Jumat, 04 Oktober 2013

SEJARAH PEMBANGUNAN MESJID SENAPELAN

Pesta P Manurung/ B/ SI3
A.    Latar Belakang Masalah
Bangunan adalah salah satu peninggalan sejarah yang sangat perlu dijaga dan dilestarikan. Hal ini dikarenakan suatu bangunan mempunyai sejarah yang berbeda-beda, yang butuh pelestarian, agar sejarah tersebut tetap terjaga dan bisa dilestarikan hingga ke keturunan-keturunan selanjutnya. Selain itu juga, melalui bangunan yang merupakan bukti peninggalan sejarah, kita dapat mengkaji kemajuan dan kesejahteraan dari suatu peradaban atau kerajaan. 
B.    ISI
Masjid Senapelan adalah masjid tertua di Pekanbaru dan masjid tertua ke dua di provinsi Riau. Dari kata tertua kita dapat mengetahui bahwa masjid ini adalah masjid yang sangat bersejarah. Masjid  Senapelan dibangun oleh Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah di masa pemerintahannya memimpin Kerajaan Siak Sri Indrapura. Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah membangun masjid Senapelan pada abad ke 18, tepatnya pada tahun 1762. Selanjutnya, pembangunan masjid senapelan di lanjutkan oleh pemimpin selanjutnya yaitu, Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam yang menjabat sebagai sulta ke V.
              Pembangunan masjid Senapelan tidak lepas dari perkembangan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Kerajaan Siak yang merupakan kerajaan melayu tidak bisa lepas dari system "tali berpilin tiga"  dengan kata lain ôTali Berpilin Tigaö, yang berarti ada tiga unsur penting yang harus dibangun dan di jaga di dalam suatu kerajaan. Oleh karena itu setiap kerajaan Melayu harus mempunyai istana sebagai simbol dan tempat keberadaan raja, Balai kerapatan sebagai simbol dari budaya, dan yang terakhir adalah mesjid sebagai simbol agama, dan jika suatu pusat kerajaan  berpindah maka  kerajaan tersebut wajib membangun kembali ke tiga bangunan tersebut.
              Kejadian inilah yang terjadi pada kerajaan Siak Sri Indrapura. Perpindahan Pusat pemerintahan Kerajan Siak Sri Indrapura dari Mempura Siak ke Senapelan dimasa pemerintahan Sultan Alamuddin mengharuskan mereka kembali membangun ke tiga bangunan tersebut. Pada pembangunan pertama, masjid ini diberi nama masjid Alam, nama ini diambil dari nama kecil Sultan Abdul jalil Alamuddin Syah. 
              Masjid Senapelan pada awalnya di dibangun dengan dominasi warna kuning, dan juga dengan ukuran 60 X 80 meter. Dan masjid Senapelan ini juga menjadi tempat yang bersejarah bagi masyarakat islam yang ada di Riau maupunu di luar Riau. Hal ini dikarenakan masjid ini digunakan sebagai tempat penyebaran agama islam bagi masyarakat-masyarakat yang pada saat itu belum beragama.
              Ketika masjid Senapelan selesai di bangun, diadakan upacara untuk menaiki bangunan sekaligus shalat Jum'at yang dipimpin langsung oleh menantu Sultan Alamuddin yaitu Imam Syaid Oesman Syahabuddin ulama besar kerajaan Siak Sri Indrapura.
               Pada tahun 1766, Sultan Alamuddin Syah meninggal dan diberi gelar MARHUM BUKIT. Sultan Alamuddin Syah digantikan oleh puteranya Tengku Muhammad Ali yang bergelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah. Pada masa pemerintahannya (1766-1779), Senapelan berkembang pesat dengan aktivitas perdagangannya. Para pedagang datang dari segala penjuru. Maka untuk menampung arus perdagangan tersebut, dibuatlah sebuah "pekan" atau pasar yang baru, pekan yang baru inilah kemudian menjadi nama "Pekanbaru" sekarang ini.
Perkembangan yang begitu pesat menyebabkan Mesjid Alam tidak lagi cukup menampung para jemaah yang beribadah maupun yang menuntut ilmu agama di sana. Apalagi Sayid Osman, seorang ulama, menggunakan mesjid tersebut sebagai pusat dakwah menyebarkan Agama Islam.
Berdasarkan  musyawarah Sultan Muhammad Ali, Sayid Osman, Datuk Empat Suku beserta para pembesar lainnya, disepakati untuk memperbesar mesjid tersebut. Pada tahun 1775, pekerjaan membesarkan bangunan mesjid dilakukan. Menurut sumber lokal, bangunan msjid yang diperbaharui tersebut, keempat "Tiang Seri" disediakan oleh Datuk Empat Suku, "Tiang Tua" disediakan oleh Sayid Osman, "Kubah Mesjid" disediakan oleh Sultan Muhammad Ali, sedangkan pengerjaannya dilakukan oleh seluruh rakyat. Cara pembangunan ini menunjukkan kepada kita pada saat itu betapa baiknya hubungan antara Pemerintah, Ulama, Adat dan masyarakat.
Acuan ini kemudian dikekalkan di Kerajaan Siak, yang mengandung maksud tertentu pula :
Sultan : Pucuk pemerintahan pemegang daulat
Datuk Empat Suku : Tiang pemerintahan pemegang adat
Ulama : Tiang agama pemegang hukum syarak
Rakyat : Darah daging kerajaan pemegang Soko Pusaka, petuah dan amanah
Diperbesarnya mesjid ini diikuti dengan penggantian nama mesjid menjadi Mesjid Nur Alam yang berarti memberikan cahaya ke alam sekitarnya dan memberikan penerangan bagi hati ummat manusia.
Pada tahun 1779, Sultan Muhammad Ali diganti oleh iparnya Sultan Ismail
(1779-1781) yang kemudian setelah mangkat digantikan oleh Sultan Yahya (1781-1784). Sultan Yahya diganti oleh putera Sayid Osman yaitu Tengku Udo Sayid Ali bergelar Assyaidissyarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin (1784-1810). Pada masa pemerintahannya, pusat Kerajaan Siak dipindahkan ke Mempura Kecil (Kota Siak sekarang). Masa itu juga, Mesjid Nur Alam diberi selasar (teras) yang dipergunakan untuk tempat peziarah duduk, sekaligus tempat pemberian/pelafasan gelar. Konon sejak itu, banyaklah mesjid dibangun menggunakan selsar di sekeliling bangunan, sekurang-kurangnya di salah satu sisi bangunan.
Pada masa pemerintahan Sultan Ismail II yang bergelar Sultan Assyadisyarif Ismail Abdul Jalil Syaifuddin (1827-1864), Mesjid Nur Alam diperbaiki lagi dan memperbesar selasarnya. Sultan Ismail II mangkat pada tahun 1864 dan digantikan puteranya Tengku Sayid Kasim (Sultan Syarif Kasim Awal). Pada masa ini tidak ada perubahan yang mendasar pada bangunan mesjid. Perubahan baru terjadi ketika Tengku Putera Sayid Hasyil memegang tampuk pemerintahan (1889-1908). Pada masa itu, Mesjid Nur Alam dipindahkan 40 langkah dari posisi semula ke arah matahari hidup/terbit (timur). Dengan dipindahkannya posisi mesjid ini, maka mesjid ini terkenal dengan Mesjid Sultan yang berarti dipindahkan oleh Sultan. Karena bangunannya lebih luas, maka disebut juga Mesjid Besar yang kadang juga disebut Mesjid Raya.
Sultan Sayid (Said) Hasyim mangkat pada tahun 1908 dan digantikan puteranya Tengku Said Kasim yang bergelar Sultan Assyaidissyarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin yang biasa disebut Sultan Syarif Kasim II. Sultan memerintah sampai kerajaan Siak berakhir di tahun 1946 ketika bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada tahhu 1935, Sultan Syarif Kasim II memutuskan untuk membangun mesjid lebih besar dengan bahan semen dan batu yang letaknya berdekatan dengan mesjid lama yang sudah ada, dengan dasar pertimbangan hakikatnya masih menyatu dengan mesjid lama. Maka dalam tahun itu juga dimulailah pembangunan mesjid yang dimaksud, yang namanya tetap menjadi Mesjid Raya.
Pemilihan lokasi yang berdekatan ini dengan pertimbangan masjid baru hakikatnya masih menyatu dengan masjid lama, masjid baru lokasinya berdekatan dengan makam-makam nenek moyang beliau, masjid baru dibangun supaya lebih tahan dna lebih besar, masjid baru dibangun sebagai tanda ingat beliau kepada nenek moyang yang telah berjasa menyebarkan agama islam di Riau dengan kerajaan Siak Sri Indrapura.
  Ringkasan Sejarah Pergantian Nama Mesjid Raya Pekanbaru
Mesjid Alam 1762 :
Diberi nama Mesjid Alam yang diambil dari nama kecil Raja Alam ketika dibangun oleh Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah.
Mesjid Nur Alam 1775 :
Sejalan dengan pembesaran Mesjid Alam yang melibatkan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, Datuk empat Suku, Sayid Osman, dan masyarakat Pekanbaru. Perpindahan secara keseluruhan Kerajaan Siak dari Senapelan (Pekanbaru) kembali ke Siak antara tahun 1784-1810 oleh Sultan Assyaidissarif Ali Abdul Jalil Syarif karena tekanan Belanda. Mesjid Nur Alam tetap dibangunkan selasar-nya. Di tahun 1858 dilakukan perluasan selasar oleh Sultan Ismail II.
Mesjid Sultan, Mesjid Besar, Mesjid Raya 1889 – 1908 :
Oleh Sultan Hasyim (Assyaidissarif Hasyim Abdul Jalil Syafuddin), Mesjid Nur Alam dipindahkan 40 langkah dari posisi semula ke arah matahari terbit. Penyebutan nama Mesjid Sultan atau Mesjid Besar atau Mesjid Raya karena mesjid itu dipindahkan oleh Sultan, bentuknya lebih besar dari semula dan sehingga lebih ramai.
Mesjid Raya 1935 :
Pembangunan mesjid dari bahan semen dan batu yang letaknya berdekatan dan masih dalam satu areal dengan mesjid lama pada masa pemerintahan Sultan Syarif Kasim II. Mesjid ini menjadi aset sejarah sebagai bukti sejarah Kerajaan Siak yang berakhir pada tahun 1946 ketika bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Namun, baru-baru ini, masjid senapelan kembali dibangun. Pembangunan ini sangat di sayangkan oleh pemerintah kebudayaan Riau. Hal ini di karenakan pembangunan masjid tersebut menghilangkan bentuk asli dari masjid tersebut. Penghilangan bentuk asli ini jelas sangat berpengaruh terhadap nilai sejarah masjid tersebut. Karena, seperti kita ketahui bersama masjid tersebut adalah masjid yang sangat bersejarah sebagai tempat penyebaran agama islam bagi masyarakat riau dan juga pengunjung-pengunjung yang berdagang ke tempat tersebut.
Pembangunan ini dilakukan dengan hanya menyisahkan empat tiang tengah dari masjid tersebut. Dan selain itu, seluruh bagian dari masjid sudah mengalami perubahan total.
  
C.    DAFTAR PUSTAKA
Abdul Baqir Zein, 1999, Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia, Jakarta: Gema Insani Press, Jakarta 1999
www.tribunepekanbaru.com
https://foursquare.com/v/masjid-senapelan/4e8036ac7ee60251769c9ca8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar