Selasa, 16 Juni 2015

SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA RASULLULAH


FAISAL/SP

Nabi Saw mendapat berbagai macam perintah dalam firman Allah, yangartinya : "Hai orang yang berselimut, bangunlah lalu berilah peringatan, dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak, dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah" ( Al-Muddatstsiar : 1 - 7 ). Sepintas lalu ini merupakan perintah-perintah yang sederhana dan remeh. Namun pada hakikatnya mempunyai tujuan yang jauh, berpengaruh sangat kuat dan nyata. Ayat-ayat ini sendiri mengandung materi-materi dakwah dan tabligh. Dan semua ayat ini menuntut tauhid yang jelas dari manusia, penyerahan urusan kepada Allah, meninggalkan kesenangan diri sendiri dan keridhaan manusia, untuk dipasrahkan kepada keridhaan Allah.

Sungguh ini merupakan perkataan yang besar dan menakutkan, yang membuat beliau melompat dari tempat tidurnya yang nyaman dirumah yang penuh kedamaian, lalu siap terjun ke kancah diantara arus dan gelombang kehidupan. Setelah beliau bangkit dari tempat tidurnya itu, dimulailah beban yang besar yang harus dilaksanakan beliau. Mulai saat itu, hingga ia wafat, ia tidak pernah istirahat dan diam. Tidak hidup untuk diri sendiri dan keluarga beliau. Beliau bangkit dan senantiasa bangkit untuk berdakwah kepada Allah, memanggul beban yang berat diatas pundaknya, tidak mengeluh dalam melaksanakan beban amanat yang besar di muka bumi ini, memikul beban kehidupan semua manusia, beban akidah, perjuangan dan jihad di berbagai medan. Kita bisa membagi masa dakwah Rasulullah SAW menjadi dua periode, yaitu : Periode atau fase Mekkah, dan Periode atau fase Madinah
v  ISLAM PADA MASA NABI MUHAMMAD SAW
Islam tersebar ke berbagai penjuru dunia dengan sangat cepat. Dalam waktu +23 tahun, Islam sudah tersebar ke seluruh Jazirah Arab. Waktu 23 tahun itu dapat dibagi menjadi dua periode, yaitu periode Mekah yang berlangsung selama + 13 tahun dan periode Madinah + 10 tahun. Cepatnya penyebaran Islam itu tidak berarti bahwa dakwah yang dilakukan nabi Muhammad SAW. Berjalan mulus. Pada periode Mekah nabi menghadapi rintangan berat dari kaum Quraisy. Selama itu, nabi hanya memperoleh pengikut sekitar 200 orang. Itupun kebanyakan dari kalangan lemah.
v  PENYEBARAN ISLAM PERIODE MEKAH
Rasulullah SAW berdakwah menyebarkan Islam di Mekah selama + 13 tahun. Selama berdakwah Rasullulah memiliki sistem atau cara tersendiri.
  Sistem Dakwah Rosululloh
Rasulullah saw. lahir dan berkembang di Mekkah yang masyarakatnya sedang mengalami masa transisi yang hebat dalam berbagai bidang, seperti sosial, agama dan politik. Ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad pada umumnya merupakan keinginan untuk memperbaiki dan menyelamatkan masyarakat Mekkah dalam menjalani masa transisi ini. Dalam faktanya, Muhammad saw. tidak bisa menjalankan dakwahnya secara efektif yang membuahkan hasil yang memuaskan. Beberapa kondisi ikut melatari ketidak efektifan dakwah Muhammad di Mekkah. Penganut yang berhasil dipengaruhi oleh Muhammad pun tidak seberapa jumlahnya karena memang beliau tidak bisa melaksanakan dakwahnya secara terang-terangan. Ahirnya Nabi pun dakwah secara sembunyi-sembunyi, hal ini telah di ketahui oleh quraisy, akan tetapi dalam fase seruan dengan cara sembunyi ini quraisy tidak memperdulikannya, karena mereka sungguh tiada mengira bahwa seruan itu akan hidup dan kuat, dan akan di anut oleh orang yang banyak. Ada beberapa fase yang dijalani oleh nabi Muhammad dalam memulai dan mengembangkan ajaran yang beliau bawa.
·         Fase dakwah sembunyi-sembunyi
Pada fase ini Rasul hanya mengajak kerabat-kerabatnya untuk ikut memeluk agama Islam yang beliau bawa. Mereka diseru untuk meyakini ajaran-ajaran pokok yang terkandung dalam wahyu yang ia terima. Nabi Muhammad mulai melaksanakan dakwah Islam di lingkungan keluarga, mula-mula istri beliau sendiri yaitu Khadijah yang menerima dakwah beliau, kemudin Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar sahabat beliau lalu Zaid bekas budak beliau. Disamping itu juga banyak orang masuk Islam melalui perantara Abu Bakar yang dikenal dengan julukan Assabiqunal Awwalun (orangg-oyang yang lebih dahuulu masuk Islam), mereka adalah Ustman bin Affan, Zubaie bin Awwan, Sa'ad bin Abi Waqqash, Abdur Rahman bin 'Auf, Thalhah bin 'Ubaidillah, Abu 'Ubaidah bin Jarrah, dan Al-Arqam bin Abil Arqam.
·         Fase Dakwah Terang-Terangan
Ada dua fase yang dijalani oleh Rasulullah pada saat itu, yang pertama adalah menjalankan dakwah dengan mengajak kerabatnya dengan terang-terangan. Setelah menerima perintah untuk berdakwah secara terang-terangan kepada kerabatnya, maka Rasulpun lalu menyeru mereka di bukit Shafa. Fase selanjutnya adalah menyeru tidak hanya kerabatnya akan tetapi semua orang. Fase ini dimulai dengan turunnya ayat Al-Quran surah Al-Hijr : 94. "maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik." QS. Al-Hijjr: 94) Setelah turunnya ayat ini, mulailah Rasulullah saw. menyerukan agama islam kepada semua orang, hingga penduduk luar Mekkah yang datang untuk mengunjungi Ka'bah. Kemudian sesudah Rasulallah mulai menyeru dengan terang-terangan, maka kaum quraisy menyatakan tantangannya terhadap agama baru itu. Dan mereka coba hendak membunuh agama ini dengan cara apapun.
·         Pendidikan Islam Di Makkah
Pendidikan tauhid dalam teori dan praktek Intisari pendidikan islam pada periode Makkah adalah ajaran tauhid. Pendidikan tauhid merupakan perhatian utama Rasulallah ketika di Makkah. Pada saat itu masyarakat jahiliyah sudah banyak yang menyimpang pada ajaran tauhid yang telah di bawa oleh nabi ibrahim. Karena tauhid merupakan pondasi yang paling dasar, maka harus di tata dulu dengan kuta. Pokok-pokok ajaran ini sebagaimana tercermin dalam surat Al-Fatihah, yang pokok-pokoknya sebagai berikut :
1.      Bahwa Allah adalah pencipta alam semesta yang sebenarnya. Itulah sebabnya, maka beliaulah yang berhak mendapatkan segala pujian.
2.      Bahwa Allah telah memberikan nikmat, memberikan segala keperluan kepada makhluknya dan khusus bagi manusia di tambah dengan petunjuk dan bimbingan agar mendapat kebahagiaan di dunia dan di akherat.
3.       Ahwa Allah adalah raja di kemudian hari yang akan memperhitungkan amal perbuatan manusia di bumi ini.
4.      Bahwa Allah adalah sesembahan yang sebenarnya dan yang satu-satunya. hanya kepada Allah segala bentuk pengabdian di tunjukan.
5.      Bahwa Allah adalah penolong yang sebenarnya, dan oleh karena itu hanya kepadanyalah manusia meminta pertolongan.
6.      Bahwa Allah lah yang sebenarnya membimbing dan memberi petunjuk kepada manusia dalam mengarungi kehidupan manusia yang penuh rintangan,tantangan dan godaan.
·         Pengajaran Al-Qur'an
Al-Qur'an merupakan intisari dan ajaran pokok dari ajaran islam yang di sampaikan Nabi Muhammad Saw kepada umat. Tugas Muhammad di samping mengajarkan Tauhid juga mengajarkan Al-Qur'an kepada umatnya agar secara utuh dan sempurna menjadi milik umatnya yang selanjutnya akan menjadi warisan secara turun menurun dan menjadi pegangan serta pedoman hidup bagi kaum muslimin sepanjang zaman. Rasulallah bersabda "aku tinggalkan dua perkara,apabila kamu berpegang teguh kepadanya, maka kamu tidak akan tersesat, yaitu Al-Qur'an dan sunnah". Semua yang di sampaikan oleh Rasulallah kepada umatnya adalah berdasarkan Al-Qur'an. Bahkan di katakan dalam sebuah hadits, bahwa akhlak Rosul adalah Al-Qur'an. Apa yang di contohkan Rasul adalah cermin isi Al-Qur'an. Sehingga kalau umat islam mau berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Khadits Nabi, maka di jamin mereka tidak akan tersesat.
v  PENYEBARAN ISLAM PERIODE MADINAH
Setelah peristiwa isra' dan mi'raj, ada suatu perkembangan besar bagi kemajuan dakwah islam. Perkembangan mana datang dari jumlah penduduk yatsrib yang berhaji ke mekkah. Tatkala gejala-gejala kemenangan di yatsrib (madinnah) Nabi menyuruh para sahabatnya untuk pindah kesana dalam waktu dua bulan hampir semua kaum muslimin kurang lebih 150 orang, telah meninggalkan kota mekah untuk mencari perlindungan kepada kaum muslimin yang baru masuk ke yatsrib. Dalam perjalanannya mengemban wahyu Allah, Nabi memerlukan suatu strategi yang berbeda dimana pada waktu di mekah Nabi lebih menonjolkan dari segi tauhid dan perbaikan akhlak, tetapi ketika di madinnah Nabi lebih banyak berkecimpung dalam pembinaan atau pendidikan sosial masyarakat karena disana beliau di angkat sebagai Nabi sekaligus sebagai kepala negara.
Persoalan yang di hadapi oleh Nabi ketika di madinnah jauh lebih kompleks di banding ketika di mekah. Di sini umat islam sudah berkembang pesat dan harus hidup berdampingan dengan sesama pemeluk agama yang lain, seperti yahudi dan nasrani. Oleh karena itu pendidikan yang di berikan oleh Nabi juga mencangkup urusan-urusan muamalah atau tentang kehidupan masyarakat dan politik. Setelah nabi berhijrah ke madinnah, dan manusia telah berbondong-bondong masuk ke agama islam, mulailah Nabi membentuk suatu masyarakat baru, dan meletakan dasar-dasar untuk suatu masyarakat yang besar yang sedang di tunggu-tunggu oleh sejarah.
Pada periode ini ditandai dengan pengenalan awal berbagai sisi lain syariah Islam berupa peribadatan (ubudiyah), seperti Shalat, Puasa, zakat, maupun haji. Termasuk pula disosialisasikan selama periode ini konsep jihad fi sabilillah (berjuang di jalan Allah). Pembentukan Sistem Sosial, Politik dan Ekonomi Islam adalah agama dan sudah sepantasnya jika dalam negara di letakan dasar-dasar islam maka turunlah ayat-ayat Al-Qur'an pada periode ini untuk membangun legalitas dari sisi-sisi tersebut sebagaimana di jelaskan oleh Rasulallah dengan perkataan dan tindakannya hiduplah kota madinnah dalam sebuah kehidupan yang mulia dan penuh dengan nilai-nilai utama. Terjadi sebuah persaudaraan yang jujur dan kokoh, ada solideritas yang erat di antara anggota masyarakatnya. Dengan demikian berarti bahwa inilah masyarakat islam pertama yang di bangun Rasulallah dengan asas-asasnya yang abadi.
Rasulallah membangun tempat-tempat ibadah yang selain di dalamnya bertujuan untuk ibadah tetapi juga untuk mempersatukan kaum muslimin dengan musyawarah dalam merundingkan masalah-masalah yang di hadapi. Selain itu menjadi pusat pemerintahan yang mempersaudarakan kaum muhajirin dan anshar. Persaudaraan di harapkan dapat mengikat kaum muslimin dalam persaudaraan dan kekeluargaan. Rasulallah juga membentuk persaudaraan yang baru yaitu persaudaraan seagama, di samping persaudaraan yang sudah ada sebelumnya, yaitu bentuk persaudaraan berdasarkan darah. Dan membentuk persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama islam serta membentuk pasukan tentara untuk mengantisipasi gangguan-gangguan yang di lakukan oleh musuh.
Semua yang di lakukan oleh Nabi Muhammad Saw di kota hijrah itu merupakan refleksi dari ide yang terkandung dalam perkataan Arab madinnnah dalam arti itu sama  dengan hadharah dan tsaqarah, yang masing-masing sering di terjemahkan, berturut-turut peradaban dan kebudayaan, tetapi secara etimologis mempunyai arti pola kehidupan menetap sebagai lawan badawah yang berarti "pola kehidupan mengembara". Oleh karena itu perkataan madinnah dalam peristilahan moderen menunjuk pada semangat dan pengertian civil society, suatu istilah inggris yang berarti "masyarakat sopan, beradab, dan teratur" dalam bentuk negara yang baik. Dalam arti inilah harus di pahami kata-kata hikmah dalam bahasa Arab, (Al insanu madniy-un bi ath thab'i)"manusia menurut naturnya adalah bermasyarakat budaya" .
·         Peristiwa Penting Pada Periode madinah
Perang Badar (17 Ramadhan 2 H) Perang badar terjadi pada tahun 2 H/ 625 M di lembah badar. Pasukan muslimin berjumlah 313 orang, sedangkan pasukan kafir berjumlah 1000 orang. Perang ini dimenangi kaum muslimin. Perang badar terjadi karena kaum kafir Quraisy telah mengusir dan merampas seluruh harta benda kaum muslimin sehingga terpaksa hijrah ke Madinah. Selain itu kaum Quraisy selalu berusaha menghancurkan kaum muslimin. Pengaruh kemenangan umat muslim dalam perang badar sangat besar, yaitu meningkatkan nama harum umat Islam. Selain itu, banyak orang yang masuk Islam dengan kesadarannya. Perang badar disebut juga Yaumul Taqal Jam'an. Artinya hari bertemunya dua golongan, yaitu Islam dan kaum kafir Quraisy.
Tiga tokoh Quraisy yang terlibat dalam perang Badar adalah Utbah bin Rabi'ah, Al-Walid, dan Syaibah. Ketiganya tewas di tangan tokoh muslim, seperti Ali bin Abi Thalib, Ubaidah bin Haris, dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Adapun di pihak muslim, Ubaidah bin haris meninggal karena terluka.
A. Perang Uhud
Pada tahun 3 H Sya'ban/ 625 M terjadi perng di bukit Uhud, dengan bantuan dari kabilah Saqif, Tihamah dan Kinaah kaum Quraisy berangkat ke Madinah dengan membawa 3000 pasukan unta, 200 pasukan berkuda dibawah pimpinan Khalid bin Walid (sebelum masuk Islam) dan 700 orang pasukan berbaju besi. Sedang kaum muslimin berjumlah 1000 orang. Rasul menempatkan 50 orang pemanah mahir di lereng bukit yang cukup tinggi di bukit Uhud, dibawah pimpinan Hamzah bin Abdul Muthalib. Rasul berpesan agar tidak meninggalkan tempat itu dengan alasan apapun.  Pasukan muslimin dapat memukul mundur pasukan musuh yang lebih besar. Kemenangan yang sudah didepan mata digagalkan oleh godaan harta yang ditinggalkan pihak musuh. Pasukan muslimin termasuk anggota pemanah, mulai memungut harta rampasan dan tidak menghiraukan gerakan musuh. Pasukan musuh pun kembali menyerang dari atas bukit yang ditinggalkan pasukan muslimin. Pasukan muslimin tak mampu bertahan. Hamzah, paman Rasul terbunuh dengan dada dibelah.
B. Perang Khandak (perang parit)
Peristiwa ini terjadi pada tahun 5 H Syawal / 627 M, pasukan muslimin berjumlah 3000 orang dan pasukan sekutu berjumlah 10.000 orang dibawah komando Abu sufyan. Kekuatan musuh yang sangat besar membuat umat Islam berfikir keras. Akhirnya muncul usulan dari Salman Al Farisi untuk membuat parit sebagai benteng pertahanan. Pembuatan parit selesai dalam waktu 6 hari.
Dalam perang ini tidak terjadi baku hantam karena kedua pasukan dipisahkan oleh parit pertahanan. Dalam perang ini Ali bin Abi Thalib berhasil membunuh Amr bin Abdul Wudd bin Abi Qais.  Umat Islam terkepung oleh pasukan sekutu selama satu bulan. Dalam suasana yang tidak menguntungkan tanpa diketahui siapapun seorang dari kabilah Gatafan yang bernama Nu'man bin Mu'az menyatakan diri masuk Islam. Kemudian ia diberi tugas oleh Rasul untuk memecah belah pasukan sekutu dan berhasil. Akhirnya, tumbuh sikap saling tidak percaya di antara pasukan sekutu. Pasukan sekutu makin kacau ketika suatu malam Allah SWT menurunkan angin topan yang memporak-porandakan kemah mereka. Merekapun memutuskan untuk pulang kembali ke tempat masing-masing tanpa hasil apaun.
C. Perang Mu'tah (8H)
Penyebab terjadinya perang ini adalah dibunuhnya utusan nabi SAW yang membawa surat kepada raja Gassan untuk menyeru masuk Islam. Beliau mengirim sebanyak 3000 orang dibawah pimpinan Zaid bin Harisah untuk menghadapi raja Gassan. Perang ini terjadi di utara Jazirah Arab. Perang ini disebut perang Mu'tah karena terjadi di daerah Mu'tah.
D. Perjanjian Hudaibiyah
Pada tahun 6 H, Rasul beserta kaum muslimin berangkat ke Mekah untuk beribadah haji. Mereka sejumlah 1000 orang. Ketika sampai di suatu tempat bernama Hudaibiyah, Rasul mengutus Usman bin Affan kepada orang kafir Quraisy untuk menjelaskan tujuan kaum muslimin ke Mekah yaitu beribadah haji dan menengok saudara-saudaranya.  Namun, Usman ditahan oleh kaum kafir Quraisy dan terdengar berita bahwa ia dibunuh. Ternyata berita itu tidak benar.  Tidak lama kemudian utusan kafir Quraisy yaitu Suhail bin Amr datang. Dan disepakati perjanjian yang disebut perjanjian Hudaibiyah. Adapun isinya, yaitu : Umat Islam tidak diperbolehkan menjalankan umrah tahun ini. Tahun depan baru diperbolehkan. Umat Islam tidak boleh berada di Mekah lebih dari tiga hari. Keduanya tidak saling menyerang selama 10 tahun. Orang Islam yang lari ke Mekah (murtad) diperbolehkan, sedangkan orang kafir (Mekah) yang lari ke Madinah masuk Islam harus ditolak. Suku Arab lain, bebas memilih ikut ke Madinah atau ke Mekah. Perjanjian ini merugikan kaum muslimin namun hikmahnya sangat besar. Masa 10 tahun dapat dimanfaatkan untuk berdakwah dengan bebas tanpa khawatir ada gangguan dari kaum kafir Quraisy. Dalam masa 2 tahun saja, pengikut nabi Muhammad SAW sudah bertambah menjadi banyak.
Perjanjian hudaibiyah ini berlangsung cukup lama. Orang-orang kafir Quraisylah yang melanggar perjanjian dengan menyerang suku Khuza'ah yang beragama Islam. Fathul Mekah ( penaklukan kota Mekah ) Setelah perjanjian Hudaibiyah dilanggar nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya berupaya untuk menaklukkan kota Mekah. Beliau menyiapkan pasukan sejumlah 10.000 orang. Hal itu terjadi pada tahun 8 H.  Beliau memberi perintah, "jangan sekali-kali menyerang jika tidak diserang."Melihat jumlah pasukan muslimin yang banyak dengan diiringi suara takbir, orang –orang kafir Quraisy tak mampu berbuat apa-apa. Dalam hatinya timbul ketakutan. Pasukan muslimin masuk Mekah tanpa perlawanan. Selanjutnya, nabi Muhammad SAW menuju Ka'bah dan berseru, "siapa yang menutup pintu rumahnya, aman. Siapa yang menyarungkan pedangnya, aman. Siapa yang masuk ke rumah Abu sufyan, aman." Orang –orang kafir Quraisy mematuhi seruan tersebut. Mereka menutup pintu rumahnya, menyarungkan pedang dan masuk rumah Abu sufyan. Kemudian, nabi Muhammad SAW menyuruh kaum muslimin menghancurkan berhala-berhala yang ada disekitar ka'bah.
Nabi Muhammad SAW, melakukan haji wada' pada tahun 10 H / 632 M. Pada waktu melaksanakan haji wada' inilah beliau menerima wahyu yang terakhir yaitu surah al-maidah ayat 3. "Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah SWT, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.
"Pada hari ini orang-orang kafir Telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa, Karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. Al-Ma'idah:3). Setelah melaksanakan haji wada' dan menerima wahyu tersebut, nabi Muhammad SAW kembali ke Madinah bersama kaum muslimin. Delapan puluh hari kemudian, beliau jatuh sakit sampai wafatnya, pada hari senin tanggal 12 rabiul awal tahun 11 H.
v  Piagam Madinah
Yang dimaksud dengan Piagam Madinah adalah semacam undang-undang tidak tertulis yang mengatur berbagai bentuk hubungan antara warga Yang majemuk. Secara garis besar penduduk Madinah terdiri atas dua komunitas. Mereka yang merupakan penduduk asli Madinah mendapat julukan Sahabat Ansor, yang berarti kelompok penolong, karena telah memberikan pertolongan besar kepada mereka yang dikenal sebagai Sahabat Muhajirin ( komunitas pendatang) atau mereka yang berhijrah dari Mekah ke Madinah, karena mengikuti Rosullulah. Secara etnik atau kabilah, kelompok Ansor terdiri atas kabilah-kabilah Bani Awf, Bani Khuzfah, Bani Jusham, Bani saidah, Bani 'Aus, maupun Bani Tsa'labah. sebagian dari mereka ada yang telah menyatakan memeluk agama Islam, hingga disebut sebagai kaum Mukminin karena meyakini risalah Islam. Sebagian lainnya masih tetap memeluk agama Yahudi maupun Nasrani. Mereka dikenal pula sebagai kaum kafir ahli kita, karena meyakini kitab-kitab Allah yang juga diimani oleh kaum mukminin. Karena posisi mental mereka menentang agama islam, mereka dikenal sebagai kaum kafir dhmimi atau mereka yang cinta damai, hingga harus dihadapi dengan damai. Sebagian kaum kafir dikelompokkan ke dalam kelompok kafir harbi atau mereka yang harus diperangi, karena menentang Islam. Sementara itu, kelompok Sahabat Muhajirin terdiri dari kabilah Quraisy, baduwi gurun, maupun Etnik habsi dari Afrika.
Menyadari kenyataan warga masyarakat yang majemuk itu Rosullulah mengeluarkan ketentuan yang bisa dianggap sebagai konstitusi pertama bagi sebuah negara. Konstitusi yang kemudian dikenal sebagai Piagam Madinah itu berisi antaralain sebagai berikut: Ini merupakan dokumen dari Muhammad sang Nabi saw., yang mengatur hubungan antar-pemelik keyakinan Islam maupun mereka yang tidak memeluk Islam, mereka yang dari etnik Quraisy (Muhajirin) maupun Madinah (Ansor), dan para pengikut mereka maupun yang berkerja pada mereka. Mereka merupakan satu ummah (umat atau bangsa) di tengah-tengah seluruh umat manusia. Kaum Muhajirin dari etnik Quraisy, sebagai pendatang baru dalam masyarakat mukminin (Islam), harus menyesuaikan diri dalam kehidupan masyarakat baru, atas kebaikan dan pertolongan kaum Ansor di Madinah, sebagai sesama kaum muslim. Warga kabilah Bani Awf dari Madinah harus menyesuaikan diri dalam masyarakat baru kaum mukminin, dengan penuh keikhlasan dan keadilan dengan membayar jaminan kepada negara. Demikian juga dengan warga Bani Haris bin Al-Khazraj, harus memasuki masyarakat baru (mukminin), dengan penuh keikhlasan dan keadilan setelah membayar uang perlindungan kepada negara.
Dan warga Bani Saidah harus menyesuaikan diri dalam masyarakat baru kaum mukminin, dengan penuh keikhlasan dan keadilan setelah membayar uang perlindungan  kepada negara. Dan warga Bani Jusham harus menyesuaikan diri dalam masyarakat baru (Islam) dengan penuh keikhlasan dan keadilan setelah membayar uang perlindungan  kepada negara. Warga Bani al-Najjar (Najron)  harus menyesuaikan diri dalam masyarakat baru kaum mukminin, dengan penuh keikhlasan dan keadilan setelah membayar uang perlindungan  kepada negara.
·         Kaum mukminin tidak membiarkan seorang pun meninggalkan keyakinan (baru) Islam, tanpa uang tebusan atau perlindungan.
·         Sesama kaum mukminin tidak diperkenankan bermusuhan satu sama lain.
Seorang Mukminin tidak akan membunuh sesama mukminin hanya karena mereka menolong atau berteman dengan kaum kafir. Warga Yahudi yang mau bergabung dengan kami berhak mendapatkan bantuan dan kesamaan hak. Mereka tidak akan disalahkan dan tidak pula diangap sebagai musuh. Kaum muslimin akan menuntut balas atas darah yang tertumpah dalam perang di jalan Allah. Orang-orang Yahudi dapat ikut membantu biaya perjuangan Islam dengan jalan berperang disisi kaum mukminin. Kaum Yahudi dari kabilah Bani Awf merupakan satu komunitas dengan kaum mukminin dan mereka masing-masing mendapatkan kemerdekaan untuk melaksanaan agama mereka, kecuali mereka bersikap tidak jujur dan berbuat dosa, yang berarti telah menyengsarakan diri dan keluarga.
·         tanpa izin dari Nabi Muhammad saw. tidak seorang pun boleh meninggalkan Madinah.
·         namun setiap orang berhak untuk menuntut balas atas cedera yang dialami. Seseorang yang membunuh orang tanpa sebab yang sah diancam hukum mati, kecuali kalau ternyata korban telah melanggar perintah Allah.
·         orang Yahudi maupun orang muslim harus memelihara kekayaan masing-masing. Semua pihak wajib tolong-menolong sesama warga. Semua pihak wajib mencegah setiap tindak kekerasan terjhadap orang lain. Masing-masing warga wajib saling menolong dan menasehati, dan loyalitas pada negara menjamin perlindungan dari negara.
·         seseorang harus ikut bertanggung jawab atas kesalahan teman sekutunya. Oranh berbuat kekeliruan harus mendapat pertolongan. Dan masing banyak kebijkan yang dibuat Rosullulah.
Rasullulah juga mengajarkan pendidikan islam di makkah yang dipelajarinya yaitu tentang tauhid dalam teori dan praktek juga memperdalam tentang pengajaran Al-Qur'an.   Rasulallah juga membangun tempat-tempat ibadah yang selain di dalamnya bertujuan untuk ibadah tetapi juga untuk mempersatukan kaum muslimin. Terjadi sebuah persaudaraan yang jujur dan kokoh, ada solideritas yang erat di antara anggota masyarakatnya. Kemudian yang melatarbelakangi Piagam Madinah adalah keadaan masyarakat majemuk di Madinah karena terdiri dari berbagai kabillah-kabilah.

DAFTAR PUSTAKA
-          Abdul Mun'im Majid. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. 1998.
-          Syalabi.A.  Sejarah dan Kebudayaan Islam.Bandung: Pustaka Al Husna. 1990. 
-          Abu Su'ud. Islamonologi. Jakarta: PT Rineka Cipta. 2003.
-          Dedi supriyadi. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia.2008
-          Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar