Rabu, 23 Desember 2015

KEBUDAYAAN PELALAWAN

BULAN SAWITRI/PBM/BI



Adat Adat Perkawinan
1.      Ketentuan Adat Sebelum Perkawinan
Sebelum upacara perkawinan dilaksanakan, diberlakukan ketentuan adat istiadat yang disebut adat sebelum perkawinan. Empat hal yang perlu diperhatikan tentang adat sebelum perkawinan, yaitu tujuan perkawinan, perkawinan ideal, syarat-syarat untuk kawin, dan cara-cara memilih jodoh.

a.       Tujuan Perkawinan
Menurut adat, ada beberapa tujuan perkawinan, yaitu sebagai berikut.
1)      Menyambung Tali Darah
Menyambung tali darah adalah melanjutkan keturunan. Melalui perkawinan diharapkan keturunan keluarga akan terus berlanjut.

2)      Mendekatkan Yang Jauh dan Merapatkan yang Renggang
Mendekatkan yang jauh dan merapatkan yang renggang adalah perkawinan hubungan kekerabatan dan kekeluargaan semakin dekat dan akrab, mendekatkan kekerabatan dan keluarga, sekaligus memperluas kaum kerabat kedua belah pihak.
3)      Menjunjung Sunah
Menjunjung sunah adalah mengikut Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan kepada umatnya kawin bagi yang patut dan mampu.

b.      Perkawinan Ideal
Perkawinan ideal adalah perkawinan yang benar-benar mendatangkan kebahagiaan, kesejahteraan bagi semua pihak sesuai dengan kedudukan mereka dalam masyarakat. Misalnya, status sosial, tujuan, adat istiadat, agama, kepercayaan, dan norma-norma sosial lainnya.
Perkawinan ideal juga disebut perkawinan yang benar-benar memenuhi semua keinginan serta memenuhi persyaratan adat, agama dan tradisi, serta tujuan yang dapat memenuhi keinginan.

c.       Jenis jenis perkawinan
Adat dan tradisi masyarakat di daerah Riau mengenal beberapa jenis perkawinan. Ada yang sempurna bagi, ada pula yang digolongkan buruk dan tidak diinginkan atau dilakukan secara terpaksa yang menimbulkan aib dan malu. Jenis-jenis perkawinan adalah sebagai berikut.
1)      Kawin Biasa
Kawin biasa adalah perkawinan yang dilakukan secara normal, dilaksanakan melalui ketentuan dan adat istiadat, serta menuruti berbagai urutan acara yang lazim yaitu perkawinan seorang bujang dan gadis yang dilaksanakan menurut tata cara adat.
2)      Kawin Gantung
Kawin gantung adalah perkawinan yang dilakukan dengan jarak relatif lama antara pelaksanaanya menurut hukum dengan pesta (upacara) menurut adat. Perkawinan ini dilakukan bagi mereka yang belum memenuhi syarat umur untuk kawin atau menikah.
3)      Kawin Janda atau Kawin Duda
Perkawinan janda atau duda ini adalah perkawinan antara laki-laki bujang dengan wanita janda atau antara laki-laki duda dengan seorang gadis.
4)      Kawin Bertukar Anak Panah
Kawin bertukar anak panah adalah perkawinan yang dilakukan dengan cara tua kawin dengan yang muda dan yang muda kawin dengan yang tua seperti perkawinan dua orang adik beradik, apakah keduanya laki-laki atau seorang laki-laki dan seorang perempuan kawin dengan dua orang adik beradik lainnya. Perkawinan ini juga disebut sama-sama melepas beban.
5)      Kawin Balam Dua Selenggek
Perkawinan kawin balam dua selengkek adalah perkawinan yang dilakukan oleh dua orang adik beradik dengan dua orang adik beradik lainnya. Kakak kawin dengan kakak dan adik kawin dengan sesama adik.


6)      Kawin Ganti Tikar
Perkawinan ini biasanya terjadi antar keluarga yang berkeinginan untuk melanjutkan kekeluargaan atau untuk kepentingan anak-anaknya. Perkawinan ganti tikar ini adalah perkawinan apabila seseorang anak laki-laki ditinggal mati istrinya kemudian ia kawin dengan adik istrinya (iparnya). Kawin ganti tikar ini ada yang disebut juga ganti tikar naik, yaitu apabila yang dikawininya adalah kakak istrinya. Apabila seorang istri ditinggal mati suaminya kemudian dikawinkan dengan adik suaminya disebut kawin ganti baju atau kawin beripar turun. Sebaliknya jika ia kawin dengan kakak suaminya disebut kawin saling sertingkat atau kawin beripar naik.
7)      Kawin Membayar Nazar
Kawin membayar nazar adalah disebut juga kawin menebus niat, yaitu suatu perkawinan yang dilakukan apabila seorang tua bernazar ingin mengawinkan anaknya dengan seseorang ketika anaknya masih muda atau masih kecil. Setelah anaknya dewasa, barulah anak tersebut dikawinkan untuk menebus nazar yang pernah diniatkannya.
8)      Kawin Menebus Budi
Kawin menebus budi dilakukan secara paksa untuk menebus utang budi terhadap seseorang, baik itu pihak laki-laki maupun pihak perempuan.
9)      Kawin Sekandang
Kawin sekandang adalah perkawinan antar sesama keluarga sepanjang dibenarkan oleh syarak dan adat. Perkawinan ini bertujuan untuk menjaga agar harta keluarga tidak jatuh keluar.
10)  Kawin Berkat
Perkawinan berkat adalah perkawinan yang mengandung maksud untuk memperoleh berkat, tuah, atau meningkatkan status sosial keluarga. Perkawinan berkat dilakukan oleh orang yang tingkat status sosialnya rendah, kemudian kawin dengan orang yang tingkat status sosial keluarganya lebih tinggi.
11)  Kawin Negeri
Kawin negeri adalah perkawinan yang dilakukan dengan tujuan politis. Perkawinan seperti ini dulunya dilakukan oleh keluarga raja-raja atau keluarga kerajaan. Melalui perkawinan itu, hubungan kedua kerajaan menjadi baik dan terhindar dari permusuhan.

2.      Upacara Sebelum Perkawinan
Sebelum berlangsungnya perkawinan, dilakukanlah bebrapa rangkaian upacara adat-istiadat, yang terdiri dari :

a.       Tradisi Merisik atau Upacara Meminang
Tujuan merisik atau upacara meminang adalah untuk menyampaikan niat baik pihak laki-laki untuk menjodohkan anaknya dengan pihak perempuan. Upacara meminang dilakukan di rumah orangtua perempuan atau di rumah keluarga lainnya yang mereka tentukan. Waktu pelaksanaanya ditentukan atas kesepakatan kedua belah pihak. Lazimnya pada malam hari, sesudah waktu sholat maghrib. Apabila dilakukan pada siang hari, biasanya sesudah sholat zuhur atau 'ashar. Pelaksana dari kedua belak pihak, yaitu dengan ketentuan sebagai berikut.
1)      Salah seorang wakil pihak laki-laki didampingi oleh keluarga terdekat yang sudah berumur, sahabat terdekat, serta penjawatnya.
2)      Satu orang wakil pihak perempuan didampingi oleh beberapa keluarga terdekat, sahabat dekat, tetangga dekat, jemputan khusus, dan penjawat.
3)      Seorang utama atau lebih sebagai pembaca doa selamat dan penutup upacara.
4)      Para pemangku atau pemuka adat tempatan, sekurang-kurangnya satu orang sebagai saksi.
Peralatan upacara meminang terdiri dari peralatan pokok yaitu tapak sirih, yang terdiri atas tepak induk dan tepak pendamping dengan jumlah yang bervariasi, peralatan perlengkapanyaitu berbagai macam penganan, makanan, bunga-bungaan, buah-buahan dan wangi wangian dengan jumlah yang tidak ditentukan kemudian peralatan kebesaran yaitu peralatan yang menjadi tanda atau lambang kebesaran pihak peminang, misalnya, keris panjang, tombak, pedang, payung, panji, dan sebagainya.
b.      Upacara Hantar Tanda
Upacara ini disebut juga 'Melahirkan Tanda', yakni tanda dari pihak lelaki sebagai ikatan pertunangan. Upacara hantar tanda ini bertujuan untuk menyerahkan 'tanda' ikatan pertunangan dari pihak laki-laki kepada perempuan. Tempat upacara 'Hantar Tanda' atau 'Melahirkan Tanda' ini dilaksanakan di rumah perempuan atau rumah yang ditentukan oleh pihak perempuan. Waktunya ditetapkan atas mufakat kedua belah pihak, lazimnya malam hari, sesudah sholat magrib.
c.       Upacara Hantar Belanja
Upacara hantar belanja ini ialah bantuan dari pihak laki-laki untuk pihak perempuan dalam menyelenggarakan helat perkawinan. Upacara ini bertujuan adalah untuk meringankan beban pihak perempuan. Sebab menurut lazimnya, pesta dan kegiatan upacara lebih banyak dilakukan di rumah perempuan, karena disanalah pusatnya. Upacara hantar belanja dilakukan di rumah pihak perempuan, sebagaimana upacara meminang atau upacara melahirkan tanda. Upacara hantar belanja lazimnya dilakukan sebelum upacara akad nikah. Namun sekali-sekali, ada pula yang melakukannya sejalan dengan akad nikah. Pelaksananya hampir sama dengan upacara meminang atau pun upacara hantar tanda, demikian pula peserta lainnya. Alat pokok terdiri atas barang-barang seperti uang putaran, perhiasan, kain, kelengkapan tempat tidur, kelengkapan rias pengantin wanita, kelengkapan tempat tidur, dan tepak sirih.

3.      Upacara Pelaksanaan Perkawinan
Upacara pelaksanaan perkawinan merupakan rangkaian kegiatan upacara perkawinan yang meliputi upacara akad nikah dan langsung disertai pula upacara-upacara yang lebih kecil. Rangkaian ini bertujuan sebagai satu kesatuan dari pelaksanaan perkawinan.

a.       Upacara Menggantung-gantung
Upacara ini bertujuan untuk menghiasi rumah kediaman pengantin dengan menyiapkan kelengkapan upacara langsung. Upacara ini dilaksanakan dirumah orang tua pengantin perempuan atau tempat perkawinan dilaksanakan. Biasanya upacara ini dilaksanakan ketika matahari naik sampai selesai, dan dimalam hari dilakukan setelah magrib.
b.      Malam Berinai
Upacara malam berinai bertujuan sebagai menolak bala, memperindah tubuh dan sebagai perlambang bahwa pengantin siap meninggalkan hidup membujang masuk ke dalam hidup berumah tangga. Upacara ini biasanya dilakukan dikediaman masing masing pengantin. Upacara ini dipimpin oleh mak andam. Dilakukan pada malam hari yang dihadiri oleh beberapa orang jemputan.
c.       Berandam
Upacara ini bertujuan untuk memperantik pengantin perempuan dengan cara membersihkan wajah. Upacara ini dilakukan dikediaman pengantin wanita yang dilakukan pada pagi hari ketika matahari mulai naik yaitu sesudah malamnya dilakukan upacara berinai. Upacara ini juga dipimpin mak andam.
d.      Upacara Akad Nikah
Tujuan upacara ini adalah untuk mengesahkan suatu perkawinan, baik secara agama maupun secara adat. Akad akan dilakukan dirumah pengantin perempuan. Dilaksanakan pada malam hari setelah magrib. Upacara ini dipimpin oleh kadi, yang biasa disebut Tuan kadi. Upacara ini diikuti oleh kedua belah pihak.
e.       Upacara berkhatam Al-Qur'an
Upacara ini bertujuan agar hidup berumah tangga dilengkapi dengan ilmu pengetahuan agama dan menjadi kehidupan rumah tangga yang baik dan diridhai oleh Allah SWT. Upacara ini dilakukan dirumah pengantin perempuan pada pagi hari sesudah malam dilakukannya akad nikah yang dipimpin oleh guru mengaji atau orang yang ditunjuk dan diiringi oleh perangkat kesenian yang bernapaskan keagamaan, seperti zikir, berzanji, dan marhaban.
f.       Upacara Langsung.
Tujuan upacara langsung adalah untuk memberikan penghormatan kepada kedua pengantin, menobatkan mereka sebagai kepala dan ibu rumah tangga, serta penyampaian hajat orang tua dan kaum kerabatnya. Upacara ini dilakukan dirumah pengantin perempua. Upacara ini dilaksanakan sesudah upacara berkhatam Al-Qur'an atau sesuai dengan ksepakatan bersama.
g.      Upacara Bersanding
Upacara ini pada hakikatnya merupakan bagian dari upacara langsung, yaitu suatu upacara mendudukkan kedua pengantin berdekatan dan bersanding. Dalam upacara ini ada beberapa upacara lainnya, yaitu:
1)      Upacara Tepung Tawar
Upacara ini merupakan kegiatan menaburkan bunga-bungaan, wangi-wangian kepada kedua pengantin. Penepung tawar terdiri atas unsur keluarga terdekat, unsur pemerintah atau raja kuasa, unsur pemangku adat atau raja adat,unsur patut-patut, unsur ulama dan raja ibadat. Ketentuan jumlah orang yang melakukan tepung tawar harus ganjil, paling sedikit lima orang dan paling banyak 21 orang.
2)      Makan Adap-adapan
Upacara ini adalah makan berhadap-hadapan bersama keluarga terdekat dan orang yang patut-patut. Makan adap-adapan biasanya dilakukan selesai upacara tepung tawar, bertempat didepan pelaminan.
h.      Upacara Menyembah Mertua
Upacara menyembah mertua bertujuan sebagai sembah sujud, terima kasih dan permohonan doa restu kepada orang tua pengantin laki-laki dan keluarganya. Upacara ini biasanya dilakukan dirumah pengantin laki-laki pada sore hari setelah acara bersanding dilaksanakan. Jika dilakukan besok hari atau beberapa hari berikutnya diartikan menyalahi adat karena dianggap tidak ingat orang tua.

4.      Upacara Sesudah Perkawinan
Sesudah upacara berlangsung, dilaksanakan pula berbagai rangkaian kegiatan upacara sesudah perkawinan, antara lain upacara mandi damai, upacara mengantuk gigi atau mengasah gigi. Rangkaian ini pada hakikatnya merupakan satu kesatuan karena dilaksanakan secara berturut-turut.

a.       Upacara Mandi Damai
Upacara ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa kedua pengantin sudah selamat melakukan hubungan sebagai suami istri. Upacara ini dilaksanakan 3 hari sesudah pelaksanaan upacara bersanding yang dilakukan di rumah pengantin perempuan dengan dibuatkan tempat khusus seperti rumah maupun berbentuk ular naga sebagai tempat mengalirnya air untuk kedua pengantin. Upacara ini dipimpin oleh mak andam dan dihadiri oleh sanak keluarga, sahabat, handai tolan, jemputan, yang patut-patut, serta para pejawat.
b.      Upacara Mengantuk Gigi
Upacara ini bertujuan untuk meratakan gigi pengantin supaya kelihatan lebih indah. Upacara ini dilakukan di dalam rumah pengantin perempuan sesudah upacara mandi damai dilaksanakan. Pelaksanaannya di atas pelaminan atau di tengah ruangan di atas tilam khusus. Upacara ini menggunakan kelengkapan alat pokok, terdiri atas telur ayam 2 buah, kain putih, dulang berisi lilin lebah, kikir kecil, dan mangkuk putih. Alat pelengkap terdiri atas pebara dengan kemenyan atau setanggi, kapas, serta wangi-wangian. Alat kebesaran yang disesuaikan dengan status sosialnya. Upacara mengantuk gigi dipimpin oleh mak andam dan disaksikan oleh seluruh peserta dalam upacara mandi damai.

DAFTAR PUSTAKA

Dr.(HC)H.Tenas Effendy.2009.Adat istiadat dan upacara Nikah Kawin Melayu Pelalawan.
Dr.(HC)H.Tenas Effendy.2004.Pemakaian Ungkapan Dalam Upacara Perkawinan Orang Melayu.
Bastian,S.H.I dkk,.2001.Budaya Melayu Riau.
Drs.Djoko Widagdho,dkk.2004.Ilmu budaya dasar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar