami, Presiden Republik Indonesia,menetapkan  :
Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalogo. Abdulrachman Syidin Panotogomo Kalifatullah ingkang kaping IX ING Ngayogyakarta Hadiningrat pada kedudukannya,dengan kepercayaan, bahwa Sri Paduka Kangjeng Sultan akan mencurahkan segala fikiran, tenaga, jiwa dan raga untuk keselamatan Daerah Yogyakarta sebagai bagian dari pada Republik Indonesia.
                                    Jakarta, 19 Agustus 1945         
                                Presiden Republik Indonesia   
                                                               ttd                                  


                                 Ir.Soekarno

Piagam kedudukan tersebut berisi pengakuan pemerintah kepada Kesultanan Yogyakarta sebagai bagian dari Republik Indonesia.  Sekaligus memperkuat kedudukan Sultan dalam memimpin Yogyakarta. Piagam kedudukan itu sebenarnya tertanggal 19 Agustus 1945,hanya sehari setelah Sultan Hamengku Buwono IX mengirim telegram ucapan selamat kepada Presiden dan Wakil Presiden. Namun karena adanya beberapa faktor yang belum jelas,kemungkinan juga, karena faktor kepastian sikap, barulah setelah keluar Amanat 5 September 1945, Piagam kedudukan itu disampaikan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
                        Menurut Soedarisman Poerwokoesoemo, pada permulaan revolusi di seluruh Indonesia terdapat kurang lebih daerah swapraja. Akan tetapi hampir semua daerah swapraja itu tergilas oleh roda revolusi, kecuali swapraja Paku Alaman. Kedua daerah tersebut dengan segera setelah Proklamasi Kemerdekaan, bersatu menyambut dan menyatakan diri sebagai bagian dari Negara Republik Indonesia, yang pada akhirnya menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dengan demikian, lahirlah Daerah Istimewa Yogyakarta sesuai ketentuan pasal 18 UUD 1945. Dalam pasal tersebut ditegaskan bahwa      :
                        "Pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil, dengan bentuk susuna pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang, dengan memaandang dan mengingati dasar permustawaratan dalam sistem pemerintahan Negara, dan hak-hak asal-usul dalam daerah-daerah yang bersifat istimewa".
Selanjutnya dalam penjelasan resmi dari pasal 18 UUD 1945 yang bertalian dengan Daerah Istimewa dinyatakan bahwa:
"Dalam teritoir negara Indonesia terdapat +  250 Zelfbesturende landschappen dan Volksgemeenschapen seperti desa di Jawa dan Bali, negeri Minang Kabau, dusun dan marga di Palembang dan sebagainya. Daerah-daerah itu mempunyai susunan asli,dan oleh karenanya dianggap sebagai daerah yang bersifat Istimewa. Negara Republik Indonesia menghormati kedudukan daerah-daerah istimewa tersebut dan segala peraturan negara yang mengenai daerah itu akan mengingati hk asal-usul daerah tersebut".
Bertitik tolak dari derap langkah Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam menyambut dan mendukung cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945, Amanat 5 September jelas bukan untuk kepentingan pribadinya. Kesemuanya itu didasarkan pada nasib masa depan bagi kerajaan dan rakyat Yogyakarta. Memang sejak semula Sultan menyadari bahwa kemerdekaan itu merupakan kepentingan bangsa yang besar, bukan kepentingan daerah-daerah. Oleh sebab itu pernyataan bahwa Kesultanan  Yogyakarta merupakan bagian dari RI bukan sekedar kebetulan dan juga tidak direncanakan. Dengan kata lain bahwa bergabungnya Yogyakarta dengan pemerintah RI, juga tidak didasarkan pada perhitungan "untung-Rugi" secara bisnis. Akan tetapi pernyataan itu terjadi karena keikhlasan dalam perjuangan yang dilandasi oleh semangat kebangsaan.

DAFTAR PUSTAKA                       

1.      A.H. Nasution, Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia. Bandung: Angkasa, 1977.
2.      Biografi Pahlawan Nasional, Sultan Hamengku Buana IX, Debdikbud, 1998, Jakarta. Hlm. 31
3.      Badan Musyawarah Musea Daerah Istimewa Yogyakarta Perwakilan Jakarta, Sejarah Perjuangan Yogya Benteng Proklamasi (Jakarta : Barahmus, 1985) hl. 48-49.
4.      http://www.sejarahnusantara.com/…/sejarah-kesultanan-ngayogyakarta-hadiningrat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar