Minggu, 07 Juni 2015

PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA DAULAH SALJUQ


FANDY MUHAMMAD/SP/014 A

A. PENDIRI MADRASAH NIDZAMIYYAH
Nizam al-Mulk (Radkan, Tus, 10 April 1018 – Sihna, 14 Oktober 1092) adalah seorang perdana menteri Dinasti Salajikah (Seljuk) pada masa pemerintahan Sultan Alp Arslan dan Sultan Maliksyah. Nama aslinya Abu Ali al-Hasan bin Ali bin Ishaq at-Tusi. Dia pernah ke Nisabur dan menuntut ilmu pada ulama' Mazhab Syafi'i, Hibatullah al-Muwaffaq. Ayahnya adalah seorang pegawai pemerintahan Gaznawi di Tus, Khurasan. Ketika sebagian besar Khurasan jatuh ke tangan pasukan Salajikah, ayahnya dengan membawa Nizam al-Mulk lari ke Khusrawijrd dan seterusnya ke Gazna. Di Gazna, Nizam al-Mulk bekerja pada sebuah kantor pemerintah Mahmud Gaznawi.

Namun tiga atau empat tahun kemudian ia meninggalkan Gazna dan menuju ke daerah kekuasaan Salajikah. Pada mulanya ia bekerja di Balkh yang dikuasai Salajikah (tahun 432 H/1040-1041 M), kemudian pindah ke Marw. Kariernya meningkat dengan cepat sehingga ia ditarik ke istana Sultan Arp Arslan dengan perdana menterinya Abu Ali Ahmad bin Syazan. Ketika perdana menteri ini meninggal dunia, Nizam al-Mulk ditunjuk oleh Sultan sebagai perdana menterinya.
Dalam jabatannya sebagai perdana menteri ini ia menunjukkan kecakapannya sebagai negarawan yang terpercaya. Untuk memelihara stabilitas negara ia menasihatkan Sultan agar memberi lapangan pekerjaan kepada pengungsi-pengungsi Turki yang datang ke Persia (Iran) akibat kemenangan Dinasti Salajikah, dan meningkatkan kekuatan tempur angkatan bersenjata Salajikah serta gerak cepatnya untuk menumpas pemberontakan, tetapi pemberontak yang menyerah harus diampuni. Kemudian dinasti juga harus mempertahankan penguasa-penguasa lokal, baik Syiah maupun Sunni, dan menunjuk keluarga Bani Seljuk sebagai gubernur-gubernur.
 Nizam al-Mulk juga bertindak menghindari perebutan kekuasaan setelah meninggalnya sultan, dengan cara mengumumkan dan menunjuk Maliksyah sebagai putra mahkota yang akan menggantikan sultan. Hubungan dengan Khilafah Abbasyiah sebagai penguasa tertinggi dunia Islam ketika itu juga dijalin dengan baik oleh Nizam al-Mulk sehingga ia mendapat penghargaan dari Khalifah al-Qa'im dari Abbasyiah berupa gelar Qiwam ad-Din (Pendukung Agama) dan Radi Amir al-Mu'minin (yang meridhai dan pemimpin orang-orang beriman).
Nizam al-Mulk tetap menjadi perdana menteri Dinasti Salajikah, bahkan setelah Alp Arslan terbunuh pada tahun 165 H/1072 M dan digantikan oleh Maliksyah. Perannya pada masa Sultan Maliksyah bertambah besar dibanding sebelumnya. Ia dipercaya oleh Sultan Maliksyah, yang ketika naik tahta berumur 18 tahun, untuk mengatur pemerintahan dan menjalankan keputusan politik. Oleh Sultan ia diberi gelar Ata Beq, artinya amir yang dianggap ayah. Ia tetap menjalankan politik kerjasama dan taat kepada Khalifah Abbasyiah, diantaranya dengan mengawinkan sorang putrinya kepada Khalifah Abbasyiah, ketika itu al-Muqtadi bin Amr Allah.
Nizam al-Mulk juga dikenal sebagai perdana menteri yang berpaham Asy'ariyah dan mengusahakan penyebarannya melalui madrasah-madrasah di beberapa kota dalam wilayah Salajikah. Madrasah terkenal yang didirikannya adalah Madrasah Nidzamiyyah di Baghdad, yang diresmikan pada tahun 459 H/1067 M. menurut Philip K. Hitti, Madrasah Nidzamiyyah merupakan contoh awal dari perguruan tinggi yang menyediakan sarana belajar yang memadai bagi para penuntut ilmu. Diantara ulama' yang mengajar di Madrasah Nidzamiyyah adalah Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi, Syekh Abu Nasr bin as-Sabbagh dan Syekh Abu Mansur bin Yusuf bin Abdul Malik. Cabang-cabang Nidzamiyyah kemudian juga didirikan di hampir kota di Irak dan Khurasan .
Usaha Nizam al-Mulk mendirikan madrasah dan lembaga keagamaan lainnya mendapat dukungan dari ulama'-ulama' yang bermazhab Syafi'i dan dalam teologi beraliran Asy'ariyah. Para ulama tersebut bergembira dengan naiknya Nizam al-Mulk dan kebijaksanaannya mengembalikan nama baik ulam-ulama Asy'ariyah yang dikutuk oleh Perdana Menteri al-Kunduri pada masa Sultan Tugril Beq. Pada masa al-Kunduri aliran Asy'ariyah bersama dengan Rafidah dikutuk melalui mimbar-mimbar masjid, sehingga banyak ulama' yang melarikan diri, seperti Imam al-Haramain Abu Ma'ali al-Juwaini dan al-Qusyairi. Ulama-ulama baru mau kembali ke negeri mereka setelah Nizam al-Mulk menjadi perdana menteri dan melarang pengutukan Asy'ariyah di mimbar-mimbar masjid.
Disebutkan dalam al-Kamil fi at-Tarikh (Sejarah Lengkap) bahwa Nizam al-Mulk adalah seorang alim, agamawan, dermawan, adil, penyantun, suka memaafkan orang yang bersalah, banyak diam, majelisnya ramai didatangi para qari, faqih, ulama dan orang-orang yang suka kebaikan dan kebajikan. Ia juga dikatakan menyampaikan hadits di Baghdad, Khurasan dan kota lainnya dengan alasan ikut berpartisipasi menyebarkan hadits Nabi SAW, sekalipun ia mengakui bahwa ia bukan ahli hadits. Dikatakan pula ia senang menjamu dan menghibur orang-orang fakir miskin. Pada tahun 479 H (1086-1087 M) ia menghapuskan khumus (pajak yang tidak dikenai sanksi syariat), dan meningkatkan sarana dan prasarana bagi mereka yang menunaikan ibadah haji. Setelah Hedzjaz kembali kepada kekuasaan Abbasyiah dari kekuasaan Fatimiyah pada tahun 468 H/1076 M, ia mengamankan jalur perjalanan haji dari Irak ke Tanah Suci dengan memberantas perampok-perampok yang mengancam jama'ah haji. Selain itu, ia memprakarsai perluasan Masjid al-Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah, serta pendirian tempat-tempat khusus bagi para abid, zahid dan faqih, serta pendirian rumah sakit di Nisabur .
Kekuasaan daulat Bani Saljuq berseberangan dengan kekuasaan Daulat Fatimiyah dalam aspek theology – Daulat Saljuq lebih cenderung mengembangkan pemehaman theology Suni dalam hal ini theology Asy'ariyah, sedangkan daulat bani Fathimiyah lebih focus kepada pengembangan theology Syi'ah. Kedua daulat tersebut menjadi lembaga pendidikan sebagai pusat penyebaran paham theology dan pengaruh politik dan social dalam kehidupan mereka – walaupun pada akhirnya universitas al Azhar Cairo menjadi lebih terbuka dengan diajarkannya pula theology sunni.
Setahun sebelum meninggal, pada tahun 484 H/1091 M ia menulis kitab Siyaset-Name (buku mengenai politik) tentang siasat pemerintahan, berisi 50 bab nasihat yang digambarkan melalui anekdot-anekdot sejarah. Pada tahun berikutnya, ia menambah 11 bab tentang bahaya yang mengancam negara utamanya dari kaum Qaramithah Ismailiyah. Ia mengingatkan bahaya yang mengancam keutuhan Salajikah yang datang dari kaum Qaramithah yang pada tahun 483 H (1090-1091 M) menyerbu kota Basra, dan bermarkas di benteng yang kokoh di Alamut. Kaum ini mempunyai pasukan pembunuh yang disebut Hasyasyin dan dipimpin oleh Hasan bin Sabbah, yang bertujuan menghidupkan Fatimiah. Seorang pasukan Hasan bin Sabbah, yang menyamar sebagai sufi, berhasil membunuh Nizam al-Mulk di Sihna, Nahawand, ketika ia dalam perjalanan dari Isfahan ke Baghdad. Nizam al-Mulk terbunuh pada tanggal 10 Ramadhan 485 H/14 Oktober 1092. . Ia meninggal kira-kira 150 Tahun sebelum hancunya kota Bagdad oleh serangan bangsa Mongol.


B. PERKEMBANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN NIDZAMIYYAH
Sebagaimana diketahui, bahwa sebelum berdirinya Madrasah sebagai lembaga pendidikan, dalam agama Islam telah dikenal tempat belajar berupa Masjiddan Kuttab. Kuttab merupakan tempat belajar yang dikhususkan pada para pelajar Islam yang masih kecil, sebab dalam kuttab ini hanya diajarkan cara membaca dan cara menulis.
Seiring dengan luasnya wilayah kekuasaan Islam, semakin banyak pula anak-anak muda Islam yang ingin belajar yang tentunya membutuhkan tempat memadai untuk menampung mereka. Atas dasar itulah di dirikan sebuah Madrasah.
Istilah madrasah pertama kali lahir di Naisapur berkat 'sentuhan' Syekh al-Baihaqi5. Kemudian dinasti Bani Saljuk pada masa Sulthan Malik Syah dengan Wazir Nidzam al-Mulk (465-485 H) membangun sebuah Madrasah dengan nama madrasah Nidzamiyyah, yang diambil dari nama pendirinya, Nidzam al-Mulk.
Motif pendirin Madrasah ini menurut Ahmad Syalabi (1995) ialah karena dua hal. Pertama motif Politik. Dengan adanya madrasah ini, dinasti Saljuq bisa mengkontrol semua daerah dengan mudah, karena sistem yang dipakai Nidzamiyyah adalah sentralistik dari pusat kedaerah atau dari atas ke bawah. Motif kedua adalah ideologi/madzhab. Seperti keterangan diatas, bahwa Dinasti Buwaihi yang menganut Syi'ah serta sisa-sisa aliran Mu'tazilah telah ada sebelum Bani saljuq berdiri, pendirian madrasah Nidzamiyyah juga karena motif untuk menyebarkan aliran Sunni Syafi'iyyah.
Sebelum berdirinya Madrasah Nidzamiyyah di Baghdad, paling tidak ada empat madrasah besar di Nishapur, yaitu Madrasah Baihaqiyyah, Madrasah Assa'diyyah yang dibangun oleh Amir Nasr bin Subuktakin, Madrasah Abu Sa'ad al-Astarabadi dan Madrasah yang didirikan untuk Abu Ishaq al-Isfarayini.
Madrasah Nidzamiyyah adalah sebuah lembaga pendidikan yang didirikan pada tahun 1065-1067 oleh Nizam al-Mulk. Madrasah Nidzamiyyah ini pada mulanya hanya ada di kota Baghdad, ibu kota dan pusat pemerintahan Islam pada waktu itu. Madrasah Nidzamiyyah ini didirikan dekat pinggir sungai Dijlah, di tengah-tengah pasar selasah di Baghdad. Mulai dibangun pada tahun 457 H/1065 M) dan selesai dibangun pada tahun 459 H (dua tahun lamanya baru selesai) . Pada masa itu, madrasah tersebut dicatat sebagai tempat pendidikan yang paling masyhur. Kemudian Nizam al-Mulk mengembangkan madrasah tersebut dengan membuka dan mendirikan madrasah serupa di berbagai kota, baik di wilayah barat maupun timur dari daerah kekuasaan Islam. Diantaranya didirikan di kota-kota Balkh, Nisabur, Isfahan, Mosul, Basra dan Tibristan. Oleh karena itu, kota-kota tersebut kemudian menjadi pusat-pusat studi keilmuan dan menjadi terkenal di dunia Islam pada masa itu. Para pelajar berdatangan dari berbagai daerah untuk mencari ilmu di madrasah-madrasah Nidzamiyyah tersebut. Kesungguhan Nizam al-Mulk dalam membina madrasah-madrasah yang didirikannya itu tercermin pada kesediaannya menyisihkan waktunya untuk melakukan kunjungan ke madrasah-madrasah Nidzamiyyah di berbagai kota tersebut. Disebutkan, bahwa dalam kesempatan kunjungannya tersebut, ia dengan penuh perhatian ikut menyimak dan mendengarkan kuliah-kuliah yang diberikan, sebagaimana ia juga kadang ikut mengemukakan pikiran-pikirannya di depan para pelajar di madrasah itu.
Lembaga pendidikan Islam yang pertama menerapkan sistem yang mendekati sistem pendidikan yang dikenal sekarang adalah madrasah-madrasah Nidzamiyyah tersebut. Kurikulumnya berpusat pada Al-Qur'an (membaca, menghafal dan menulis), sastra Arab, sejarah Nabi SAW dan berhitung, dengan menitikberatkan pada madzhab Syafi'i dan sistem teologi Asyariyah. Seorang tenaga pengajar di Nidzamiyyah selalu dibantu oleh dua orang pelajar (mahasiswa) yang bertugas membaca dan menerangkan kembali kuliah yang telah diberikan kepada mahasiswa yang ketinggalan (asistensi). Sistem belajar di Madrasah Nidzamiyyah adalah : tenaga pengajar berdiri di depan ruang kelas menyajikan materi-materi kuliah, sementara para pelajar duduk dan mendengarkan di atas meja-meja kecil (rendah) yang disediakan. Kemudian dilanjutkan dengan dialog (tanya-jawab) antara dosen dan para mahasiswa mengenai materi yang disajikan dalam suasana semangat keilmuan tinggi.



DAFTARA PUSTAKA
-          Nizar,Samsul, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Pranada Media).
-          Mughni,Syafiq A., Sejarah Kebudayaan Islam di Kawasan Turki, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu,1997).
-          Hasbullah,DRS. 1995. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
-          Dra. Zuhairini dkk. 2004. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Bumi aksara. Jakarta 133220.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar