Rabu, 09 Oktober 2013

SEJARAH DAN CORAK KEHIDUPAN SUKU LAUT


Amrina Rosada / A / SR
            Sebelum kita membahas tentang kehidupan Suku Laut kita ketahui dulu letak geografis Suku Laut itu di mana.  Suku Laut atau sering juga disebut Orang Laut adalah suku bangsa yang menghuni Kepulauan Riau, Indonesia. Secara lebih luas istilah Orang Laut mencakup berbagai suku dan kelompok yang bermukim di pulau-pulau dan muara sungai di Kepulauan Riau-Lingga, Pulau Tujuh, Kepulauan Batam, dan pesisir dan pulau-pulau di lepas pantai Sumatera Timur dan Semenanjung Malaya bagian selatan. Suku Laut ini juga terdapat di Pulau Abang-Batam, Kepulauan Riau. Suku Laut ini juga merupakan salah satu suku tertua di Batam. Dan Orang Suku Laut secara de facto adalah kelompok etnis dalam jumlah kecil di tengah mayoritas masyarakat Melayu. Mereka hidup di pulau-pulau di perairan Provinsi Kepulauan Riau.
KEDATANGAN SUKU LAUT DI KEPULAUAN RIAU
            Kedatangan Orang Suku Laut di Kepulauan Riau diperkirakan sekitar tahun 2500—1500 SM sebagai bangsa proto Melayu (Melayu tua) (Lebar, 1972 dan Liamsi, 1986 dalam Trisnadi, 2002) dan kemudian menyebar ke Sumatra melalui Semenanjung Malaka. Pasca-1500 SM terjadi arus besar migrasi bangsa deutro Melayu yang mengakibatkan terdesaknya bangsa proto Melayu ke wilayah pantai (daratan pesisir). Kelompok yang terdesak inilah yang kini dikenal sebagai Orang Suku Laut (Departemen Sosial, 1988 dalam Trisnadi, 2002:3; James Warren, 2003). Ketika tanah Melayu diperintah oleh Kesultanan Riau-Lingga sekitar abad ke-18, Orang Suku Laut dilukiskan sebagai sekumpulan kelompok suku bangsa atau klan (David Shoper, 1977) yang dibedakan berdasarkan teritori domisili mereka. Masing-masing klan ini terdiri dari berbagai nama, seperti Suku Tambus, Suku Galang, Suku Mantang, Suku Barok, dan Suku Mapor (Bettarini, 1991; Chou, 2003:18; Lenhart, 1997:584, 2004:750). Konon, ketika para klan itu bersatu, mereka disebut sebagai "orang kerahan" yang mengabdi kepada sultan untuk menjaga wilayah perairan kesultanan, berperang, serta menyediakan kebutuhan-kebutuhan laut bagi kesultanan. Selain suplai kebutuhan kerabat sultan, komoditas laut ini juga merupakan produk ekspor utama, terutama negeri Cina sebagai importir utamanya (Vos, 1993:121-128 dalam Chou, 2003:18). Dari hubungan historis yang demikian, Orang Suku Laut saat ini memandang orang Melayu adalah kaum aristokrat dan pedagang.
                Singkatnya, sejarah Orang Suku Laut di kawasan Kepulauan Riau ini terbagi ke dalam lima periode kekuasaan, yakni masa Batin (kepala klan), Kesultanan Melaka-Johor dan Riau-Lingga, Belanda (1911—42), Jepang (1942—45), dan Republik Indonesia (1949 sampai sekarang) (Chou, 2003:25). Di Indonesia, penyebutan suku bangsa ini biasa dikenal sebagai 'Orang Laut' (sea people) atau 'Suku Sampan' (boat tribe/sampan tribe). Sedangkan dalam berbagai karya etnografi mengenai masyarakat yang hidup di laut dan berpindah di kawasan Asia Tenggara, kita temukan beberapa macam sebutan, seperti 'sea nomads', 'sea folk', 'sea hunters and gatherers' (Sopher, 1977; Chou, 2003:2; Lenhart, 2004:750), 'sea gypsies' (Myres, 1941; Thompson, 1851 dalam Chou, 2003:2), 'people of the sea' (Sandbukt, 1982 dalam Chou, 2003:2), dan dalam bahasa Thai disebut Cho Lai atau Chaw Talay (Granbom, 2005; Katanchaleekul, 2007). Meskipun demikian, oleh orang Melayu Riau kepulauan mereka lebih dikenal sebagai 'Orang Laut' (Chou, 2003:2).
            Istilah Orang Laut yang disepakati orang Melayu ini bukan hanya berlaku bagi Orang Suku Laut sebagai masyarakat pengembara lautan (sea forager), tetapi juga diberikan kepada mereka yang hidup di sepanjang pesisir pantai di Kepulauan Riau. Mereka ini awalnya merupakan bagian dari Suku Laut, namun telah dimukimkan oleh pemerintah Orde Baru pada periode pembangunan daerah tertinggal di akhir 1980-an. Bagi Orang Laut sendiri, mereka memandang kelompoknya sebagai orang Melayu asli dan menyebut orang Melayu sebagai kaum Melayu dagang karena posisi aristokratik mereka di masa lalu (Chou, 2003:35). Selain itu, klaim keaslian Orang Suku Laut sebagai penduduk asli (indigenous people) pulau-pulau di Kepulauan Riau tersebut didapat dari kisah-kisah lisan yang diceriterakan secara turun-temurun.
KEHIDUPAN MASYARAKAT SUKU LAUT
            Warga Suku Laut memakai pakaian dari kain tepatnya seperti sarung, tapi ada bedanya perempuan dengan laki-laki. Kalau perempuan memakai kain atau sarung menutup dada sampai betis atau semata kaki (seperti kemben) sedangkan laki-laki hanya menutup pinggang sampai menutup lutut. Kebiasaan warga suku Laut pada malam hari adalah memancing. Warga suku Laut mempercayai bahwa memancing pada tengah malam akan mendapatkan ikan lebih mudah, mereka memancing hanya menggunakan perahu sederhana (getek) dan tombak. Dan yang harus kalian ketahui, bahwa jika mereka tidak mendapatkan ikan mereka tidak boleh pulang dan terpaksa harus tidur dalam getek tanpa selimut (sekadarnya). Orang suku laut merupakan orang-orang yang mengandalkan penangkapan ikan sebagai nafkah hidup mereka. Mereka bermata pencaharian sebagai nelayan. Kebanyakan dari mereka tinggal di atas rumah perahu. Terkadang mereka sering pindah, untuk itu mereka hanya kenal dengan sukunya sendiri. Masyarakat suku laut cenderung memisahkan diri dari suku lain. Mereka juga sangat kuat terhadap garis keturunannya. Seperti adat melayu umumnya, Suku Laut mengambil garis ayah sebagai garis keturunannya. Mereka hidup dan berbudaya selama berabad-abad di atas lautan. Mereka lahir, kawin dan mati di lautan. Laut adalah bagian dari kehidupan mereka.
            Pernah terbayang hidup dalam sebuah sampan di atas lautan selama bertahun-tahun dan menempuh seluruh proses kehidupan di dalamnya? Mungkin bagi kita yang terbiasa hidup menetap dalam sebuah rumah di daratan, hal tersebut terasa begitu berat dilakukan. Tapi itulah yang terjadi dalam kehidupan suku laut Kepulauan Riau bertahun-tahun dari generasi ke generasi. Mulai dari lahir, besar, makan, tidur, memasak, menikah, dan proses reproduksi pun dilakukan di atas sampan yang mereka istilahkan dengan kajang. Kajang adalah sebuah sampan kecil yang hanya berukuran 3×1 meter. Di bagian atasnya diberi sirap atau atap dari daun kelapa dengan tinggi sekitar 75 cm. Di atas sampan itulah, mereka membagi setiap bagian menjadi ruang layaknya ruah di daratan. Bedanya, stiap ruang tidak berdinding hanya dibatasi dengan perlengkapan hidup. Dapur, diletakkan di bagian belakang sampan. Untuk memasak mereka menggunakan lempengan besi sebagai alas kayu bakar. Sedangkan untuk tungkunya mereka gunakan kaleng bekas yang bagian sampingnya diberi lubang untuk memasukkan kayu bakar. Lebar tungku tersebut hanya sekitar 15 cm. Api mereka dapatkan dengan menggunakan gesekan batu atau kayu. Sementara untuk istirahat, mereka jadikan bagian tengah sampan, yang merupakan bagian terlebar, sebagai tempat menggelar tikar. Di atas sampan yang berukuran kecil tersebut, bisa dihuni satu keluarga dengan jumlah anak tiga sampai lima orang.
            Bagaimana mereka tidur? Jangan pernah membayangkan mereka tidur dengan posisi terlentang dan datar dari ujung kaki sampai kepala. Agar sampan bisa memuat tidur semua anggota keluarga, mereka beristirahat dengan posisi badan melengkung, kepala di sisi kanan sementara kaki di sisi kiri. Pola hidup yang dijalani suku laut itu, telah mempengaruhi postur tubuh mereka. Rata-rata tinggi suku laut tidak lebih dari 1,4 meter.
            Dan biasanya  satu kelompok suku laut bisa mencapai 30-an kajang. Satu kajang biasanya dihuni satu keluarga yang anak-anaknya masih kecil, dibawah 10 tahun. Jika anak, terutama laki-laki, telah beranjak remaja akan dibuatkan kajang sendiri oleh sang ayah. Di atas kajang itulah kehidupan mandiri seorang suku laut dimulai. Si remaja akan belajar mencari ikan sendiri guna memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk memasak sendiri. Di atas kajang itu pula, ia akan mulai mencari pasangan hidup dan hidup bersama membentuk keluarga baru. Begitu seterusnya siklus kehidupan suku laut berjalan. Kelompok suku laut akan mendarat di satu pulau ketika mereka hendak mengambil air bersih, mengebumikan anggota kelompok yang meninggal, dan menjual ikan hasil tangkapannya. Tidak ada pulau tetap yang mereka singgahi, dimana mereka memerlukan kebutuhan hidup, disana mereka akan berlabu. Sebelum tahun 1990, suku laut adalah kelompok masyarakat yang tidak mengetahui perhitungan uang. Mereka menjual ikan-ikan kepada para toke (penadah) dan langsung menukarkannya dengan barang kebutuhan pokok, mulai dari beras, sayur, jajanan, pakaian, dan lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Hamidy, UU. 1991. Masyarakat Terasingm, Daerah Riau,di Gerbang,abad XXI. Pekanbaru: Zamrad.
           
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar