Senin, 08 Juni 2015

PARASITISME KOMUNISME PADA ORGANISASI SAREKAT ISLAM (BERUJUNG PADA LAHIRNYA PKI)


MAMAN KURNIAWAN / SI

A.    Di mulai pada Organisasi Sarekat Islam
Sarekat Islam pada awalnya adalah perkumpulan pedagang-pedagang Islam yang diberi nama Sarekat Dagang Islam. Perkumpulan ini didirikan oleh Haji Samanhudi tahun 1911 di kota Solo. Perkumpulan ini semakin berkembang pesat ketika Tjokroaminoto memegang tampuk pimpinan dan mengubah nama perkumpulan menjadi Sarekat Islam. Sarekat Islam (SI) dapat dipandang sebagai salah satu gerakan yang paling menonjol sebelum Perang Dunia II. Pendiri Sarekat Islam, Haji Samanhudi adalah
seorang pengusaha batik di Kampung Lawean (Solo) yang mempunyai banyak pekerja, sedangkan pengusaha-pengusaha batik lainnya adalah orang-orang Cina dan Arab. Tujuan utama SI pada awal berdirinya adalah menghidupkan kegiatan ekonomi pedagang Islam Jawa. Keadaan hubungan yang tidak harmonis antara Jawa dan Cina mendorong pedagang-pedagang Jawa untuk bersatu menghadapi pedagang-pedagang Cina. Di samping itu agama Islam merupakan faktor pengikat dan penyatu kekuatan pedagang-pedagang Islam. Pemerintah Hindia Belanda merasa khawatir terhadap perkembangan SI yang begitu pesat. SI dianggap membahayakan kedudukan pemerintah Hindia Belanda, karena mampu memobilisasikan massa. Namun Gubernur Jenderal Idenburg (1906-1916) tidak menolak kehadiran Sarekat Islam. Keanggotaan Sarekat Islam semakin luas. Pada kongres Sarekat Islam di Yogayakarta pada tahun 1914, HOS Tjokroaminoto terpilih sebagai Ketua Sarekat Islam. Ia berusaha tetap mempertahankan keutuhan dengan mengatakan bahwa kecenderungan untuk memisahkan diri dari Central Sarekat Islam harus dikutuk dan persatuan harus dijaga karena Islam sebagai unsur penyatu. Politik Kanalisasi Idenburg cukup berhasil, karena Central Sarekat Islam baru diberi pengakuan badan hukum pada bulan Maret 1916 dan keputusan ini diambil ketika ia akan mengakhiri masa jabatannya. Idenburg digantikan oleh Gubernur Jenderal van Limburg Stirum (1916-1921). Gubernur Jenderal baru itu bersikap agak simpatik terhadap Sarekat Islam. Namun sebelum Kongres Sarekat Islam Kedua tahun 1917 yang diadakan di Jakarta muncul aliran revolusionaer sosialistis yang dipimpin oleh Semaoen. Pada saat itu ia menduduki jabatan ketu pada SI lokal Semarang. Walaupun demikian, kongres tetap memutuskan bahwa tujuan perjuangan Sarekat Islam adalah membentuk pemerintah sendiri dan perjuangan melawan penjajah dari kapitalisme yang jahat. Dalam Kongres itu diputuskan pula tentang keikutsertaan partai dalam Volksraad. HOS Tjokroaminoto (anggota yang diangkat) dan Abdul Muis (anggota yang dipilih) mewakili Sarekat Islam dalam Dewan Rakyat (Volksraad). Pada Kongres Sarekat Islam Ketiga tahun 1918 di Surabaya, pengaruh Sarekat Islam semakin meluas. Sementara itu pengaruh Semaoen menjalar ke tubuh SI. Ia berpendapat bahwa pertentangan yang terjadi bukan antara penjajah-penjajah, tetapi antara kapitalis-buruh. Oleh karena itu, perlu memobilisasikan kekuatan buruh dan tani disamping tetap memperluas pengajaran Islam. Dalam Kongres SI Keempat tahun 1919, Sarekat Islam memperhatikan gerakan buruh dan Sarekat Sekerja karena hal ini dapat memperkuat kedudukan partai dalam menghadapi pemerintah kolonial. Namun dalam kongres ini pengaruh sosial komunis telah masuk ke tubuh Central Sarekat Islam (CSI) maupun cabang-cabangnya. Dalam Kongres Sarekat Islam kelima tahun 1921, Semaoen melancarkan kritik terhadap kebijaksanaan Central Sarekat Islam yang menimbulkan perpecahan.[1]

B.     Sarekat Rakyat (SI Merah)
Persentuhan SI dengan faham komunis kurang lebih terjadi ketika seorang anggota SI cabang Surabaya, yaitu Semaoen pindah ke Semarang pada tahun 1915 dan kemudian aktif di dalam Serikat Buruh Kereta Api dan Term (VSTP). Sneevliet, seorang Belanda penganut mistik yang berideologi marxisme, rupanya juga aktif disana. Dan juga sebagaimana diketahui, Sneevliet adalah pendiri Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), suatu partai yang beraliran "kiri" di Surabaya pada tahun 1914. Perjumpaannya dengan Sneevliet ini kemudian membawa Semaoen masuk ke dalam ISDV. Pada tahun 1916, Semaoen pindah ke Semarang untuk menjadi propagandis VSTP. Disemarang, Semaoen bergabung dengan SI Semarang, yang pada saat itu dipimpin Mohammad Joesoef. Pada Mei 1917 kepemimpinan SI Semarang berpindah kepada Semaoen, Pergantian ini bermula dari isu yang digulirkan Semaoen agar SI Semarang bergabung dengan Komite Kebebasan Pers, yang dibentuk Sneevliet. Joesoef menetang usul itu, tapi karena Semaoen didukung oleh mayoritas anggota, terpilihnya Semaoen menunjukkan kemenangan kelompok sosialis radikal. Dibawah Semaoen, SI Semarang berkembang pesat. Anggotanya bahkan mencapai 20.000 orang. Gerakannya difokuskan dengan aktif mengorganisir buruh dan nelayan. Bersama temannya di SI Semarang, Alimin dan Darsono, Semaoen juga mempelopori aksi mogok buruh di kota itu. Setelah memimpin SI Semarang yang kerap disebut SI merah, Semaoen kerap berselisih dengan sang guru, HOS Tjokroaminoto yang notabene merupakan pemimpin Sarekat Islam. Semaoen mencibir gerakan kooperatif HOS Tjokroaminoto sebagai antek Belanda karena masuk menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat Bentukan Belanda). SI cabang Semarang mengambil garis anti kapitalis yang kuat. Cabang ini menentang keanggotaan SI di dalam Volksraad dan menyerang kepemimpinan CSI (Central Sarekat Islam). Garis revolusioner yang dibawa oleh Semaoen berkembang menjadi mata rantai yang tak terhentikan. Sebagai contoh lain, di Jawa Barat, suatu cabang revolusioner rahasia yang diberi nama "Afdeeling B" (Seksi B) didirikan oleh Sasrokardono dari CSI pada tahun 1917. Bahkan pada awal tahun 1919 terjadi kekacauan-kekacauan di Surakarta yang dipimpin oleh seorang Haji yang bernama Misbach yang khotbahnya berisi doktrin mengenai bahwa Islam dan komunisme adalah hal yang sama. Hal ini kemudian menjadikan dirinya dikenal sebagai Haji Merah.[2]

C.    ISDV
ISDV didirikan atas inisiatif tokoh sosialis Belanda, Henk Sneevliet pada 1914, dengan nama Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda). Keanggotaan awal ISDV pada dasarnya terdiri atas 85 anggota dari dua partai sosialis Belanda, yaitu SDAP (Partai Buruh Sosial Demokratis) dan SDP (Partai Sosial Demokratis), yang aktif di Hindia Belanda. Pada saat pembentukannya, ISDV tidak menuntut kemerdekaan Hindia Belanda. Pada saat itu, ISDV mempunyai sekitar 100 orang anggota, dan dari semuanya itu hanya tiga orang yang merupakan warga pribumi Hindia Belanda. Namun demikian, partai ini dengan cepat berkembang menjadi radikal dan anti kapitalis. Di bawah pimpinan Sneevliet partai ini merasa tidak puas dengan kepemimpinan SDAP di Belanda, dan yang menjauhkan diri dari ISDV. Pada 1917, kelompok reformis dari ISDV memisahkan diri dan membentuk partainya sendiri, yaitu Partai Demokrat Sosial Hindia. Pada 1917 ISDV mengeluarkan penerbitannya sendiri dalam bahasa Melayu, "Soeara Merdeka". Di bawah kepemimpinan Sneevliet, ISDV yakin bahwa Revolusi Oktober seperti yang terjadi di Rusia harus diikuti Hindia Belanda. Kelompok ini berhasil mendapatkan pengikut di antara tentara-tentara dan pelaut Belanda yang ditempatkan di Hindia Belanda. Dibentuklah "Pengawal Merah" dan dalam waktu tiga bulan jumlah mereka telah mencapai 3.000 orang. Pada akhir 1917, para tentara dan pelaut itu memberontak di Surabaya, sebuah pangkalan angkatan laut utama di Indonesia saat itu, dan membentuk sebuah dewan soviet. Para penguasa kolonial menindas dewan-dewan soviet di Surabaya dan ISDV. Para pemimpin ISDV dikirim kembali ke Belanda, termasuk Sneevliet. Para pemimpin pemberontakan di kalangan militer Belanda dijatuhi hukuman penjara hingga 40 tahun. ISDV terus melakukan kegiatannya, meskipun dengan cara bergerak di bawah tanah. Organisasi ini kemudian menerbitkan sebuah terbitan yang lain, Soeara Ra'jat. Setelah sejumlah kader Belanda dikeluarkan dengan paksa, ditambah dengan pekerjaan di kalangan Sarekat Islam, keanggotaan organisasi ini pun mulai berubah dari mayoritas warga Belanda menjadi mayoritas orang Hindia Belanda. Pada Kongres ISDV di Semarang (Mei 1920), ISDV diubah menjadi Perserikatan Komunis de Indie (PKI). Semaoen diangkat sebagai ketua partai. PKI adalah partai komunis pertama di Asia yang menjadi bagian dari Komunis Internasional. Henk Sneevliet mewakili partai ini pada kongresnya kedua Komunis Internasional pada 1920.[3]

D.    Benih-Benih Perpecahan
Dan pada bulan November 1920, SI dan PKI terlibat pertikaian terbuka dan tidak terdamaikan ketika surat kabar PKI berbahasa Belanda, "Het Vrije Woord", menerbitkan tesis-tesis Lenin tentang masalah-masalah nasional dan penjajahan, yang berisi kecaman-kecaman terhadap Pan-Islamisme. SI yang pada saat itu memiliki orang-orang seperti Haji Agus Salim (1884-1954), mantan konsulat Belanda di Jeddah, yang menjadikan Pan-Islamisme dan modernisme sebagai dasar menjalankan kegiatan politik, membawa SI menerapkan "disiplin partai" yang disetujui pada kongres SI bulan Oktober tahun 1921. Dengan adanya "disiplin partai", maka seorang anggota SI tidak mungkin lagi menjadi anggota partai lain. Anggota-anggota PKI kini dikeluarkan dari SI, tetapi pertikaian tetap harus diselesaikan di setiap cabang SI. Sebagai akibatnya, SI terpecah menjadi dua yaitu "SI Putih" dan "SI Merah". Tan Malaka -salah satu tokoh pergerakan- sendiri pernah melakuan beberapa usaha untuk memulihkan kerjasama atara SI dengan PKI, namun usaha itu menemui jalan buntu.Dengan melemparkan mereka (barisan komunis) keluar dari organisasi utama, jumlah mereka yang kecil akan terlihat dan prestise mereka dihancurkan. Dengan cepat PKI membalas dengan menuduh SI sebagai lembaga "kapitalis", dengan mengejek gagasan kapitalisme yang "penuh dosa". Haji Agus Salim bersama Abdul Muis dengan tegar menghadapi ejekan kaum komunis tersebut. Tahun 1921 Tjokroaminoto ditangkap oleh pemerintah Belanda dengan tuduhan persaksian palsu. Ketika ia dibebaskan pada bulan Mei 1922, ia mendapatkan organisasi yang ia besarkan telah tercerai berai dan pada saat yang sama dia juga mendapatkan Semaoen berusaha memberikan pengaruh PKI pada cabang-cabang dan sekolah-sekolah SI. Semenjak itulah Tjokroaminoto bertekad melepaskan diri selama-lamanya dengan PKI. Benih perpecahan semakin jelas dan dua aliran itu tidak dapat dipersatukan kembali. Dalam Kongres Luar Biasa Central Sarekat Islam yang diselenggarakan tahun 1921 dibicarakan masalah disiplin partai. Abdul Muis (Wakil Ketua CSI) yang menjadi pejabat Ketua CSI menggantikan Tjokroaminoto yang masih berada di dalam penjara, memimpin kongres tersebut. Akhirnya Kongres tersebut mengeluarkan ketetapan aturan Disiplin Partai. Artinya, dengan dikeluarkannya aturan tersebut, golongan komunis yang diwakili oleh Semaoen dan Darsono, dikeluarkan dari Sarekat Islam. Dengan pemecatan Semaoen dari Sarekat Islam, maka Sarekat Islam pecah menjadi dua, yaitu Sarekat Islam Putih yang berasaskan kebangsaan keagamaan di bawah pimpinan Tjokroaminoto dan Sarekat Islam Merah yang berasaskan komunis di bawah pimpinan Semaoen yang berpusat di Semarang. Dalam kongres SI pada bulan Februari 1923 dia mendirikan Partai Sarekat Islam (PSI) yang memiliki "disiplin partai". Ia bertekad akan mendirikan cabang-cabang partai ini dimana saja yang ada cabang "SI Merah"nya. Sedangkan cabang Sarekat Islam yang mendapat pengaruh komunis menyatakan diri bernaung dalam Sarekat Rakyat dan pada tahun 1924, bersama dengan Perserikatan Komunis de Indie membentuk Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada periode antara tahun 1911-1923 Sarekat Islam menempuh garis perjuangan parlementer dan evolusioner. Artinya, Sarekat Islam mengadakan politik kerja sama dengan pemerintah kolonial. Namun setelah tahun 1923, Sarekat Islam menempuh garis perjuangan nonkooperatif. Artinya, organisasi tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial, atas nama dirinya sendiri. Kongres Partai Sarekat Islam tahun 1927 menegaskan bahwa tujuan perjuangan adalah mencapai kemerdekaan nasional berdasarkan agama Islam. Karena tujuannya adalah untuk mencapai kemerdekaan nasional maka Partai Sarekat Islam menggabungkan diri dengan Pemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI).[4]

DAFTAR PUSTAKA

[1]George McTurnan Kahin, Nationalism and Revolution in Indonesia, Cornell University Press, 1952.
[2]Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, 1992.
[3]Soe Hok GieDi Bawah Lentera Merah, Yayasan Bentang Budaya Yogyakarta, 1992.

[4] Abdillah,  Masykuri,  "Potret  Masyarakat  Madani  di  Indonesia",  dalam  Seminar Nasional tentang  "Menatap Masa Depan Politik  Islam  di Indonesia",


Tidak ada komentar:

Posting Komentar