Selasa, 09 Juni 2015

Sejarah singkat Pendidikan Jerman


Titin Sumarni /SP,B/ 

            Pada saat kekaisaran Roma tidak kunjung berhasil untuk mendapatkan control politik atas sebagian bangsa Jerman, di saat bangsa Franka dan kepala dinasti Merovingian berhasil memperluas daerah kekuasaannnya hingga Elba dan sebagian besar wilayah yang kini menjadi wilayah Prancis, Low Country dan Jerman Barat. Di sisi lain Gereja Roma menegrahkan segala daya dan upayanya untuk mendirikan sekolah di pusat-pusat populasi utama Jerman dengan mengelola sekolah biara. Tidak terlepas dari kepentingan pendidikan gereja itu sendiri maka pendidikan yang dibangunnya hanya meliputi pendidikan pendeta dan pendidikan rakyat bisa tidak di cakup.

            Karena melihat realita pendidikan di Jerman pada masa itu hanya sekedar untuk kalangan gereja, maka untuk menghilangkan paham sekuler dan non religius serta pentingnya pengetahuan akan membaca dan menulis seperti yang dirasakan oleh bangsa daerah pesisir di Jerman, maka mereka menginginkan adanya pendampingan guru unruuk mengarahkan mereka dalam melatih kemampuan membaca dan menulis. Berangkat dari minat masyarakat inilah akhirnya bermunculan sekolah daerah yang mengajarkan mereka membaca, menulis, membuat laporan keuangan, dan saat perdagangan berkembang, dan belajar bahasa dari bahasa bangsa lain. Mulai saat itu perkembangan sekolah dan perguruan tinggi meningkat pesat yang didalangi oleh pemerintah kota praja setempat. Beriringan dengan itu maka sekolah-seolah latin kotapraja mulai bermunculan yang mendukung pada bidang study Yunani dan Latin Klasik sehingga memunculkan jenis khas sekolah yang dikenal sebagai Gymnasium yang nantinya jenis sekolah ini akan menjadi standar ukuran sekolah menengah di Jerman samapai sekarang.
            Pada awal abad ke 15 hingga abad ke 19 pertikaian antara beberapa Negara berlangsung sengit di Jerman hingga pada akhirnya tahun 1555 mereka sepakat untuk mengakhiri konflik keagamaan itu dengan mengizinkan masing-masing pemimpin negara untuk memilih agama yang dipercayainya yang kemudian ditegakkan di negaranya, dan mewajibkan seluruh warga negara untuk mengikutinya. Kesepakatan ini dikenal dengan perjanjian Augsburg (Peace of Augsburg). Sementara itu negara Protestan mengambil alih tanah dan properti lain milik Gereja Katolik Roma, termasuk sekolah-sekolah. Banyak sekolah-sekolah yang akan dirubah untuk tujuan Protestan. Khususnya pelatihan pendeta, guru dan pemimpin lainnya. Seiring dengan berkembangnya antusiasme terhadap agama baru maka bermunculanlah sekolah-sekolah baru.
            Perjalanan roda pendidikan yang berjalan di Jerman khususnya negara bagian Prusia ini tidak lapas dari pengaruh politik pada saat itu, dimana Napoleon melenyapkan sebagaian daerah Prusia, memberatiya dengan hutang besar, membatasi pasukan hingga 42.000 rang, dan menempatkan pasukan Prancis di tempatnya, oleh kaarena itu kesempatan untuk membangun negara benar-benar tertutup. Namun, pendidikan yang disediakan oleh Gymnasiendan universitas yang berkembang lewat persaingan kota praja dan negara mulai menampakkan hasilnya. Hal ini dibuktikan denan lahirnya para cendekiawan dan para penulis, diantaranya Kleist dan Fichte, dengan memulai persenjataan diri spiritual kembali.
            Dalam hal ini terdapat beberapa faktor yang turut berperan dalam kemajuan pendidkan di Jerman khususnya negara bagian Prusia. Peran sosial, walaupun tanpa pembiayaan resmi dari negara, namun pemerintah tetap menginstruksikan terhadap gereja-gereja yang ada untuk menggiatkan proses belajar mengajarnya, sehingga inovasi-inovasi dalam pendidkan terus bermunculan, salah satunya adalah yang diprakarsai oleh Francke, Basedow, dan Salzman yang memperlihatkan bahwasannya pentingnya pendidikan dalam meningkatkan derajat sosial dan moral bangsa. Pembaharuan itu juga meliputi tentang metode dan kurikulum pendidikan.
Namun terdapat suatu pembaharuan khusus yang sangat menarik yakni pendidikan yang dikembangkan oleh Johann Heinrich Pestalozzi di Swiss, walaupun sangat religius, Pestalozzi percaya bahwa prinsip panduan yang penting untuk mengembangkan karakter yang kuat dan tujuan hidup yang layak dapat diajarkan paling baik apabila mberkembang secara induktif dari pengalaman indrawi siswa sendiri. Oleh karen itu dia berkonsentrasi pada penentuan pengalaman indrawi manakah yang paling baik memenuhi tujuannya ini serta urutan cara penyamapaiannya. Kurikulum dan meodologi yang dihasilkannya sangat mengesankan terutama para pejabat Prusia dan mereka memutuskan untuk memasukkannya pada sekolah negeri. Dan perlu diperhatikan bahwasannya sistem persekolahan di Prusia bukan merupakan hasil tuntutan rakyat, melainkan dibentuk dan diadakan menurut titah raja.
            Di sisi lain struktur kekuasaan dan organisasi administratif juga memberikan andilnya dalam pembangunan jerman dan pengembangan sistem pendidikan. Pada penghujung abad 18 raja semakin tertaarik oleh perkembangan sekolah yang dikelola oleh pihak gereja walaupun mereka tidak mendapatkan bantuan dana dari kas pemerintah. Hal ini menyebabkan semakin berkembangnya sekolah yang ditangani langsung oleh pihak pemeritah seperti sekolah menengah dan universitas. Sekolah menengah ini memberikan kesempatan pada rakyat untuk menjadi pemimpin dalam mengembangkan pendidikan, teknik dan ilmu pengetahuan. Namun lembaga atau badan pengurus sekolah yang pernah dibentuk oleh pemerintah menjadi tidak efektif. Oleh karenanya pemerintah menjadikan hokum perdata untuk mengatasi itu semua sebagai wewenangnya, raja memerintahkan kepada pemerintah daerah untuk membiayai sekolah mereka dengan membayar pajak, sekolah diwajibkan memberikan gaji yang layak bagi guru, di sisi lainm raja sendiri tidak memberikan bantuan dana dalam hal ini. Ulama geereja dalam hal ini menjadi penilik sekolah.
            Pada pergantian abad, sebuah komisi kerajaan dibentuk untuk melaporkan perkembangan sekolah, dan alhasil mutu dari sekolah-sekolah yang tersedia memiliki mutu yang sangat rendah dan jauh dari apa yang diharapkan. Maka strategi yang diambil adalah guru diharuskan untuk mengerjakan suatu keterampilan agar memperoleh biaya hidup. Oleh sebab itu para guru sering menggunakan toko atau tempat kerja untuk melakukan kegiatan belajar mengajar sembari mangwasi murid-muridnya dengan bekerja. Selain ituOberschulkollegium (badan pengurus sekolah) yang dirasa kurang efektif diganti dengan instansi nasional atau kementrian pendidikan.
Awalnya instansi ini beroperasi sebagi biro pada Kementrian Dalam Negri namun pada 1817 kepentingannya dalam upaya nasional menjadi sedemikian nyata sehingga dijadikan departemen di bawah Kementrian Agama, Pendidikan dan Kessehatan Masyarakat. Divisi-Divisi terpisah didirikan untuk mengurus pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Sedangkan universitas merupakan lembaga pendidikan yang tidak berdiri sendiri atau bisa dikatakan tidak mandiri karena universitas mendapatkan subsidi dari kas kerajaan dan berada di bawah perlindungan raja. Namun kini universitas tanggungjawabnya langsung dialihkan pada Kementrian pendidikan.
Sedangkan pendidikan dasar dan menengah di bawah pengawasan Kementrian Dalam Negri tingkat provinsi. Sekolah dasar dan menengah sangatbermacam-macam karena gereja, kotapraja, serikat pekerja, asosiasi dagang dan bahkan perseorangan diberikan hak untuk mendirikan sekolah yang di inginkan. Sehingga dibentuklah sebuah komite pendidikan untuk memusatkan kegiatan belajar mengajar pada jenjang sekolah dasar dan menengah (Schulkollegnen). Dari komite ini muncul dua prosedur ,pertama, mempersyaratkan guru mendapatkan ijazah dari Schulkollegnen dengan menetapkan program studi yang harus dipelajari oleh calon-calon guru di universitas serta mempersiapkan dan melaksanakan ujian ijazah. Kedua mempersyaratkan ujian seragam untuk mengatur mengatur penerimaan ke universitas dan dilaksanakan pada tingkat provinsi.
Schulkollegnen juga berperan untuk melakukan pelatihan atas guru sekolah dasar, tetapi pemerintah pusat berperan aktif dan mengamban suatu tanggungjawab keuangan termasuk biaya untuk mengatur seminar guru. Selain itu sekolah dasar langsung berada di bawah distrik administratif (Regierungsbezirk). Unit ini juga dikepalai oleh seorang pemimpin dan dewan yang diangkat oleh Mentri Dalam Negri. Urusan pendidikan didelegasikan pada seorang anggota dewan yang disebut denganSchulrat atau penasehat sekolah. Walaupun Schulrat yang mengarahkan implementasi program resmi pendidikan dasar dalam distriknya, pendirian dan penyelenggaraan sekolah yang sebenarnya masih menjadi tanggungjawab unit administratif bawah, masing-masing adalah Kreise dan Gemeinden. Gemeinden adalah distrik sekolah setempat, biasanya meliputi penduduk sebuah desa kecil. Sedangkan Kreise adalah terdiri dari beberapa Gemeinden dan dapat disamakan dengan sebuah wilayah yang dipimpin oleh seseorang pengawas dalam hirarki gereja.





















Daftar Rujukan


         Grolier International INC.2002.Negara dan Bangsa.Jakarta:PT.WIDYADARA
        
J.Zurcher Erik.2003.Sejarah Modern Jerman.Jakarta:PT.Gramedia Pustaka Utama
·                   Samuel Noah Kramer,1985,Tempat Lahir Peradaban,Jakarta:Tiara Pustaka
·                    http://serbasejarah.blogspod.com/2011/05/sejarah singkat jerman.html
·                http://ipsnews.net/africa/news.asp.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar