Rabu, 23 Desember 2015

ADOLF HITLER DALAM KEMAKMURAN JERMAN NAZI


JELY NOVIANTI/PIS/B
A.    Lahirnya Jerman Nazi
Sebagai Negara yang kalah dalam perang dunia I, situasi dalam negeri Jerman mengalami krisis ekonomi yang sangat hebat, situasi ekonomi yang sangat labil, inflasi melonjak, dimana-mana pengangguran bertambah banyak. Sementara itu, selain tidak bisa mengatasi masalah ekonomi, pemerintah juga tidak mampu membayar hutang rugi perang kepada pihak sekutu.

Ketidakmampuan pemerintah Jerman mengatasi krisis Ekonomi mengakibatkan rakyat tidak lagi mempercayai pemerintah sehingga mendorong timbulnya partai-partai baru yang bersifat lebih keras, seperti Partai Spartacis (Komunis), partai Sosial Demokrat dan Partai Nasional Sosial. Perati terakhir ini disebut National Sozialistische Deutsche Arbeiter Partai (NAZI) yang dipimpin oleh Adolf Hitler. Kesengsaraan rakyat menurut Hitler diakibatkan karena kalah perang. Orang Komunis dan Yahudi disebut sebagai pengacau ekonomi Jerman.
Dalam bukunya, Mein Kampf (Perjuanganku), Hitler menyatakan bahwa dunia akan baik jika dipimpin oleh orang-orang Jerman ditakdirkan untuk menguasai Negara-negara lain. Selama memimpin Jerman, Hitler bertindak sangat dictator. Hitler bercita-cita melaksanakan pemerintahan yang lebensraum (memperluas ruang lingkup).
B.    Wilayah taklukan Nazi Jerman
üPolandia (September 1939)
üDenmark (April 1940)
üNorwegia (April 1940)
üBelanda (Mei 1940)
üBelgia (Mei 1940)
üLuksemburg (Mei 1940)
üPerancis (Juni 1940)
üYunani (April 1941)
üYugoslavia (April 1941)
übeberapa negara di bagian Afrika Utara
üsebagian wilayah Uni Soviet/Rusia (tidak berhasil menguasai semua wilayahnya karena musim dingin)

C.    Masyarakat Yahudi Masa Praperang di Jerman

Menurut sensus bulan Juni 1933, penduduk Yahudi di Jerman berjumlah sekitar 500.000 jiwa. Persentase kaum Yahudi kurang dari satu persen dari total penduduk Jerman yang berjumlah sekitar 67 juta jiwa. Tidak seperti metode penyelenggaraan sensus pada umumnya, kriteria rasialis Nazi yang dikodifikasikan dalam Undang-undang Nuremberg tahun 1935 serta dalam ordonansi-ordonansi berikutnya mengidentifikasi orang Yahudi berdasarkan agama yang dianut kakek-neneknya. Akibatnya, Nazi mengklasifikasikan ribuan orang yang telah berpindah agama dari Yudaisme ke agama lain dalam golongan ini, termasuk bahkan pendeta dan biarawati Roma Katolik serta pendeta Protestan yang kakek-neneknya berdarah Yahudi.
Delapan puluh persen orang Yahudi di Jerman (sekitar 400.000 jiwa) berkewarganegaraan Jerman. Sisanya sebagian besar adalah orang Yahudi berkewarganegaraan Polandia; banyak di antara mereka lahir di Jerman dan berstatus penduduk tetap Jerman.
Secara keseluruhan, sekitar 70 persen orang Yahudi di Jerman bermukim di daerah perkotaan. Dari seluruh orang Yahudi, lima puluh persen bermukim di 10 kota Jerman terbesar, di antaranya Berlin (sekitar 160.000 jiwa), Frankfurt am Main (sekitar 26.000), Breslau (sekitar 20.000), Hamburg (sekitar 17.000), Cologne (sekitar 15.000), Hannover (sekitar 13.000), dan Leipzig (sekitar 12.000).
D.    PEMBOIKOTAN NASIONAL ATAS USAHA-USAHA MILIK ORANG YAHUDI
Pada 1 April 1933 pukul 10:00 pagi, para anggota Pasukan Badai (SA) dan SS (pengawal elite negara Nazi) berdiri di depan tempat-tempat usaha milik orang Yahudi di seluruh Jerman untuk memberi tahu masyarakat bahwa pemiliknya adalah orang Yahudi. Kata "Jude," yang berarti "Yahudi" dalam bahasa Jerman, kerap dicorengkan pada etalase toko, dan Bintang Daud dicat dalam warna kuning dan hitam pada pintu-pintu. Lambang-lambang anti-Yahudi mendampingi slogan-slogan tersebut. Di beberapa kota, SA berbaris di jalan-jalan sembari menyanyikan slogan anti-Yahudi dan lagu partai. Di kota lainnya, kekerasan menyertai pemboikotan tersebut; di Kiel, seorang pengacara Yahudi tewas dibunuh. Pemboikotan berakhir pada tengah malam. Pemboikotan yang diselenggarakan pada tingkat lokal terus berlangsung sepanjang tahun 1930-an.
E.     PEMBERLAKUAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN NUREMBERG
Pada 15 September 1935, Nazi mengumumkan peraturan perundang-undangan baru yang menjadikan masyarakat Yahudi warga negara kelas dua dan mencabut sebagian besar hak politik mereka. Lebih jauh lagi, orang Yahudi dilarang menikah atau berhubungan seksual dengan orang "berdarah Jerman atau sebangsanya." Hal tersebut, yang dikenal dengan sebutan "Ketidakpantasan Rasial," dijadikan pelanggaran pidana. Peraturan Perundang-undangan Nuremberg mendefinisikan "orang Yahudi" sebagai seseorang dengan tiga atau empat kakek-nenek orang Yahudi atau yang mengikuti ajaran Yahudi. Akibatnya, Nazi mengklasifikasikan ribuan orang yang telah berpindah agama dari yudaisme ke agama lain sebagai Yahudi, bahkan termasuk di antaranya pendeta dan biarawati Katolik Roma serta para pendeta Protestan yang kakek-neneknya Yahudi.
F.     "KRISTALLNACHT": POGROM NASIONAL
Pada 9 November 1938, Menyusul pembunuhan terhadap diplomat Jerman Ernst vom Rath oleh seorang pemuda Yahudi di Paris, menteri propaganda Jerman Joseph Goebbels menyampaikan pidato berapi-api di hadapan para simpatisan partai Nazi di Munchen; para anggota partai tersebut tengah dikumpulkan dalam rangka memperingati Bierkeller Putsch 1923 (upaya pertama Adolf Hitler untuk merebut kekuasaan) yang gagal itu. Pidato tersebut menjadi tanda penyerbuan terorganisasi atas tempat tinggal, tempat usaha, dan tempat ibadah kaum Yahudi oleh para anggota SA, SS, dan organisasi partai Nazi lainnya seperti Pemuda Hitler (Hitler Youth). Kendati di kemudian hari para petinggi Nazi menggambarkan pogrom tersebut sebagai aksi spontan kemarahan masyarakat, keikutsertaan penduduk di dalam pogrom tersebut sebenarnya terbatas. Kekerasan terhadap kaum Yahudi berlangsung hingga dini hari tanggal 10 November dan dikenal sebagai "Kristallnacht" atau "Malam Kaca Pecah." Sedikitnya 91 orang Yahudi tewas dibunuh dan lebih dari 30.000 lainnya ditahan dan dikurung di kamp-kamp konsentrasi. "Aryanisasi," atau pengalihan usaha-usaha milik orang Yahudi ke orang "Arya," menjadi semakin cepat pascapogrom tersebut.
G.    Lolos dari Kekejaman NAZI
Korban dan saksi mata kekejaman NAZI Jerman yang masih hidup kini sudah amat jarang. Salah seorang diantaranya adalah Rolf Joseph, warga Berlin yang lahir tahun 1920. Ia duduk di sofa sambil membuka album foto yang diletakkan di pangkuannya. Foto-foto kenangan pahit masa mudanya di zaman NAZI. "Anda lihat, ini bintang Yahudi, kami harus menjahitnya di baju. Di mana-mana terdapat pengawas, jika seseorang hanya menempelkannya dengan peniti, orang itu langsung menghilang."
Di zaman NAZI Joseph berulangkali ditangkap dan hendak diangkut ke kamp konsentrasi. Sebuah mujizat terjadi, karena ia selalu dapat lolos dari kekejaman NAZI.
Di saat Perang Dunia 2, sebagai anak warga Yahudi, Joseph juga mendapat perlakuan diskriminatif di sekolahnya. Setiap hari ia disuruh maju ke depan kelas dan dipukuli guru yang anggota NAZI. Korban dan saksi hidup kekejaman NAZI itu dengan lancar dan kata-kata sederhana menceritakan pengalamannya. Joseph sudah bercerita ratusan kali kepada para siswa dan remaja diberbagai acara.
H.    Pembebasan
70 tahun lalu, Tentara Merah berhasil membebaskan kamp konsentrasi dan kamp pe-musnahan Auschwitz-Birkenau. Antara tahun 1940-1945, lebih dari satu juta orang, kebanyakan warga Yahudi, tewas dibunuh di kamp ini. Ketika tentara Soviet membebaskan kamp, mereka hanya menemukan sekitar 7000 orang yang selamat. Tampak dalam foto yang diambil Januari 1945, tiga orang penghuni kamp yang berhasil selamat.
 Juni 1942, orangtuanya diciduk NAZI dan diangkut menggunakan mobil barang. Itulah terakhir kalinya Joseph menyaksikan orang tuanya masih hidup. Beberapa bulan kemudian giliran dirinya yang ditangkap polisi rahasia Gestapo. "Lalu perjalanan ke Auschwitz. Amat mengerikan. Kami, enam remaja diborgol. Dimasukkan ke gerbong kereta, bersama 50 perempuan dan anak-anak yang terus menangis. Seorang remaja dari Belanda mengatakan, anak-anak, kalian tidak tahu, jika tiba di Auschwitz, kita akan langsung dimasukkan ke kamar gas."
Tapi nasib baik masih menyertai Joseph. Ia menemukan sebuah tang. Dengan alat itu ia dapat membuka borgol tangannya. Lalu tanpa berpikir panjang, ia melompat dari kereta yang sedang melaju. Ia kemudian dirawat di rumah sakit Yahudi, dengan alasan mengidap cacar air. Ketika petugas NAZI akan menangkapnya kembali, Joseph meloncat dari tingkat dua rumah sakit, dan melarikan diri walaupun menderita patah tulang. Ia kemudian ditolong seorang perempuan pengumpul pakaian bekas, dan bersembunyi selama tiga tahun.
Sesaat menjelang Perang Dunia 2 berakhir, ada orang yang melaporkan dirinya ke polisi. Dalam perjalanan ke kantor polisi, Joseph mengatakan kepada dua polisi yang menangkapnya, kalian bisa menembak saya di sini atau membiarkan saya melarikan diri. Menyadari perang hampir usai, petugas polisi membiarkan Joseph melarikan diri.
Joseph hingga kini tetap tinggal di Berlin, kota kelahirannya. Dengan lugas ia juga mengungkapkan kenyataan, bahwa NAZI bukan hanya membantai enam juta warga Yahudi. Tapi juga lebih dari setengah juta warga etnis Roma, dan bahkan anak-anak Jerman yang cacat mental. Joseph juga selalu menegaskan, baginya, tetap dapat bertahan hidup dari kekejaman NAZI bukan merupakan aksi kepahlawanan namun sekedar nasib baik.
DAFTAR ISI
ü  Djaja, Wahjudi. 2012. Sejarah Eropa dari Eropa Kuno hingga Eropa Modern. Yogyakarta: Penerbit Ombak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar