Senin, 08 Juni 2015

Perjuangan Kongres Pemuda I


Andi Aminah Riski/SI IV

Perhimpunan Indonesia menerbitkan majalah, yang diberi nama "Indonesia Merdeka" Pada tahun 1925. Perhimpunan Indonesia, adalah suatu organisasi masyarakat Indonesia yang berada di negeri Belanda.Para pemimpin Perhimpunan Indonesia, adalah para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di negeri Belanda.Dalam nomer perdana majalah "Indonesia Merdeka", yang terbit bulan Februari 1925, dimuat tulisan tentang tujuan gerakan Perhimpunan Indonesia. Pengurus Perhimpunan Indonesia,mengirimkan
sejumlah majalah "Indonesia Merdeka" ke tanah air. Dikirim ke alamat-alamat pelbagi organisasi pemuda di tanah air.Pada masa itu, di Indonesia sudah ada pelbagi organisasi pemuda.Kegiatan-kegiatan mereka, mengutamakan kepentingan daerah atau suku masing-masing.Namun, di antara para pemimpin pelbagai organisasi pemuda itu, sudah ada yang telah mempunyai gagasan mulia.Yakni, gagasan untuk merintis persatuan nasional di kalangan Angkatan Muda Indonesia. Untuk selanjutnya, merintis persatuan nasional di kalangan seluruh masyarakat.
Isi majalah "Indonesia Merdeka", makin mendorong semangat mereka, untuk bersama-sama berusaha mewujudkan gagasan yang mulia itu.Maka, mereka lalu melakukan pertemua-pertemuan.Akhirnya mereka mufakat, untuk menyelenggarakan semacam muktamar pemuda Indonesia. Dalam muktamar itu, akan dibahas pelbagai segi untuk merintis usaha ke arah persatuan nasional. Dimufakati pula, muktamar pemuda Indonesia yang akan mereka selenggarakan itu, disebut Kongres Pemuda Indonesia Pertama.[1]
Tujuan Kongres Pemuda I adalah membentuk badan sentral, memajukan paham persatuan kebangsaan, dan mempererat hubungan di antara semua perkumpulan pemuda kebangsaan. Hal yang menjadi agenda pembicaraan adalah tentang usulan bahasa Indonesia yaitu bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Mengenai usulan fusi untuk semua perkumpulan pemuda, tidak ada keputusan. Setelah berlangsungnya kongres pertama, para pemuda semakin tergerak untuk menindaklanjuti dengan melakukan kongres berikutnya.[2]
Pada awal tahun 1926, Panitia Kongres sudah berhasil menyusun jadwal acara.Rangkaian ceramah-ceramah merupakan acara pokok siding-sidang umum Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Enam orang pemuda pemudi akan tampil sebagai penceramah. Mereka itu ialah : Sumarto,Bahder Johan, Muh. Yamin, Jaksodipura, Paul Pinontoan, dan Nona Stien Adam.
Rangkaian ceramah-ceramah terdiri atas tiga pokok pembicaraan:
1.      Tentang persatuan bangsa Indonesia
2.      Tentang kedudukan dan peranan wanita dalam masyarakat Indonesia
3.      Tentang peranan agama dalam gerakan persatuan bangsa Indonesia
Panitia Kongres juga membentuk suatu Panitia Perumus. Tugas Panitia Perumus, ialah mempersiapkan naskah rumusan putusan Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Jadwal pelaksanaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama ditetapkan, mulai dari tanggal 30 April 192 sampai dengan tanggal 2 Mei 1926. Berkat kerja sama dan kerja keras Panitia Kongres, dalam bulan maret 1926, hamper semua masalah teknis dan administrative untuk pelaksanaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama, telah diatasi. Namun, masih ada satu masalah yang belum sempat diselesaikan. Yakni, surat izin kepolisian Hindia Belanda.
Pada masa itu, semua kegiatan yang diselenggarakan oleh pemuda Indonesia di ibu kota Hindia Belanda, harus memperoleh izin lebih dulu dari pembesar Kepolisian Hindia Belanda. Pembesar yang berwenang itu, berpangkat Komisaris Kepala.Seorang Belanda totok, bernama Visbeen. Ibu kota Hindia Belanda, adalah Jakarta. Oleh Belanda, Jakarta diganti menjadi Batavia. Karena saat pelaksanaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama sudah makin mendekat, M. Tabrani didesak oleh rekan-rekannya agar mereka mengurus surat izin itu. Sebagai Ketua Panitia, tentu saja M. Tabrani tak dapat menolak desakan rekan-rekannya. Maka, segera pula ia berangkat menuju ke Markas Besar Kepolisian Hindia Belanda. Ia dibekali setumpuk dokumen, untuk memenuhi syarat-syarat permohonan izin guna melaksanakan Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Ketika tiba di tempat yang dituju, M. Tabrani terkejut karena bertemu dengan beberapa teman sekolahnya dulu. Kepada ketiga orang teman sekolahnya itu, M. Tabrani mengemukakan maksudnya untuk bertemu dengan Visbeen. Ia juga mengemukakan secara ringkas, apa maksud tujuan menyelenggarakan Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Setelah mendengar apa yang dikemukakan M. Tabrani, ketiga orang tadi serentak menyatakan akan memberikan bantuannya.
Pada hari yang ditetapkan, M. Tabrani dating berkunjung lagi ke kantor Visbeen. Di sna ia disambut dengan senyum rama oleh Abdulrahman dan teman-teman lainnya. Abdulrahman membisiki M. Tabrani, "Kami sudah menyarankan kepada Visbeen, agar mengeluarkan surat izin." M. Tabrani tersenyum lalu berkata lirih, "Terima Kasih".[3]
Beberapa hari sebelum pembukaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama, M. Tabrani didatangi oleh seorang pemuda bertuduh jangkung.Ia bernama Wage Rudolf Supratman. Pekerjaan, wartawan surat kabar "Sin Po". Suatu surat kabar berbahasa Melayu yang diterbitkan oleh orang-orang keturunan Cina. Surat kabar itu sering memuat karangan-karangan, berita-berita yang memihak kepada kegiatan-kegiatan angkatan muda Indonesia.Itulah sebabnya, M. Tabrani merasa senang dikunjungi oleh wartawan "Sin Po".Ia memberi semua keterangan mengenai Kongres Pemuda Indonesia Pertama yang diminta oleh Wage Rudolf Supratman. Kedua orang wartawan itu bersepakat akan menyiarkan berita-berita Kongres, pada hari pembukaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama, tanggal 30 April 1926. Wage Rudolf Supratman akan menyiarkan lewat surat kabar "Hindia Baru". Sebagai Ketua Panitia, M. Tabrani memberiakan kesempatan seluas-luasnya kepada Wage Rudolf Supratman untuk dapat meliput
peristiwa bersejarah itu. Tentu saja Wage Rudolf Supratman sangat berterima kasih kepada M. Tabrani.Ia bejanji akan mengikuti dari dekat berlangsung Kongres Pemuda Indonesia pertama, Tepat pada tanggal 30 April 1926, dilaksanakan pembukaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama.Semua organisasi  pemuda mengirimkan wakil-wakil merekauntuk menghadirinya. Karena para tamu dan para peserta yang diundang sangat terbatas, maka jumlah hadirin pada pembukaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama tidaklah banyak.
Tatkala Ketua Panitia mulai mengucapkan pidato pembukaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama, Nampak Abdulrahman mulai mengajak Visbeen berbincang-bincang.Kemudian Ahmad mangkudilalaga dan Iming Sastradinata ikut berbincang-bincang dengan Visbeen.  Sementara itu, para hadirin terpukau oleh pidato Ketua Panitis. Betapa tidak, ia mengawali pidatonya dengan kalimat-kalimat sebagai berikut :
"Putra-putri Indonesia dan Anda semua yang hadir di sini. Atas nama Panitia Kongres Pemuda Indonesia yang Pertama, saya mengucapkan selamat datang. Saya sampaikan ucapan selamat datang kepada Anda semua sebagai pejuang-pejuang kemerdekaan Tanah Air dan Bangsa Kita.Dan sebagai pribadi-pribadi yang memperlihatkan perhatiannya kepada perjuangan nasional kita.Anda semua telah meringankan langkah mengunjungi Kongres Pemuda Indonesia yang pertama ini.Sungguh suatu perbuatan yang patut dihargai.Kongres ini adalah suatu tongkak sejarah dalam sejarah pergerakan pemuda kita.
Kemudian Ketua Panitia melanjutkan pidatonya dengan ucapan-ucapan sebagai berikut :"Kita semua, orang-orang Jawa, Sumatra, Minahasa, Ambon dan lain-lain, oleh sejarah ditempa menjadi insan-insan yang harus bersatu padu, jika kita ingin mencapai tujuan kita bersama. Dan itu adalah, kemerdekaan Indonesia, Ibu Pertiwi Tercinta."
"Mengakhiri pidato saya, amat saya harapkan, supaya kongres ini menyuarakan generasi Indonesia sekarang.Yang nantinya terpanggil untuk bekerja, berkarya, berjuang dan mati untuk kemerdekaan Nusa dan Bangsa kita.Rakyat di seluruh kepulauan Indonesia bersatulah!"
Seusai Ketua Panitia mengucapkan pidatonya, para hadirin serempak menyambut dengan tepuk tangan riuh.Banyak di antara hadirin yang saling berbisik-bisik.Mereka memuji isi pidato Ketua Panitia. Apalagi pidato itu diucapkan di depan hidung Komisaris Kepala Polisi Hindia Belanda.
Pada acara persidangan berikutnya, Sumarto tampil untuk menguraikan "Gagasan tentang Indonesia Bersatu". Intisari pidato Sumarto sama dengan yang dikemukakan oleh M. Tabrani. Yaitu, merintis atau menggugah semangat persatuan bangsa Indonesia.
Jika M. Tabrani menutup pidatonya dengan seruan agar bangsa Indonesia di seluruh Nusantara bersatu, Sumarto berkata sebagai berikut :"Jika pada akhir pidato saya ini dinyatakan kepadaku, apa kemauanku dan apa yang sepenuhnya terkandung dalam hatiku, maka jawabku adalah ini : Pemuda Indonesia, bangkitlah menuju persatuan, bangkitlah menuju Indonesia merdeka!
Sesaat setelah Sumarto mengakhiri pidatonya, para hadirin serempak menyatakan pujiannya dengan tepuk tangan riuh.Pada saat hadirin bertepuk tangan riuh, Visbeen tampak santai berbincang-bincang dengan seorang pemuda tampan dan seorang pemudi ayu.Ia juga tidak memperhatikan ucapan-ucapan para hadirin yang dengan bersemangat menanggapi pidato Sumarto. Persidangan berlangsung lancar.Visbeen tidak pernah mengajukan teguran.Ibarat seorang macan, Visbeen telah masuk ke dalam jebakan tersamar yang dipasang oleh M. Tabarani.
Persidangan terakhir Kongres Pemuda Indonesia Pertama, dilangsungkan pada pagi dan siang hari tanggal 2 Mei 1926.Persidangan terakhir itu, terdiri atas beberapa acara.Adapun acara pertama berupa sidang terbuka yang diisi dengan ceramah.Pokok nasional".Acara kedua, berupa sidang tertutup, yang hanya mempersiapkan naskah rumusan putusan Kongres Pemuda Indonesia Pertama.Acara ketiga, berupa sidang terbuka. Dalam siding terbuka itu akan dikeluarkan pengumuman-pengumuman. Diakhiri dengan pidato penutupan Kongres Pemuda Indonesia Pertama, oleh Ketua Panitia Kongres.
Acara pertama dimulai tepat pada pukul 07.30.Yang tampil sebagai penceramah, ialah Paul Pinontoan.Paul Pinantoan mengemukakan, bahwa bangsa Indonesia yang terdiri atas ratusan suku itu, pada hakekatnya mempunyai ikatan kekerabatan.Itulah sebabnya, mereka memperlihatkan tenggang rasa dalam kehidupan beragama.Oleh karenanya perbedaan agama bukanlah penghalang gerakan persatuan nasional. Mengenai peranan agama dalam gerakan persatuan nasional Paul Pinantoan berkata sebagai berikut: "Tugas agama ialah membentuk tenaga-tenaga tangguh dan tampa pamrih, untuk gerakan persatuan Indonesia kita."[4]
Persidangan yang ditunda, dimulai lagi pada tengah hari tanggal 2 Mei 1926.Persidangan itu merupakan kegiatan terakhir Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Persidangan terakhir itu akan diisi dengan pengumuman dan pidato penutupan oleh Ketua Panitia Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Tak lama kemudian,Jamaluddin selaku Sekretaris Panitia Kongres membacakan pengumuman. Diumumkan bahwa Kongres Pemuda Indonesia Pertama merupakan cetusan kebulatan tekad angkatan muda dalam merintis terwujudnya persatuan bangsa Indonesia. Bahwa Kongres Pemuda Indonesia Pertama menjadi titik tolak untuk mengadakan Kongres Pemuda Indonesia berikutnya pada tahun-tahun yang akan datang. Dalam tahun 1926 itu juga akan diterbitkan Laporan Kongres Pemuda Indonesia Pertama.[5]
Notes:
1.      Moh Sadiki Daeng Materu, 1985, Sejarah Pergerakan Nasional Bangsa Indonesia, Jakarta : Gunung Agung. Halaman 40-50.
2.      Sudiyo, 1989, Perhimpunan Indonesia Sampai dengan Sumpah Pemuda, Jakarta : Bina Aksara. Halaman 120-122.
3.      Sudiyo, 2002, Pergerakan Nasional Mencapai dan Mempertahankan kemerdekaan, Jakarta : Inti Idayu Pers. Halaman 80-82.
Daftar Pustaka:
[1] Moh Sadiki Daeng Materu, 1985, Sejarah Pergerakan Nasional Bangsa Indonesia, Jakarta : Gunung Agung.
[3] Sudiyo, 1989, Perhimpunan Indonesia Sampai dengan Sumpah Pemuda, Jakarta : Bina Aksara.
[5] Sudiyo, 2002, Pergerakan Nasional Mencapai dan Mempertahankan kemerdekaan, Jakarta : Inti Idayu Pers.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar