Senin, 28 Oktober 2013

PERISTIWA TANJUNG PRIOK

PERTIWI RESTI/SI V

            Pada Rabu malam pukul 23.00 tanggal 12 September 1984, di Tanjung Priok terjadi peristiwa berdarah yang menelan korban sejumlah orang meninggal dan luka-luka. Dua hari sebelunya seorang bitara Pembina desa (babinsa) tanpa melepas sepatunya, masuk ke sebuah musola di Koja Selatan dengan maksud menyita sejumlah brosur yang bermuatan politik menentang pemerintah. Masyarakat yang tersinggung atas perilaku bintara tersebut marah. Sepeda motor milik bintara itu dibakar. Empat orang ditahan di markas Kodim Tanjung Priok. Pasca peristiwa tersebut beberapa orang utusan mencoba meminta pembebasan mereka yang ditahan, ditolak pihak Kodim.
            Dua hari kemudian, sejumlah orang seusai menghadiri ceramah di masjid Jalan Sindang, ada orang yang memprovokasi peserta ceramah agar menyerbu markas Polres dan Kodim. Mereka berbondong-bondong bergerak ke markas Polres dan Kodim, di bawah pimpinan Amir Bikki. Sepanjang perjalanannya, massa melakukan perusakan terhadap beberapa rumah, kendaraan, dan apotek. Massa menuntut agar empat orang kawannya yang ditahan dibebaskan. Satu regu pasukan pengamanan di markas Kodim mencoba menenangkan massa tidak berhasil bahakan massa bergerak mendekat ke arah markas. Sekitar 1500 orang demonstran yang bergerak menuju kantor Polsek dan Kormil setempat. Sebelum massa tiba di tempat yang dituju, tiba-tiba mereka telah terkepung dari dua arah oleh pasukan yang bersenjata berat. Massa demonstran berhadapan langsung dengan pasukan tentara yang siap tempur.   Pada saat pasukan mulai memblokir jalan protokol, mendadak para demonstran sudah dikepung dari segala penjuru.
            Saat itu massa tidaklah beringas, sebagian besar mereka hanya duduk-duduk sambil mengumandankan takbir. Lalu tiba-tiba terdengar aba-aba mundur dari komandan tentara, tanpa peringatan lebih dahulu terdengarlah suara tembakan, lalu diikuti oleh pasukan yang langsung mengarahkan moncong senjatanya ke arah demonstran.  Dari segala penjuru terdengan dentuman suara senjata, tiba-tiba ratusan orang demonstran tersungkur berlumuran darah. Disaat para demonstran yang terluka berusaha bangkit untuk menyelamatkan diri,  pada saat yang sama juga mereka diberondong senjata lagi. Tak lama berselang datang konvoi truk militer dari arah pelabuhan menerjang dan menelindas demostran yang sedang bertiarap di jalan,  Dari atas truk tentara dengan membabi buta menembaki para demonstran. Dalam sekejap jalanan dipenuhi oleh jasad-jasad manusia yang telah mati bersimbah darah.  Sedang beberapa korban yang terluka tidak begitu parah berusaha lari menyelamatkan diri berlindung ke tempat-tempat disekitar kejadian.
            Sembari para tentara mengusung korban-korban yang mati dan terluka ke dalam truk militer, masih saja terdengar suara tembakan tanpa henti. Semua korban dibawa ke rumah sakit tentara di Jakarta, sementara rumah sakit-rumah sakit yang lain dilarang keras menerima korban penembakan Tanjung Priok.  Setelah para korban diangkut, datanglah mobil pemadam kebakaran untuk membersihkan jalanan dari genangan darah para korban penembakan. 
            Latar belakang peristiwa ini secara kronis diuraikan oleh pemerintah, bahwa sejak tanggal 7, 10, dan 12 September 1984, ada oknum yang dengan sengaja memasang poster yang berbau sara, menentang kebijakan pemerintah dan menolak asas tunggal Pancasila. Kerawanan social adalah akar dari peristiwa yang terjadi di Tanjung Priok. Ada beberapa faktor yang menjadi sebab kerawanan social semakin parah karena kerawanan social dapat melahirkan pergolakan atau revolusi. Oleh karena itu, perlu dikembangkan satu alternative pemecahan masalah baru, yaitu menjabarkan secara konseptual dan operasional GBHN 1983 bahwa pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila dan dwifungsi ABRI tidak akan mengarah ke militerisme, otoriterisme, dan totaliterisme.
            Peristiwa berdarah Tanjung Priok 1984, adalah satu peristiwa yang sudah disiapkan sebelumnya dengan matang oleh intel-intel militer. Militerlah yang menskenario dan merekayasa kasus pembataian Tanjung Priok, Ini adalah bagian dari operasi militer yang bertujuan untuk mengkatagorikan kegiatan-kegiatan keislaman sebagai suatu tindak kejahatan, dan para pelaku dijadikan sasaran korban. Terpilihnya Tanjung sebagai tempat sebagai "The Killing field" juga bukan tanpa survei dan anlisa yang matang dari intelejen. Kondisi sosial ekonomi tanjung priok yang menjadi dasar pertimbangan. Tanjung Priok adalah salah satu wilayah basis Islam yang kuat, dengan kondisi pemukiman yang padat dan kumuh. Mayoritas  penduduknya tinggal dirumah-rumah sederhana yang terbuat dari barang bekas pakai. kebanyakan penduduknya bekerja sebagai buruh galangan kapal, dan buruh serabutan. Dengan kondisi sosial ekonomi yang rendah ditambah dengan pendidikan yang minim seperti itu menjadikan Tanjung Priok sebagai wilayah yang mudah sekali terpengaruh dengan gejolak dari luar, sehingga mudah sekali tersulut berbagai isu.
            Harian Kompas dalam  Tajjuk Rencananya yang berjudul "Mengatasi Kejadian Tanjung Priok", berpendapat, jika massa terhasut untuk melangkah ke tidak kekerasan melawan aparat keamanan, tidak terhindarkan aparat keamanan terpaksa akan menindaknnya dngan kekerasan pula. Skenario itu terjadi di Tanjung Priok tanggal 12 September 1984 malam dan membawa korban tewas dan luka. Dalam kejadian itu tanggung jawab pertama terletak pada mereka yang menghasut sehingga keadaan tidak terkendali, terjadi perusakan dan korban pun jatuh.
            Akar peristiwa tersebut adalah radikalisme. Radikalisme tidak begitu saja dapat dinetralkan oleh karena berpaham pada ideologi yang sumbernya dapat berasal dari ideologi sekuler, ideologi marxisme, dan ideologi agama. Radikalisme yang bersumber dari ideology apapun mudah memperoleh tanggapan jika dihadapkan dengan keadaan masyarakat yang mempunyai akumulasi banyak permasalahan atau masyarakat yang sedang mengalami perubahan dan berbagai proses distorsi akar dan nilai. Akumulasi persoalan yang rumit dan kompleks mudah menjadi lahan subur dari radikalisme. Penegasan kemanusiaan dan segala aspirasinya barangkali dapat menjadi pangkal paling efektif terhadap kecenderungan-kecenderungan radikal utama kecenderungan radikal yang berpaham social dan agama.
            Harian Berita Buana, dengan Tajuk Rencananya yang berjudul "MUI dan PPP Sesalkan Peristiwa Tanjung Priok", mengutip pernyataan Mejelis Ulama Indonesia dan Partai Persatuan Pembengunan yang menyesalkan terjadinya peristiwa tersebut, dan menyarankan agar masyarakat berpagang pada penjelasan Pangkopkamtib sebagai penanggung jawab keamanan. Harian Terbit mengemukakan bahwa akar permasalahan adalah adanya kesenjangan antara pemimpin dan organisasinya seperti yang terjadi pada organisasi NU dan Muhammadiyah sejak diterbitkannya Undang-Undang No. 3/1971.
            Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dalam pernyataan persnya, menyesalkan peristiwa demonstrasi massa Tnajung Priok yang dihadapi dengan tindak kekerasan. Bahwa tindak kekerasan seakan-akan dipilih sebagai nilai dan kerangka acuan yang harus diopersikan dalam memecahkan konflik berskala lokal. Tumbuhnya nilai-nilai dan norma kekerasan jelas bukan hanya memakan korban manusia, melainkan secara pasti menyisihkan nilai-nilai dasar Pancasila dan norma-norma perikemanusiaan yang adil dan beradab.
            Beberapa orang yang dituduh sebagai penggerak peristiwa Tanjung Priok, antara lain, A.M. Fatwa, Abdul Qodir Djailani, Prof. Oesmany al Hamidi, H. Mawardi Nur, dan Salim Qadar ditangkap. Satu tahun kemudian, dari bulan Oktober sampai Desember 1985, mereka diajukan ke sidang pengadilan dengan tuduhan melakukan tindak pidana subversif.
            Pemerintah menyembunyikan fakta jumlah korban  dalam tragedi berdarah itu.  Lewat panglima ABRI saat itu LB. Murdhani menyatakan bahwa jumlah yang tewas sebanyak 18 orang dan yang luka-luka 53 orang. Tapi data dari Sontak (Solidaritas Untuk peristiwa Tanjung Priok) jumlah korban yang tewas mencapai 400 orang.  Belum lagi penderitaan korban yang ditangkap militer  mengalami berbagai macam penyiksaan.  Dan Amir Biki sendiri adalah salah satu korban yang tewas diberondong peluru tentara.
Daftar Pustaka
Adam, Asvi Warman. 2006. Soeharto Sisi Gelap Sejarah Indonesia. Yogyakarta: Ombak.
Poesponegoro, Marwati Djoened., Nugroho Notosusanto. 2008. Sejarah Nasional Indonesia VI: Zaman Jepang dan Zaman Republik. Jakarta: Balai Pustaka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar