Minggu, 10 Januari 2016

Dimensi Percintaan Adat Kuantan Singingi


Syadza Adila Putri/PBM/BI
           
            Cinta dalam pengetahuan luas adalah rujukan rasa sayang menyayangi, belas kasih antara Tuhan dan makhluk-Nya, antara sesama makhluk itu sendiri. Helen Keller pun berkata, "Segala yang terbaik dan terindah di dunia ini tak dapat dilihat atau bahkan didengar, tetapi harus dirasakan dengan hati".
            Cinta antara makhluk dan Tuhan, terbina hubungan batin yang sebagian besar diwujudkan melalui pengabdian makhluk itu sesuai dengan agama. Dalam dimensi hubungan antar makhluk khasya antara pihak jenis Adam dan Hawa, cinta telah menjadi pendorong terhadap perkembangan umat manusia. Habiburrahman El – Shirazy berkata, "Bagi orang-orang yang beriman, dimana pun ia bisa rukuk dan sujud kepada Allah, maka ia menemukan bumi cinta. Dan sesungguhnya dunia ini adalah bumi cinta bagi para pecinta Allah Ta'alla. Bumi cinta yang akan mengantarkan kepada bumi cinta yang lebih abadi dan lebih mulia yaitu surganya Allah".

            Dengan demikian, cinta sudah dikodratkan Tuhan sebagai sesuatu kekuatan batin yang sangat istimewa. Jalaluddin Rumi – penyair tanah Persia – memandang "cinta adalah lautan tanpa pinggir, alam hanya segelembung buih disampingnya, putaran alam seluruhnya desakan tenaga cinta, tanpanya alam kaku layu tiada nyawa". Itu adalah suatu penghayatan batin Jalaluddin Rumi, yang menangkap makna cinta dalam tingkat Ilaliah sekaligus memeluk erat alamiah. Sedangkan "muridnya" Mohammad Iqbal menyentuh makna batin cinta dalam kedalaman hati manusia, dengan ujung lidahnya, "gairah ialah gerak pribadi, gairah ialah jerat untuk memburu cita demi cita".

Cinta dalam Pekerjaan
            Marilah kita berganjak pada kehidupan orang Melayu, dengan dasar rujukan orang Melayu di kawasan Kuantan Singingi. Ada tiga kehidupan dalam siklus petani di rantau itu. Pertama musim (turun) ke ladang. Dalam musim ini diolah lading darek (darat) dan ladang rawang (sawah).
            Kegiatannya dalam tiga bulan pertama terdiri dari memanca, yaitu kegiatan marage (membuang) rumput, mencabak atau mangkur (mencangkul) dan membuat tabat (pematang sawah). Dalam masa enam bulan berikutnya, dilakukan pekerjaan menanam padi, menyiang rumput, menyisip, dan menjaga padi sampai masak.
            Musim kedua adalah musim memuai. Kegiatan ini terdiri dari memuai padi, mengangkutnya ke rumah atau menyimpannya dalam kepuk padi dan rankiang (lumbung). Musim ketiga ialah musim mengilang tebu. Kegiatan ini berlangsung sekitar tiga bulan.
            Ketiga musim kehidupan itu dilalui sebagian besar dengan cara bergotong royong. Musim itu boleh dikatakan dunia orang muda-muda dalam hal seni dan dunia percintaan. Seni dipakai sebagai pengantar lambang cinta kasih, telah mendapatkan tempat yang demikian rupa. Sedangkan kegiatan semangat diarahkan bagi kepentingan produksi dan pertanian.
            Musim bermain cinta yang pertama di rantau itu ialan dalam musim turun ke ladang. Ketika itu anak muda di rantau itu membuat semacam organisasi tani yang bernama tobo. Tobo terdiri dari para bujang dan gadis ditambah dengan beberapa janda dan duda yang masih terbilang muda, serta dipimpin oleh seorang induk tobo. Induk tobo mengatur giliran mengerjakan ladang para anggota. Masing-masing kelompok tobo memiliki musik tradisional yang lazim disebut rarak celempong enam. Musik ini terdiri atas enam buah celempong dan sebuah gendang atau rebana.
            Musik tradisional celempong enam mempunyai tiada kurang dari 7 macam lagu. Dengan adanya organisasi tani serupa ini, maka tenaga generasi muda telah diarahkan begitu rupa pada tujuan-tujuan produktif, namun juga pada suasana kreatif. Masing-masing gadis dapat menilai para bujang yang dicintainya, begitu pula sebaliknya. Jika sepasang anak muda telah memutuskan pilihannya, mereka akan memberitahukanya kepada induk tobo. Induk tobo juga berperan sebagai induk mudo, maksudnya ibu atau orang tua bagi para anak muda, dalam upaya mendapatkan calon teman hidup. Segala keterangan mengenai seluk beluk bujang dan gadis, dapat diminta kepada induk mudo itu. Jika tidak ada lagi soal-soal pribadi yang menghalangi tali percintaan antara sepasang kekasih itu, induk mudo baru memberitahukannya kepada pihak keluarga mereka masing-masing.
             
Sentuhan Cinta Bujang Gadis
            Kesempatan bertemu secara bersendirian, dapat dilakukan kira-kira tengah malam, ketika mata tak mau tidur mengingat tangkai hati "intan sebungkah". Pada malam yang sunyi itu sang jejaka boleh "merangkak" kepada rumah gadis idamannya. Si bujang biasanya membawa genggong. Genggong adalah sejenis alat musik dari seuntas getah atau karet, dipetik dengan jari, sedangkan nadanya diatur oleh rongga mulut.
            Ketika si bujang sampai di sudut bilik tidur si gadis, dia akan mengambil tempat di bawah bilik itu dan mulai memainkan genggongnya. Setelah membunyikan genggong, anak jejaka itu mencoba menggoda gadis pujaannya dengan sebuah pantun:
           
            Ayiar selupak dalam talang
            Ayiar di goluak dimandisi
            Kuniang tadogak tonga malam
            Bantal bapoluak ditangisi

            Jika gadis yang dipujanya tidak berkulit kuning (seperti pada pantun pertama) tetapi berkuliat hitam manis, maka segera dia memperbaiki pantunnya:
           
            Limau mani di topi ladang
            Jatua melayang salaronyo
            Itam mani barambuik panjang
            Siang jo malam dimabuaknyo

            Si gadis akan memberi reaksi dengan senyum, dan suara menyindir "jinyo uwo jo nyodu wo" (ah, itu kata abang saja. Bohong!). Bujang itu makin tersentak oleh kata sindirian itu, sehingga tak sempat lagi melanjutkan irama genggongnya, tapi segera membalas:

            Panjang rintai simalinyang
            Tompek manuang paramato
            Panjang rambuik inggo pinggang
            Tompek maurai ayiar mato

            Sambil meragukan keyakinan si bujang itu dia berkata "ndak kan ado jo de wo, kami go urang masikin, ndak kan omua lo uwo do" (tidak mungkin bang, kami ini orang miskin, mana mungkin abang menyukai kami). Si bujang akan menuduh gadis itu telah mencintai pemuda lain, dan membalas:

            Si Upik Siti Ramola
            Babaju cinto babungo
            Dek urang sayang la suda
            Dek awing sadiang paguno

            Pantun itu dibalas lagi di balik dinding oleh si gadis, bahwa itu hanya tuduhan di bibir saja. Oleh karena itu si bujang makin penasaran hatinya, sehingga dikatakannya lagi dengan bahasa kias, bahwa dahulu dialah yang mencintai gadis itu, namun sekarang rupanya telah jatuh ke dalam tangan orang lain:
           
            Tikuluak rekan kasumbo
            Saeto panjang gonjai
            Saisuak awak nan punyo
            Kini la urang kan mamakai

            Ketika gadis itu mulai memberi tanda membuka pintu hatinya, segera dipantuni oleh pemuda itu:

            Masak buah marapolam
            Dimakan anak biapari
            Jawek kasia tarimo solam
            Mintak dipogang sampai mati

            Melihat sang gadis mulai tertarik, anak mudah itu "memanah" sekali lagi dengan pantun yang lebih gairah:

            Pisang kolek kolek lilin
            Babua sapanjangkauan
            Ati la lokek mato da ingin
            Tagak dek kito lun bakotoan

            Pantun ini barulah dapat balasan dari si gadis. Dari tadi ia menahan perasaannya, untuk menguji dan melihat suasana ketangguhan hati pemuda itu, di samping juga untuk menjaga martabat sendiri. Sekarang setelah ia boleh "mengharap" barulah ia membalas:
           
            Malotoi bodial babuni
            Urang menembak pakandangan
            Indak guno kato babuni
            Ati la lulua dek memandang

            "tak perlu lagi banyak bicara, sebab oleh pandang mata saja sudah mencukupi segala-galanya", demikian hendak diucapkan oleh si gadis itu. Maka sang bujang segera menjawab, maka gadis lain akan dia haramkan, sebab hanya ialah satu-satunya kekasih hati:

            Anak balam di ate baru
            Mati di tembak si Badu Rokan
            Surang kau nan paralu
            Nan asiang den haromkan

            Jika benarlah seperti yang disampaikan pantun itu, maka pihak gadispun mempunyai keputusan yang tangguh pula. Hatinya tak akan berkisar oleh godaan siapapun juga, meskipun sepuluh orang meragu:

            Sapulua onau den sagua
            Sebatang rumbio roba
            Kok sapulua urang maragu
            Ambo nan indak kan baruba

            Dengan pantun si gadis itu maka eratlah sekarang tali percintaan mereka. Sang bujang menaikkan bibir genggongnya perlahan, lalu mencoba mengalunkan selengkok lagu, tanda kepuasan hatinya. Sebelum meninggalkan kekasihnya dia membuhul pertemuan itu dengan pantun:

            Pulau Dore tambakan suda
            Pulau dikopuang joaro duo
            Kawan nangul kan dicokao
            Janji la orek kata la suda
            Jan mungkir kito baduo
            Bajonji angul bak timbakau

            Sampai pada baris kalimat ini kita bisa melihat bagaimana dunia percintaan bagi remaja telah di tempatkan dalam suatu dimensi tradisi Melayu. Jika sisi kehidupan anak muda di dunia cinta dibatasi sehabis-habisnya, dia akan sampai pada pelanggaran. Sebab kebutuhan akan cinta juga suatu kebutuhan yang seimbang dengan kebutuhan lain. Kita tidak bisa "maambek kabau balabua" (menghalangi kerbau melahirkan anaknya), jika ditahan maka induk kerbau itu akan mati. Jika bermain muda dihalangu segala-galanya bagi anak muda, mereka akan melanggar segala tata nilai dan peraturan. Konsekuensi yang harus dihadapi adalah, agar mereka tidak terlanjur membuat pelanggaran.
            Jika yang amat serius terhadap norma agama. Pemuda dan gadis kekasihnya sampai berbuat seperti sepasang suami istri, padahal mereka belum menikah. Hukuman yang dijatuhkan terhadap perbuatan aib serupa itu dalam tempo dulu dari pihak yang memegang kendali pemerintahan di rantau itu paling tidak ada dua macam. Pertama, jika setelah ditimbang baik-baik masih ternyata ada segi-segi yang dapat meringankan pasangan tersebut (sehingga pelanggaran itu tidak dapat seluruhnya ditimpakan kepada mereka) maka masih dapat dikawinkan, walaupun tidak lagi dalam tradisi yang berlaku. Ketika tidak ada satupun yang bisa menjadi bahan pertimbangan untuk meringankan mereka, pasangan tersebut terpaksa dimasukkan ke dalam lukah, lalu dibuang ke dalam sungai.

Daftar Pustaka
            Hamidy, UU. 2000. Masyarakat Adat Kuantan Singingi. Pekanbaru: Pusat Pengajian Melayu Universitas Islam Riau

Tidak ada komentar:

Posting Komentar