Senin, 08 Juni 2015

PERANG KONGO

YOLANI SAFITRI/S/EA

Afrika merupaka benua yang terletak diantara Samutra Hindia dan Samutra Atlantik,Yang memiliki sumber daya melimpah.Benua yang satu ini penuh dengan konflik dan perang saudara hingga sekarang.Dari sekian banyaknya konflik yang terjadi salah satu yang terbesar dan paling berdarah."Perang Kongo".kongo sendiri menjadi pusat jantung nya Benua Afrika.
kongo menjadi negara merdeka pada kamis 30 juni 1960.seminggu setelah kongo merdeka negara tersebut mengalami kerisuhan mulai dari kerisis keuangan konflik sedangkan Perang kongo adalah rangkaian konflik yang terjadi di Republik Demokrasi Kongo perang ini sendiri bisa di bagi kedalam 2 periode.
Perang Kongo (1996-1997).
Dimulainya Peperangan
Tanggal 4 Oktober 1996, kelompok pemberontak dari etnis Banyamulenge - etnis lokal yang masih memiliki hubungan dekat dengan etnis Tutsi - melakukan serangan ke desa Lamera, Zaire timur. Pemerintah pusat Zaire yang merasa terkejut dengan serangan tersebut kemudian menyatakan bahwa mereka akan mendeportasi etnis Banyamulenge keluar dari wilayah Zaire secara besar-besaran. Lebih lanjut, pemerintah Zaire menambahkan bahwa etnis Banyamulenge yang tidak meninggalkan Zaire dalam waktu 2 minggu akan dieksekusi di tempat. Keputusan pemerintah tersebut ternyata menjadi blunder karena semakin memperkeruh keadaan & meningkatkan tensi pemberontakan.


Awal Oktober 1996, kelompok gabungan pemberontak anti-Mobutu & tentara nasional Rwanda melakukan serangan ke wilayah Zaire timur melalui Burundi. Hanya dalam waktu relatif singkat, kota-kota penting di kawasan itu seperti Uvira & Bukavu berhasil mereka kuasai.Pasukan gabungan tersebut kemudian melaju lebih jauh & menyerang kota penting Pasukan Zaire yang ditempatkan di kawasan tersebut akhirnya dipaksa mundur pada awal November. Pemerintah Zaire lantas meresponnya dengan mengirim pasukan yang dilengkapi dengan senjata berat ke wilayah Zaire timur, namun keberadaan mereka di sana ternyata malah memperburuk keadaan. Sebabnya adalah karena para tentara yang dikirim ke sana tidak bisa membedakan penduduk lokal dengan anggota pemberontak, mereka kerap melakukan pendobrakan paksa & perampasan di rumah-rumah penduduk setempat.
Melihat kondisi Zaire timur yang semakin memburuk & bisa mengancam nyawa pengungsi-pengungsi Hutu di sana, PBB menyusun rencana untuk segera mengirim pasukan multinasional. Mendengar berita tersebut, pasukan AFDL lantas melakukan serangan kilat ke kompleks pengungsi Hutu di Kimbumba dengan tujuan mengarahkan para pengungsi untuk kembali ke Rwanda tanpa melukai mereka & mencegah campur tangan asing. Pasukan Zaire & milisi Hutu yang menjaga kompleks pengungsian tersebut berusaha melawan sekuat tenaga, namun mereka gagal mencegah para pengungsi melarikan diri ke arah Rwanda & sekitarnya. Hilangnya kompleks pengungsian tersebut karena para pengungsinya pergi melarikan diri pada gilirannya menyebabkan PBB mengurungkan niatnya untuk mengirim pasukan multinasional. Di lain pihak, banyak dari anggota milisi Hutu yang melarikan diri ke
Hilangnya Wilayah Zaire Satu Demi Satu
Setelah berhasil mengembalikan para pengungsi Hutu ke wilayah Rwanda, pasukan anti-Mobutu & pemerintah Rwanda kini memfokuskan diri pada tujuan utama mereka : menggulingkan rezim Mobutu. Untuk mencapai tujuan tersebut, mereka menyusun rencana untuk menguasai seluruh wilayah timur Zaire. Ada indikasi bahwa rencana menguasai Zaire timur tersebut berlatar belakang ekonomi karena wilayah timur Zaire memang banyak mengandung mineral-mineral berharga mahal seperti kobalt, emas, & seng.
Dalam perang merebut wilayah timur Zaire, negara-negara seperti Angola, Burundi, & Uganda mulai melibatkan diri. Angola yang memiliki pemerintahan berhaluan komunis ingin menumbangkan rezim Mobutu yang menyokong kelompok pemberontakan anti komunis di negaranya.Burundi yang letaknya bersebelahan dengan Rwanda memang memiliki pemerintahan yang didominasi oleh etnis Tutsi. Dan Uganda? Mereka melakukan itu sebagai semacam bentuk balas budi di mana ketika terjadi perang sipil di Uganda pada dekade 1980-an, banyak dari anggota perantauan Tutsi di Uganda yang membantu pasukan pimpinan Yoweri Museveni untuk menggulingkan rezim berkuasa di Uganda saat itu. Sebagai konsekuensinya, Zaire pun kini harus bertempur melawan 4 negara sekaligus angola,burundi,rwanda,dan unganda.
Menuju Kinshasa


Jatuhnya Kisangani ke tangan pasukan anti-Mobutu sekaligus meruntuhkan reputasi Mobutu karena pertempuran di Kisangani menunjukkan bagaimana opini masyarakat Zaire terhadap rezim Mobutu. Perlahan tapi pasti, pasukan gabungan anti-Mobutu pun mulai bergerak ke arah ibukota Zaire, Kinshasa, & merebut kota-kota di rute yang mereka lewati. Namun, pergerakan pasukan gabungan anti-Mobutu tersebut sempat tertahan ketika mereka mendapatkan perlawanan sengit dari pasukan gabungan Zaire & milisi anti-komunis Angola di kota Kenge yang hanya berjarak 120 mil dari Kinshasa. Selama perang ini, pasukan anti-Mobutu sempat dipaksa mundur kembali ke Zaire timur sebelum akhirnya berhasil memukul balik pasukan pro-Mobutu. Korban jiwa yang timbul akibat pertempuran di Kengen mencapai 300 orang lebih & menjadikan pertempuran tersebut sebagai salah satu peristiwa pertempuran paling berdarah selama Perang Kongo Pertama.
Perang Kongo II (1998-2003)
Timbulnya Pemberontakan
Tanggal 2 Agustus 1998, komunitas Banyamulenge membentuk kelompok pemberontak anti-Kabila yang bernama Rassemblement Congolais pour la Democratie (RCD; Pekumpulan untuk Demokrasi Kongo) & melakukan pemberontakan di kota Goma, RDK timur. Dalam aksi pemberontakan tersebut, pemerintah Rwanda & Uganda juga mengirimkan pasukannya untuk membantu pasukan RCD. Pasukan gabungan baru yang anti-Kabila tersebut dalam waktu relatif singkat berhasil merebut kota-kota penting di RDK timur seperti Bukavu & Uvira.
Kabila yang terkejut akan aksi pemberontakan tersebut lalu membentuk kelompok milisi baru bernama Mai-Mai & meminta bantuan milisi-milisi etnis Hutu yang masih bermukim di RDK untuk membantunya. Lebih lanjut, melalui stasiun radio di Bunia, RDK timur, Kabila menyuruh penduduk setempat mempersenjatai diri mereka dengan semua benda tajam yang mereka miliki untuk membunuh etnis Tutsi Rwanda.
Alur perang yang terjadi kembali meniru alur Perang Kongo Pertama. Pasukan gabungan anti-pemerintah RDK bergerak perlahan tapi pasti ke arah Kinshasa, sementara pasukan RDK berusaha menghentikan pergerakan mereka dengan susah payah. Namun bedanya, jika di Perang Kongo Pertama penduduk lokal membantu pasukan anti-pemerintah, kali ini mereka bahu membahu untuk menahan laju pasukan anti-pemerintah.
Dimulainya "Perang Dunia Versi Afrika"
Situasi perang yang semakin runyam membuat Kabila pergi keluar RDK untuk meminta bantuan negara-negara asing. Diplomasinya membuahkan hasil di mana 4 negara Afrika setuju untuk mengirimkan pasukan bantuan ke RDK : Angola, Chad, Namibia, & Zimbabwe. Selain keempat negara tersebut Libiya juga membantu menyediakan pesawat untuk mengangkut pasukan dari negara Afrika lain ke RDK. Sudan juga menyatakan dukungannya kepada RDK, namun dukungan yang mereka berikan berupa bantuan kepada kelompok milisi anti pemerintahan Uganda Di luar Afrika, negara-negara seperti AS & Jepang juga memberikan dukungan kepada Kabila untuk mempertahankan pemerintahannya, namun enggan mengirimkan bantuan pasukan ke sana.
Masuknya negara-negara Afrika lain ke medan perang RDK erat kaitannya dengan kepentingan masing-masing negara di RDK. Namibia & Zimbabwe memiliki motivasi yang kurang lebih serupa : mengamankan lahan kaya mineral & logam mulia di wilayah RDK. Chad menerjunkan pasukan atas tekanan Perancis - mantan penjajah Chad  - karena RDK adalah salah satu negara berbahasa Perancis terbesar di dunia, namun Chad juga menjadi negara pertama yang mundur dari medan perang karena aksi-aksi kejahatan kemanusiaan & perampasan yang dilakukan oleh tentaranya sehingga memicu kecaman internasional.
Angola sendiri sejak perang kongo I memiliki kepentingan untuk memberangus milisi anti-pemerintah UNITA yang sejak permulaan perang sipil memakai wilayah RDK sebagai markasnya. Saat Mobutu masih menjadi pemimpin RDK alias Zaire, Mobutu memang sengaja memberi izin bagi UNITA untuk memakai wilayah negaranya sebagai markas karena Mobutu tidak menyukai rezim komunis yang berkuasa di Angola. Pasca tumbangnya rezim Mobutu, Angola tidak yakin dengan kapasitas pemerintah baru RDK untuk menghentikan aktivitas UNITA sehingga Angola kembali mengirim pasukan ke RDK untuk membantu pemerintah setempat. Selama Perang Kongo Kedua, pasukan Angola yang memiliki pengalaman tempur puluhan tahun sebagai akibat dari perang sipil di negaranya terbukti menjadi pasukan sekutu RDK yang paling tangguh & paling dominan dalam menentukan alur peperangan.
Buntunya Peperangan
pada bulan Juni 1999, keenam negara yang terlibat dalam konflik (RDK, Angola, Namibia, Zimbabwe, Rwanda, & Uganda) sepakat untuk mengakhiri konflik bersenjata. Kendati demikian, perang dalam skala kecil masih terus terjadi antara milisi pro-Kabila melawan milisi anti-Kabila di mana masing-masing milisi didukung oleh negara-negara yang terlibat dalam perang. Di sisi lain, Kabila juga dikritik oleh dunia internasional karena tindakannya dalam membatasi penerjunan pasukan PBB & menghambat proses pembicaraan untuk membentuk pemerintahan transisi di RDK
Bulan Agustus 1999, terjadi konflik di Kisangani antara pasukan Rwanda dengan pasukan Uganda yang selama ini bersekutu. Konflik tersebut konon dilatar belakangi oleh perebutan wilayah kaya mineral & logam mulia di wilayah timur RDK. Konflik antara keduanya berakhir setelah keduanya sepakat untuk berdamai melalui perundingan yang difasilitasi oleh PBB & keduanya pun menarik mundur pasukannya dari Kisangani pada pertengahan tahun 2000. Secara umum, konflik yang terjadi sepanjang Perang Kongo Kedua jarang berupa pertempuran-pertempuran besar & lebih didominasi pertempuran-pertempuran gerilya karena masing-masing negara tidak mau mengorbankan personil maupun alutsista berharganya untuk gugur di RDK. Sebagai gantinya, mereka menyokong kelompok-kelompok milisi untuk bertempur melawan kelompok milisi yang disokong lawan.
 Upaya Penyelesaian Perang kongo
Tahun 2002, kondisi kubu anti-Kabila semakin melemah setelah sejumlah besar tentara Rwanda melakukan desersi atau membelot ke kubu pro-Kabila. Milisi-milisi dari etnis Banyamulenge yang selama ini menjadi milisi anti-Kabila yang paling dominan juga mulai menghentikan aktivitas perangnya karena lelah akan konflik yang tidak jelas kapan akan berakhirnya. Di lain pihak, kondisi RDK di bawah pemerintahan Joseph Kabila juga semakin mantap menyusul keberhasilannya menstabilkan kondisi wilayah RDK barat & keberadaan pasukan perdamaian internasional di sana sejak tahun 2001.
Setelah melalui perundingan damai yang alot & panjang, Joseph Kabila akhirnya setuju untuk berbagi kekuasaan dengan kelompok pemberontak dalam pemerintahan (power-shared government) pada akhir tahun 2002 melalui apa yang dikenal sebagai Persetujuan Pretoria (Pretoria Accord). Hasil dari perundingan itu kemudian dilaksanakan pada bulan Juni 2003 melalui pembentukan pemerintahan transisi RDK di mana pemerintahan tersebut bertanggung jawab atas segala urusan nasional RDK hingga diadakan pemilu untuk mendapatkan pemimpin baru RDK. Pembentukan pemerintahan transisi tersebut lalu diikuti dengan penarikan mundur semua pasukan negara-negara Afrika yang terlibat perang, kecuali Rwanda. Sejak itu, bisa dikatakan Perang Kongo Kedua secara resmi sudah berakhir.

DAFTAR PUSTAKA
Andan,Abdul Hadi.2008.Perkembangan Hubungan Internasional di Afrika.Bandung :CV .Angkasa
http://www.re-tawon.com/2010/12/perang-kongo-perang-terbesar-di-benua.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar