Kamis, 03 Oktober 2013

"PERISTIWA KAPAL BETSY"

 DHEVA EKA PUTRA / PIS

AWAL MULA PEPERANGAN BESAR ANTARA RAJA HAJI FISABILILLAH DAN VOC



Menjelang akhir tahun 1782, ketika berita-berita tentang perang antara VOC dan Inggris sampai ke Riau, Raja Haji melihat sebuah kesempatan baik untuk memperkuat ikatan dengan VOC, untuk mendapatkan modal dari keadaan itu. Dalam sebuah rapat majelis pembesar negeri, ia menanyakan siapa orang Riau yang akan mendukung, VOC atau Inggris? Ia mendapatkan tanggapan dengan suara yang bulat yang lebih menyukai VOC. Raja Haji, sangat puas dengan keputusan ini, rupanya menindaklajutinya dengan melakukan tawaran rahasia kepada VOC perihal kapal Kapten Geddes yang dicurigai, dengan maksud yang jelas agar Melaka dan Johor menjadikannya rampasan perang bersama.
Raja Haji jelas tidak mau mengambil resiko kemarahan Inggris dengan mengajukan tawarannya itu secara terbuka, melalui surat resmi istana Riau-Johor. Dalam penglihatan Inggris, operasi tersebut muncul sebagai suatu yang murni inisiatip Inggris, dimana Johor-Riau tidak ambil bagian. Raja Haji kemudian memerintahkan juru tulisnya, Encik Kamis, untuk mengirimkan sebuah catatan kepada Abraham de Wind – sebuah jalur kumunikasi yang lebih informal antara 'pribumi terkemuka' dan pemerintah tertinggi VOC – atas nama kepercayaan yang mereka tempat diatasnya'.
Jadi "peristiwa Kapal Betsy' muncul tidak sebagai sebuah konflik. Tapi sebaliknya, sebagai sebuah pendekatan persahabatan. Pada hari-hari di zaman perang ini, kepentingan kerajaan Riau-Johor dan VOC adalah menjalin hubungan rapat seperti yang pernah mereka lakukan pada kurun abad ketujuh belas.
Usulan kerajaan Riau merupakan alunan musik yang indah di telinga petinggi-petinggi VOC di Melaka. Bukan karena ia senang mendapat jaminan dukungan dari kereajaan Riau-Johor. Tapi juga karena penawanan kapal Betsy akan jadi rezeki yang menguntungkan, menjanjikan satu peti opium dengan harga mencapai antara 280 dan 350 uang Spanyol. Kapal tersebut membawa antara 1150 dan 1450 peti candu. Karenanya nilai muatan tersebut berkisar antara 300.000 hingga 500,000 Spanish reales (real spanyol), atau 750.000 hingga 1,250,000 Dutch guilders. Dibandingkan dengan angka ini, nilai kapal itu sendiri – 50,000 Dutch guilders – dapat dirundingkan. Mengingat hal tersebut bagaikan tahun yang luar biasa baiknya, yang tidak seperti biasanya memberikan masukan keuntungan kepada pemerintah tertinggi hingga diatas 80,000 gulden, dan pada pergantian tahun berikutnya angka tersebut tidak pernah lebih dari 200.000 gulden, sehingga akan menjadi jelas bahwa kapal Betsy mempunyai daya pikat bagaikan gua harta karun Aladdin.
Tahap perampasan kapal Betsy itu adalah sebagai berikut.
Pada 16 Februari 1782, sebuah armada ekspedisi berlayar dari Melaka (Netscher 1870: 170). Ia terdiri dari kapal Maturin Barbaron St Therese, kapal VOC Mars, yang belum lama tiba dari jepang, barque dan sampan panjang dari armada Melaka sendiri. Gubernur Melaka menandatangani sebuah kontrak dengan Barbaron yang hanya mencakupi permasalahan yang sangat esensial, yakni hasilnya harus dibagi sama rata. Barbaron juga diperintahkan 'tidak disewa untuk berperang kecuali kalau kemenangan meyakinkan'. Instruksi yang diberikan kepada Siedenburg, jauh lebih detail: armada tersebut akan 'berlayar pulang dan pergi, tidak jauh dari sini, untuk mencegat kapa-kapal yang menuju selat Melaka, namun bagaimanapun, tanpa membawanya ke Pelabuhan Riau atau Selangor, jadi kita tidak dilibatkan dalam sebarang konflik dengan penguasa daerah ini'. Hal ini kemudian memungkinkan Gubernur De Bruijn berkeras kepada Raja Haji bahwa perampasan itu merupakan inisiatif kelompok Marturin Barbaron, yang tidak bertanggung jawab kepadanya, dan oleh karena itu membuyarkan klaim Raja Haji terhadap bagian dari rampasan itu.
Pada tanggal 20 Februari, Siedenburg menulis sebuah surat kepada VOC bahwa ia telah melihat delapan buah kapal Inggris pada hari itu, tidak jauh dari pulau Karimun Kecil. Namun Barboran dan dirinya sendiri memutuskan bahwa sebuah penyerangan akan sangat berbahaya. Oleh karena itu mereka berlayar melewati Selat Durian (salah satu jalur perlayaran ke Riau), meskipun orang-orang setempat yang membuat anak buah kapal 'begitu berani melawan ketimbang mengizinkan orang Inggris yang melintas yang jelas tidak tertandingi'. Hal ini kemudian dirincikan menjadi kepentingan khusus, seperti kata orang Melayu, sekali-kali tidak memiliki reputasi akan keberanian. Beberapa bulan kemudian, selama pertempuran kecil dengan privateer Inggris, McLary, orang-orang Melayu yang menolak melakukan sebarang tugas kelautan, mengatakan bahwa selat Melaka telah begitu membahayakan.
Ia muncul tidak seperti kapal-kapal Inggris yang terlihat pada tanggal 20 Februari yang benar-benar merupakan suatu yang 'unggul dalam dalam jumlah yang besar'. Sebuah versi yang berbeda dari fakta ini kemudian diceritakan pula di Melaka oleh seorang nakhoda kapal Portugis dari Macao yang berlabuh di Riau. Empat buah kapal Kompeni Inggris telah datang dari Cina sementara ia berada di sana. Pimpinan dari armada ini telah meintanya untuk bergabung bersama melewati Selat Melaka ketimbang belayar lebih dahulu di depan.
Rupanya, dibalik ketakutan itu Kapten Portugis telah 'melaporkan kelemahannya kepada kita (pemerintah Melaka), semua kapal-kapal itu tidak dijaga dengan sungguh-sungguh'. Mereka telah berlayar dari Riau pada tanggal 15 Februari (mungkin bersama dengan empat orang country trader yang telah berlabuh di Riau), melihat konvoi ekspedisi belanda pada tanggal 20 Februari, dan melintasi Melaka pada tanggal 22 Februari, melepaskan satu tembakan – yang meleset – ke arah sebuah kapal orang Jawa.
Hal ini sedikit memperjelas semangat besar orang-orang Melayu untuk ikut serta dalam pertempuran, sebagai anak buah kapal dan harus membawa muatan berat (kapal-kapal yang baru saja datang dari Cina) membuat sebuah kombinasi yang menarik. Selain itu, jika Siedenburg dan Babaron telah benar-benar menliai bahwa armada Inggris begitu kuat pergi ke Riau, merupakan satu muslihat yang pengecut, sebagaimana ia maksudkan untuk untuk menyerahkan nasibnya pada Melaka. Satu-satunya kesimpulan yang logis adalah, kapal-kapal Inggris tersebut dengan sengaja diperbolehkan pergi menurut jalan masing-masing, menurut perjanjian yang dibuat dengan Barbaron, karena sekarang jelas bahwasanya kapal Betsy telah tinggal seorang diri di perairan Riau.
Saar Barbaron tiba di Riau, ia mulai masuk berunding dengan Raja Haji melalui pejabat perantara seorang 'haji atau ulama'. Arsip-arsip VOC tidak merekam apa saja yang telah disepakati, namun menurut seorang country trader Inggris, Barbaron dan Siedenburg menjanjikan Raja Haji sepertiga dari rampasan itu (Bastin 1959:3). Ulama tersebut memberikan mereka izin, atas nama Raja Haji, untuk membawa kapal Betsy pergi, yang dilakukan oleh Barbaron pada tanggal 4 Maret. Raja Haji memperlihatkan kepadanya bahwa anak buah kapal Betsy ditampung di Kampung Cina, di Riau.
Pada tanggal 25 Maret, empat buah kapal kembali ke Melaka dengan kapal rampasannya (Netscher 1870:170). Barbaron sendiri yang membawa kapal itu, dan memperoleh separoh dari opium rampasan. Separuh barang rampasan untuk Belanda dibagi menurut 'Peraturan yang mengacu kepada pembagian secara adil berdasarkan pembagian barang barang musuh yang dirampas'. Saya tidak mampu menelusuri ini dari peraturan ini. Namun bagaimanapun, saya mampu, menemukan jumlah uang yang diperoleh oleh pejabat tertentu di Melaka dari operasi ini. Fiscaal A. Couperus, sebagai contoh, mendapat 14,711 gulden dan 20 cent, sebuah jumlah yang lumayan untuk seseorang yang setiap bulannya bergaji tidak lebih dari 150 gulden. Nakhoda barque dan sampan panjang (yang setiap bulannyab ergaji kira-kira 50 gulden) setiap seorangnya menerima 8,300 gulden, sementara pegawai-pegawai cadangan dan seorang sersan (dengan gaji perbulannya berturut-turut 40 dan 20 gulden) setiap seorangnya menerima 1,000 gulden, Sedangkan Raja haji sendiri tidak menerima apa-apa.
Beberapa minggu setelah perampasan kapal Betsy, seorang kurir tiba dari Riau dengan membawa sebuah surat dari Raja Haji. Ia secara resmi mengeluhkan, selain sebuah kapal Belanda, juga sebuah kapal Perancis yang juga terlibat dalam operasi tersebut. Karena Riau-Johor tidak punya ikatan persekutuan dengan Kompeni Perancis, Inggris dapat menahan Raja Haji untuk melaporkannya. Bagaimanapun, keluhan ini hanyalah pembukaan dari pesan yang sesungguhnya, yang disampaikan secara lisan. Raja Haji berkehendakan bagian dari rampasan itu.45
Melaka memutuskan untuk mengirim pemegang buku kas Jacob Rappa ke Riau untuk melakukan negosiasi. Anehnya, dengan cepat dan lancar mendapatkan kemenangan. Pada audiensi pertamanya, segera setelah ia memulai pembicaraan tentang pokok persoalan rampasan yang dikeluhkan oleh Raja Haji, Raja Muda Riau itu menyela bahwasanya ia mempertimbangkan menutup pembicaraan itu. Ia memberi Rappa sebuah surat untuk disampaikan kepada Gubernur uang menegaskan bahwa 'semua yang telah berlalu dianggap telah selesai'.
Hal ini adalah teka-teki yang luar biasa. Mengapa tiba-tiba Raja Haji memutuskan melepaskan tuntutan terhadap pembagian rampasan itu? Penjelasannya harus dicari pada sebuah kejadian tiba-tiba yang aneh. Sehari sebelum Rappa sampai di Riau, sebuah skuadron kapal perang VOC yang besar telah berlayar ke pelabuhan itu. Misi utama adalah untuk mengejar dan menangkap privateer McLary, orang yang tidak mungkin ditemui di Riau.
Ketibaan kapal perang tersebut menyebabkan kegemparan yang besar di Riau. Raja Haji mejelaskan kepada sejumlah pembesarnya bahwa perampasan kapal Betsy 'merupakan tamparan yang memilukan terhadap kehormatan dan reputasinya', dan insiden ini 'bersamaan dengan ketibaan armada kita telah membawa ketakutan yang besar sekali dikalangan rakyatnya'.
Ketika Rappa tiba, hanya berselang dua hari kemudian, ia mendapatkan posisi tawarnya diberi semangat oleh kehadiran seluruh armada perang. Semua itu hampir tidak sudi untuk menjelaskan kepada Raja Haji bahwa ini hanya suatu yang kebetulan. Dalam suasana seperti itu, nada Raja Haji yang bersifat berdamai dan dengan halus melupakan tuntutan terhadap barang rampasan tersebut tidaklah sulit untuk dipahami. ***
DAFTAR PUSTAKA

NN. 1989 "Sejarah perjuangan Raja Haji Fisabilillah dalam perang Riau melawan Belanda, 1782-1784" Pekanbaru : Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Riau

Tidak ada komentar:

Posting Komentar