Selasa, 12 Januari 2016

Masyarakat Sipil Eropa Dukung Kepulauan Marshall melawan Senjata Nuklir

FADILLAH RACHMAN / 14A / SO

A.    Sejarah singkat Marshall
Kepulauan Marshall (Marshall Islands) adalah negara kecil di Mikronesia, di wilayah Samudra Pasifik. Kepulauan ini terdiri dari daratan dengan luas total 181 km persegi dan terletak berdekatan dengan Negara Federasi Mikronesia, Nauru, dan Kiribati. Kepulauan Marshall (Marshall Islands) adalah negara kecil di Mikronesia, di wilayah Samudra Pasifik. Kepulauan ini terdiri dari daratan dengan luas total 181 km persegi dan terletak berdekatan dengan Negara Federasi Mikronesia, Nauru, dan Kiribati. Kepulauan Marshall pertama kali dihuni oleh orang Mikronesia dari Asia ribuan tahun yang lalu.
Orang Eropa pertama melakukan kontak dengan kepulauan ini ketika kapal Spanyol mendarat di awal abad ke-16. Meskipun kapal Eropa terus secara sporadis mengunjungi Kepulauan Marshall untuk menambah perbekalan, namun frekuensi kunjungan tetap rendah sampai beberapa abad kemudian. Pada akhir abad ke-18, seorang kapten Inggris, John Marshall, mendarat di kepulauan tersebut yang kemudian dinamakan sesuai dengan namanya. Spanyol mengklaim Kepulauan Marshall pada akhir abad ke-19 dan harus berkonflik dengan Jerman yang juga mengklaim wilayah yang sama. Spanyol akhirnya membayar Jerman untuk mendapatkan konsesi dan mendirikan pos untuk memanen kelapa.
Selama Perang Dunia I, Jepang mengambil alih kontrol Kepulauan Marshall sampai Amerika Serikat merebutnya dari Jepang pada tahun 1944 saat pertempuran Pasifik. Setelah perang, Amerika Serikat menjadikan Kepulauan Marshall sebagai Territory Trust dan pada dekade berikutnya menggunakan atol di berbagai bagian kepulauan untuk pengujian senjata nuklir. Pada tahun 1979, Kepulauan Marshall mengesahkan konstitusi dan diberikan otonomi dengan Amerika Serikat terus mengawasi secara longgar. Pada tahun 1986, Kepulauan Marshall dinyatakan benar-benar independen dari Amerika Serikat, dengan Compact of Free Association mensyaratkan Amerika Serikat tetap diperbolehkan menggunakan beberapa pulau untuk instalasi militer sebagai pertukaran dengan bantuan keuangan.
Kepulauan Marshall memiliki ribuan pulau karang dan menjadi surga untuk berjemur sambil menikmati pemandangan pantai yang indah. Penduduk kepulauan Marshall terus hidup secara tradisional di banyak pulau-pulau terpencil dan seakan tidak terpengaruh dengan perkembangan dunia yang begitu cepat. Atol Majuro adalah pusat negara sekaligus wilayah paling modern yang dilengkapi dengan penginapan dan restoran bagi pengunjung. Atol Arno adalah atraksi yang banyak dikunjungi wisatawan. Selain itu, masih terdapat banyak atol lain yang bisa dikunjungi diantara lebih dari 100 atol yang ada.
B.     Sejarah Modern Kepulauan Marshall : Masyarakat Sipil Eropa Dukung Kepulauan Marshall melawan  Senjata Nuklir
Menjelang Konferensi Wina Kongres Wina  yang terbentuk pada tahun 1815 yaitu sebuah pertemuan antara para wakil dari kekuatan-kekuatan besar di Eropa. Pertemuan ini dipimpin oleh negarawan Austria, Tujuannya adalah untuk menentukan kembali peta politik di Eropa setelah kekalahan Perancis kekuasaan Napoleon pada musim semi sebelumnya. Mengenai Dampak Kemanusiaan Senjata Nuklir pada 8-9 Desember, aktivis dari berbagai negara berkumpul di ibukota Austria itu untuk mengikuti forum masyarakat sipil yang diorganisasi International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (ICAN) pada 6 & 7 Desember.
Salah satu isu yang dibahas adalah gugatan hukum Kepulauan Marshall melawan Amerika Serikat dan delapan negara bersenjata nuklir lainnya yang diajukan ke Mahkamah Internasional pada April 2014, mengecam lebih dari 60 ujicoba nuklir yang dilakukan di wilayah negara kepulauan kecil itu antara 1946 dan 1958. Lokasi itu dipilih bukan hanya karena ia wilayah paling terisolasi di dunia tapi juga saat itu ia adalah Wilayah Perwalian Kepulauan Pasifik (Trust Territory of the Pacific Islands) yang diperintah Amerika Serikat. Pemerintahan sendiri dicapai pada 1979, dan kedaulatan penuh pada 1986.
Penduduk Kepulauan Marshall tidak diberitahu atau dimintai izin dan untuk waktu lama tidak menyadari bahaya dari ujicoba tersebut bagi komunitas lokal.
Konsekuensinya begitu parah, dari pemindahan warga hingga pulau-pulau terkena radiasi berat dan tak bisa ditempati selama ribuan tahun. Negara-negara yang bertanggungjawab membantah kerusakan dari praktik tersebut dan menolak menyediakan perawatan kesehatan yang layak. Castle Bravo adalah nama kode yang diberikan untuk ujicoba bom nuklir pertama Amerika Serikat pada 1954 dan 1000 kali lebih dahsyat dari bom yang dijatuhkan di Hirosima pada 1945. Menanggapi forum ICAN, Menteri Luar Negeri Kepulauan Marshall Tony de Brum menjelaskan bahwa negaranya memutuskan mendekati ICJ untuk mengambil sikap demi dunia yang bebas dari senjata nuklir. De Brum mengatakan, Kepulauan Marshall tak mencari kompensasi, sebab Amerika Serikat telah menyediakan jutaan dolar untuk kepulauan ini, namun ingin meminta pertanggungjawaban negara-negara atas aksi mereka yang melanggar Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (NPT) dan hukum kebiasaan internasional.
NPT, yang mulai berlaku pada 1970, menetapkan negara-negara bersenjata nuklir untuk melucuti senjata nuklir dan penggunaan kekuatan nuklir untuk tujuan damai. Sembilan negara yang kini memiliki senjata nuklir adalah Amerika Serikat, Inggris (United Kingdom), Prancis, Rusia, China, India, Pakistan, Korea Utara, dan Israel. Kendati dalam tingkat tertentu pelucutan senjata telah dilakukan sejak akhir Perang Dingin, sembilan negara ini masih memiliki sekitar 17.000 senjata nuklir dan secara global menghabiskan 100 milyar dolar per tahun untuk kekuatan nuklir.
Kasus Kepulauan Marshall, yang mendapat perhatian dan dukungan dari berbagai organisasi di seluruh dunia, sering disebut sebagai "David vs Goliath". Salah satu pendukung utamanya adalah Nuclear Age Peace Foundation (NAPF) di mana David Krieger, ketuanya, mengatakan: "Kepulauan Marshall adalah negara kecil pemberani. Ia bukan negara yang akan ditundukkan, bukan pula yang akan menyerah". "Ia tahu bahaya dari senjata nuklir," dia melanjutkan, "dan berjuang di pengadilan demi mempertahankan kemanusiaan. Penduduk Kepulauan Marshall layak mendapat dukungan dari kita dan penghargaan karena membawa perjuangan ini ke Pengadilan Federal Amerika Serikat dan Mahkamah Internasional, pengadilan tertinggi di dunia."
Pendukung kuat lainnya adalah Soka Gakkai International (SGI), organisasi Budha yang melakukan advokasi untuk perdamaian, kebudayaan, dan pendidikan serta punya jaringan 12 juta orang di seluruh dunia. Gerakan pemuda SGI bahkan meluncurkan petisi "Nuclear Zero" dan memperoleh lima juta tandatangan di Jepang dengan tuntutan dunia yang bebas dari senjata nuklir.
Kampanye itu didorong peringatan 70 tahun bom atom Hirosima dan Nagasaki pada 2015 serta penyelenggaraan Konferensi Peninjauan Ulang Perjanjian Nonproliferasi Nuklir tahun 2015. Menanggapi ICAN, de Brum mendesak para peserta mendukung aksi Kepulauan Marshall. "Untuk waktu lama," dia bilang, "penduduk Marshall tak punya suara yang cukup kuat dan keras agar dunia mendengar apa yang terjadi pada mereka dan mereka tak ingin hal itu terjadi pada orang lain." Dia melanjutkan, ketika ada kesempatan mengajukan gugatan untuk menghentikan "kegilaan senjata nuklir", Kepulauan Marshall memutuskan mengambil langkah itu, menyatakan dalam gugatannya: "Jika bukan kita, siapa? Jika tak sekarang, kapan?"
De Brum mengatakan, banyak yang coba mencegah negaranya mengambil langkah ini karena akan mustahil dan tak masuk akal bagi sebuah negara berpenduduk 70.000 jiwa melawan negara-negara terkuat di dunia mengenai sebuah isu yang paling diperdebatkan. Namun, dia bilang, "tak satu pun warga Kepulauan Marshall yang tak merasakan satu atau efek lain dari jangkauan ujicoba nuklir. " karena kami mengalami langsung efek senjata nuklir kami merasa punya mandat untuk melakukan apa yang harus kami lakukan."Konferensi Wina mengenai Dampak Kemanusiaan Senjata Nuklir adalah yang ketiga dari rangkaian konferensi semacam itu. Pertama digelar di Oslo, Norwegia, pada Maret 2013, dan kedua di Nayarit, Meksiko, pada Februari 2014.
Daftar Pustaka
Asril,M.Pd. Sejarah Australia dan Oceania.Pekanbaru:FKIP Universitas Riau.
Hudaidah.2004.Sejarah Australia dan Oceania.Palembang:FKIP UNSRI
https://id.wikipedia.org/wiki/Kongres_Wina
https://id.wikipedia.org/wiki/Marshall

Daftar Kutipan
Budi Setiyono. Intern Press Service News Agency. Jurnal

1 komentar:

  1. Saya sekeluarga mengucapkan banyak trima kasih kepada AKI MUPENG karena atas bantuannyalah saya bisa menang togel dan nomor gaib hasil ritual yang di berikan AKI MUPENG bener-bener dijamin tembus dan saat sekarang ini kehidupan saya sekeluarga sudah jauh lebih baik dari sebelumnya itu semua berkat bantuan AKI kini hutang-hutang saya sudah pada lunas semua dan.sekarang saya sudah buka usaha sendiri. jika anda mau bukti bukan rekayasa silahkan hubungi/sms AKI MUPENG di 0852 9445 0976, atau KLIK DISINI, insya allah angka beliau di jamin tembus dan beliau akan menbantu anda selama 3x putaran berturut-turut akan memenangkan angka togel dan ingat kesempatan tidak datang 2x,trima kasih.

    BalasHapus