Selasa, 05 Januari 2016

LATAR BELAKANG TERBENTUKNYA KOLONI AUSTRALIA BARAT


YARA TIFANNY / SAO / 14 B

Selama abad ke-17 dan ke-18 pantai barat Australia mendapat banyak kunjungan pelaut-pelaut Belanda dalam pelayaran mereka dari dan ke Indonesia, terutama setelah pelayaran Brouwer. Pelaut Inggris yang pertama sekali mengunjungi daerah ini adalah William Dampier. Dua kali Dampier mengunjungi daerah ini, yang pertama dengan kapal Cygnet, ia mengunjungi Buccaneers Archipelago, dan yang kedua dengan kapal Roebuck ia mencapai pantai yang diberi nama Shark Bay. Sampai pada saat itu, baik Belanda maupun Inggris belum berniat menduduki daerah tersebut.

Dalam abad ke -18, ekspedisi penyelidikan ilmiah Perancis di bawah pimpinan Baudin, melakukan penyelidikan dan pemetaan terhadap banyak pantai bagian barat Australia. Kunjungan kapal-kapal Peracis ke Australia ini menimbulkan kecurigaan Inggris, karena selain mengunjungi pantai Australia Barat, pelaut-pelaut Perancis sering juga berlayar di Selat Bass. Setelah menduduki bagian-bagian tertentu dari Australia, tentu Inggris tidak mau ada bangsa lain yang menduduki Australia. Ketakutan didahului oleh Perancis, mendorong gubernur New South Wales, Darling, mengirimkan Mayor Lockyer beserta pasukan pada tahun 1827 untuk mendirikan pos di Albany atau King George Sound.
Pada tahun 1827 itu juga, Kapten James Stirling, dengan menggunakan kapal H.M.S. Success menyelidiki daerah Swan River. Nama Swan River ini sebenarnya diberikan oleh seorang orang Belanda bernama Vlaming. Ketika Vlaming mengunjungi daerah itu ia melihat di sana sejenis angsa berwarna hitam yang dalam bahasa Belanda diungkapkan dengan "een soorte van swarte swanen", sehingga ia menyebut daerah itu dengan Swanerevier. Rupanya Stirling sangat tertarik pada apa yang dilihatnya, lebih-lebih karena ahli botani yang menyertainya, Fraser, memberikan gambaran yang bersemangat tentang keindahan sungai dan kebaikan tanahnya. Dalam laporan resmi maupun dalam surat-surat pribadi untuk mempengaruhi orang-orang, James Stirling mengatakan betapa tingginya nilai daerah yang ditemukannya itu. Ia mengatakan daerah itulah yang paling menarik dari seluruh daerah yang pernah dilihatnya. Menurut dia, daerah Swan River memenuhi segala persyaratan sebagai tempat pemukiman, karena itu jangan sampai dibiarkan terlalu lama tidak diduduki [1]
Setelah menerima laporan dari Stirling, gubernur Darling sangat menginginkan agar di daerah Swan River segera dibuka koloni. Berdasarkan laporan Stirling, Darling berpendapat bahwa kemungkinan pengembangan pemukiman di Swan River jauh lebih baik dari pada pemukiman yang telah dimulai oleh Lockyer di Albany. Untuk mewujudkan keinginannya itu Darling menyuruh James Stirling ke Inggris, agar dapat menyampaikan secara langsung kepada pemerintah Inggris tentang kebaikan dan kemungkinan pengembangan daerah Swan River. Namun sekalipun dilengkapi dengan rekomendasi kuat dari gubernur Darling, usahaa Stirling membujuk pemerintah Inggris agar membuka koloni di Swan River, tidak berhasil, terutama karena faktor biaya.
Gagal membujuk pemerintah, Stirling lalu mendekati orang-orang pemilik modal. Dengan penuh semangat ia menceritakan keindahan sungai yang ditemukannya serta kekayaan dan kesuburan tananhnya. Kali ini ia berhasil, dan beberapa orang kaya memutuskan untuk membuka koloni baru, koloni yang berbeda dengan yang sebelumnya. Diputuskan untuk tidak membawa narapidana, akan tetapi akan membawa pekerja keras. Koloni yang akan dibuka itu bukan "convicts settlement" tetapi koloni tempat menginvestasikan modal.
Tokoh terkenal dari rencana baru ini adalah Thomas Peel. Ia membentuk satu sindikat atau kongsi yang akan mempersiapkan 10.000 emigran ke Swan River. Ia merencanakan akan menginvestasikan £ 300.000, dan meminta agar pemerintah memberikan tanah dengan perhitungan 1 arce untuk setiap 1 s.6 d.uang yang digunakan untuk membuka koloni itu. Kalau permintaan ini terpenuhi, berarti pemerintah harus memberi grant tanah seluas 4.000.000.arce. Akan tetapi pemerintah hanya bersedia memberikan grant tanah seluas 1.000.000.arce. Setiap penghuni atau imigran akan memperoleh satu blok tanah seluas 40 arce untuk setiap £ 3 yang digunakan untuk membuka koloni itu. Jika ia mengolah tanah itu, dan menginvestasikan uang atasnya, maka tanah itu menjadi hak miliknya. Sindikat Peel tidak menerima penawaran pemerintah tetapi Peel secara pribadi menerimanya. Lalu ia menginvestasikan uang sebesar £ 50.000.dalam rencana itu, dan membujuk yang lain juga agar mau melakukan hal yang sama. Ia menyewa kapal dan membawa 300 pekerja (Scott,1943;Portus,1957).
Bersama rombongan pertama, berangkat juga Kapten stirling yang di angkat menjadi letnan gubernur koloni baru itu. Rombongan pertama ini tiba pada tahun1829 dan mandarat di dekat kota yang sekarang bernama Fremantle. Setelah menyelidiki tempat yang baik bagi kedudukan ibu kota, Stirling memutuskan menetap di suatu tempat yang sekarang bernama perth, sedikit di sebelah utara Fremantle. Dari sinilah berkembang daerah yang sekarang dikenal sebagai negara bagian (state) Australia Barat (Westem Australia).
Setelah rombongan pertama ini, menyusul rombongan-rombongan berikutnya. Dalam enam bulan pertama saja sudah ada 1.300 penduduk di pemukiman baru itu bersama-sam dengan ternak(sapi), biri-biri, alat-alat serta benih-benih tanaman. Lebih dari setengah juta arce tanah telah dibagi-bagikan, akan tetapi hanya sedkit dari tanah itu yang di jadikan tanah pertanian. Tidak seluruh tanah yang sudah di bagikan itu di tempati. Di sini mereka menghadapi masalah. Sumber pertama masalah adalah keterbatasan tanah yang baik. Ternyata tidak tersedia cukup banyak tanah yang baik sesuai dengan yang di harapkan. Sumber kedua adalah kebijaksanaan yang keliru dalam hal pembagian tanah. Orang yang membagikan uang paling banyakdiberi kesempatan pertama untuk memilih lokasi tanah yang menjadi miliknya. Tentu saja mereka ini memilih lokasi yang paling dekat ke Perth, dan pilihan mereka jatuh pada tanah-tanah yang terbaik.
Dengan demikian, mereka yang hanya memiliki modal kecil akan mendapat tanah yang jauh dari Perth, jauh dari pusat, dengan kondisi alat-alat komunikasi yang sangat miskin. Mereka hidup terpencar-pencar dengan jarak yang cukup berbahaya jika mendapat serangan dari pihak lain, misalnya penduduk asli. Sementara itu para imigran itu juga keliru menafsirkan pengertian dana atau uang yang diinvestasikan untuk membuka koloni itu. Beberapa di antara mereka mengira bahwa semua harga yang di bawa ke koloni itu akan dihitung sebagai dana yang diinvestasikan membuka koloni itu, sehingga mereka membawa kursi-kursi, piano, dan alat-alat rumah tangga lainnya, sedangkan di sana mereka belum mempunyai rumah, dan juga tidak memiliki alat untuk mengangkut barang-barang itu dari pantai. Akhirnya banyak barang-barang itu yang di tinggalkan saja di pantai sampai rusak. Dapat di bayangkan bahwa pada permulaan berdirinya koloni Australia Barat ini, banyak imigran yang kecewa [2]
Masalah lain yang tidak kurang parahnya, adalah masalah akibat kekurangan tenaga pekerja. Bersama dia, Peel membawa 300 orang pekerja. Namun harus diingat bahwa mereka ini adalah pekerja bebas. Mereka menuntu upah yang tinggi. Dan apabila mereka sudah cukup lama bekerja serta rajin menabung, dan hasil tabungannya itu mereka sudah mampu membeli tanah sendiri, lalu meninggalkan majikannya. Peel mendapat 250.000 arce tanah sesuai dengan jumlah uang yang diinvestasikannya, namun ia tidak mampu mengolah semuannya itu kerena tidak mempunyai tenaga kerja yang cukup. Kurang pengalaman sebagai pionir, menyebabkan Peel menjadi majikan tanpa pembantu. Ternak-ternaknny pun menghilang tanpa bisa dijaga.
Faktor lain yang menghambat kemajuan koloni baru itu adalah sikap para imigran yang datang bukan untuk menjadi petani atau peternak, tetapi lebih suka menjadi spekulan. Mereka datang menuntut tanahnya, lalu menjualnya lagi untuk memperoleh keuntungan, para pegawai pun dibayar dengan tanah, namun tidak mengusahakannya. Petani yang sungguh-sungguh mau berusaha tidak mendapatkan tanah yang baik, dan kalau mereka mendapatkanya, mereka tidak memiliki pekerja. Secara teoritis, seorang petani paling sedikit memiliki dua hal, yaitu tanah yang baik dan pekerja yang cukup.
Kondisi seperti diuraikan di atas itu, menyebabkan banyak pihak yang mengatakan bahwa missi Peel lebih dekat untuk dikatakan gagal daripada berhasil. Gambaran awal koloni itu kiranya dekat direfleksikan oleh perkembangan penduduk sampai tahun 1832. Penduduk yang berjumlah 1.300 dalam tahun 1829 berkembang menjadi 4.000 dalam tahun 1830, akan tetapi menurun lagi menjadi 1.500 pada tahun 1832 (Scott, 1943). Gambaran di atas juga juga sekaligus menujukkan bahwa koloni itu tidak mati. Stirling yang memerintah sampai tahun 1838 berusaha mengiatkan eksplorasi untuk mendapatkan lagi tanah-tanah yang lebih cocok, baik untuk pertanian maupun untuk peternakan. Secara lambat koloni itu berkembang. Di sekitar tahun 1840 ternak sudah mencapai jumlah lebih besar 30.000 ekor, terutama biri-biri yang pada saat itu itu sangat menguntungkan.
Jumlah penduduk sudah naik lagi menjadi 2.350 orang. Namun dalam tahun 1842 terjadi lagi kejutan dalam perkembangan koloni itu. Pada tahun itu pemerintahan Inggris mengeluarkan satu aturan (undang-undang) yang berisi bahwa tanah-tanah di seluruh koloni Australia tidak akan di jual di bawah haraga £ 1per arce, termasuk di Australia Barat. Peraturan ini menyebabkan para imigran enggan memasuki Australia Barat, sebab orang akan lebih tertarik membeli tanah di daerah pantai timur atau tenggara Australia dari pada di bagian barat, sebab tanah-tanah di sana relatif lebih baik. Dengan demikain dana untuk mengangkut tenaga kerja ke Australia Barat menjadi seret karena dana untuk itu bersumber dari hasil penjualan tanah.
Pada akhirnya Australia Barat mengambil langkah " berani". Pada tahun 1848 gubernur yang baru saja diangakt, Sir Charles Fitzgerald, membuat rencana baru untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja dengan kemungkinan menerima narapidana. Fitzgerald menyadari bahwa dari semula Australia Barat tidak menerima narapidana, dan pada saat itu (tahun 1840-an) koloni-koloni lain sudah muali menolak transportasi narapidana. Untuk itu ia menayakan kepada para tokoh utama penduduk bebas, apakah bersedia menerima narapidana.
Untuk beberapa bulan lamanya Fitzgerald berusaha meneliti kemungkinan pelaksaan rencananya itu. Pada awal tahun 1849 diadakan rapat umum di Perth dalam mana disetujui satu revolusi kepada pemerintah Inggris untuk menjadikan Australia Barat sebagai tempat mentransportasikan narapidan. Pemerintah Inggris menrima revolisi tersebut, lalu mengirimkan narapidana kesana. Rombongan pertama tiba dalam bulan juni 1850. Pda saat itu, koloni-koloni lain, kecuali Tasmania, sudah menolak sistem narapidana tersebut [3]
Memang pengalaman di koloni lain memperlihatkan bahwa sistem narapidana itu menimbulkan berbagai komplikasi. Namun khusus buat Australia Barat, apakah mungkiun koloni ini bisa berkembang tanpa tenaga kerja? Bahkan ketika Tasmania pun pada tahun1852 menghapuskan sistem narapidan itu, Australia Barat masuh meneruskannya. Satu hal perlu diingat, bahwa dalam rencana yang baru transportasi narapidan itu di usahakan agar setiap pengiriman narapidana harus di imbangi dengan pengiriman penduduk bebas, dan tidak boleh mengirimkan narapidana wanita. Kedatangan rombongan narapidana itu tepat sekali waktunya karena banyak penduduk meninggalkan koloni itu terbawa arus"gold rush" ke New South Wales dan Victoria.
Australia Barat menerima transportasi narapidana sampai tahun 1868. Selam 18 tahun itu tercatat kemajuan yang menggembirakan. Jumlah penduduk dan biri-biri di koloni itu naik sampai lima kali, luas tanah pertanian bertambah sampai sepuluh kali dan nilai ekspor meningkat teus. Bangunan-banguan untuk kepentingan umum, jalan-jalan serta jembatan-jembatan, semuanya di bangun dengan menggunakan tenaga kerja narapidan tersebut. Di pihak lain pemerintah Inggris mengeluarkan biaya yang cukup tinggi untuk mentransportasikan sekitar 600 orang narapidana dan 300 orang penduduk bebas tiap tahun ke koloni itu.
Dalam menelaah perkembangan Australia Barat, perlu juga di sadari betapa besarnya jasa para penjelajah yang membukakan tabir rahasia koloni yang luas itu kepada penduduknya. Dalam kaitan ini sangat terkenal para penjelajah Gregory bersaudara, A.C. Gregory, H.C. Gregory, dan F.T Gregory, juga bersaudara Forrest, John Forrest dan Alexander Forrest. Di tambah dengan Ernest Giles, para penjelajah inilah yang membukakan tabir rahasia sebagian besar daerah Australia Barat kepada penduduknya. Tanpa ke enam orang tersebut, penduduk Australia Barat hanya mengetahui daerah pantai, dari Shark Bay sampai ke Albany.
Kondisi daerah pedalaman Australia Barat yang sebagaian besar terdiri dari gurun pasir, menyebabkan koloni ini pada mulanya terasing dari koloni-koloni yang lain di bagian timur benua Australia. Namun keterasingannya itu secara berangsur-angsur dikurangi dengan pembangunan secara komunikasi. Pada tahun 1877 telegraf yang menghubungkan Perth dengan Adelaide selesai dibangun dan dengan sendirinya juga menghubungkan Australia Barat dengan tempat-tempat lain, dengan mana Adelaide berhubungan. Dalam wilayah Australia Barat sendiri sejak tahun 1871 mulai dibangun jaringan jalan kereta api. Sampai tahun 1893 sepanjang 203 mil jalan kereta api sudah selesai dibangun. Dengan demikian penetrasi pemukiman ke arah pedalaman lebih mungkin dilakukan karena sarana perhubungan ke daerah pedalaman dari daerah pantai, sudah tersedia.
Demikianlah Australia Barat berkembang sangat lambat. Koloni yang tadinya tidak menghendaki "convict system" akhirnya menjadi koloni yang paling akhir meninggalkan sistem itu. Australia Barat jugalah koloni yang paling belakangan melaksanakan pemerintahan sendiri yang ditawarkan oleh pemerintahan Inggris berdasarkan Colonies Government Act tahun 1850. Australia Barat baru melaksanakannya pada tahun 1890 sementara koloni-koloni lainnya sudah melaksanakannya sejak tahun 1850-an. Kemajuan Australia Barat kemudian ditentukan juga oleh ditemukannya kandungan emas yang kaya di Coolgardie (1892) dan di Kalgoorlie (1893). Puluhan ribu orang berbondong-bondong pindah ke Australia Barat, dan semuanya ini turut mewarnai perjalanan sejarah daerah ini [4]
DAFTAR PUSTAKA
  1. Siboro,J. (1996). Sejarah Australia. Bandung : Tarsito
  2. http://riskicandrapratama.blogspot.com/2012/05/perkembangan-koloni-ddi-australia.html
  3. Siboro, J. 1989. Sejarah Australia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan     Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek     Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
  4. Channel, Richard H. 1992. Budaya dan Politik Australia, diterjemahkan oleh          Sujinah Harlinah, Ismu. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar