Selasa, 08 Oktober 2013

H

DEVI ANGGRAEINI / PIS

Ethiopia yang dahulu  disebut Abessinia, di duga didirikan oleh Menelik I, anak Raja Sulaiman dan Ratu Saba. Namun  sejarah kuno negeri tidak begitu banyak diketahui. Pada abad pertama sesudah Masehi di wilayah ini berdiri Kerajaan Aksum, tempat dinasti Sulaiman memerintah. Pada abad ke-4 wilayah ini didatangi orang Kristen, sedangkan Islam memasuki Ethiopia pada abad ke-7. Mayoritas oarang Ethiopia ini adalah Yahudi.
Sejarah Ethiopia pada zaman modern  diawali pada masa pemerintah Menelik II yang menjadi kaisar  pada tahun 1889. Ia digantikan oleh  Zaiditu, anak perempuannya, dengan  wali Ras Tafari. Setelah Zaiditu wafat pada tahun 1930, Ras Tafari menyatakan diri sebagai Kaisar Haile Selassie I. Kaisar ini membentuk sistem sistem legislatif dan yudikatif, namun melarang berdirinya partai politik.
Pada tahun 1870 Italia menduduki Eritrea. Mereka berusaha pula menyerbu Ethiopia, namun hanya berhasil pada tahun 1935-1941. Haile Selassie membebaskan negaranya dari  tangan Italia, dan pada tahun 1952 Eritrea digabungkan ke dalam wilyah Ethiopia.
Sejak tahun 1972 penduduk negeri ini dilanda masa kelaparan hebat akibat musim kemarau panjang, terutama di bagian utara. Keresahan akibat bencana kelaparan, kenaikan harga, dan berbagai penyelewengan, menimbulkan pembrontakan  militer  yang berubah menjadi revolusi pada awal tahun 1974, Angkatan bersenjata memaksa pemerintah turun, menagkap sejumlah besar pejabat  tinggi, mengajukan undang-undang dasar baru,  serta membatasi kekuasaan gereja. Pada bulan september  1974, Kaisar Haile Selassie dipaksa turun takhta oleh sebuah Dewan Militer di bawah pimpinan Letkol Mengistu Haile Mariam. Pada tahun 1975 Ethiopia memproklamasikan diri sebagai negara republik sosialis yang memeliki sistem partai tunggal. Nasionalisai dan reformasi tanah dilakukan secara besar-besaran.
Perubahan sosial dan politik di Ethiopia tidak dengan sendirinya menghentikan berbagai konflik yang tejadi di negeri ini. Pertentangan antara kelompok etnik dan agama yang berbeda masih kerap kali terjadi. Selain itu pemerintah juga menghadapi tuntutan penduduk Eritrea untuk merdeka. Sedangkan daerah Ogaden yang umunya dihuni oleh orang Somalia. Perdamain dengan Somalia baru di peroleh pada tahun 1988.
Akibat  tekanan pembrontak, pada bulan Mei 1991 Presiden Mengistu melarikan diri ke luar negeri dan kemudian di gantikan oleh Meles  Zenawi sebagai presiden sementara pada 25 Mei 1993, Eritrea menyatakan kemerdekaanya dari Ethiopia.
  
Daftar pustaka :
Elsevier.99.Ensiklopedia Indonesia edisi baru afrika. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar