Rabu, 23 Desember 2015

Negara Fiji Mendukung Keutuhan NKRI


MASDI/14A/SAO
  A.Republik Kepulauan Fiji
Fiji mendapat kemerdekaan penuh dari Inggris sekaligus menjadi anggota Persemakmuran pada 10 Oktober 1970. Konstitusi yang berlaku saat ini adalah Konstitusi 1997 yang mengubah nama resmi negara dari "Sovereign Democratic Republic of Fiji" menjadi "Republic of the Fiji Islands". Presiden dipilih oleh The Great Council of Chiefs (Dewan Raya Pemuka Adat) dan merupakan Kepala Negara, lambang persatuan serta Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata. Presiden Pemerintahan dijalankan oleh Kabinet Parlementer yang dipimpin oleh Perdana Menteri.Fiji menganut sistem multi-partai. Partai politik terbesar yang terdapat di Fiji adalah Soqosoqo ni Duavata ni Lewenivanua (SDL), yang merupakan partai penduduk pribumi Fiji dan Fiji Labour Party
(FLP), yaitu partai yang mewakili kepentingan warga keturunan India. Namun keanggotaannya terbuka bagi etnis mana pun.Penduduk Fiji menurut sensus tahun 2007 berjumlah 827.900 orang. Masyarakat Fiji merupakan masyarakat yang multi-rasial dan multi-etnik terdiri dari 473.983 jiwa (57,25%) penduduk asli Fiji, 311.591 jiwa (37,64%) keturunan India dan 5% penduduk lain-lain seperti Rotuman dan Pasifik lainnya, Eropa, serta Cina dan Asia Timur lainnya. Agama yang dianut Kristen Methodis (51%), Hindu (36%), Katholik (8,8%), Islam (7,8%) dan sisanya Mormon, Ba'hai serta Sikh.Fiji telah mengalami empat kali kudeta yaitu pada Mei 1987, September 1987, April 2000 dan Desember 2006. Kudeta 5 Desember 2006 dipimpin Panglima AB, Komodor V. Bainimarama, yang kemudian menjadi Perdana Menteri Sementara. Kudeta tersebut mengundang kecaman dari berbagai negara, terutama negara-negara Commonwealth dan negara-negara donor, seperti AS dan EU. Mereka mendesak dilaksanakannya Pemilu dengan segera. PM Sementara berjanji melaksanakannya pada Maret 2009.Fiji yang sudah menjalankan sistem demokrasi parlementer sejak kemerdekaannya, pada saat ini sedang berusaha untuk mengembalikan sistem tersebut, setelah empat kali mengalami kudeta. Kudeta-kudeta di Fiji dilatarbelakangi oleh masalah hubungan antar ras (pribumi dan keturunan India). Kudeta-kudeta 1987 dan 2000 dimaksudkan untuk menyingkirkan peran politik keturunan India, sedangkan kudeta 2006 dimaksudkan untuk mencarikan jalan pendekatan hubungan antar ras.
Sejak kudeta tahun 1987 hingga sekarang terjadi arus migrasi warga Fiji, utamanya (sekitar 90%) warga keturunan India. Namun masih banyak warga keturunan India yang menjadi tokoh di dunia politik, ekonomi, perdagangan, pendidikan dan lembaga peradilan di Fiji.Kepemilikan tanah dan penyewaannya merupakan salah satu masalah krusial yang perlu penyelesaian, karena mayoritas penduduk asli Fiji, yang menguasai 90% tanah, tidak ingin merubah status kepemilikan jatuh ke tangan warga keturunan India, mengingat tanah merupakan elemen penting dalam kehidupan secara adat. Penguasaan Parlemen secara mayoritas mutlak oleh parpol yang didukung warga keturunan India dikhawatirkan akan dapat mengubah ketentuan konstitusional tentang kepemilikan tanah.Pemerintah Sementara juga sudah membentuk National Council for Building a Better Fiji, yang ditugasi untuk menyusun sebuah People's Charter. Piagam ini dimaksudkan antara lain untuk membangun kehidupan yang harmonis semua komponen bangsa Fiji yang terdiri dari berbagai ras, utamanya pribumi Fiji dan keturunan India. Penyusunan Piagam tersebut akan dijadikan dasar pelaksanaan Pemilu pada 2009.
      B.Hubungan Bilateral RI-Fiji
Hubungan diplomatik RI-Fiji dibuka pada tahun 1974 dengan penandatangan memorandum of understanding oleh Dubes RI dan Komisaris Tinggi Fiji di Wellington, Selandia Baru. Hubungan tersebut diselenggarakan pada tingkat Kedutaan Besar dengan perangkapan.Pada Agustus 2002, KBRI-Suva resmi dibuka dengan tujuan untuk meningkatkan hubungan bilateral kedua negara serta dalam rangka "look-east policy" Pemri dalam upaya peningkatan hubungan dengan negara-negara Kepulauan Pasifik lainnya. Keberadaan KBRI Suva telah membuka kesempatan untuk berdialog dengan jajaran pemerintah, parlemen, politisi, LSM, media dan kelompok gereja, khususnya menyangkut keutuhan wilayah NKRI, termasuk pelaksanaan UU Otsus untuk Papua. Kerjasama RI-Fiji yang positif dapat dilihat dari kebijaksanaan Pemerintah Fiji yang mendukung keutuhan wilayah NKRI dan tidak mendukung upaya-upaya ke arah kemerdekaan dan pemisahan Papua dari wilayah Indonesia. Dukungan Fiji atas keutuhan wilayah NKRI disampaikan oleh Presiden Fiji pada saat penyerahan surat kepercayaan Dubes RI pertama pada 2002. Hal yang sama ditegaskan kembali oleh Menlu Kaliopate Tavola ketika bertemu dengan Menlu RI di Bali, April 2003. Terakhir kali, konsistensi dukungan Pemerintah Fiji tersebut dinyatakan oleh Permanent Secretary Kemlu pada 18 Maret 2008 yang menyatakan bahwa "the interests of Indonesia are protected".Indonesia dan Fiji telah menjalin kerjasama dalam memperjuangkan kepentingan bersama di berbagai forum PBB dan non-PBB. Kesatuan pandangan dalam berbagai isu, seperti prinsip negara kepulauan, anti-nuklir, penanggulangan terorisme dan kejahatan lintas-batas, serta perhatian terhadap masalah perubahan cuaca merupakan pilar hubungan bilateral selama ini. Fiji juga telah memberikan dukungannya terhadap pencalonan Indonesia di badan-badan PBB, seperti Dewan Keamanan, Dewan HAM, IMO, ECOSOC, World Tourism Organisation, UPU, ICAO, dll.Pemerintah Indonesia juga telah memberikan bantuan dan berbagai pelatihan dalam rangka KTNB, NAASP dan bilateral. Di antaranya hibah traktor tangan dan pengiriman tenaga ahli di bidang padi ke Fiji, serta pelatihan petani-petani Fiji di Indonesia. Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia sejak 2004 selalu diikuti oleh peserta dari Fiji dan negara-negara Kepulauan Pasifik sekitarnya. Para peserta tampil bersama dalam pagelaran seni dan budaya Indonesia di Suva sekembali mereka dari Indonesia. Selain itu, program-program beasiswa lainnya seperti Darmasiswa dan Beasiswa Pasca Sarjana Kemitraan Negara Berkembang juga diikuti oleh peserta dari Fiji.RI dan Fiji telah menandatangani MoU Kerjasama Pertanian dan Kerjasama Pariwisata. SOM RI-Fiji telah mengadakan pertemuan di Jakarta pada 2005. SOM Kedua direncanakan akan diadakan akhir 2008.
Peluang Usaha
Kedudukan geografis dan kekayaan alam Republik Kepulauan Fiji telah memberikan potensi pasar yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai mitra dagang bagi Indonesia, mengingat antara lain :
– Fiji merupakan salah satu negara berkembang terpenting di Kawasan Pasifik yang memiliki penduduk dan kesuburan tanah dan kekayaan alam, luas wilayah dan luas lautan (termasuk zona ekonomi eksklusif ), yang relatif besar.
– Potensi yang harus digarap oleh produsen Indonesia adalah pendapatan per kapita penduduk Fiji sekitar US$ 3600,- tingkat konsumsi yang tinggi serta ketergantungan pada impor. Fiji berusaha untuk outsourcing ke negara-negara selain Australia dan Selandia Baru, dengan meningkatkan perdagangan dengan negara-negara Asia.
– Produk-produk konsumen dan industri Indonesia sudah banyak dikenal di pasaran setempat, dan dari statistik perdagangan dapat dilihat, walaupun volume dan nilainya relatif masih kecil, berpotensi untuk dikembangkan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, sejak tahun 2004 hingga Nopember 2007 ekspor Indonesia ke Fiji terus mengalami kenaikan, yaitu : pada 2004 sebesar US$ 17,74 juta, 2005 US$ 12,26 juta, 2006 US$ 18,62 juta, dan hingga Nopember 2007 sebesar US$ 17,28 juta, dengan surplus signifikan untuk Indonesia.
– Minat pengusaha setempat terhadap produk Indonesia juga dapat dilihat dari peningkatan kehadiran mereka dalam Pameran Produk Ekspor (PPE) yang diselenggaran setiap tahun di Jakarta. Selain itu, dari permohonan visa pada KBRI Suva juga tercermin adanya arus kunjungan usaha yang terus menerus mengalami peningkatan yang dilakukan oleh supermarket-supermarket utama di Fiji.
– Meskipun tidak ada hubungan udara secara langsung, namun hubungan transportasi laut (kargo) antara Indonesia (Surabaya, Jakarta, Belawan, Semarang dan Panjang) dengan Fiji (Suva), telah dilayani oleh maskapai perkapalan, seperti Tasman Orient. Kedudukan geografis Fiji yang sangat strategis di Pasifik Selatan dan satu-satunya negara di wilayah ini yang mempunyai pelabuhan samudera dengan kapasitas memadai dapat dijadikan hub masuknya barang ekspor Indonesia ke negara berkembang di kawasan Pasifik lainnya.Fiji belum dapat dijadikan negara sumber PMA untuk Indonesia, karena Fiji sendiri sedang berusaha menarik investor asing. Fiji Islands Trade and Investment Bureau (FTIB) berencana untuk mengadakan Misi Investasi ke Indonesia, dengan fokus pada joint ventures di berbagai sektor sesuai dengan potensi kekayaan alamnya, yaitu : tourism (hotel development and ancillary services); manufacturing/assembly (white goods, electronic goods, plastic products, processed food stuffs); processed fish, fish products dan seafood; agro processing.Kendala peningkatan perdagangan Indonesia-Fiji terletak pada pasar Fiji yang relatif kecil dan jarak yang jauh, sehingga produsen memilih lewat pihak ketiga di Singapura atau Australia guna mengurangi risiko kerugian.Kendala lainnya adalah pesaingan produk asal India, China, Thailand dan Malaysia. Ikatan tradisional antara pengusaha Fiji yang mayoritas etnik India dengan tanah leluhurnya ikut mendukung. Sementara produk China dikenal harganya lebih murah.
Sektor pariwisata merupakan sumber devisa terpenting bagi Fiji saat ini menggantikan peran industri gula. Indonesia dalam hal ini dapat menawarkan kerjasama pengembangan pariwisata, yang di Fiji didominasi oleh wisata bahari dan eco-tourism dengan hotel dan resorts dari berbagai kelas. MoU Kerjasama Pariwisata RI-Fiji tahun 2006 perlu diimplementasi dengan segera.Dalam upaya meningkatkan hubungan ekonomi dan pembangunan, telah pula ditandatangani Memorandum of Understanding untuk Kerjasama Pertanian tahun 2005. MoU tersebut merupakan landasan bagi peningkatan hubungan yang sudah terjalin selama ini. Di bidang pertanian, Pemri telah memberikan pelatihan pertanian dan hibah sejumlah traktor tangan. Selain telah dikenalnya sistem penanaman padi yang dilakukan di Indonesia (Legowo II dan Legowo IV), alat-alat pertanian Indonesia banyak diminati oleh petani dan pedagang alat-alat pertanian setempat.Pemerintah Fiji mulai 2008 telah meliberalisasi industri teleko. Kondisi geografis dan persebaran penduduk di pulau-pulau terpencil akan memberikan peluang untuk berkembangnya sistem telekomunikasi yang memadai. Selain itu, industri media TV masih membuka peluang kerjasama untuk peningkatan jenis dan kualitas program-programnya, yang pada saat ini baru ditangani sebuah stasiun TV.

DAFTAR PUSTAKA
-          Fiji Bureau of Statistics. 2012. Key Statistics: June 2012, Population.
-          Buku Putih Pertahanan Negara : "Mempertahankan Tanah air Memasuki Abad 21, Indonesia" Dephan, 2003, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar