Rabu, 23 Desember 2015

PERKEMBANGAN POLITIK LUAR NEGERI AUSTRALIA


Ida Nurjannah/PIS/B

1. Fase Sebelum Perang Dunia I
Dilihat dari pengaturan dan pembinaan hubungan luar negeri, tanggal 1 Januari 1901 belumlah merupakan saat permulaan Australia merdeka dan berdaulat secara penuh. Pada awal berdirinya Common wealth of Australia merupakan tonggak sejarah baru bagi Australia. Saat itu merupakan suatu era, dimana enam koloni yang tadinya berdiri sendiri secara terpisah-pisah, bergabung menjadi satu, sehingga Edward (1983) menyebutnya sebagai federasi kolonial. Saat itu satu bangsa siap untuk lahir yaitu Australia. Australia saat itu memasuki suatu era untuk mewujudkan semboyan " a nation for a continent "( Russel Ward,1977 ) yang mana Australia memiliki wewenang untuk mengatur keadaan negaranya sendiri dan terbebas dari Inggris , akan tetapi meskipun keadaan demikian Australia belumlah mampu untuk menjalankan Negara itu sendirian, Australia masih membutuhkan bantuan dari Negara lain terutama dari negara Induknya yaitu Inggris.

Untuk urusan dalam negeri, Australia telah diberi kemerdekaan oleh Inggris, namun untuk urusan luar negeri Australia masih memerlukan pengawasan dari pemerintah Inggris. Australia belum memiliki kemerdekaan penuh untuk urusan luar negeri. Keadaan seperti ini berlangsung karena beberapa keadaan yang mendukung, rakyat dan pemerintah Australia tidak berkeberatan atas pengendalian Inggris terhadap politik luar negerinya. Malah sebaliknya, terdapat suatu ikatan perasaan yang kuat dengan Inggris. Bangsa Australia senang menjadi anggota Inggris Raya.
Sesuai dengan keadaan saat itu, serta hubungan sejarahnya yang sangat dekat dengan Inggris, maka pada tahun awal berdirinya, politik luar negeri Australia bersandar pada pemerintah Inggris. Semua hubungan dengan bangsa lain masih harus diatur oleh pemerintah Inggris, sebagai contoh yaitu yang melibatkan bidang pertahanan, untuk mempertahankan diri dari serangan musuh Australia masih bersandar pada angkatan bersenjata milik Inggris yang saat itu terkenal sangat baik dalam urusan berperang.
Pada saat itu lahirlah sebuah pendapat dari kalangan pemerintah federal Australia bahwa "tidak ada perbedaan kepentingan antara Australia dengan Inggris". Namun akhirnya pendapat ini diuji oleh adanya kepentingan Australia akan suatu pulau di atas mereka yaitu Irian. Keadaan ini telah lebih dahulu disadari oleh Quensland. Quensland menyadari akan perlunya dilakukan pendudukan atas wilayah Irian tersebut guna menghindarkan Australia dari datangnya serangan musuh. Namun akibat dari letak yang sangat jauh dari negara Induknya Inggris, Australia tidak banyak mendapatkan dukungan dari Inggris, meskipun akhirnya Inggris memberikan bantuan sedikit terhadap Australia untuk mempertahankan ataupun menduduki Quensland. Semua itu karena Inggris mengannggap bahwa keadaan tersebut tidak terlalu penting. Akibat dari adanya keadaan yang demikian pemerintah Australia mulai berpikir bagaimana caranya mereka mempertahankan diri mereka sendiri tanpa harus selalu mengharapkan bantuan dari Inggris.
Sejak saat itu Australia melakukan inisiatif sendiri untuk menguasai Irian agar dapat mempertahankan diri mereka dari serangan bangsa luar, terlebih lagi setelah terdengar kabar bahwa akan diadakannya pendudukan oleh Jerman di kawasan Irian lainnya yaitu bagian utara Irian dan pulau-pulau penting lainnya. Kebangunan Asia yang ditimbulkan oleh kemenangan Jepang akan Rusia, nampaknya samar-samar mulai menyadarkan para politisi Australia. Mereka mulai menyadari akan kebangkitannya dunia timur. Ketika pada tahun 1906 pemerintah Inggris menyerahkan tanggung jawab pemerintahan British New Guinea kepada pemerintah Australia.
Pada tahu 1907, bersama-sama dengan koloni yang lain, Australia diberi status dominion. Dengan demikian, statusnya sebagai koloni Inggris selama ini mulai ditinggalkan. Status dominion ini memungkinkan Australia mulai memikirkan untuk melakukan sendiri segala hubungan luar negerinya. Untuk selanjutnya Australia tidak lagi harus ditangani oleh Inggris dalam melakukan hubungan luar negerinya, bahkan sebaliknya Inggrislah yang harus berkonsultasi kepada Australia dalam melaksanakan politik luar negeri, karena terikat oleh kebersamaan dalam British Commonwealth of Nation.
Dalam tahun 1909 Australia mengeluarkan undang-undang yang disebut The Defence Act. Australia mulai mengambil inisiatif sendiri pembinaan pertahanannya. Di Inggris mulai dibangun kapal-kapal perang untuk angkatan laut Australia. Untuk lebih mempersiapkan diri dalam pertahanan ini, sejak tahun-tahun 1911 pemerintah Australia mengharuskan warganya yang memenuhi syarat untuk mengikuti latihan kemiliteran. Angkatan darat pun mulai dibangun, dan dalam tahun 1911 Akademi Militer dibuka di Duntroom. Dalam tahun 1913 squadron pertama Royal Australian Navy memasuki teluk Sydney. Semuanya ini merupakan unsur-unsur penting bagi Australia dalam rangka menampilkan diri sebagai bangsa yang mampu berdiri sendiri, tanpa menyandarkan diri pada Inggris. Namun sampai dengan PD I meletus, Australia belum memiliki kantor perwakilan Australia di luar Negara anggota British Commonwealth of Nations.

2. Hubungan Luar Negeri Australia ketika PD I sampai dengan PD II

Pada masa berlangsungnya Perang Dunia I, Australia selalu berada di belakang kekuasaan pemerintahan Inggris. Inggris yang senantiasa membantu Australia terutama dalam bidang militer seperti halnya angkatan perang yang pada saat itu didukung oleh 2000 pasukan untuk menghantam Jerman di New Guine, dan pada saat itupula Guinea menyerah (1914). Selama berlangsungnya Perang Dunia I kurang lebih sebanyak 300.000 pasukan Australia diberangkatkan menuju daerah Timur Tengah dan kawasan Eropa dengan dalih untuk membantu pasukan Inggris dan sekutu-sekutunya melawan pasukan Jerman, Austria, dan Turki. Kapal-kapal Australia berusaha memburu dan menyerang kapal-kapal Perang Jerman yang mana pada saat itu ditempatkan di Fasifik. Pada saat Angkatan laut Australia mengetahui bahwa kapal perang Jerman yang bernama Emden berada disekitar pulau Cocos yang berada di samudera Hindia, dan pada saat itu pulalah kapal perang Australia yang bernama Sydney  dengan kecepatan penuh segera mengejarnya.  Pertempuran laut pun terjadi kurang lebih selama 2 jam, pada tanggal 9 November 1914, Sedney berhasil menenggelamkan Emden. Hal ini merupakan pengalaman perang yang pertama kalinya bagi Angkatan laut Australia yang diakhiri oleh kemenangan.
Pada tahun 1915, pemerintahan Inggris memutuskan untuk dapat menguasai Selat Dardanella dengan dalih supaya dapat mengirimkan bantuan kepada Rusia yang saat itu mengalami tekanan dari pihak Jerman, dan Turki. Untuk itu, pasukan gabungan Australia dan New Zealand yang dikenal dengan sebutan ANZAC yaitu Australia and New Zealand Army Corps. Bersama-sama dengan pasukan Inggris dan Perancis mendarat di pantai Semenanjung Galipoli. Setelah bertempur selama kurang lebih delapan bulan, pasukan ini menglami kegagalan dalam mencapai tujuan., dan dalam bulan Januari 1916 ditarik ke Mesir., dimana pada saat itu terjadi lagi suatu pengelompokan baru.
Pertempuran yang terjadi di Gallipoli ini memakan korban kurang lebih 146.000 orang. 27.000 orang diantaranya meninggal termasuk hamper 8.000 pasukan perang Australia dan 1.500 orang pasukan New Zealand dalam bulan Mei 1916.  selama perang Dunia I Australia banyak kehilangan pasukan perang kurang yang jumlahnya lebih dari 60.000 orang. Dan setelah Perang Dunia I usai , mulai timbul sebuah kesadaran dalam diri rakyat Australia bahwasanya Australia berhak disejajarkan dengan Negara-negara lain yang sudah lama berdiri. Pemerintah dan rakyat Australia menuntut pengakuan penuh sebagai Negara yang berdaulat sepenuhnya. Dalam perundingan-perundingan perdamaian Versailles, perdana mentri Australia William Highes, mendesak supaya Australia diakui dan memiliki hak yang sama dengan bangsa-bangsa merdeka lainnya. Pada akhirnya tuntutan dari Hughes tersebut dapat diterima oleh pihak Inggris , dan Australia bersama dengan Negara-negara dominion lainnya diberi izin untuk mengirimkan wakilnya sendiri.  Perjalanan Vesailles ini merupakan perjanjian dengan bangsa lain yang merupakan pertama kalinya ditandatangan oleh oleh Australia atas namanya sendiri. Pada saat liga Bangsa-bangsa dibentuk tidak ketinggalan Australia bersama dominion lainnya ikut serta menjadi anggota. Australia menjadapat kepercayaan menerima sebagian bekas daerah jajahan Jerman di Pasifik sebagai daerah mandate, antara lain kawasan Iran, Timur laut, dan kepulauan Bismarck serta bersama New Zealand dan Inggris menjadi wali atas pulau Nauru.
Pada tahun 1931, Atatue of Westminster secara resmi mengakhiri kekuasaan palemen Inggris atas Negara-negara dominion. Dengan demikian, Inggris tidak lagi berkuasa untuk mengawasi hubungan luar Negeri Australia. Mulai saat itu, Australia mendapatkan kemerdekaan yang penuh, dan menyatakan perang serta membuat perang serta membuat perdamaian dengan Negara lain tanpa harus berkonsultasi dengan Inggris terlebih dahulu. Namun dibalik semua itu, hubungan antara Australia  dengan Inggris masih tetap rapat. Australia masih tetap mengandalkan  Inggris  dalam kepentingan luar negeri dan secara tidak langsung Pemerintahan Australia masih mengikuti politik Inggris. Sela tahun 1940 Australia belum memiliki perwakilan di Negara lain. Australia masih merasa yakin akan kemampuan Inggris dengan jumlah angkatan laut serta jaringan kerja yang pangkalannya mampu untuk melindungi keamanan Australia. Mengadakan hubungan langsung dengan Negara lain pun belumlah dipandang sebagai hal yang penting, karena hubungan dengan Inggris sudah dianggap cukup memenuhi keperluannya.
Perang Dunia II diawali dengan adanya serangan Jerman terhadap Polandia pada tanggal 1 september 1939. tidak lama kemudia Inggris menyatakan perang terhadap Jerman. Australia juga segera menyatakan dukungannya terhadap Inggris. Dalam waktu yang relative singkat hamper seluruh kawasan Eropa telah digilas oleh Jerman yang melancarkan perang kilat bersama Italia, sehingga Inggris harus memperjuangkan pertahanan diri. Dua tahun berlalu setelah meletusnya Perang Dunia II, tepatnya tanggal 7 desember, Jepang menyerang pangkalan Amerika Serikat di Pearl Harbour. Perang pasifik berkobar, serangan Jepang inilah yang melibatkan Amerika Serikat secara langsung dalam kancah Perang dunia II. Jepang berhasil menguasai Malaya , Filipina, dan Indonesia. Serangan Jepang ini merupakan ancaman langsung bagi Australia. Menyadari bahwa Inggris tidak mungkin memberi bantuan, dan Australia pun meminta bantuan Angkatan Laut dan Angkatan Udara kepada Amerika Serikat. Australia pun dapat menghindari berbagai serbuan dari Jepang. Hal ini berdamapak tersendiri terhadap pandangan (outlook) Australia sebagai Negara yang berada di pasifik.

3. Hubungan luar Negeri Australia Sesudah Perang Dunia II.

Telah terjadi banyak perubahan dalam bidang politik di seluruh bagian dunia sesudah Perang Dunia II. Kumunis mulai menguasai beberapa Negara di Eropa, sehingga yang pada pertengahan abad ke-19 Eropa lekat dengan faham nasionalisme saat abad ke-20 berubah menjadi komunis dan nasionalisme berpindah berkembang di wilayah Asia dan Afrika. Perubahan yang signifikan terlihat dari banyaknya daerah di Asia dan Afrika yang awalnya dijajah oleh bangsa-bangsa Eropa telah terlepas dan merdeka sesudah Perang Dunia II, selain itu Indonesia yang ratusan tahun berada dibawah kekuasaan Belanda, berhasil memproklamasikan kemerdekaannya. Filipina yang tadinya berada dalam kekuasaan Amerika Serikat telah memperoleh kemerdekaannya. Daerah-daerah bekas jajahan Perancis di Asia dan Afrika juga sebagian berhasil memperoleh kemerdekaannya. Usainya Perang Dunia II telah membuat Inggris kehilangan koloninya di Asia dan sebagian besarnya mendapatkan kemerdekaannya. Inggris Raya yang dibangun pada abad ke-19 mengalami kemunduran total sesudah Perang Dunia II berakhir.
Australia yang merupakan Negara koloni Inggris sehingga dengan kata lain Inggris merupakan Negara induk Australia. Segala urusan yang berhubungan dengan Australia haruslah dibawah sepengetahuan Inggris. Namun dengan berakhirnya Perang Dunia II, Australia telah menyadari bahwa negaranya berada di wilayah Asia dan terletak di Pasifik. Pada tahun 1950-an faham komunis telah masuk ke Asia, Australia yang juga berada di Asia merasa terancam dengan menyebarnya komunisme tersebut, terlebih pada saat itu Indonesia yang merupakan Negara tetangga Australia telah mualai menyebar. Untuk mengatasi kekhawatiran tersebut, pada tahun 1954 Australia memutuskan untuk bergabung dengan organisasi pakta pertahanan bersama regional anti komunis di Asia Tenggara yang terkenal dengan nama SEATO.

4. Hubungan Luar negeri Australia dengan Indonesia

Hubungan kedua negara memang bukan sesuatu proses yang sesaat tetapi bukan juga sesuatu yang kekal. Hubungan tersebut naik dan turun berfluktuasi dipengaruhi oleh keadaan masing-masing negara dan dunia Internasional. Indonesia dimata Australia merupakan salah satu negara di Pasifik Selatan yang tentu saja terletak di bagian Utara Australia. Di bagian Utara ini, Indonesia terletak pada garis pasar ekonomi Australia di Asia Tenggara bersama dengan Papua New Guinea (PNG). Artinya Indonesia adalah salah satu tembok besar yang suatu saat akan menguntungkan Australia, tetapi juga suatu saat bisa menjadi ancaman bagi Australia.

DAFTAR PUSTAKA:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar