Rabu, 23 Desember 2015

Problema Agama Islam Akibat dari Genggaman Imprealisme Belanda


Lena Putriana/S/B
Dalam dua dasawarsa menjelang millennium ketiga, berbagai lembaga islam mengalami perkembangan dan perubahan yang cukup Observable. Perkembangan itu pada sebagian lembaga dapat dikatakan sebagai konsolidasi dan pemantapan lembaga-lembaga yang pernah ada pada masa sebelumnya dengan beberapa penyesuaian sesuai dengan perubahan tuntutan zaman. Dan dalam perkembangan itu pula sebagian lembaga mengalami dekonstruksi yang mempunyai akar-akar dalam reorientasi pemikiran itu, pada giliran nya memunculkan lembaga-lembaga baru yang tidak pernah ada pada masa sebelumnya.[1]

Gambaran keadaan kegiatan penyebaran sekaligus pelaksanaan pendidikan islam yang berjalan dengan sangat sederhana dan tidak menemui kendala yang cukup berarti, sampai kedatangan imprealis Erofa Barat. Dimana misi kedatangan nya tidak hanya kegiatan berdagang plus menguasai daerah yang dikuasainya, tetapi juga membawa misi lain yaitu kristenisasi. Sehingga wajar kedatangan bangsa Eropa barat ini menimbulkan reaksi dan pertentangan dimana-mana di kepulauan dinusantara ini. Karena apa yang mereka lakukan di samping merugikan penduduk pribumi, juga merusak tatanan budaya masyarakat yang sudah ada. Begitupun usaha penaklukan yang dilakukan bangsa Eropa atas dunia timur dimulai juga dengan jalan perdagangan. Kemudian dilanjutkan dengan kekuatan militer. Dunia timur pada waktu itu terutama kepulauan nusantara di kenal barat (belanda, spanyol, inggris dll) karena sebagai penghasil rempah-rempah yang untuk bangsa Erofa merupakan komoditi yang sangat langka dan mahal harga nya. Dengan demikian memberi gambaran bahwa kontak-kontak pertama antara pengembangan agama islam dengan berbagai jenis kebudayaan dan masyarakat di Indonesia menunjukan bahwa semacam akomodasi cultural harus ditemukan.
Sejarah juga menunjukan bahwa penyebaran islam kadang-kadang terjadi pula dalam satu kontak intelektual, ketika ilmu di pertentangkan ataupun kepercayaan pada dunia lama mulai menurun. Oleh karena itu ketika kaum colonial belanda berhasil menancapkan kukunya di bumi nusantara dengan misi yang ganda (imprealis dan kristenisasi) justru sangat merusak dan menjungkir balikan tatanan yang sudah di susun rapi sedemikian rupa hancur seketika disaat ada campur tangan dari belanda. Memang diakui bahwa belanda cukup banyak mewarnai perjalanan sejarah islam di Indonesia. Cukup banyak peristiwa dan pengalaman yang di catat belanda sejak awal kedatangan nya di Indonesia. Baik sebagai pedagang perorangan kemudian di organisasikan dalam bentuk kongsi dagang yang bernama VOC maupun sebagai aparat pemerintah yang berkuasa dan menjajah, oleh sebab itu wajar bila kehadiran mereka selalu mendapatkan pertentangan dari raja-raja dan tokoh setempat. Mereka menyadari bahwa untuk mempertahankan kekuasaan nya di Indonesia mereka harus berusaha memahami dan mengerti seluk-beluk penduduk pribumi yang dikuasai nya. Mereka pun tahu bahwa agama penduduk yang di jajah adalah beragama islam. Menurut KH Zainudin Zuhri menggambarkan, bahwa masyarakat Indonesia yang mayoritas umat islam tidak memandang orang-orang barat tersebut, melainkan sebagai penakluk dan penjajah. Mereka kaum imprealis tidak peduli apakah mereka katolik maupun protestan. Dalam dada penjajah tersebut begitu kuat ajaran dan politikus dan licik Machiaveli, yang antara lain mengajarkan:
1.      Agama sangat di perlukan bagi pemerintah penjajah colonial.
2.      Agama tersebut dipakai untuk menjinak kan dan menaklukan rakyat.
3.      Setiap aliran agama yang di anggap palsu oleh pemeluk agama bersangkutan harus dibawa untuk memecah-belah dan agar mereka berbuat untuk mencari bantuan kepada pemerintah colonial.
4.      Janji dengan rakyat tidak perlu ditepati jika itu akan merugikan.
5.      Tujuan dapat menghalalkan segala macam cara.
Meskipun belanda baru mengepak kan sayapnya sebagai colonial, sudah di tantang dan dilawan oleh sultan agung mataram yang di kenal dengan gelar Sultan Abdurrahman Khalifatullah Sayidin Patonogama. Setelah belanda dapat mengatasi perlawanan maupun pemberontakan-pemberontakan dari tokoh politik agama, seperti : pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Pangeran Antasari dan Sultan Agung,dll. Maka sejarah kolonialisme di Indonesia mengambil fase yang baru, yaitu belanda secara politik belanda sudah menguasai Indonesia. Belanda berusaha mengatur pendidikan dan kehidupan beragama yang mereka sesuaikan dengan prinsip-prinsip yang mereka pegang sebagai kaum imprealis dan kolonialis, yaitu kebarat-baratan (Westernisasi) dan misi kristenisasi. Kebijakan belanda dalam mengatur jalan nya pendidikan tentu saja dimaksudkan untuk kepentingan mereka sendiri terutama untuk kepentingan agama kristen. Hal ini terlihat jelas, misalnya ketika Van Den Boss menjadi Gubernur Jendral di Jakarta tahun 1831, keluarnya kebijakan bahwa sekolah-sekolah gereja dianggap di perlukan sebagai sekolah pemerintah. Dengan demikian, meskipun belanda belanda mendirikan lembaga pendidikan untuk kalangan pribumi, tapi semua adalah kepentingan mereka semata. Begitu menghadapi perlawanan ummat islam yang sejak kedatangan nya sudah beraksi dan menentang kehadirannya, yang dipelopori oleh raja dan ulama, mereka berusaha mempelajari secara mendalam sipat-sipat umum islam dengan segala aspek yang di pelajari khusus oleh Prof. Snouck Hurgronje yang dengan nama samaran nya Abdul Ghafar. Ia mempelajari islam diindonesia secara detail dengan mencari celah-celah kelemahan untuk selanjutnya akan dilaporkan kepada belanda dengan disertai saran-saran bagaimana seharusnya berbuat dan menghadapi umat islam di Indonesia dengan maksud penjajahan belanda atas Indonesia bisa berjalan sebagaimana yang mereka harapkan.[2]
Sebenarmya ada dua faktor utama yang menyebabkan Indonesia mudah dikenal oleh bangsa-bangsa lain, khuususnya bangsa-bangsa timur, timur tengah sejak dahulu, yaitu :
1.      Faktor letak geografisnya yang strategis, Indonesia berada di persimpangan jalan raya internasional dari jurusan timur tengah menuju tiongkok, melalui lautan dan jalan melalui benua amerika dan Australia.
2.      Faktor kesuburan tanahnya yang menghasilkan bahan-bahan keperluan hidup yang dibutuhkan oleh bangsa-bangsa lain. Misalnya rempah-rempah.
Sejak zaman VOC ( belanda swasta) kedatangan nya sudah bermotif ekonomi, politik dan agama. Dalam hak aktori VOC terdapat suatu pasal yang berbunyi sebagai berikut "Badan ini harus berniaga di Indonesia dan bila perlu boleh berperang. Dan harus memperhatikan perbaikan agama Kristen dengan mendirikan sekolah". Politik pemerintahan belanda terhadap rakyat Indonesia yang mayoritas islam didasari oleh rasa ketakutan, rasa panggilan agama nya dan rasa kolonialisme nya. Pada tahun 1882 M pemerintahan belanda membentuk suatu badan khusus yang bertugas mengawasi kehidupan beragama dan pendidikan islam yang di sebut dengan " Priesterraden". Atas nasihat inilah  maka pada tahun 1905 M pemerintahan mengeluarkan peraturan yang isinya bahwa orang yang memberikan pengajaran ( baca pengajian) harus minta izin terlebih dahulu. Pada tahun-tahun itu memang sudah terasa adanya ketakutan dari pemerintahan belanda terhadap kemungkinan kebangkitan pribumi. Pada tahun 1925 M pemerintah mengeluarkan peraturan yang lebih ketat lagi terhadap pendidikan agama islam yaitu tidak semua orang (kyai) boleh memberikan pelajaran mengaji. Peraturan itu mungkin disebakan oleh adanya gerakan organisasi pendidikan islam yang sudah tampak tumbuh seperti Muhammadiyah, Partai Syarikat Islam, Al-Irsyad Nahdatul Watan dll. Jika kita lihat dan cermati peraturan-peraturan yang dibuat oleh belanda yang sedemikian rupa ketat dan keras mengenai pengawasan, tekanan dan pemberantasan aktivitas madrasah dan pondok pesantren di Indonesia, maka seolah-olah dalam tempo yang tidak lama pendidikan islam akan menjadi lumpuh atau porak-poranda. Akan tetapi apa yang di dapat di saksikan dalam sejarah adalah keadaan yang sebaliknya, masyarakt islam di Indonesia saat itu laksana air hujan atau air bah yang sulit dibendung. Di bendung disini meluap disana. Jiwa islam tetap terpelihara dengan baik. Para ulama dan kyai bersikap non cooperative dengan belanda. Mereka menyingkir dari tempat yang dekat dengan belanda. Mereka mengharamkan kebudayan yang dibawa oleh belanda dengan berpegang kepada hadist nabi Muhammad SAW yang artinya "barang siapa yang menyerupai suatu golongan maka ia termasuk golongan tersebut."dan mereka berpegang pada ayat al-quran yang artinya " hai orang-orang beriman, janganlah orang yahudi dan nasrani engkau angkat sebagai pemimpin.[3]
Menurut sejarahnya, kaitan nya dengan hukum islam dapat dicatat beberapa "kompromi" yang dilakukan oleh pihak VOC, yaitu:
1.      Dalam statuta Batavia  yang di tetapkan pada tahun 1642 oleh VOC dinyatakan bahwa hukum kawasan islam berlaku bagi pemeluk agama islam.
2.      Adanya komplikasi hukum kekeluargaan islam yang telah berlaku ditengah masyarakat. Usaha ini diselesaikan pada tahun 1760, komplikasi ini dikenal dengan compendium freijer.
3.      Adanya upaya komplikasi serupa diberbagai wilayah lain, seperti di Cirebon, gowa, bone, semarang.
Lemahnya posisi hukum islam ini terus terjadi hingga menjelang berakhirnya kekuasaan hindia belanda diwilayah Indonesia pada tahun 1942.[4]



Kesimpulan
Perkembangan islam di Indonesia sangat signifikan. Mengapa tidak, berbagai tindak-tanduk agama di campur adukan dengan imprealis atau agama di atas semua kepentingan. Belanda adalah salah satu contoh dari sekian banyak Negara yang menyebar luaskan aga di indonseia. Belanda menhalalkan berbagai cara untuk menghalalkan tindakan nya untuk memasuki kehidupan rakyat dengan membawa agama Kristen yang sudah jelas bertentangan langsung dengan islam. Namun belanda tidak tinggal diam. Apabila keagamaan nya tidak berpengaruh bagi masyarakat terhadap apa yang mereka ajarkan, maka mereka membuat semacam peraturan yang menyudutkan keadaaan Indonesia itu sendiri. Seperti mereka yang memegang kekuasaan pemerintahan, tentu dengan mudah mereka mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang menguntungkan mereka sendiri. Sekolah-sekolah gereja dibangun sebagai pembangunan pemerintahan di segi pendidikan. Sedangkan, bagi pendidikan islam di hapuskan atau tidak harus meminta izin dulu kepada pemerintah.




[1] Azyumardi Azra, Islam Reformis Dinamika Intelektual dan Gerakan, (Jakara: PT Raja Grafindo Persada, 2001) cet-2,hal-7
[2] Drs.Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2000), cet-4,hal 41
[3] Dra. Zuhairini,Dkk, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta:Bumi Aksara, 2000) cet-7, hal-127.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar